Archive for March, 2006

h1

Bersungguh Hati dalam Doa

5 March 2006

Kelas Petrus, 05 Maret 2006

“Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkanNya mereka dari kecemasan mereka”. (Mazmur 107:28)

Banyak orang kristen yang merasa cemas didalam hidup ini, meresa takut dan gentar menghadapi persoalan hidup ini. Tetapi berapa banyak orang kristen yang berseru pada Tuhan pada waktu mereka menghadapi kesesakan dan kecemasan tersebut? Banyak yang mengaku telah berdoa tetapi berapa banyak yang benar-benar berseru-seru kepada Tuhan? Beberapa berdoa sambil lalu, beberapa berdoa sekedar coba-coba barang kali terkabulkan, beberapa lagi berdoa sebagai ucapan “permisi” kepada yang Diatas dan sisanya usahanya sendiri, beberapa lagi berdoa sebagai materi rutinitas kata-kata yang seharusnya disebut dalam doanya. Tetapi bukan doa seperti itu yang dimaksud Tuhan. Berseru-serulah kata Tuhan.

Pada waktu saya masih kecil, setiap sore selalu keluar rumah untuk bermain-main dengan tetangga. Biasanya dibalik tembok yang hanya setinggi 2 meter, teman-teman sudah memanggil dengan keras. Mereka tidak akan berhenti memanggil sampai saya keluar melompati tembok tersebut. Tidak pernah mereka memanggil dengan sekali panggil, atau dengan suara pelan, atau sekenanya barang kali saya dengar dan keluar. Mereka akan berseru-seru sampai saya keluar.

Allah ingin kita berseru-seru seperti itu. Berseru sampai Ia datang menolong kita. Tidak akan berhenti sebelum Allah datang menolong. Itulah berseru-seru. Berseru-seru itu bukan doa makan…

“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7)

Tuhan Yesus sendiri yang mengajarkan kepada kita doa yang tidak jemu-jemu tersebut (Lukas 18:1-7), jangan anggap remeh doa. Sering kali seorang kristen kalau bertanya kepada pemimpin, pendeta, gembala sidang atau tua-tua jemaat selalu mendapat jawaban “berdoalah” bahkan rasanya sudah tahu jawabnya sebelum bertanya. Kadang karena seringnya nasihat untuk berdoa membuat doa itu sendiri menjadi tidak berarti seakan hanya jalan terakhir kalau tidak ada jalan keluar lagi. Jangan bodoh! Doa itu besar kuasanya (Yakobus 5:16). Lupakah anda dengan Lukas 19:46 yang mengatakan, “Rumah-Ku adalah rumah doa.”? Jika kita tidak pernah berdoa atau meremehkan doa, apakah pantas kita disebut Rumah Doa?

Hidup orang kristen adalah hidup dalam doa (Efesus 6:18, 1 Tesalonika 1:17) dalam segala hal Tuhan mengajarkan kita untuk selalu berdoa kepadaNya, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”. (Filipi 4:6). Tidak ada alasan kita untuk tidak berdoa sebab kekuatan manusia itu terbatas, tetapi dengan berdoa kita dapat melampaui apa yang mustahil, sebab Firman Tuhan mengatakan, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Matius 9:23). Apa saja yang kita doakan didalam namaNya (Yohanes 16:23, 15:16, 14:14) Tuhan akan berikan. Percayalah didalam doa-doamu pasti dapat jawabannya (Matius 21:22, Markus 11:24). Mulai saat ini jangan anggap remeh doa terus menerus dan tiada jemu-jemu, berseru-seru sampai doa kita terjawab. Itu yang diajarkan oleh Yesus.

“Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” (Yeremia 33:3) Ya Tuhan pasti menjawab sebab Ia tidak pernah menyuruh kita mencari wajahNya dengan sia-sia itu janji Tuhan dalam Yesaya 45:19.

Mengapa kita harus berseru-seru, tidakkah cukup satu kali kita berdoa Tuhan sudah dengar?

Jika kita adalah seorang yang sempurna didalam kekudusan maka cukup satu kali saja kita berdoa Tuhan menjawab (Mazmur 3:5). Allah itu adalah kudus dan manusia adalah daging (Kejadian 6:3, Roma 7:19-24) walau kita telah ditebus dan diampuni segala dosa kita, tetapi tubuh daging ini masih belum ditebus (Roma 8:23 KJV, TL). Daging ini masih menjadi penghalang kita dengan Allah. Selama kita hidup dalam daging ini maka selalu ada penghalang dihadapan Allah.

Karena itu Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk berseru-seru dengan tiada jemu-jemu. Perumpamaan dalam Lukas 18:1-7 diceritakan tentang seorang janda yang berusaha membela haknya, walaupun raja itu raja yang lalim tetapi akhirnya dibela juga. Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8) dan penuh kemurahan (Mazmur 30:6), karena itu walau kita daging adanya tetapi kalau kita berdoa dengan tiada jemu-jemu Tuhan akan menjawab doa kita. Asalkan doa kita tersebut bukan untuk menguatkan daging dan hawa nafsu ini, tetapi memohon sesuatu yang baik dan benar dihadapan Tuhan.

Doa juga merupakan suatu pergumulan didunia antara keinginan kita dan rencana indah Allah. Beberapa permohonan kita bukanlah yang terbaik, tetapi jika kita sungguh-sungguh memintanya didalam kebenaran dan didalam ketekunan maka Tuhan akan memberinya. Seperti permohonan raja Hizkia untuk hidup lebih lama (2 Raja-raja 20:1-21), seperti juga permohonan Putra Manusia untuk menghindar dari “cawan” (Matius 26:42-44, Markus 14:39). Banyak juga kesaksian permohonan yang kurang baik yang dikabulkan karena kita meminta dengan tiada jemu-jemu. Manusia yang telah ditebus adalah mahluk bebas, bukan robat. Asalkan bukan dosa yang diminta, Allah akan memberikannya. Matius 7:7-11 menggambarkan sifat Allah seperti Bapa kepada anaknya. Suatu kali anak saya mendapat janji dibelikan mainan baru, kita telah merencanakan membelikan mainan yang baik dan dari bahan yang bagus, tetapi karena merengek-rengek terus meminta mainan yang kurang baik buatan china maka terpaksa kita belikan juga. Taklama kemudian mainan itu juga rusak sebab memang dibuat dengan kwalitas yang kurang baik. Demikian juga Allah, karena itu pahamilah kehendak Allah. Tuhan Yesus walau tidak jemu-jemu memohon “cawan” itu lalu, tetapi akhirnya Ia mengatakan, “jadilah kehendakMu”. Mazmur 146:8 mengatakan, “… Tuhan mengasihi orang-orang benar”.

Ingat doa orang berdosa tidak akan didengarnya. Apapun juga permohonannya. “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.” (Yesaya 1:15) Kalau kita tidak mau mentaati dan memperhatikan nasihat Firman Tuhan doa kita juga tidak didengar Tuhan (Amsal 28:9). Jangan hidup didalam daging jika ingin doa kita didengar Tuhan (Roma 8:7-8, Yesaya 59:2).

Bagaimana berdoa yang benar?

Dalama Yakobus 4: 2-4 diajarkan tentang berdoa, tanpa berdoa kita tidak akan memperoleh apa-apa. Juga diajarkaan bahwa doa itu bukan meminta perkara dosa dan hawa nafsu sebab dunia ini musuh Allah, tidak mungkin Allah memberikan musuhnya bagi orang yang dicintai. Juga dalam 1 Yohanes 5:14 diajarkan tentang meminta kepada Allah menurut kehendakNya maka doa kita akan dikabulkan. Sering kali kita juga bingung harus bagaimana dan mengucapkan doa seperti apa. Bahkan tidak jarang kita sebenarnya tidak mengerti apa sebenarnya yang kita inginkan, kita hanya merasakan hati yang gelisah dan cemas.

Saat kita hendak berdoa, mulailah dengan menenangkan diri kita, menenangkan pikiran dan hati kita (1 Petrus 4:7), biarkanlah roh kita menyelidiki hati dan pikiran kita dengan tenang. Sebab Amsal 20:27 mengatakan, “Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya.” Setelah kita tenang dan menguasai seluruh diri kita barulah kita dapat berdoa. Jika tidak tenang atau bahkan dalam kesibukan disambi kerja tentu kita tidak dapat berdoa dengan baik. Tuhan Yesus sendiri dalam Alkitab diceritakan setiap kali Ia berdoa selalu menghindari keramaian dan menyendiri (Markus 1:35, 6:46, Matius 26:36). Jangan tertipu Iblis dengan status “dewasa rohani” dan “mahir dalam doa” sehingga merasa cukup hanya doa sambil lalu sambil kerja atau mengendarai kendaraan.

Paulus mengajarkan tentang doa dengan akal budi dan doa dengan roh dalam 1 Korintus 14:14-15. Keduanya berbeda, pada saat kita berdoa dengan akal budi kita, kita perlu kosentrasi menggunakan pikiran kita tidak bisa disambi. Doa dengan akal budi kita berdoa dengan kata-kata yang dapat kita ucapkan sesui dengan maksud pikiran kita. Tetapi saat kita berdoa dengan roh, maka kita dibantu oleh Roh Kudus seperti yang tertulis dalam Roma 8:26, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Kita berdoa dengan karunia bahasa lidah, didalam ketenangan dan penguasaan diri. Dari hati ke hati, dari roh manusia ke Roh Allah.

Doa didalam roh tidak bisa dibuat selingan dan sambil lalu. Doa didalam roh dan doa dengan akal budi sama-sama memerlukan waktu terbaik kita, bukan sisa-sisa waktu. Harus ada yang dikorbankan (Imamat 6:12-13), waktu untuk menonton televisi, waktu untuk membaca majalah, waktu untuk ngoborol dengan teman dan lain-lainnya. Iblis tidak suka melihat umat Allah berdoa karena itu sering kali kita ditipu dengan sisa-sisa waktu, dengan kesibukan semu, dengan cukup doa didalam roh sambil lalu. Doa itu kekuatan kita, tanpa doa kita menjadi lemah. Tuhan Yesus mengatakan “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Markus 14:38). Jangan jemu-jemu berdoa! Berikanlah waktu yang terbaik! Jangan berhenti sebelum Tuhan menjawab doa kita.

Salam,

Leonardi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.