h1

Benih Firman Allah

13 March 2005

FT 13-03-2005 Kelas Petrus, SM Petemon

Lukas 8:11-15

“Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

 

 

PINGGIR JALAN

Lukas 8:12

Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

 

Ini cerita tentatang orang yang telah mendengar kebenaran Firman Tuhan tetapi mereka tidak mau mempercayainya. Mereka datang ke gereja dan mungkin ada ditengah-tengah kita, tetapi baginya semua agama itu sama saja dan dapat membawa kepada keselamatan. Firman yang disampaikan setiap minggunya hanya melewati telinganya saja tidak masuk dalam hatinya.

 

Orang tersebut dalam II Timotius 3:5 dikatakan, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”

 

Jangan dikira semua orang kristen yang datang kegereja itu akan diselamatkan. Apalagi yang mengaku kristen tetapi tidak pernah kegereja. Keselamatan itu bukan status, keselamatan itu anugrah dan kita menerimanya dengan iman seperti yang tertulis dalam Efesus 2:8, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”. Jadi jika kita tidak percaya akan berita injil, bagaimana kita bisa disebut selamat sedangkan Firman Tuhan dalam Lukas 8:12 mengatakan mereka “tidak diselamatkan”.

 

Bangsa Israel yang dilepaskan dari perbudakan Mesir telah berjalan selama 40 tahun di padang gurun untuk menuju negri perjanjian, tetapi mereka semua akhirnya mati dan tidak ada angkatan mereka yang masuk kedalam negri perjanjian tersebut, bahkan dengan bersumpah Allah memastikan angkatan tersebut tidak masuk ke negri kekal tersebut (Ibrani 3:7-11, Bilangan 32:10-13). Mengapa dan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan tentang mereka? Ibrani 3:19 menuliskan demikian, “Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.”

 

Firman Tuhan yang kita dengar atau baca jangan hanya selalu melewati telinga kita, setelah itu lupa. Firman itu harus masuk sampai kedalam hati kita, Yakobus 1:21 mengatakan, “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.”

 

Firman Tuhan itu harus kita terima dalam hati kita dengan lemah-lembut, bukan dengan keras atau keraguan. Tidak peduli siapapun yang menyampaikan, apakah masih kecil, atau baru belajar atau bekas orang dursila asalkan ada Roh Allah didalamnya (Yohanes 3:34), Tuhan pakai mulutnya. Bahkan binatang seperti keledai dapat dipakai Allah (2 Petrus 2:16). Firman Tuhan menasihati kita, bahwa dari buahnya kita mengenali orang, apakah itu palsu atau dari Allah (Matius 7:16-19). Jangan hanya karena tidak suka atas orangnya lalu kita menolak Firman Tuhan. Sayang jika Firman itu dicuri oleh Iblis.

 

Karena itu buang segala sesuatu yang kotor dan jahat dari hati kita. Hati manusia itu penuh dengan perkara kotor dan jahat kata Matius 15:19, tanpa ada yang mengajari, Kain, dari dalam hatinya melahirkan pembunuhan manusia pertama (Kejadian 4:6-8). Jika hati manusia sekotor dan sejahat itu bagaimana dapat menerima Firman Tuhan dengan lemah lembut?

 

Tetapi syukur kepada Allah, Yehezhiek 36:25-27 mengatakan, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”

 

Hati yang baru yang dijanjikan Tuhan merupakan kehidupan baru (Efesus 4:22-24), dimana kita dapat menerima dengan lemah lembut Firman Tuhan dan mentaatinya. Dengan hati yang baru kita dapat memelihara rahasia iman (I Timotius 3:9).

 

Seperti halnya Yohannes Pembaptis diutus kedunia ini untuk meluruskan jalan bagi Tuhan Yesus (Lukas 7:27), demikian juga dengan hati yang baru merupakan jalan bagi kita untuk memperoleh keselamatan yang dari Allah. Seperti yang dijelaskan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 3:3-6,

 

Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu, seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.”

 

Baptisan air yang diajarkan oleh Yohenas Pembaptis adalah penggenapan Yehezkiel 36:25-26 untuk mempersiapkan dan meluruskan jalan bagi Tuhan Yesus. Mempersiapkan hati-hati yang dapat menerima Firman Allah dan mentaatiNya. Meluruskan hati kita yang berlekuk-lekuk, berliku-liku. I Petrus 3:21 mengatakan, “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan–maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah.”

 

Pada saat Tuhan Yesus menyampaikan berita keselamatan, mereka yang telah dibabtis oleh Yohanes Pembaptis segera percaya kepadaNya sedangkan mereka yang menolak “hati yang baru” tidak dapat percaya kepadaNya. Hal ini jalas diceritakan dalam Lukas 7:29-30.

 

Hati ini adalah sumber kehidupan. Tidak salah jika Amsal 4:23 mengatakan, Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”  Sebab mereka yang tidak mau menjaga hatinya dari perkara kotor dan jahat Firman Tuhan dalam 1 Timotius 1:19 mengatakan “imannya kandas”. Seperti bangsa Israel yang keluar dari Mesir, tak satupun yang selamat sebab imannya telah kandas… Bukankah Allah sendiri yang mengatakan bahwa mereka angkatan yang memiliki hati sesat (Ibrani 3:9).

 

 

TANAH BERBATUAN

Lukas 8:13

Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

 

Adalah gambaran orang kristen yang hanya senang mendengar Firman Tuhan tetapi tidak melakukannya. Tuhan Yesus pernah menceritakan sebuah perumpamaan yang tertulis dalam Lukas 6:47-49,

 

“Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya–Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan–, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”

 

Keduanya kelihatan sama, tetapi saat banjir datang, saat pencobaan datang, saat penindasan dan aniaya, dikucilkan dan disingkirkan karena Kristus, segera ia meninggalkan imannya. Mungkin masih tetap kristen dan ke gereja, tetapi ia telah mati, hidup tidak lagi menurut Firman Tuhan, sebagaimana dunia menuntut seperti itulah ia hidup. Bahkan mungkin ada yang telah berpindah agama. Yakobus 2:26 mengatakan tentang mereka, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”

 

Setelah kita mengetahui Firman Tuhan, maka Tuhan menuntut kita mentaatinya, mungkin kelihatan aneh dan berat bagi kita jika kita melakukannnya, tetapi seperti yang dikatakan oleh Roma 1:17, kebenaran itu bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Saat kita membaca atau mendengar Firman Tuhan, maka akan timbul iman (Roma 10:17) dan pada saat kita melakukan dan mentaati Firman Tuhan tersebut maka iman yang tersebut menjadi nyata dan semakin nyata, seperti yang dikatakan oleh Yakobus 2:22, “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”

 

Hal itu sama seperti kita sedang menaman pondasi yang kokoh bagi rumah kita sehingga pada saat badai datang kita tetap berdiri teguh didalam iman. Karena kita melihat iman yang nyata.

 

Mendengar Firman Tuhan itu baik, beberapa orang malah senang mendengarkan kebenaran Firman Tuhan, apalagi jika banyak pembukaan rahasia Allah yang dalam-dalam. Tetapi untuk mentaati seluruh Firman Tuhan (Yakobus 4:17), beberapa orang menyeleksinya dengan akal pikiran, mana yang patut dilakukan dan mana yang hanya merupakan sedap-sedapan telinga (Markus 6:20, II Timotius 4:3). Oleh karena itu, Tuhan katakan mereka “tidak berakar” sebentar saja oleh pencobaan segera bersungut-sunggut, menyalahkan Tuhan dan bahkan sampai murtad meninggalkan Tuhan.

 

Jangan hanya menjadi pendengar saja, jadilah pelaku Firman. Yakobus 1:22 mengatakan, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Seakan-akan beriman, tetapi sebenarnya tidak masuk hitungan Allah. Merasa dirinya sebagai orang yang diselamatkan, tetapi Firman Tuhan dalam Yohanes 3:36 mengatakan sesungguhnya murka Allah masih tetap ada diatasnya. Jangan bodoh, mendengar itu baik, bahkan pilihan terbaik kata Lukas 10:39-42 dan Pengkotbah 4:17 tetapi mentaati Firman Allah itu jalan untuk masuk dalam Kerajaan Allah (Matius 7:21-23), jalan kepada Bapa di Surga (Yohanes 14:6 à Yohanes 1:14).

 

Tuhan katakan dalam 1 Korintus 3:11-13, bahwa bangunan iman kita suatu kali pasti akan diuji dan diuji dengan api, apakah kita membangun dengan kokoh atau tidak akan nyata kelak. Masa pencobaan itu akan menimpa setiap orang kristen. Satu kebenaran yang harus kita ingat, bahwa walau pencobaan itu datang tetapi tidak akan melibihi kekuatan kita, Allah tidak mengijinkan iblis mencobai lebih dari kekuatan kita, itu janji Tuhan dalam 1 Korintus 10:13. Berdoa dan berjaga-jagalah agar kita tidak jatuh pada saat pencobaan datang (Matius 26:41). Tetapi jikalau kita dapat melewatinya, Yakobus 1:12 mengatakan, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”

 

 

SEMAK BERDURI

Lukas 8:15

Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

 

Jika yang jatuh di tanah berbatuan adalah mereka yang mendengar Firman Tuhan dan tidak melakukannya, maka yang ditabur di semak berduri adalah mereka yang mendengar Firman Tuhan dan juga melakukannya. Mereka mentaati Firman Tuhan dalam hidupnya. Mencocokan hidupnya dengan kebenaran. Mereka betumbuh!

 

Tetapi ada tiga hal yang membuat mereka tidak berbuah. KEKAWATIRAN, KEKAYAAN dan KENIKMATAN HIDUP. Tiga hal ini yang sering kali menghambat pertumbuhan orang kristen dan membuat mereka tidak menghasilkan.

 

KEKAWATIRAN

Firman Tuhan dalam Matius 6:27 mengatakan, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”

 

Kawatir ini sering kali membuat anak Tuhan panik dan mencari jalan sendiri. Mereka tidak dapat melihat apa yang tidak kelihatan. Seperti pelayan Elisa yang kawatir dan panik saat melihat kepungan Raja Aram dalam II Raja-raja 6:15-17, setelah matanya celik ia melihat perlindungan dan pemeliharaan Allah yang luar biasa. Demikian juga dengan kita, kawatir atas hidup ini, atas masa depan kita atau atas penghidupan kita. Mintalah mata kita dicelikan oleh Tuhan.

 

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)

 

Berdoalah dan berserulah pada Tuhan, Ia pasti akan menolong kita (Mazmur 50:15). Hidup kita didunia ini hanyalah sementara, fana dan sia-sia. Untuk apakah kita kawatir atas dunia ini yang akan binasa sementara Allah berjanji akan memelihara kita (Lukas 12:22-31), dan tidak akan membiarkan atau meninggalkan kita sendirian (Ibrani 13:5). Imannuel Allah beserta kita.

 

Jangalah masalah kekawatiran dunia ini membuat kita tidak dapat berbuah. Membuat kita mencari jalan lain, membuat kita menunda melaksanakan kehendak Allah.

 

KEKAYAAN

Firman Tuhan dalam Amsal 23:4 mengatakan, “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.”

 

Semua orang ingin kaya, bahkan banyak pendeta mengajarkan berkat dan kekayaan. Tetapi sesungguhnya Firman Tuhan malah berkata “Jangan bersusah payah menjadi kaya” Jelas dan tidak dapat dibantah. Jika keinginan untuk menjadi kaya itu ada didalam hati kita, maka benarlah apa yang tertulis dalam I Timotius 6:9-10,

 

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

 

Beberapa banyak orang kristen yang telah bertumbuh, hidup mentaati Firman Tuhan, tetapi saat uang itu datang dan mengalir dan terhambat dan tersendat maka ia mulai mengejar “kekurangan” itu bahkan dengan segala cara yang “halal” dengan “hanya” mengorbankan waktu ibadah, waktu saat teduh dan waktu bersekutu. Tetapi sesungguhnya ia telah mengorbankan segala-galanya (Lukas 9:25). Ia lupa bahwa ia tidak kekurangan, bahwa ia kecukupan dalam segala sesuatu (II Korintus 9:8), makan, minum, pakaian, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan lainnya. Orang kristen yang terjebak dalam keinginan kaya, mereka hanya mengejar kesia-siaan (Amsal 23:4-5). Tidak akan pernah dapat puas walau berkecukupan tetapi selalu merasa kurang dan kurang dan kurang (Pengkotbah 5:10).

 

Tidak ingatkah bahwa Tuhan yang membuat manusia kaya (1 Samuel 2:7, Ulangan 8:17-18). Ia juga yang membuat manusia ini atau itu yang menikmati kekayaannya, walaupun ia dapat mengumpulkan kekayaan yang berlimpah, tetapi mereka yang dapat menikmati hanya mereka yang beroleh anugrah (Pengkotbah 6:2, 1 Timotius 6:17).

 

Jangan karena mengejar kekayaan kita meninggalkan ibadah kita, saat teduh kita dan persekutuan kita. Cukuplah dengan apa yang ada (Ibrani 13:5), sebab kita sebenarnya tidak kekurangan dan malah berkelimpahan. Waktu ini berharga jangan dikorbankan hanya untuk mencari uang lebih (1 Petrus 4:2).

 

KENIKMATAN HIDUP

Tipu daya iblis adalah menawarka kenikmatan dalam hidup ini. Kenikmatan atas apa? Kenikmatan hidup sama dengan kenikmatan daging. Kata nikmat hanya untuk daging ini.

 

Banyak orang kristen yang diberkati, hidup lebih baik, lebih makmur dan dapat menikmati hidup ini tentu saja di dunia. Mereka yang telah menikmatinya akan sulit meninggalkannya, mereka yang telah hidup enak akan sulit untuk hidup sengsara. Orang ini seperti yang diceritakan dalam Lukas 5:39, “Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

 

Kenikmatan hidup di dunia ini dapat membuat api anak padam. Lambat laun ia semakin dekat dengan dunia, lambat laun dia semakin jauh hatinya dari Bapa. Bukankah sudah tertulis dalam I Yohanes 2:15-16, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” Kenikmatan hidup ada tipu daya iblis.

 

Jangan ingin hidup enak didunia ini, Firman Tuhan mengajarkan agar kita berjalan di jalan sempit (Matius 7:13-14), jalan yang penuh dengan sengsara salib dan penyangkalan diri (Lukas 9:23). Tetapi seperti halnya anggur tua, siapa yang telah menikmati kenikmatan hidup di dunia ini akan sulit untuk memikul salib dan menyangkal diri.

 

Kisah Para Rasul 14:22 malah menyebutkan, “… dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” Sengsara bagi daging ini dan tidak malah melazatkan daging ini kata Roma 13:14.

 

Jangan bodoh, kita tahu apa maksud iblis (II Korintus 2:11), ia ingin agar kita menikmati daging ini dan membuat keinginan daging ini menjadi semakin kuat sehingga sesuai dengan Roma 8:5-8, kita akan semakin jauh dari Allah dan akhirnya binasa didalam kenikmatan dunia (Roma 8:13, Yohanes 8:44). Jangan suka hidup enak!

 

 

TANAH YANG BAIK

Lukas 8:16

Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

 

Tuhan menghendaki kita menjadi “tanah yang baik” sehingga benih Firman Tuhan yang ditaburkan didalam “hati yang baru” dapat bertumbuh dan menghasilkan buah didalam kebenaran.

 

Satu kata yang penting dari menghasilkan buah adalah KETEKUNAN. Beda tanah yang baik dengan tanah bebatuan adalah pada batunya. Pencobaan yang dialami dapat membuat mereka yang disebut “Tanah Bebatuan” menjadi murtad dan meninggalkan Tuhan, sebaliknya “Tanah yang Baik” malah menjadi jalan untuk menghasilkan buah. Yakobus 1:2-4 mengatakan,

 

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

 

“Tanah yang baik” tidak akan putus asa dan gentar menghadapi pencobaan, menghadapi apapun juga didalam hidup ini. Mereka selalu tekun dan tetap mengikuti langkah Tuhan Yesus. Baik itu gembira, sedih, kelimpahan, kekurangan, aniaya, penghiburan dan kematian ketekunan itu tercermin dalam setiap hidupnya. Seringkali orang kristen gagal menghasilkan buah dan menermia janji Allah sebab mereka mudah putus asa, mudah kecewa dan tidak sabar menanti janjiNya. Firman Tuhan dalam Ibrani 10:36 mengatakan, “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Tidak malah sebaliknya setelah kita mentaati Firman Tuhan yang kita dengar kita menjadi tukang tagih janji seakan akan ketaatan kita mahal harganya. Pantaskah kita seperti itu? Apakah Tuhan lalai menepati janjiNya (II Petrus 3:9)? Lihat Ayub, walau dalam pencobaan ia tetap tekun mencari Allah dan Allah tidak meninggalkanNya (Yakobus 5:11). Pernyataan yang luar biasa dari Ayub dalam Ayub 23:10-12, menjadi teladan ketekunan kita mengiring Yesus, dalam kondisi apapun juga. Bertekunlah!

 

TEKUN adalah kata yang penting dalam mengiring Yesus. Jangan abaikan itu! Terlebih pada masa-masa akhir ini, Firman Tuhan dalam 2 Timotius 3:1 mengatakan bahwa pada akhir zaman akan datang masa-masa yang sukar, pencobaan akan semakin berat dan Gereja Tuhan akan masuk pada penghakiman, penampian (1 Petrus 4:17), semua telah dinubuatkan, dan Wahyu 14:12 mengingatkan mereka yang hidup di akhir masa ini, “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus”

 

Sebagai akhir, ingatlah selalu saat perjalanan kita mengiring Tuhan, saat kita membangun rumah iman ini, semua itu memerlukan KETEKUNAN. Tidak otomatis, tidak instan dan tidak sama dengan waktu yang kita harapkan, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dan Ia tidak lalai menepati janjiNya. Tetap taat Firman Tuhan apapun juga tantangannya!

 

Salam Damai Sejahtera,

Leonardi Setiono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: