h1

Suara Dari Surga

24 July 2005

FT 24-07-2005

Kelas Petrus

Lukas 16:19-31

Cerita tentang Lazarus dan orang kaya sudah sering kita mendengarnya. Kembali kini kita melihat sekali lagi kebenaran yang terkandung didalamnya.

Dalam Lukas 16:19-23 diceritakan dengan singkat bagaimana mereka hidup dan bagimana pula kehidupan setelah kematian. Suatu misteri yang menyeliputi setiap orang yang membaca cerita tersebut. Apakah yang telah dilakukan orang kaya tersebut sehingga ia masuk dalam neraka kekal dan apa pula yang dilakukan oleh Lazarus yang miskin tersebut sehingga ia berhak masuk dalam Surga yang mulia?

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.”

(Lukas 16:19-23)

Apakah karena Lazarus miskin dan orang kaya tersebut kaya sehingga yang satu masuk di dalam neraka dan yang satu di Surga? Tentu tidak. Bukan soal kaya atau miskin, bukan soal uang dan kemewahan. Coba perhatikan kisah tersebut, adakah yang mulia dan pantas menjadi teladan dari kehidupan Lazarus? Lukas 16:20-21 hanya menyebutkan bahwa ia pengemis, badannya penuh borok, tidur diluar rumah dan makannya dari remah-remah yang jatuh dari meja si kaya. Anjing sering kali menjilati boroknya. Apanya yang menjadi teladan bagi kita dari kehidupan Lazarus? Siapa yang mau seperti Lazarus? Apakah seperti itu jalan ke Surga?

Tuhan ingin menyampaikan sesuatu kepada kita lewat cerita singkat orang kaya dan Lazarus ini. Jika kita baca selanjutnya, Lukas 16:24-25 maka kita akan melihat apa sebabnya mereka satu di Neraka dan satu di Surga.

“Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita”. (Lukas 16:24-25).

Coba perhatikan jawaban Abraham kepada orang kaya tersebut: “Engkau telah menerima segala sesuatu yang baik waktu hidupmu sedang Lazarus segala yang buruk”. Sepintas seperti hukum keadilan, yang dulu di dunia hidup senang di akhirat susah, yang dulu di dunia susah nanti di Surga hidup senang. Tetapi kita tahu, tidak ada hukum Allah seperti itu. Mereka yang mendapat bagian di Kerajaan Surga adalah mereka yang percaya didalam nama Tuhan Yesus Kristus (Roma 10:9) dan tetap tinggal didalam FirmanNya (Matius 7:21) bukan karena miskin atau karena waktu hidup didunia menerima segala yang buruk.

Allah itu adil, tetapi bukan barang fana yang di perhatikanNya. Allah tidak memperhitungkan kaya atau miskin, cantik atau buruk, berbaju bagus atau lusuh, semua yang kelihatan itu adalah sementara, tetapi Allah melihat yang kekal (2 Korintus 4:18). Coba perhatikan kata “segala yang baik” dan “segala yang buruk”. Apakah kaya dan banyak uang itu segala yang baik sedangkan miskin itu segala yang buruk? Apakah itu pandangan Allah tentang hidup ini?

Itu adalah pandangan dunia. Itu adalah pandangan si kaya. Percakapan yang terjadi dalam Lukas 16:19-31 adalah antara Abraham dan orang kaya bukan dengan Lazarus. Orang kaya tersebut sebenarnya adalah tokoh utama cerita dalam kisah ini bukan Lazarus. Apa yang dikatakan oleh Abraham adalah mewakili pandangan orang kaya tersebut.

SEGALA YANG BAIK DAN BURUK

Bagaimana dengan kita? Apakah cara pandang kita sama dengan orang kaya tersebut? Segala perkara yang baik adalah kaya, makmur, mewah, sehat tidak seperti Lazarus yang miskin dan borokan. Kalau kita melihat orang lain yang kaya dan mengatakan bahwa ia hidup menerima segala yang baik dari Tuhan, maka cara pandang kita sama dengan orang kaya dalam cerita tersebut.

Coba kita lihat apa kata Firman Tuhan tentang hidup orang beriman sesungguhnya. Dalam 2 Timotius 3:12 dikatakan, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Juga didalam Kisah Para Rasul 14:22, dikatakan bahwa untuk masuk kedalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Sengsara karena Krisutus itu adalah karunia kata Filipi 1:29. Jika sengsara itu karunia dari Allah, apakah sengsara itu perkara yang buruk?

Sudahkah kita menyadarinya? Lazarus masuk kedalam Surga bukan karena hidup miskin, menderita dan borokan, tetapi Tuhan ingin agar kita tahu bahwa kita harus selalu sadar bahwa hidup di dunia ini bukan untuk bersenang-sendang dan berfoya-foya. Semua hal itu akan menguatkan hawa nafsu daging kita (Roma 13:14 TL/KVJ). Tetapi sebaliknya bagaikan hidup Lazarus, daging ini tersiksa.

“Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, –karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa–, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah”. (1 Petrus 4:1-2).

Sudahkah kita mempersenjatai diri kita dengan pemikiran seperti itu? Kita harus menderita penderitaan badani ini setiap hari. Bukan penderitaan fisik yang dimaksud seperti dipukul, ditendang, dicubit. Bukan, tetapi keinginan daging ini harus mati setiap hari. Disalibkan kata Roma 6:6-7. Tentu sakit jika kita harus melawan keinginan kita sendiri, menyangkali hawa nafsu kita. Tetapi kalau kita tidak melakukannya, Firman Tuhan dalam Matius 10:38 mengatakan kita tidak layak bagiNya.

Tetapi, didalam penderitaan daging tersebut, Tuhan memberikan kemuliaan yang berlebih-lebih, bahkan tidak sebanding (2 Korintus 4:17, Roma 8:17-18). Bukan hanya di Surga nanti, tetapi juga di dunia ini. Perlindungan, pemeliharaan dan keselamatan dari Allah akan mewarnai hidup kita orang-orang yang mau menderita didalam daging ini.

Jika demikian manakah perkara yang baik bagi Allah? Hidup mewah dan berfoya-foya atau hidup didalam penderitaan daging ini? Sungguh Bertentangan dengan yang dikatakan oleh Lukas 16:25. Sudah pasti pandangan itu adalah pandangan orang kaya tersebut. Bukan padangan Tuhan.

PANDANGAN BAIK DAN BURUK

Hati-hati dengan cara pandang kita melihat segala sesuatu didunia ini. Tentang mana yang baik dan mana yang baruk. Ingatlah Iblis itu sering kali menawarkan godaan kepada kita, kuncinya adalah di daging ini, sebab keinginan daging itu maut dan keinginan Roh adalah hidup (Roma 8:6) keduanya bertentangan (Galatia 5:17). Kalau daging ini tidak merasai sakit berarti kita sedang memanjakannya.

Simpan baik-baik dalam pikiran kita 1 Petrus 4:1 agar kita tidak hanyut dalam tipu daya iblis. Orang kaya itu menggangap hidup mewah dan berfoya-foya itu segala perkara yang baik. Padalah kita tahu, 1 Timotius 5:6 mengatakan bahwa orang yang hidup bermewah-mewah dan berlebih-lebih sudah mati dihadapan Allah selagi hidup di dunia. Tuhan tidak mengajarkan kita hidup bermewah-mewah dan berfoya-foya di dunia ini (Yakobus 5:1-5, 2 Petrus 2:12-13).

RACUN DARI IBLIS

Lalu dari mana saja iblis meracuni pikiran orang kaya tersebut, termasuk juga kita sehingga perkara yang baik menjadi buruk dan segala perkara yang buruk menjadi baik?

Kita akan menemukan jawabnya dalam ayat selanjutnya, Lukas 16:26-28.

“Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.” (Lukas 16:26-28)

Masih ada lima saudaranya yang memiliki pikiran dan kehidupan yang sama dengan orang kaya tersebut. Masih ada lima saudara yaitu mereka tumbuh bersama-sama mulai dari kecil sampai besar. Seperti yang dikatakan oleh 1 Korintus 15:33, “Jangan kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Dengan siapa kita bergaul dan berteman, dengan mereka kita menjadi serupa. Siapakah teman bergaul kita?

Teman bergaul dapat juga berarti TV, film, sinetron, majalah, novel, radio atau internet, komputer dll. Berapa banyak hal diatas telah membentuk pola pikir kita, membentuk hati dan perasaan kita, membentuk kita untuk melihat perkara yang baik dan perkara yang buruk seperti orang kaya tersebut. Semakin kita sering melihat dan mendengar, maka semakin kuat filsafat dunia ini meracuni kita. Kalau mata kita menjadi gelap maka gelaplah seluruh tubuh kita kata Matius 6:22-23.

Juga teman-teman kita, jangan bergaul karib dengan mereka yang hidup dalam dosa (Mazmur 1:1, Amsal 24:1), yang pikirannya penuh dengan perkara duniawi (Filipi 3:19). Seperti yang diingatkan oleh Amsal 5:14, bahwa ditengah perkumpulan sering kali kita terseret dalam kejahatan dan celaka. Kalau kita sering berkumpul dengan mereka maka kita akan terbiasa dan menjadi sama dengan mereka (Amsal 22:24-25), baik pikiran, perasaan dan perbuatan kita, yang pada akhirnya menjadi sama seperti orang kaya tersebut. Lot orang benar tetapi akhirnya pikirannya dan pandangannya telah menjadi rusak setelah bergaul dan tinggal di kota Sodom dan Gomorah (Kejadian 19:1-38).

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5).

Bukan pikiran dan perasaan kita menjadi sama dengan dunia ini (Roma 12:2) tetapi menjadi sama dengan pikiran dan perasaan Tuhan Yesus.

Jangan mau diracun iblis, kalau pikiran kita semata-mata atau selalu memikirkan perkara duniawi, perkara daging maka hati-hatilah jangan-jangan kita hidup dalam daging (Roma 8:5).

RACUN YANG HALUS

Tetapi Iblis juga menggunakan racun yang halus. Dalam Lukas 16:29:31 dikatakan, “Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Iblis juga memanahkan panah apinya langsung ke dalam hati kita. Membuat kita meragukan Tuhan, meragukan janjiNya, meragukan kebenaranNya, seperti orang kaya tersebut yang meragukan kesaksian Musa dan para nabi.

Seperti 1 Korintus 1:22, yang satu menuntut tanda ajaib baru percaya, yang lain menuntut pembuktian secara ilmiah, secara modern dan masuk akal. Iblis juga menggoda iman kita, membuat kita ragu dan bimbang. Iblis tahu orang yang bimbang tidak akan mendapat apa-apa (Yakobus 1:6-8, Mazmur 119:113), bahkan orang yang ragu dengan imannya itu diujung kebinasaan (2 Korintus 13:15, Mazmur 78:22).

Bagai mana kita bisa lolos dari hal tersebut? Jawabnya seperti yang dikatakan Abraham kepada orang kaya tersebut, “Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi.” Ada pada kita Firman Tuhan, Alkitab. Efesus 6:16, “dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat.”

Bukankah iman itu timbul dari mendengar dan membaca Firman Tuhan (Roma 10:17)? Kita memiliki Alkitab, kita memiliki kesaksain para nabi dan kesaksian Yesus Kristus dan rasul-rasulNya. Lawan iblis dengan iman yang kuat kata 1 Petrus 5:8-9. Kalau kita tidak pernah membaca Firman Tuhan bagai mana iman ini bisa menjadi kuat? Iblis akan merusak kita dan menjadikan kita sama seperti orang kaya tersebut, setiap hari sibuk mengejar kemewahan, foya-foya dan hidup menikmati daging ini. Jalannya sudah jelas. Neraka yang kekal.

Dalam Lukas 16:26 dikatakan Neraka dan Surga dipisahkan oleh jurang yang tidak dapat disebrangi. Jika kita menyadari seperti orang kaya tersebut maka sudah terlambat. Hari ini, sekarang waktu kita hidup sisa di dunia ini kita memutuskan sendiri jalan mana yang kita tuju. Amsal 16:25 dikatakan, “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Jangan dikira jalan kita lurus menuju Surga kalau hidup kita tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Mari kita belajar dari orang kaya dan Lazarus. Mari kita menjaga pikiran, hati dan perasaan kita agar tidak teracuni oleh nilai-nilai duniawi sehingga kita tidak terjebak dalam kehidupan orang kaya tersebut. Sebaliknya belajar dari kehidupan Lazarus yang siap sedia merasakan penderitaan daging ini yang telah mati dan disalibkan bersama-sama dengan Kristus untuk menerima kemuliaan yang kekal di Surga.

Salam,

Leonardi Setiono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: