h1

Jangan Berhenti

20 November 2005

FT 20-11-2005, Kelas Petrus & Andreas

2 Raja-raja 2:1-9
“Menjelang saatnya TUHAN hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai, Elia dan Elisa sedang berjalan dari Gilgal. Berkatalah Elia kepada Elisa: “Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke Betel.” Tetapi Elisa menjawab: “Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu pergilah mereka ke Betel. Pada waktu itu keluarlah rombongan nabi yang ada di Betel mendapatkan Elisa, lalu berkatalah mereka kepadanya: “Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?” Jawabnya: “Aku juga tahu, diamlah!” Berkatalah Elia kepadanya: “Hai Elisa, baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke Yerikho.” Tetapi jawabnya: “Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu sampailah mereka di Yerikho. Pada waktu itu mendekatlah rombongan nabi yang ada di Yerikho kepada Elisa serta berkata kepadanya: “Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?” Jawabnya: “Aku juga tahu, diamlah!” Berkatalah Elia kepadanya: “Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke sungai Yordan.” Jawabnya: “Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu berjalanlah keduanya. Lima puluh orang dari rombongan nabi itu ikut berjalan, tetapi mereka berdiri memandang dari jauh, ketika keduanya berdiri di tepi sungai Yordan. Lalu Elia mengambil jubahnya, digulungnya, dipukulkannya ke atas air itu, maka terbagilah air itu ke sebelah sini dan ke sebelah sana, sehingga menyeberanglah keduanya dengan berjalan di tanah yang kering. Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.”

BERTEKUN
Cerita diatas mengajarkan kepada kita agar jangan berhenti setengah jalan. Menjadi orang Kristen harus mempuyai tujuan dalam hidupnya, bukan asal hidup didunia. Setiap orang Tuhan punya rencana indah dalam hidupnya bukan untuk yang fana tetapi untuk kekal (Yeremia 29:11, Efesus 2:10). Hidup sia-sia mengejar duniawi itu bukan jalan Tuhan. Tuhan ingin kita seperti Nabi Elisa mengejar perkara kekal dengan tekun dan ulet. Alkitab dalam banyak hal mengajarkan kita untuk tidak pantang menyerah. Bahkan Tuhan menyuruh kita bertekun mencariNya (bukan sekenanya atau sekedarnya).

“Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku”. Amsal 8:17

Dalam mencari Tuhan kita harus tekun, tidak boleh setengah-setengah mengiring Tuhan, malah yang setengah-setengah tidak akan mendapatkan apa-apa (Yakobus 1:6-8) bahkan binasa kekal. Sering kali seseorang selalu tergesa-gesa dalam banyak hal, misalnya dalam menantikan pertolongan Tuhan, menunggu jawaban dari Tuhan atau menunggu waktu Tuhan, kita sering kali tidak sabar. Tuhan saya sudah begini dan begitu, saya sudah setia beribadah, saya sudah hidup suci, saya sudah mengalah, saya sudah berdoa sungguh-sungguh dan lain-lainnya yang pada akhirnya kita berhenti berharap kepadaNya, berhenti menantikan pertolonganNya, berhenti menungggu jawabanNya, dan mulai mencari jalan lain, cara lain, penolong lain yang lebih nyata. Jangan lari pada mesir kata Yesaya 31:1. Ingat, Tuhan ingin kita bertekun dalam mencariNya. Bertekun! Jangan mudah putus asa dan menyerah ditengah jalan apalagi meninggalkan Tuhan. Seberapa berat masalahnyapun jangan!

“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Ibrani 10:36

Jangan menyangka bahwa Allah lalai atau tidak menepati janjinya (2 Petrus 3:9), jangan menyangka bahwa Ia tidak menolong anda, jangan menyangka bahwa Tuhan tidak jawab, semuanya itu tidak instan, tetapi dibutuhkan ketekunan kalau kita ingin mendapatkan janji Allah. Tuhan ingin kita tekun mencariNya bukan karena Ia jual mahal, atau ingin main-main dengan kita, tetapi Ia ingin kita dibentuk, ingin kita diperbaharui, ingin kita menjadi sempurna seperti diriNya (Matius 5:48, Kolose 3:9-10). Itu adalah pengolahan.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1:2-4

Jangan putus asa saat Tuhan sedang menguji iman kita, bertekunlah, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Firman Tuhan yang kita dengar akan dapat menjadi nyata hanya jika kita bertekun didalamNya (Lukas 8:15, Yakobus 1:25). Tanpa ketekunan bagaimana kita bisa bertahan didalam dunia ini yang bengkok dan terbalik? Tanpa ketekunan bagaimana kita bisa menemukan Tuhan? Ingat Tuhan ingin kita berjalan terus, tidak sebegini saja.

DARI GILGAL
Kisah tentang ketekunan Nabi Elisa mengikuti Nabi Elia menjadi teladan bagi kita (Yakobus 5:10-11) dan kita tahu apa yang Nabi Elisa dapatkan dari ketekunan tersebut. Kisah tersebut dimulai dari Gilgal atau Galilea. Gilgal atau Galilea mempunyai arti kata “lingkaran”.

Tuhan Yesus memulai pelayanannya dari Galiela (Markus 1:39, Lukas 4:4), demikian juga dengan bangsa Israel memulai perjalanan pertama di negri Kanaan melalui Gilgal (Yosua 4:19-12). Gilgal menggambarkan tentang permulaan seorang kristen memulai hidup barunya. Hidup didalam janji-janji Allah. Hidup didalam kemurahan dan kasih karunia. Permulaan kita masuk dalam lingkaran Allah, dalam perlindungan Allah menjadi bagian dari keluarga Allah. Gilgal adalah awal dari segala sesuatu.

Dimulai dari Gilgal, dimulai dari saat seseorang menerima injil dan menerima keselamatan dari Kristus. Dari sanalah Nabi Elisa selalu bersama-sama mengikuti Nabi Elia untuk mendapatkan dua bagian Roh Tuhan yang ada pada Elia lewat ketekunan.

KE BETEL
Setelah dari Gilgal, Tuhan menyuruh Nabi Elia berjalan ke Betel. Untuk apakah ke Betel? Untuk menguji ketekunan Nabi Elisa. Betel mempunyai arti kata “rumah Tuhan” Yakub menyebutnya sebagai pintu gerbang Surga.

Nama Betel diberikan oleh Yakub pada saat ia pertama kali melihat tangga sampai ke Surga dan mendengar suara Tuhan dalam mimpinya (Kejadian 28:16-19). Betel atau rumah Tuhan adalah gambaran kita sebagai rumah Tuhan (1 Korintus 6:19) dimana Allah hidup dan tinggal didalamNya. Apakah Allah tinggal didalam hidup kita? Tuhan pernah memarahi orang-orang yang menjadikan rumah Tuhan sebagai tempat berjual beli (Matius 21:12-13). Yesus menyebutnya sarang penyamun, sarang perampok. Mengapa disebut perampok? Sebab kita merampoki barang-barang milik Allah. Yang mana? Hidup kita ini, bukankah kita telah dibeli dan telah dibayar lunas dan hidup kita ini bukan lagi milik kita mengapa kita masih menjual belikannya dengan dunia? Jadikanlah diri kita benar-benar rumah Tuhan agar Tuhan benar-benar tinggal didalam hidup kita.

Betel cerita tentang hidup kekristenan yang melepaskan perkara-perkara duniawi dan mulai menyadari bahwa hidup kita bukan milik kita tetapi milikNya. Kita harus tekun mentaati perintah Tuhan tanpa mempertimbangkan baik buruknya buat kita secara pandangan duniawi.

Rumah Tuhan bukan tempat yang tertata rapi dan bersih tetapi kosong (Matius 12:43-45) melainkan tempat yang diisi seperti halnya Bait Allah buatan manusia, terdapat roti, pelita dan mezbah ukupan, diisi dengan Firman Tuhan dan kesukaan dari Roh (Yohanes 7:38) dan doa. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, rumahKu akan disebut rumah doa.

KE YERIKHO
Setelah dari Betel, Tuhan menyuruh Nabi Elia ke Yerikho. Nabi Elisa tetap tekun mengikuti. Yerikho mempunyai arti kata “tempat yang barbau harum atau indah”

Setelah kita menjadikan hidup kita ini benar-benar rumah Tuhan, tidak sampai disana saja Tuhan inginkan. Tuhan ingin agar kita menebarkan bau harum dimana-mana. Seperti yang ditulis oleh 2 Korintus 2:14-15, “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.”

Tuhan tidak ingin kita menjadi ‘jago kandang’ hanya baik dan benar untuk diri kita sendiri saja. Suci dan mulia hanya untuk diri kita sendiri saja. Tidak bukan seperti itu, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16:15) Tuhan suruh kita pergi, garam kalau tidak asin untuk apa? Pelita yang dinyalakan kalau ditaruh dibawa gantang untuk apa? (Matius 5:13-16).

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

Tuhan ingin kita menjadi terang ditengah-tengah dunia ini. Menjadi teladan dalam hidup kita agar semua orang bisa melihat perbuatan kasih kita, iman kita dan pengharapan kita. Agar semua orang dapat melihat Allah yang hidup lewat hidup kita. Yusuf menebarkan bau harum di seluruh Mesir (Kejadian 41:37-41), Daniel menebarkan bau harum diseluruh Persia (Daniel 2:46-48). Kita juga di sekolah kita, dikelas, ditempat pekerjaan, dikantor, di tetangga dan dirumah dimana saja sudahkah kita menebarkan bau harum dari Kristus? Atau malah sebaliknya? Tetapi juga jangan munafik, sebab Tuhan sangat benci orang munafik (Matius 23:28-29), tempatnya telah disediakan untuk mereka yaitu di neraka kekal (Matius 24:51)

Bersinar keluar, kata-kata itu mungkin cocok untuk menggambarkan hal ini. Jangan bersinar kedalam?!?

KE SUNGAI YORDAN
Setelah di Yerikho ternyata tidak cukup, Tuhan suruh Nabi Elia berjalan ke sungai Yordan. Sungai Yordan mempunyai arti kata “mengalir”

Setelah kita menjadikan hidup kita sebagai rumah Tuhan yang sesungguhnya, dan menebarkan bau harum Kristus lewat hidup kita, maka selanjutnya Tuhan ingin kita mengalir di dalam Roh Allah. Sebuah batu jika kita lempar ke sungai pasti akan tenggelam, tetapi kalau kita melemparkan gabus tentu gabus tersebut akan terseret aliran air tanpa perlawanan. Tuhan ingin kita mengalir dalam pimpinan Roh Allah. Ini cerita tentang kehidupan kharismatik. Kehidupan yang penuh dengan pernyatan kuasa Allah. Menjadi saluran Allah.

Nabi Elisa mengejar nabi Elia sampai ke sungai Yordan dan ia mendapatkan dua bagian Roh yang ada pada Elia. Demikian juga dengan setiap orang yang berjalan terus dalam kehidupan kekristenan sampai ke sungai Yordan maka mereka juga akan mendapatkan dua bagian Roh yang ada pada Elia. Roh Kudus akan dicurahkan tanpa batas bagi mereka yang mau menjadi saluran Allah (Yohanes 3:34).

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Galatia 5:25)

Mengalir didalam pimpinan Roh itu dalam segala hal selalu bertanya-tanya kepada Tuhan apa yang harus dilakukan dan Tuhan akan menunjukan jalan mana yang harus kita lalui (Yohanes 16:13, Yesaya 30:21). Mengalir dalam pimpinan Roh itu senantiasa berdoa didalam Roh (Efesus 6:18) dan mentaati Firman Allah dengan tekun (Wahyu 14:12). Mengalir dalam pimpinan Roh itu berarti senantiasa menjadi saksi dan terang bagi sekeliling kita. Menjauhi duniawi dan keinginan daging (Galatia 5:16-17).

Mengalir itu seperti yang diceritakan Yohanes 21:18, terikat dan dibawa kemana kehendak Roh yang membawa. Menjadi tawanan Roh Kudus, kata Paulus menggambarkan hidup mentaati perintah Roh Allah (Kisah Rasul 20:22-23). Mereka berdua bukan mendapat hidup pahit didunia tetapi damai sejahtera, sukacita dan bahagia yang dari Allah. Kuasa dan kemuliaan tanpa batas. Kelihatanya memang hidup susah tetapi sebenarnya tidak.

Jangan takut dengan apa yang kita lihat, jangan takut dengan apa yang kita bayangkan, jangan memandang dengan pandangan duniawi, percayalah kepada Allah dan hiduplah dengan iman, seperti yang dikatakan oleh 2 Korintus 5:7, “sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” Maka kita akan melihat banyak perkara indah dan mulia yang disediakan Allah.

Mengalirlah didalam pimpinan Roh Allah, mari kita menjadi saluran Allah. Jangan pernah tinggalkan sedetikpun pimpinan Roh Kudus dalam hidup anda pada saat anda berjalan terus dari Gilgal sampai ke sungai Yordan. Tekunlah dalam mencari Tuhan jangan berhenti di Gilgal, jangan berhenti di Betel, jangan berhenti di Yerikho.

Jangan seperti rombongan nabi di Yerikho yang mengikuti Nabi Elia tetapi tidak mau mengikuti samapi ke sungai Yordan, apalagi menyebranginya. Pimpinan Roh Kudus itu benar-benar nyata…

Salam,
Leonardi Setiono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: