h1

Jangan Ingin Kaya

26 January 2006

Amsal 23:4
“Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini”.

Mengapa kita dilarang bersusah payah menjadi kaya? KJV mengatakan, “Labour not to be rich” (bekerja tidak untuk menjadi kaya).

Sungguh aneh dan bertentangan dengan konsep yang ada disekeliling kita. Semua orang berkata, “bekerja yang rajin agar menjadi kaya”. Untuk apa bekerja kalau bukan untuk menambah kekayaan?

Tetapi Firman Tuhan adalah jalan menuju kepada Bapa (Yohanes 14:6), Firman Tuhan adalah kebenaran yang tidak dimengerti oleh dunia (1 Korintus 1:21). Jalan yang diberitakan oleh Amsal 23:4 adalah jalan menuju kepada Bapa di Surga.

Bersusah payah untuk menjadi kaya, atau bekerja keras untuk menjadi kaya telah membuang hal yang berharga dan menggantinya dgn sampah. Berapa banyak waktu dan tenaga yang terbuang untuk perkara tersebut?

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”.
Filipi 3:7-8

Adakah waktu anda bagi Allah? Ataukah pekerjaan telah menjadi kesibukan, sehinga kita dapat membenarkan diri sendiri saat kita berkata “tidak ada waktu” untuk doa, baca FT, persekutuan, ibadah dan pelayanan.

Bekerja tidak untuk menjadi kaya. Asal kebutuhan kita tercukupi cukuplah sudah. Tidak baik kita bersusah payah, menjual waktu dan tenaga kita untuk kekayaan. Tuhan tidak ajarkan kita hidup berfoya-foya (1Timotius 5:6) dan memanjakan daging ini (Roma 13:14).

“Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan”. 1Timotius 6:8-9

Jangan bilang aku tidak akan terjerat. Ini adalah kebenaran. Orang yang ingin kaya, ia pasti cinta uang, dan orang yang cinta uang tidak akan pernah puas dan merasa cukup kata Pengkotbah 5:9. Ia akan terjerat didalam pekerjaannya, ia tidak dapat berkata “cukup”. Ia akan terus bekerja untuk menjadi kaya.

Apakah ia akan semakin dekat pada Tuhan? Beberapa banyak kita dapati mereka yang meninggalkan ibadah, mungkin pelayanannya bahkan mungkin imannya karena pekerjaan, karena bersusah payah menjadi kaya.

Asal ada makanan dan pakaian cukuplah. Asalkan segala kebutuhan kita tercukupi, baiklah, tetapi jangan menginginkan lebih. Pada saat bangsa Israel dipelihara Allah di padang pasir, ‘mana’ yang diambil lebih akan menjadi busuk esok harinya (Keluaran 16:16-21). “Ambilah secukupnya” kata Tuhan. Apakah ada yang kelaparan? Mereka yang mengambil banyak dan mereka yang mengambil sedikit, tidak ada yang kelebihan dan juga tidak ada yang kekurangan.

Saat Tuhan Yesus mengajarkan doa kepada murid-muridNya, Ia mengajarkan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11). Bukan meminta makanan yang berlimpah, juga bukan makanan untuk besok. Tuhan akan memelihara kita setiap hari, dan jangan takut dengan hari esok. Keluaran 16:22-24 mengatakan, “Dan pada hari yang keenam mereka memungut roti itu dua kali lipat banyaknya, …” Pada saat kebutuhan keuangan lebih banyak, berkat itu akan datang sesuai kebutuhan kita.

Hidup seperti ini memang aneh di mata dunia. Tetapi kita adalah orang benar yang hidup karena iman (Roma 1:17). Orang dunia boleh bekerja keras untuk menjadi kaya, tetapi kita bekerja untuk hidup dan bekerja keras untuk Allah bukan untuk barang fana.

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (Yohanes 6:27)

Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya di dunia ini, anda akan dibawa iblis makin jauh dari Tuhan. Orang yang mengasihi dunia ini dan isinya akan semakin tawar hatinya terhadap Tuhan (1Yohanes 2:15).

Jangan tertipu dengan kebutuhan hidup. Pisahkan kebutuhan dari keinginan. Gaya hidup orang di sekitar kita sering kali pengaruhi pandangan kita tentang kebutuhan. Makan memang kebutuhan, tetapi makan di McDonald adalah keinginan.

Amsal 23:4 dalam KJV disebutkan, “Labour not to be rich: cease from thine own wisdom”. Bekerja tidak untuk menjadi kaya: berhentilah mulai dari pemikiranmu sendiri.

Dimulai dari pemahaman kita, dimulai dari pikiran kita. Bagai mana kita memandang kekayaan, dari sanalah kita memulai.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. (Roma 12:2)

Jangan ikuti pola pikir dunia. Kita sudah melihat apa yang Tuhan inginkan. Hidup dengan iman, percaya akan pemeliharaan Allah. Atau iman kita telah teracuni dunia ini? Tidak lagi yakin pemeliharaan Tuhan, tetapi lebih yakin dengan yang terlihat jelas seperti rekaning bank. Apakah kita ingin menggenapi Lukas 18:8?. “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:8). Tidak ada lagi yang berharap kepadaNya.

Masihkah kita yakin akan pemeliharaanNya? Dunia boleh bersusah payah untuk mencari pemenuhan kebutuhannya, tetapi Tuhan telah sediakan untuk kita, seperti ‘mana’ yang datang setiap hari, tidak berlebih dan tidak kurang (Matius 6:32-33).

Tuhan tidak suka kita bekerja keras untuk memupuk kekayaan. Kekayaan itu diberi oleh Tuhan, sebagai anugrah bukan dengan susah payah.

Jangan ingin kaya!

Mulailah dari konsep pemikiran kita. Bekerja tidak untuk menjadi kaya (ada yang diberkati menjadi kaya dan ada yang tidak, tetapi tidak berusaha menjadi kaya).

Untuk apa uang yang berlebih-lebih? Bukankah sudah jelas Lukas 12:15 mengatakan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Mungkin anda tidak tamak, hanya kebutuhan saja yang menuntut anda, sehingga anda harus punya berlimpah uang. Jangan gunakan alasan kebutuhan, sebab Tuhan berkata dalam Ibrani 13:5, Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Jika Tuhan mengatakan “cukupkanlah dirimu”, maka itu artinya benar-benar cukup, tidak akan kekurangan. Tuhan janji pelihara kita (Matius 6:25-32). Walaupun kelihatannya tidak cukup, kalau kita hidup oleh iman maka pasti akan cukup, sebab hal itu sudah dikatakan oleh Nya, “cukupkanlah”, pasti cukup. Demikian juga dengan gaji kita (Lukas 3:14), pasti cukup.

Kalau kita menuruti keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup pasti tidak cukup berapapun juga penghasilan kita.

Tapi iblis akan terus manggoda kita dengan kekayaan, pemikiran-pemikiran dunia, kebutuhan yang sebenarnya lebih banyak keinginan dan tipu muslihat lainnya yang tujuannya membuat kita semakin jauh dari Tuhan.

Stop! Jangan punya konsep yang salah. Bekerjalah tidak untuk menjadi kaya, maka anda akan menemukan Tuhan dalam hidup anda.

Salam damai sejahtera bagimu.
Leonardi Setiono

2 comments

  1. menurut sy yg benar inginlah kaya, inginlah sukses, karena keinginan itu berarti harapan, berharaplah yg besar, bermimpilah yg besar. hanya bagi2kanlah kekayaan itu, jangan disimpan sendiri. pergunakan kekayaan untuk membantu orang lain.


    • Beberapa orang mungkin berfikir seperti itu, apalagi mereka yang berkecimpung dalam bisnis jaringan atau keranjingan seminar motivasi. Memang tidak dipungkiri menjadi kaya itu impian manis dan motor yang kuat untuk memacu kita berusaha dan memimpikan lebih baik lagi.

      Apakah salah? Tergantung siapa anda.

      Jika anda seorang pengikut Kristus, sebaiknya juga kita memotivasi diri dengan pengharapan yang lahir dari FirmanNya. Karena soal kelimpahan itu adalah bonus dari perkara kekal yang kita kejar dan impikan (Matius 6:33).

      Segala alasan mulia dan dermawan, hanya Tuhan yang tahu sejatinya hati dan niat kita, tak seorangpun perlu memberikan pembelaan atas alasan kita dihadapanNya (Yohanes 2:23-25).

      Perlu juga dibedakan antara tidak ingin menjadi kaya dengan seorang pemalas. Firman Tuhan mengajarkan kita bekerja sekuat tenaga, segenap kemampuan untuk menghasilan performa yang optimal atau prestasi (Pkh 9:10). Sedangkan pemalas dan hidup pasif bukan cermin Kristus.

      Semoga memahami.



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: