h1

Doa Bapa Kami

4 June 2006

Kelas Petrus, 04 Juni 2006

 

Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” (Lukas 11:2-4)

 

Teks ayat diatas adalah doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya yang kemudian kita kenal dengan sebutan doa Bapa Kami. Dari doa tersebut kita dapat belajar sifat dan hukum-hukum Allah, sehingga kita dapat mengetahui apa yang menjadi kehendak dan rencanaNya.

 

Pada doa tersebut yang ditulis oleh Lukas terdiri dari tiga bagian. Pertama adalah kata, “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.” Yang kedua adalah, “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya.” Dan yang ketiga adalah, “ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami kedalam pencobaan.” Ketiga hal tersebut adalah doa tentang hidup manusia sehari-hari didunia ini. Kita akan mempelajarinya satu persatu.

 

“Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.”

Kalimat tersebut mengawali doa orang beriman. Sebuah pernyataan bahwa Allah itu kudus, demikian juga dengan kita yang menyebut Allah itu Papa (Bapa) maka kita juga harus sama seperti Papa kita, kudus, setuju dengan apa yang tertulis “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus.” (Imammat 19:2, 1 Petrus 1:16). Allah itu kudus dan kita seharusnya juga kudus.

 

Kudus itu mempunyai arti dipisahkan dari dosa, dijauhkan dari kenajisan, dari dunia ini. Imammat 20:26 diceritakan bahwa bangsa Israel dipisahkan dari bangsa-bangsa lain untuk menjadi kudus agar mereka dapat menjadi milik Allah. Kita, setelah kita menerima keselamatan lewat penebusan tubuh Yesus Kristus, kita juga telah menjadi kudus didalamNya (Ibrani 10:10), dan kita disebut sebagai orang-orang kudus (1 Korintus 1:2), karena kita telah dipisahkan dari dunia ini (Yohanes 15:19, Kolose 3:2-3). Walau kita hidup didunia ini, tetapi kita tidak lagi memikirkan perkara-perkara duniawi lagi (Roma 12:2, 1 Korintus 7:31), tidak lagi mencari seperti yang dicari oleh bangsa-bangsa lain. Tuhan ingin kita kudus, jauh dari perkara duniawi yang penuh dengan kenajisan. Seperti yang ditulis dalam 2 Korintus 6:16-18,

 

“Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

 

Allah menjadi Bapa kita, kita menjadi anak-Nya saat kita keluar dari kehidupan duniawi, saat kita memisahkan diri dari pergaulan jahat dunia ini, dan saat kita memutuskan untuk tidak memberikan hati kita menjamah atau kenikmatan yang najis. Pada saat itu kita dapat berkata “Bapa, dikuduskanlah nama-Mu” dengan penuh kesadaran bahwa kita bukan lagi dari dunia ini (Yohanes 17:16). Tidak ada tempat bagi kenikmatan duniawi dan perkara-perkara fana. Pada saat itu, seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan, “datanglah Kerajaan-Mu.” Suatu pernyataan iman bahwa kemuliaan dan kuasa Allah ada bersama-sama dengan kita, saat itu tidak ada yang mustahi yang tidak dapat terjadi, sebab bagi Allah memang tidak ada yang mustahil (Lukas 1:37), juga bagi kita orang beriman (Markus 9:23). Doa kita akan selalu didengar-Nya. “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22).

 

“Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya”

Tuhan Yesus mengajarkan kita meminta kebutuhan-kebutuhan kita setiap hari dengan garis bawah kata “secukupnya”. Tuhan tidak ingin kita serakah, tetapi seluruh kebutuhan kita Ia yang menjamin. Seperti yang dikatakan-Nya, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5).

 

Allah ingin kita percaya bahwa Ia adalah Bapa kita, akan mencukupi seluruh kebutuhan kita. Bahkan kita diajarkan untuk memintanya setiap hari. Disini kita belajar bahwa Allah menyediakan kebutuhan kita secara rutin. Pada waktunya Ia akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita (Pengkotbah 3:11), percayalah, karena Ia tidak pernah meninggalkan kita (Yesaya 49:15, 2 Timotius 2:13). “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” kata Matius 6:34. Berkat Tuhan seperti roti manna yang tersedia setiap hari. Selama 40 tahun mengembara di padang gurun yang juga melambangkan hidup orang kristen di dunia ini, orang Israel mendapat makan manna setiap hari secara rutin (Keluaran 16:35). Tuhan pasti akan mencukupi kebutuhan sehari-hari kita secara rutin juga, seperti bangsa Israel pada waktu itu.

 

Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu. Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.” Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya. Musa berkata kepada mereka: “Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi.” (Keluaran 16:15-19)

 

Tidak kelebihan dan tidak kekurangan, itulah yang dimaksud dengan “cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” Karena jika Allah berkata cukup pasti cukup dengan apa yang ada pada kita. Itu janji-Nya.

 

Allah yang kita sembah, Allah yang menyebut kita anak-Nya, adalah setia, Ia menjamin segala kebutuhan kita dengan pasti, Yeremia 5:24 berkata, “Mereka tidak berkata dalam hatinya: Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.”

 

Ia menjamin kita. Ia menjamin berkat kita dan tidak dikurangi. Berkat dari Tuhan yang diberikan rutin, untuk mencukupi seluruh kebutuhan kita. Tetapi kadang kala kita mendapatkan sesuatu kehidupan yang berat, mendapat kenyataan bahwa berkat tersebut tidak juga datang. Serasa hari tanpa hujan. Mengapa?

 

Tuhan Yesus mengajarkan tentang doa diawali dengan pernyataan bahwa Allah itu kudus, yang berarti kita juga kudus yaitu dipisahkan dari dunia ini dari perkara duniawi yang najis. Jika hati kita masih melekat pada perkara duniawi maka sudah barang tentu kita menjadikan diri kita sendiri musuh-Nya, sebab ada tertulis bahwa “siapa yang bersabahat dengan dunia ini ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yakobus 4:4).

 

Seseorang yang bersahabat dengan dunia ini memandang berkat sebagai kelimpahan duniawi, saat mereka mengharapkan perkara-perkara duniawi (1 Yohanes 2:16), mereka tidak mendapat apa-apa (Yakobus 4:3), bahkan menjadikan dirinya celaka dengan segala ikatan dosa dan kenikmatan hidup fana. Berapa banyak sebenarnya mereka dapat hidup bercukupan tetapi karena cinta akan dunia ini menjadikan dirinya terbelit hutang, terbelit kebutuhan yang sebenarnya bukan kebutuhan tetapi keinginan duniawi belaka. Seperti yang terjadi pada saat bangsa Isreal di pada gurun, mereka dijamin Allah mendapat makan cukup, tetapi karena nafsu serakah, mereka menuntut daging (Bilangan 11:4-6) dan mereka mati karena daging tersebut (Bilangan 11:33-34). Jangan serakah karena Tuhan mengajarkan doa tersebut dengan kata “makanan kami yang secukupnya.”

 

Karena itu ingatlah bahwa kita bukan lagi dari dunia ini, dan kita telah dilepaskan dari nafsu dunia ini dan tidak lagi menjamah apa yang najis dihadapan Allah. Kita adalah orang-orang kudus. Berdoalah selayaknya orang-orang kudus dan mintalah apa yang menjadi bagian kita. Walaupun kelihatannya tidak mungkin terjadi, tetapi tidak ada yang mustahil bagi-Nya, ia akan memberikan kebutuhan kita. Percayalah dengan segenap hati.

 

Hal ini juga dapat menjadi barometer bagi kita jika pada suatu waktu berkat-Nya seakan tidak datang seperti yang dijanjikan-Nya, ketahuilah bahwa ada kemungkinan sesuatu yang tidak benar telah terjadi. Sebab Allah itu setia, semua pasti telah Ia disediakan untuk kebutuhan kita, hanya saja…

 

Yeremia 5:25, selanjutnya berkata, “Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu.”

 

Ya, Sering kali dosa menjadi penghalang. Karena dosa maka berkat-Nya terhambat, karena dosa membuat kita jauh dari Tuhan dan membuat Ia tidak mendengarkan doa-doa kita lagi dan seakan Ia meninggalkan kita (Yesaya 52:1-2). Karena itu bertobatlah jika sekiranya merasakan berkat Allah itu tidak datang, saat kita tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, saat kita terhimpit sendirian, sadarlah, ada sesuatu yang tidak benar. Mazmur 139:23-24, mengajarkan kita untuk memeriksa diri kita sendiri setiap hari apakah kita diam-diam telah serong jalan hidup kita, ataukah ada kesahalan (dosa) yang telah kita perbuat. Biarlah oleh terang Firman Tuhan seluruh hidup kita diperiksa dan dikuduskan didalam kebenaran (Yohanes 17:17).

 

“Ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

Kalimat berikutnya yang diajarkan oleh Tuhan Yesus didalam doa adalah tentang permohonan ampun atas dosa-dosa kita. Allah tahu bahwa kita masih dibungkus oleh daging yang cenderung kepada dosa (Roma 7:18-24). Oleh karena itu maka setiap hari Allah menyuruh kita menyangkal diri dan memikul salib (Lukas 9:23). Mematikan daging ini dengan kuasa Roh Kudus (Roma 8:13-14). Dan jika kita kedapatan berdosa maka Ia adalah perantara kita, penebus kita. Seperti yang dikatakan oleh 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Tetapi jika kita tetap tinggal didalam dosa, maka jangan berharap Ia akan mengampuni dosa kita, karena mereka yang demikian telah menghina penebusan Yesus Kristus (Ibrani 6:4-6, Ibrani 10:26-27).

 

Pengampunan adalah anugrah, kita tidak layak dan tidak dapat menebusnya sendiri, karena itu lewat Yesus Kristus kita mendapat anugrah pengampunan. Tetapi kita juga dituntut untuk mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita (Matius 18:21-35), bahkan Matius 6:14-15 (juga Markus 11:24-26) berkata, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

 

Karena kita anak-Nya maka kita harus juga seperti Bapa kita. Karena Bapa kita murah hati, maka kita juga harus murah hati seperti-Nya (Lukas 6:36). Ini adalah hukum Allah. Kita tidak dapat meminta ampun atas dosa kita kepada Allah tetapi kita tidak mengampuni manusia yang bersalah kepada kita. Jangan hal ini menjadi penghalang berkat Tuhan. Marilah kita tinggalkan beban dosa yang merintangi jalan kita (Ibrani 12:1-2) dan mari kita benar-benar memahami bahwa kita adalah anak-Nya yang kudus dan telah mati bagi dosa dan dunia ini serta hidup bagi Allah. Kebutuhan kita tidak akan tidak terpenuhi karena Ia telah berjanji.

 

Hal yang terpenting selanjutnya adalah mematikan didalam diri kita keinginan daging ini. Karena keinginan tersebut yang menyeret kita kepada dosa dan membuat penghalang bagi berkat Allah atas hidup kita. Seperti yang dijelaskan dalam Yakobus 1:14-15, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”

 

Jangan biarkan pencobaan itu datang didalam daging kita. Jangan biarkan iblis bekerja didalam bagian-bagian tubuh kita (Roma 6:13), stop mulai dari hari ini. Karena kita jatuh bangun dalam dosa disebabkan oleh pencobaan yang datang dalam hidup kita, bukan karena dicobai Allah (Yakobus 1:13) tetapi karena keinginan dosa yang ada didalam diri kita sendiri. Jika keinginan daging itu muncul, lawan dan matikanlah (Kolose 3:5-10), itulah perjuanga kita (Yakobus 1:12). Jika kita tidak melawannya, maka daging yang lemah ini (Matius 26:41) akan membawa kita kepada dosa.

 

“Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.” (Mazmur 119:112) Kita telah dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 6:22), kita dapat memilih, karena itu jangan biarkan kuk dosa tersebut mencobaik kita dan menang (Galatia 5:1). Kita dapat mengalahkan daging ini dan lepas dari dosa. Karena kita tahu dosalah yang menjadi penghalang kita dengan Allah, yaitu Papa kita di Surga. Amin.

 

Mari kita sadari, bahwa Allah itu mengasihi kita dan mencintai kita, karena itu Ia menyebut kita anak-Nya dan menyebut diri-Nya Bapa bagi kita. Kebutuhan kita telah disediakan, bahkan dalam tidur sekalipun berkat itu telah dicurahkan kepada kita (Mazmur 127:2), berkat yang dicari oleh bangsa-bangsa lain itu ditambahkan untuk kita (Matius 6:30-33). Semuanya cukup, tidak kelebihan dan juga tidak kekurangan, sesuai dengan kebutuhan kita. Jangan ada dosa dan percintaan dunia yang menghalanginya.

 

Salam,

Leonardi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: