h1

Buktikan Cintamu

16 July 2006

Kelas Petrus, 16 Juli 2006

Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Lukas 5:29-32)

Sering kali tanpa kita sadari kita sebagai orang kristen telah menjadi seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tersebut saat kita sebagai orang beriman melihat saudara seiman lainnya yang berteman dengan orang dunia atau orang berdosa dengan memandang sinis kepada mereka. Tanpa kita sadari juga kita telah berbuat demikian; menjahui mereka dan bahkan tidak sama sekali berteman dengan mereka yang disebut dengan orang dunia atau orang berdosa, mau kenal saja tidak. Tanpa kita sadari pula kita telah menjadi orang-orang kristen yang ekslusif (dengan kebaktian yang spektakuler dan gereja yang wonderfull). Kita merasa sebagai para “pemilik” Kerajaan Allah, sedang mereka semua itu cacing-cacing diluar Kerajaan Allah.

Mari kita merubah pola pemikiran yang demikian, dan baiklah kita melihat apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan, Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (Yohanes 3:17)

Tuhan Yesus datang kedunia ini untuk menyelamatkan orang dunia, orang berdosa lewat diri-Nya. Kabar baik itu menjadi tugas kita untuk memberitakan berita keselamatan tersebut kepada semua orang (Roma 10:13-15), atau lebih tepatnya kepada orang-orang dunia. Bukan malah sebaliknya, kita menghakimi orang-orang dunia ini dan menjauhi mereka yang sudah barang tentu tidak ada seorangpun yang benar (Roma 3:10-12).

Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; (Yohanes 17:18)

Kita mempunyai tugas seperti Tuhan Yesus kepada orang-orang berdosa atau orang-orang dunia disekitar kita dan mulai memandang mereka dengan kasih, bukan lagi sebagai musuh atau merasa asing dan curiga.

JADILAH BIJAK

Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Lukas 10:3). Kita diutus oleh Tuhan bukan kepada sekawanan domba atau kepada sekelompok kelinci yang manis-manis dan baik-baik, tetapi seperti Tuhan Yesus, kita diutus Tuhan Yesus kepada mereka yang berdosa, kepada orang-orang dunia ini, bukan kepada orang kristen dari gereja lain.

Kita bagaikan anak domba ditengah-tengah orang-orang dunia dan orang berdosa yang diumpamakan seperti sekawanan serigala. Tuhan memperumpamakan anak domba ditengah serigala agar kita selalu berhati-hati supaya jangan hidup kita malah dicemarkan oleh pemikiran dan kebusukan hati mereka (Yudas 1:23) dan hanyut dalam pergaulan yang merusakan hal yang baik dalam hidup kita (1 Korintus 15:33). Karena begitu mudah dosa dan kedagingan itu menyeret orang beriman (Matius 26:41) sebab itu kita disebut domba yang lemah bukan seperti singa ditengah-tengah serigala. Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Matius 10:16) demikian nasihat Tuhan Yesus kepada kita. Kita diutus kepada mereka, bukan disuruh bergaul dengan mereka.

JADILAH SEPERTI MEREKA

Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. (1 Korintus 9:19-22)

Itulah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus waktu berkumpul dan makan bersama-sama dengan pemukut cukai dan orang berdosa. Tuhan Yesus menjadikan diri-Nya seakan sama dengan mereka dan makan serta minim ditengah-tengah mereka orang berdosa.

Kita tidak pernah diajarkan menjadi munafik. Menjadikan diri seperti orang disekitar kita yang membutuhkan berita keselamatan tersebut bukan suatu perbuatan berpura-pura munafik seakan kita sama dengan mereka. Tetapi merupakan perbuatan memberikan diri kita kepada mereka. Bagaimana kita berbicara kepada mereka jika kita tidak berada ditengah-tengah mereka?

Coba kita simak apa yang terjadi dengan Kefas (Petrus) dalam Galatia 2:11-14. Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.

Saat makan Kefas tidak bersalah, tetapi saat saudara seiman lainnya datang dan ia mengundurkan diri dari orang-orang yang tidak bersunat karena takut terhadap omongan saudara seiman lainnya itulah yang disebut munafik oleh Paulus. Saat Kefas makan bersama mereka itu tidak salah dan memang seperti itu injil diberitakan diantara mereka. Kita ada ditengah mereka menjadi terangnya untuk memimpin kepada Kristus.

Kita memberitakan injil bukan datang sebagai sang malaikat atau yang kudus dari gereja ABC kepada orang-orang berdosa yang ada dibawah, tetapi kita berada ditengah-tengah mereka, makan dan minum bersama mereka tetapi kita tidak bergaul dengannya dan tidak juga mencemarkan hidup kita dengan perbuatannya.

MULAILAH DARI HATI

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. (1 Korintus 13:3)

Allah mengutus Yesus kedunia ini karena dasar kasih (Yohanes 3:16-17), demikian juga dengan kita yang diutus oleh Tuhan Yesus jika tidak ada kasih didalam diri kita, bagaimana kita dapat menyelesaikan tugas yang diberikan tersebut?

Kasih ini dasar yang mendasari kita melakukan semua hal ini. Mulailah memikirkan teman kita, sahabat kita, saudara-saudara kita, keluarga kita dan orang tua kita adalah mereka yang belum menerima keselamatan didalam Tuhan Yesus? Jika ada? Percayakah anda Yesus itu satu-satunya jalan kepada Bapa, ia adalah Mesias, Juru Selamat yang akan menyelamatkan manusia. Tanpa Yesus tak satupun manusia dapat diselamatkan?

Jika anda percaya maka jika saudara kita atau orang tua kita belum menerima keselamatan tersebut mengapa kita diam saja seakan itu bukan tugas kita, seakan nanti percaya-percaya sendiri? Jika kita percaya kepada Yesus maka pertama-tama orang yang kita cintai yaitu keluarga kita yang harusnya pertama kali mendengar kabar baik ini dan diselamatkan sehingga kita menggenapi Firman Tuhan dalam Kisah Rasul 16:31.

Bahkan karena cinta rela berkorban bahkan sampai binasa kekal seperti Musa yang ditulis dalam Keluaran 32:32-33, Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu–dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku. Juga Paulus karena cinta juga berani berkata yang sama dalam Roma 9:3.

Karena cinta maka injil dapat disebarkan keseluruh penjuru dunia, pertama-tama disekitar kita. Milikilah kasih yang dimiliki oleh Allah. Mencintai itu adalah sebuah komitment, kalau kita mengahisi orang yang mengasihi kita atau yang berbuat baik kepada kita apa lebihnya kita dari orang berdosa (Lukas 6:32-33). Cinta adalah keputusan hati, karena itu Tuhan menyuruh kita mengasihi musuh kita (Lukas 6:35). Cinta itu bukan suatu misteri dari mana lahirnya dan seperti keajaiban dan tidak bisa dipaksakan. Itu pandang dunia, pandangan para pujangga romantisme. Mulailah buat komitment dihati ini untuk mencintai orang-orang disekitar kita dengan melihat apakah mereka telah mendapat Anugrah Terbesar? Ingat Jika suatu saat Allah bertanya tentang saudara kita apakah kita akan katakan seperti Kain? Kejadian 4:9 … ***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: