h1

Lagu Gereja Untuk Siapa

21 March 2007

Sering kali kita menyanyikan lagu-lagu gereja baik di gereja maupun di rumah ataupun di mobil. Sering kali juga lagu-lagu tersebut menjadi perdebatan antar sesama aliran gereja. Ada yang tidak suka dengan lagu gereja yang saat ini banyak beredar di kalangan kaum muda gereja, ada pula yang mendukung perkembangan lagu-lagu gereja saat ini, bahkan saat ini ada yang menciptakan lagu gereja dengan nada house music atau rock. Beberapa lagi menganggap lagu hymne adalah lagu pujian yang benar dan banyak lagi perdebatan tentang lagu di gereja, tepatnya perdebatan tentang nada lagu gereja.

Jika kita berfikir lebih jernih, dan merenung lebih dalam, bukankah pujian dan penyembahan yang kita lantunkan dalam lagu tersebut adalah untuk Allah bukan untuk para pendengar atau pencinta musik gereja? Berapa banyak diantara umat kristiani yang menikmati lagu gereja sebagai sebuah lagu hiburan. Mereka menilai sebuah lagu apakah nikmat untuk didengar atau tidak, menilainya apakah enak untuk dinyanyikan atau tidak? Memberikan komentar “enak” pada lagu baru yang didengar seakan lagu itu diciptakan untuk mereka. Dari sinilah mulainya lahir perdebatan tentang nada lagu tersebut. Dari selera masing-masing manusialah perdebatan tentang lagu hymne, pop, keroncong, klasik, jezz, dangdut, rock bahkan house music didalam gereja diperbebatkan.

Jika kita merenung kembali, sebenarnya apakah Allah menikmati nada lagu yang kita lantunkan atau tidak? Apakah Allah menikmati seperti kita nikmati? Punyakah Allah selera musik seperti kita, yang seorang menyukai jezz, yang lain menyukai keroncong? Nada lagu yang mana yang Allah suka?

Allah bukan manusia. Nada lagu adalah untuk manusia berekspresi, mengungkapkan isi hatinya, karena itu didalam Alkitab kita tidak menemukan not-not atau nada lagu, hanya ada syair lagu. Tiap orang dapat mengekspresikan hatinya lewat nada, bahkan anak balitapun saat bergembira mereka menggumumkan suatu nada lagu. Manakah yang berkenan dihati Allah, nada lagu yang digumumkan oleh seorang balita dengan tidak jelas tetapi hatinya penuh sukacita kepada Allah ataukah nada lagu gereja yang dinyanyikan dengan sempurna oleh seorang penyanyi kenamaan pemenang Grammy Award?

Allah sebenarnya melihat hati, bukan melihat nada lagu yang kita lantunkan. Lebih penting dari nada lagu adalah kata-kata atau syair dalam lagu tersebut. Syair lagu adalah sebuah kata-kata iman, kata-kata marifat, kata-kata nubuat yang diucapkan dalam bentuk nyanyian. Karena itu jika kita menyanyikan lagu gereja, perhatikanlah syairnya, karena kata-kata yang kita nyanyikan itu seperti Firman Iman.

Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan. (Roma 10:8)

Karena itu jika ada lagu gereja yang syairnya tidak sesuai kebenaran Firman Tuhan, bagaimana bisa disebut lagu pujian dan penyembahan kepada Allah? Juga jika kita menyanyi tanpa mengerti arti syairnya, tanpa paham maksudnya dan menyanyi tanpa hati yang penuh syukur dan pujian kepada Allah, walau nada lagu yang kita nyanyikan begitu merdu, syaduh, indah dan menghanyutkan, dihadapan Allah itu sama sekali tidak berarti, beda dengan manusia, manusia tidak dapat melihat sampai dalam hati, ia hanya menikmati merdunya lagu tersebut dan memberi nilai baik pada lagu tersebut sesuai selera pendengaranya (1 Samuel 16:7).

Allah melihat nyanyian yang kita nyanyikan sampai kedalam hati kita. Jika lagu yang dinyanyikan tidak keluar dari dalam hati kita, percuma kita menyanyikan lagu gereja, lagu pujian dan penyembahan kepada Allah. Maka jadilah lagu gereja itu lagu hiburan, masuk telinga kita untuk dinikmati.

Tetapi, walaupun Allah tidak memperhatikan macam nada lagu yang kita nyanyikan, kita wajib memberikan yang berbaik yang dapat kita berikan kepada Allah, termasuk dalam hal memuji dan menyembah Allah. Jika seseorang menyukai nada lagu pop, biarlah berikan lagu popnya yang terbaik bagi Allah, jika seseorang menyukai nada lagu keroncong, baiklah nyanyikan lagu pujian kepada Allah didalam nada keroncong yang terbaiknya. Jika ada yang menyukai nada musik dangdut, mari berikan yang terbaik kepada Allah, tanpa harus memaksakan selera kita satu sama lain.

Bagimana seseorang dapat menyanyi dari dalam hatinya jika ia yang menyukai nada lagu jezz harus menyanyi dalam nada lagu klasik? Raja Daud selalu mengekspresikan hatinya kepada Allah dalam menyanyi dengan nada lagu kesukaannya, bahkan didalam tari-tarian. Tetapi semua itu bukan dipaksakan, meniru-niru atau dibuat seperti itu. Ekspresikan lagu dari hati anda dalam nyanyian kepada Allah sesuai dengan selera nada anda sendiri.

Berikan yang terbiak yang dapat kita berikan. Allah melihat nyanyian hati kita, bukan merdunya nada lagu yang kita nyanyikan lewat pita suara manusia. Suara pecah dan hancurpun indah dihadapan Allah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: