h1

Anak-anak Allah

14 March 2008

Tentang sebutan anak-anak Allah didalam Alkitab kita dapat melihat perbedaan diantara tiga jaman, yaitu pertama jaman sebelum Janji Allah diberikan kepada Abraham, kedua setelah Janji Allah itu diberikan kepada Abraham dan ketiga pada jaman Janji Allah itu diperbaharui didalam Kristus.

1. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sebelum Janji Allah turun.

Kitab Perjanjian Lama menulis kata anak-anak Allah yang kontraversi terdapat pada kitab Kejadian 6:1-4 dan kitab Ayub 1:6 dan 2:1. Kedua kitab tersebut seakan menggambarkan anak-anak Allah sebagai sosok atau mahluk Surgawi (malaikat) dan bukan manusia.

Namun dari kitab Ibrani 1:5, jelas dikatakan, Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”

Allah tidak pernah memanggil malaikat atau mahluk lainnya sebagai anak Allah kecuali kepada manusia, kepada keturunan Adam, mahluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27)

Dalam Lukas 3:38, tentang silsilah menuliskan demikian, “anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah”. Dari teks tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Adam dikenal sebagai anak Allah oleh bangsa Isreal. Sebelum Janji Allah turun kepada Abraham, sebutan anak-anak Allah adalah kepada Adam dan keturunannya.

Perhatian berikutnya adalah kepada dua anak Adam. Kain, adalah anak sulung Adam. Didalam Kejadian 4:10-12, dikisahkan setelah Kain jatuh dalam dosa pembunuhan, maka ia dibuang oleh Allah karena dosanya sehingga ia mengembara di bumi ini. Sejak saat itu garis keturunan anak sulung Adam beralih ke pada Set anak laki-laki ketiga Adam.

Tentang Set, disebutkan demikian. Kejadian 4:25-26, Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: “Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya.” Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.

Selanjutnya jika kita baca silsilah dalam Kejadian 5:1-32 disebutkan daftar keturunan Adam dan semua anak laki-laki yang adalah anak laki-laki pertama dari garis keturunan Set bukan keturunan Kain, yang sebenarnya anak sulung Adam. Mereka semua adalah orang-orang yang beribadah kepada Tuhan (memanggil nama Tuhan).

Sedangkan Kain, Kejadian 4:24, ditulis “Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden”. Tentang Kain tidak disebutkan ia atau keturunannya memanggil nama Tuhan selain disebutkan bahwa Kain pergi dari hadapan Tuhan. Hal ini menggambarkan bahwa keturunan Kain tidak beribadah kepada Tuhan lagi, berbeda dengan keturunan Set, bahkan Henokh diangkat oleh Tuhan ke Surga tanpa kematian karena begitu karibnya dengan Allah (Kejadian 5:24).

Terlihat jelas perbedaan keduanya, Kain yang sebenarnya anak sulung Adam, diusir oleh Allah dan tidak dihitung sebagai garis keturunan anak sulung Adam. Sedangkan Set, masuk dalam silsilah anak sulung garis keturunan Adam, anak Allah.

Karena itu tidak salah jika anak-anak Allah yang ditulis dalam Kejadian 6:1-4 adalah sebutan kepada mereka yang menjadi keturunan Set, yaitu manusia yang beribadah kepada Allah. Sedangkan mereka yang disebut anak-anak (gadis) manusia yaitu mereka yang menjadi keturunan dari Kain, mereka yang hidup didalam daging. Pembedaan sebutan antara anak-anak Allah dengan anak-anak manusia memberikan gambaran pembedaan antara anak-anak Allah dengan bangsa kafir dimasa hukum Taurat, tentang anak-anak Allah dengan orang dunia dimasa hukum Kasih Karunia.

Sementara itu dalam Ayub 1:6 atau 2:1, sebutan anak-anak Allah, kita tahu itu bukan menyebut malaikat, sesuai penjelasan Ibrani 1:5. Siapakah mereka? Akan dibahas lain kali dalam tulisan tersendiri.

2. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sesudah Janji Allah turun.

Pada jaman setelah Abraham menerima Janji Allah, maka sebutan anak-anak Allah dipertegas hanya kepada keturunan Abraham saja. Tetapi kembali seperti yang masa sebelum Janji, tidak semua keturunan Adam disebut anak-anak Allah, demikian tidak semua keturunan Abraham disebut anak-anak Allah.

Dalam Roma 9:6-8, disebutkan, Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: “Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.” Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.

Abraham melahirkan dua anak, yang sulung Ismael bukan merupakan anak-anak Allah tetapi Ishak dan keturunannya yang disebut anak-anak Allah oleh Allah (Kejadian 21:12, Galatia 4:30).

Coba perhatikan dalam Keluaran 4:22-23, dituliskan “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.”

Hal ini jelas menegaskan bahwa keturunan Abraham yang dari Ishak adalah anak-anak Allah, bukan semua anak Abraham seperti halnya Kain. Bangsa Isreal adalah anak-anak Allah.

3. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sesudah Janji Baru Allah digenapkan.

Setelah Kristus datang untuk menebus dosa umat manusia, maka sejak saat itulah Perjanjian Baru diberlakukan yang telah dijanjikan sejak lama lewat para nabi-nabi Allah (Yeremia 31:31-34).

Sejak saat itu sebutan anak-anak Allah bukan hanya kepada keturunan Abraham secara jasmani tetapi juga keturunan Abraham secara rohani (Efesus 2:11-13)

Galatia 3:7-9, Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.

Kita semua orang beriman adalah anak-anak Abraham. Sebagai anak-anak Abraham, kita juga disebut sebagai anak-anak Allah karena iman (Yohanes 1:12), dan berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:15-16).

Galatia 3:26, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”

Demikian penjelasan singkat sebuatan anak-anak Allah pada tiga jaman berbeda. Semuanya menunjuk pada satu hal, yaitu kepada mereka yang beribadah kepada Allah, kepada merekalah Allah menyebut manusia anak-anakNya, anak-anak Allah.

2 Korintus 6:16-18, menjelaskan demikian; Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

Tubuh kita yang dikuduskan ini adalah Bait Allah, dimana Allah tinggal didalam kita dan karena itu Allah memanggil kita anak dan kita memanggilNya Bapa. Demikian juga pada saat Salomo mendirikan Bait Allah, maka Tuhan berfirman bahwa ia menjadi anak Allah dan Allah menjadi Bapanya (1 Tawarikh 22:10). Demikian juga dengan keturunan Set, mereka memanggil nama Tuhan (Kejadian 4:26) dan beribadah kepadaNya, oleh karena itu mereka disebut anak-anak Allah dan Allah menjadi Bapanya.

Kain dan keturunannya hanya disebut sebagai anak manusia saja untuk membedakannya dengan keturunan Set yang beribadah kepada Allah walau mereka semua adalah manusia (Kejadian 5:3,5-6). Demikian juga dengan Ismael disebut sebagai anak dari daging untuk membedakan anak perjanjian. Dan dimasa kini, juga tidak semua orang Kristen adalah anak-anak Allah. Mereka yang tidak tetap tinggal didalam Kristus, merekalah yang akan dibuang dari hadapan Allah.

Perbedaan ini merupakan hukum Allah, yang telah ada sejak masa Adam. Jika anak-anak Allah menikah atau melebur (menjadi satu) dengan anak-anak manusia, anak-anak daging dan mereka yang hidup dalam kedagingan, maka seperti yang dikatakan oleh Galatia 5:6, bahwa sedikit ragi dapat mengkabirkan seluruh adonan.

Pada kisah Kejadian 6:1-4, dimana anak-anak Allah menikah dengan anak-anak manusia, maka kelanjutannya Kejadian 6:5, menuliskan, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”

Seperti yang terjadi pada bangsa Israel, dimana wantia-wanita dari bangsa kafir yang dinikahi mereka karena kecantikannya membawa mereka menjauh dari Tuhan dan melakukan apa yang jahat dimata Tuhan demikian juga yang terjadi pada jaman Adam. Anak-anak Allah bertambah jahat seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak manusia, keturunan dari Kain.

Nehemia 13:27, “Apakah orang harus mendengar bahwa juga kamu berbuat segala kejahatan yang besar itu, yakni berubah setia terhadap Allah kita karena memperisteri perempuan-perempuan asing?”

Ulangan 7:3-4, “Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera.”

Demikian pada masa kini, kita tidak menikah dengan orang-orang dunia yang penuh dengan dosa dan kejahatan, dan bukan hanya menikah saja, tetapi juga pergaulan (1 Korintus 15:33). Menjaulah kata Tuhan, jangan jamah apa yang najis, apalagi menjadi satu dengan apa yang jahat dimata Tuhan.

Jika kita anak-anak Allah, maka kita juga hidup seperti Bapa kita didalam terang dan kasihNya.

Salam dalam kasih Kristus,

Leonardi Setiono

Tulisan ini melengkapi tulisan tentang “Raksaksa dalam Alkitab”



Top Blogs

One comment

  1. Pakk..makasih buat penjelasannya, boleh tau penjelasan ttg ini jg ga?
    “Sementara itu dalam Ayub 1:6 atau 2:1, sebutan anak-anak Allah, kita tahu itu bukan menyebut malaikat, sesuai penjelasan Ibrani 1:5. Siapakah mereka? Akan dibahas lain kali dalam tulisan tersendiri”.



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: