Archive for April, 2008

h1

Asal Kujamah, Sembuh

21 April 2008

Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. Lalu kata Yesus: “Siapa yang menjamah Aku?” Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: “Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.” Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku.”

Lukas 8:43-46


Jumbai JubahSering kita berdoa dan memohon mujizat, memohon kesembuhan dan banyak hal lainnya. Sudah bertahun-tahun hal itu kita harap-harapkan, tetapi tidak juga ada jawaban. Sama seperti halnya perempuan tua yang menderita pendarahan yang telah lama dan tidak ada yang dapat menyembuhkannya.

Didalam kehidupan kita, di saat doa-doa dan pertolongan yang kita diharapkan tidak juga kunjung datang, kita sering bertanya-tanya tentang keberadaan Allah, seakan kuasa Allah jauh dari kita. Seakan semuanya membisu, dan kita sendiri dihadapan persoalan yang telah menahun.

Hari ini kita kembali merenungkan tentang kejadian perempuan tua yang sembuh dari pendarahannya. Kita belajar tentang iman seorang perempuan tua yang sering kita dengar ceritanya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Lukas 8:48).

Iman seperti apa yang dimiliki perempuan tua tersebut yang dapat kita pelajari? Dari catatan Matius 9:21, tertulis bahwa ia berkata dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Selanjutnya kita tahu kitab Matius dan Lukas, menjelaskan bahwa jubah yang dimaksud perempuan tua tersebut adalah jumbai jubah Yesus. Ia berusaha menjangkau dan menjamah jumbai jubah Yesus diantara kerumunan orang.

Jumbai adalah ujung jubah yang diikat dengan benang berwarna ungu kebiruan. Jumbai dibuat pada keempat ujung kain atau jubah setiap orang Israel sejak ditetapkan oleh Tuhan lewat Nabi Musa (Bilangan 15:37-41).

TUHAN berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. (Bilangan 15:37-38)

Demikian dengan jubah Yesus pada saat sebagai seorang Israel yang juga harus menjalankan perintah Tuhan sesuai hukum Taurat, terdapat jumbai pada keempat sudutnya. Jumbai inilah yang dilihat oleh perempuan tua tersebut dan didalam hatinya ia berkata bahwa asal ia menjamah jumbai tersebut, maka pendarahannya yang telah menahun dan tidak ada yang dapat menyembuhkan, dapat sembuh.

Demikian kelanjutannya kita tahu kisahnya, bahwa perempuan tua tersebut benar-benar sembuh setelah ia menjamah jumbai jubah Yesus, sesuai dengan imannya.

Sebenarnya Tuhan menetapkan bangsa Israel untuk memakai kain atau jubah dengan keempat ujungnya berjumbai adalah untuk mengingatkan bangsa Israel akan Firman Tuhan.

Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN. (Bilangan 15:39)

Perempuan tua itu memandang jumbai yang bergoyang-goyang ditengah kerumunan, dan fokus melihat jumbai tersebut, disaat semua orang tidak ada yang memperhatikan keberadaan jumbai tersebut. Kemudian dengan iman, ia menggerakan tangannya untuk menjangkaunya diantara himpitan dan desakan banyak orang sampai ia dapat benar-benar menjamahnya. Demikianlah maksud ditetapkannya jumbai pada jubah bangsa Israel, bukan hanya mengingatkan kita akan isi Firman Tuhan, tetapi juga dimaksudkan agar kita ingat bahwa Firman Tuhan tersebut harus ditaati dan dijalankan.

Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu. Akulah TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya Aku menjadi Allah bagimu; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Bilangan 15:40-41)

Demikian dengan kehidupan kita sehari-hari. Jika kita selalu mau mengingat Firman Tuhan dan melakukan segala perintah Tuhan, maka seperti yang terjadi pada perempuan tua tersebut maka juga akan terjadi pada diri kita. Jelas ditulis, Tuhan Yesus Kristus mengatakan, “Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku“, saat jumbai itu digengam dengan iman.

Saat kita mengingat Firman Tuhan dan melakukan tepat seperti apa yang diperintahkanNya, maka pada saat itu kuasa Tuhan akan mengalir dan kita dapat melihat mujizat dan jawaban setiap pengharapan kita. Kuasa itu ada saat kita tinggal didalam FirmanNya, bukan saat kita hidup menurut adat dunia. Karena itu doa-doa dan permohonan saja sebenarnya masih belum cukup untuk menarik kuasa Tuhan dalam kehidupan kita. Kita juga perlu untuk hidup sesuaikan dengan perintah-perintah Tuhan.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (Yohanes 15:7)

Jumbai yang dilihat oleh perempuan tua tersebut dan kemudian ia pegang, seharusnya menjadi pelajaran bagi kita. Firman Tuhan, memang sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi perempuan ini melihat dan mengingatNya. Tinggallah didalam FirmanNya, maka kuasa Tuhan akan nyata dalam setiap doa dan permohonan kita. Mujizat akan terjadi dan kehidupan kita adalah kehidupan yang penuh kuasa.

Bahkan setelah kejadian tersebut, semua orang sekarang memperhatikan jumbai tersebut. Memperhatikan tanda yang ditetapkan oleh Tuhan agar, umatNya selalu mengingat Firman Tuhan dan melakukanNya.

Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. (Markus 6:56)

Demikian renungan yang dapat membantu kita untuk menarik kuasa Tuhan masuk dalam hidup kita, lewat Firman Tuhan yang menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Amin




Top Blogs

Advertisements
h1

Artis Rohani Favorit

4 April 2008

Konser RohaniTahun-tahun belakangan ini mulai marak lahirnya artis rohani. Mereka adalah para idola dan orang-orang yang mencari uang dari bisnis artis. Wow…! Bisnis artis?

Beberapa waktu yang lalu saat saya mewawancari seseorang pelamar kerja, saat saya menanyakan hal yang merupakan kegagalan yang berkesan dalam hidupnya, ia bercerita tentang kisah asmaranya dengan artis rohani. Awalnya saya bingung saat ia menyebut artis rohani. Artis…? Rohani…? Apaan tuh? Kemudian dia menyebut sebuah nama yang tentu saya kenal dari albumnya dan menerima penjelasan darinya tentang arti artis rohani tersebut. Seorang artis tetapi berkecimpung dalam dunia kerohanian. Seorang yang manggung disana sini dan mengadakan konser dan diundang gereja, membuat album, main film, iklan dan lain-lainnya.

Sebenarnya kata artist sendiri itu artinya seniman. Tetapi penggunaan secara umum di negri kita, kata artis mengacu kepada seniman yang komersial, seniman didalam dunia hiburan (entertainment), dalam bahasa sederhana yaitu para penyanyi, pemain filem, pelawak dan lain-lainnya.

Jika kata artis yang erat kaitannya dengan dunia entertainment, ditambah kata rohani dibelakangnya, maka artinya bisa macam-macam. Sederhananya adalah orang-orang yang menghubur dengan materi rohani dengan tujuan komersial. Sebenarnya meraka tidak berbeda jauh dengan para artis pada umumnya, hanya bedanya, pasarnya adalah orang-orang yang rohani atau merasa rohani.

Bagi saya boleh-boleh saja mencari uang didunia hiburan, tetapi yang menjadi persoalan adalah untuk siapa mereka tersebut menyanyi? Bukankah lagu rohani adalah lagu puji-pujian kepada Allah, lagu menyembah Allah. Bagaimana jadinya saat lagu-lagu tersebut dirubah menjadi sebuah hiburan, selayaknya lagu-lagu pop lainnya? Berbondong-bondong orang membeli karcis konser, antri berjam-jam berjubel didepan pintu masuk dan berebut berada didepan panggung. Mereka menjerit-jerit, mereka minta difoto bersama, minta tanda tangannya…

Dunia ini memang sudah bengkok dan terbalik (Filipi 2:12-16), umat kristen apakah sudah tidak lagi dapat tahan untuk tidak memiliki idola dan artis rohani favorit? Apakah hal-hal rohani harus dikomersialkan, dijadikan sebuah entertainment? Apakah umat kristen telah lupa dengan Firman Tuhan, telah lupa dengan Lukas 16:15 yang mengatakan, “Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah. “

Mari, melalui renungan ini, kita belajar untuk membuang jauh-jauh istilah artis rohani dan idola-idola rohani yang semuanya adalah tipu daya. Manusia mengagumi manusia, manusia meniru teladan sang idola, sang artis. Bukankah kita seharusnya meniru teladan Kristus, menjadi serupa denganNya? Manusia selalu ingin menyingkirkan Allah, bahkan didalam pujian dan penyembahan kepada Tuhan sekalipun.

Celakalah dunia ini, celakalah orang-orang yang berusaha menukar kemulyaan Allah, pujian kepada Allah dan penyembahan-penyembahan yang benar dengan tipu daya enterteinment. Bukankah hal ini dulu telah terjadi dan menjadi pelajaran bagi kita (Roma 15:4), saat Raja Yerobeam mendirikan bukit-bukit pengorbanan dan memindahkan ibadah dari Yerusalem ke Betel dan Dan (1 Raja-raja 12:28-33, 13:1-2). Serta menukar Allah dengan patung sang idola. Raja Yerobeam mendirikan Ibadah enterteinment!

Saat ini, umat kristen telah mulai lagi mendirikan ibadah yang diadakan oleh Raja Yerobeam, ibadah entertenment dibukit-bukit pengorbanan. Didalam sebuah ibadah raya, muncul artis-artis rohani sebagai icon dengan lantunan lagu merdu mereka sebagai hiburan rohani, dengan para pendeta yang didapat dari sebuah biro jasa pemberita Firman Tuhan. Dengan suguhan filem, tari-tarian dan kemewahan panggung. Oh… Tuhan. Apakah telah dekat waktu kedatanganMu?

Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu! Sesungguhnya, hanya pada TUHAN, Allah kita, ada keselamatan Israel! (Yeremia 3:23)

Mengapa kita harus mencobai Allah sekali lagi? Seperti yang dilakukan oleh Raja Yerobeam dan yang dilanjutkan oleh raja-raja keturunannya yang jahat dimata Tuhan? Mengapa kita harus menukar ibadah kita dengan enterteinment rohani? Mengapa? Mengapa kita membuat Allah cemburu? Bukankah kita yang Ia panggil anak-Ku…

Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya; mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya; mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka. (Mazmur 78:56-58)

Mari kita tetapkan langkah kita, mari kita kembali kepada Firman Tuhan, kembali berpegang pada perintah dan peringatan-peringatanNya. Mari kita menyembah Allah dengan cara yang benar, mari kita memuji-muji Allah dengan riang dan dari hati kita. Mari kita tinggalkan ibadah entertenment, ibadah yang didirikan Raja Yerobeam, kita jauhkan bukit-bukit pengorbanan, kita buang semua tipu daya tersebut.

Biarlah kita hanya dipuaskan oleh Tuhan Allah kita, bukan oleh artis-artis rohani. Biarkanlah kita menerima sukacita dan damai sejahtera dari Tuhan Yesus Kritus bukan dari lantunan merdu para artis rohani, bukan dari konser musik rohani.

Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! (Mazmur 100:2-4)

Kita memuji Tuhan, bernyanyi dan menyembahNya, karena ada syukur dalam hati kita, karena ada nyanyian hati, karena ada Roh Allah yang memberikan sukacita dan rasa syukur tersebut. Bukan karena merdunya lagu, bukan karena indahnya dan eloknya suara dan tampang artis rohani. Semua karana Allah dan untuk Allah. Kita beribadah untuk Allah bukan untuk diri kita sendiri. Umat Allah tidak butuh entertenment rohani… tidak butuh artis rohani.

Siapa yang telah menyuguhkannya???



Top Blogs

h1

Tampil Apa Adanya

1 April 2008

Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku. (1 Korintus 2:12:6)

Tepeng CantikSebagai seorang pengikut Kristus, sudah sepantasnya kita berani tampil apa adanya. Tidak menutup-nutupi kekurangan kita, tidak mengelabui orang-orang disekitar kita dengan hal-hal yang “bukan diri kita”. Berani menyatakan dan menerima apa keadaan diri kita sendiri.

Sepintas, mereka yang membaca kalimat tersebut merasa bahwa itu hanya bagi mereka yang minder, mereka yang cacat atau mereka yang munafik. Tetapi hari ini kita belajar melihat diri kita sendiri, mari sejenak kita merenungkan dan mengenali prilaku diri kita sendiri, mengingat kembali segela sesuatu. Mengingat apakah kita telah berani menyatakan diri kita sendiri kepada orang banyak apa adanya, atau kita masih memakai topeng-topeng didalam kehidupan ini.

Didalam kesibukan sehari-hari, padatnya jadwal dan banyaknya pekerjaan, kita sering kali menjadi lalai untuk memperhatikan hidup ini agar selalu sesuai Firman Tuhan. Seiring waktu, tanpa kita sadari, tahu-tahu kita telah memenggunakan topeng-topeng didalam kehidupan ini untuk tampil lebih dari sebenarnya dihadapan banyak orang. Mungkin kita tidak mengharapkan demikian, tetapi kesibukan sehari-hari telah menjadikan kita lalai dan berlaku munafik, seperti yang dialami pula oleh rasul Petrus saat di Antiokia (Galatia 2:11-14).

Karena itulah Raja Daud menasihati dalam Mazmur 139:23-24, agar kita selalu memeriksa diri sendiri, yang seharusnya merupakan kegiatan yang rutin, bukan sebulan atau setahun sekali, dan juga bukan sebuah meditasi menenangkan batin, tetapi sejenak memeriksa hidup kita, melihat apakah kita telah hidup sesuai FirmanNya atau telah menyimpang dari kehedak Allah?

Saat anda memeriksa diri, merenungkan kehidupan anda sendiri, dan hari ini anda merasakan masih terbeban dengan kepura-puraan, menutupi kekurangan atau kesalahan dan berlagak ini dan itu, maka sebenarnya kita belum tampil apa adanya. Kita sebenarnya masih dibebani dengan keangkuhan hidup. Kita mengharapkan orang lain menilai kita lebih dari sebenarnya tentang kita. Apakah sebenarnya yang kita megahkan?

Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. (Yakobus 4:16)

Beberapa waktu lalu, istri saya bercerita tentang seseorang yang menegur mama mertua saya yang menyaksikan suatu yang buruk yang telah dilakukan istri saya dan kemudian sadar dan bertobat didalam sebuah kesempatan memberitakan Firman Tuhan. Mereka mengatakan, mengapa keburukan anak sendiri diceritakan kepada orang-orang?

Bagi saya dan istri saya, apa yang telah kita jalani dan segala kesalahan dan keburukan tidaklah perlu ditutup-tutupi, apalagi menjadi kesaksian dan pelajaran bagi orang lain. Jika baik ya baik, jika buruk, ya buruk, dan kita akan menjadikan yang buruk itu baik, karena kita semua belum sempuran dan masih diolah didalam banyak hal untuk menjadi serupa dengan Kristus (Kolose 3:9-10).

Tidak perlu malu dalam keadaan lemah, kekurangan bahkan kesalahan, sebab untuk itulah Kristus datang. Tetapi saat kita berusaha menutupi banyak hal dan menyembunyikan banyak kekurangan, maka kita telah memberi hambatan bagi diri kita sendiri dalam mengenal Kristus dan menjadi serupa denganNya. Jangan kita membodohi diri kita sendiri, mari kita tinggalkan semua tipu daya “keangkuhan hidup” tersebut.

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (Ibrani 12:1-2)

Tampil apa adanya, merupakan suatu sikap atau pernyataan iman, akan karya penebusan Kristus. Saat kita berani tampil adanya, pada saat itulah karya Allah akan bekerja didalam hidup kita, didalam segala sesuatu yang kita hadapi

Baiklah mulai hari ini kita belajar jujur kepada diri kita sendiri, berani menyatakan diri apa adanya kepada orang banyak. Seperti apakah kita ini sebenarnya… apakah kita telah mencerminkan kehidupan Kristus atau kita telah jauh dari ceriman Kristus tanpa topeng-topeng tersebut?

Salam dalam Kasih Kristus,
Leonardi

Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN. (Ratapan 3:40)

Top Blogs