Archive for May, 2008

h1

Menunggu Seseorang

27 May 2008

Saat Firman Tuhan diberitakan, saat janji Allah dibacakan kembali dan Allah berfirman,

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.” (Yohanes 14:12-13)

Apakah anda sedang menunggu seseorang?

Menunggu SeseorangFirman Tuhan itu adalah untuk kita, bagi kita. Tetapi sering kali kita berdiam diri dan menunggu seseorang untuk menggenapi Firman Tuhan tersebut. Sering kali kita merasa tidak layak dan tidak pantas untuk mengerjakan pekarjaan yang dilakukan oleh Kristus, sehingga sebagian umat Tuhan duduk manis menunggu dan berharap kepada si A atau si B untuk melakukannya.

Jika hari ini anda berfikir seperti itu, maka anda salah. Tidak seperti itu, Firman Tuhan ini bukan hanya untuk si A atau si B, tetapi untuk kita semua orang beriman. Bukankah sudah tertulis, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:15-18)

Allah ingin memakai kita semua untuk melanjutkan pekerjaan Kristus di dunia ini, yaitu untuk menyempurnakan gerejaNya (Kolose 1:24-25). Tugas itu bukan diberikan kepada satu atau dua orang saja, tetapi itu adalah tugas kita semua anggota Tubuh Kristus. Allah telah melengkapi gereja Tuhan dengan pelayanan jabatan (Efesus 4:11-13), dan setiap orang didalam Tubuh Kristus, diberiNya pelayanan masing-masing sesuai dengan karunia yang diberikan oleh Roh Kudus untuk kita lakukan (Efesus 2;10). Semua orang terlibat dalam didalam pekarjaan yang dikerjakan oleh Kristus.

Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota-menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. (Efesus 4:16)

Tetapi banyak orang Kristen, anggota dari Tubuh Kristus, yang duduk diam seakan menunggu orang lain melakukan tugas-tugasnya. Jangan kita menunggu mereka, si A atau si B, tetapi anda sendiri, berikanlah diri anda untuk menggenapkan FirmanNya didalam pelayanan menyempurnakan gereja Tuhan, menanti kedatangan mempelai, yaitu Tuhan Yesus Kristus kedua kalinya. Jangan lagi menunggu orang lain, anda yang Tuhan cari untuk menggenapkan tugas pelayanan sesuai dengan bagian yang diterima tiap anggota Tubuh Kristus.

INI AKU TUHAN

Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:7-8)

Kita yang telah ditebus oleh Allah, dosa-dosa kita diampuniNya, dan kita dijadikanNya anakNya, selanjutnya, Allah memberikan kita perintah untuk kita taati. Inilah perintah-Nya, “Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yohanes 15:17).

Kalimat yang pendek, tetapi didalam kalimat tersebut terkandung seluruh perintah Allah (Galatia 5:14).

Saat Yesaya ditanya “Siapakah yang akan Kuutus?” Ia menjawab “Ini aku”. “Siapa yang mau pergi untuk Aku?” maka Yesaya menjawab “Utuslah aku!”. Demikian juga dengan kita, bersediakah kita pergi melakukan perintahNya? Ataukah kita menunggu seseorang untuk diutus, bukan saya.

Kita diutus oleh Allah untuk mengasihi orang disekitar kita, bukan untuk menjadi pendeta atau pengkerja gereja. PerintahNya adalah mengasihi, bukan menyebarkan agama.

Mengasihi orang-orang disekitar kita, bukan dengan kata-kata saja, tetapi juga didalam perbuatan yang nyata dan dapat dirasakan oleh mereka (1 Yohanes 3:18). Bagaimana kita menerima mereka, memperhatikan dan peduli terhadap mereka. Matius 5:37-48 mengajarkan kepada kita bagaimana kita mengasihi orang-orang disekitar kita. Memberikan diri kita, apa yang kita punya untuk mereka yang membutuhkan, bahkan Yesaya 58:10, mengatakan apa yang paling kita inginkan, itulah bagian yang terbaik yang kita berikan, bukan sisa-sisa atau sesuatu yang sudah tidak kita inginkan atau pakai lagi.

Dari semua yang terbaik yang kita miliki, bukankah Kristus adalah yang terbaik? Bagikanlah Kristus kepada orang-orang yang kita kasihi, orang-orang yang ada disekitar kita. Beritakan kabar baik itu, bawa mereka untuk diperdamaikan dengan Allah, itulah wujud kasih yang paling berharga.

Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. (1 Tesalonika 2:8).

Bukan hanya injil Kristus yang kita bagikan, tetapi juga diri kita sendiri, hidup kita sendiri, kita berikan kepada mereka, sebagai hamba. Sebagai pelayan mereka, bukan sebagai tuan atau guru yang memberikan perintah atau nasihat, tetapi sebagai pelayan yang melayani seperti Kristus telah melayani kita (Matius 20:28) dan bahkan sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa yang kita perbuat (Filipi 2:3-8). Demikian seharusnya kita mengasihi (1 Yohanes 3:16), karena Yesus berkata dalam Yohanes 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”

BAGIAN PELAYANAN

Setiap orang memiliki bagiannya sendiri-sendiri didalam pelayanan. Tidak semua menjadi mata dan tidak semua menjadi tangan atau kaki, demikian kata 1 Korintus 12:14-18. Lalu apa peran kita didalam Tubuh Kristus?

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. (Pengkotbah 9:10)

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. (Yohanes 9:4)

Bagian pelayanan kita adalah apa yang didepan mata kita. Segala sesuatu yang dapat kita kerjakan, segala sesuatu yang kita mengerti dan segala sesuatu yang Allah telah perlengkami dalam hidup kita, itulah bagian pelayanan kita. Karena kita melayani bukan dengan kekuatan kita, bukan dengan kepandaian kita, tetapi oleh karena pekerjaan Roh Allah didalam kita (Zakharia 4:6, 2 Korintus 3:5-6). Semua adalah pekerjaan Allah, kita hanya alat saja yang tidak memiliki kemampuan (Yesaya 10:15, 2 Korintus 4:7).

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; (2 Korintus 9:10)

Benih itu telah disediakan oleh Tuhan, dan kita hanya menaburnya saja. Pelayanan yang ada didepan mata kita adalah seperti benih yang telah kita miliki, kita tinggal menjalankan pelayaan tersebut, jangan kita melihat pelayanan yang “besar-besar”, jangan kita memandang kepada hal-hal diluar benih yang telah Tuhan berikan untuk kita tabur.

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, (Roma 12:3-4).

Jangan tunggu orang lain untuk mengerjakan pekerjaan yang Tuhan perintahkan. Jangan menunggu si A atau si B, sebab setiap orang memiliki bagiannya sendiri-sendiri. Mulailah dari diri anda sendiri, jangan menunggu orang lain memulai, pekerjaan itu ada didepan anda. Yakobus 4;17, mengatakan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Apakah kita hendak berbuat dosa kepada Tuhan Yesus Kristus dengan mengabaikan perintahNya. Dengan membiarkan bagian pekerjaan kita terbengkalai? Bertindaklah sekarang, jangan tunda lagi, karena Kristus membutuhkan anda, ladang siap dituai tetapi dimana para pekerjanya? (Lukas 10:2).

Maranatha!

Advertisements
h1

Caranya Bersyukur

25 May 2008

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

BersyukurlahSudah sering kita mendengar nasihat Firman Tuhan, entah lewat kotbah-kotbah atau tulisan-tulisan tentang mengucap syukur baik susah maupun senang bahkan dalam segala hal. Bahkan mungkin kita telah bosan dengan nasihat tersebut karena seringnya disampaikan. Namun demikian sesungguhnya ada berapa banyak umat Allah yang benar-benar mengucapkan syukur kepada Allah?

Tidak mudah mengucap syukur pada saat susah, pada saat keadaan tidak baik, saat masalah berat menghimpit. Beberapa mungkin berusaha mengucap syukur, tetapi diantaranya juga hanya sebatas kata-kata saja. Saat kelimpahan, saat keadaan sangat baik, juga bukan berarti mudah mengucap syukur, banyak diantaranya melupakan Tuhan dan malah meninggalkan ibadah dan persekutuan. Memang tidak mudah mengucap syukur, karena itu Firman Tuhan menulis “mengucap syukurlah”.

Allah itu baik

Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
(Mazmur 106:1)

Alkitab mengajarkan kita mengucap syukur atas kebaikan Allah kita, atas segala kemurahan dan rahmatNya. Karena kasih setiaNya yang besar maka kita mengucap syukur.

Sebenarnya dalam keadaan apapun juga, pada saat kita menerima kelimpahan dari Allah, atau saat kita dihadapkan kepada kesukaranpun kita patut bersyukur, sebab Firman Tuhan dalam Yakobus 1:17, berkata “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Segala yang diberikan oleh Allah sebenarnya adalah pemberian yang baik. Karena itulah kita patut mengucap syukur kepadaNya.

Kita sebagai anak-anakNya, Matius 10:29-31 mengatakan bahwa Allah memperhatikan kita dan memeliharakan kita, bahkan rambut dikepalapun dihitungNya dan tidak ada satupun yang gugur tanpa seijin dan sepengetahuan Allah. Apapun juga yang kita hadapi, sebagai anakNya pastilah itu adalah pemberian dan anugrah yang baik dan sempurna.

Persoalan yang sering kita hadapi sebenarnya adalah kesulitan untuk melihat bahwa segala pemberian dan anugrah dari Allah itu adalah baik. Pada saat rasul Paulus dan Silas dipenjara karena injil, mereka dapat mengucap syukur dan menaikan puji-pujian kepada Allah didalam penjara dalam keadaan terpasung (Kisah Rasul 16:24-28). Apa yang dilihat oleh Rasul Paulus atas kemalangan yang ditimpanya sebagai sesuatu yang baik? Saat Ayub kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya, bahkan sekujur tubuhnya penuh dengan borok, tetapi ia tetap memuji kebesaran Allah (Ayub 1:20-22). Apa yang dilihat oleh Ayub, sehingga ia dapat bersyukur? Raja Daud saat ia dikejar-kejar Raja Saul hendak dibunuh dan terjebak didalam gua, ia malah bermazmur dan bersyukur kepada Allah (Mazmur 57:1,8-12). Apa yang dilihat oleh Raja Daud? Bukankah kematian sudah didepan matanya? Tetapi Daud menganggap Allah itu baik.

Mereka bukan bersyukur atas kemalangan yang menimpa mereka, tetapi bersyukur atas apa yang baik yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Mereka melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh manusia, mereka melihat kebaikan Allah dan kebesaran Allah dalam hidup mereka. Raja Daud pernah kesulitan melihat dan dengan mata dagingnya, ia melihat kemalangannya sebagai kemalangan manusia bukan sebagai pemberian dan anugrah yang baik dari Allah.

Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.
Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.
Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.
Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan.
Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan.
Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.
Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi.
Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah.
Dan mereka berkata: “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?”
Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!
Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.
Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.

Mazmur 73:2-14

Demikian Daud mengeluh atas kemalangannya. Mengeluh karena semakin ia mengasihi Allah dan berusaha hidup berkenan kepadaNya, malah ia seperti kena hukum setiap pagi. Kesukaran bukannya bertambah hilang, melainkan semakin berat dengan adanya hukum-hukum Allah. Orang lain dapat berdusta, dapat membual, dapat membalas sampai puas, dapat melakukan segala perbuatan yang direncanakan dihatinya, tetapi Daud, anda dan saya, memiliki Firman Allah yang membatasi hidup kita. Bahkan oleh karenaNya, kita mendapatkan kesukaran, persoalan dan alternatif jalan keluar persoalan kita semakin terbatas.

Sering kali kita mengeluh kepada Tuhan. Saat hajaran datang, saat ujian menghampiri, saat kita ditimpa kemalangan. Kita mengenadah keatas, bukan untuk bersyukur kepada Allah, tetapi untuk protes kepada Allah. Bagaimana kita dapat melihat semua itu baik dan mengucap syukur kepada Allah?

Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,
sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.

Mazmur 73:16-17

Selanjutnya, Mazmur menuliskan bahwa saat masuk dalam hadirat Tuhan, kita akan melihat seperti Daud melihat, seperti Ayub melihat, seperti Paulus melihat. Didalam hadirat Tuhan, maka mata dan hati kita akan dicelikan dan kita akan dapat melihat kebaikan Tuhan dan kita dapat bersyukur. Bersyukur yang bukan dibibir ini saja, tetapi dari dalam hati, dari hati yang tulus dan jujur. Semua itu dimulai dari dalam hadirat Tuhan.

Mengucap syukur yang benar-benar dari dalam hati dan didalam kebenaran adalah saat kita masuk dalam hadirat Tuhan, saat kita mendekat kepadaNya, saat kita bertekuklutut dihadapanNya. Pada saat itu maka kasih Allah akan dicurahkan dalam hati kita dengan limpahnya dan kita dapat melihat dengan mata yang terbuka seperti Daud dan Paulus.

Tetapi jika kita tidak pernah menghadap hadirat Allah, maka ucapan syukur kita bukan benar-benar dari hati, tetapi keluar dari pikiran dan mulut saja. Karena tidak bersungut-sunggut itu bukan berarti mengucap syukur. Mengucap syukur itu bukan otomatis menjadi kebalikan bersungut-sunggut sehingga jika kita tidak bersungut-sungut itu berarti mengucap syukur. Saat kita tidak bersungut-sungut, kita menunjukan sikap menerima, sedangkan untuk dapat bersyukur, harus keluar dari dalam hati nurani yang murni, bukan sekedar keluar kata-kata di bibir.

Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. (2 Timotius 1:3a)

Bagaimana dengan kita saat ini, sulitkah kita mengucap syukur? Atau selama ini kita paksakan keluar dibibir kita? Datanglah dihadapan hadirat Allah, bertututlah berdoa dan biarkanlah Roh Allah membuat anda merasakan betapa baiknya Allah itu, jauh lebih baik dari yang anda bayangkan, bahkan dengan segala kondisi yang menghimpit kita atau mengancam kita. Rencana Allah itu indah (Yeremia 29:11), dan Ia ingin kita tinggal didalamnya (Efesus 2:10), bukan sebagai seorang yang tidak berguna dan egois didunia yang membutuhkan terang dari Allah (Kisah Rasul 13:46-47), tetapi Ia ingin kita hidup membawa terang walau ditengah kegelapan. Karena untuk itulah kita ada didunia ini.

Mari kita mulai hari ini, berlutut dihadariatNya agar kita benar-benar dapat mengucap syukur kepadaNya atas segala hal.

Amin

h1

Juruselamat adalah Allah

23 May 2008

Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan Akulah Allah.
(Yesaya 43:11-12)

Naskah Yesaya dari QumranKitab Yesaya ditulis kurang lebih pada tahun 700-680 SM. Naskah tertua yang ditemukan selain naskah yang disalin turun termurun (Massoretis), adalah naskah dari gua-gua di Laut Mati (Qumran) yang ditemukan tahun 1947. Usia naskah tersebut diperkirakan oleh para ahli arkeologi ditulis (disalin) pada tahun 125 SM. Naskah dari Laut Mati tersebut membuktikan teks salinan kitab Yesaya sebelumnya, yang dimiliki secara turun-temurun atau tradisi telah disalin dengan tepat huruf per huruf.

Didalam salah satu teks kitab Yesaya tersebut, dituliskan bahwa Juruselamat Isreal itu adalah Tuhan sendiri. “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku” Ini adalah salah satu dari banyak ayat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama yang menjelaskan bahwa Juruselamat itu adalah Tuhan Allah.

Tidak ada manusia yang dapat menjadi juruselamat bagi dirinya sendiri (Mazmur 49:8). Bahkan manusia yang meminta pertolongan kepada sesama manusia itu disebut sebagai hal yang sia-sia (Mazmur 60:13) dan terkutuk dihadapan Tuhan (Yeremia 17:5).

BERITA KESELAMATAN

Berita tentang datangnya Juruselamat yaitu Mesias, telah lama dikabarkan sejak Nabi Musa. Semua orang Israel menantikan Mesias datang sebagai Juruselamat. Sebelum Yesus datang, bangsa Israel menyangka Mesias datang untuk menyelamatkan Israel dari penjajahan bangsa-bangsa lain. Bahkan murid-muridNya pada awalnya juga menyangka demikian, tersirat dalam pertanyaan murid-murid dalam Kisah Para Rasul 1:6, Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”

Tetapi Tuhan datang sebagai Juruselamat, bukan untuk menyelamatkan Israel dari penjajahan bangsa-bangsa lain, bukan pula datang untuk mendirikan kerajaan Israel, melainkan untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan untuk menyatakan datangnya Kerajaan Allah (Lukas 4:43), yang bukan berupa kerajaan jasmani didunia (Lukas 17:20-21).

Tuhan mengasihi seluruh manusia tidak peduli dari bangsa manapun juga, Ia datang sebagai Juruselamat bagi kita semua, bagi segala bangsa di seluruh dunia, bukan hanya bagi orang Israel.

“Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yesaya 49:6)

Kabar keselamatan telah lama di kabarkan, semua bangsa Israel telah menanti-nantikan datangnya Juruselamat yaitu Mesias. Dari mulut nabi-nabiNya, berita itu disampaikan sampai genap waktunya Tuhan sendiri yang akan menyelamatkan manusia. Yesaya 43:12 mengatakan, Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, …” Tuhan sendiri yang memberitahukan sejak ribuan tahun lalu, dan Tuhan sendiri yang akan datang menyelamatkan dan Tuhan sendiri pula yang akan memberitakan kabar keselamatan tesebut. Serangkaian pekerjaan Tuhan yang dijelaskan dalam kitab Yesaya telah kita lihat hari ini. Berita injil keselamatan didalam Tuhan Yesus Kristus telah berkumandang keseluruh ujung bumi.

“Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16:15). Keselamatan bagi bangsa-bangsa telah tiba. Juruselamat itu ternyata datang bukan untuk membebaskan Israel dari penjajahan bangsa-bangsa lain, tetapi datang untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal. Allah bukan hanya untuk bangsa Israel, sebab ia adalah Allah seluruh bumi. Ia adalah Tuhan bagi segala bangsa.

Sekarang berita tentang keselamatan itu telah diberitakan diseluruh dunia. Kata “memberitahukan” dan “mengabarkan” yang ditulis dalam kitab Yesaya 43:12, memiliki arti kata yang berbeda. Kata “memberitahukan” dari kata Nagad (naw gad’) dalam bahasa Ibrani yang artinya: pesan yang disampaikan didepan, sedangkan kata “mengabarkan” dari kata shama’ (shaw-mah’) dalam bahasa Ibrani yang berarti: memberitakan atau mempublikasikan sesuatu kejadian yang telah terjadi.

Allah sendiri yang menyampaikan janji keselamatan itu, Allah sendiri yang menyelamatkannya dan Allah sendiri yang mengabarkan berita keselamatan itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 3:5, Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Paulus tahu, pelayanan pemberitaan injil dan tugas kerasulan yang ia jalani adalah pekerjaan Allah, bukan pekerjaan manusia. Allah sendiri yang akan berkata-kata, kita semua umat tebusanNya hanyalah saksi-saksi bagiNya seperti yang dikatakan Yesaya 43:12, “Kamulah saksi-saksi-Ku, demikianlah firman TUHAN”.

Kita adalah saksi-saksiNya, kita diutus dan diberi kuasa dari tempat yang tinggi untuk menjadi saksiNya (Kisah Rasul 1:8, Lukas 24:48-49).

Sudahkah kita menjadi saksiNya? Sudakah kita memberitakan berita keselamatan itu? Mari kita melibatkan diri didalam pekerjaan Allah, menjadi saksi dalam memberitakan kabar baik, kabar keselamatan kepada seluruih dunia. Dimulai dari orang-orang yang berada didekat kita, katakanlah, “Keselamatan yang dari Allah telah datang!”

Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? (Roma 10:13-14)

Maka seperti yang dikatakan oleh Allah dalam kitab Yesaya 43:12, “dan Akulah Allah”. Kata tersebut, menunjukan bahwa didalam namaNya, Allah akan menyatakan kebesaranNya. Kesaksian kita akan diteguhkan dengan tanda-tanda dan mujizat (Ibrani 2:4). Kata-kata kita akan penuh kuasa dan urapan (Yohanes 3:34). Kita berbicara atas nama Allah, dan Allah sendiri yang akan menunjukan kebesaran namaNya. Ia adalah Juruselamat bagi segala bangsa.

Amin


Top Blogs

h1

Godaan Bait Allah

3 May 2008

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

Matius 4:5-7

DIATAS ATAP BAIT ALLAH

Bait AllahTuhan Yesus sebelum memulai pelayananNya, Ia berpuasa di padang gurun selama 40 hari, dan Ia digoda oleh Iblis dengan tiga macam godaan. Salah satunya adalah digoda untuk menjatuhkan diri dari Bait Allah.

Jika kita melihat dua godaan lainnya, maka kita dapat melihat ada yang berbeda dengan satu ini. Dimana saat Yesus lapar, Ia digoda untuk memakan roti dan disaat dilihatkan kerajaan dunia dan gemerlapnya, Ia digoda dengan segala kemulyaan dan kemewahan duniawi. Dua godaan ini sering kali juga dilontarkan oleh Iblis kepada kita. Tetapi godaan tentang menjatuhkan diri dari Bait Allah terlihat paling lain sendiri.

Tidak ada tawaran yang diberikan oleh Iblis dalam menggoda Yesus diatas atap Bait Allah. Iblis hanya menantangNya untuk menjatuhkan diri dari atap Bait Allah. Secara logika, siapa mau menjatuhkan diri dari atas atap. Apa yang didapatkan? Godaan Iblis macam apa itu, kelihatannya kok tidak bermutu.

Apakah itu dapat disebut sebuah godaan?

Banyak orang kristen tidaksadar dan terjebak pada godaan ini. Iblis tidak membawa Yesus berada dipuncak suatu gunung atau diatas dahan pohon tertinggi, atau diatas menara, tetapi Iblis membawa Yesus keatap Bait Allah. Bait Allah, bukan istana, Iblis rupanya juga cukup rohani, memilih Bait Allah. Alkitab menulis hal ini sebagai peringatan bagi kita, bahwa Iblis juga akan menggoda kita didalam kehidupan rohani kita.

Memang benar ada tertulis, sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. (Mazmur 91:11-12), dan Iblis telah menantang Tuhan Yesus untuk membuktikan ayat tersebut. Hal yang penting adalah dimana Iblis telah membawa Yesus yaitu di atap Bait Allah. Tempat dimana orang Israel berkumpul dan para imam, ahli Taurat dan orang Farisi berkumpul dibawanya.

Jika Yesus menerima tantangan tersebut, maka yang hendak dibuktikan bukan kebenaran Firman Tuhan lagi, melainkan kesombongan manusia, seperti mencari hormat dan pujian dihadapan segenap rohaniwan, orang-orang yang berada di bawah Bait Allah.

Dengan lembut tantangan tersebut ditolak oleh Tuhan Yesus dengan mengatakan bahwa benar ada ayat tersebut, tetapi ada ayat lain yang mengatakan, “jangan kita mencobai Tuhan Allah kita”. Karena Tuhan tahu apa yang ada didalam hati manusia dan Allah tidak dapat didustai dengan dalih rohani untuk kemulyaan manusia, untuk mencari hormat dan pujian bagi diri sendiri.

Godaan akan kesombongan rohani, adalah godaan yang berbahaya, yang hanya dapat dinilai atau dilihat dari hati manusia itu sendiri. Orang lain siapa yang dapat mengetahui isi hati kita? Godaan kesombongan rohani ini juga merupakan salah satu bagian dari tiga macam godaan Iblis yang sering dilontarkan kepada anak-anak Allah. Waspadalah!

DIDALAM GEREJA TUHAN

Didalam komunitas gereja, juga sama seperti komunitas diluar gereja. Mereka berinteraksi satu sama lain dalam sebuah komunitas. Didalam sebuah komunitas terdapat nilai-nilai akan perkara baik dan buruk, demikian juga didalam gereja, secara tidak sadar masyarakat gereja menilai setiap orang apakah ia rohani atau tidak. apakah ia dipakai Allah atau tidak, apakah ia orang besar atau orang kecil didalam pelayanannya.

Godaan yang dilontarkan diatas atap Bait Allah kepada Yesus, juga akan dialami oleh anak-anak Allah yang lainnya. “Buktikan kalau kamu memang seorang yang rohani” demikian kira-kira kalimat Iblis kepada kita diatas Bait Allah. Dan hari ini kita melihat serentetan orang-orang Kristen yang hidup munafik. Hidup sok rohani, sok penting. Bahkan lebih dari itu, banyak orang yang merasa lebih hebat dari pada yang lainnya dalam kehidupan rohaninya. Mereka telah digoda untuk melompat dari atas Biat Allah.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Matius 5:20)

Ahli taurat hanya tampil rohani dari luar saja (Matius 23:25-28), menjadi masyarakat kelas satu dan menuntut hormat dan pujian dari ibadahnya. Firman Tuhan katakan, kalau ibadah kita sama, maka kita tidak akan diselamatkan.

Tuhan menuntut perbuatan yang lahir dari hati yang suci (Matius 23:26), bukan hanya tampak perbuatannya saja. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi egois hanya memikirkan baik untuk diri sendiri, tetapi Tuhan ingin kita menganggap yang lain lebih utama. Kehidupan rohani seorang kristen adalah melayani, bukan dilayani dan dihormati (Matius 20:28).

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:3-4)

Kita tidak boleh merasa lebih penting dan utama dari pada orang-orang lain. Kita menjadi pengikut Kristus, bukan menjadi tuan bagi saudara-saudara kita, tetapi kita menjadi pelayan bagi mereka (Lukas 22:25-27). Mungkin kita seharusnya belajar menjadi lebih baik dari pembantu rumah tangga kita didalam melayani satu sama lain. Dunia telah memutar nilai kehidupan kekristenan, seorang yang dianggap lebih rohani, maka ia lebih dihormati dan mendapat hak-hak istimewa didalam komunitas gereja, bukan sebagai pelayan tetapi sebagai seseorang yang wajib dilayani walau ia menyandang gelar “pelayan”.

Kesombongan rohani adalah tipu daya Iblis. Kehormatan dan nama besar didalam komunitas gereja adalah sebuah kesia-siaan dan jerat Iblis. Kursi-kursi kehormatan, gelar-gelar manusia, pujian kosong dan sebagainya adalah tipu daya. Tetapi ternyata tidak kurang orang bodoh di dalam gereja yang mau juga disuruh Iblis menjatuhkan diri diatas atap Bait Allah tanpa mendapat imbalan apa-apa dari Iblis.

Kesombongan rohani dapat muncul karena :

  1. Pernyataan kuasa Allah. Seperti menyembuhkan orang sakit, nubuat, mengusir setan dan lain-lainnya. Hal-hal ini dapat menyeret seorang anak Allah, berlaku bodoh menjatuhkan diri diatas Bait Allah hanya untuk menunjukan kepada seluruh orang yang ada dipelataran Bait Allah bahwa malaikat akan menopangnya.Mereka yang menjatuhkan diri akan menerima segala pujian manusia, menerima penghormatan manusia bahkan hadiah berlebih-lebih yang mewah dari banyak orang. Diterimanya semua sebagai haknya dan lupa dirinya adalah hamba melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya, atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? seolah-olah gada menggerakkan orang yang mengangkatnya, dan seolah-olah tongkat mengangkat orangnya yang bukan kayu! Sebab itu Tuhan, TUHAN semesta alam, akan membuat orang-orangnya yang tegap menjadi kurus kering, dan segala kekayaannya akan dibakar habis, dengan api yang menyala-nyala. (Yesaya 10:15-16)

    Banyak kisah dimana anak-anak Allah yang dipakai melayani dengan pernyataan kuasa Allah yang luar biasa akhirnya “terjatuh dari atap” dan Allah meninggalkannya. Apakah dikira Allah bodoh dan dapat dipermaikan? Allah tidak dapat dicobai, seperti yang terjadi pada Simson, dikiranya seperti sudah-sudah ia dapat melepaskan diri tetapi nyatanya Allah telah minggalkannya.

  2. Kesombongan karena mengerti lebih. Mengerti Firman Tuhan lebih dari yang lainnya (menurut sangkanya sendiri), ternyata juga dapat menjadikan seseorang itu menjadi sombong rohani. Tentang daging persembahan berhala kita tahu: “kita semua mempunyai pengetahuan.” Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. (1 Korintus 8:1).

    Banyak orang kristen akhir-akhir ini sering saling menyerang aliran satu dengan yang lain dengan segala ilmu Theologianya. Serentet gelar terpampang didepan namanya, mereka seakan lebih benar dari aliran-aliran lainnya. Seakan Allah hanya berbicara kepada mereka saja, sementara kepada aliran kristen lainnya, Allah tidak berbicara. Hal-hal ini lahir dari kesombogan rohani akan pengetahuan manusia yang terbatas, akan segala ilmu Theologia yang kosong, yang hanya digunakan untuk menyerang dan menyalahkan orang.

    Tentang pengetahuan, 1 Korintus 8:2-3, menjelaskan : Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu “pengetahuan”, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.Sebab pengetahuan dan hikmat itu dari Allah bukan dari kepandaian atau usaha manusia (Amsal 2:6). Sedangkan pengetahuan itu sendiri Allah tidak memberikan lengkap kepada kita (1 Korintus 3:9, Ulangan 29:29).

    Jangan kita saling menyalahkan dan membenarkan diri dengan pengetahuan kita akan Firman Tuhan, tetapi mari kita saling melengkapi, saling menguatkan, menghibur, mengajar, menegur dan membangun dengan pengetahuan yang telah diberikan kepada kita. Jika panas hati timbul dan pertengakaran dan debat dan pertikaian datang maka anda telah memutuskan untuk lompat dari atas Bait Allah. Apa yang ingin anda buktikan? Kebenaran Firman Tuhan atau diri anda sendiri?

  3. Keahlian didalam pelayanan, seperti suara merdu, memainkan musik dengan luar biasa, pandai presentasi, pandai berbicara, kotbah dan lain-lainnya. Keahlian-keahlian yang Tuhan berikan sering kali menjadi berarti didalam organisasi gereja, sehingga menjadikan mereka yang memiliki keahlian tersebut ditempatkan pada posisi yang penting dalam komunitas tersebut.

    Penting bagi manusia tidak berarti penting bagi Allah. Bahkan Firman Tuhan mengatakan apa yang dikagumi manusia itu dibenci oleh Allah (Lukas 16:15). Keahlian tersebut dapat membutakan mata kita dan dapat membuat kita bertindak bodoh dengan mendengarkan godaan Iblis untuk menjatuhkan diri diatas Bait Allah. Jangan mengejar pujian, penghormatan dan ingin diistimewakan didalam gereja, sebab itu samua adalah milik Allah.

Demikian kita semua, sebagai anak-anak Allah, baiklah kita belajar dari catatan godaan yang dilakukan oleh Iblis kepada Tuhan Yesus Kristus di padang gurun. Salah satunya adalah godaan untuk menjatuhkan diri dari atap Bait Allah, sesuatu kesombongan rohani. Hanya orang bodoh yang mau melompat dari atas atap. Tetapi godaan sekonyol itu telah menewaskan banyak anak-anak Allah.

Walaupun pernyataan Allah luar biasa didalam kehidupan kita, didalam pelayanan kita, kita harus selalu ingat bahwa semua itu bukan perkara yang penting, sebab yang terpenting dari semuanya bukan kehebatan kita dalam perkara rohani tetapi apakah kita diselamatkan atau tidak. Matius 7:21-23 dengan jelas menuliskan bahwa di akhir zaman, banyak orang yang melayani dengan kuasa yang luar biasa dan dengan hebohnya, malah mereka ditolak dari hadapan Tuhan. Kesombongan spiritual dapat membuat kita terlena dengan pujian dan penghormatan manusia akan perkara-perkara rohani.

“Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” (Lukas 10:19-20)

Mulai saat ini waspadalah terhadap segala kesombongan rohani. Kebesaran yang diberikan oleh manusia, pujian yang diucapkan oleh manusia dan segala hormat yang diterima karena perkara-perkara rohani yang ada dalam diri kita adalah perkara yang sia-sia. Semua itu adalah tipu daya Iblis. Jangan kita jatuh karenanya. Sementara pernyataan yang luar biasa dari Allah dalam hidup dan pelayanan kita, bukan jaminan nama kita tercatat dalam Kerajaan Surga.

Seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan mengusir Iblis yang menggodaNya (Matius 4:10), demikian juga yang dilakukan oleh Paulus saat Iblis melantunkan pujian rohani kepadanya (Kisah Rasul 16:17-18), kita juga sebaiknya meniru teladan tersebut agar kita tidak jatuh karena kesombongan rohani.

Akhir kata saya mengutip 1 Korintus 9:27 yang berkata: Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Salam.

Leonardi


Top Blogs