h1

Pengajar Israel

7 March 2009

Pengajar Israel
(Renungan Guru Sekolah Minggu)

Ulangan 6:6-9

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

Tugas mendidik anak adalah sebuah perintah, bukan sebuah pilihan. Kewajiban ini adalah dasar dari kehidupan bangsa Israel. Mereka secara turun-temurun (tradisi), mengajarkan kitab Taurat kepada anak-anak mereka dari generasi sampai generasi. Bangsa Israel sampai hari ini masih melakukan tradisi tersebut secara hurufiah, mereka menghafalkan kitab Taurat dan tradisi-tradisi sebagai suatu kewajiban, tetapi perintah itu bagi kita yang telah ditebus oleh Kristus, telah menjadi perintah yang bersifat rohani. Perintah itu mewajibkan kita untuk mengajarkan anak-anak didalam kebenaran Firman Tuhan sejak dari kecil, bukan setelah ia tumbuh dewasa.

Tugas mendidik anak bukan hanya tugas ayah dan ibu mereka, tetapi merupakan tugas setiap pelayan-pelayan Kristus (Matius 24:45-46). Kita diutus oleh Tuhan Yesus, bukan hanya untuk mengabarkan berita Injil saja, tetapi juga untuk mengajarkan mereka kebenaran Firman Tuhan (Matius 28:19-20). Ini adalah suatu kewajiban, sekali lagi bukan sebuah pilihan.

Ulangan 6:7, disebutkan ada dua tempat dalam mengajar, yaitu didalam rumah dan diluar rumah. Dirumah memang itu adalah tugas ayah dan ibunya, sedangkan diluar rumah adalah tugas para pelayan Kritus, tugas para pemimpin dan para gembala. Kita masing-masing mengambil bagian didalamnya. Tidak patut jika kita melihat seorang anak orang beriman yang berbuat dosa atau kesalahan, dan kita diam saja, lantaran bukan anak kita. Perbuatan tersebut adalah kejahatan dihadapan Tuhan.

Yehezkiel 33:6, “Sebaliknya penjaga, yang melihat pedang itu datang, tetapi tidak meniup sangkakala dan bangsanya tidak mendapat peringatan, sehingga sesudah pedang itu datang, seorang dari antara mereka dihabiskan, orang itu dihabiskan dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari penjaga itu.”

Demikian juga dengan Yakobus 4:17, disebutkan jika kita tahu berbuat baik tetapi diam saja, maka itu adalah dosa, apalagi itu menjadi tugas kita, pengajar Israel. Betapa jahatnya kita dihadapan Allah. Amsal 16:30, mengatakan “…, siapa mengatupkan bibirnya, sudah melakukan kejahatan.”

Jangan kita berdiam diri, membiarkan anak-anak kecil berbuat kesalahan dan jauh dari kebenaran. Didiklah mereka didalam kebenaran Firman Tuhan. Didiklah dengan hati seorang hamba yang diperkenan oleh Allah, bukan seperti hamba yang jahat yang melakukan tugasnya ala kadarnya (Yeremia 48:10) dan yang melayani tidak dengan hati yang penuh kasih.

1 Petrus 4:8, “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.”

Menutupi itu bukan artinya menyembunyikan dosa (menutup-nutupi), tetapi karena kasih, maka banyak kesalahan dan dosa dapat dihindarkan dan dipulihkan lewat pengajaran, pembimbingan dan tuntunan kepada jalan kebenaran (Amsal 24:11). Karena kasih 1 Tesalonika 2:7-8, menuliskan bukan hanya kita membagikan injil Kerajaan Allah, tetapi juga hidup kita bagi mereka.

Didalam Ulangan 6:7, bukan hanya menuliskan tentang tempat, tetapi juga tentang waktu. Disebutkan bahwa kita mengajar mereka dari tidur sampai bangun (bangsa Israel menghitung waktu bukan dimulai pada pagi hari, tetapi dimulai pada malam hari, saat matahari terbenam sebagai awal dan akhir sebuah hari). Kita sebagai pengajar Israel, mendidik anak bukan hanya pada hari-hari tertentu saja, bukan pada jam-jam tertentu saja, tetapi tugas dan tanggung jawab itu tidak mengenal batasan waktu dan hari. Tidak hanya hari minggu saat anak-anak datang ke Sekolah Minggu, tetapi setiap hari adalah waktu yang baik untuk mendidik mereka didalam kebenaran Firman Tuhan.

2 Timotius 4:2, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

Disetiap kesempatan gunakanlah waktu yang ada untuk mendidik anak-anak didalam kebenaran, entah waktu yang baik, kondisi yang baik atau tidak, dalam segala saat, kita wajib mengajarkan kebenaran Firman Tuhan. Jangan batasi dengan waktu-waktu tertentu, sebab hidup kita sesungguhnya seluruhnya adalah milik Kristus (1 Korintus 6:19-20), sudah sepantasnya kita siap sedia setiap waktu untuk mendidik anak-anak didalam kebenaran.

Sanggupkah kita memberi hidup kita kepada mereka? Jika kita melayani Kristus, melayani Tuhan, maka sesungguhnya yang kita layani adalah mereka (Matius 25:44, 1 Yohanes 4:20-21).

Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Dalam King James Version, dituliskan “Train up a child in the way he should go: and when he is old, he will not depart from it.” Kata “child” dalam bahasa Inggris atau “orang muda” dalam bahasa Indonesia, ditulis dalam bahasa Ibrani “ren na’ar” (baca: nah’-ar) yang merupakan sebutan bagi balita sampai remaja. Sehingga kita tahu, bahwa jika kita mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anak sejak kecil, maka sampai masa tuapun mereka akan tetap dipeliharanya.

Masa kanak-kanak, adalah masa pembentukan. Masa dimana manusia mengawali pertumbuhan karakternya. Secara biologis, masa kanak-kanak merupakan masa dimana sel-sel bertumbuh dengan cepat sebelum mereka tidak lagi bertumbuh. Pada masa inilah iman, kasih dan pengharapan dibentuk dan diolah. Seperti tukang periuk, ia membentuk sebuah periuk bukan pada saat telah mengeras, tetapi pada saat pertama kali tanah lihat dicampurkan air. Entah menjadi apa, semua tergantung pengolahan pada saat masih basah untuk dibentuk sesuai si pembuat.

2 Timotius 3:15, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”

Timotius adalah sebuah contoh yang baik yang ditulis dalam Alkitab, seorang yang sejak kecilnya menerima pengajaran Firman Tuhan, sehingga saat dewasa, telah terbentuk iman yang menciptakan karakter Kristus dalam dirinya (2 Timotius 1:5). Sedangkan tokoh sebaliknya yang menjadi pelajaran bagi kita (Roma 15:4) adalah Hofni dan Pinehas, yang sejak kecil mereka tidak pernah didik dengan baik oleh imam Eli (1 Samuel 3:13). Tidak pernah diajarkan dengan tegas kebenaran Firman Tuhan, hanya ditegur sapa saja saat berbuat salah (1 Samuel 2:22-25).

Mendidik anak didalam kebenaran Firman Tuhan, tidak cukup hanya dengan ditegur sapa saja. Ulangan 6:6 disebutkan kata “berulang-ulang” bukan hanya sekali, tetapi setiap kali dan setiap ada kesempatan. Harus dilakukan dengan serius, jika kita tidak ingin ditegur seperti imam Eli.

Memang baik, jika kita terus menerus berbicara, menegur mereka, sampai kadang dibilang “cerewet” tetapi semua itu menjadi tidak berarti (kata-kata kita) jika kita sendiri tidak melakukan apa yang kita ajarkan kepada mereka.

Matius 23:3-4, “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.”

Didalam Ulangan 6:8, disebutkan bahwa Firman Tuhan itu haruslah diikatkan menjadi tanda ditangan dan lambang di dahi, bukan tangan dan dahi anak-anak tetapi pada para pengajar Israel. Tanda ditangan adalah perbuatan yang lahir dari Firman Tuhan dan lambang di dahi adalah pikiran yang lahir dari Firman Tuhan. Pikiran dan perbuatan kita harus dikuduskan dan agar selalu sesuai dengan Firman Tuhan, sesuai dengan apa yang kita ajarkan kepada anak-anak. Inilah hukum Allah, bukan hanya pandai berkata-kata dan pandai menasihati tetapi juga melakukan apa yang diperintahkan dan apa yang kita ajarkan.

1 Petrus 5:3, “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.”

Karena tuntutan inilah maka setiap pelayan Kristus, wajib untuk hidup seperti Kristus, meninggalkan beban yang begitu merintangi jalan kita, sehingga kita dapat menjadi pengajar Israel yang berkenan kepada Allah. Marilah kita mengajar anak-anak kita dengan teladan, bukan hanya dengan perkataan. Biarlah kebenaran Firman Tuhan memenuhi seluruh pikiran kita dan setiap perbuatan kita mencerminkan kebenaran FirmanNya.

Namun demikian tidak cukup kita hanya menjadi teladan. Ulangan 6:9, jelas menyatakan bahwa haruslah kita juga menuliskannya dipintu rumah. Teladan yang kita berikan kepada anak-anak di Sekolah Minggu, harus juga merupakan teladan bagi seisi rumah. Bagi seluruh orang didalam rumah, baik itu anggota keluarga, pembantu rumah tangga, kerabat ataupun tetangga. Kita bukannya orang-orang munafik yang ingin mengejar gelar dan pengakuan rohani di gereja atau Sekolah Minggu, tetapi kita masing-masing membawa beban langsung dari Kristus untuk mendidik anak-anak didalam kebenaran Firman Tuhan.

Didalam rumah, sudahkah kita menjadi teladan? Sudahkan pengajaran itu keluar dari perbuatan dan perkataan kita saat kita berada didalam rumah? Kisah 16:31 menulis “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” bukan terjadi secara pasif, saat satu orang percaya dan otomatis seluruh rumah selamat, tetapi lewat satu orang yang beriman inilah terang itu terpancar dan lewat teladan hidupnya, semua orang dalam rumah menerima keselamatan. Teladan itu dimulai dari dalam rumah, bukan dimulai dari Sekolah Minggu atau gereja.

Ulangan 6:9, juga menyebutkan bahwa Firman Tuhan juga harus tertulis dipintu gerbang. Bukan hanya didalam rumah, tetapi juga diluar rumah, dilingkungan pekerjaan, di sekolah, di pasar dan dimana saja tempat berkumpulnya banyak orang yang tidak mengenal kita maupun yang mengenal kita. Ibrani 12:1, menuliskan “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”.

Hidup kita terbuka, disaksikan oleh banyak orang diluar, dipekerjaan dimana saja, kita harus menjadi teladan dan terang bagi mereka sehingga kita dapat mengajar anak-anak didalam kebenaran sesuai dengan Firman Tuhan.

Marilah, para pengajar Isael, mari kita mengajarkan anak-anak didalam kebenaran Firman Tuhan. Mengajarkan dengan hati penuh kasih dan rela memberikan hidup kita kepadanya agar mereka yang masih muda ini dapat bertumbuh kepada kesempurnaan. Itu adalah perintah, bukan pilihan.

Amin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: