h1

Perjanjian Yang Diperbaharui

8 September 2009

Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.”
Keluaran 24:7-8

Perjanjian tersebut disebut perjanjian antara Yahweh dan Israel di gunung Horeb/Sinai (Keluaran 19-31), selanjutnya Allah melengkapi dengan tatacara dan aturan ibadah setelah kemah suci didirikan sebagai detil dari perjanjian tersebut, yang meliputi korban bakaran, korban sajian, korban penghapus dosa, korban penebus salah, persembahan pentasbisan dan korban keselamatan (Immamat 7:37-38). Kemudian bangsa Israel menyebutnya sebagai hukum Taurat (Ulangan 4:44) dan pada masa kini kata Taurat mengacu kepada 5 kitab yang ditulis oleh Musa (Kejadian, Keluaran, Immamat, Bilangan dan Ulangan).

Demikian perjanjian yang dibacakan dan didengar untuk dilakukan dan bertindak hati-hati sesuai dengan apa yang tertulis didalamnya adalah hukum Taurat, perjanjian antara Yahweh dangan bangsa Israel.

Jauh sebelumnya, nenek moyangnya, Abraham telah menerima perjanjian Allah bahwa keturunannya yang akan menjadi umat Allah dan Yahweh menjadi Allah mereka untuk selamanya (Kejadian 17:7) dan juga Allah menjanjikan negeri Kanaan (disebut juga Palestina oleh bangsa Romawi sampai hari ini) sebagai tanah tempat mereka tinggal yang dikenal dengan sebutan Tanah Perjanjian (Kejadian 17:8).

Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. (Kejadian 17:7)

Perjanjian Allah di gunung Herob/Sinai tersebut merupakan kelanjutan dari perjanjian Allah kepada Abraham, yaitu perjanjianNya terhadap keturunannya. Perjanjian Allah itu mengikat dan bersifat kekal, perjanjianNya dengan Abraham dan perjanjianNya dengan bangsa Israel tidak pernah dilupakanNya bahkan sampai hari ini (Yesaya 54:10, Matius 5:18).

Disetiap perjanjian terdapat hak dan kewajiban dikedua belah pihak. Yahweh dan Israel, sama seperti perjanjianNya dengan Abraham (Kejadian 17:4,9). Dipihak Allah, telah tertulis dalam Kejadian 17:4-8 dan dipihak Abraham dan keturunannya tertulis dalam Kejadian 17:9-11, yang melahirkan hukum sunat.

Saat mengadakan perjanjian dengan bangsa Israel, perjanjian tersebut juga memiliki bagian bagi kedua sisi. Di pihak Israel, mereka diharuskan hidup sesuai dengan hukum yang telah dibacakan kepada mereka lewat perantara Musa, yaitu hukum Taurat. Dipihak Allah, mereka akan menjadi harta kesayangan dan dijadikan Kerajaan Imam dan bangsa yang kudus milik Allah.

“Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” (Keluaran 19:5-6)

Didalam kitab Ulangan 29:1,10-15 disebutkan bahwa Musa mengadakan perjanjian kembali kepada umat Israel, sesuai dengan Perjanjian yang diterima mereka di gunung Herob/Sinai dengan memperluas jangkauan perjanjian. Didalam ayat 14 dan 15, ditambahkan tentang perjanjian tersebut mengikat bukan hanya kepada mereka yang hadir ditengah upacara tersebut, tetapi mengikat kepada semua orang Israel dimanapun mereka berada. Bahkan ayat 11-12, juga termasuk anak-anak, perempuan dan orang asing diluar bangsa Israel yang berada ditengah-tengah mereka, terikat pula dengan perjanjian tersebut.

Mereka yang melanggar perjanjian, Allah telah menetapkan pula didalam perjanjianNya tentang hukum bagi mereka yang berbuat jahat, berkianat terhadap perjanjian tersebut. Secara garis besar hukumnya adalah kutuk (Ulangan 28:15-46) dan maut. Segala dosanya akan ditanggungkan tujuh kali lipat (Imamat 26:15-39).

Namun demikian didalam hukum perjanjian tersebut, Allah juga memberikan jalan pengampuan lewat hukum korban tebusan salah dan korban penghapusan dosa. Dimana semua dilakukan dengan mengorbankan binatang sebagai tebusannya.

“Sebagai korban penebus salahnya haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, menjadi korban penebus salah, dengan menyerahkannya kepada imam. Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah.” (Immamat 6:6-7)

Demikian jadinya, berulang-ulang bangsa Israel berbuat salah dan memohon pengampuanan. Berbuat salah dihajar oleh Allah, semakin keras saat tetap tidak bertobat, saat kemudian bertobat, dan Allah mengampuni, memberikan kelepasan dan berkat-berkatnya kembali kemudian tidak lama bangsa Israel berbuat dosa kembali dan kembali lagi Allah menghukumnya.

Sesuatu yang jelas bahwa Ulangan 27:26, berkata (KJV), “Cursed be he that confirmeth not all the words of this law to do them. And all the people shall say, Amen” Sehingga setiap orang Israel harus mentaati seluruhnya, kesalahan terhadap satu bagian menjadikannya bersalah terhadap keseluruhan (Yakobus 2:10). Memang ada banyak yang hidup tanpa kesalahan dalam mentaati hukum Taurat, salah satunya rasul Paulus.

Walau demikian rasul Paulus mengatakan dalam Roma 3:20, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Rasul Paulus adalah seorang Farisi (Filipi 3:5), yang hidup memegang hukum Taurat dengan keras (Kisah 26:5) dididik dibawah pengajaran Gamaliel (Kisah 22:3), seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh Mahkama Agama dan orang Israel (Kisah 5:34). Kehidupannya tidak diragukan lagi dalam menjalankan hukum Taurat (Filipi 3:6), namun ia tahu karena adanya hukum Taurat, maka dosa akan semakin bertambah-tambah (Roma 5:20). Sehingga mudah sekali manusia jatuh dalam dosa dan semakin berat dan berat sampai kepada kenyataan bahwa upacara penghapusan dosa tidak membawa keselamatan dan pembenaran. Darah binatang tidak dapat menebus dan menghapus dosa manusia. Ibrani 10:14, Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.”

Hal itu terlihat jelas dari kehidupan dan sejarah bangsa Israel, bahwa tidak ada seorangpun dapat mentaati seluruh hukum Taurat. Sebab Hukum Taurat adalah perintah yang datang dari luar tubuh untuk ditaati, dan karenanya maka tubuh ini harus ditaklukan agar dapat taat (Roma 7:21-24). Sebenarnya Allah telah menetapkan hukum sunat, sebagai pembuka jalan bagi hukum Taurat yang diberikan terlebih dahulu. Dimana dengan hukum sunat yang merupakan sunat hati (Ulangan 30:6), maka hati bangsa Israel dapat lunak dan dapat mentaati hukum perjanjian Allah. Tetapi bangsa Israel terus menurus mengeraskan hati mereka (Ibrani 3:15-19), benar mereka telah bersunat jasmani, tetapi hatinya tidak disunat, sehingga mereka dibinasakan dan ditawan bahkan dibawa ke pembuangan.

Celakalah kita jika demikian? Tentu tidak, sebab sebenarnya Allah telah merencakan sesuatu yang indah dan luar biasa, rahasia yang tersembunyi sejak permulaan dunia, yang tertulis dalam kitab Perjanjian Allah, yang disampaikan oleh para nabi-nabi tentang keselamatan kekal. Dan janji itu telah digenapkan pada jaman ini.

Saat ini kita menyebut seluruh perjanjian Yahweh dengan Israel tersebut dengan sebutan Perjanjian Lama. Kata lama menandakan Perjanjian yang telah diperbaharui oleh Allah (Ibrani 8:13). Hari ini kita bersyukur sebab apa yang dahulu merupakan gambaran, yaitu hukum Taurat, merupakan penenuntun kepada perjanjian Allah yang sempurna, kita sekarang hidup didalam hukum-hukum Perjanjian yang telah diperbaharui.

“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”
(Yeremia 31:31-34)

Perjanjian baru telah diwartakan sejak lampau, bahwa Allah akan menaruh hukum-hukumNya didalam hati kita dan perintah Allah tidak lagi datang dari luar untuk kita taati, tetapi dari dalam memancar keluar didalam perbuatan yang sesuai dengan hukum Taurat. Hukum Allah tidak pernah berubah, hukum Taurat tetap berlaku tetapi tidak lagi secara hurufiah dan diperintahkan dari luar tubuh, tetapi dari dalam, hukum yang bersifat rohani karena dibangkitkan oleh Roh yang dari Allah. Sehingga sejak saat berlakunya hukum Perjanjian Baru, Taurat tidak lagi berlaku secara jasmani, tetapi secara rohani digenapkan didalam Kristus.

Seperti halnya Perjanjian Lama dengan hukum sunat sebagai pengawal perjanjian, maka Perjanjian Baru juga ditandai oleh hukum Roh, dimana Allah akan menaruh RohNya kedalam hati kita, sebagai awal Perjanjian Allah.

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu. Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu. (Yehezkiel 36:25-29)

Pelayanan Yohanes Pembabtis adalah pembukaan babak dari Perjanjian Baru, perjanjian Allah yang telah diwartakan ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Ia datang mengenalkan ibadah babtisan air sebagai tanda permulaan Perjanjian Baru, yang disebutkan oleh rasul Petrus sebagai permohonan hati nurani yang baik dari Allah (1 Petrus 3:21). Selanjutnya seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam II Korintus 5:17, bahwa setiap orang beriman akan menerima hati dan roh yang baru sebagai kelahiran kembali yang dikatakan oleh Yesus kepada Nikodemus (Yohanes 3:3).

Setelah kita diperbaharui dalam roh dan pikiran sebagai manusia baru dimana Roh Allah dicurahkan didalam hati kita, sehingga kita memiliki kekuatan untuk mentaati hukum Taurat. Kita memiliki kekuatan untuk menaklukan keinginan daging ini dengan bantuan Roh Allah (Roma 8:13). Hukum Allah datang dari dalam bukan lagi dari luar seperti perintah harus ini dan itu, tetapi dari dalam hati kita kita akan tahu apakah harus ini atau itu sesuai dengan kehendak Allah.

Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu-dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta-dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia. (1 Yohanes 2:27)

Ayat tersebut diatas bukan berarti kita tidak perlu lagi belajar Firman Tuhan, juga tidak berarti kita tidak lagi perlu saling menasihati dan menguatkan, tetapi ayat tersebut menjelaskan bahwa Roh Allah yang juga sering disebut Pengurapan akan mengajarkan kepada kita segala sesuatu kepada kita. Yohanes 14:26 “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Ingat, bahwa didalam Perjanjian Baru, hukum Taurat tetap ada dan malahan hukum Taurat tersebut ditaruh didalam hati kita untuk kita taati (bukan secara harafiah), kerena itu perlu kita belajar dan mengerti lebih dalam Firman Tuhan, sehingga seperti yang dikatakan Yohanes 14:26 diatas, Roh Kudus akan mengingatkan kita akan semua kebenaran yang telah kita pelajari. Sedangkan yang dimaksudkan tidak perlu kita diajar oleh orang lain, adalah tentang peraturan manusia dan ibadah cara hafalan (Yesaya 29:11-14). Merekalah yang rasul Yohanes sebut, orang lain yang berusaha menambahkan beban kepada kebebasan kita didalam Kristus.

Hukum Taurat yang kita terima didalam hati kita, hukum Perjanjian Baru adalah hukum yang bersifat rohani, bukan perintah jasmani, sebab yang jasmani itu mematikan dan Roh Allah menghidupkan (2 Korintus 3:16).

Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (2 Korintus 3:14-17)

Saat selubung tersebut dibuka, saat itulah maka kita melihat bahwa hukum Taurat, kitab-kitab yang ditulis oleh Musa adalah perintah yang bersifat rohani dibangkitkan oleh Roh Allah yang tingga didalam kita, sehingga kita tidak lagi seperti bangsa Israel yang terus menerus berbuat kesalahan dan dosa, tetapi oleh karena pelayanan Perjanjian Baru, maka korban Anak Domba Allah, merupakan penggenapan dari gambaran korban-korban yang disebutkan dalam hukum Taurat tersebut, telah menghapus dosa satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:10).

Sejak Perjanjian Baru diberikan kita tahu bahwa Kerajaan Imam dan bangsa yang kudus didalam Perjanjian Lama, adalah berita tentang Kerajaan Allah (Markus 1:15), dan juga bahwa Tanah Perjanjian bukanlah sebidang tanah di Timur Tengah, melainkan Surga yang mulya tempat kita akan tinggal untuk selamanya (Yohanes 14:2-3). Apa yang jasmani telah disingkapkan, sehingga kita mengenal kebenaran yang bukan terdiri dari upacara, binatang korban, pakaian, bangunan dan segala sesuatu yang ritual jasmani, tetapi merupakan perkara kekal didalam roh yang kekal.

Perjanjian tersebut mengikat semua orang yang menerima percikan darah, demikian juga kita yang menerima percikan darah Kristus, lewat persekutuan dengan tubuh dan darahNya.

Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. (Lukas 14;23-24)

Sama seperti Perjanjian Lama disahkan dengan darah, maka Perjanjian Baru juga disahkan dengan darah Kristus. Mulai saat itu, hukum kasih karunia diberitakan. Keselamatan dan pengampunan diterima dengan iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Kristus, sama seperti pada masa Perjanjian Lama, didalam hukum Taurat, tangan pendosa diletakan diatas domba atau binatang sembelihan untuk ditanggung oleh binatang tersebut sebelum dipersembahkan sebagai korban penghapusan dosa (Imamamat 4:29) demikian juga saat ini, kita meletakan iman percaya kita kepada Anak Domba Allah.

Hukum yang ada didalam Perjanjian Baru, apa yang ditulis oleh para rasul dan apa yang diajarkan oleh mereka bukanlah hal baru, atau hukum baru, tetapi semua adalah hukum Perjanjian Lama yang telah disingkapkan, merupakan kesempurnaan janji Allah. Mereka menggunakan kitab Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab untuk menjabarkan berita Injil dan hukum Kasih Karunia sesuai Perjanjian Baru Allah. Sebab hukum Allah tidak pernah berubah dan FirmanNya tetap untuk selama-lamanya.

Rahasia besar dibukakan saat kebenaran dinyatakan bahwa bukan hanya bangsa Israel yang dirindukan Allah, yang disebut anak Allah, tetapi Allah menghendaki semua orang bertobat dan memperoleh keselamatan yang daripadaNya (Yesaya 49:6).

Tetapi kelak, jumlah orang Israel akan seperti pasir laut, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung. Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah yang hidup.” (Hosea 1:10)

Hari ini lewat iman maka banyak orang telah menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12, 1 Yohanes 3:2) dan mereka menjadi umat Allah dan Yahweh menjadi Allah mereka. Anak-anak Abraham bukan lagi anak secara jasmani tetapi secara rohani yang didasari atas iman Abraham.

Perjanjian Baru telah membuka pintu keselamatan bagi seluruh bangsa-bangsa didunia ini lewat bangsa Israel (Zakaria 8:22-23).

Amin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: