Archive for September, 2010

h1

TIPU DAYA IBLIS

5 September 2010

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. [Kejadian 3:1-7]

Kisah diatas adalah kisah pertama kali manusia berhubungan dengan ular. Kisah tersebut ditulis karena merupakan kisah penting dari kehidupan manusia. Dari kisah tersebutlah kita tahu manusia sekarang ini hidup didalam kelemahan dan kematian karena dosa.

Alkitab, mangatakan bahwa ular di Taman Eden itu adalah Iblis atau Setan. “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.” [Wahyu 12:9]. Disebut ular tua, yaitu ular yang ada sejak lampau di Taman Eden pada masa Adam dan Hawa. Ular itulah yang telah menyesatkan bukan saja Adam dan Hawa tetapi juga keturunannya sampai hari ini. (lebih dalam tentang Iblis silahkan lihat catatan berjudul “Asal Usul Iblis”)

Tentang Ular, Alkitab mengatakan bahwa ia adalah mahluk yang paling cerdik diantara semua mahluk ciptaan Tuhan. Bahkan Tuhan Yesus dalam Matius 10:16, mengajarkan agar kita juga secerdik ular yang dikisahkan dalam Kejadian 3:1. Memang bahwa ular diciptakan Allah dengan kecerdikannya.

TIPU DAYA ULAR DI TAMAN EDEN

Karena kecerdikannya maka Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kata-kata yang kelihatannya sederhana tetapi telah membuat manusia sampai hari ini binasa. Kata-kata ini sebuah pertanyaan yang keseluruhannya adalah salah untuk memancing mengungkapkan apa yang benar menurut Hawa. Berbeda dengan saat Iblis mencobai Yesus di padang gurun saat Yesus berpuasa. Ia tidak menggunakan kata-kata yang seluruhnya salah melainkan menggunakan kata-kata yang sebagian ada didalam Kitab Suci. “sebab ada tertulis: Mengenai Engkau…” atau “Jika Engaku Anak Allah, maka…” demikian kata Iblis dalam Matius 4:6 untuk memancing aktualisasi diri (membuktikan kebenaran).

Tipu daya Iblis yang dipakai di Taman Eden sebenarnya sama seperti yang dihadapi olehYesus di padang gurun. Persamaan ini sebab Yesus adalah Adam yang terakhir untuk menyempurnakan Adam yang pertama yang telah membawa dosa masuk kedalam dunia, sehingga Yesus dicobai dengan perihal yang sama.

Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup,” tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi. [1 Korintus 15:45-49]

Dosa datang kedalam dunia karena Adam (Roma 5:15-19), tetapi Adam kedua membawa kehidupan kekal juga telah dicopai dengan cara yang sama dan tetap setia, tidak jatuh didalam dosa. Karena itulah maka hari ini kita selain mempelajari bagaimana Iblis memperdaya Hawa dan Adam, kita juga belajar bagaimana Yesus sebagai Adam terakhir dapat tetap bertahan menghadapi tipu daya Iblis.

TIPU DAYA PERTAMA

Didalam kisah yang tertulis, kita melihat bahwa Iblis memilih untuk berkata-kata kepada Hawa bukan kepada Adam, walaupun Adam berada didekatnya (Kejadian 3:6). Karena Iblis tahu kelemahan Hawa, sehingga dengan pertanyaan tersebut ia terpancing didalam tipu daya ular tua.

Jika kita teliti (Kejadian 2:16-18), sebenarnya Hawa tidak mendengarkan langsung perintah larangan Allah, tetapi diturunkan lewat Adam. Sehingga saat Iblis bertanya tentang larangan tersebut, Hawa menjawab demikian. Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Jawab ini kelihatannya benar, tetapi jika kita lebih teliti, kita akan melihat bahwa Hawa tidak dengan tepat mengerti hukum Allah. Bandingkan dengan ayat berikut ini:

Maka berfirmanlah Tuhan Allah kepada manusia, kata-Nya: Adapun buah-buah segala pohon yang dalam taman ini boleh engkau makan sesukamu, tetapi buah pohon pengetahuan akan hal baik dan jahat itu janganlah engkau makan, karena pada hari engkau makan dari padanya engkau akan mati. [Kejadian 2:16-17]

Ada perbedaan dimana Allah mengatakan jangan makan, sementara Hawa mengatakan jangan makan ataupun raba. Penambahan ini kelihatannya biasa dan tidak masalah, tetapi dari hal-hal seperti inilah iblis mendapat kesempatan bekerja menyesatkan seluruh manusia di bumi. Seketika itu juga Iblis menjawab Hawa, “Sekali-kali kamu tidak akan mati,…” Selanjutnya Iblis menggoda Hawa sehingga ia mulai mencoba meraba buah pengetahuan baik dan jahat tersebut dan memang ia tidak mati. Apa yang kira-kira dipikirkan Hawa saat ia mencoba menyentuh buah tersebut dan merabanya tetapi tidak mati? Berarti hukum Allah tersebut tidak benar adanya dan karenanya maka Hawa berani bertindak lebih dengan memetik dan memakannya, karena ia tidak mati saat meraba buah tersebut. Ketakutan Hawa adalah kepada kematian sebagai akibatnya, bukan kepada Allah yang memberi perintah.

Tipu daya pertama dari Iblis di Taman Eden adalah merancuhkan antara perintah manusia dan perintah Allah. Sering kali manusia terjebak dengan memahami perintah manusia seakan sebagai perintah Allah sehingga ia semakin jauh dari kebenaran Firman Tuhan.

Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” [Markus 7:6-8]

Bukankah banyak orang beriman berbuat seperti ini. Mereka lebih suka tampil didepan umum sebagai orang yang rohani, menjaga citra sebagai orang baik. Datang beribadah dengan senyum dan ramah, tetapi dirumah selalu berkelahi antar suami dan isteri, di dalam gereja menjaga sikap dan mulutnya dari kata-kata kotor, kata-kata cabul dan kesombongan, tetapi dipekerjaan, mulutnya penuh dengan kata-kata kotor, berbicara cabul diantara relasi kerja dan menyombongkan diri dihadapan teman-teman sebayanya. Mereka menjaga diri dari apa yang dilarang oleh organisasi gereja, menjaga diri dari apa yang di anggap salah dan dosa oleh lingkungan gereja, tetapi tidak benar-benar paham kebenaran Firman Tuhan.

Kita harus benar-benar mengerti apa isi kebenaran Firman Tuhan, bukan apa yang dikatakan oleh orang banyak tentang kebenaran. Belajar mengerti Firman Tuhan lebih dalam itu penting agar kita tidak terjebak dan tertipu tipu daya setan (Matius 22:29). Ingatlah apa yang dikatakan oleh Roma 10:17, bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, jadi bukan sembarang kebenaran yang dapat melahirkan iman yang kuat. Seorang bayi yang baru lahir diberi susu yang murni, bukan sembarang air berwarna putih serupa susu. Seperti didesa-desa beberapa bayi diberi air tajin, air bekas mencuci beras yang sekilas warnanya serupa dengan susu, tetapi tentu air tajin tidak dapat membuat otot dan daging yang kuat bagi bayi tersebut, demikian juga perintah manusia.

Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi. [Kolose 2:20-23]

Kalau kita mengutamakan kepada bentuk ibadahnya, menilai tari-tarian di gereja itu dosa, makan permen saat kebaktian itu dosa, menahan kencing sampai ibadah selesai itu suci, atau tidak makan daging babi itu lebih suci dari orang lain, merekok itu dosa, dilarang pegang sesajen atau dilarang masuk kuil atau berdosa orang yang menginjak Alkitab atau hiasan salib dan perkara dunia lainnya yang fana membuat kita rancuh dengan kebenaran Firman Tuhan dan apa yang dikehendaki oleh Allah didalam hidup kita didunia ini. Hal ini membuat Iblis memiliki banyak kesempatan menjatuhkan kita. Semua dapat terjadi karena tidak ada usaha yang sungguh untuk mengerti kehendak Allah. Jika pada saat itu Hawa benar-benar berusaha sungguh-sungguh mengerti hukum Allah yang hanya satu-satunya itu, tentu Hawa memiliki iman yang cukup untuk menolak panah api tipu daya setan (Efesus 6:16) dan ia tidak akan terjebak dalam perintah manusia sampai berdosa dan membawa dosa masuk kedunia sampai hari ini.

Lewat segala perintah-perintah manusia yang terlihat seperti hukum Allah inilah maka Iblis berusaha membuat kita merasa tertuduh dan semakin jauh dari Allah. Satan (baca: saw-tawn’) bahasa Ibrani yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Iblis artinya adalah Penuduh atau Pendakwa. Karena sifat dari ular tua tersebut adalah selalu mendakwa manusia sehingga ular tersebut juga disebut Satan (bahasa Indonesia diterjemahkan Iblis). Saat perintah manusia didalam gereja mengatakan bahwa menonton bioskop itu berdosa, maka seorang pemuda yang karena bersama teman-temannya akhirnya menonton bioskop secara sembunyi-sembunyi takut dilihat orang segerejanya dan selesainya pulang dengan hati penuh tuduhan dari Iblis membuat ia merasa bersalah dan bukannya manusia akan mendekat kepada Tuhan saat itu. Kejadian 3:10 menyebutkan, “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Manusia akan menjauhi Allah, itulah yang diketahui oleh Iblis sehingga ia selalu menuduh manusia sehingga semakin jauh dari Allah. (nasihat baca Yakobus 4:8)

Apa yang terjadi pada Hawa akan juga dilakukan kepada anak cucunya, dan setelah pelanggaran peraturan manusia yang dianggap peraturan Allah, maka Iblis akan membawa manusia tanpa sadar bukan lagi melanggar peraturan manusia tetapi hukum-hukum Allah. Seorang anak muda yang telah sangat bersalah karena menonton bioskop tadi, ternyata ia baik-baik saja, tidak ada hukuman Allah dan malah film tersebut sebenarnya bagus, menghibur dan memperluas wawasan, maka selanjutnya ia tidak cukup hanya film bioskop yang lolos sensor perfilman nasional yang ditonton, tetapi ia juga akan menonton semua film bahkan film porno yang membuat ia berdosa didalam pikiran dan perbuatannya. Kali ini baru benar-benar ia telah melanggar hukum-hukum Allah seperti Hawa.

Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. [Pengkotbah 8:11]

Didalam 1 Timotius 2:14, disebutkan perempuanlah yang digoda Iblis, karena secara umum perempuan lebih mudah tergoda bujuk rayuan dari pada pria. Secara umum juga kita tahu bahwa pria lebih banyak berfikir dengan logikanya sedangkan wanita lebih kepada perasaannya. Hukum Allah dan perintah atau peraturanNya tidak ditimbang dengan perasaan tetapi kebenaran Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak. Tentang kelemahan peremuan ini tentu bukan perbedaan gender yang dibahas oleh Allah, tetapi kejadian Hawa dan Ular menggambarkan tentang adanya wanita rohani, pribadi yang tidak dengan tegas menyatakan hukum Allah.

Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! [1 Korintus 16:13]

Jangan menjadi wanita rohani baik ia berkelamin pria maupun wanita, tetapi jadilah pria secara rohani yang berdiri teguh dalam iman sehingga dapat mematahkan panah berapi dari si Iblis (Efesus 6:16).

Adam yang berada disamping Hawa telah gagal untuk menjadi pemimpin, ia diam saja saat melihat Hawa memakan buah larangan. Karena itulah Yesus datang sebagai Adam terakhir untuk membawa kehidupan bagi umat manusia dan menjadi pemimpin didalam Gereja Tuhan, yang disebut mempelaiNya (Efesus 1:22-23, 5:31-32). Saat Adam terakhir dicobai dengan hal yang sama, yaitu tentang ancaman kematian, dalam Matius 4:2-3 dituliskan, Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Saat itu Yesus dalam keadaan yang lapar dan semua orang tahu bahwa orang dapat mati jika tidak makan. Ketakutan akan kematian dihadapkan kepada Yesus dan Iblis menawarkan ide kehidupan dengan mengubah batu menjadi roti sehingga dapat dimakan dan menyambung hidup. Berbeda dengan Hawa, saat dihadapkan kepada tipu daya Iblis, Hawa terjebak dengan kebenaran manusia sehingga ia merasa bebas dari ancaman kematian dan membuatnya berani berbuat dosa. Yesus menjawab dengan kebenaran Firman Tuhan. Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” [Matius 4:4]. Iblis tidak melanjutkan pertanyaannya, sebab tidak ada celah baginya untuk memperdaya lebih lanjut, seperti pada Hawa yang menambahkan peraturan sendiri dimana bisa mati hanya dengan merabanya.

TIPU DAYA KEDUA

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.

Tipu daya Iblis kedua adalah membuat tujuan yang terlihat baik atau bermanfaat menjadi sebuah alasan untuk melanggar hukum Allah.

Adalah sesuatu yang baik bila matamu terbuka kata Iblis. Sesuatu yang tampak bermanfaat pada tujuannya sering membuat hukum Allah dapat ditawar dan dibuat lebih fleksibel sesuai keadaan. Betapa banyak umat Allah yang terjebak tipu daya Iblis dan mulai membenarkan dosa dan menerima kesalahan sebagai sesuatu yang wajar dan manusiawi? Seperti Hawa, ia terbujuk untuk melihat bahwa buah itu menarik hatinya sebab memberi pengertian kepadanya, ada manfaat yang akan diperoleh. Ada suatu kemajuan yang diharapkan. Manusia memiliki dorongan untuk maju, tetapi Iblis selalu menawarkan cara-cara yang penuh tipu daya yang ujungnya membawa manusia kepada dosa terhadap Allah.

Baru-baru ini di kota-kota besar Indonesia ramai dengan fenomena Otak Tengah, dimana anak-anak kecil jika mempelajari otak tengah maka akan menjadi jenius dan dapat belajar dengan lebih baik dan mendapat nilai-nilai ulangan yang luar biasa. Sesuatu yang membuat banyak ibu-ibu mengirimkan anaknya untuk dilatih otak tengahnya menjadi pandai. Sepintas kelihatannya baik dan bermanfaat. Dapat “membuat mata terbuka” kata Iblis. Tetapi sesungguhnya tidak ada ilmu kedokteran yang membenarkan fungsi otak tengah selain sebagai tempat mengelolah indra dan refleks manusia. Tetapi Iblis telah menipu dan mendidik anak-anak dalam okultisme sejak masih kecil. Dalam satu malam saja didalam ruang tersendiri anak itu langsung bisa menjadi “orang pandai”. Dapat menebak isi tas, menebak isi kantong orang, dapat mewarnai gambar dengan menutup mata, dapat mengetahui apa yang tidak kasat mata. Luar biasa, “orang pandai” tidak harus sudah tua, anak kecil juga bisa disebut “orang pandai” dan banyak orang dunia bisa bertanya dimana barangnya yang hilang atau siapa yang mencuri. Lebih ironis lagi ada beberapa pendiri tempat pelatihan tersebut adalah jemaat sebuah gereja Kristen. Mereka membenarkan sebab manfaatnya lebih besar dari hukum Allah.

Jangan kita terjebak dengan tujuan yang baik itu sebagai hal yang lebih penting dari pada mendengar dan melakukan kehendak Allah. Seperti yang dicontohkan Raja Saul saat menumpas Amalek. Alkitab mencatat perintah Allah kepada Raja Saul dalam 1 Samuel 15:3 demikian, “Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Tetapi yang dilakukan Raja Saul dengan maksud baik yang bermanfaat bagi semua pihak tercatat dalam 1 Samuel 15:13-15 sebagai berikut, Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya: “Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan firman TUHAN.” Tetapi kata Samuel: “Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?” Jawab Saul: “Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.” dan apa yang bertujuan baik dan bermanfaat tersebut yang mana untuk itu perintah Allah dilanggar, membuat Saul ditolak oleh Allah dalam 1 Samuel 15-22-23. Jangan kita menjadi seperti Saul atau Hawa yang menganggap tujuan baik membenarkan kita untuk melanggar hukum Allah.

Sering kali manusia terlena dengan tujuan-tujuannya, terlena dengan visi atau mimpi yang dimiliki dan menganggapnya semua itu untuk hal yang lebih baik. Setiap orang dalam bertindak memiliki tujuan-tujuan, kita datang beribadah juga memiliki tujuan-tujuan. Tetapi semua tujuan baik dan mulia yang kita pikirkan dan rencanakan harus takluk kepada hukum-hukum Allah. Jangan malah kita dibutakan oleh Iblis dengan tipu daya ia hendak membukakan mata kita. Kita harus menaklukan segala sesuatu kepada Firman Tuhan.

Tetapi segala orang yang milik Kristus Yesus itu sudah menyalibkan hawa nafsunya dengan segala cita-cita dan keinginannya. [Galatia 5:24, TL]

Godaan yang sama diterima Adam terakhir tertulis dalam Matius 4:8-9, Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Bagus bukan jika seluruh kerajaan dunia telah menjadi miliknya bukankah lebih mudah untuk mengabarkan Kabar Baik? Semua akan mendengarkan dan akan taat kepada penguasanya? Berapa banyak orang Kristen jatuh saat Iblis menawarkan kekayaan dunia dengan cara-cara yang melawan hukum Allah dengan alasan bertujuan rohani. Seperti nanti aku akan merenovasi gedung gereja, akan aku bangunkan tempat camp, aku akan sumbangkan buat gereja sebagian dan banyak lainnya yang terlihat seperti tujuan yang mulia dan layak untuk sedikit melenceng dari kebenaran, keadilan dan kesetiaan.

Jika Hawa merasa lagi pula (bertujuan) buah itu memberi pengertian, tentu menarik hati untuk dicoba hal yang baik ini sehingga Hawa jatuh dalam dosa karena ia membenarkan tujuan baik lebih dari mentaati perintah Allah, maka Adam terakhir menjawab Iblis, Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” [Matius 4:10]. Seharusnya Hawa juga menjawab hal yang sama, “Enyalah Ular, sebab Allah telah melarang kita untuk memakan buah pengetahun baik dan jahat dan engkaupun harus mentaatinya”.

TIPU DAYA KETIGA

…dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya,. ..”

Iblis tidak mengatakan Hawa akan menjadi Allah tetapi akan menjadi seperti Allah saat memakan buah tersebut. Hawa tahu bahwa ia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27). Seperti halnya kita ingin menjadi serupa dengan Kristus, karena kita adalah bagian dari Kristus demikian juga dengan Hawa juga ingin menjadi serupa dengan Allah, sebagai anak-anakNya serupa dengan Bapanya. Karena itulah maka Hawa memandang buah itu baik untuk dimakan.

Tipu daya ketiga Iblis adalah menjadikan kerinduan rohani sebagai dorongan untuk melangkah. Kerinduan akan perkara rohani harus dibatasi oleh kebenaran Firman Tuhan, tetapi Iblis membuat batas-batas Firman Tuhan itu dilampaui untuk mencapai cita-cita rohani.

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. [Roma 12:3]

Berapa banyak orang Kristen yang memiliki kerinduan untuk menjadi seperti pendeta-pendeta besar, misalkan seperti Reinhard Bonke, Benny Hinn, Morris Cerullo dan lain-lainnya. Memiliki kuasa mengadakan mujizat, memiliki kuasa untuk membuat tanda-tanda ajaib, menjadi sangat beribawa dan lain sebagainya. Ada juga yang mengidolakan tokoh di gerejanya, ingin seperti si A, si B atau tokoh-tokoh nasional dan bertindak, berlagak dan melakukan hal-hal yang serupa dengan diri mereka. Hal itu dapat menyesatkan dan Iblis memiliki banyak kesempatan untuk membawa kita jatuh dalam dosa.

Mungkin dalam lingkup kecil, kerinduan rohani muncul dari kesaksian orang-orang, seperti misalkan seorang yang diberkati mobil mewah baru setelah ia menyumbangkan mobil bututnya ke gereja, atau seorang mendapat uang ratusan juta setelah ia memberikan persembahan kegereja, semua itu dapat membangkitkan kerinduan rohani yang salah. Keinginan yang salah yang dapat melahirkan dosa.

Kelihatannya memang baik untuk menjadi seperti idola kita, menjadi indah secara rohani dan dihormati banyak orang, tetapi ingat ini adalah tipu daya Iblis yang membuat Hawa jatuh dalam dosa.

Adam terakhir juga dicobai dengan pencobaan yang sama seperti yang tertulis didalam Matius 4:5-6, Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (lihat catatan berjudul “Godaan Bait Allah”).

Diatas Bait Allah di Kota Suci, tempat dimana dibawahnya berkerumun orang-orang Yahudi dari segala penjuru dunia, ahli Taurat dan orang Farisi serta Saduki berkumpul. Jika Adam terakhir menjatuhkan diri dari atasnya, semua dibawah tentu melihat bagaimana Allah mengutus malaikatNya untuk menatang sampai dibawah dengan selamat. Tentu akan dihormati dan dipuji oleh semua orang sebagai seorang yang rohani dan dicintai Allah. Siapa yang tidak suka dianggap seperti itu? Tetapi Adam terakhir menjawab godaan Iblis, Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” [Matius 4:7]

Jangan kita mencobai Allah! Berapa banyak orang yang mencobai Allah, mencoba datang ketempat pelacuran dan menganggap kuat imannya, mencobai Allah dengan menentang badai, mencobai Allah dengan kekayaan dan harga benda untuk memancing kekayaan yang lebih besar turun. Mencobai Allah dengan menuntut kenikmatan daging. Mencobai Allah dengan tetap tinggal didalam dosa.

Di sungai Kapuas, Kalimantan, beberapa tahun lalu ada sekelompok pemuda dari Jawa yang mati hanyut tenggelam didalamnya. Mereka adalah orang-orang Kristen yang melayani orang-orang pedalaman Kalimantan, tetapi mereka mencobai Allah dengan berjalan diatas sungai Kapuas seperti Tuhan Yesus berjalan diatas danau Galilea. Kerinduan rohani yang kelihatannya indah, tetapi tidak sesuai dengan perintah Allah. Kuasa Allah tidak dinyatakan sesuai dengan kemauan kita. Roh Kudus bukan bekerja dan menyatakan karuniaNya sesuai dengan perintah dan kehendak kita tetapi semua terjadi atas kehendak Allah bukan kita (Ibrani 2:4).

Jawaban Adam terakhir membuat Iblis kehilangan kesempatan untuk melanjutkan tipu dayanya, berbeda dengan Hawa yang saat digoda untuk menjadi seperti Allah dengan melanggar hukumNya tidak menganggapnya itu mencobai Allah tetapi malah menganggapnya hal itu baik sehingga Iblis memiliki kesempatan untuk melanjutkan tipu dayanya sehingga Hawa jatuh dalam dosa dan membawa Adam juga berdosa. Berhati-hatilah dengan kerinduan rohani kita, cocokan segalanya dengan hukum-hukum Allah, sebab kita semua memiliki rencana yang indah masing-masing sesuai dengan bagian kita didalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:18). Setiap kita telah disiapkan Allah pelayanan yang indah-indah dan Tuhan ingin kita ambil bagian dalam bagian kita masing-masing (Efesus 2:10).

dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. [Markus 10:44]

KEGAGALAN ADAM PERTAMA DAN KEMENANGAN ADAM TERAKHIR

Adam telah gagal menjadi pemimpin, walaupun ia berada disamping Hawa, ia tidak melarang Hawa saat berbuat dosa bahkan ikut ambil bagian dalam dosa Hawa. Kejatuhan ini terjadi karena Adam membiarkan perempuan untuk memimpin yang mengakibatkan kehancuran dan kematian datang kedunia.

Adapun umat-Ku, penguasa mereka ialah anak-anak, dan perempuan-perempuan memerintah atasnya. Hai umat-Ku, pemimpin-pemimpinmu adalah penyesat, dan jalan yang kamu tempuh mereka kacaukan! [Yesaya 3:12]

Secara hurufiah, memang terjadi bahwa didalam organisasi gereja, wanita tidak diperkenan menjadi pemimpin, bahkan diajarkan 1 Korintus 14:34-35 atau 1 Timotius 2:11-12. Secara rohani maka hal ini menggambarkan Gereja Tuhan, harus tunduk kepada Kristus, tunduk kepada ajaran murni dari Firman Tuhan, bukan mendirikan peraturan gereja lebih dari apa yang diajarakan oleh Firman Tuhan. Saat peraturan gereja semakin banyak, peraturan diakonia, peraturan ibadah, peraturan organisasi dan sebagainya menjadi panduan pelayanan dan menaruh Alkitab sebagai pelengkap saja, maka saat itulah Gereja Tuhan akan tersesat dan jalan mereka kacau.

Adam terakhir menyatakan dirinya sebagai pemimpin dan ia menanggung kesalahan gereja sebagai mempelaiNya. Bukan seperti Adam pertama yang melempar dan menyalahkan perempuan yang Allah tempatkan disisinya, sebagai kambing hitam. Sekali tepuk dua lalat, sekali berucap didalam Kejadian 3:12, Adam menyalahkan Hawa dan sekaligus Allah yang telah menjadikan Hawa.

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya [Efesus 5:25]

Kegegalan Adam kedua adalah tidak tegas dengan kebenaran Firman Tuhan. Saat itu Allah hanya menurunkan satu saja hukum Allah, yaitu jangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk, tetapi Adam gagal menjaga Firman Tuhan tetap terpelihara dan membiarkan hukum Allah bercabang dan tidak jelas arah tujuannya.

Ketidak jelasan kebenaran Firman Tuhan, dapat membuat kejatuhan manusia. Hosea 4:6, mengatakan, Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu

Adam bukan saja membiarkan Hawa menambahkan larangan dengan merabanya, tetapi juga mengabaikan hukum Allah dengan melakukan apa yang dilarang oleh FirmanNya.

Tetapi Adam terakhir datang untuk menyatakan kebenaran Firman Tuhan, untuk menjaga hukum-hukum Allah terpelihara didalam hati setiap anak-anak Allah. Setiap godaan Iblis yang dilontarkan selalu dijawab “Ada tertulis…” sehingga Iblispun harus mundur dari tipu dayanya.

Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. [Yohanes 14:29]

Gereja harus tetap menjaga dan memelihara hukum-hukum Allah dan menyampaikan kebenaran Allah tanpa ditambah atau dikurangi. Sehingga Iblis tidak memiliki kesempatan untuk memperdaya kita.

PENUTUP

Demikian kita telah mempelajari kejatuhan Hawa dan bagaimana Adam terahir dapat tetap tinggal didalam kebenaran walau telah dicobai dengan pencobaan yang sama. Jangan biarkan Iblis memiliki kesempatan dalam hidup kita. Jadilah seperti Kristus yang telah memberikan teladan dalam menghadapi tipu daya ular tua.

dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis [Efesus 4:27]

Kita harus ingat bahwa kemengan Yesus di kayu salib atas dosa dan maut telah meremukan kepala ular tua (Kejadian 3:15), kuasa maut dan alam maut telah ditaklukan (1 Korintus 15:56-57) dan pemerintahan ular tua telah dilucuti dan menjadi tontonan (Kolose 2:15) seperti yang di tulis dalam kitab nubuat Yehezkhiel dan Yesaya tentang si Ular Tua. Karena itulah dalam menghadapi tipu daya Iblis kita jangan takut, gunakan perisai iman dan ambil kemenangan Kristus yang sudah disediakan bagi kita. Karena itulah Paulus katakan kita lebih dari pemenang (Roma 8:37).

Advertisements
h1

Maaf, Saya Khilaf

1 September 2010

khilaf [KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA]
khi·laf a keliru; salah (yg tidak disengaja);
ke·khi·laf·an n kekeliruan; kesalahan yg tidak disengaja: ~ dapat saja terjadi dl pergaulan sehari-hari

khilaf [KAMUS SEASITE]
khilaf : salah; tidak benar; keliru.
Definisi Inggris : error, mistake.
Contoh : Maaf, saya telah membuat KEKHILAFAN yang besar. => Sorry, I have made a big MISTAKE.

Didalam bahasa Ibrani, kata khilaf adalah “sh@gagah” (baca: sheg-aw-gaw’). Alkitab bahasa Indonesia menterjemahkan kata tersebut sebagai khilaf, tidak disengaja, tidak sengaja, tidak deketahui dan sesat.

Kata khilaf sering kita dengar disekitar kita. Kata khilaf merupakan kata sakti untuk berkelit dari kesalahan di negri kita. Sering kali pesakitan mengaku khilaf saat berbuat jahat. Sering kali kita mengatakan khilaf saat kita menyakiti orang lain atau berbuat yang kurang baik kepada saudara seiman ataupun kepada orang-orang disekitar kita. Masyarakat menerima kata khilaf sebagai sesuatu yang wajar untuk berbuat salah. Orang-orang tua mengatakan “sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga”. Masyarakat jawa timur biasa menyebut “namanya juga orang, pasti ada luputnya”. Khilaf tersebut diterima sebagai kesalahan yang wajar.

Memang kesalahan yang disengaja dengan kesalahan yang tidak disengaja berbeda kadarnya. Kesalahan yang disengaja tentu lebih berat kesalahannya dari pada kesalahan yang tidak disengaja atau kita sebut khilaf (berasal dari bahasa Arab yang diserap menjadi bahasa Indonesia).

“Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Lukas 12:47-48

Tetapi walaupun kadarnya lebih sedikit dari yang sengaja, tetapi tetap saja hal itu adalah salah. Kedua-duanya tetap saja menerima pukulan dalam ayat diatas. Khilaf didalam iman kristiani bukan sebuah pernyataan untuk berkelit dari kesalahan, sebab seorang yang khilaf yang membawa dosa atau khilaf berbuat dosa tetap bersalah dan Allah tidak menyukainya.

Lagi pula, bukankah Tuhan menguji setiap hati (Yeremia 11:20), menyelidiki manusia sampai kedalam batinnya dan mengadili bukan dari apa yang tampak dimata, tetapi sampai dalam hati (I Korintus 4:5). Didepan manusia kita dapat berkata khilaf, tetapi sesungguhnya Tuhan tahu apakah benar kita tidak menyadari atau kita melakukan kesalahan dengan kesadaran. Takutlah akan Tuhan!

Seorang yang dengan sengaja berbuat jahat atau dosa dan mengaku khilaf, ia telah menambah kesalahan atau dosanya dengan berdusta (Immamat 19:11).

Khilaf berbeda dengan kalap. Kalap menurut KBBI artinya lupa diri. Juga Khilaf berbeda dengan lupa. Walau kalap dan lupa menyerupai, tetapi kata khilaf mengandung unsur tidak disengaja atau keliru yang berhubungan dengan kesalahan.

Seperti apakah kesalahan yang disebut kh ilaf?

Tahu larangan tetapi khilaf melanggarnya

Jika kita tahu sebuah larangan didalam Firman Tuhan, misalkan tentang berbohong atau dusta. Pada saat kesibukan sehari-hari saat kita berbincang-bincang, kita terlalu asik sehingga terlarut dan waktu ditanya tentang hal yang pribadi atau rahasia, dengan cepat dijawab dengan bohong atau dusta tanpa disadari karena keasikan berbicara. Itu adalah khilaf perbuatan dosa.

2 Samuel 12:4-9 mencatat tentang khilafnya Raja Daud dengan Batsyeba (2 Samuel 11:2-3) bahkan hendak menipu Uria, suami Batsyeba dan gagal dilanjutkan dengan rencana membunuhnya. Raja Daud tidak sadar sampai Nabi Natan menyadarkan dan membuat Raja Daud terkejut dari kesalahannya (2 Samuel 12:13,16-20).

Khilaf seperti ini adalah khilaf yang paling sering dilakukan oleh umat Tuhan, dimana mereka tidak sadar karena terlena sehingga berbuat dosa padahal tahu larangannya.

Tahu perintah tetapi khilaf tidak melakukan

Selain larangan didalam Firman Tuhan juga ada perintah. Larangan dan perintah adalah dua hal yang sama-sama harus kita taati. Kebanyakan orang Kristen hanya mengutamakan larangan dan menganggap perintah sebagai pilihan, boleh dilakukan boleh tidak.

Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku, jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan. Mazmur 89:32-33

Ketetapan-Ku memiliki pengertian hukum atau batasan-batasan yang tertulis jelas. Sesuatu yang tidak boleh dilanggar, biasanya berupa larangan. Sedangkan perintah-Ku memiliki pengertian ketaatan kepada perintah, tunduk untuk melakukan apa yang diperintahkan. Keduanya harus ditaati.

1 Korintus 9:16, menulis “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Paulus tahu perintah memberitakan injil itu sebuah keharusan bukan option (pilihan) seperti halnya larangan berdusta atau berzinah.

Memang kadang perintah terlihat sederhana. Seperti halnya Petrus dalam Lukas 22:31-34, Yesus telah memperingati Petrus bahwa ia akan jatuh dalam dosa. Matius 26:41-43, mencatat setelah itu Yesus mengajak mereka berdoa, menasihati Petrus agar berjaga-jaga dan berdoa agar tidak jatuh saat ditampi iblis, tetapi Petrus tertidur, dan sudah dibangunkan masih juga tertidur lagi. Matius 26:75 menulis tentang kejatuhan Petrus karena khilaf tidak mentaati perintah Yesus.

Sering kali kita seperti Petrus, saat Tuhan mengingatkan kita untuk berbuat sesuatu atau untuk melakukan sesuatu, perintah tersebut kita lalui begitu saja yang dapat berujung kepada perbuatan dosa.

Tidak tahu larangan, khilaf berbuat yang dilarang

Kadang kita tidak mendengarkan atau mengacuhkan perintah Tuhan atau hukum-hukumNya sehingga kita tidak mengetahui bahwa kita telah melakukan kesalahan yang tidak kita sadari. Banyak orang kristen berbuat dosa karena ia tidak sadar atau tahu bahwa ada perintah atau larangan tentang hal tersebut. Misalkan seperti Uza yang mati saat memengang tabut yang hampir jatuh.

Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Kidon, maka Uza mengulurkan tangannya memegang tabut itu, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Ia membunuh dia oleh karena Uza telah mengulurkan tangannya kepada tabut itu; ia mati di sana di hadapan Allah. 1 Tawarikh 13:9-10

Uza melakukan kekhilafan dengan memengang tabut Tuhan yang kudus. Bilangan 4:15, menuliskan larangan untuk memengang barang yang kudus tersebut, tetapi Uza yang tidak tahu larangan telah khilaf melanggarnya dan itu tetap adalah kesalahan.

Hukum dan peraturan Allah berlaku bukan hanya untuk orang yang mendengar dan mengerti saja, tetapi berlaku untuk seluruh alam semesta, kepada semua orang baik orang baik atau jahat, orang beriman atau orang yang hidup dalam daging, hukum Tuhan tetap berlaku tanpa memandang apakah kita telah mengerti atau tidak. Hanya perintah-perintah Tuhanlah yang bertumbuh mengikuti perjalanan atau lebih tepat perlombaan iman kita. Meningkat dari kemulyaan kepada kemulyaan, tetapi ketetapanNya ada sejak Allah menciptakan segala sesuatu sampai kepada akhirnya.

Karena itulah kita tidak akan menerima perintah yang melebihi kemampuan kita. Semua perintah yang kita dengar, adalah perintah yang dapat kita lakukan bersama dengan Tuhan, dengan kekuatan dari Roh Kudus. Karena itu taatilah Firman Tuhan dan lakukanlah kewajiban iman kita.

Didalam Alkitab, khilaf dapat terjadi dalam dua kelompok.

Khilaf yang dilakukan sendiri

Apabila satu orang saja berbuat dosa dengan tidak sengaja, maka haruslah ia mempersembahkan kambing betina berumur setahun sebagai korban penghapus dosa; dan imam haruslah mengadakan pendamaian di hadapan TUHAN bagi orang yang dengan tidak sengaja berbuat dosa itu, sehingga orang itu beroleh pengampunan karena telah diadakan pendamaian baginya. Bilangan 15:27-28

Dilakukan oleh perorangan, merupakan kekhilafan pribadi. Didalam hukum Taurat, perbuatan khilaf tetap saja merupakan dosa dan harus ditebus sesuai dengan peraturan hukum Taurat. Hukuman berlaku bagi orang yang bersangkutan.

Khilaf yang dilakukan umat (jemaat)

“Apabila kamu dengan tidak sengaja melalaikan salah satu dari segala perintah ini, yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa, yakni dari segala yang diperintahkan TUHAN kepadamu dengan perantaraan Musa, mulai dari hari TUHAN memberikan perintah-perintah-Nya dan seterusnya turun-temurun, dan apabila hal itu diperbuat di luar pengetahuan umat ini, tidak dengan sengaja, maka haruslah segenap umat mengolah seekor lembu jantan muda sebagai korban bakaran menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN, serta dengan korban sajiannya dan korban curahannya, sesuai dengan peraturan; juga seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa. Maka haruslah imam mengadakan pendamaian bagi segenap umat Israel, sehingga mereka beroleh pengampunan, sebab hal itu terjadi tidak dengan sengaja, dan karena mereka telah membawa persembahan-persembahan mereka sebagai korban api-apian bagi TUHAN, juga korban penghapus dosa mereka di hadapan TUHAN, karena hal yang tidak disengaja itu. Segenap umat Israel akan beroleh pengampunan, juga orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, karena hal itu dilakukan oleh seluruh bangsa itu dengan tidak sengaja. Bilangan 15:22-26

Dilakukan oleh umat atau orang banyak dalam sebuah komunitas. Kesalahan ini merupakan kekhilafan jemaat dihadapan Tuhan dan juga sesama. Hukuman berlaku bagi seluruh umat.

Bagaimanakah seseorang bisa khilaf?

Tidak mengerti Firman Tuhan

Yesus menjawab mereka: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!” Matius 22:29

Sering kali orang khilaf sebab ia tidak paham Firman Allah dan menganggap enteng kebenaran Firman Tuhan sehingga setiap kali ia berbuat dosa tanpa disengaja, sebab tidak ada lagi hukum Allah yang mengatur hidupnya, menjadi penuntun atau sesuatu yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan dalam bertindak. Kata “sh@gagah” (baca: sheg-aw-gaw’) dalam bahasa Ibrani juga memiliki arti sesat. Pengertian Firman Tuhan yang dangkal dapat membawa kita kepada hal-hal yang sesat atau kesalahan yang dijalani dari hari ke hari tanpa kita sadari itu adalah kejahatan dihadapan Tuhan.

Tidak tahu Firman Tuhan sehingga khilaf melanggarnya, atau tahu Firman Tuhan tetapi karena tidak paham sehingga mereka tersesat saat mengerapkan atau menaggapinya, hal ini juga menjadi khilaf dalam hidupnya akan Firman Tuhan.

Hidup dalam hawa nafsu atau mabuk anggur

Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Lukas 8:14

Kenikmatan hidup dan mengejar kekayaan sering kali membuat orang beriman terlena dan didalam mabuk anggurnya, ia lebih sering berbuat khilaf dan melanggar hukum Allah, mengabaikan perintah Tuhan. Diseluruh dunia, sejarah mencatat kekristenan hancur bukan kerena tekanan, kekerasan atau kesusahan, tetapi karena kemakmuran dan kenikmatan hidup. Gereja di Eropa menjadi sepi saat semua orang menikmati hari-hari liburnya, termasuk hari minggu. Kesibukan mencari uang atau lebih tepat mengejar kekayaan di berbagai belahan dunia telah membuat mereka jauh dari iman. Sebaliknya saat gereja digencet, saat umat Tuhan diancam, dianiaya dan dikucilkan, saat itu malah banyak orang bertumbuh dalam iman, banyak mujizat terjadi, banyak orang dipuaskan oleh apa yang dari hadirat Allah, bukan anggur yang dari dunia ini.

Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik. Lukas 5:39

Terlena dengan semua kenikmatan duniawi, membuat seorang menjadi khilaf dan melakukan banyak dosa dan kesalahan dihadapan Tuhan. Karena itu jangan mabuk anggur kata Firman Tuhan (Efesus 5:18).

Hidup terlena dalam hawa nafsu atau kenikmatan hidup dan mengejar kekayaan akan membuat kita khilaf berbuat dosa yang seharusnya kita tahu laranganNya atau perintahNya.

Keras hati

Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi. Pengkotbah 4:13

Orang yang tidak mau diberi peringatan dan nasihat lagi, adalah orang-orang yang memiliki peluang untuk berbuat khilaf lebih banyak. Kesalahan yang tidak mau diperbaiki tentu akan diulang terus menerus.

Tanpa Kasih

“Seperti orang gila menembakkan panah api, panah dan maut, demikianlah orang yang memperdaya sesamanya dan berkata: “Aku hanya bersenda gurau.” Amsal 26:18-19

Tanpa kasih ilhai manusia sering menyakiti sesamanya, sering berbuat jahat tanpa ia sadari. Saat kejengkelan dan kebencian merasuk dan dibiarkan berlarut tahu-tahu ia telah merencanakan kejahatan dan tahu-tahu ia telah berbuat jahat tanpa ia sadari ia telah jatuh dalam dosa.

Bagaimanakah seorang bisa terhindar dari khilaf?

Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. Mazmur 19:13

Raja Daud tahu bahwa selama masih hidup manusia memiliki banyak kelemahan dan karena itu walau ia telah berhati-hati dalam hidupnya sekali pernah kita khilaf melakukan apa yang tidak kita sadari. Didalam Mazmur 19:13, kata kesesatan menggunakan kata “sh@gagah” (baca: sheg-aw-gaw’) yang berarti khilaf. Sedangkan kata tidak kusadari berasal dari kata “cathar” (baca: saw-thar’) yang artinya tersembunyi, rahasia atau tertutup. Secara bebas dapat dibaca ,”Siapakah yang dapat mengetahui kekhilafan? Bebaskanlah dari apa yang tersembunyi bagiku”. Jika kita baca ayat 11 dan 12 diatasnya maka kita dapat tahu bahwa Daud selalu mendapat peringatan saat berbuat salah dari rasa takut akan Tuhan dan dari pengertian Taurat Tuhan, agar ia selalu hidup dalam kebenaran. Tetapi khilaf? siapa yang tahu kalau ia khilaf, sebelum ia diberitahu atau diperingati. Selama itu kekhilafan kita tersembunyi dihadapan kita.

Bagaimana kita bisa terhindar dari khilaf? Kita belajar dari kitab Mazmur, bahwa takut akan Tuhan dan pengertian Firman Tuhan dapat membantu kita lepas dari kekhilafan yang tersembunyi bagi mata kita.

Takut akan Tuhan

Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Mazmur 25:15

Orang yang takut akan Tuhan, langkah hidupnya akan berhati-hati sesuai Firman Tuhan, apa yang harus dilakukan dan yang akan dilakukan Tuhan akan menunjukan sehingga kita terhindar dari kekhilafan. Firman Tuhan akan berbicara dalam hidupnya, disetiap langkahnya dan ia terhindar dari kejahatan. Amsal 1:7 mengatakan bahwa rasa takut akan Tuhan merupakan permulaan kita memahami pengertian Firman Tuhan, yang akan mengawali jalan hidup kita.

Rasa takut kepada Tuhan di akhir jaman ini telah semakin menipis, orang tidak lagi peduli terhadap Tuhan apalagi takut. Sehingga mereka berbuat seenaknya tanpa memandang kepada Tuhan lagi. Banyak orang berbuat jahat, tidak lagi merasa takut kepada Tuhan (Amsal 8:13, Amsal 16:6), mereka lebih takut kepada polisi dan manusia. Firman Tuhan katakan takut kepada manusia mendatangkan jerat (Amsal 29:25). Sebab pengadilan manusia tidak seperti pengadilan Allah, manusia mengadili dari apa yang dilihat mata dan berdasarkan bukti yang dapat dikumpulkan, sedangkan pengadilan Allah, melihat sampai hati dan mengadili sampai kepada batin kita.

Mengerti Firman Tuhan

Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Mazmur 19:8

Orang-orang tua, yang telah banyak makan garam (berpengalaman), lebih matang dan tenang dalam berfikir dan bertindak, sering kali kita katakan mereka jarang berbuat khilaf, tetapi orang-orang muda yang kurang berpengalaman dan kurang matang dalam menimbang sering kali berbuat khilaf dalam hidupnya. Hal ini diterima umum sebagai kebenaran yang terjadi diseluruh dunia.

Tetapi kita tidak harus menunggu telah berpengalaman pahit untuk belajar tidak berbuat khilaf, sebab setiap dosa yang kita lakukan akan merusak hal-hal yang baik. Pengkhotbah 9:18, “Baiklah hikmat dari pada segala alat peperangan, tetapi seorang orang berdosa itu dapat membinasakan banyak perkara yang baik.” (Terjemahan Lama)

Mazmur ngajarkan kepada kita bahwa mengerti Firman Tuhan membuat kita lebih dari orang yang berpengalaman dalam menimbang langkah-langkah hidup kita. Membuat kita berhati-hati dalam bertindak sesuai dengan apa yang tertulis didalamnya (Yesaya 1:8). Mengerti Firman Tuhan membuat kita tidak lagi berbuat khilaf, walaupun ia seorang yang sangat muda seperti Raja Yosia.

2 Tawarikh 34:15-21, menceritakan raja Yosia yang naik takhta saat berusia 8 tahun, dan saat remaja ia dan segenap umat Israel telah lama berbuat khilaf dengan melanggar hukum Allah, saat ia mengengerti kebenaran Firman Tuhan, raja Yosia disadarkan dan ia berhenti dari khilafnya.

Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh. Mazmur 119:130

Hidup dalam Roh dan dipimpin Roh Kudus.

Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging-karena keduanya bertentangan-sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Galatia 5:16-17

Khilaf adalah perbuatan yang tidak kita sadari, terjadi seakan dengan sendirinya. Tentu hal ini adalah karena kita berjalan didalam daging. Karena itu Firman Tuhan mengingatkan kita, hiduplah dalam Roh agar kita tidak berbuat khilaf lagi.

Hidup didalam Roh sederhananya adalah hidup mentaati Firman Tuhan. Mendengar itu baik, tetapi lebih penting dari sekedar mendengar adalah mentaati. Hidup didalam Roh adalah hidup didalam pimpinan Roh Kudus, melakukan apa yang diingatkan Roh Allah kepada kita (Yohanes 14:26), melakukan apa yang disampaikan Roh Allah lewat hati dan pikiran kita untuk kita berjalan sesuai Firman Tuhan (Yohanes 16:13).

Hidup dalam Roh itu dijelaskan dalam Roma 8:5, sebagai berikut. “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” Jika kita hidup dalam Roh, maka kita memikirkan hal-hal yang dari Roh Allah. Memikirkan perkara diatas, memikirkan membangun jemaat, memikirkan pekerjaan Allah, memikirkan pengajaran, iman, pengharapan, kebenaran, keadilan, kasih dan kesetiaan. Semua yang indah didalam Roh yang diberikan kepada kita. Jika kita menurut pimpinanNya, maka kita akan terhindar dari kekhilafan. Sebab khilaf itu berasal dari daging ini, dan oleh karena perbuatan mentaati Roh maka kita mematikan perbuatan kedagingan (Roma 8:13).

Jangan keraskan hati

Tetapi mereka tidak mau menghiraukan, dilintangkannya bahunya untuk melawan dan ditulikannya telinganya supaya jangan mendengar. Mereka membuat hati mereka keras seperti batu amril, supaya jangan mendengar pengajaran dan firman yang disampaikan TUHAN semesta alam melalui roh-Nya dengan perantaraan para nabi yang dahulu. Oleh sebab itu datang murka yang hebat dari pada TUHAN. Zakaria 7:11-12

Peringatan dari Tuhan itu penting, kadang datang lewat teman, saudara, orang tua, guru, pembimbing rohani, pendeta atau gembala sidang. Jika kita menutup telinga, menolak dan tidak mau mendengar, dibilang cerewet atau sudah tahu dan sebagainya maka kita adalah orang yang mudah khilaf. Jangan keraskan hati sebelum ditegur atau diperingati atau kita lebih memilih binasa (Amsal 29:1).

Nasihat dan teguran, peringatan dari Tuhan merupakan penuntun kita agar kita tidak berbuat khilaf. Dengarkanlah dan jangan keraskan hati! Seperti yang terjadi pada raja Uzia, dalam 2 Tawarikh 26:17-20. ia diperingati tetapi tidak mau mendengar dan mengeraskan hatinya sehingga ia celaka sampai matinya sebagai orang terbuang (penderita kusta).

Seberapa sering kita dinasihati tidak bisa dan merasa tahu tidak mau dengar. Seberapa sering kita ditegur tetapi malah mengatai dan menganggap ia tidak lebih suci dari kita. Seberapa sering peringatan yang kita dengar kita lalui dan menganggap itu buat si anu dan si itu bukan buat saya. Semua itu membuat kita menjadi khilaf dan berdosa didalam kebodohan dan kekerasan hati kita. Ingat upah dosa itu adalah maut (Roma 6:23), celaka dan pahit, termasuk juga dosa karena khilaf.

Hidup dalam kasih Kristus

“dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”. Filipi 2:3-4

Karena kasih, maka kita mengutamakan dan menganggap orang lain lebih penting dari kita, memperhatikan kebutuhannya, memperhatikan keinginannya, memiliki rasa empati dan peduli terhadap mereka yang ada disekitar kita. Dengan demikian maka kita akan terhindar dari khilaf yang menyakiti hati mereka, khilaf dalam berbuat jahat terhadap mereka dengan dalih sendagurau atau bercanda.

Dengan belajar mengasihi orang disekitar kita, kita belajar untuk tidak berbuat khilaf terhadap sesama kita. Kita belajar mentaati Firman Tuhan. Markus 12:30-31, menuliskan bahwa dua hukum yang ada dalam Kitab Taurat adalah kasih terhadap Allah dan terhadap manusia.

Jemaat yang khilaf

Jemaat yang khilaf dapat terjadi karena berbagai macam sebab. Ada tiga hal yang disebutkan disini yaitu:

1. Pengajaran yang salah

Pengajaran yang diterima salah akan membuat seluruh umat berbuat salah. Seperti contohnya ajaran Mormon, ajaran Childern of God, ajaran Gnostic, ajaran Saksi Yehovah dan banyak lagi lainnya. Mereka mengikuti ajarannya dan berbuat salah tanpa mereka sadari.

2. P erapan ajaran yang fanatisme

Pengajarannya mungkin benar, tetapi dalam menerapkannya umat melakukan dengan fanatik sehingga terjadi banyak kekhilafan. Misalkan tentang ajaran hidup kudus, karena penekanan berlebihan sehingga membuat umat merasa tertekan untuk tampil kudus dan melahirkan jemaat yang munafik satu dengan yang lainnya. Mereka melakukan hal itu tanpa mereka sadari, sebagai bentuk khilaf jemaat.

3. Tidak ada pemimpin

Memang setiap geraja ada pemimpin, setiap kelompok ada ketuanya, tetapi tidak semua pemimpin adalah pemimpin dan tidak semua ketua adalah pemimpin. Pemimpin yang tidak bertanggung jawab dan yang tidak menjadi teladan membuat umat menjadi tidak memiliki arahan dan tujaun, mereka berbuat sekehendak hatinya masing-masing orang dengan pendirian dan kebenarannya sendiri. Hal inilah yang membuat seluruh jemaat berbuat khilaf dengan mengabaikan dan mengutamakan satu atau dua bagian saja dari kebenaran Firman Tuhan.

Bagaimana mereka dapat terhindar dari semua kekifahan jemaat ini adalah tugas dari para pemimpin yang membawa visi dan misi Tuhan dalam hidup dan dalam komunitas atau umat yang digembalakannya. Pemimpin disini bukan hanya gembala sidang, tetapi juga para penatua, guru, nabi, rasul dan para penginjil yang melengkapi gereja Tuhan.

Kristus datang sebagai Anak Domba Allah menghapus semua dosa karena khilaf.

Bilangan 15:22-28, menuliskan tentang hukum orang yang berbuat dosa karena khilaf. Didalamnya diatur pengampunan lewat korban penghapusan dosa. Sama seperti dosa yang dilakukan dengan sadar, khilaf juga telah genap ditebus oleh Kristus di kayu salib sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa manusia yang beriman kepadaNya.

Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita. Ibrani 10:10-15

Seluruh bentuk korban penghapusan dosa dan salah semua telah digenapkan didalam Kristus sebagai korban sejati yang menjadi penggenapan korban kiasan yang dilakukan bangsa Israel ribuan tahun lamanya. Hari ini kita dapat menghadap Allah tanpa merasa bersalah, setelah mengadakan pemberesan dan meninggalkan kesalahan yang tidak kita sadari tersebut setelah semua dinyatakan kepada kita.

Bagaimana dengan khilaf yang belum kita sadari atau masih tersembunyi atau tetutup dimata kita? Selama kita hidup didalam Roh, tinggal melekat pada pokok anggur yang benar yaitu Kristus, maka semua kesalahan kita baik yang disadari atau tidak disadari, semua telah ditebus didalam Kristus. Yesus melihat hati kita, bukan melihat perbuatan masa lalu kita, karena itu bangkit dan menjadi teranglah sebab kita adalah orang-orang yang menerima pengkudusan dari Allah. Bangkitlah!

Amin.

h1

MENUNGGU TUHAN

1 September 2010

Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! [Mazmur 27:13-14]

Kita semua memiliki keyakinan yang sama bahwa kita akan mengalami kebaikan demi kebaikan dari TUHAN dalam hidup kita, didalam beban berat dan masalah, kita memiliki iman dan keyakinan bahwa kita akan melihat kebaikan TUHAN dalam setiap masalah kita.

Keyakinan seperti itu bukan tanpa dasar sebab TUHAN berjanji menyatakan kasih setiaNya kepada umat yang mengasihiNya seperti yang ditulis dalam Ulangan 7:9 dan diperjelas oleh Paulus dalam Roma 8:28. Kita melihat Yusuf yang mengalami celaka dan masalah, pada akhirnya melihat kebaikan TUHAN atas hidup Yusuf dan seluruh keluarganya seperti yang ditulis dalam Kejadian 50:20. Janji dan pengharapan yang sama juga kita terima, sehingga kita semua percaya akan melihat kebaikan TUHAN disetiap langkah hidup kita, walau didepan mata adalah persoalan.

Tetapi kita juga harus ingat, Mazmur 27:13, juga menulis tentang negeri orang-orang yang hidup. Kata “orang-orang hidup” mengingatkan kita kepada kata-kata Yesus kepada orang Saduki didalam Lukas 20:38, “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Dihadapan TUHAN hanyalah orang-orang yang hidup, bukan orang yang mati. Kata ini dalam pengertian rohani tentang orang-orang yang diselamatkan didalam Kristus. Yohanes 11:25, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” Semua orang yang memiliki iman dan anugrah keselamatan dari TUHAN akan menerima kehidupan kekal didalam Kristus sehingga kita disebut orang-orang yang hidup dihadapan Allah. Inilah yang dimaksudkan dengan orang-orang yang hidup.

Berbeda dengan Wahyu 20:14, disebutkan tentang kematian kedua, yang berarti dijauhkan dari hadapan TUHAN untuk selamanya (2 Tesalonika 1:9) itulah yang dimaksud negeri orang mati. Setelah mati, ia tidak dibangkitkan didalam Kristus, tetapi dibuang ke Lautan Api. Matius 10:28, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”. Kematian jasmani adalah sementara, sebab orang beriman tetap hidup walau ia mati secara jasmani, Kristus akan membangkitkan kita pada akhir jaman, tetapi kematian rohani adalah kematian untuk kekal. Sebab setelah mati secara jasmani, mereka akan mengalamai maut didalam Lautan Api yang disebut kematian kedua.

Memahami tentang kata “negeri orang-orang yang hidup” yang kita bahas diatas, adalah bahwa janji TUHAN tentang segala yang baik yang akan dinyatakan dalam hidup kita diberikanNya hanya didalam Kristus, diantara orang-orang yang hidup bukan orang yang mati secara rohani. Jika kita hidup didalam dosa dan kedagingan, kita dihadapan TUHAN mati dan tidak tinggal di negeri orang-orang yang hidup melainkan tinggal di negeri orang-orang yang mati. 1 Timotius 5:6, “Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup.”

Seorang yang hidup menuruti hawa nafsunya, hidup tidak berpada tetapi menuruti keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16), ia akan binasa didalam kematian kedua. Paulus didalam ilham Roh Kudus mengatakan ia sudah mati selagi hidup.

Kepada orang-orang seperti itu, kebaikan TUHAN tidak akan mereka lihat selama ia tinggal di negeri orang-orang mati. Karena itu tetaplah tinggal di negeri orang-orang hidup, tinggalkan keduniawian dan kasihilah TUHAN, maka Ia akan menunjukan kasih setiaNya kepada kita.

NANTIKANLAH TUHAN

Selanjutnya, untuk dapat melihat kebaikan TUHAN, kita harus menantikan TUHAN. Pengkotbah 3:1. menuliskan, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Demikian juga dengan hidup kita, ada saatnya kita menabur, ada saatnya kita menuai, ada saatnya kita bertekun didalam pengolahan, ada saatnya kita beria-ria didalam kesukaan. Abraham menantikan janji akan anak cucu selama 20 tahun, Yusuf menantikan pengenapan pengelihatannya selama 13 tahun, Daud telah diurapi menjadi raja Israel, tetapi ia memantikan sekian lama untuk menjadi raja atas seluruh Israel. Murid-murid menantikan Roh Kudus yang dijanjikan selama 10 hari, bukankah kita juga menantikan jawaban doa-doa kita dan menantikan pertolonganNya?

Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! [Yesaya 30:18]

Ada waktunya segala yang baik dari TUHAN akan dinyatakan kepada kita. Akan tiba saatnya, tetapi sebelum saat tiba, kita harus bertekun dalam menantikanNya. Yesaya 45:19, menjelaskan bahwa TUHAN tidak perrnah menyuruh kita dengan percuma. Tidak dengan tanpa alasan kita disuruh menantikan waktunya TUHAN. Tidak dengan sia-sia kita menunggu-nunggu, sebab Ia menghendaki kita bertekun didalam pengharapan.

Kita perlu bertekun didalam menantikan TUHAN, dalam berharap kepada TUHAN. Ibrani 10:36, menulis: ” Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Belajarlah dari orang-orang yang dikisahkan dalam Kitab Suci, dari Musa, Yusuf, Daud, Daniel dan banyak hamba-hamba TUHAN lainnya yang memberikan teladan ketekunan dalam menantikan TUHAN didalam hidupnya (Roma 15:8). Waktu yang terbaik adalah waktu TUHAN bukan waktu kita. Yesaya 30:18, menunjukan bahwa bukan hanya kita saja menantikan waktu terbaik tersebut, tetapi TUHAN juga menanti-nantikan saat Ia menyatakan kebaikanNya kepada kita yang mengasihiNya.

Tekun dalam menantikan TUHAN merupakan proses yang dikehendaki oleh TUHAN untuk kita lalui, agar kita menjadi sempurna dan tak bercacat-cela. Yakobus 1:4, “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” Karena itulah maka kita memalui proses menantikan TUHAN, menantikan saat yang tepat TUHAN menyatakan kasih setiaNya dan melimpahkan segala kebaikan kepada kita disaat kita tertekan, teraniaya dan dalam himpitan dan kesesakan. Setelah kita melewati masa-masa yang sukar dan kita beroleh buah dari ketekunan kita didalam iman dan pengharapan, maka bukan hanya hal baik yang kita dapatkan, tetapi kita semakin disempurnakan, ditempa sehingga serupa dengan gambaran Kristus (Kolose 3:10).

Daud memiliki kesempatan menjadi raja seketika waktu, dengan menikam raja Saul sampai tewas untuk mengenapi janji TUHAN atas hidupnya untuk menjadi raja Israel lewat nabi Samuel yang telah mengurapinya sebagai raja sejak kecil. Tetapi Daud tidak mencari jalannya dan waktunya sendiri, ia memilih menunggu TUHAN menyatakan kebaikanNya, dan karena itulah maka Daud begitu dikasihi oleh TUHAN. Mengabaikan kesempatan seperti itu bukanlah hal yang mudah, sebab Daud harus kembali bertekun dalam pengharapan menantikan TUHAN didalam kondisi terjepit.

Banyak orang yang tidak tahan dalam menanti atau menunggu. Memang menunggu itu adalah hal yang paling menjemukan dan tidak menyenangkan, apalagi menunggu sesuatu yang tidak kasat mata, menunggu sesuatu didalam kesukaran, himpitan dan aniaya. Murid-murid Yesus saat bersama-sama menyaksikan kebangkitanNya, dalam 1 Korintus 15:6, dituliskan ada 500 orang yang selalu bersama-sama tetapi didalam Kisah Para Rasul 1:15, disebutkan tinggal 120 orang saja yang selalu berkumpul bersama-sama. Banyak orang yang tidak dapat sabar menunggu waktu TUHAN.

Saul tidak sabar menunggu dalam 1 Samuel 13:8-12, padahal waktunya telah tepat 7 hari, tinggal ia menunggu satu hari itu berakhir, tetapi Saul sudah tidak sabar menantikan TUHAN dan memutuskan untuk bertindak sendiri dihari terakhir. Tepat sesuai waktu yang dijanjikan maka Samuel datang dan karena perbuatan Saul yang lancang tersebut maka celaka yang ia terima bukan kebaikan (1 Samuel 13:13-14).

Kadang kita juga sering tidak sabar dalam menantikan TUHAN, menantikan pertolonganNya, menantikan jawaban doa, menantikan janji-janji digenapi, menantikan berkat dan anugrahNya. Sehingga kita mencari jalan keluar sendiri, mencari jalan yang termudah untuk mencapai apa yang kita harapkan dan inginkan. Saat kita mencari pasangan hidup, kita tidak lagi berharap pada TUHAN, tetapi mulai dengan cara-cara duniawi dan bahkan sampai meninggalkan iman. Saat membutuhkan uang, berapa banyak meninggalkan iman dan pengharapannya karena tidak sabar menantikan TUHAN dan mulai korupsi, mulai berdusta dan mengelapkan uang atau bahkan mencuri. Masih banyak lagi contoh-contoh lainnya yang kita semua dapat menyebutkannya dan apakah kita juga telah tidak sabar menantikan TUHAN dan meninggalkan iman dan pengharapan kita?

Jangan kita bertindak sendiri, jangan kita mencari jalan keluar sendiri, memutuskan cara pintas untuk menyelesaikan persoalan kita dan berjuang untuk meraih kebaikan sebelum waktunya. Amsal 20:22, menuliskan: Janganlah engkau berkata: “Aku akan membalas kejahatan,” nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau. Ingat TUHAN itu adil, ia bukan sedang berlambat-lambat karena lalai, tetapi 2 Petrus 3:9 menjelaskan bahwa TUHAN menghendaki semua orang bertobat (2 Korintus 7:10). Karena itu sering kita lihat bahwa orang jahat dan licik sukses bahkan lebih sukses dan mendapat apa yang diinginkan hatinya (Mazmur 73:2-5), tetapi kita harus belajar dari Firman TUHAN, pada waktunya hukuman TUHAN akan dinyatakan kepada mereka.

Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. [Mazmur 37:7]

TUHAN mengajarkan kita berdiam diri didalam menantikanNya. “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN” [Ratapan 3:26]. Juga dalam Yesaya 30:15 disebutkan bahwa “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”Berdiam diri dalam menantikan TUHAN bukan sebuah perpuatan yang bodoh, tetapi Firman TUHAN katakan disanalah terletak kekutan kita. Bukan menganggur diam-diam diteras rumah, tetap berdiam diri dihadapan TUHAN adalah tentang doa. Kita semua tahun dalam Yakobus 5:16, dikatakan bahwa doa orang benar itu besar kuasanya. Doa yang kelihatannya remeh, tetapi didalam doa ada kemenangan. Sering kali orang Kristen tidak menyadari kuasa doa didalam nama Kristus.

Musa dalam Keluaran 17:11, dikisahkan tentang kuasa doa, setiap kali Musa mengangat tangan berdoa, maka bangsa Israel menjadi kuat dan saat ia menurunkan tangan maka bangsa Israel menjadi lemah. Demikian juga saat ini, kuasa doa didalam menantikan TUHAN bukan hal yang sepele. Jangan berhenti berdoa (1 Tesalonika 5:17). Tetaplah tekun dalam menantikan TUHAN menyatakan segala kebaikan yang dijanjikanNya.

Tekun menantikan TUHAN bukan hal yang mudah, di akhir jaman nanti, TUHAN mengatakan akan banyak orang melupakan TUHAN dan tidak lagi menaruh pengharapannya kepada TUHAN. “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” [Lukas 18:8]

Saat Kristus datang kedua kali seperti yang dijanjikanNya, apakah masih ada orang-orang kristen yang menantikan kedatanganNya? Apakah masih ada orang yang berharap dan percaya kepada janji-janji TUHAN? Kita semua menunggu penggenapan rencana Allah, menunggu pernyataan Allah dan menantikan semua pengharapan kita menjadi nyata, tetapi sejak dari dahulu sampai sekarang berita tentang kedatangan Kristus tetap dikumandangkan dan tidak juga sampai kepada penggenapannya (2 Petrus 3:3-4). Banyak orang mulai meninggalkan iman dan menjadi Kristen tradisi yang hanya menjaga nilai-nilai moral yang baik yang diajarkan oleh Yesus dan gereja, tetapi tidak lagi memiliki iman akan janji-janji dan pengharapan yang terkandung didalamnya. Di nagara-negara Kristen, penduduk atheist semakin meningkat, beberapa memilih menjadi deist dan masih banyak yang mengaku Kristen tetapi hidup diluar iman. Mereka adalah orang-orang yang tidak dapat menantikan TUHAN, tidak dapat memahami waktunya TUHAN, memilih untuk mendirikan kebenarannya sendiri (Roma 10:3).

KUATKANLAH DAN TEGUHKANLAH HATIMU

Didalam bertekun menantikan TUHAN, kita perlu menguatkan dan meneguhkan hati kita. Seorang yang menantikan sesuatu ia harus percaya bahwa yang dinantikan itu nyata atau ada. Ibrani 11:6, menjelaskan bahwa jika kita berpaling kepada Allah, kita harus percaya Allah itu ada. Menantikan TUHAN itu adalah tentang iman. Kita percaya bahwa TUHAN akan menyatakan kebaikan kepada kita. Iman itu adalah rahasia yang tersimpan didalam hati nurani yang suci. “Melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci.” [1 Timotius 3:9]. Karena itulah maka didalam bertekun menantikan TUHAN, kita perlu menguatkan dan meneguhkan hati kita.

Seorang yang meremehkan hari nurani yang murni, tidak menjaga hatinya 1 Timotius 1:19 menyebutkan imannya akan kandas. Saat imannya kandas, pengharapannya pun akan sirna dan tidak akan lagi bertekun menantikan TUHAN, tetapi akan mencari jalan duniawi dalam segala sesuatu. Selanjutnya kita tahu, tanpa iman tidak mungkin kita berkenan kepada Allah dan tanpa iman kita tidak memiliki keselamatan didalam Kristus.

Menguatkan dan meneguhkan hati adalah sebuah komitment, sebuah keputusan bulat untuk tetap memiliki hati yang teguh didalam iman. Iman atau percaya kita bukan tanpa dasar, bukan pula sebuah sugesti atau angan-angan kosong, tetapi iman haruslah lahir dari Firman TUHAN. Roma 10:17, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

Bagaimana kita bisa mendengar Firman Tuhan yang baik dan melahirkan iman? Kemballi kita bicara tentang hati. Yakobus 1:21, “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Terimalah dengan lemah lembut Firman TUHAN didalam hati kita. Menerima semua pengajaran dari Allah, mengamini semua kebenaran dan melakukan apa yang diajarkan sebagai sesuatu kebenaran. Pada saat itulah iman akan timbul dan semakin hari semakin disempurnakan didalam perbuatan-perbuatan yang kita lakukan sesuai Firman TUHAN.

Jagalah hati kita dengan baik, jangan biarkan kejahatan masuk atau kedagingan merusaknya. Biarkan kita bertumbuh didalam iman dan tetap berkomitment untuk menguatkan dan meneguhkan hati agar pengharapan akan semua yang baik dari Allah dapat kita terima didalam Kristus Yesus.

Ingat menantikan TUHAN itu tidak mudah, banyak orang jatuh dan gugur didalam iman dan pengharapan saat ia didalam jeda waktu menantikan TUHAN. Murid-murid Yesus yang telah kita lihat diatas, dari 500 orang lebih tinggal 120 orang yang setia bersama-sama berkumpul didalam doa.

Kita semua mengetahui setelah Yesus mati di kayu salib, 3 hari kemudian Ia bangkit dan ada bersama-sama selama 40 hari sampai ia naik ke Surga di bukit Zaitun. Sebelumnya Ia berkata, “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” [Lukas 24:49] Alkitab mencatat 50 hari setelah Yesus mati, adalah hari Pentakosta, pada saat itulah Roh Kudus yang dijanjikan itu dinyatakan. Hanya 10 hari selisihnya, dalam sepuluh hari ini tidak banyak yang tetap tekun menantikan TUHAN. 10 hari itu adalah hari yang kosong, tanpa ada wahyu, tanpa ada Yesus ditengah mereka dan tanpa ada gambaran apa yang akan terjadi dihari-hari kedepan. Mereka hanya memiliki kitab Taurat dan kisah para nabi (Alkitab Perjanjian Lama) dan pesan-pesan serta kata-kata Yesus.

Jika kita sedang dalam masa-masa menunggu TUHAN menyatakan kebaikanNya, ingatlah bahwa anda harus tetap bertekun dan menguatkan dan meneguhkan hati walau semua terlihat gelap dan tidak ada jalan yang jelas, tetapi Firman TUHAN katakan, “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17 lihat juga Habakuk 2:4) Akan tiba saatnya, itu tidak lama lagi, TUHAN akan menyatakan segala kebaikanNya kepada kita. Ia juga tidak sabar menanti waktunya itu. Bertekunlah dan siapkanlah diri untuk disempurnakan oleh Allah.

Amin.