h1

TIPU DAYA IBLIS

5 September 2010

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. [Kejadian 3:1-7]

Kisah diatas adalah kisah pertama kali manusia berhubungan dengan ular. Kisah tersebut ditulis karena merupakan kisah penting dari kehidupan manusia. Dari kisah tersebutlah kita tahu manusia sekarang ini hidup didalam kelemahan dan kematian karena dosa.

Alkitab, mangatakan bahwa ular di Taman Eden itu adalah Iblis atau Setan. “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.” [Wahyu 12:9]. Disebut ular tua, yaitu ular yang ada sejak lampau di Taman Eden pada masa Adam dan Hawa. Ular itulah yang telah menyesatkan bukan saja Adam dan Hawa tetapi juga keturunannya sampai hari ini. (lebih dalam tentang Iblis silahkan lihat catatan berjudul “Asal Usul Iblis”)

Tentang Ular, Alkitab mengatakan bahwa ia adalah mahluk yang paling cerdik diantara semua mahluk ciptaan Tuhan. Bahkan Tuhan Yesus dalam Matius 10:16, mengajarkan agar kita juga secerdik ular yang dikisahkan dalam Kejadian 3:1. Memang bahwa ular diciptakan Allah dengan kecerdikannya.

TIPU DAYA ULAR DI TAMAN EDEN

Karena kecerdikannya maka Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kata-kata yang kelihatannya sederhana tetapi telah membuat manusia sampai hari ini binasa. Kata-kata ini sebuah pertanyaan yang keseluruhannya adalah salah untuk memancing mengungkapkan apa yang benar menurut Hawa. Berbeda dengan saat Iblis mencobai Yesus di padang gurun saat Yesus berpuasa. Ia tidak menggunakan kata-kata yang seluruhnya salah melainkan menggunakan kata-kata yang sebagian ada didalam Kitab Suci. “sebab ada tertulis: Mengenai Engkau…” atau “Jika Engaku Anak Allah, maka…” demikian kata Iblis dalam Matius 4:6 untuk memancing aktualisasi diri (membuktikan kebenaran).

Tipu daya Iblis yang dipakai di Taman Eden sebenarnya sama seperti yang dihadapi olehYesus di padang gurun. Persamaan ini sebab Yesus adalah Adam yang terakhir untuk menyempurnakan Adam yang pertama yang telah membawa dosa masuk kedalam dunia, sehingga Yesus dicobai dengan perihal yang sama.

Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup,” tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi. [1 Korintus 15:45-49]

Dosa datang kedalam dunia karena Adam (Roma 5:15-19), tetapi Adam kedua membawa kehidupan kekal juga telah dicopai dengan cara yang sama dan tetap setia, tidak jatuh didalam dosa. Karena itulah maka hari ini kita selain mempelajari bagaimana Iblis memperdaya Hawa dan Adam, kita juga belajar bagaimana Yesus sebagai Adam terakhir dapat tetap bertahan menghadapi tipu daya Iblis.

TIPU DAYA PERTAMA

Didalam kisah yang tertulis, kita melihat bahwa Iblis memilih untuk berkata-kata kepada Hawa bukan kepada Adam, walaupun Adam berada didekatnya (Kejadian 3:6). Karena Iblis tahu kelemahan Hawa, sehingga dengan pertanyaan tersebut ia terpancing didalam tipu daya ular tua.

Jika kita teliti (Kejadian 2:16-18), sebenarnya Hawa tidak mendengarkan langsung perintah larangan Allah, tetapi diturunkan lewat Adam. Sehingga saat Iblis bertanya tentang larangan tersebut, Hawa menjawab demikian. Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Jawab ini kelihatannya benar, tetapi jika kita lebih teliti, kita akan melihat bahwa Hawa tidak dengan tepat mengerti hukum Allah. Bandingkan dengan ayat berikut ini:

Maka berfirmanlah Tuhan Allah kepada manusia, kata-Nya: Adapun buah-buah segala pohon yang dalam taman ini boleh engkau makan sesukamu, tetapi buah pohon pengetahuan akan hal baik dan jahat itu janganlah engkau makan, karena pada hari engkau makan dari padanya engkau akan mati. [Kejadian 2:16-17]

Ada perbedaan dimana Allah mengatakan jangan makan, sementara Hawa mengatakan jangan makan ataupun raba. Penambahan ini kelihatannya biasa dan tidak masalah, tetapi dari hal-hal seperti inilah iblis mendapat kesempatan bekerja menyesatkan seluruh manusia di bumi. Seketika itu juga Iblis menjawab Hawa, “Sekali-kali kamu tidak akan mati,…” Selanjutnya Iblis menggoda Hawa sehingga ia mulai mencoba meraba buah pengetahuan baik dan jahat tersebut dan memang ia tidak mati. Apa yang kira-kira dipikirkan Hawa saat ia mencoba menyentuh buah tersebut dan merabanya tetapi tidak mati? Berarti hukum Allah tersebut tidak benar adanya dan karenanya maka Hawa berani bertindak lebih dengan memetik dan memakannya, karena ia tidak mati saat meraba buah tersebut. Ketakutan Hawa adalah kepada kematian sebagai akibatnya, bukan kepada Allah yang memberi perintah.

Tipu daya pertama dari Iblis di Taman Eden adalah merancuhkan antara perintah manusia dan perintah Allah. Sering kali manusia terjebak dengan memahami perintah manusia seakan sebagai perintah Allah sehingga ia semakin jauh dari kebenaran Firman Tuhan.

Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” [Markus 7:6-8]

Bukankah banyak orang beriman berbuat seperti ini. Mereka lebih suka tampil didepan umum sebagai orang yang rohani, menjaga citra sebagai orang baik. Datang beribadah dengan senyum dan ramah, tetapi dirumah selalu berkelahi antar suami dan isteri, di dalam gereja menjaga sikap dan mulutnya dari kata-kata kotor, kata-kata cabul dan kesombongan, tetapi dipekerjaan, mulutnya penuh dengan kata-kata kotor, berbicara cabul diantara relasi kerja dan menyombongkan diri dihadapan teman-teman sebayanya. Mereka menjaga diri dari apa yang dilarang oleh organisasi gereja, menjaga diri dari apa yang di anggap salah dan dosa oleh lingkungan gereja, tetapi tidak benar-benar paham kebenaran Firman Tuhan.

Kita harus benar-benar mengerti apa isi kebenaran Firman Tuhan, bukan apa yang dikatakan oleh orang banyak tentang kebenaran. Belajar mengerti Firman Tuhan lebih dalam itu penting agar kita tidak terjebak dan tertipu tipu daya setan (Matius 22:29). Ingatlah apa yang dikatakan oleh Roma 10:17, bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, jadi bukan sembarang kebenaran yang dapat melahirkan iman yang kuat. Seorang bayi yang baru lahir diberi susu yang murni, bukan sembarang air berwarna putih serupa susu. Seperti didesa-desa beberapa bayi diberi air tajin, air bekas mencuci beras yang sekilas warnanya serupa dengan susu, tetapi tentu air tajin tidak dapat membuat otot dan daging yang kuat bagi bayi tersebut, demikian juga perintah manusia.

Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi. [Kolose 2:20-23]

Kalau kita mengutamakan kepada bentuk ibadahnya, menilai tari-tarian di gereja itu dosa, makan permen saat kebaktian itu dosa, menahan kencing sampai ibadah selesai itu suci, atau tidak makan daging babi itu lebih suci dari orang lain, merekok itu dosa, dilarang pegang sesajen atau dilarang masuk kuil atau berdosa orang yang menginjak Alkitab atau hiasan salib dan perkara dunia lainnya yang fana membuat kita rancuh dengan kebenaran Firman Tuhan dan apa yang dikehendaki oleh Allah didalam hidup kita didunia ini. Hal ini membuat Iblis memiliki banyak kesempatan menjatuhkan kita. Semua dapat terjadi karena tidak ada usaha yang sungguh untuk mengerti kehendak Allah. Jika pada saat itu Hawa benar-benar berusaha sungguh-sungguh mengerti hukum Allah yang hanya satu-satunya itu, tentu Hawa memiliki iman yang cukup untuk menolak panah api tipu daya setan (Efesus 6:16) dan ia tidak akan terjebak dalam perintah manusia sampai berdosa dan membawa dosa masuk kedunia sampai hari ini.

Lewat segala perintah-perintah manusia yang terlihat seperti hukum Allah inilah maka Iblis berusaha membuat kita merasa tertuduh dan semakin jauh dari Allah. Satan (baca: saw-tawn’) bahasa Ibrani yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Iblis artinya adalah Penuduh atau Pendakwa. Karena sifat dari ular tua tersebut adalah selalu mendakwa manusia sehingga ular tersebut juga disebut Satan (bahasa Indonesia diterjemahkan Iblis). Saat perintah manusia didalam gereja mengatakan bahwa menonton bioskop itu berdosa, maka seorang pemuda yang karena bersama teman-temannya akhirnya menonton bioskop secara sembunyi-sembunyi takut dilihat orang segerejanya dan selesainya pulang dengan hati penuh tuduhan dari Iblis membuat ia merasa bersalah dan bukannya manusia akan mendekat kepada Tuhan saat itu. Kejadian 3:10 menyebutkan, “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Manusia akan menjauhi Allah, itulah yang diketahui oleh Iblis sehingga ia selalu menuduh manusia sehingga semakin jauh dari Allah. (nasihat baca Yakobus 4:8)

Apa yang terjadi pada Hawa akan juga dilakukan kepada anak cucunya, dan setelah pelanggaran peraturan manusia yang dianggap peraturan Allah, maka Iblis akan membawa manusia tanpa sadar bukan lagi melanggar peraturan manusia tetapi hukum-hukum Allah. Seorang anak muda yang telah sangat bersalah karena menonton bioskop tadi, ternyata ia baik-baik saja, tidak ada hukuman Allah dan malah film tersebut sebenarnya bagus, menghibur dan memperluas wawasan, maka selanjutnya ia tidak cukup hanya film bioskop yang lolos sensor perfilman nasional yang ditonton, tetapi ia juga akan menonton semua film bahkan film porno yang membuat ia berdosa didalam pikiran dan perbuatannya. Kali ini baru benar-benar ia telah melanggar hukum-hukum Allah seperti Hawa.

Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. [Pengkotbah 8:11]

Didalam 1 Timotius 2:14, disebutkan perempuanlah yang digoda Iblis, karena secara umum perempuan lebih mudah tergoda bujuk rayuan dari pada pria. Secara umum juga kita tahu bahwa pria lebih banyak berfikir dengan logikanya sedangkan wanita lebih kepada perasaannya. Hukum Allah dan perintah atau peraturanNya tidak ditimbang dengan perasaan tetapi kebenaran Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak. Tentang kelemahan peremuan ini tentu bukan perbedaan gender yang dibahas oleh Allah, tetapi kejadian Hawa dan Ular menggambarkan tentang adanya wanita rohani, pribadi yang tidak dengan tegas menyatakan hukum Allah.

Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! [1 Korintus 16:13]

Jangan menjadi wanita rohani baik ia berkelamin pria maupun wanita, tetapi jadilah pria secara rohani yang berdiri teguh dalam iman sehingga dapat mematahkan panah berapi dari si Iblis (Efesus 6:16).

Adam yang berada disamping Hawa telah gagal untuk menjadi pemimpin, ia diam saja saat melihat Hawa memakan buah larangan. Karena itulah Yesus datang sebagai Adam terakhir untuk membawa kehidupan bagi umat manusia dan menjadi pemimpin didalam Gereja Tuhan, yang disebut mempelaiNya (Efesus 1:22-23, 5:31-32). Saat Adam terakhir dicobai dengan hal yang sama, yaitu tentang ancaman kematian, dalam Matius 4:2-3 dituliskan, Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Saat itu Yesus dalam keadaan yang lapar dan semua orang tahu bahwa orang dapat mati jika tidak makan. Ketakutan akan kematian dihadapkan kepada Yesus dan Iblis menawarkan ide kehidupan dengan mengubah batu menjadi roti sehingga dapat dimakan dan menyambung hidup. Berbeda dengan Hawa, saat dihadapkan kepada tipu daya Iblis, Hawa terjebak dengan kebenaran manusia sehingga ia merasa bebas dari ancaman kematian dan membuatnya berani berbuat dosa. Yesus menjawab dengan kebenaran Firman Tuhan. Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” [Matius 4:4]. Iblis tidak melanjutkan pertanyaannya, sebab tidak ada celah baginya untuk memperdaya lebih lanjut, seperti pada Hawa yang menambahkan peraturan sendiri dimana bisa mati hanya dengan merabanya.

TIPU DAYA KEDUA

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.

Tipu daya Iblis kedua adalah membuat tujuan yang terlihat baik atau bermanfaat menjadi sebuah alasan untuk melanggar hukum Allah.

Adalah sesuatu yang baik bila matamu terbuka kata Iblis. Sesuatu yang tampak bermanfaat pada tujuannya sering membuat hukum Allah dapat ditawar dan dibuat lebih fleksibel sesuai keadaan. Betapa banyak umat Allah yang terjebak tipu daya Iblis dan mulai membenarkan dosa dan menerima kesalahan sebagai sesuatu yang wajar dan manusiawi? Seperti Hawa, ia terbujuk untuk melihat bahwa buah itu menarik hatinya sebab memberi pengertian kepadanya, ada manfaat yang akan diperoleh. Ada suatu kemajuan yang diharapkan. Manusia memiliki dorongan untuk maju, tetapi Iblis selalu menawarkan cara-cara yang penuh tipu daya yang ujungnya membawa manusia kepada dosa terhadap Allah.

Baru-baru ini di kota-kota besar Indonesia ramai dengan fenomena Otak Tengah, dimana anak-anak kecil jika mempelajari otak tengah maka akan menjadi jenius dan dapat belajar dengan lebih baik dan mendapat nilai-nilai ulangan yang luar biasa. Sesuatu yang membuat banyak ibu-ibu mengirimkan anaknya untuk dilatih otak tengahnya menjadi pandai. Sepintas kelihatannya baik dan bermanfaat. Dapat “membuat mata terbuka” kata Iblis. Tetapi sesungguhnya tidak ada ilmu kedokteran yang membenarkan fungsi otak tengah selain sebagai tempat mengelolah indra dan refleks manusia. Tetapi Iblis telah menipu dan mendidik anak-anak dalam okultisme sejak masih kecil. Dalam satu malam saja didalam ruang tersendiri anak itu langsung bisa menjadi “orang pandai”. Dapat menebak isi tas, menebak isi kantong orang, dapat mewarnai gambar dengan menutup mata, dapat mengetahui apa yang tidak kasat mata. Luar biasa, “orang pandai” tidak harus sudah tua, anak kecil juga bisa disebut “orang pandai” dan banyak orang dunia bisa bertanya dimana barangnya yang hilang atau siapa yang mencuri. Lebih ironis lagi ada beberapa pendiri tempat pelatihan tersebut adalah jemaat sebuah gereja Kristen. Mereka membenarkan sebab manfaatnya lebih besar dari hukum Allah.

Jangan kita terjebak dengan tujuan yang baik itu sebagai hal yang lebih penting dari pada mendengar dan melakukan kehendak Allah. Seperti yang dicontohkan Raja Saul saat menumpas Amalek. Alkitab mencatat perintah Allah kepada Raja Saul dalam 1 Samuel 15:3 demikian, “Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Tetapi yang dilakukan Raja Saul dengan maksud baik yang bermanfaat bagi semua pihak tercatat dalam 1 Samuel 15:13-15 sebagai berikut, Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya: “Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan firman TUHAN.” Tetapi kata Samuel: “Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?” Jawab Saul: “Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.” dan apa yang bertujuan baik dan bermanfaat tersebut yang mana untuk itu perintah Allah dilanggar, membuat Saul ditolak oleh Allah dalam 1 Samuel 15-22-23. Jangan kita menjadi seperti Saul atau Hawa yang menganggap tujuan baik membenarkan kita untuk melanggar hukum Allah.

Sering kali manusia terlena dengan tujuan-tujuannya, terlena dengan visi atau mimpi yang dimiliki dan menganggapnya semua itu untuk hal yang lebih baik. Setiap orang dalam bertindak memiliki tujuan-tujuan, kita datang beribadah juga memiliki tujuan-tujuan. Tetapi semua tujuan baik dan mulia yang kita pikirkan dan rencanakan harus takluk kepada hukum-hukum Allah. Jangan malah kita dibutakan oleh Iblis dengan tipu daya ia hendak membukakan mata kita. Kita harus menaklukan segala sesuatu kepada Firman Tuhan.

Tetapi segala orang yang milik Kristus Yesus itu sudah menyalibkan hawa nafsunya dengan segala cita-cita dan keinginannya. [Galatia 5:24, TL]

Godaan yang sama diterima Adam terakhir tertulis dalam Matius 4:8-9, Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Bagus bukan jika seluruh kerajaan dunia telah menjadi miliknya bukankah lebih mudah untuk mengabarkan Kabar Baik? Semua akan mendengarkan dan akan taat kepada penguasanya? Berapa banyak orang Kristen jatuh saat Iblis menawarkan kekayaan dunia dengan cara-cara yang melawan hukum Allah dengan alasan bertujuan rohani. Seperti nanti aku akan merenovasi gedung gereja, akan aku bangunkan tempat camp, aku akan sumbangkan buat gereja sebagian dan banyak lainnya yang terlihat seperti tujuan yang mulia dan layak untuk sedikit melenceng dari kebenaran, keadilan dan kesetiaan.

Jika Hawa merasa lagi pula (bertujuan) buah itu memberi pengertian, tentu menarik hati untuk dicoba hal yang baik ini sehingga Hawa jatuh dalam dosa karena ia membenarkan tujuan baik lebih dari mentaati perintah Allah, maka Adam terakhir menjawab Iblis, Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” [Matius 4:10]. Seharusnya Hawa juga menjawab hal yang sama, “Enyalah Ular, sebab Allah telah melarang kita untuk memakan buah pengetahun baik dan jahat dan engkaupun harus mentaatinya”.

TIPU DAYA KETIGA

…dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya,. ..”

Iblis tidak mengatakan Hawa akan menjadi Allah tetapi akan menjadi seperti Allah saat memakan buah tersebut. Hawa tahu bahwa ia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27). Seperti halnya kita ingin menjadi serupa dengan Kristus, karena kita adalah bagian dari Kristus demikian juga dengan Hawa juga ingin menjadi serupa dengan Allah, sebagai anak-anakNya serupa dengan Bapanya. Karena itulah maka Hawa memandang buah itu baik untuk dimakan.

Tipu daya ketiga Iblis adalah menjadikan kerinduan rohani sebagai dorongan untuk melangkah. Kerinduan akan perkara rohani harus dibatasi oleh kebenaran Firman Tuhan, tetapi Iblis membuat batas-batas Firman Tuhan itu dilampaui untuk mencapai cita-cita rohani.

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. [Roma 12:3]

Berapa banyak orang Kristen yang memiliki kerinduan untuk menjadi seperti pendeta-pendeta besar, misalkan seperti Reinhard Bonke, Benny Hinn, Morris Cerullo dan lain-lainnya. Memiliki kuasa mengadakan mujizat, memiliki kuasa untuk membuat tanda-tanda ajaib, menjadi sangat beribawa dan lain sebagainya. Ada juga yang mengidolakan tokoh di gerejanya, ingin seperti si A, si B atau tokoh-tokoh nasional dan bertindak, berlagak dan melakukan hal-hal yang serupa dengan diri mereka. Hal itu dapat menyesatkan dan Iblis memiliki banyak kesempatan untuk membawa kita jatuh dalam dosa.

Mungkin dalam lingkup kecil, kerinduan rohani muncul dari kesaksian orang-orang, seperti misalkan seorang yang diberkati mobil mewah baru setelah ia menyumbangkan mobil bututnya ke gereja, atau seorang mendapat uang ratusan juta setelah ia memberikan persembahan kegereja, semua itu dapat membangkitkan kerinduan rohani yang salah. Keinginan yang salah yang dapat melahirkan dosa.

Kelihatannya memang baik untuk menjadi seperti idola kita, menjadi indah secara rohani dan dihormati banyak orang, tetapi ingat ini adalah tipu daya Iblis yang membuat Hawa jatuh dalam dosa.

Adam terakhir juga dicobai dengan pencobaan yang sama seperti yang tertulis didalam Matius 4:5-6, Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (lihat catatan berjudul “Godaan Bait Allah”).

Diatas Bait Allah di Kota Suci, tempat dimana dibawahnya berkerumun orang-orang Yahudi dari segala penjuru dunia, ahli Taurat dan orang Farisi serta Saduki berkumpul. Jika Adam terakhir menjatuhkan diri dari atasnya, semua dibawah tentu melihat bagaimana Allah mengutus malaikatNya untuk menatang sampai dibawah dengan selamat. Tentu akan dihormati dan dipuji oleh semua orang sebagai seorang yang rohani dan dicintai Allah. Siapa yang tidak suka dianggap seperti itu? Tetapi Adam terakhir menjawab godaan Iblis, Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” [Matius 4:7]

Jangan kita mencobai Allah! Berapa banyak orang yang mencobai Allah, mencoba datang ketempat pelacuran dan menganggap kuat imannya, mencobai Allah dengan menentang badai, mencobai Allah dengan kekayaan dan harga benda untuk memancing kekayaan yang lebih besar turun. Mencobai Allah dengan menuntut kenikmatan daging. Mencobai Allah dengan tetap tinggal didalam dosa.

Di sungai Kapuas, Kalimantan, beberapa tahun lalu ada sekelompok pemuda dari Jawa yang mati hanyut tenggelam didalamnya. Mereka adalah orang-orang Kristen yang melayani orang-orang pedalaman Kalimantan, tetapi mereka mencobai Allah dengan berjalan diatas sungai Kapuas seperti Tuhan Yesus berjalan diatas danau Galilea. Kerinduan rohani yang kelihatannya indah, tetapi tidak sesuai dengan perintah Allah. Kuasa Allah tidak dinyatakan sesuai dengan kemauan kita. Roh Kudus bukan bekerja dan menyatakan karuniaNya sesuai dengan perintah dan kehendak kita tetapi semua terjadi atas kehendak Allah bukan kita (Ibrani 2:4).

Jawaban Adam terakhir membuat Iblis kehilangan kesempatan untuk melanjutkan tipu dayanya, berbeda dengan Hawa yang saat digoda untuk menjadi seperti Allah dengan melanggar hukumNya tidak menganggapnya itu mencobai Allah tetapi malah menganggapnya hal itu baik sehingga Iblis memiliki kesempatan untuk melanjutkan tipu dayanya sehingga Hawa jatuh dalam dosa dan membawa Adam juga berdosa. Berhati-hatilah dengan kerinduan rohani kita, cocokan segalanya dengan hukum-hukum Allah, sebab kita semua memiliki rencana yang indah masing-masing sesuai dengan bagian kita didalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:18). Setiap kita telah disiapkan Allah pelayanan yang indah-indah dan Tuhan ingin kita ambil bagian dalam bagian kita masing-masing (Efesus 2:10).

dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. [Markus 10:44]

KEGAGALAN ADAM PERTAMA DAN KEMENANGAN ADAM TERAKHIR

Adam telah gagal menjadi pemimpin, walaupun ia berada disamping Hawa, ia tidak melarang Hawa saat berbuat dosa bahkan ikut ambil bagian dalam dosa Hawa. Kejatuhan ini terjadi karena Adam membiarkan perempuan untuk memimpin yang mengakibatkan kehancuran dan kematian datang kedunia.

Adapun umat-Ku, penguasa mereka ialah anak-anak, dan perempuan-perempuan memerintah atasnya. Hai umat-Ku, pemimpin-pemimpinmu adalah penyesat, dan jalan yang kamu tempuh mereka kacaukan! [Yesaya 3:12]

Secara hurufiah, memang terjadi bahwa didalam organisasi gereja, wanita tidak diperkenan menjadi pemimpin, bahkan diajarkan 1 Korintus 14:34-35 atau 1 Timotius 2:11-12. Secara rohani maka hal ini menggambarkan Gereja Tuhan, harus tunduk kepada Kristus, tunduk kepada ajaran murni dari Firman Tuhan, bukan mendirikan peraturan gereja lebih dari apa yang diajarakan oleh Firman Tuhan. Saat peraturan gereja semakin banyak, peraturan diakonia, peraturan ibadah, peraturan organisasi dan sebagainya menjadi panduan pelayanan dan menaruh Alkitab sebagai pelengkap saja, maka saat itulah Gereja Tuhan akan tersesat dan jalan mereka kacau.

Adam terakhir menyatakan dirinya sebagai pemimpin dan ia menanggung kesalahan gereja sebagai mempelaiNya. Bukan seperti Adam pertama yang melempar dan menyalahkan perempuan yang Allah tempatkan disisinya, sebagai kambing hitam. Sekali tepuk dua lalat, sekali berucap didalam Kejadian 3:12, Adam menyalahkan Hawa dan sekaligus Allah yang telah menjadikan Hawa.

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya [Efesus 5:25]

Kegegalan Adam kedua adalah tidak tegas dengan kebenaran Firman Tuhan. Saat itu Allah hanya menurunkan satu saja hukum Allah, yaitu jangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk, tetapi Adam gagal menjaga Firman Tuhan tetap terpelihara dan membiarkan hukum Allah bercabang dan tidak jelas arah tujuannya.

Ketidak jelasan kebenaran Firman Tuhan, dapat membuat kejatuhan manusia. Hosea 4:6, mengatakan, Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu

Adam bukan saja membiarkan Hawa menambahkan larangan dengan merabanya, tetapi juga mengabaikan hukum Allah dengan melakukan apa yang dilarang oleh FirmanNya.

Tetapi Adam terakhir datang untuk menyatakan kebenaran Firman Tuhan, untuk menjaga hukum-hukum Allah terpelihara didalam hati setiap anak-anak Allah. Setiap godaan Iblis yang dilontarkan selalu dijawab “Ada tertulis…” sehingga Iblispun harus mundur dari tipu dayanya.

Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. [Yohanes 14:29]

Gereja harus tetap menjaga dan memelihara hukum-hukum Allah dan menyampaikan kebenaran Allah tanpa ditambah atau dikurangi. Sehingga Iblis tidak memiliki kesempatan untuk memperdaya kita.

PENUTUP

Demikian kita telah mempelajari kejatuhan Hawa dan bagaimana Adam terahir dapat tetap tinggal didalam kebenaran walau telah dicobai dengan pencobaan yang sama. Jangan biarkan Iblis memiliki kesempatan dalam hidup kita. Jadilah seperti Kristus yang telah memberikan teladan dalam menghadapi tipu daya ular tua.

dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis [Efesus 4:27]

Kita harus ingat bahwa kemengan Yesus di kayu salib atas dosa dan maut telah meremukan kepala ular tua (Kejadian 3:15), kuasa maut dan alam maut telah ditaklukan (1 Korintus 15:56-57) dan pemerintahan ular tua telah dilucuti dan menjadi tontonan (Kolose 2:15) seperti yang di tulis dalam kitab nubuat Yehezkhiel dan Yesaya tentang si Ular Tua. Karena itulah dalam menghadapi tipu daya Iblis kita jangan takut, gunakan perisai iman dan ambil kemenangan Kristus yang sudah disediakan bagi kita. Karena itulah Paulus katakan kita lebih dari pemenang (Roma 8:37).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: