h1

Yahweh-Yireh

8 October 2010

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. [Filipi 4:19]

Jehovah-Jireh atau Yahweh-Yireh berasal dari kata יְהֹוָה , yang artinya dalam bahasa Inggris adalah “The Lord will provide” dan dalam bahasa Indonesia artinya “Tuhan yang menyediakan”. Selain itu kata tersebut juga dapat dimaksudkan “The Lord Who Sees” yang artinya “Tuhan yang melihat” sehingga secara umum pengertian Jehovah-Jireh adalah Tuhan yang melihat apa yang diperlukan dan Ia juga akan menyediakannya.

Jehovah-Jireh, mengambarkan kepedulian Tuhan terhadap kebutuhan manusia dimana Tuhan menyatakan diriNya sebagai sumber segala keperluan kita. Raja Daud dalam Mazmur 37:25 mengatakan, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti” demikian juga dengan Yesus, dalam Lukas 12:29-30 Ia mengatakan, “Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu.” Masih banyak ayat-ayat lainnya yang menggambarkan Tuhan sebagai Jehovah-Jireh atau Yahweh-Yireh, Tuhan yang menyediakan segala kebutuhan kita.

Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang kita perlukan sebelum kita meminta kepadaNya (Matius 6:8). Tuhan peduli dan telah menyiapkan sejak awal kita membutuhkan, bukan sejak kita berdoa. Ia telah menyiapkan pertolonganNya dan menyediakan apa yang kita butuhkan sejak sebelum kita meminta kepadaNya.

Kedua orang tua saya, sebelum mengenal Kristus, mendapati bisnisnya telah mengalami kerugian yang sangat besar mencapai ratusan juta karena pengelapan ditahun 1986. Pada masa itu 1 US$ adalah Rp.1.134. Keuangan perusahaan dalam keadaan minus, dimana hutang barang terhadap pabrik-pabrik yang menyediakan barang menumpuk dan akan masuk jatuh tempo. Usaha orang tua bukan sebuah perseroan terbatas tetapi sebuah usaha dagang yang resikonya ditanggung perorangan. Dapat dibayangkan apa yang akan dihadapi, pernyataan pailit beresiko atas penyitaan seluruh aset keluarga dan dapat berujung pada hukuman penjara. Ibu saya, dulunya pernah dididik secara Kristiani dan mengenal Kristus sebagai Juruselamat. Lewat situasi yang dihadapi mereka dan tidak ada harapan untuk melunasinya, saat itu Ibu saya menaruh pengharapannya kepada Yesus, Tuhan yang pernah didengarnya pada masa kecilnya.

Tidak lama setelah itu, beredar kabar bahwa akan ada devaluasi, dimana harga-harga barang dapat dipastikan naik. Tetapi harga barang akan naik seberapa? Tidak ada patokan jelas, sebab saat itu semua menjadi tidak jelas dan tidak ada yang berani melepas harga ke pasar. Bukan sebuah kebetulan hal itu terjadi, saat itu dengan hikmat dari Allah, orang tua saya melepas barang dengan harga dua kali lipat dan karena tidak ada yang berani melepas barang selain orang tua saya, maka seluruh barang ludes terjual sampai genap seluruh hutang-hutang dagangnya tertutupi. Tepat tanggal 12 September 1986, pemerintah mengumumkan devaluasi sebesar 47%, baru semua orang mulai berani melepas barangnya dipasar dan orang tua saya mulai menyesuaikan harga dengan harga pasar. Uang yang terkumpul tepat untuk melunasi hutang-hutang dagang yang jatuh tempo tersebut. Kejadian yang sama seperti yang dikisahkan dalam 2 Raja-raja 4:1-7 tentang minyak yang dituang janda abdi Allah.

Sungguh ajaib! Jehovah-Jireh, Allah akan mencukupkan semua kebutuhan kita, bahkan lewat jalan yang kelihatannya mustahil sekalipun. Sebab Ia melihat kita dan peduli dengan kehidupan kita. Dari hal yang mustahil hutang ratusan juta (1986), dapat dilunasi dalam tempo beberapa minggu saja. Beberapa saat kemudian, seorang pendeta tua digerakan Tuhan untuk datang berkunjung kepada mereka dan menyampaikan Kabar Baik. Pada saat itu kedua orang tua saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Kristus didalam hidup mereka dan melayaniNya sampai hari ini.

Tuhan peduli terhadap kita, karena itu jangan kita merasa kawatir dan gentar menghadapi dunia ini. Sebab Ia telah menang dan telah mengalahkan dunia ini. Semua apa yang kita butuhkan akan kita terima dariNya. Sebab Ia dalah Jehovah-Jireh, bahkan hal yang mustahil sekalipun.

Didalam kehidupan kami, Allah telah menunjukan pemeliharaannya terhadap kami sekeluarga. Saat kami dihadapkan kepada putusan untuk tinggal di Bali, sesuatu tanda tanya yang besar dihadapan kami tentang kehidupan kami disana. Tetapi didalam iman kami percaya kepada Allah dan melangkah sampai hari ini segala sesuatunya Allah sediakan. Mulai dari tempat tinggal, pekerjaan, sekolah dan segala sesuatu yang dibutuhkan tesedia dengan sendirinya. Bahkan sampai detil-detilnya. Allah nyata sebagai Jehovah-Jireh.

Lagu :
Yehovah Jireh, Allah kan mencukupi keperluan hidupku. Haleluyah
Yehovah Jireh, Allah kan mencukupi keperluan hidupku.
Allahku kan menenuhi segela keperluan hidupku menurut kekayaan dan kemulyaannya.
Yehovah Jireh dia peliharaku. Haleluyah
Yehovah Jireh dia peliharaku.

Didalam Alkitab dan dunia mengenal Tuhan sebagai Jehovah-Jireh atau Yahwah-Yireh berasal dari pernyataan Abraham dalam Kejadian 22:14, Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan (Yahweh-Yireh)”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Allah hadir dalam kehidupan Abraham sebagai “Tuhan yang menyediakan” dan hari ini juga Tuhan menyatakan diriNya kepada keturunan Abraham juga sebagai “Tuhan yang menyediakan”. Karena kita semua adalah anak-anak Abraham didalam iman kepada Kristus dan berhak menerima janji-janji Allah kepada Abraham (Galatia 3:29).

Ribuan tahun telah lewat dan banyak orang menerima berkat dari Abraham dan menyaksikan Allah nyata dalam hidupnya sebagai Jehovah-Jireh. Mulai dari Ishak anak tunggalnya, Yakub dan sampai Musa, Yosua, Samuel, Daud, Daniel, dan para rasul juga sekarang terhadap banyak orang beriman, Allah hadir sebagai Tuhan yang menyediakan segala keperluan hidup mereka, seperti terhadap Abraham. Tetapi tidak sedikit juga orang-orang tidak pernah melihat Allah menyatakan dirinya sebagai Johovah-Jireh seperti kepada Abraham walau ia disebut orang Kristen.

Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. [Yohanes 8:39]

Mengapa mereka tidak melihat Allah sebagai Jehovah-Jireh? Sebab mereka tidak mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.

Didalam Kejadian 22:14, dimana kata Yahweh-Yireh yang sedang kita bahas hari ini ditulis merupakan bagian dari kisah Abraham yang diuji oleh Tuhan untuk mempersembahkan Ishak anaknya yang tunggal dan yang kemudian Tuhan menyediakan seekor domba jantan yang tersangkut untuk dijadikan korban kepada Allah. Setelah semua kejadian itu, Abraham menyebut Tuhan sebagai Yahweh-Yireh. Bagaimana Allah bisa hadir sebagai Yahweh-Yireh dalam hidup kita, kita juga harus melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Abraham.

Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan“; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri-demikianlah firman TUHAN-:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba. [Kejadian 22:1-19]

JAWABAN ABRAHAM

Dari kisah tersebut, kita mendapati hal yang manarik pada ayat 7 dan 8. Saat Ishak bertanya kepada Abraham apa yang akan dibakar sebagai korban bakaran, lantas Abraham menjawab “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran itu”. Abraham tahu dengan jelas bahwa Allah menghendaki anaknya sebagai korban bakaran, tetapi jawaban Abraham merupakan pernyataan iman bahwa Allah bisa menggantikan anaknya dengan domba, tetapi jika memang anaknya harus binasa, ia tetap percaya Allah sanggup memhidupkannya kembali, karena Tuhan telah berjanji tentang keturunannya (Ibrani 11:17-19). Iman yang serupa dapat kita jumpai dalam kitab Daniel 3:16-18, Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Mereka memiliki iman bahwa Allah sanggup menolong dan sanggup menepati janji-janjiNya. Karena itu bahkan maut sekalipun mereka tidak takut bila itu menimpanya (Matius 16:25).

Saat Abraham berkata “Allah yang menyediakan anak domba”, saat itu Abraham mengucapkan kata-kata iman. “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” [Kejadian 15:6]. Saat kita percaya kepada Allah dengan segenap hati kita, seperti Abraham maka kata-kata iman kitapun akan menjadi kebenaran didahapan Allah. Sehingga yang terjadi pada Abraham, dalam ayat 12-13, disebutkan saat itu ada seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dan kemudian domba itulah yang menjadi korban bakaran tepat seperti yang dikatakan oleh Abraham kepada Ishak anaknya. Itulah firman iman yang dikatakan oleh Paulus dalam surat Roma 10:8, Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan.

Berapa banyak umat Kristiani yang saat menghadapi himpitan dan masalah, butuh pertolongan malah sebaliknya, mengumpat (Amsal 19:3) dan bersungut-sungut (1 Korintus 10:10). Jika demikian akankah Allah menyatakan diriNya sebagai Jehovah-Jireh?

Kata-kata iman Abraham berdasarkan atas janji Allah, “Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.” [Kejadian 13:16]. Disaat usianya yang telah sangat tua baik Abraham maupun Sarah, maka Ishak yang lahir dihari tuanyapun merupakan anak tunggal mereka yang kepadanya Allah juga telah berjanji, Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.” [Kejadian 17:19]. Karena itu, pada saat Abraham diuji untuk mempersembahkan anaknya yang tunggal, Abraham yakin akan janji Allah, bahwa lewat Ishak keturunannya akan sebanyak debu tanah yang tak terhitung banyaknya. Lewat Ishak dan bukan yang lain, walau Ishak harus mati sekalipun, Tuhan sanggup menghidupkannya ataupun pada saatnya Allah akan mengantikannya dengan anak domba. Demikian yang diimani oleh Abraham.

Kita sebagai anak-anak Abraham yang juga memiliki janji dan iman yang sama, juga harus menaruh iman kita atas janji Allah. Bukan atas sugesti pribadi atau harapan-harapan pribadi yang lahir dari hawa nafsu dan dari dunia ini. Setiap janji-janji Allah dituliskan dalam kitab suci dan dimeteraikan oleh Roh Kudus, sehingga pada saatnya kata-kata tersebut menjadi hidup dan membawa kita kepada perjalanan iman, dari iman kepada iman.

Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” [Roma 1:17]

Alkitab mengajarkan kepada kita untuk tidak bersandar kepada pengertian dan pengetahuan kita sendiri dalam menghadap segala sesuatu (Amsal 3:5), tetapi menaruh pengharapan kita kepada Allah walaupun sesuatu yang tidak masuk akal ataupun bodoh menurut dunia ini, seperti perbuatan Abraham. Sehingga dengan demikian iman kita tidak dibatasi oleh pengetahuan manusia, tidak dibatasi oleh pemikiran dan hikmat manusia tetapi iman kita bertumbuh sesuai dengan kuasa Allah. I Korintus 2:5 mengatakan, “supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” Sebab bagi manusia memang ada batas kemustahilan tetapi bagi Allah, tidak ada yang mustahil (Lukas 1:37), demikian juga bagi orang setiap orang beriman (Markus 9:23).

Seorang pria yang saya kenal, ia adalah seorang yang memiliki cacat pada sebagian sisi tubuhnya sehingga ia berjalan dengan gerakan yang lebih susah dan tidak dapat leluasa menggerakan jari-jarinya dan juga mengucapkan kata-kata yang jelas. Dengan keadaanya seperti ini, ia juga bukan seorang yang kaya, mungkinkah ada wanita yang mau menikah dengannya? Dengan hikmat manusia orang akan menasihatinya agar ia belajar menerima kodrat hidup membujang seumur hidup. Tetapi iman dan pengharapannya tidak padam, ia percaya akan janji Allah dan ia berdoa untuk ponolong yang sejodoh yang dijanjikan Allah. Hari ini ia telah memiliki anak dari seorang wanita cantik yang sangat mencintainya. Tidak ada yang mustahil saat kita membutuhkan saat itu Allah akan hadir sebagai Jehovah-Jireh, Allah yang menyediakan bagi kita apa yang kita butuhkan. Bukan hanya uang dan materi saja merupakan kebutuhan manusia, segela hal yang membawa kita kepada hal yang lebih baik akan disediakan Yahweh-Yireh kepada kita.

TINDAKAN ABRAHAM

Hal yang kedua yang dilakukan oleh Abraham yang kita pelajari, adalah ia mengesampingkan kepentingannya sendiri dan taat akan perintah Allah. Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” [Kejadian 22:12]. Ishak adalah anak kesangangannya, anak satu-satunya (Ismael telah diusir dari keluarga karena ia adalah anak dari budak yang tidak menerima waris bersama dengan anak majikannya). Harapannya dan kasih sayangnya tercurah kepada anak tersebut, tetapi saat diminta oleh Allah, Abraham memberikan tanpa ragu-ragu, sebab ia memiliki iman akan janji-janji Allah terhadap Ishak.

Apa yang telah dilakukan oleh Abraham itu, telah memberkati dunia. Sehingga Allah membalas Abraham setimpal dengan perbuatannya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal [Yohanes 3:16]. Yesus telah datang sebagai Anak Tunggal Allah yang mati sebagai korban penghapus dosa bagi umat Israel, yaitu keturunan Abraham.

Allah menguji Abraham, merupakan bagian rencana Allah untuk menyelamatkan manusia lewat Kristus sebagai Putra Tunggal Allah yang menghapus dosa dunia. Sesuai dengan hukum Taurat yang diturunkan kemudian sebagai bagian dari rencana berikutnya, dimana dosa dan kesalahan dapat dihapuskan hanya lewat korban penghapusan dosa. Maka saat ini kita semua menerima keselamatan didalam iman, lewat korban penebusan sesuai hukum Taurat oleh Anak Tunggal Allah yang tidak segan-segan lagi diserahkan bagi keselamatan seluruh keturunan Abraham.

Jika kita mengutamakan perintah Tuhan lebih dari kepentingan kita sendiri, maka Tuhan akan membalaskan perbuatan kita (Yeremia 17:10). Tuhan akan menyatakan diriNya sebagai Jehovah-Jireh. Karena itulah Yesus mengatakan “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” [Lukas 12:31]. Carilah Kerajaan Allah terlebih dari kepentingan dan kebutuhan kita, maka pada saat itu, semua akan ditambahkan kepada kita. Allah akan hadir sebagai “Tuhan yang menyediakan”. Ini adalah rahasia hidup keberkatan seperti Abraham.

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? [Roma 8:32]

Segala sesuatunya kita akan terima dari Allah, segala pertolongan yang kita butuhkan, segala kekuatan yang kita butuhkan, segala kebutuhan hidup kita, segala pernyataan harapan dan cita-cita kita semua kita terima dari Tuhan yang adalah Jehovah-Jireh, Tuhan yang menyediakan, disaat kita mengedepankan perintah Allah dari pada keinginan kita. Kejadian 22:18, menyebutkan “…karena engkau mendengarkan firman-Ku.” sebagai dasar Allah memberkati Abraham dan menjadikannya berkat bagi dunia. Mari kita juga melakukan sama seperti Abraham telah perbuat.

PENUTUP

Hari ini mari kita belajar berbuat seperti Abraham (memiliki kata-kata iman dan mengutamakan mendengar dan melakukan perintah Allah lebih dari keinginan kita), sebab kita adalah anak-anak Abraham yang dibenarkan karena iman sama seperti Abraham telah dibenarkan, dan yang juga menerima janji didalam iman sama seperti Abraham telah menerima janji Allah. Kita akan melihat Allah hadir seperti Abraham melihat kehadiran Allah didalam hidupnya. Segala yang kita butuhkan Ia akan menyediakannya.

Amin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: