h1

Ikutlah Teladan

12 November 2010

Filipi 3:17
Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk mengikuti teladan sebagai bagian dari Amanat Agung yang dikatakan Kristus “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." [Matius 28:19-20]. Perintah “ajarlah mereka melakukan” tidak hanya dilakukan lewat pemberitaan Firman Tuhan, tetapi juga disertai dengan teladan hidup.

Serang teman yang memiliki usaha interior design dan exhibition contractor yang berkembang pesat, ia menceritakan bahwa untuk membuat sebuah bentuk sesuai dengan gambar dibutuhkan tukang yang cakap dan trampil. Ia melatih tukang-tukangnya agar sesuai dengan standartnya bukan hanya dengan mengajarkan caranya membuat, tetapi juga memberi contoh kepada mereka. Diceritakan pula kiatnya, bahwa ada empat tahap dalam melatih tukangnya. Pertama adalah “saya mengerjakan, kamu melihat”, kedua adalah “saya mengerjakan, kamu membantu”, ketiga adalah “kamu mengerjakan, saya membantu” dan terakhir “kamu mengerjakan, saya melihat”. Lewat cara seperti itulah maka tukang-tukangnya dapat mengerjakan seperti yang dikehendakinya.

Proses belajar lewat meneladani bukan sesuatu yang baru, tetapi jarang dipraktekan dalam kehidupan nyata. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya orang-orang yang menjadi tutor atau teladan yang bukan hanya pandai menjelaskan tetapi juga melakukan apa yang dijelaskannya. Didalam ilmu management, dalam beberapa tahun belakangan ini pola pelatihan seperti ini mulai marak dan semakin diminati. Mereka menyebutnya Coaching. Buku tentang Coaching dalam management yang ditulis oleh McLeod, Angus tahun 2003 telah menarik perhatian banyak perusahaan dan sampai hari ini banyak bertumbuh pelatihan management dengan basis Coaching. Pelatihan dengan teladan atau tutor ini sebenarnya sudah muncul sekitar tahun 1830 di Oxford University. Setahun kemudian cara ini diterapkan dalam bidang olahraga, dimana pelatih melatih dengan tutor sehingga murid dapat melihat dan mempraktekan seperti yang diajarkan oleh pelatihnya sampai hari ini. Baru beberapa tahun belakangan ini Coaching diterapkan dalam berbagai bidang dan banyak dibicarakan orang.

Kembali didalam Amanat Agung, Kristus memerintahkan murid-muridNya untuk memuridkan segala bangsa. Proses ini bukan terjadi dalam bentuk pendidikan atau pemberitaan Firman Tuhan saja, tetapi proses pemuridan dilakukan melalu teladan hidup para rasul yang kemudian diteruskan kepada murid-murindnya dan kepada murindnya dan seterusnya. Saat kita mendengar Firman Tuhan dan memahami perintah Allah, kendala yang dihadapi adalah bagaimana melakukannya. Dibutuhkan seorang tutor atau teladan untuk menunjukan seperti apa bentuk mentaati Firman TUhan, seperti apa yang harus kita lakukan sesuai Firman Tuhan.

Kita semua tahu akan kata-kata Yesus yang beriku ini, “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” [Yohanes 13:15]. Juga dalam 1 Yohanes 2:6 dimana kita harus hidup sama seperti Kristus hidup, atau dalam Efesus 4:13 dimana kita semua harus bertumbuh sampai menjadi serupa dengan Kristus. Tetapi persoalannya seperti apakah menjadi seperti Yesus? Bagaimana kita tahu apa yang diperbuat Yesus saat menghadapi masalah seperti yang aku hadapi saat ini? Kita tidak melihat Yesus tetapi kita hanya membaca tulisan dan pengajaran Yesus yang ada didalam Alkitab saja. Bagaimana kita bisa menjadi seperti Kristus jika kita tidak melihat teladan hidup yang memberikan tutor kepada kita seperti yang dikatakan oleh Paulus.

Hendaklah kamu menurut teladanku, seperti aku pun menurut teladan Kristus. [1 Korintus 11:1 TL]

Didalam membaca Alkitab dan mengenal dan memahami apa yang diperkenan oleh Allah dan apa yang harus dilakukan seperti Kristus, tidak semua dapat dengan mudah memahaminya. Beberapa orang mungkin kesulitan, beberapa lagi dari mereka telah melewati masa-masa pengolahan dan dapat menjadi teladan, lewat merekalah kita semua belajar menjadi sama seperti Kristus. Menjadi seperti Kristus bukan berarti kita mengimajinasikan Yesus didalam angan-angan dan membayangkan dalam pikiran kita apa yang akan diperbuatNya, tetapi kita tahu apa yang diajarkanNya bukan dari imajinasi kita tetapi dari Firman Tuhan. Disinilah keteladanan itu dibutuhkan agar umat Kristiani tidak berimajinasi sesuai pikirannya sendiri, tetapi meniru teladan orang-orang yang telah meneladani Kristus. Lewat teladan kehidupan Gembala Sidang, lewat teladan kehidupan pemimpin, guru-guru dan meraka orang-orang yang telah menunjukan kehidupan yang baik, mulia dan tidak berpura-pura, lewat merekalah kita belajar meneladani kehidupan Kristus. Teladan yang nyata dan dapat kita lihat.

Saat saya mengajarkan anak saya untuk menepati janji, mengajarkan alasan dan apa yang dikatakan Alkitab. Mereka bukan belajar dari apa yang saya katakan tetapi belajar dari apa yang saya perbuat. Saat saya berjanji atau menjanjikan sesuatu, mereka berdua melihat bagaimana saya menepatinya atau tidak dan lewat contoh hidup itulah mereka belajar meniru apa yang telah saya ajarkan kepada mereka.

Proses pemuridan yang diajarkan oleh Kristus adalah proses meneladani dan diteladani. Saat kita belajar dari keteladanan para pemimpin kita, maka kita juga diajar untuk menjadi teladan bagi orang-orang disekitar kita.

Keteladan tidak ditentukan apakah seorang harus berusia lebih tua, atau lebih berkedudukan dalam masyarakat atau seorang yang telah lama menjadi Kristen, tetapi berdasarkan kesaksian hidup kita.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. [1 Timotius 4:12]

Paulus meniru teladan Yesus, Timotius meniru teladan Paulus dan jemaat di Efesus meneladai Timotius. Demikian juga kita belajar tentang bagaimana hidup sesuai Firman Tuhan menjadi serupa dengan Kristus lewat meneladani dan diteladani. Karena itu marilah kita belajar untuk menjaga diri kita dan ajaran kita agar kita dapat menjadi teladan bagi dunia ini (1 Timotius 4:16).

Bagaimana caranya kita menjadi teladan?

Pertama adalah meninggalkan hidup dosa

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. [Ibrani 12:1]

Hidup kita bagaikan awan yang mengelilingi kita, ada banyak mata melihat dan memperhatikan bagaimana kita hidup sebagai murid Kristus. Saat kita mengaku Kristen dan mengenal hukum-hukum Allah tetapi hidup sebagai seteru salib, tentu orang-orang yang ada disekitar kita akan melihat dan mereka akan menghinakan Allah karena perbuatan kita (Roma 2:21-24). Jika demikian dapatkah kita menjadi teladan bagi mereka?

Menyadari bahwa mau tidak mau kita adalah teladan bagi sekeliling kita adalah permulaan hidup menjadi teladan. Penghalang pertama adalah beban dan dosa yang membuat kita tidak dapat menunjukan pribadi Kristus pada dunia, khususnya pada orang-orang disekitar kita. Tinggalkan beban dan dosa, mari kita memulai hidup kudus didalam Kristus dan menjadikan diri kita teladan bagi dunia.

Kedua adalah buang ragi kemunafikan

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. [Lukas 12:1]

Ragi itu mengkamirkan adonan kata 1 Korintus 5:6, sedikit saja telah membuat seluruh hidup ini menjadi rusak. Yesus memperingati agar kita jangan munafik seperti orang Farisi. Orang Farisi adalah golongan Yahudi yang mentaati Taurat lebih dari golongan Yahudi lainnya dengan keras dan disiplin (Kisah Rasul 26:5), tetapi apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah kemunafikan dari kehidupan mereka yang sebenarnya. Yesus katakan seperti kuburan yang bagus dari luar dengan cat yang bersih tetapi dalamnya tulang belulang dan mayat busuk (Matius 23:27).

Didalam komunitas orang beriman, kita dituntut untuk hidup kudus dan bertumbuh dalam kerohaniaan. Jika didalam dunia status sosial seseorang dinyatakan dari kekayaan, gelar dan kedudukannya, maka didalam komunitas orang beriman adalah kekudusan, pertumbuhan rohani dan pengertiannya. Karena tuntutan status kerohanian inilah juga yang membuat orang beriman dapat menjadi munafik (kemunafikan orang Farisi). Sedikit saja kita telah berpura-pura kuat, kudus dan tanpa cacat cela, maka seluruh hidup kita menjadi rusak (khamir) oleh kemunafikan tesebut.

Pada saat itu, kita dapat memberikan teladan hanya didepan orang, hanya saat digereja atau dipertemuan ibadah saja, selebihnya didalam kehidupan pribadi, dirumah, didalam kamar, dikantor dan ditempat-tempat dimana saudara seiman tidak tampak, kita hidup didalam kelemahan daging. Suatu saat, seperti yang dikatakan Ibrani 12:1, kemunafikan akan tampak karena sesungguhnya bukan hanya saudara seiman saya yang melihat dan meneladani hidup, tetapi juga orang-orang disekitar kita (1 Petrus 2:12).

Seorang yang munafik tidak mungkin dapat menjadi teladan bagi sekitarnya, walau tampaknya sangat alim atau rohani, tetapi kebusukannya akan segara tampak sebab menjadi teladan itu adalah atas seluruh hidupnya.

Ketiga adalah hidup didalam integritas

He who walks with integrity walks securely, But he who perverts his ways will become known. [Amsal 10:9 NKJV]

The man of integrity walks securely, but he who takes crooked paths will be found out. [Amsal 10:9 NIV]

Terjemahan ayat (NKJV) tersebut adalah, “Dia yang berjalan dengan integritas berjalan aman, Tapi dia yang penyimpang jalannya akan diketahui.” sedang dalam NIV disebut “…tapi dia yang mengambil jalan bengkok akan diketahui.”

Kata “integrity” dalam kamus memiliki arti ketulusan hati, kejujuran, keutuhan dan integritas. Kesemuannya memiliki pengertian yang sama yaitu sesuatu yang utuh, tidak ada kepalsuan baik dari luar maupun dalam tanpa ada yang disembunyikan menjadi sesuatu yang dapat dilihat secara lengkap dan penuh. Kata yang panjang itu disingkat dengan kata integritas.

Didalam Alkitab TB, kata tersebut dituliskan, “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” Kata Ibrani תם (baca: tom) yang artinya integrity diterjemahkan dengan bersih kelakuannya, tetapi jika kita melihat dari terjemahan lain maka kita tahu kata itu bukan sekedar bersih kelakuan saja tetapi tentang keutuhan pribadi. Bukan hanya bersih dari luarnya saja tetapi juga didalamnya.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. [Matius 23:25-26]

Hidup didalam integritas adalah syarat yang harus ada agar hidup kita dapat menjadi teladan bagi sekitar kita. Kita siap untuk dituru dan diikuti secara utuh seluruh hidup kita, baik perkataan, tingkah laku, iman, pengharapan, kasih, kesetiaan, kesucian dan ketulusan hati kita.

Keempat adalah berpegang teguh pada pengajaran

Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. [Ibrani 3:14]

Firman Tuhan yang telah kita dengar, kita baca dan kita percayai, haruslah kita pegang teguh sampai kepada akhir. Tidak mudah diombang ambingkan dengan segala macam hiruk-pikuk dunia ini (Efesus 4:13-15). Pada saat pendirian kita teguh, maka kita melangkah, memutuskan dan bertindak juga dengan yakin dan tanpa keraguan. Karena itulah kita perlu berakar didalam Firman Tuhan, sehingga kita memiliki pondasi iman yang kuat.

Menjadi taladan haruslah memiliki prinsip hidup yang kokoh. Memiliki panduan yang jelas bagaimana kita menjalankan hidup ini dan tidak mudah dihasut dan dipengaruhi oleh bujukan duniawi dan illah jaman ini.

Saat kita kokoh pada prinsip hidup sesuai Firman Tuhan, maka timbulah kebiasan-kebiasaan yang menjadi teladan bagi orang disekitar kita. Didalam 1 Korintus 11:2, dituliskan “Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.” Jika kita melihat dalam NKJV atau KJV maka didapati disana kata “teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu” dituliskan “keep the traditions just as I delivered them to you.” Kata ajaran diperjelas gambarannya sebagai sebuah tradisi atau kebiasaan (ordinance) sebab kata itu berasal dari kata παραδοσις (baca: paradosis) yang artinya ajaran yang diajarkan sebagai tradisi. Jika kita baca ayat diatasnya 1 Korintus 11:1 yang tadi kita telah baca, maka jelas bahwa Paulus mengatakan ikutlah teladanku seperti aku mengikut teladan Kristus adalah tentang kebiasaan-kebiasaan hidup sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga menjadi sebuah tradisi kekristenan atau lebih sempit sebagai tradisi kita didalam menjalani hidup didunia ini.

Karena itu didalam menjadi teladan, kita tidak hanya membaca dan belajar Firman Tuhan tetapi menjadikan Firman Tuhan itu sebagai tradisi kehidupan kita sehingga orang-orang melihat kehidupan kita adalah kehidupan Kristus yang dapat diteladani.

Saat kita mengetahui bahwa kita seharusnya mengucap syukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, maka kita meneladani orang-orang yang telah dahulu dengan berdoa mengucap syukur pada saat makan. Sehingga saat ini adalah sebuah kebiasaan orang Kristen untuk mengucap syukur saat kita hendak makan. Kebiasaan ini saya ajarkan kepada kedua anak saya dengan disertai dasar Firman Tuhan yang mendasari perbuatan tersebut. Saat mereka terkadang lupa berdoa, mereka melihat teladan dari saya dan isteri saya sehingga mereka tidak ada bantahan untuk tetap berdoa dimana saja baik dirumah, didepan umum maupun di tempat ia sendirian. Ini adalah bagian dari pemuridan yang diajaran oleh Kristus.

Kelima adalah membiasakan melawan keinginan sendiri

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. [Matius 16:24]

Didalam Lukas 14:27, disebutkan kalau kita tidak melakukan hal itu maka kita tidak dapat menjadi murid Kristus, sebab seorang murid harus meneladani apa yang dilakukan oleh gurunya yang menjadi tutor dalam menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah.

Menyangkal diri adalah sikap dimana kita tidak menuruti kemauan diri sendiri yang lahir dari hawa nafsu daging ini. Setiap hari kita harus melawan keinginan daging ini sehingga kita tidak menuruti nafsunya yang membawa kita kepada dosa. Memang terkadang belum disebut dosa, tetapi telah mengandung dosa yang tidak lama akan menjadi dosa. Karena itu mulai dari pikiran kita harus menaklukannya pada kehendak Kristus (Filipi 2:5, 2 Korintus 10:5).

Memikul salib, adalah kelanjutan dari menyangkal diri. Setelah kita tidak menuruti kemauan hawa nafsu kita, maka akan timbul perlawanan dari daging ini yang berupa gejolak hati dan untuk itulah kita harus salibkan daging ini (1 Petrus 4:1). Maksudnya bukan menyalibkan secara jasmani tubuh kita, tetapi merelakan diri menanggung penderitaan seperti seorang yang tersalib dengan menolak keinginan hawa nafsu tubuh ini.

Saat saya melihat teman-teman disekitar saya dalam waktu yang hampir bersamaan mereka mengganti handphone mereka dengan type yang terbaru dan termuktahir, maka timbul dari dalam diri saya keinginan juga mengganti handphone saya yang juga masih belum bisa dibilang kuno dengan model lebih baru dari mereka dan lebih muktahir dan lebih bergaya. Tetapi saya sadar keinginan itu lahir dari hawa nafsu daging yaitu keangkuhan hidup sebab yang saya miliki masih berfungsi baik dan mencukupi semua kebutuhan. Saya dapat membeli handphone idaman saat itu juga, tetapi Roh Kudus mengingatkan saya dan saya memilih menyangkal keinginan saya tersebut dan saat bertemu teman-teman dan melihat saya masih saja pakai yang itu-itu juga, mereka mendesak saya untuk membeli yang terbaru seperti kebayakan teman-teman. Keinginan daging saya tekan dan habiskan itulah salib yang harus kita pikul, bahkan jika diejek sekalipun itu bagian dari salib yang harus kita pikul setiap hari.

Saat kita terbiasa menyalibkan daging ini, dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita maka gambaran Kristus terpancar dalam kehidupan kita dan orang-orang disekitar kita melihat dan meneladani apa yang kita ajarkan dan kita lakukan sebagai contoh hidup.

Keenam adalah rela berbagi hidup

Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. [1 Tesalonika 2:8]

Bukan hanya kita menyampaikan kabar baik, mengajarkan hukum-hukum Allah dan apa yang berkenan kepadaNya, tetapi juga kita memberi hidup kita bagi mereka. Proses pemuridan terjadi jika kita berani membagi hidup kita kepada orang-orang yang ada disekitar kita. Mengorbankan waktu-waktu kita bagi mereka dan memberikan apa yang ada pada kita bagi pertumbuhan kerohanian mereka. Bagian ini memang merupakan yang tersulit.

Tidak mudah seorang membagikan hidupnya bagi orang lain. Tetapi sebagai murid Kristus dimana kita juga dituntut untuk memuridkan orang lain, didalamnya terdapat proses peneladanan dan untuk menjadi teladan tidak bisa tidak terlepas dari rela berbagi hidup dengan mereka.

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. [Filipi 2:3-4] Lihat juga 1 Korintus 10:24

Kita harus menganggap orang lain lebih penting dari kita, jika kita dapat melakukan hal itu, maka kita dapat juga menjadi teladan yang meneladani kehidupan Kristus. Jika kita menganggap orang lain lebih penting, maka kita akan melayani orang penting tersebut bukan sebaliknya kita merasa lebih penting dan menuntut dilayani dan difasilitasi. Perbuatan itu walau tampak wajar bagi orang dunia saat seorang yang berkedudukan dilayani, tetapi ia tidak memancarkan pribadi Kristus yang dapat kita teladani.

Ketujuh adalah milikilah kasih yang terus disempurnakan

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. [1 Korintus 13:3]

Terakhir adalah kasih. Tanpa kasih kita dapat menjadi teladan, dapat berbagi hidup dan menampilkan sikap, perbuatan dan tindakan yang terpuji, mulia dan diperkenan banyak orang, tetapi tanpa kasih semua itu sia-sia. Kasih Allah yang harus mendasari semua perbuatan kita.

Kasih akan timbul dan semakin kuat jika kita hidup didalam Roh, karena kasih merupakan bagian dari buah yang dihasilan oleh Roh Kudus (Galatia 5:22-23) dan sebagai tanda bagi kita (1 Yohanes 3:10). Semakin kita menjauhkan kedagingan dan mematikan keinginannya, serta hidup didalam pimpinan Roh Kudus maka kasih itu akan semakin tampak dan kita siap menjadi teladan dan meneladani orang-orang yang menjadi pendahulu kita.

Milikilah kasih dan bertumbulah dalam kasih Allah, karena kasih itu kekal.

Penutup

Demikian kita telah tahu bagaimana kita belajar meneladani orang-orang yang menjadi mentor atau pemimpin kita dan juga kita belajar menjadi teladan buat orang-orang disekitar kita, khususnya orang dekat kita.

Mulai saat ini, mari kita mengenapi ketujuh syarat tersebut dan biarlah terang Kristus bercahaya dalam setiap kehidupan orang beriman didalam teladan yang baik yang harus kita ajarkan kepada dunia.

Catatan :
Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan arti kata: te·la·dan n sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tt perbuatan, kelakuan, sifat, dsb). Berbeda dengan arti kata imitasi didalam kehidupan sosial, arti kata imitasi adalah meniru seseorang secara keseluruhan termasuk gaya berjalan, bicara, baju, permen kesukaan dan bahkan potongan rambutnya. KBBI menulis arti meng·i·mi·ta·si v meniru: anak-anak bisa ~ perilaku, tetapi tidak bisa memahami makna sebenarnya. Sehingga maksud dari kata teladan bukan meniru segalanya secara keseluruhan dari pemimpin, gembala sidang ataupun tokoh agama yang menjadi teladan kita.

GBU

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: