h1

Hiduplah sebagai anak-anak Allah

7 December 2010

[Tema Natal]

Lebih dari 2700 tahun yang lalu, seorang nabi menyampaikan pesan Allah kepada dunia. Janji tentang bangsa-bangsa lain yang akan diselamatkan melalui Israel. Ia menceritakan sesuatu yang tidak dipahami pada masa itu, tetapi sekarang menjadi jelas dan menjadi berita gembira bagi semua manusia. Ia adalah seorang yang seharinya dipanggil dengan nama Hosea.

Lalu berfirmanlah Ia (Allah): "Berilah nama Lo-Ami kepada anak itu, sebab kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu." Tetapi kelak, jumlah orang Israel akan seperti pasir laut, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung. Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka: "Kamu ini bukanlah umat-Ku," akan dikatakan kepada mereka: "Anak-anak Allah yang hidup." [Hosea 1:9-10]

Bangsa-bangsa yang dulunya bukan disebut umat Allah, yang Allahnya bukan TUHAN, kelak akan disebut umat-Ku oleh TUHAN dan mereka akan disebut sebagai anak-anak Allah yang hidup. Kitalah yang dimaksud oleh Allah saat itu. Kitalah yang dulunya bukan umat Allah, bukan bangsa pilihan Allah tetapi sekarang kita disebut anak-anak Allah, umat Israel rohani.

Janji itu digenapi lebih dari 2000 tahun lalu, di Betlehem kota Daud, lahirlah seorang anak diatas palungan dari seorang wanita yang masih perawan seperti yang disampaikan oleh nabi Yesaya, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. [Yesaya 7:14]

Yesus lahir kedunia untuk membuka jalan bagi kita agar kita semua dapat disebut umat-Ku oleh TUHAN dan kita semua menjadi anak-anak Allah yang hidup. Sebab kedatanganNya kedunia memberikan kuasa kepada kita untuk dapat menjadi anak Allah seperti yang dijanjikan TUHAN sejak 2700 tahun lalu lewat nabi Hosea.

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah”. [Yohanes 1:12-13]

Kita semua adalah anak-anak Allah (Galatia 3:26), anak yang dilahirkan dari Roh Allah bukan dari darah dan daging (Roma 8:15). Kita adalah anak Allah bukan anak dalam arti jasmani tetapi kita desebut anak-anak Allah didalam roh kita. Saat ini mungkin tidak nampak jelas diri kita sebagai anak-anak Allah, tetapi akan tiba saatnya Allah akan menyatakan kita sebagai anak-anakNya pada saat Kristus datang didalam kemuliaanNya (Roma 8:19).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” [1 Yohanes 3:12]

Sebelum saatnya itu tiba, kita sebagai anak-anak Allah wajib hidup sebagaimana anak-anak Allah hidup, sehingga kita berlayak disebut anakNya saat Kristus menyatakan diriNya di akhir jaman.

“Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”. [1 Petrus 1:13-16]

Rasul Petrus menekankan tentang pentingnya ketaatan, jangan menuruti hawa nafsu dan kekudusan, sehingga kita layak menyebutnya ya Abba, ya Bapa. (ya Ayah, ya Papa), sebab kita memang seperti peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Kita harus menjadi serupa denganNya dalam segala kehidupan kita (Matius 5:48)

JADILAH ANAK-ANAK YANG TAAT (PENURUT)

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih”. [Efesus 5:1]

Anak-anak Allah yang dikasihi adalah seorang penurut Allah. Ia hidup menuruti kehendak Allah sebagai Bapanya, bukan hidup menurut kehendak Iblis. Sebab jika ia menuruti kehendak Iblis maka ia adalah anak-anak Iblis, karena ia menjadikan diri serupa dengan Iblis (Yohanes 8:44, 1 Yohanes 3:10). “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu”. [Yohanes 8:44a] Tetapi tidak dengan kita, kita bukan penurut-penurut Iblis, kita adalah anak-anak Allah yang menuruti kehendak Allah sebagai Bapa kita, sama seperti Yesus telah menjadi teladan kita didalam ketaatanNya kepada Bapa bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8).

Ketaatan kita kepada Allah bukan dilihat dari ucapan bibir saja, bukan dari pernyataan diri saja, tetapi Allah melihat perbuatan kita, melihat tindakan kita. Saat Yesus bercerita tentang dua orang anak didalam Matius 21:28-31, "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." ….

Dikisahkan Yesus seorang anak menjawab “ya” tetapi tidak melakukan dan anak yang satunya menjawab “tidak” tetapi kemudian ia menyesal dan melakukannya, maka Yesus membenarkan bahwa anak yang melakukan kehendak bapanya adalah anak yang kedua yang semula berkata “tidak”. Perumpamaan itu menunjukan bahwa yang penting bukan apa yang kita ungkapkan, tetapi apa yang kita lakukan. Mungkin banyak lagu yang kita nyanyikan tentang pernyataan ketaatan kita, mungkin banyak pengakuan dan penyesalan dalam doa-doa dan penyembahan sehingga kita menyatakan akan mentaati Allah, tetapi semua pernyaan tersebut tidak ada artinya jika tidak dinyatakan didalam perbuatan.

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” [Lukas 6:46]

Ketaatan adalah bagian dari sifat yang harus dimiliki oleh anak-anak Allah.

JANGAN TURUTI HAWA NAFSU

Bagi sebagian orang tidak mudah untuk menjadi penurut-penurut Allah, tetapi sebagian lagi merasa mudah untuk menjadi anak-anak Allah yang taat akan Firman Tuhan dan hidup dalam kebenaran. Sebab untuk menjadi anak-anak Allah yang taat akan kehendak Bapa, bukan dilakukan dengan kekuatan manusia, tetapi oleh kuasa Roh Allah (2 Korintus 3:5-6).

“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam”. [Zakaria 4:6]

Seperti yang dikatakan Roma 8:14, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”. Seorang penurut Allah adalah seorang yang dipimpin oleh Roh Allah, bukan dipimpin oleh hawa nafsunya, bukan oleh kebencian dan kedengkiannya, bukan oleh keserakahannya. Kita sebagai anak-anak Allah harus merelakan diri kita dipimpin oleh Roh Allah, sebab Roh akan membawa kita kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13).

Jika kita hidup dipimpin oleh Roh Allah, maka jelas akan terlihat tanda-tandanya seperti juga yang dikatakan oleh Roma 8:13, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Seorang yang dipimpin Roh Allah akan mematikan perbuatan daging dan hawa nafsunya. Sebab keduanya bertentangan kata Galatia 5:16-17, sehingga jika kita menuruti keinginan Roh maka kita melawan keinginan daging demikian sebaliknya. Mematikan perbuatan daging dan hawa nafsunya akan dirasakan tubuh kita dengan rasa sakit didalam diri kita (1 Petrus 4:1).

Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, [Filipi 1:29]

Menderita disini bukan hidup susah, tetapi rasa sakit dan menderita didalam daging ini karena menolak dan mematikan keinginan dan hawa nafsunya. Roma 13:14 mengatakan, “…janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” didalam Alkitab Terjemahan Lama ditulis “dan jangan melazatkan tabiat tubuhmu sehingga menguatkan hawa nafsu.” Seorang yang suka menyenangkan tubuhnya, maka hawa nafsunya akan semakin kuat dan kecenderungan hatinya selalu berbuahkan dosa dan kejahatan dihadapan Allah. Jika telah demikian bukan kehendak Allah lagi yang dilakukan, dan masih dapatkah ia disebut anak-anak Allah?

Tidak ada seorangpun yang sanggup melawan nafsu dagingnya sendiri, karena kita masih mengenakan tubuh daging ini. Karena itu Firman Allah katakan “hiduplah oleh Roh” karena hanya dengan kekuatan dari Roh Allah saja kita dapat mematikan kedagingan sebelum hawa nafsu itu muncul. Yesus sendiri mengatakan bahwa daging ini lemah (Matius 26:41), karena itu jangan bermain-main dengan hawa nafsu yang akan membawa maut dalam hidup kita. Jika Roh Kudus telah mengingatkan kita, menegur kita, baik melalui hati nurani, teman, pendeta, saudara maupun anak kecil sekalipun, jangan keraskan hati (Kisah Rasul 7:51). Segeralah bertindak sesuai Firman Tuhan dimana kita telah diingatkan oleh Roh Allah (Yohanes 14:26), jangan ditunda (Ibrani 3:13).

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman," [Ibrani 3:15]

Begitu keinginan daging itu dirasa mulai muncul didalam pikiran, jangan tunda dan mengerasakan hati, segera matikan keinginan daging dan hawa nafsu tersebut sebelum menjadi besar dan tidak terkendali. Jadilah penurut-penurut Allah dan jangan menuruti hawa nafsu kita.

HENDAKLAH KAMU MENJADI KUDUS

“Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa." [2 Korintus 6:17-18]

Kudus artinya dipisahkan dari apa yang najis. Kita sebagai anak-anak Allah dituntut untuk hidup menjauh dan keluar memisahkan diri dari apa yang najis yaitu dunia dan segala keinginan duniawi yang dibangkitkan oleh hawa nafsu daging ini. Jangan mengasihi dunia ini beserta apa yang ada didalamnya sebab semuanya itu akan membawa kita semakin jauh dari Allah (1 Yohanes 2:15-17). Memang kita hidup didunia ini, tetapi kita tidak berjuang dan berusaha seperti orang duniawi (2 Korintus 10:3, 1 Korintus 7:31), cara-cara kita tidak sama dengan mereka, pandangan kita, keputusan dan tindakan kita tidak sama. Hidup kita didunia ini adalah hidup didalam iman.

Dunia ini yang sering mengejek untuk menyesatkan kita saat kita mulai belajar menjadi anak-anak Allah yang mentaati Firman Tuhan didalam kekudusan dengan pandangan-pandangan dan filsafat mereka yang kosong.

Yusuf adalah gambaran seorang anak yang taat, menjadi penurut kehendak bapanya, ia tidak sama dengan saudara-saudaranya yang berbuat jahat (Kejadian 37:2-4). Tetapi sebagai anak yang berbeda dengan yang lain, ia telah menjadikan dirinya ejekan bagi saudaranya yang hidup didalam daging. Mungkin kita akan disebut anak mama, calon pendeta, penakut, kuper (kurang pergaulan) atau kuno, kolot, aneh dan sebagainya. Tetapi kita harus ingat, bahwa mereka melakukan hal itu sebab kita bukan bagian dari mereka (Yohanes 15:19).

Jika orang-orang di dunia biasa hidup didalam kebencian, iri hati, perbuatan curang dan jahat, perkataan mereka penuh dengan kata-kata yang kotor dan jijik, maka kita tidaklah demikian, karena kita tidak hidup seperti orang duniawi. Efesus 5:3-4 mengatakan, “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.” Mungkin mereka menyebut diri mereka gaul, menyebut dirinya maju, menyatakan diri sebagai anak jaman ini, bebas berbuat asal bertanggung jawab. Tetapi kita harus ingat bahwa semua itu kesia-siaan yang berujung pada penghakiman (Pengkotbah 11:9). Waspadalah ! Efesus 5:6-7 berkata, “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Jangan dengarkan nasihat bijak mereka, sebab mereka sedang berjalan kepada jurang kebinasaan. Orang buta menuntun orang buta keduanya akan celaka, tetapi orang bodoh adalah orang celik yang membiarkan dirinya dituntun oleh orang buta.

Kita harus memisahkan diri dari dunia ini, hidup kudus dan tersembunyi bersama Kristus (Kolose 3:3) didalam dunia yang akan lenyap beserta segala keinginannya walau kita masih hidup didunia ini. Kita sebagai anak-anak Allah hidup didalam ketaatan dan dengan hati yang lemah lembut menjadi anak-anak penurut Firman Tuhan.

supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, [Filipi 2:15]

JADILAH TERANG BAGI DUNIA

Allah menjadikan kita anak-anakNya, agar kita juga menjadi terang bagi bangsa-bangsa, sehingga mereka dapat melihat terang Kristus bercahaya melalui hidup kita. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaanNya.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." [Matius 5:14-16]

Saat kita menjadi terang bagi dunia, saat kita menyatakan perbuatan-berbuatan baik kita, perbuatan yang lahir dari kasih Allah, maka kita telah menelanjangi kegelapan dan dosa, sehingga banyak orang akan dapat melihat cahaya injil dan mereka juga ikut menerima anugrah keselamatan didalam Kristus.

Mari, jadilah kita anak-anak Allah yang kudus yang senantiasa taat akan kehendak Allah dan menjauhi hawa nafsu yang membinasakan. Agar nama Bapa kita dipermuliakan dan ditinggikan dimuka bumi ini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: