Archive for the ‘Artikel’ Category

h1

KESELAMATAN OLEH KUASA ALLAH

18 March 2011

(ditulis untuk sebuah milis kristen dimasa yang lama, disampaikan ulang di KM GBZ Dalung, 18 Maret 2011)

Saya terkadang merenungkan, mengapa saya bisa menjadi seorang Kristen. Mengapa saya begitu yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kepada Allah Bapa di Surga, jalan kepada keselamatan dan kehidupan kekal. Kadang saya merenung mengapa saya begitu bodoh menolak sesuatu yang menyenangkan, hanya karena Alkitab melarangnya, hanya karena saya percaya Allah tidak menyukainya. Mengapa saya mempercayai cerita tentang keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus?

Sampai hari ini saya tetap percaya.

Kebetulan kemarin saya dan istri bercakap-cakap dan sedikit menyingung tentang mengapa Allah menciptakan manusia dan diakhiri dengan tawa bersama, seraya mengakui bahwa kita ini orang-orang bodoh yang coba memahami Allah dengan logika dan hikmat manusia. Kita menjadi beriman bukan karena kita memahami logika tentang Allah, atau telah mencerna masuk akalnya penebusan Kristus. Tidak, kita memang orang-orang bodoh yang mendapat kasih karunia Allah untuk percaya kepada berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:8-9). Cobalah Anda membaca I Korintus 2:1-16, di sana kita akan melihat bahwa kita menjadi seorang yang beriman bukan karena telah mendengarkan presentasi yang luar biasa tentang teori keselamatan, tetapi karena kasih karunia Allah, karena ada kuasa Allah yang dinyatakan dalam hidup kita.

Sebab itu 1 Korintus 4:20 mengatakan, "Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." Kita mendengar dan menerima kabar baik di dalam Kristus bukan karena perkataan, bukan juga karena logika manusia, bukan karena telaah ilmiah, tetapi karena kuasa Allah. Tuhan Yesus waktu di dunia dan menyampaikan kabar baik kepada orang Israel, bukan dengan kata-kata indah dan ilmiah, tetapi Alkitab menuliskan bahwa Ia menyampaikan dengan kuasa (Matius 7:29, Lukas 4:32, Markus 1:22,27). Demikian juga dengan kita. Kita menerima perintah untuk menyampaikan kabar baik tersebut bukan dengan kata-kata hikmat, tetapi dengan disertai kuasa Allah.

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)

Bacalah juga dalam Lukas 24:49, jelas disebutkan bawah kita akan diperlengkapi dengan kuasa dari tempat yang tinggi untuk memberitakan kabar baik dan menjadi saksi Kristus. Juga dalam Kisah Para Rasul 1:8, bacalah dan Anda akan menemukan bahwa setelah kita menerima kuasa kita diutus untuk menjadi saksi Kristus ke seluruh dunia.

Berita tentang injil jika kita sampaikan dengan hikmat dunia, dengan logika, secara ilmiah, dan dengan kata-kata yang manis dan meyakinkan maka kita tidak akan melihat pertobatan, sebab mereka menjadi percaya bukan karena kata-kata kita, tetapi karena kuasa Allah. Bacalah Kisah Para Rasul, bagaimana injil mula-mula disebarkan mulai dari Yerusalem sampai ke seluruh dunia, semua dilakukan dengan kuasa Allah. Bahkan mereka berdoa memohon kuasa Allah sebelum mereka keluar dengan berani memberitakan kabar baik tersebut (Kisah Para Rasul 4:29:31). Setiap kesaksian, setiap berita, dan kabar baik tentang Kristus yang kita sampaikan, Allah berjanji akan meneguhkannya dengan kuasa-Nya (Ibrani 2:4, Markus 16:20).

Demikian juga dengan saya dan Anda, mengapa menjadi begitu bodoh mempercayai cerita tentang keselamatan, hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebab kita bukan mendengar kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi karena kita telah dijamah oleh kuasa tersebut.

Mulai hari ini, marilah kita menjadi saksi-saksi Kristus yang disertai dengan kuasa dari tempat yang tinggi (berdoalah untuk itu). Terkadang tanpa berkata-kata pun kita dapat membuat seseorang bertobat dan menerima Kristus. Saya melihat sendiri kuasa Allah yang berkerja pada dua orang teman saya, satu di SMA dan satu lagi waktu kuliah tanpa mengutarakan kata-kata. Mereka yang datang sendiri untuk mencari Yesus, dan saat itulah injil sampai kepada mereka.

Injil harus diberitakan dengan kuasa Allah, bukan dengan kata-kata hikmat (apalagi debat, stop bagi mereka yang berdebat antar agama, kebenaran tidak ditemukan dalam debat agama). Berita injil adalah soal kuasa Allah, bukan soal pemilihan kata-kata dan tatacara berbicara yang meyakinkan.

KITA MENGINJIL BUKAN UNTUK MENAMBAH JUMLAH ORANG KRISTEN

Banyak orang Kristen, malu atau takut saat mereka harus memberitakan injil. Sebab banyak orang kristen menganggap bahwa mereka sedang mengajak orang untuk memeluk agama kristen, mengajaknya datang kegerejanya dan menjadi jemaat sebuah gereja. Kita menginjil bukan bertujuan untuk menjadikan mereka pemeluk agama Kristen, tetapi kita menyampaikan injil yang artinya “kabar baik” kepada setiap manusia agar mereka didamaikan dengan Allah (2 Korintus 5:20). Mereka yang dulunya adalah seorang yang dimurkai Allah, seorang yang hidup dalam kutuk Allah dan hidup dalam hukuman, karena dosa dan kejahatan mereka, kita datang membawa kabar baik, bahwa Yesus telah datang, dan Ia telah mengutus kita, bukan untuk menjadi pendamai, tetapi menjadi perantara pendamaian, dimana Yesus yang adalah pendamai antara dia dengan Allah. Jika kita sudah tahu posisi kita, maka seharusnya kita berani untuk membawa berita injil dalam hidup kita. Sebab kita hanya perantara saja, kita adalah saksi sedangkan pendamainya adalah Yesus.

Berita injil atau kabar baik kita bawa bukan saja didalam mulut kita, tetapi juga didalam hidup kita, sebagai kesaksian yang hidup (bukan kesaksian mulut saja) yang dapat dilihat orang banyak seperti sebuah surat kabar yang dapat dibaca semua orang melalui hidup kita (2 Korintus 3:2-3). Karena itu, sudah seharusnya kita hidup didalam terang, kita tinggalkan beban dosa dan kita lepaskan semua hawa nafsu daging ini, jadilah surat Kristus yang dapat dibaca oleh semua orang (Ibrani 12:1-2). Pada saat itu, seperti yang dijanjikan Yesus, kita akan menerima kuasa yang dapat mengubahkan hidup orang. Kuasa yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal.

MENERIMA KUASA DARI TEMPAT TINGGI

Bagaimana kita dapat memberitakan injil dengan kuasa? Alkitab menulis tentang murid-murid pertama kali menerima kuasa itu, mereka diperintahkan demikian; “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." (Lukas 24:49). Mereka disuruh untuk tinggal didalam kota tersebut. Pada saat itu mereka semua ketakutan, berhubung status Yesus saat itu sebagai pemberontak yang dihukum mati oleh sebab fitnah dari Ahli Taurat dan orang Yahudi (Yohanes 20:19). Para pengikutnya menjadi sorotan, bahkan Petrus sampai meyangkal ia sebagai pengikut Yesus tiga kali. Mereka kerap kali berkumpul bersama diatas loteng yang disewa mereka didalam ketakutan. Apa yang dilakukan mereka diatas loteng tersebut sambil menunggu yang dijanjikan Bapa, itulah kunci kuasa Allah.

“Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." (Kisah Rasul 1:4-5)

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Rasul 1:8)

Kisah Rasul 1:12-14, jika kita membacanya kita tahu bahwa mereka berkumpul bersama di Yerusalem, tekun dan sehati didalam doa. Setiap kali mereka berkumpul dan berdoa sampai pada hari Petakosta, mereka menerima babtisan Roh Kudus, dan mereka menerima kuasa dari Allah seperti yang dijanjikan Bapa (Kisah Rasul 2:1-4). Setelah mereka menerima kuasa tersebut, ada kuasa yang mendorong mereka, sehingga Petrus yang dulunya ditanya anak kecil saja ketakutan, sekarang didalam Kisah Rasul 2:14, Petrus dengan berani berkata-kata dihadapan banyak orang dan Kisah Rasul 2:41 mencatat bahwa kuasa Allah tersebut telah menjamah 3000 orang yang berada disana pada hari Pentakosta. Mereka menerima Yesus dan percaya berita Injil bukan karena kepandaian Petrus berkata-kata tetapi karena kuasa yang bekerja yang membuat mereka bertobat dan menerima Kristus. Bacalah Yohanes 16:8, jelas disebutkan bahwa orang bertobat itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Juga dalam 1 Korintus 12:3, jelas disebutkan bahwa tidak seorangpun dapat mengaku Yesus adalah Tuhan kalau tidak karena kuasa Roh Kudus yang menjamahnya. Petrus berani, demikian juga rasul-rasul yang lainnya ditengah ketakutan mereka kerena mereka diancam dibenci dan dimusuhi oleh orang Yahudi terutama Ahli Taurat dan Farisi, karena mereka tahu, bahwa semua adalah pekerjaan Roh Kudus (2 Korintus 3:5), sedangkan mereka adalah perantara saja, yang dalam bahasa Alkitab adalah saksi.

Kuasa itu turun saat mereka berdoa. Roh Kudus bekerja luar biasa, saat mereka tekun bersehati didalam doa. Bacalah Kisah Rasul 4:23-31, disana dikisahkan saat mereka ketakutan, mereka tekun berdoa dan saat itu Roh Kudus mencurahkan kuasaNya dan keberanian itu timbul, bukan saja keberanian tetapi juga tanda-tanda dan mujizat, sehingga banyak orang dijamah oleh kuasa tersebut dan mereka bertobat. Kisah Rasul 5:12-16, menuliskan betapa hebatnya kuasa yang bekerja didalam hidup mereka. Demikian juga dengan kita saat ini, Roh Kudus bukan sudah undur, tetapi tetap sama seperti saat pertama kali dicurahkan diatas loteng Yerusalem. KuasaNya tetap sama seperti sedia kala, tetapi bedanya sekarang sudah jarang umatNya yang sehati didalam doa (Yesaya 30:15). Seberapa penting doa, didalam pertemuan ibadah? Doa hanya sebuah hiasan disaat pembukaan liturgi ibadah dan penutup liturgi ibadah, segelintir orang ditugaskan berdoa dengan sebutan doa kawal. Apa yang dikawal? Bukankah pertemuan ibadah itu adalah pertemuan didalam doa-doa sehati? Dapatkah petemuan ibadah kita jaman ini membangkitkan kuasa Allah? Banyak umat Kristen memberitakan injil bukan dengan kuasa, tetapi dengan hikmat, ilmiah, masuk akal dan dengan cara-cara yang “smart”. Pernakah rasul-rasul dan Yesus mengajarkan memberitakan injil dengan cara hiburan? Mengadakan pertunjukan enterteiment untuk menarik hati anak manusia sehingga mau mengenal Yesus? Memewahkan tempat pertemuan sehingga menarik kaum tersesat? Memasukan hiburan dan selera muda untuk menjangkau orang muda? Bacalah 2 Timotius 2:22, kita malah diajarkan untuk menjauhi nafsu orang muda, tetapi sekarang gereja telah “dilengkapi” dengan nafsu orang muda, penuh dengan selera muda, nuansa club dan pub. Dapatkah semua itu menobatkan orang, membawa mereka didamaikan dengan Allah lewat Yesus Kristus? Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat menjamah dan mengubah hidup seseorang. Ya hanya kuasaNya saja. Yesus bukan subtitusi hiburan duniawi, tetapi Yesus adalah jalan menuju kehidupan.

Jangan takut memberitakan injil, anda tidak harus menyampaikan orang “hai, jadialah orang Kristen”, tetapi anda memberikan jalan lurus kepada mereka untuk didamaikan dengan Allah melalui Yesus. Mengenalkan kepada mereka jalan kehidupan, entah ia mau atau tidak, bukan keputusan atau kecakapan kita. Kita menjadi saksi bahwa setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, agama apaun, bangsa apapun, suku apapun, bahasa apapun, golongan apapun, derajat apapun mereka semua akan diselamatkan. Mereka oleh dorongan kuasa Roh Kudus akan menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan dan disebut murid-murid Kristus, bukan oleh dorongan kita.

Saya adalah saksi, saat duduk dibangku kelas 3 SMA, saya memulai hidup baru didalam Kristus, tidak ada yang mendorong saya untuk mentaati Firman Tuhan, tidak ada yang membujuk atau memaksa saya untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan, untuk hidup sesuai dengan apa yang saya benar, suci, mulia, adil dan setia, tetapi ada dorongan dari dalam hati untuk melakukan semua hal itu, yang jika direnungkan tampak bodoh. Tetapi saya rela disebut bodoh asalkan menyengangkan hati Tuhan yang telah menjamah hati saya.

Banyak orang menjadi pemeluk agama Kristen, mereka menjalankan liturgi agama tetapi mereka sebenarnya belum menjadi murid Kristus karena Roh Kudus tidak menjamah mereka (mereka adalah pendosa yang berjemaat digereja). Banyak orang memeluk agama Kristen (juga agama yang lain) dengan berbagai alasan duniawi, seperti demi karirnya karena bosnya Kristen, demi keuangan karena di gereja sering dibagi sembako dan bantuan sosial, karena pacar karena syarat menikah mereka harus seagama, karena balas budi saat diajak oleh seseorang datang kegereja, karena kebetulan semua temannya Kristen, atau keluarganya Kristen dan sejuta alasan lainnya, tetapi semua mereka yang disebut beragama Kristen, tidak semuanya adalah murid Yesus yang telah menerima meterai Roh Kudus dan menerima hak menjadi anak-anak Allah. Kita memberitakan injil bukan untuk memenuhi gedung gereja dan mengisi bangku-bangku kosong, tetapi kita memberitkan injil untuk mengisi tempat yang kosong di Kerjaan Surga. Firman Tuhan katakan dalam Roma 11:25 disebutkan bahwa ada jumlah tertentu dari bangsa-bangsa bukan Israel (jasmani) yang akan diselamatkan, yang artinya bukan seluruh dunia akan diselamatkan. Sebab Yesus pernah berkata, “karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7:14) Sedikit orang yang akan mendapati jalan keselamatan itu, sisanya merka jalan dijalan lebar. Kita diutus untuk membawa orang menemukan jalan sempit tersebut, melalui pintu yang sempit pula. Tetapi sebelumnya, kita haruslah juga telah menemukannya.

Sudahkah kita menemukan pintu yang sesak dan jalan yang sempit itu? Sudakah hidup kita telah menjadi suratan Kristus yang terbuka bagi semua orang. Sudahkah kita telah mencerminkan perintah-perintahNya dan telah hidup menurut petunjuk Firman Tuhan? Itulah yang harus kita renungkan sebelum kita dapat menjadi pembawa kabar baik yang disertai dengan kuasa dari tempat yang Maha Tinggi. Siapkanlah diri anda, sebab keselamatan itu bukan soal KTP atau kartu anggota gereja.

Salam didalam kasih Kristus.

h1

Hiduplah sebagai anak-anak Allah

7 December 2010

[Tema Natal]

Lebih dari 2700 tahun yang lalu, seorang nabi menyampaikan pesan Allah kepada dunia. Janji tentang bangsa-bangsa lain yang akan diselamatkan melalui Israel. Ia menceritakan sesuatu yang tidak dipahami pada masa itu, tetapi sekarang menjadi jelas dan menjadi berita gembira bagi semua manusia. Ia adalah seorang yang seharinya dipanggil dengan nama Hosea.

Lalu berfirmanlah Ia (Allah): "Berilah nama Lo-Ami kepada anak itu, sebab kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu." Tetapi kelak, jumlah orang Israel akan seperti pasir laut, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung. Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka: "Kamu ini bukanlah umat-Ku," akan dikatakan kepada mereka: "Anak-anak Allah yang hidup." [Hosea 1:9-10]

Bangsa-bangsa yang dulunya bukan disebut umat Allah, yang Allahnya bukan TUHAN, kelak akan disebut umat-Ku oleh TUHAN dan mereka akan disebut sebagai anak-anak Allah yang hidup. Kitalah yang dimaksud oleh Allah saat itu. Kitalah yang dulunya bukan umat Allah, bukan bangsa pilihan Allah tetapi sekarang kita disebut anak-anak Allah, umat Israel rohani.

Janji itu digenapi lebih dari 2000 tahun lalu, di Betlehem kota Daud, lahirlah seorang anak diatas palungan dari seorang wanita yang masih perawan seperti yang disampaikan oleh nabi Yesaya, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. [Yesaya 7:14]

Yesus lahir kedunia untuk membuka jalan bagi kita agar kita semua dapat disebut umat-Ku oleh TUHAN dan kita semua menjadi anak-anak Allah yang hidup. Sebab kedatanganNya kedunia memberikan kuasa kepada kita untuk dapat menjadi anak Allah seperti yang dijanjikan TUHAN sejak 2700 tahun lalu lewat nabi Hosea.

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah”. [Yohanes 1:12-13]

Kita semua adalah anak-anak Allah (Galatia 3:26), anak yang dilahirkan dari Roh Allah bukan dari darah dan daging (Roma 8:15). Kita adalah anak Allah bukan anak dalam arti jasmani tetapi kita desebut anak-anak Allah didalam roh kita. Saat ini mungkin tidak nampak jelas diri kita sebagai anak-anak Allah, tetapi akan tiba saatnya Allah akan menyatakan kita sebagai anak-anakNya pada saat Kristus datang didalam kemuliaanNya (Roma 8:19).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” [1 Yohanes 3:12]

Sebelum saatnya itu tiba, kita sebagai anak-anak Allah wajib hidup sebagaimana anak-anak Allah hidup, sehingga kita berlayak disebut anakNya saat Kristus menyatakan diriNya di akhir jaman.

“Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”. [1 Petrus 1:13-16]

Rasul Petrus menekankan tentang pentingnya ketaatan, jangan menuruti hawa nafsu dan kekudusan, sehingga kita layak menyebutnya ya Abba, ya Bapa. (ya Ayah, ya Papa), sebab kita memang seperti peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Kita harus menjadi serupa denganNya dalam segala kehidupan kita (Matius 5:48)

JADILAH ANAK-ANAK YANG TAAT (PENURUT)

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih”. [Efesus 5:1]

Anak-anak Allah yang dikasihi adalah seorang penurut Allah. Ia hidup menuruti kehendak Allah sebagai Bapanya, bukan hidup menurut kehendak Iblis. Sebab jika ia menuruti kehendak Iblis maka ia adalah anak-anak Iblis, karena ia menjadikan diri serupa dengan Iblis (Yohanes 8:44, 1 Yohanes 3:10). “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu”. [Yohanes 8:44a] Tetapi tidak dengan kita, kita bukan penurut-penurut Iblis, kita adalah anak-anak Allah yang menuruti kehendak Allah sebagai Bapa kita, sama seperti Yesus telah menjadi teladan kita didalam ketaatanNya kepada Bapa bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8).

Ketaatan kita kepada Allah bukan dilihat dari ucapan bibir saja, bukan dari pernyataan diri saja, tetapi Allah melihat perbuatan kita, melihat tindakan kita. Saat Yesus bercerita tentang dua orang anak didalam Matius 21:28-31, "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." ….

Dikisahkan Yesus seorang anak menjawab “ya” tetapi tidak melakukan dan anak yang satunya menjawab “tidak” tetapi kemudian ia menyesal dan melakukannya, maka Yesus membenarkan bahwa anak yang melakukan kehendak bapanya adalah anak yang kedua yang semula berkata “tidak”. Perumpamaan itu menunjukan bahwa yang penting bukan apa yang kita ungkapkan, tetapi apa yang kita lakukan. Mungkin banyak lagu yang kita nyanyikan tentang pernyataan ketaatan kita, mungkin banyak pengakuan dan penyesalan dalam doa-doa dan penyembahan sehingga kita menyatakan akan mentaati Allah, tetapi semua pernyaan tersebut tidak ada artinya jika tidak dinyatakan didalam perbuatan.

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” [Lukas 6:46]

Ketaatan adalah bagian dari sifat yang harus dimiliki oleh anak-anak Allah.

JANGAN TURUTI HAWA NAFSU

Bagi sebagian orang tidak mudah untuk menjadi penurut-penurut Allah, tetapi sebagian lagi merasa mudah untuk menjadi anak-anak Allah yang taat akan Firman Tuhan dan hidup dalam kebenaran. Sebab untuk menjadi anak-anak Allah yang taat akan kehendak Bapa, bukan dilakukan dengan kekuatan manusia, tetapi oleh kuasa Roh Allah (2 Korintus 3:5-6).

“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam”. [Zakaria 4:6]

Seperti yang dikatakan Roma 8:14, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”. Seorang penurut Allah adalah seorang yang dipimpin oleh Roh Allah, bukan dipimpin oleh hawa nafsunya, bukan oleh kebencian dan kedengkiannya, bukan oleh keserakahannya. Kita sebagai anak-anak Allah harus merelakan diri kita dipimpin oleh Roh Allah, sebab Roh akan membawa kita kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13).

Jika kita hidup dipimpin oleh Roh Allah, maka jelas akan terlihat tanda-tandanya seperti juga yang dikatakan oleh Roma 8:13, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Seorang yang dipimpin Roh Allah akan mematikan perbuatan daging dan hawa nafsunya. Sebab keduanya bertentangan kata Galatia 5:16-17, sehingga jika kita menuruti keinginan Roh maka kita melawan keinginan daging demikian sebaliknya. Mematikan perbuatan daging dan hawa nafsunya akan dirasakan tubuh kita dengan rasa sakit didalam diri kita (1 Petrus 4:1).

Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, [Filipi 1:29]

Menderita disini bukan hidup susah, tetapi rasa sakit dan menderita didalam daging ini karena menolak dan mematikan keinginan dan hawa nafsunya. Roma 13:14 mengatakan, “…janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” didalam Alkitab Terjemahan Lama ditulis “dan jangan melazatkan tabiat tubuhmu sehingga menguatkan hawa nafsu.” Seorang yang suka menyenangkan tubuhnya, maka hawa nafsunya akan semakin kuat dan kecenderungan hatinya selalu berbuahkan dosa dan kejahatan dihadapan Allah. Jika telah demikian bukan kehendak Allah lagi yang dilakukan, dan masih dapatkah ia disebut anak-anak Allah?

Tidak ada seorangpun yang sanggup melawan nafsu dagingnya sendiri, karena kita masih mengenakan tubuh daging ini. Karena itu Firman Allah katakan “hiduplah oleh Roh” karena hanya dengan kekuatan dari Roh Allah saja kita dapat mematikan kedagingan sebelum hawa nafsu itu muncul. Yesus sendiri mengatakan bahwa daging ini lemah (Matius 26:41), karena itu jangan bermain-main dengan hawa nafsu yang akan membawa maut dalam hidup kita. Jika Roh Kudus telah mengingatkan kita, menegur kita, baik melalui hati nurani, teman, pendeta, saudara maupun anak kecil sekalipun, jangan keraskan hati (Kisah Rasul 7:51). Segeralah bertindak sesuai Firman Tuhan dimana kita telah diingatkan oleh Roh Allah (Yohanes 14:26), jangan ditunda (Ibrani 3:13).

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman," [Ibrani 3:15]

Begitu keinginan daging itu dirasa mulai muncul didalam pikiran, jangan tunda dan mengerasakan hati, segera matikan keinginan daging dan hawa nafsu tersebut sebelum menjadi besar dan tidak terkendali. Jadilah penurut-penurut Allah dan jangan menuruti hawa nafsu kita.

HENDAKLAH KAMU MENJADI KUDUS

“Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa." [2 Korintus 6:17-18]

Kudus artinya dipisahkan dari apa yang najis. Kita sebagai anak-anak Allah dituntut untuk hidup menjauh dan keluar memisahkan diri dari apa yang najis yaitu dunia dan segala keinginan duniawi yang dibangkitkan oleh hawa nafsu daging ini. Jangan mengasihi dunia ini beserta apa yang ada didalamnya sebab semuanya itu akan membawa kita semakin jauh dari Allah (1 Yohanes 2:15-17). Memang kita hidup didunia ini, tetapi kita tidak berjuang dan berusaha seperti orang duniawi (2 Korintus 10:3, 1 Korintus 7:31), cara-cara kita tidak sama dengan mereka, pandangan kita, keputusan dan tindakan kita tidak sama. Hidup kita didunia ini adalah hidup didalam iman.

Dunia ini yang sering mengejek untuk menyesatkan kita saat kita mulai belajar menjadi anak-anak Allah yang mentaati Firman Tuhan didalam kekudusan dengan pandangan-pandangan dan filsafat mereka yang kosong.

Yusuf adalah gambaran seorang anak yang taat, menjadi penurut kehendak bapanya, ia tidak sama dengan saudara-saudaranya yang berbuat jahat (Kejadian 37:2-4). Tetapi sebagai anak yang berbeda dengan yang lain, ia telah menjadikan dirinya ejekan bagi saudaranya yang hidup didalam daging. Mungkin kita akan disebut anak mama, calon pendeta, penakut, kuper (kurang pergaulan) atau kuno, kolot, aneh dan sebagainya. Tetapi kita harus ingat, bahwa mereka melakukan hal itu sebab kita bukan bagian dari mereka (Yohanes 15:19).

Jika orang-orang di dunia biasa hidup didalam kebencian, iri hati, perbuatan curang dan jahat, perkataan mereka penuh dengan kata-kata yang kotor dan jijik, maka kita tidaklah demikian, karena kita tidak hidup seperti orang duniawi. Efesus 5:3-4 mengatakan, “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.” Mungkin mereka menyebut diri mereka gaul, menyebut dirinya maju, menyatakan diri sebagai anak jaman ini, bebas berbuat asal bertanggung jawab. Tetapi kita harus ingat bahwa semua itu kesia-siaan yang berujung pada penghakiman (Pengkotbah 11:9). Waspadalah ! Efesus 5:6-7 berkata, “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Jangan dengarkan nasihat bijak mereka, sebab mereka sedang berjalan kepada jurang kebinasaan. Orang buta menuntun orang buta keduanya akan celaka, tetapi orang bodoh adalah orang celik yang membiarkan dirinya dituntun oleh orang buta.

Kita harus memisahkan diri dari dunia ini, hidup kudus dan tersembunyi bersama Kristus (Kolose 3:3) didalam dunia yang akan lenyap beserta segala keinginannya walau kita masih hidup didunia ini. Kita sebagai anak-anak Allah hidup didalam ketaatan dan dengan hati yang lemah lembut menjadi anak-anak penurut Firman Tuhan.

supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, [Filipi 2:15]

JADILAH TERANG BAGI DUNIA

Allah menjadikan kita anak-anakNya, agar kita juga menjadi terang bagi bangsa-bangsa, sehingga mereka dapat melihat terang Kristus bercahaya melalui hidup kita. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaanNya.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." [Matius 5:14-16]

Saat kita menjadi terang bagi dunia, saat kita menyatakan perbuatan-berbuatan baik kita, perbuatan yang lahir dari kasih Allah, maka kita telah menelanjangi kegelapan dan dosa, sehingga banyak orang akan dapat melihat cahaya injil dan mereka juga ikut menerima anugrah keselamatan didalam Kristus.

Mari, jadilah kita anak-anak Allah yang kudus yang senantiasa taat akan kehendak Allah dan menjauhi hawa nafsu yang membinasakan. Agar nama Bapa kita dipermuliakan dan ditinggikan dimuka bumi ini.

h1

Ikutlah Teladan

12 November 2010

Filipi 3:17
Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk mengikuti teladan sebagai bagian dari Amanat Agung yang dikatakan Kristus “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." [Matius 28:19-20]. Perintah “ajarlah mereka melakukan” tidak hanya dilakukan lewat pemberitaan Firman Tuhan, tetapi juga disertai dengan teladan hidup.

Serang teman yang memiliki usaha interior design dan exhibition contractor yang berkembang pesat, ia menceritakan bahwa untuk membuat sebuah bentuk sesuai dengan gambar dibutuhkan tukang yang cakap dan trampil. Ia melatih tukang-tukangnya agar sesuai dengan standartnya bukan hanya dengan mengajarkan caranya membuat, tetapi juga memberi contoh kepada mereka. Diceritakan pula kiatnya, bahwa ada empat tahap dalam melatih tukangnya. Pertama adalah “saya mengerjakan, kamu melihat”, kedua adalah “saya mengerjakan, kamu membantu”, ketiga adalah “kamu mengerjakan, saya membantu” dan terakhir “kamu mengerjakan, saya melihat”. Lewat cara seperti itulah maka tukang-tukangnya dapat mengerjakan seperti yang dikehendakinya.

Proses belajar lewat meneladani bukan sesuatu yang baru, tetapi jarang dipraktekan dalam kehidupan nyata. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya orang-orang yang menjadi tutor atau teladan yang bukan hanya pandai menjelaskan tetapi juga melakukan apa yang dijelaskannya. Didalam ilmu management, dalam beberapa tahun belakangan ini pola pelatihan seperti ini mulai marak dan semakin diminati. Mereka menyebutnya Coaching. Buku tentang Coaching dalam management yang ditulis oleh McLeod, Angus tahun 2003 telah menarik perhatian banyak perusahaan dan sampai hari ini banyak bertumbuh pelatihan management dengan basis Coaching. Pelatihan dengan teladan atau tutor ini sebenarnya sudah muncul sekitar tahun 1830 di Oxford University. Setahun kemudian cara ini diterapkan dalam bidang olahraga, dimana pelatih melatih dengan tutor sehingga murid dapat melihat dan mempraktekan seperti yang diajarkan oleh pelatihnya sampai hari ini. Baru beberapa tahun belakangan ini Coaching diterapkan dalam berbagai bidang dan banyak dibicarakan orang.

Kembali didalam Amanat Agung, Kristus memerintahkan murid-muridNya untuk memuridkan segala bangsa. Proses ini bukan terjadi dalam bentuk pendidikan atau pemberitaan Firman Tuhan saja, tetapi proses pemuridan dilakukan melalu teladan hidup para rasul yang kemudian diteruskan kepada murid-murindnya dan kepada murindnya dan seterusnya. Saat kita mendengar Firman Tuhan dan memahami perintah Allah, kendala yang dihadapi adalah bagaimana melakukannya. Dibutuhkan seorang tutor atau teladan untuk menunjukan seperti apa bentuk mentaati Firman TUhan, seperti apa yang harus kita lakukan sesuai Firman Tuhan.

Kita semua tahu akan kata-kata Yesus yang beriku ini, “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” [Yohanes 13:15]. Juga dalam 1 Yohanes 2:6 dimana kita harus hidup sama seperti Kristus hidup, atau dalam Efesus 4:13 dimana kita semua harus bertumbuh sampai menjadi serupa dengan Kristus. Tetapi persoalannya seperti apakah menjadi seperti Yesus? Bagaimana kita tahu apa yang diperbuat Yesus saat menghadapi masalah seperti yang aku hadapi saat ini? Kita tidak melihat Yesus tetapi kita hanya membaca tulisan dan pengajaran Yesus yang ada didalam Alkitab saja. Bagaimana kita bisa menjadi seperti Kristus jika kita tidak melihat teladan hidup yang memberikan tutor kepada kita seperti yang dikatakan oleh Paulus.

Hendaklah kamu menurut teladanku, seperti aku pun menurut teladan Kristus. [1 Korintus 11:1 TL]

Didalam membaca Alkitab dan mengenal dan memahami apa yang diperkenan oleh Allah dan apa yang harus dilakukan seperti Kristus, tidak semua dapat dengan mudah memahaminya. Beberapa orang mungkin kesulitan, beberapa lagi dari mereka telah melewati masa-masa pengolahan dan dapat menjadi teladan, lewat merekalah kita semua belajar menjadi sama seperti Kristus. Menjadi seperti Kristus bukan berarti kita mengimajinasikan Yesus didalam angan-angan dan membayangkan dalam pikiran kita apa yang akan diperbuatNya, tetapi kita tahu apa yang diajarkanNya bukan dari imajinasi kita tetapi dari Firman Tuhan. Disinilah keteladanan itu dibutuhkan agar umat Kristiani tidak berimajinasi sesuai pikirannya sendiri, tetapi meniru teladan orang-orang yang telah meneladani Kristus. Lewat teladan kehidupan Gembala Sidang, lewat teladan kehidupan pemimpin, guru-guru dan meraka orang-orang yang telah menunjukan kehidupan yang baik, mulia dan tidak berpura-pura, lewat merekalah kita belajar meneladani kehidupan Kristus. Teladan yang nyata dan dapat kita lihat.

Saat saya mengajarkan anak saya untuk menepati janji, mengajarkan alasan dan apa yang dikatakan Alkitab. Mereka bukan belajar dari apa yang saya katakan tetapi belajar dari apa yang saya perbuat. Saat saya berjanji atau menjanjikan sesuatu, mereka berdua melihat bagaimana saya menepatinya atau tidak dan lewat contoh hidup itulah mereka belajar meniru apa yang telah saya ajarkan kepada mereka.

Proses pemuridan yang diajarkan oleh Kristus adalah proses meneladani dan diteladani. Saat kita belajar dari keteladanan para pemimpin kita, maka kita juga diajar untuk menjadi teladan bagi orang-orang disekitar kita.

Keteladan tidak ditentukan apakah seorang harus berusia lebih tua, atau lebih berkedudukan dalam masyarakat atau seorang yang telah lama menjadi Kristen, tetapi berdasarkan kesaksian hidup kita.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. [1 Timotius 4:12]

Paulus meniru teladan Yesus, Timotius meniru teladan Paulus dan jemaat di Efesus meneladai Timotius. Demikian juga kita belajar tentang bagaimana hidup sesuai Firman Tuhan menjadi serupa dengan Kristus lewat meneladani dan diteladani. Karena itu marilah kita belajar untuk menjaga diri kita dan ajaran kita agar kita dapat menjadi teladan bagi dunia ini (1 Timotius 4:16).

Bagaimana caranya kita menjadi teladan?

Pertama adalah meninggalkan hidup dosa

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. [Ibrani 12:1]

Hidup kita bagaikan awan yang mengelilingi kita, ada banyak mata melihat dan memperhatikan bagaimana kita hidup sebagai murid Kristus. Saat kita mengaku Kristen dan mengenal hukum-hukum Allah tetapi hidup sebagai seteru salib, tentu orang-orang yang ada disekitar kita akan melihat dan mereka akan menghinakan Allah karena perbuatan kita (Roma 2:21-24). Jika demikian dapatkah kita menjadi teladan bagi mereka?

Menyadari bahwa mau tidak mau kita adalah teladan bagi sekeliling kita adalah permulaan hidup menjadi teladan. Penghalang pertama adalah beban dan dosa yang membuat kita tidak dapat menunjukan pribadi Kristus pada dunia, khususnya pada orang-orang disekitar kita. Tinggalkan beban dan dosa, mari kita memulai hidup kudus didalam Kristus dan menjadikan diri kita teladan bagi dunia.

Kedua adalah buang ragi kemunafikan

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. [Lukas 12:1]

Ragi itu mengkamirkan adonan kata 1 Korintus 5:6, sedikit saja telah membuat seluruh hidup ini menjadi rusak. Yesus memperingati agar kita jangan munafik seperti orang Farisi. Orang Farisi adalah golongan Yahudi yang mentaati Taurat lebih dari golongan Yahudi lainnya dengan keras dan disiplin (Kisah Rasul 26:5), tetapi apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah kemunafikan dari kehidupan mereka yang sebenarnya. Yesus katakan seperti kuburan yang bagus dari luar dengan cat yang bersih tetapi dalamnya tulang belulang dan mayat busuk (Matius 23:27).

Didalam komunitas orang beriman, kita dituntut untuk hidup kudus dan bertumbuh dalam kerohaniaan. Jika didalam dunia status sosial seseorang dinyatakan dari kekayaan, gelar dan kedudukannya, maka didalam komunitas orang beriman adalah kekudusan, pertumbuhan rohani dan pengertiannya. Karena tuntutan status kerohanian inilah juga yang membuat orang beriman dapat menjadi munafik (kemunafikan orang Farisi). Sedikit saja kita telah berpura-pura kuat, kudus dan tanpa cacat cela, maka seluruh hidup kita menjadi rusak (khamir) oleh kemunafikan tesebut.

Pada saat itu, kita dapat memberikan teladan hanya didepan orang, hanya saat digereja atau dipertemuan ibadah saja, selebihnya didalam kehidupan pribadi, dirumah, didalam kamar, dikantor dan ditempat-tempat dimana saudara seiman tidak tampak, kita hidup didalam kelemahan daging. Suatu saat, seperti yang dikatakan Ibrani 12:1, kemunafikan akan tampak karena sesungguhnya bukan hanya saudara seiman saya yang melihat dan meneladani hidup, tetapi juga orang-orang disekitar kita (1 Petrus 2:12).

Seorang yang munafik tidak mungkin dapat menjadi teladan bagi sekitarnya, walau tampaknya sangat alim atau rohani, tetapi kebusukannya akan segara tampak sebab menjadi teladan itu adalah atas seluruh hidupnya.

Ketiga adalah hidup didalam integritas

He who walks with integrity walks securely, But he who perverts his ways will become known. [Amsal 10:9 NKJV]

The man of integrity walks securely, but he who takes crooked paths will be found out. [Amsal 10:9 NIV]

Terjemahan ayat (NKJV) tersebut adalah, “Dia yang berjalan dengan integritas berjalan aman, Tapi dia yang penyimpang jalannya akan diketahui.” sedang dalam NIV disebut “…tapi dia yang mengambil jalan bengkok akan diketahui.”

Kata “integrity” dalam kamus memiliki arti ketulusan hati, kejujuran, keutuhan dan integritas. Kesemuannya memiliki pengertian yang sama yaitu sesuatu yang utuh, tidak ada kepalsuan baik dari luar maupun dalam tanpa ada yang disembunyikan menjadi sesuatu yang dapat dilihat secara lengkap dan penuh. Kata yang panjang itu disingkat dengan kata integritas.

Didalam Alkitab TB, kata tersebut dituliskan, “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” Kata Ibrani תם (baca: tom) yang artinya integrity diterjemahkan dengan bersih kelakuannya, tetapi jika kita melihat dari terjemahan lain maka kita tahu kata itu bukan sekedar bersih kelakuan saja tetapi tentang keutuhan pribadi. Bukan hanya bersih dari luarnya saja tetapi juga didalamnya.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. [Matius 23:25-26]

Hidup didalam integritas adalah syarat yang harus ada agar hidup kita dapat menjadi teladan bagi sekitar kita. Kita siap untuk dituru dan diikuti secara utuh seluruh hidup kita, baik perkataan, tingkah laku, iman, pengharapan, kasih, kesetiaan, kesucian dan ketulusan hati kita.

Keempat adalah berpegang teguh pada pengajaran

Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. [Ibrani 3:14]

Firman Tuhan yang telah kita dengar, kita baca dan kita percayai, haruslah kita pegang teguh sampai kepada akhir. Tidak mudah diombang ambingkan dengan segala macam hiruk-pikuk dunia ini (Efesus 4:13-15). Pada saat pendirian kita teguh, maka kita melangkah, memutuskan dan bertindak juga dengan yakin dan tanpa keraguan. Karena itulah kita perlu berakar didalam Firman Tuhan, sehingga kita memiliki pondasi iman yang kuat.

Menjadi taladan haruslah memiliki prinsip hidup yang kokoh. Memiliki panduan yang jelas bagaimana kita menjalankan hidup ini dan tidak mudah dihasut dan dipengaruhi oleh bujukan duniawi dan illah jaman ini.

Saat kita kokoh pada prinsip hidup sesuai Firman Tuhan, maka timbulah kebiasan-kebiasaan yang menjadi teladan bagi orang disekitar kita. Didalam 1 Korintus 11:2, dituliskan “Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.” Jika kita melihat dalam NKJV atau KJV maka didapati disana kata “teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu” dituliskan “keep the traditions just as I delivered them to you.” Kata ajaran diperjelas gambarannya sebagai sebuah tradisi atau kebiasaan (ordinance) sebab kata itu berasal dari kata παραδοσις (baca: paradosis) yang artinya ajaran yang diajarkan sebagai tradisi. Jika kita baca ayat diatasnya 1 Korintus 11:1 yang tadi kita telah baca, maka jelas bahwa Paulus mengatakan ikutlah teladanku seperti aku mengikut teladan Kristus adalah tentang kebiasaan-kebiasaan hidup sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga menjadi sebuah tradisi kekristenan atau lebih sempit sebagai tradisi kita didalam menjalani hidup didunia ini.

Karena itu didalam menjadi teladan, kita tidak hanya membaca dan belajar Firman Tuhan tetapi menjadikan Firman Tuhan itu sebagai tradisi kehidupan kita sehingga orang-orang melihat kehidupan kita adalah kehidupan Kristus yang dapat diteladani.

Saat kita mengetahui bahwa kita seharusnya mengucap syukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, maka kita meneladani orang-orang yang telah dahulu dengan berdoa mengucap syukur pada saat makan. Sehingga saat ini adalah sebuah kebiasaan orang Kristen untuk mengucap syukur saat kita hendak makan. Kebiasaan ini saya ajarkan kepada kedua anak saya dengan disertai dasar Firman Tuhan yang mendasari perbuatan tersebut. Saat mereka terkadang lupa berdoa, mereka melihat teladan dari saya dan isteri saya sehingga mereka tidak ada bantahan untuk tetap berdoa dimana saja baik dirumah, didepan umum maupun di tempat ia sendirian. Ini adalah bagian dari pemuridan yang diajaran oleh Kristus.

Kelima adalah membiasakan melawan keinginan sendiri

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. [Matius 16:24]

Didalam Lukas 14:27, disebutkan kalau kita tidak melakukan hal itu maka kita tidak dapat menjadi murid Kristus, sebab seorang murid harus meneladani apa yang dilakukan oleh gurunya yang menjadi tutor dalam menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah.

Menyangkal diri adalah sikap dimana kita tidak menuruti kemauan diri sendiri yang lahir dari hawa nafsu daging ini. Setiap hari kita harus melawan keinginan daging ini sehingga kita tidak menuruti nafsunya yang membawa kita kepada dosa. Memang terkadang belum disebut dosa, tetapi telah mengandung dosa yang tidak lama akan menjadi dosa. Karena itu mulai dari pikiran kita harus menaklukannya pada kehendak Kristus (Filipi 2:5, 2 Korintus 10:5).

Memikul salib, adalah kelanjutan dari menyangkal diri. Setelah kita tidak menuruti kemauan hawa nafsu kita, maka akan timbul perlawanan dari daging ini yang berupa gejolak hati dan untuk itulah kita harus salibkan daging ini (1 Petrus 4:1). Maksudnya bukan menyalibkan secara jasmani tubuh kita, tetapi merelakan diri menanggung penderitaan seperti seorang yang tersalib dengan menolak keinginan hawa nafsu tubuh ini.

Saat saya melihat teman-teman disekitar saya dalam waktu yang hampir bersamaan mereka mengganti handphone mereka dengan type yang terbaru dan termuktahir, maka timbul dari dalam diri saya keinginan juga mengganti handphone saya yang juga masih belum bisa dibilang kuno dengan model lebih baru dari mereka dan lebih muktahir dan lebih bergaya. Tetapi saya sadar keinginan itu lahir dari hawa nafsu daging yaitu keangkuhan hidup sebab yang saya miliki masih berfungsi baik dan mencukupi semua kebutuhan. Saya dapat membeli handphone idaman saat itu juga, tetapi Roh Kudus mengingatkan saya dan saya memilih menyangkal keinginan saya tersebut dan saat bertemu teman-teman dan melihat saya masih saja pakai yang itu-itu juga, mereka mendesak saya untuk membeli yang terbaru seperti kebayakan teman-teman. Keinginan daging saya tekan dan habiskan itulah salib yang harus kita pikul, bahkan jika diejek sekalipun itu bagian dari salib yang harus kita pikul setiap hari.

Saat kita terbiasa menyalibkan daging ini, dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita maka gambaran Kristus terpancar dalam kehidupan kita dan orang-orang disekitar kita melihat dan meneladani apa yang kita ajarkan dan kita lakukan sebagai contoh hidup.

Keenam adalah rela berbagi hidup

Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. [1 Tesalonika 2:8]

Bukan hanya kita menyampaikan kabar baik, mengajarkan hukum-hukum Allah dan apa yang berkenan kepadaNya, tetapi juga kita memberi hidup kita bagi mereka. Proses pemuridan terjadi jika kita berani membagi hidup kita kepada orang-orang yang ada disekitar kita. Mengorbankan waktu-waktu kita bagi mereka dan memberikan apa yang ada pada kita bagi pertumbuhan kerohanian mereka. Bagian ini memang merupakan yang tersulit.

Tidak mudah seorang membagikan hidupnya bagi orang lain. Tetapi sebagai murid Kristus dimana kita juga dituntut untuk memuridkan orang lain, didalamnya terdapat proses peneladanan dan untuk menjadi teladan tidak bisa tidak terlepas dari rela berbagi hidup dengan mereka.

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. [Filipi 2:3-4] Lihat juga 1 Korintus 10:24

Kita harus menganggap orang lain lebih penting dari kita, jika kita dapat melakukan hal itu, maka kita dapat juga menjadi teladan yang meneladani kehidupan Kristus. Jika kita menganggap orang lain lebih penting, maka kita akan melayani orang penting tersebut bukan sebaliknya kita merasa lebih penting dan menuntut dilayani dan difasilitasi. Perbuatan itu walau tampak wajar bagi orang dunia saat seorang yang berkedudukan dilayani, tetapi ia tidak memancarkan pribadi Kristus yang dapat kita teladani.

Ketujuh adalah milikilah kasih yang terus disempurnakan

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. [1 Korintus 13:3]

Terakhir adalah kasih. Tanpa kasih kita dapat menjadi teladan, dapat berbagi hidup dan menampilkan sikap, perbuatan dan tindakan yang terpuji, mulia dan diperkenan banyak orang, tetapi tanpa kasih semua itu sia-sia. Kasih Allah yang harus mendasari semua perbuatan kita.

Kasih akan timbul dan semakin kuat jika kita hidup didalam Roh, karena kasih merupakan bagian dari buah yang dihasilan oleh Roh Kudus (Galatia 5:22-23) dan sebagai tanda bagi kita (1 Yohanes 3:10). Semakin kita menjauhkan kedagingan dan mematikan keinginannya, serta hidup didalam pimpinan Roh Kudus maka kasih itu akan semakin tampak dan kita siap menjadi teladan dan meneladani orang-orang yang menjadi pendahulu kita.

Milikilah kasih dan bertumbulah dalam kasih Allah, karena kasih itu kekal.

Penutup

Demikian kita telah tahu bagaimana kita belajar meneladani orang-orang yang menjadi mentor atau pemimpin kita dan juga kita belajar menjadi teladan buat orang-orang disekitar kita, khususnya orang dekat kita.

Mulai saat ini, mari kita mengenapi ketujuh syarat tersebut dan biarlah terang Kristus bercahaya dalam setiap kehidupan orang beriman didalam teladan yang baik yang harus kita ajarkan kepada dunia.

Catatan :
Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan arti kata: te·la·dan n sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tt perbuatan, kelakuan, sifat, dsb). Berbeda dengan arti kata imitasi didalam kehidupan sosial, arti kata imitasi adalah meniru seseorang secara keseluruhan termasuk gaya berjalan, bicara, baju, permen kesukaan dan bahkan potongan rambutnya. KBBI menulis arti meng·i·mi·ta·si v meniru: anak-anak bisa ~ perilaku, tetapi tidak bisa memahami makna sebenarnya. Sehingga maksud dari kata teladan bukan meniru segalanya secara keseluruhan dari pemimpin, gembala sidang ataupun tokoh agama yang menjadi teladan kita.

GBU

h1

Yahweh-Yireh

8 October 2010

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. [Filipi 4:19]

Jehovah-Jireh atau Yahweh-Yireh berasal dari kata יְהֹוָה , yang artinya dalam bahasa Inggris adalah “The Lord will provide” dan dalam bahasa Indonesia artinya “Tuhan yang menyediakan”. Selain itu kata tersebut juga dapat dimaksudkan “The Lord Who Sees” yang artinya “Tuhan yang melihat” sehingga secara umum pengertian Jehovah-Jireh adalah Tuhan yang melihat apa yang diperlukan dan Ia juga akan menyediakannya.

Jehovah-Jireh, mengambarkan kepedulian Tuhan terhadap kebutuhan manusia dimana Tuhan menyatakan diriNya sebagai sumber segala keperluan kita. Raja Daud dalam Mazmur 37:25 mengatakan, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti” demikian juga dengan Yesus, dalam Lukas 12:29-30 Ia mengatakan, “Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu.” Masih banyak ayat-ayat lainnya yang menggambarkan Tuhan sebagai Jehovah-Jireh atau Yahweh-Yireh, Tuhan yang menyediakan segala kebutuhan kita.

Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang kita perlukan sebelum kita meminta kepadaNya (Matius 6:8). Tuhan peduli dan telah menyiapkan sejak awal kita membutuhkan, bukan sejak kita berdoa. Ia telah menyiapkan pertolonganNya dan menyediakan apa yang kita butuhkan sejak sebelum kita meminta kepadaNya.

Kedua orang tua saya, sebelum mengenal Kristus, mendapati bisnisnya telah mengalami kerugian yang sangat besar mencapai ratusan juta karena pengelapan ditahun 1986. Pada masa itu 1 US$ adalah Rp.1.134. Keuangan perusahaan dalam keadaan minus, dimana hutang barang terhadap pabrik-pabrik yang menyediakan barang menumpuk dan akan masuk jatuh tempo. Usaha orang tua bukan sebuah perseroan terbatas tetapi sebuah usaha dagang yang resikonya ditanggung perorangan. Dapat dibayangkan apa yang akan dihadapi, pernyataan pailit beresiko atas penyitaan seluruh aset keluarga dan dapat berujung pada hukuman penjara. Ibu saya, dulunya pernah dididik secara Kristiani dan mengenal Kristus sebagai Juruselamat. Lewat situasi yang dihadapi mereka dan tidak ada harapan untuk melunasinya, saat itu Ibu saya menaruh pengharapannya kepada Yesus, Tuhan yang pernah didengarnya pada masa kecilnya.

Tidak lama setelah itu, beredar kabar bahwa akan ada devaluasi, dimana harga-harga barang dapat dipastikan naik. Tetapi harga barang akan naik seberapa? Tidak ada patokan jelas, sebab saat itu semua menjadi tidak jelas dan tidak ada yang berani melepas harga ke pasar. Bukan sebuah kebetulan hal itu terjadi, saat itu dengan hikmat dari Allah, orang tua saya melepas barang dengan harga dua kali lipat dan karena tidak ada yang berani melepas barang selain orang tua saya, maka seluruh barang ludes terjual sampai genap seluruh hutang-hutang dagangnya tertutupi. Tepat tanggal 12 September 1986, pemerintah mengumumkan devaluasi sebesar 47%, baru semua orang mulai berani melepas barangnya dipasar dan orang tua saya mulai menyesuaikan harga dengan harga pasar. Uang yang terkumpul tepat untuk melunasi hutang-hutang dagang yang jatuh tempo tersebut. Kejadian yang sama seperti yang dikisahkan dalam 2 Raja-raja 4:1-7 tentang minyak yang dituang janda abdi Allah.

Sungguh ajaib! Jehovah-Jireh, Allah akan mencukupkan semua kebutuhan kita, bahkan lewat jalan yang kelihatannya mustahil sekalipun. Sebab Ia melihat kita dan peduli dengan kehidupan kita. Dari hal yang mustahil hutang ratusan juta (1986), dapat dilunasi dalam tempo beberapa minggu saja. Beberapa saat kemudian, seorang pendeta tua digerakan Tuhan untuk datang berkunjung kepada mereka dan menyampaikan Kabar Baik. Pada saat itu kedua orang tua saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Kristus didalam hidup mereka dan melayaniNya sampai hari ini.

Tuhan peduli terhadap kita, karena itu jangan kita merasa kawatir dan gentar menghadapi dunia ini. Sebab Ia telah menang dan telah mengalahkan dunia ini. Semua apa yang kita butuhkan akan kita terima dariNya. Sebab Ia dalah Jehovah-Jireh, bahkan hal yang mustahil sekalipun.

Didalam kehidupan kami, Allah telah menunjukan pemeliharaannya terhadap kami sekeluarga. Saat kami dihadapkan kepada putusan untuk tinggal di Bali, sesuatu tanda tanya yang besar dihadapan kami tentang kehidupan kami disana. Tetapi didalam iman kami percaya kepada Allah dan melangkah sampai hari ini segala sesuatunya Allah sediakan. Mulai dari tempat tinggal, pekerjaan, sekolah dan segala sesuatu yang dibutuhkan tesedia dengan sendirinya. Bahkan sampai detil-detilnya. Allah nyata sebagai Jehovah-Jireh.

Lagu :
Yehovah Jireh, Allah kan mencukupi keperluan hidupku. Haleluyah
Yehovah Jireh, Allah kan mencukupi keperluan hidupku.
Allahku kan menenuhi segela keperluan hidupku menurut kekayaan dan kemulyaannya.
Yehovah Jireh dia peliharaku. Haleluyah
Yehovah Jireh dia peliharaku.

Didalam Alkitab dan dunia mengenal Tuhan sebagai Jehovah-Jireh atau Yahwah-Yireh berasal dari pernyataan Abraham dalam Kejadian 22:14, Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan (Yahweh-Yireh)”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Allah hadir dalam kehidupan Abraham sebagai “Tuhan yang menyediakan” dan hari ini juga Tuhan menyatakan diriNya kepada keturunan Abraham juga sebagai “Tuhan yang menyediakan”. Karena kita semua adalah anak-anak Abraham didalam iman kepada Kristus dan berhak menerima janji-janji Allah kepada Abraham (Galatia 3:29).

Ribuan tahun telah lewat dan banyak orang menerima berkat dari Abraham dan menyaksikan Allah nyata dalam hidupnya sebagai Jehovah-Jireh. Mulai dari Ishak anak tunggalnya, Yakub dan sampai Musa, Yosua, Samuel, Daud, Daniel, dan para rasul juga sekarang terhadap banyak orang beriman, Allah hadir sebagai Tuhan yang menyediakan segala keperluan hidup mereka, seperti terhadap Abraham. Tetapi tidak sedikit juga orang-orang tidak pernah melihat Allah menyatakan dirinya sebagai Johovah-Jireh seperti kepada Abraham walau ia disebut orang Kristen.

Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. [Yohanes 8:39]

Mengapa mereka tidak melihat Allah sebagai Jehovah-Jireh? Sebab mereka tidak mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.

Didalam Kejadian 22:14, dimana kata Yahweh-Yireh yang sedang kita bahas hari ini ditulis merupakan bagian dari kisah Abraham yang diuji oleh Tuhan untuk mempersembahkan Ishak anaknya yang tunggal dan yang kemudian Tuhan menyediakan seekor domba jantan yang tersangkut untuk dijadikan korban kepada Allah. Setelah semua kejadian itu, Abraham menyebut Tuhan sebagai Yahweh-Yireh. Bagaimana Allah bisa hadir sebagai Yahweh-Yireh dalam hidup kita, kita juga harus melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Abraham.

Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan“; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri-demikianlah firman TUHAN-:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.” Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba. [Kejadian 22:1-19]

JAWABAN ABRAHAM

Dari kisah tersebut, kita mendapati hal yang manarik pada ayat 7 dan 8. Saat Ishak bertanya kepada Abraham apa yang akan dibakar sebagai korban bakaran, lantas Abraham menjawab “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran itu”. Abraham tahu dengan jelas bahwa Allah menghendaki anaknya sebagai korban bakaran, tetapi jawaban Abraham merupakan pernyataan iman bahwa Allah bisa menggantikan anaknya dengan domba, tetapi jika memang anaknya harus binasa, ia tetap percaya Allah sanggup memhidupkannya kembali, karena Tuhan telah berjanji tentang keturunannya (Ibrani 11:17-19). Iman yang serupa dapat kita jumpai dalam kitab Daniel 3:16-18, Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Mereka memiliki iman bahwa Allah sanggup menolong dan sanggup menepati janji-janjiNya. Karena itu bahkan maut sekalipun mereka tidak takut bila itu menimpanya (Matius 16:25).

Saat Abraham berkata “Allah yang menyediakan anak domba”, saat itu Abraham mengucapkan kata-kata iman. “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” [Kejadian 15:6]. Saat kita percaya kepada Allah dengan segenap hati kita, seperti Abraham maka kata-kata iman kitapun akan menjadi kebenaran didahapan Allah. Sehingga yang terjadi pada Abraham, dalam ayat 12-13, disebutkan saat itu ada seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dan kemudian domba itulah yang menjadi korban bakaran tepat seperti yang dikatakan oleh Abraham kepada Ishak anaknya. Itulah firman iman yang dikatakan oleh Paulus dalam surat Roma 10:8, Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan.

Berapa banyak umat Kristiani yang saat menghadapi himpitan dan masalah, butuh pertolongan malah sebaliknya, mengumpat (Amsal 19:3) dan bersungut-sungut (1 Korintus 10:10). Jika demikian akankah Allah menyatakan diriNya sebagai Jehovah-Jireh?

Kata-kata iman Abraham berdasarkan atas janji Allah, “Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.” [Kejadian 13:16]. Disaat usianya yang telah sangat tua baik Abraham maupun Sarah, maka Ishak yang lahir dihari tuanyapun merupakan anak tunggal mereka yang kepadanya Allah juga telah berjanji, Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.” [Kejadian 17:19]. Karena itu, pada saat Abraham diuji untuk mempersembahkan anaknya yang tunggal, Abraham yakin akan janji Allah, bahwa lewat Ishak keturunannya akan sebanyak debu tanah yang tak terhitung banyaknya. Lewat Ishak dan bukan yang lain, walau Ishak harus mati sekalipun, Tuhan sanggup menghidupkannya ataupun pada saatnya Allah akan mengantikannya dengan anak domba. Demikian yang diimani oleh Abraham.

Kita sebagai anak-anak Abraham yang juga memiliki janji dan iman yang sama, juga harus menaruh iman kita atas janji Allah. Bukan atas sugesti pribadi atau harapan-harapan pribadi yang lahir dari hawa nafsu dan dari dunia ini. Setiap janji-janji Allah dituliskan dalam kitab suci dan dimeteraikan oleh Roh Kudus, sehingga pada saatnya kata-kata tersebut menjadi hidup dan membawa kita kepada perjalanan iman, dari iman kepada iman.

Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” [Roma 1:17]

Alkitab mengajarkan kepada kita untuk tidak bersandar kepada pengertian dan pengetahuan kita sendiri dalam menghadap segala sesuatu (Amsal 3:5), tetapi menaruh pengharapan kita kepada Allah walaupun sesuatu yang tidak masuk akal ataupun bodoh menurut dunia ini, seperti perbuatan Abraham. Sehingga dengan demikian iman kita tidak dibatasi oleh pengetahuan manusia, tidak dibatasi oleh pemikiran dan hikmat manusia tetapi iman kita bertumbuh sesuai dengan kuasa Allah. I Korintus 2:5 mengatakan, “supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” Sebab bagi manusia memang ada batas kemustahilan tetapi bagi Allah, tidak ada yang mustahil (Lukas 1:37), demikian juga bagi orang setiap orang beriman (Markus 9:23).

Seorang pria yang saya kenal, ia adalah seorang yang memiliki cacat pada sebagian sisi tubuhnya sehingga ia berjalan dengan gerakan yang lebih susah dan tidak dapat leluasa menggerakan jari-jarinya dan juga mengucapkan kata-kata yang jelas. Dengan keadaanya seperti ini, ia juga bukan seorang yang kaya, mungkinkah ada wanita yang mau menikah dengannya? Dengan hikmat manusia orang akan menasihatinya agar ia belajar menerima kodrat hidup membujang seumur hidup. Tetapi iman dan pengharapannya tidak padam, ia percaya akan janji Allah dan ia berdoa untuk ponolong yang sejodoh yang dijanjikan Allah. Hari ini ia telah memiliki anak dari seorang wanita cantik yang sangat mencintainya. Tidak ada yang mustahil saat kita membutuhkan saat itu Allah akan hadir sebagai Jehovah-Jireh, Allah yang menyediakan bagi kita apa yang kita butuhkan. Bukan hanya uang dan materi saja merupakan kebutuhan manusia, segela hal yang membawa kita kepada hal yang lebih baik akan disediakan Yahweh-Yireh kepada kita.

TINDAKAN ABRAHAM

Hal yang kedua yang dilakukan oleh Abraham yang kita pelajari, adalah ia mengesampingkan kepentingannya sendiri dan taat akan perintah Allah. Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” [Kejadian 22:12]. Ishak adalah anak kesangangannya, anak satu-satunya (Ismael telah diusir dari keluarga karena ia adalah anak dari budak yang tidak menerima waris bersama dengan anak majikannya). Harapannya dan kasih sayangnya tercurah kepada anak tersebut, tetapi saat diminta oleh Allah, Abraham memberikan tanpa ragu-ragu, sebab ia memiliki iman akan janji-janji Allah terhadap Ishak.

Apa yang telah dilakukan oleh Abraham itu, telah memberkati dunia. Sehingga Allah membalas Abraham setimpal dengan perbuatannya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal [Yohanes 3:16]. Yesus telah datang sebagai Anak Tunggal Allah yang mati sebagai korban penghapus dosa bagi umat Israel, yaitu keturunan Abraham.

Allah menguji Abraham, merupakan bagian rencana Allah untuk menyelamatkan manusia lewat Kristus sebagai Putra Tunggal Allah yang menghapus dosa dunia. Sesuai dengan hukum Taurat yang diturunkan kemudian sebagai bagian dari rencana berikutnya, dimana dosa dan kesalahan dapat dihapuskan hanya lewat korban penghapusan dosa. Maka saat ini kita semua menerima keselamatan didalam iman, lewat korban penebusan sesuai hukum Taurat oleh Anak Tunggal Allah yang tidak segan-segan lagi diserahkan bagi keselamatan seluruh keturunan Abraham.

Jika kita mengutamakan perintah Tuhan lebih dari kepentingan kita sendiri, maka Tuhan akan membalaskan perbuatan kita (Yeremia 17:10). Tuhan akan menyatakan diriNya sebagai Jehovah-Jireh. Karena itulah Yesus mengatakan “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” [Lukas 12:31]. Carilah Kerajaan Allah terlebih dari kepentingan dan kebutuhan kita, maka pada saat itu, semua akan ditambahkan kepada kita. Allah akan hadir sebagai “Tuhan yang menyediakan”. Ini adalah rahasia hidup keberkatan seperti Abraham.

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? [Roma 8:32]

Segala sesuatunya kita akan terima dari Allah, segala pertolongan yang kita butuhkan, segala kekuatan yang kita butuhkan, segala kebutuhan hidup kita, segala pernyataan harapan dan cita-cita kita semua kita terima dari Tuhan yang adalah Jehovah-Jireh, Tuhan yang menyediakan, disaat kita mengedepankan perintah Allah dari pada keinginan kita. Kejadian 22:18, menyebutkan “…karena engkau mendengarkan firman-Ku.” sebagai dasar Allah memberkati Abraham dan menjadikannya berkat bagi dunia. Mari kita juga melakukan sama seperti Abraham telah perbuat.

PENUTUP

Hari ini mari kita belajar berbuat seperti Abraham (memiliki kata-kata iman dan mengutamakan mendengar dan melakukan perintah Allah lebih dari keinginan kita), sebab kita adalah anak-anak Abraham yang dibenarkan karena iman sama seperti Abraham telah dibenarkan, dan yang juga menerima janji didalam iman sama seperti Abraham telah menerima janji Allah. Kita akan melihat Allah hadir seperti Abraham melihat kehadiran Allah didalam hidupnya. Segala yang kita butuhkan Ia akan menyediakannya.

Amin.

h1

TIPU DAYA IBLIS

5 September 2010

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. [Kejadian 3:1-7]

Kisah diatas adalah kisah pertama kali manusia berhubungan dengan ular. Kisah tersebut ditulis karena merupakan kisah penting dari kehidupan manusia. Dari kisah tersebutlah kita tahu manusia sekarang ini hidup didalam kelemahan dan kematian karena dosa.

Alkitab, mangatakan bahwa ular di Taman Eden itu adalah Iblis atau Setan. “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.” [Wahyu 12:9]. Disebut ular tua, yaitu ular yang ada sejak lampau di Taman Eden pada masa Adam dan Hawa. Ular itulah yang telah menyesatkan bukan saja Adam dan Hawa tetapi juga keturunannya sampai hari ini. (lebih dalam tentang Iblis silahkan lihat catatan berjudul “Asal Usul Iblis”)

Tentang Ular, Alkitab mengatakan bahwa ia adalah mahluk yang paling cerdik diantara semua mahluk ciptaan Tuhan. Bahkan Tuhan Yesus dalam Matius 10:16, mengajarkan agar kita juga secerdik ular yang dikisahkan dalam Kejadian 3:1. Memang bahwa ular diciptakan Allah dengan kecerdikannya.

TIPU DAYA ULAR DI TAMAN EDEN

Karena kecerdikannya maka Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kata-kata yang kelihatannya sederhana tetapi telah membuat manusia sampai hari ini binasa. Kata-kata ini sebuah pertanyaan yang keseluruhannya adalah salah untuk memancing mengungkapkan apa yang benar menurut Hawa. Berbeda dengan saat Iblis mencobai Yesus di padang gurun saat Yesus berpuasa. Ia tidak menggunakan kata-kata yang seluruhnya salah melainkan menggunakan kata-kata yang sebagian ada didalam Kitab Suci. “sebab ada tertulis: Mengenai Engkau…” atau “Jika Engaku Anak Allah, maka…” demikian kata Iblis dalam Matius 4:6 untuk memancing aktualisasi diri (membuktikan kebenaran).

Tipu daya Iblis yang dipakai di Taman Eden sebenarnya sama seperti yang dihadapi olehYesus di padang gurun. Persamaan ini sebab Yesus adalah Adam yang terakhir untuk menyempurnakan Adam yang pertama yang telah membawa dosa masuk kedalam dunia, sehingga Yesus dicobai dengan perihal yang sama.

Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup,” tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi. [1 Korintus 15:45-49]

Dosa datang kedalam dunia karena Adam (Roma 5:15-19), tetapi Adam kedua membawa kehidupan kekal juga telah dicopai dengan cara yang sama dan tetap setia, tidak jatuh didalam dosa. Karena itulah maka hari ini kita selain mempelajari bagaimana Iblis memperdaya Hawa dan Adam, kita juga belajar bagaimana Yesus sebagai Adam terakhir dapat tetap bertahan menghadapi tipu daya Iblis.

TIPU DAYA PERTAMA

Didalam kisah yang tertulis, kita melihat bahwa Iblis memilih untuk berkata-kata kepada Hawa bukan kepada Adam, walaupun Adam berada didekatnya (Kejadian 3:6). Karena Iblis tahu kelemahan Hawa, sehingga dengan pertanyaan tersebut ia terpancing didalam tipu daya ular tua.

Jika kita teliti (Kejadian 2:16-18), sebenarnya Hawa tidak mendengarkan langsung perintah larangan Allah, tetapi diturunkan lewat Adam. Sehingga saat Iblis bertanya tentang larangan tersebut, Hawa menjawab demikian. Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Jawab ini kelihatannya benar, tetapi jika kita lebih teliti, kita akan melihat bahwa Hawa tidak dengan tepat mengerti hukum Allah. Bandingkan dengan ayat berikut ini:

Maka berfirmanlah Tuhan Allah kepada manusia, kata-Nya: Adapun buah-buah segala pohon yang dalam taman ini boleh engkau makan sesukamu, tetapi buah pohon pengetahuan akan hal baik dan jahat itu janganlah engkau makan, karena pada hari engkau makan dari padanya engkau akan mati. [Kejadian 2:16-17]

Ada perbedaan dimana Allah mengatakan jangan makan, sementara Hawa mengatakan jangan makan ataupun raba. Penambahan ini kelihatannya biasa dan tidak masalah, tetapi dari hal-hal seperti inilah iblis mendapat kesempatan bekerja menyesatkan seluruh manusia di bumi. Seketika itu juga Iblis menjawab Hawa, “Sekali-kali kamu tidak akan mati,…” Selanjutnya Iblis menggoda Hawa sehingga ia mulai mencoba meraba buah pengetahuan baik dan jahat tersebut dan memang ia tidak mati. Apa yang kira-kira dipikirkan Hawa saat ia mencoba menyentuh buah tersebut dan merabanya tetapi tidak mati? Berarti hukum Allah tersebut tidak benar adanya dan karenanya maka Hawa berani bertindak lebih dengan memetik dan memakannya, karena ia tidak mati saat meraba buah tersebut. Ketakutan Hawa adalah kepada kematian sebagai akibatnya, bukan kepada Allah yang memberi perintah.

Tipu daya pertama dari Iblis di Taman Eden adalah merancuhkan antara perintah manusia dan perintah Allah. Sering kali manusia terjebak dengan memahami perintah manusia seakan sebagai perintah Allah sehingga ia semakin jauh dari kebenaran Firman Tuhan.

Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” [Markus 7:6-8]

Bukankah banyak orang beriman berbuat seperti ini. Mereka lebih suka tampil didepan umum sebagai orang yang rohani, menjaga citra sebagai orang baik. Datang beribadah dengan senyum dan ramah, tetapi dirumah selalu berkelahi antar suami dan isteri, di dalam gereja menjaga sikap dan mulutnya dari kata-kata kotor, kata-kata cabul dan kesombongan, tetapi dipekerjaan, mulutnya penuh dengan kata-kata kotor, berbicara cabul diantara relasi kerja dan menyombongkan diri dihadapan teman-teman sebayanya. Mereka menjaga diri dari apa yang dilarang oleh organisasi gereja, menjaga diri dari apa yang di anggap salah dan dosa oleh lingkungan gereja, tetapi tidak benar-benar paham kebenaran Firman Tuhan.

Kita harus benar-benar mengerti apa isi kebenaran Firman Tuhan, bukan apa yang dikatakan oleh orang banyak tentang kebenaran. Belajar mengerti Firman Tuhan lebih dalam itu penting agar kita tidak terjebak dan tertipu tipu daya setan (Matius 22:29). Ingatlah apa yang dikatakan oleh Roma 10:17, bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, jadi bukan sembarang kebenaran yang dapat melahirkan iman yang kuat. Seorang bayi yang baru lahir diberi susu yang murni, bukan sembarang air berwarna putih serupa susu. Seperti didesa-desa beberapa bayi diberi air tajin, air bekas mencuci beras yang sekilas warnanya serupa dengan susu, tetapi tentu air tajin tidak dapat membuat otot dan daging yang kuat bagi bayi tersebut, demikian juga perintah manusia.

Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi. [Kolose 2:20-23]

Kalau kita mengutamakan kepada bentuk ibadahnya, menilai tari-tarian di gereja itu dosa, makan permen saat kebaktian itu dosa, menahan kencing sampai ibadah selesai itu suci, atau tidak makan daging babi itu lebih suci dari orang lain, merekok itu dosa, dilarang pegang sesajen atau dilarang masuk kuil atau berdosa orang yang menginjak Alkitab atau hiasan salib dan perkara dunia lainnya yang fana membuat kita rancuh dengan kebenaran Firman Tuhan dan apa yang dikehendaki oleh Allah didalam hidup kita didunia ini. Hal ini membuat Iblis memiliki banyak kesempatan menjatuhkan kita. Semua dapat terjadi karena tidak ada usaha yang sungguh untuk mengerti kehendak Allah. Jika pada saat itu Hawa benar-benar berusaha sungguh-sungguh mengerti hukum Allah yang hanya satu-satunya itu, tentu Hawa memiliki iman yang cukup untuk menolak panah api tipu daya setan (Efesus 6:16) dan ia tidak akan terjebak dalam perintah manusia sampai berdosa dan membawa dosa masuk kedunia sampai hari ini.

Lewat segala perintah-perintah manusia yang terlihat seperti hukum Allah inilah maka Iblis berusaha membuat kita merasa tertuduh dan semakin jauh dari Allah. Satan (baca: saw-tawn’) bahasa Ibrani yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Iblis artinya adalah Penuduh atau Pendakwa. Karena sifat dari ular tua tersebut adalah selalu mendakwa manusia sehingga ular tersebut juga disebut Satan (bahasa Indonesia diterjemahkan Iblis). Saat perintah manusia didalam gereja mengatakan bahwa menonton bioskop itu berdosa, maka seorang pemuda yang karena bersama teman-temannya akhirnya menonton bioskop secara sembunyi-sembunyi takut dilihat orang segerejanya dan selesainya pulang dengan hati penuh tuduhan dari Iblis membuat ia merasa bersalah dan bukannya manusia akan mendekat kepada Tuhan saat itu. Kejadian 3:10 menyebutkan, “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Manusia akan menjauhi Allah, itulah yang diketahui oleh Iblis sehingga ia selalu menuduh manusia sehingga semakin jauh dari Allah. (nasihat baca Yakobus 4:8)

Apa yang terjadi pada Hawa akan juga dilakukan kepada anak cucunya, dan setelah pelanggaran peraturan manusia yang dianggap peraturan Allah, maka Iblis akan membawa manusia tanpa sadar bukan lagi melanggar peraturan manusia tetapi hukum-hukum Allah. Seorang anak muda yang telah sangat bersalah karena menonton bioskop tadi, ternyata ia baik-baik saja, tidak ada hukuman Allah dan malah film tersebut sebenarnya bagus, menghibur dan memperluas wawasan, maka selanjutnya ia tidak cukup hanya film bioskop yang lolos sensor perfilman nasional yang ditonton, tetapi ia juga akan menonton semua film bahkan film porno yang membuat ia berdosa didalam pikiran dan perbuatannya. Kali ini baru benar-benar ia telah melanggar hukum-hukum Allah seperti Hawa.

Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. [Pengkotbah 8:11]

Didalam 1 Timotius 2:14, disebutkan perempuanlah yang digoda Iblis, karena secara umum perempuan lebih mudah tergoda bujuk rayuan dari pada pria. Secara umum juga kita tahu bahwa pria lebih banyak berfikir dengan logikanya sedangkan wanita lebih kepada perasaannya. Hukum Allah dan perintah atau peraturanNya tidak ditimbang dengan perasaan tetapi kebenaran Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak. Tentang kelemahan peremuan ini tentu bukan perbedaan gender yang dibahas oleh Allah, tetapi kejadian Hawa dan Ular menggambarkan tentang adanya wanita rohani, pribadi yang tidak dengan tegas menyatakan hukum Allah.

Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! [1 Korintus 16:13]

Jangan menjadi wanita rohani baik ia berkelamin pria maupun wanita, tetapi jadilah pria secara rohani yang berdiri teguh dalam iman sehingga dapat mematahkan panah berapi dari si Iblis (Efesus 6:16).

Adam yang berada disamping Hawa telah gagal untuk menjadi pemimpin, ia diam saja saat melihat Hawa memakan buah larangan. Karena itulah Yesus datang sebagai Adam terakhir untuk membawa kehidupan bagi umat manusia dan menjadi pemimpin didalam Gereja Tuhan, yang disebut mempelaiNya (Efesus 1:22-23, 5:31-32). Saat Adam terakhir dicobai dengan hal yang sama, yaitu tentang ancaman kematian, dalam Matius 4:2-3 dituliskan, Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Saat itu Yesus dalam keadaan yang lapar dan semua orang tahu bahwa orang dapat mati jika tidak makan. Ketakutan akan kematian dihadapkan kepada Yesus dan Iblis menawarkan ide kehidupan dengan mengubah batu menjadi roti sehingga dapat dimakan dan menyambung hidup. Berbeda dengan Hawa, saat dihadapkan kepada tipu daya Iblis, Hawa terjebak dengan kebenaran manusia sehingga ia merasa bebas dari ancaman kematian dan membuatnya berani berbuat dosa. Yesus menjawab dengan kebenaran Firman Tuhan. Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” [Matius 4:4]. Iblis tidak melanjutkan pertanyaannya, sebab tidak ada celah baginya untuk memperdaya lebih lanjut, seperti pada Hawa yang menambahkan peraturan sendiri dimana bisa mati hanya dengan merabanya.

TIPU DAYA KEDUA

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.

Tipu daya Iblis kedua adalah membuat tujuan yang terlihat baik atau bermanfaat menjadi sebuah alasan untuk melanggar hukum Allah.

Adalah sesuatu yang baik bila matamu terbuka kata Iblis. Sesuatu yang tampak bermanfaat pada tujuannya sering membuat hukum Allah dapat ditawar dan dibuat lebih fleksibel sesuai keadaan. Betapa banyak umat Allah yang terjebak tipu daya Iblis dan mulai membenarkan dosa dan menerima kesalahan sebagai sesuatu yang wajar dan manusiawi? Seperti Hawa, ia terbujuk untuk melihat bahwa buah itu menarik hatinya sebab memberi pengertian kepadanya, ada manfaat yang akan diperoleh. Ada suatu kemajuan yang diharapkan. Manusia memiliki dorongan untuk maju, tetapi Iblis selalu menawarkan cara-cara yang penuh tipu daya yang ujungnya membawa manusia kepada dosa terhadap Allah.

Baru-baru ini di kota-kota besar Indonesia ramai dengan fenomena Otak Tengah, dimana anak-anak kecil jika mempelajari otak tengah maka akan menjadi jenius dan dapat belajar dengan lebih baik dan mendapat nilai-nilai ulangan yang luar biasa. Sesuatu yang membuat banyak ibu-ibu mengirimkan anaknya untuk dilatih otak tengahnya menjadi pandai. Sepintas kelihatannya baik dan bermanfaat. Dapat “membuat mata terbuka” kata Iblis. Tetapi sesungguhnya tidak ada ilmu kedokteran yang membenarkan fungsi otak tengah selain sebagai tempat mengelolah indra dan refleks manusia. Tetapi Iblis telah menipu dan mendidik anak-anak dalam okultisme sejak masih kecil. Dalam satu malam saja didalam ruang tersendiri anak itu langsung bisa menjadi “orang pandai”. Dapat menebak isi tas, menebak isi kantong orang, dapat mewarnai gambar dengan menutup mata, dapat mengetahui apa yang tidak kasat mata. Luar biasa, “orang pandai” tidak harus sudah tua, anak kecil juga bisa disebut “orang pandai” dan banyak orang dunia bisa bertanya dimana barangnya yang hilang atau siapa yang mencuri. Lebih ironis lagi ada beberapa pendiri tempat pelatihan tersebut adalah jemaat sebuah gereja Kristen. Mereka membenarkan sebab manfaatnya lebih besar dari hukum Allah.

Jangan kita terjebak dengan tujuan yang baik itu sebagai hal yang lebih penting dari pada mendengar dan melakukan kehendak Allah. Seperti yang dicontohkan Raja Saul saat menumpas Amalek. Alkitab mencatat perintah Allah kepada Raja Saul dalam 1 Samuel 15:3 demikian, “Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” Tetapi yang dilakukan Raja Saul dengan maksud baik yang bermanfaat bagi semua pihak tercatat dalam 1 Samuel 15:13-15 sebagai berikut, Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya: “Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan firman TUHAN.” Tetapi kata Samuel: “Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?” Jawab Saul: “Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.” dan apa yang bertujuan baik dan bermanfaat tersebut yang mana untuk itu perintah Allah dilanggar, membuat Saul ditolak oleh Allah dalam 1 Samuel 15-22-23. Jangan kita menjadi seperti Saul atau Hawa yang menganggap tujuan baik membenarkan kita untuk melanggar hukum Allah.

Sering kali manusia terlena dengan tujuan-tujuannya, terlena dengan visi atau mimpi yang dimiliki dan menganggapnya semua itu untuk hal yang lebih baik. Setiap orang dalam bertindak memiliki tujuan-tujuan, kita datang beribadah juga memiliki tujuan-tujuan. Tetapi semua tujuan baik dan mulia yang kita pikirkan dan rencanakan harus takluk kepada hukum-hukum Allah. Jangan malah kita dibutakan oleh Iblis dengan tipu daya ia hendak membukakan mata kita. Kita harus menaklukan segala sesuatu kepada Firman Tuhan.

Tetapi segala orang yang milik Kristus Yesus itu sudah menyalibkan hawa nafsunya dengan segala cita-cita dan keinginannya. [Galatia 5:24, TL]

Godaan yang sama diterima Adam terakhir tertulis dalam Matius 4:8-9, Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Bagus bukan jika seluruh kerajaan dunia telah menjadi miliknya bukankah lebih mudah untuk mengabarkan Kabar Baik? Semua akan mendengarkan dan akan taat kepada penguasanya? Berapa banyak orang Kristen jatuh saat Iblis menawarkan kekayaan dunia dengan cara-cara yang melawan hukum Allah dengan alasan bertujuan rohani. Seperti nanti aku akan merenovasi gedung gereja, akan aku bangunkan tempat camp, aku akan sumbangkan buat gereja sebagian dan banyak lainnya yang terlihat seperti tujuan yang mulia dan layak untuk sedikit melenceng dari kebenaran, keadilan dan kesetiaan.

Jika Hawa merasa lagi pula (bertujuan) buah itu memberi pengertian, tentu menarik hati untuk dicoba hal yang baik ini sehingga Hawa jatuh dalam dosa karena ia membenarkan tujuan baik lebih dari mentaati perintah Allah, maka Adam terakhir menjawab Iblis, Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” [Matius 4:10]. Seharusnya Hawa juga menjawab hal yang sama, “Enyalah Ular, sebab Allah telah melarang kita untuk memakan buah pengetahun baik dan jahat dan engkaupun harus mentaatinya”.

TIPU DAYA KETIGA

…dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya,. ..”

Iblis tidak mengatakan Hawa akan menjadi Allah tetapi akan menjadi seperti Allah saat memakan buah tersebut. Hawa tahu bahwa ia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27). Seperti halnya kita ingin menjadi serupa dengan Kristus, karena kita adalah bagian dari Kristus demikian juga dengan Hawa juga ingin menjadi serupa dengan Allah, sebagai anak-anakNya serupa dengan Bapanya. Karena itulah maka Hawa memandang buah itu baik untuk dimakan.

Tipu daya ketiga Iblis adalah menjadikan kerinduan rohani sebagai dorongan untuk melangkah. Kerinduan akan perkara rohani harus dibatasi oleh kebenaran Firman Tuhan, tetapi Iblis membuat batas-batas Firman Tuhan itu dilampaui untuk mencapai cita-cita rohani.

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. [Roma 12:3]

Berapa banyak orang Kristen yang memiliki kerinduan untuk menjadi seperti pendeta-pendeta besar, misalkan seperti Reinhard Bonke, Benny Hinn, Morris Cerullo dan lain-lainnya. Memiliki kuasa mengadakan mujizat, memiliki kuasa untuk membuat tanda-tanda ajaib, menjadi sangat beribawa dan lain sebagainya. Ada juga yang mengidolakan tokoh di gerejanya, ingin seperti si A, si B atau tokoh-tokoh nasional dan bertindak, berlagak dan melakukan hal-hal yang serupa dengan diri mereka. Hal itu dapat menyesatkan dan Iblis memiliki banyak kesempatan untuk membawa kita jatuh dalam dosa.

Mungkin dalam lingkup kecil, kerinduan rohani muncul dari kesaksian orang-orang, seperti misalkan seorang yang diberkati mobil mewah baru setelah ia menyumbangkan mobil bututnya ke gereja, atau seorang mendapat uang ratusan juta setelah ia memberikan persembahan kegereja, semua itu dapat membangkitkan kerinduan rohani yang salah. Keinginan yang salah yang dapat melahirkan dosa.

Kelihatannya memang baik untuk menjadi seperti idola kita, menjadi indah secara rohani dan dihormati banyak orang, tetapi ingat ini adalah tipu daya Iblis yang membuat Hawa jatuh dalam dosa.

Adam terakhir juga dicobai dengan pencobaan yang sama seperti yang tertulis didalam Matius 4:5-6, Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (lihat catatan berjudul “Godaan Bait Allah”).

Diatas Bait Allah di Kota Suci, tempat dimana dibawahnya berkerumun orang-orang Yahudi dari segala penjuru dunia, ahli Taurat dan orang Farisi serta Saduki berkumpul. Jika Adam terakhir menjatuhkan diri dari atasnya, semua dibawah tentu melihat bagaimana Allah mengutus malaikatNya untuk menatang sampai dibawah dengan selamat. Tentu akan dihormati dan dipuji oleh semua orang sebagai seorang yang rohani dan dicintai Allah. Siapa yang tidak suka dianggap seperti itu? Tetapi Adam terakhir menjawab godaan Iblis, Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” [Matius 4:7]

Jangan kita mencobai Allah! Berapa banyak orang yang mencobai Allah, mencoba datang ketempat pelacuran dan menganggap kuat imannya, mencobai Allah dengan menentang badai, mencobai Allah dengan kekayaan dan harga benda untuk memancing kekayaan yang lebih besar turun. Mencobai Allah dengan menuntut kenikmatan daging. Mencobai Allah dengan tetap tinggal didalam dosa.

Di sungai Kapuas, Kalimantan, beberapa tahun lalu ada sekelompok pemuda dari Jawa yang mati hanyut tenggelam didalamnya. Mereka adalah orang-orang Kristen yang melayani orang-orang pedalaman Kalimantan, tetapi mereka mencobai Allah dengan berjalan diatas sungai Kapuas seperti Tuhan Yesus berjalan diatas danau Galilea. Kerinduan rohani yang kelihatannya indah, tetapi tidak sesuai dengan perintah Allah. Kuasa Allah tidak dinyatakan sesuai dengan kemauan kita. Roh Kudus bukan bekerja dan menyatakan karuniaNya sesuai dengan perintah dan kehendak kita tetapi semua terjadi atas kehendak Allah bukan kita (Ibrani 2:4).

Jawaban Adam terakhir membuat Iblis kehilangan kesempatan untuk melanjutkan tipu dayanya, berbeda dengan Hawa yang saat digoda untuk menjadi seperti Allah dengan melanggar hukumNya tidak menganggapnya itu mencobai Allah tetapi malah menganggapnya hal itu baik sehingga Iblis memiliki kesempatan untuk melanjutkan tipu dayanya sehingga Hawa jatuh dalam dosa dan membawa Adam juga berdosa. Berhati-hatilah dengan kerinduan rohani kita, cocokan segalanya dengan hukum-hukum Allah, sebab kita semua memiliki rencana yang indah masing-masing sesuai dengan bagian kita didalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:18). Setiap kita telah disiapkan Allah pelayanan yang indah-indah dan Tuhan ingin kita ambil bagian dalam bagian kita masing-masing (Efesus 2:10).

dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. [Markus 10:44]

KEGAGALAN ADAM PERTAMA DAN KEMENANGAN ADAM TERAKHIR

Adam telah gagal menjadi pemimpin, walaupun ia berada disamping Hawa, ia tidak melarang Hawa saat berbuat dosa bahkan ikut ambil bagian dalam dosa Hawa. Kejatuhan ini terjadi karena Adam membiarkan perempuan untuk memimpin yang mengakibatkan kehancuran dan kematian datang kedunia.

Adapun umat-Ku, penguasa mereka ialah anak-anak, dan perempuan-perempuan memerintah atasnya. Hai umat-Ku, pemimpin-pemimpinmu adalah penyesat, dan jalan yang kamu tempuh mereka kacaukan! [Yesaya 3:12]

Secara hurufiah, memang terjadi bahwa didalam organisasi gereja, wanita tidak diperkenan menjadi pemimpin, bahkan diajarkan 1 Korintus 14:34-35 atau 1 Timotius 2:11-12. Secara rohani maka hal ini menggambarkan Gereja Tuhan, harus tunduk kepada Kristus, tunduk kepada ajaran murni dari Firman Tuhan, bukan mendirikan peraturan gereja lebih dari apa yang diajarakan oleh Firman Tuhan. Saat peraturan gereja semakin banyak, peraturan diakonia, peraturan ibadah, peraturan organisasi dan sebagainya menjadi panduan pelayanan dan menaruh Alkitab sebagai pelengkap saja, maka saat itulah Gereja Tuhan akan tersesat dan jalan mereka kacau.

Adam terakhir menyatakan dirinya sebagai pemimpin dan ia menanggung kesalahan gereja sebagai mempelaiNya. Bukan seperti Adam pertama yang melempar dan menyalahkan perempuan yang Allah tempatkan disisinya, sebagai kambing hitam. Sekali tepuk dua lalat, sekali berucap didalam Kejadian 3:12, Adam menyalahkan Hawa dan sekaligus Allah yang telah menjadikan Hawa.

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya [Efesus 5:25]

Kegegalan Adam kedua adalah tidak tegas dengan kebenaran Firman Tuhan. Saat itu Allah hanya menurunkan satu saja hukum Allah, yaitu jangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk, tetapi Adam gagal menjaga Firman Tuhan tetap terpelihara dan membiarkan hukum Allah bercabang dan tidak jelas arah tujuannya.

Ketidak jelasan kebenaran Firman Tuhan, dapat membuat kejatuhan manusia. Hosea 4:6, mengatakan, Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu

Adam bukan saja membiarkan Hawa menambahkan larangan dengan merabanya, tetapi juga mengabaikan hukum Allah dengan melakukan apa yang dilarang oleh FirmanNya.

Tetapi Adam terakhir datang untuk menyatakan kebenaran Firman Tuhan, untuk menjaga hukum-hukum Allah terpelihara didalam hati setiap anak-anak Allah. Setiap godaan Iblis yang dilontarkan selalu dijawab “Ada tertulis…” sehingga Iblispun harus mundur dari tipu dayanya.

Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. [Yohanes 14:29]

Gereja harus tetap menjaga dan memelihara hukum-hukum Allah dan menyampaikan kebenaran Allah tanpa ditambah atau dikurangi. Sehingga Iblis tidak memiliki kesempatan untuk memperdaya kita.

PENUTUP

Demikian kita telah mempelajari kejatuhan Hawa dan bagaimana Adam terahir dapat tetap tinggal didalam kebenaran walau telah dicobai dengan pencobaan yang sama. Jangan biarkan Iblis memiliki kesempatan dalam hidup kita. Jadilah seperti Kristus yang telah memberikan teladan dalam menghadapi tipu daya ular tua.

dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis [Efesus 4:27]

Kita harus ingat bahwa kemengan Yesus di kayu salib atas dosa dan maut telah meremukan kepala ular tua (Kejadian 3:15), kuasa maut dan alam maut telah ditaklukan (1 Korintus 15:56-57) dan pemerintahan ular tua telah dilucuti dan menjadi tontonan (Kolose 2:15) seperti yang di tulis dalam kitab nubuat Yehezkhiel dan Yesaya tentang si Ular Tua. Karena itulah dalam menghadapi tipu daya Iblis kita jangan takut, gunakan perisai iman dan ambil kemenangan Kristus yang sudah disediakan bagi kita. Karena itulah Paulus katakan kita lebih dari pemenang (Roma 8:37).

h1

TUHAN sedang merenda

5 June 2010

Markus 1:16-20

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Petrus adalah seorang nelayan, pekerjaan sehari-harinya adalah menangkap ikan di danau Galilea. Danau Galilea adalah danau terbesar di Israel, dengan luas 166 kilometer persegi, panjangnya 21km dan lebarnya 13km, yang penuh dengan berbagai macam ikan. Selain Petrus, saudaranya Adreas dan juga teman-temannya Yakobus dan Yohanes juga adalah nelayan di danau Galilea.

Pada saat Tuhan Yesus memanggil mereka, mengajaknya ikut dan menjadikan mereka penjala manusia, mereka meninggalkan pekerjaannya dan segala sesuatunya untuk mengikut Kristus.

MENJADI NELAYAN KEMBALI

Namun demikan ada sesuatu yang menarik saat kita membaca didalam Yohanes 21:3, dikatakan, “Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.” Mereka kembali menjadi nelayan (setelah Tuhan Yesus mati dikayu salib).

Petrus adalah seorang tokoh penting yang ditulis dalam Perjanjian Baru, ia memiliki jiwa pemimpin, berani dan sangat mengasihi Yesus. Didalam banyak hal, Yesus selalu mengajak Petrus (juga terkadang Yohanes dan Yakobus), sementara murid yang lainnya menunggu disuatu tempat. Petrus selalu tampil didepan sebagai pemimpin. Ia pernah berkata, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” (Markus 14:29). Tetapi yang terjadi adalah bahwa Petrus yang tadinya meninggalkan segala sesuatunya untuk mengikut Yesus, kembali menjadi nelayan di danau Galilea.

Jika kita baca kisahnya, maka kita tahu, banyak guncangan yang diterima Petrus, sehingga ia merasakan putus asa, takut dan memutuskan untuk menjadi orang biasa, bekerja sebagai nelayan kembali. Kita semua mengetahui bahwa Petrus adalah satu-satunya rasul Kristus yang menyangkal Kristus didepan banyak orang (Matius 26:69-75). Menyangkal Yesus dihadapan manusia bukan sesuatu yang sederhana, sebab itu adalah dosa yang besar (Matius 10:32-33).

Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Matius 26-74-75)

Selain itu, ia melihat Yesus, Tuhan dan Mesias yang dicintai dianiaya dan mati digantung diatas kayu salib. Ia merasa kehilangan yang amat sangat. Kematian orang yang kita kasihi tentu membuat hati ini menjadi sangat sedih. Petrus (dan semua murid-muridNya) menaruh harap akan pemulihan Kerajaan Israel secara jasmani (Kisah Rasul 1:6) dan kini ia melihat Mesias yang ia tahu akan jadi Raja menurut nubuat para nabi, mati, bahkan ia tidak sempat mengucapkan kata maaf dan penyesalan atas penyangkalannya kepada Yesus. Pukulan berat inilah yang membuat ia merasa sangat bersalah, kotor, jijik, tidak berguna dan terbuang.

Tidak heran jika kita membaca ayat yang menuliskan Petrus memutuskan kembali menjadi nelayan, meninggalkan semua pengharapan dan janji yang mereka terima saat mengikut Yesus (Lukas 22:23-30, Matius 20:20-21). Sebab pada saat itu mereka tidak tahu atau belum sadar bahwa semua yang dijanjikan Kristus adalah untuk perkara kekal, kerajaanNya adalah kerajaan Ilahi bukan kerajaan dunia (Yohanes 2:22). Harapannya telah hilang bersama matinya Mesias dan dosanya.

Sering kali juga diantara kita, saat kita terjatuh dalam dosa dan kesalahan, saat kita terjatuh dalam kelemahan kita, kita merasa lagi tidak layak, merasa putus asa dan kehilangan semangat dan pengharapan kita, kita meninggalkan pekerjaan Tuhan, kita meninggalkan Alkitab kita dan jam-jam doa kita. Ada juga yang melihat orang lain, misalkan seperti pendeta atau orang tua atau orang yang kita segani berbuat salah atau dosa. Melihatnya terjatuh dalam kekelaman, dan membuat kita sedih dan kehilangan harapan dan berakhir dengan keputusan untuk meninggalkan pelayanan dan ibadah, tidak lagi berdoa dan membaca Alkitab. Sungguh naif jika kita berbuat seperti itu.

PENUH KELEMAHAN

Petrus yang menjadi pemimpin dari teman-temannya, yang melahirkan gereja dan membawa gereja kudus dihadapan Allah sampai hari ini, bukanlah seorang yang sempurna. Ia penuh dengan kekurangan, kelemahan dan ketidak mampuan, memiliki kesalahan, bahkan kesalahan yang luar biasa. Tetapi sungguh luar biasa pula. Petrus si lemah, yang merasa sangat bersalah dan tidak berguna karena masa lalu yang ia menyangkal Tuhan, ternyata Alkitab menjelaskan Tuhan tetap melengkapi Petrus sebagai rasul yang memimpin para rasul lainnya dalam membangun gereja Tuhan di muka bumi ini. Posisinya tidak diganti oleh rasul yang lain atau siapapun.

Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong. (Mazmur 31:32)

Banyak orang beranggapan, seorang jika telah bersalah ia telah cacat, seorang yang telah berbuat jahat dan dipenjara, saat keluar dari penjara ia dimata masyarakat adalah sorang bekas napi, seorang yang memiliki catatan buruk. Banyak orang merasa saat perjalanan hidupnya penuh dengan lembar hitam, ada catatan dosa-dosa besar yang diperbuat, walau ia yakin Tuhan mengampuni, tetapi rasa bersalah ini membuat ia tetap merasa sebagai orang yang telah cacat dalam perjalanan hidupnya. Jangan menghukum diri sendiri, itu tipu daya setan (Kolose 3:23). Yudas sama-sama berbuat dosa, mengkianati Yesus dan juga sama-sama menyesal, tetapi Yudas menghukum diri sendiri dengan mati mengantung diri (Matius 27:3-4), sampai jatuh dan perutnya pecah (Kisah Rasul 1:18).

Tidak ada manusia yang sempurna didunia saat ini. Belum ada yang telah mencapai kesempurnaan ilahi, termasuk rasul Paulus (Filipi 3:12-13) sehingga tidak lagi pernah jatuh dan berbuat dosa. Karena kita semua dikurung oleh Tubuh Maut (Roma 7:21-24), kita masih dapat jatuh dalam kesalahan. Tetapi kita harus tahu, bahwa Allah sangat mengasihi kita dan tidak akan membiarkan kita tetap jatuh dan tergeletak. “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” Amsal 24:16.

Dihadapan Tuhan, seorang yang telah bertobat, walau seburuk apapun dosanya, walau sekelam apapun masa lalunya, tidak ada satupun yang diingat Allah selain lembar putih yang bersih tanpa noda atau bekas noda. Pengampunan dari Allah adalah melupakan dan tidak membangkit-bangkitkan kesalahan masa lalu, sebab semua kesalahan itu tidak ada lagi oleh karena darah Kristus.

Marilah, baiklah kita berperkara! -firman TUHAN-Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. (Yesaya 1:18)

Petrus telah menyangkal Kristus, tetapi Petrus menyesalinya dan kuasa pengampunan dosa itu menaunginya sehingga walau ia lemah dan bersalah, kemurahan Allah telah membuatnya berdiri dihadapan Allah tanpa cacat, noda dan kerut. (Efesus 5:27, I Korintus 1:8).

RENCANA-NYA TIDAK PERNAH GAGAL

Rencana Allah atas hidupnya juga tidak berubah, Petrus tetap sang batu karang, dimana gereja Tuhan akan dibangun olehnya (Matius 16:18). Saat Yesus bangkit, kembali Yesus mengingatkan tugas Petrus untuk membangun gereja bersama para rasul yang lainnya.

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15)

Tuhan tahu isi hati manusia (Yohanes 2:25), Tuhan tahu saat Petrus mengatakan “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” Petrus mengatakan dengan sungguh dari hatinya. Petrus bersungguh-sungguh berusaha mengasihi Tuhan, lebih dari yang lainnya. Karena itulah saat pertama kali Yesus bertanya, Yesus berkata, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Petrus diingatkan akan kerinduan dan pengharapannya sebelum ia terjatuh didalam kelemahan.

Jawaban Petrus yang pertama diulang oleh Tuhan Yesus kedua dan akhirnya sampai ketiga kalinya. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Yohanes 21:17). Tuhan bertanya sampai tiga kali, sampai Petrus merasakan kesedihan dan mengingatkan akan tiga kali ia menyangkalNya. Diawali dengan kata-kata “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” saat Petrus diperingatkan akan tiga kali menyangkal sebelum ayam berkokok, demikian Yesus mengawali pertanyaannya dengan kata “… lebih dari mereka ini”. Dan juga tiga kali Petrus menyangkal di pagi hari sebelum ayam berkokok, demikian juga Yesus pagi hari itu bertanya tiga kali yang membuat hati Petrus sedih dan mungkin sekali Petrus mengingat kembali rasa putusasanya saat ia telah berdosa dan yang membuatnya memutuskan kembali menjadi nelayan.

Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka. (Mazmur 147:3)

Tuhan tahu Petrus sangat terpukul dengan dosanya dan ia merasa tidak lagi sebaik dahulu, ia tidak lagi merasa bersemangat seperti dulu, ia tidak lagi merasa layak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang dia impikan saat bersama Yesus (Yohanes 14:12). Karena itulah maka Allah yang membalut luka-luka dan menyembuhkan yang patah hati, tidak membiarkan Petrus terbiasa dengan penyesalannya, tidak membiarkan Petrus terbiasa suam-suam, dengan membuka lukanya agar dapat dibalut.

Perhatian Allah terhadap Petrus yang patah hati terlihat sejak berita kebangkitan Yesus dari malaikat di kuburNya, tertulis khusus disampaikan kepada Petrus. “Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.” Markus 16:7. Agar Petrus tahu, Tuhan-nya bangkit untuknya, ia tidak mati dan pengharapannya masih tetap ada. (Saat itu hanya Petrus yang terpukul hatinya dengan dosa saat menjelang kematian Yesus).

Setalah Petrus merasakan kembali kesedihannya yang lama, Yesus mengajaknya berbicara berdua (Yohanes 21:19-20) untuk menguatkan imannya agar ia dapat mengenapi apa yang dikatakan Yesus dalam Lukas 22:32, “tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Saat kita terjatuh dalam dosa, dan saat kita menyesal dan bertobat. Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, mengangkat kita dan menghibur kita. Ia membalut luka-luka kita dan menguatkan kita sehingga kita menjadi kuat kembali.

Tetapi Allah tidak menginginkan kita menyimpan kepahitan, menyimpan penyesalan dan kepedihan itu didalam hati kita. Sering kali orang beriman, menyimpan penyesalannya dan kesedihannya didalam hati yang terdalam. Tuhan ingin semua itu terbongkar keluar dan hati kita bersih dari semua rasa besalah, bersih dari semua kepahitan dan bayangan akan kekelaman masa lalu.

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, (Yohanes 3:19-21)

Jangan biarkan hati kita mempermainkan kita. Jangan biarkan kita duduk dibangku gereja, melayani pekerjaan Tuhan, berdoa dan membaca Alkitab dalam keadaan hati yang menyimpan kekelaman. Menyimpannya ditempat paling dalam di dalam hati yang suatu saat Iblis akan memakainya untuk menuduh kita dan membuat kita patah semangat dan lemah kembali. Petrus hari itu melepaskan segala kekelaman hatinya, segala penyesalan dan rasa bersalahnya.

Pada saat Roh Kudus turun, dan ia memperolah kuasa yang besar dan karunia Roh Kudus ia mengajar banyak orang (Kisah Rasul 2:38-41), mengadakan mujizat (Kisah Rasul 5:15-16) dan membangun gereja Tuhan dan yang sampai hari ini kita lihat gereja di mana-mana, semua adalah buah dari tugas Petrus bersama dengan para rasul melakukan kehendak Kristus. Tidak ada yang berkurang dari mata Allah sebelum Petrus jatuh dan sesudah Petrus jatuh, tidak ada yang berkurang dari rencana Allah terhadapnya.

DIMULAI DARI KETIDAK SEMPURNAAN

Memang didalam perjalanan hidup tidak semuanya indah dimata kita, tetapi kita harus tahu, bahwa segala sesuatunya Tuhan janjikan akan menjadi indah pada saatnya. Pengkotbah 3:11, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

Dari awal sampai akhir, kita melihat bahwa Allah bekerja membuat sesuatu yang tidak sempurna menjadi sempurna. Petrus yang lemah diolah menjadi Petrus yang luar biasa di jaman para rasul. Membuat sesuatu yang tidak baik menjadi baik, membuat segala sesuatunya indah. Memang pada awalnya terlihat tidak baik, tetapi lewat proses Allah membuat itu menjadi sempurna. Allah tidak menciptakan sesuatu yang sempurna sejak mulanya, Petrus bukan superman tetapi Ia membuat Petrus sempurna melalui proses.

Demikian juga hidup kita, disekitar kita kita lihat berbagai macam kekurangan, kelemahan dan ketidak sempurnaan hidup. Kita melihat pasangan hidup kita penuh dengan kekurangan, kita melihat kesalahan-kesalahan orang tua kita, kita melihat kenakalan anak-anak kita, kita melihat para pemimpin dan pendeta yang hidup didalam kelemahan dan kita merasakan pahitnya hubungan dengan teman, sahabat bahkan saudara. Kita melihat kekurangan dan kelemahan kita, kita melihat diri kita dan malu mengharapkan perkara yang mulya dari Allah. Kita lebih memilih duduk dibangku gereja dan pulang. Kita lebih memilih diam dan bungkam. Tetapi sesungguhnya setiap dari kita Allah merencanakan perkara yang indah. Kita semua direncakan untuk mencapai kesempurnaan, hidup didalam kekudusan seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48)

Apakah dosa, kejatuhan, kelemahan dan kesalahan kita yang lalu-lalu menghalangi kita berharap hidup didalam kesempurnaan? Apakah kita takut mengharapkan sesuatu yang terlalu besar bagi kita? Sempurna bukan sesuatu yang terlalu besar, sebab memang haruslah demikian. Jika saat ini kita melihat hidup kita didalam kelemahan, kekurangan dan ketidak berdayaan. Mungkin kita sakit, mungkin kita miskin, mungkin kita bodoh dan sekolah tidak selesai, mungkin kita tidak bisa apa-apa, mungkin kita telah berumur, mungkin kita lemah dan sering jatuh bangun, mungkin kita mantan pendosa, tetapi rencana Allah tidak memandang masa lalu kita dan memandang kondisi jasmani, rencana Allah tetap adalah menjadikan kita kudus dan tak bercacat cela dihadapanNya. Ia menghendaki kita hidup sempurna. Sempurna itu bukan datang dengan sendirinya, tetapi sempurna itu sebuah proses. Filipi 3:13, mengajarkan kepada kita bahwa kita harus mengejarnya, melupakan apa yang dibelakang kita, melupakan semua kekelaman hidup masa lalu, dan mengarahkan diri pada apa yang ada didepan kita. Rencana yang harus kita genapkan, seperti Petrus dengan dosa dan kekelamannya, ia bangkit untuk menggenapi rencananya.

JANGAN TINGGAL DIDALAM KELEMAHAN

Banyak umat Kristen tertipu oleh Iblis, mereka merasa aman jatuh bangun dalam dosa. Mereka merasa darah Kristus telah menghapus dosanya dan ia merasa baik-baik saja saat ia jatuh dan bangun dan jatuh lagi dan bangun lagi. Apalagi setelah mendengar ulasan tentang Petrus yang lemah dan jatuh dalam dosa tetap dipakai untuk menggenapi rencana Allah. Jangan bodoh. Allah tidak dapat dipermainkan.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Galatia 6:7)

Tuhan melihat hati kita, saat kita jatuh dan bertobat minta ampun, didalam hati kecil kita masih menyimpan keinginan untuk kembali berdosa, maka dihadapan Allah, kita sama sekali tidak menyesal dan Yesus tidak akan mempercayakan diriNya kepada mereka yang berbuat seperti itu (Yohanes 2:23-25).

Mungkin saat ini aman-aman saja dengan keadaan kita, dengan kelemahan kita. Jatuh bangun tanpa berkeinginan untuk mengejar kesempurnaan yang seharusnya menjadi perlombaan iman. Yang membiarkan hati ini penuh dengan kekelaman maka saatnya hari Tuhan datang dengan tiba-tiba dan penyesalan kita tidaklah berguna lagi (Lukas 21:34).

Ingatlah apa yang dikatakan oleh Samson, Lalu berserulah perempuan itu: “Orang Filistin menyergap engkau, Simson!” Maka terjagalah ia dari tidurnya serta katanya: “Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas.” Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia. Hakim-Hakim 16:20

Demikian saat ini, mari kita melihat bahwa memang dunia ini tidak sempurna, memang semua orang memiliki kelemahan dan kekurangan, memang kita masih dapat jatuh dalam dosa. Tetapi didalam kelemahan kita sekarang, kita belajar untuk melihat bahwa Tuhan sedang merenda hidup kita. Kita tidak tahu apa yang dikerjakan oleh Allah dari awal sampai akhir, tetapi kita tahu, bahwa ia menjadikan segala sesuatunya baik dan indah pada saatnya. Walau kita harus jatuh tetapi tidak akan tergeletak, kita akan bangkit kembali dan kita akan berjalan tetap mengikut langkah Kristus sampai kepada kesempurnaan yang dijanjikannya.

Amin

h1

Bapa Yang Baik

29 May 2010

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7:7-11

Didunia ini, ada ayah yang tidak peduli dengan anaknya, ada yang malah melukai, menjual atau atau bahkan membunuh anaknya sendiri, tetapi itu satu atau dua kasus dari jutaan bahkan puluhan juta ayah. Secara umum, semua ayah sangat mencintai anaknya.

Ayah memang cenderung tidak banyak bicara seperti wanita, atau ibunya, tetapi perhatian dan pikirannya dicurahkan untuk anak. Mereka membanting tulang, dari pagi sampai malam untuk memberikan apa yang layak dan terbaik untuk anak-anaknya.

Bahkan seorang penjahat, terhadap anaknya sendiri, ia lebih perhatian dan peduli. Walau masyarakat mengenalnya jahat, terhadap anaknya ia baik dan bahkan anaknya menganggap ayahnya sebagai pahlawannya. Apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh anak, sang Ayah akan selalu berusaha memenuhi bahkan walau tidak mampupun sang Ayah akan berusaha untuk anak-anak tercintanya.

Didalam ayat Firman Tuhan diatas, Yesus mengatakan bahwa Ayah didunia ini walau jahat sekalipun memeberikan roti kepada anaknya yang meminta roti, apalagi Bapa di Surga, yang jauh lebih sempurna dari semua bapa didunia.

Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti?

Roti adalah makanan utama bangsa Israel, seperti nasi di Indonesia. Sering kali kita mengdengar istilah “bekerja untuk sesuap nasi” dimasyarakat yang kita tahu maksudnya adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Demikian juga roti, disebutkan dalam kitab suci, merupakan gambaran akan kebutuhan hidup kita. Seperti sandang, pangan dan papan.

Sebagai orang beriman, kita percaya kita adalah anak-anak Allah (Galatia 3:26) dan kerena itu kita berdoa kepada Bapa di Surga meminta kebutuhan hidup kita (Mazmur 55:23, Filipi 4:19) . Tidak banyak diantara kita berdoa memohon kepada Bapa sambil bercucuran air mata dan mungkin juga dengan doa puasa.

Sering kali juga sebagai anak-anak Allah, kita merasa, kok Bapa memberikan “batu” saat kita meminta “roti” kepadaNya? Saat kita membutuhkan sesuatu, mengharapkan pertolonganNya atas persoalan atau mengharapkan berkat dan kesembuhan dari Bapa, yang kita lihat dihadapan kita malah sesuatu yang lebih berat, melihat kepahitan bahkan kematian. Seperti menerima batu bukan roti.

Pada saat itu, Iblis akan memanahkan panah beracunnya, kita mencobai Allah dengan tuntutan bahkan disertai ancaman-ancaman. Kita tanpa sadar mulai berkata-kata seperti Iblis. “Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Lukas 4:3. Kita mulai menuntut seperti apa yang kita mau, dan tidak lagi mau mendengarkan apa yang Bapa mau. Banyak diantara kita mengancam Allah, “Jika aku tidak mendapatkan… aku tidak akan ke gereja lagi” atau “Jika dalam bulan ini tidak ada jawaban… aku tidak akan menyebut Tuhan lagi” dan banyak kata-kata jahat dari Iblis yang kita lontarkan.

Jangan meminta “batu menjadi roti” sebab Bapa di Surga tidak pernah memberikan batu. Ia memberikan roti kepada anak-anakNya. Allah Bapa memberikan apa yang kita butuhkan, memberikan segala yang terbaik untuk kita. Iblis mengatakan itu “batu” tetapi kita harus dapat melihat bahwa Bapa yang mengasihi kita telah menyediakan roti yang nikmat untuk kita.

“…, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” II Korintus 4:18

Bapa di Surga, memikirkan apa yang terbaik, seperti bapa di dunia mengasihi anaknya, ia memberikan sesuatu yang berguna bagi masa depan kita. Sering kali anak dipukul, sering kali diwajibkan belajar, mengerjakan tugas sekolah sambil ditunggui dengan rotan, kadang anak dipaksa untuk meminum cairan yang pahit agar ia sembuh dari sakitnya, saat kita kecil kita merasa ayah melakukan hal yang jahat, yang iblis katakan itu “batu”. Tetapi saat kita dewasa kita tahu, semua itu untuk kebaikan kita, untuk masa-masa kedepan yang kita saat itu tidak dapat lihat. Demikian Bapa di Surga, sering kali berbuat lebih dari itu, Ia tidak ingin kita binasa di neraka dan dihukum bersama-sama orang berdosa dan antikristus. Karena itu roti yang diberi terkadang terasa tidak enak bagi daging, tetapi itu sehat dan bermanfaat untuk kesehatan kita.

Mungkin kita ingat ayat yang sering kita baca berikut ini, “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:32-33. Segala kebutuhan jasmani, segala perkara didunia ini yang fana, Allah Bapa di Surga tahu kita memerlukannya dan dengan senang hati akan diberikannya kepada kita, tetapi lebih dari itu, Allah Bapa di Surga, mengutamakan perkara kekal.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? Lukas 9:25

Karena itulah maka sering kali kita tidak melihat roti yang kita minta seperti roti yang kita harapkan, sebab roti yang kita butuhkan diberikan oleh Bapa untuk perkara didunia dan juga untuk kekal, bukan hanya untuk dunia ini saja.

Belajarlah untuk mulai melihat bahwa Bapa di Surga selalu memberikan roti kepada anak-anakNya, Ia tidak pernah memberi batu, sebab memang demikian yang dijanjikanNya.

atau memberi ular, jika ia meminta ikan?

Di Indonesia terdapat berbagai macam jenis ular, paling banyak habitatnya diantaranya adalah ular yang tidak berbisa, seperti ular pohon, ular sawah dan banyak lainnya lagi. Tetapi di Israel dan sekitarnya, ular disana kebanyakan adalah ular-ular yang beracun, mengandung bisa yang mematikan. Setidaknya ada 40 jenis ular yang hidup di Israel, separuh lebih diantaranya ular beracun.

Saat kita meminta ikan kepada Bapa di Surga, ia tidak akan memberikan ular yang dapat menyemburkan bisa mematikan. Banyak orang saat menginginkan sesuatu, saat berharap menerima “ikan” yang baik, malah menghadapi perkara yang lebih buruk lagi dan bahkan seakan membawa kita terpaksa berbuat dosa dan kejahatan. Membuat kita terhimpit dan tidak ada jalan keluar, sepertinya Bapa memberikan ular yang berbisa kepada kita.

Allah tidak pernah membawa kita kepada keadaan yang membuat kita berdosa, yang menghimpit kita seakan kita terpaksa harus berbuat dosa dan kejahatan. Ingat apa yang ditulis dalam kitab Yakobus.

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Yakobus 1:13-15

Allah tidak pernah membawa seseorang kepada keadaan dimana ia terjatuh dalam dosa. Bahkan dalam kesukaran yang terberat sekalipun, Bapa selalu memberikan jalan keluar bagi anak-anakNya tetapi sering kali mereka mengabaikannya dan memilih jalannya sendiri, yaitu jalan keluar yang lahir dari keinginan daging dan hawa nafsunya.

Sering kali seseorang dihadapkan kepada keadaan dimana ia terhimpit misalkan, keuangan, saat kita belajar tentang hidup berpada, berharap dengan iman, disisi lain pikiran dan hati kita melahirkan keinginan daging dan hawa nafsu untuk menjadi lebih kaya dan akhirnya ia terjebak oleh berbagai macam masalah dan berujung kepada perbuatan dosa dan kejahatan. Misalkan ia memilih jalan berhutang kepada rentenir atau meminjam uang di bank untuk sesuatu pekerjaan yang tidak jelas, pada saat kehancuran datang lebih parah, banyak orang menuduh Bapa memberikan ular saat ia meminta ikan. Padahal semuanya jelas, bisa ular itu datang dari hawa nafsu kita, dari dosa dan kejahatan.

Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat, tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak. Amsal 23:31-32.

Disekitar kita, banyak jalan keluar, banyak jalan untuk mencapai harapan dan keinginan kita dengan jalan yang penuh liku dan jauh dari kebenaran. Berapa sering kita melihat peluang yang sebenarnya bukan peluang. Jika kita menempuh jalan yang menarik dan nikmat tersebut, saat berubah menjadi bisa ular, jangan menyalahkan Tuhan dan mengatakan “Tuhan memberiku ular berbisa”

Ingat, Bapa selalu memberikan yang terbaik, ia memberikan ikan kepada kita tetapi lebih dari itu, Bapa menghendaki kita memikirkan perkara yang kekal, perkara yang diatas bukan hanya perkara fana. Selama nafsu rakus ini menjalar hidup kita, maka kita akan menuntut ikan seperti yang kita mau, bukan ikan yang terbaik yang Bapa sediakan.

Ikan dan daging, adalah pelengkap dari lauk-pauk pada masa itu. Didalam kehidupan saat ini, ikan dan daging yang ditulis adalah sesuatu yang mungkin dapat digambarkan sebagai keinginan atau biasa kita sebut kebutuhan sekunder (walau menurut ilmu kesehatan modern, ikan dan daging itu adalah kebutuhan gizi dan nutrisi harian yang kita kenal dengan istilah empat sehat lima sempurna).

Sebagai anak, jika kita menginginkan sesuatu tentu kita meminta kepada ayah kita bukan kepada tetangga atau orang asing. Demikian juga dengan kebutuhan sekunder dan keinginan-keinginan kita meminta juga kepada Allah Bapa di Surga. Janji Bapa bahwa Ia juga akan memberikan ikan saat kita meminta ikan. Tetapi bukan ikan yang membawa kita berdosa dan lebih dekat kepada dunia.

Seperti yang terjadi pada bangsa Israel di padang gurun, Bapa telah memberikan Manna, roti dari Surga, tetapi mereka menuntut ikan yang dari Mesir. Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” Bilangan 11:4-6.

Jangan menuntut ikan sesuai dengan keinginan kita, belajarlah percaya kepada Bapa, sebab ia yang memelihara hidup kita. Ia yang menjamin makan dan hari-hari kita penuh sukacita dan damai sejahtera. Bapa sayang kepada anak-anakNya, Bapa yang baik memberikan yang terbaik untuk kekal bukan memuaskan nafsu didunia ini dan merusak sesuatu yang kekal yang jauh lebih berharga.

Saat 5000 orang laki-laki kelaparan, Bapa memberikan mereka makan roti dan ikan sampai puas dan bukannya memberi batu dan ular. Hanya dari 5 roti dan 2 ikan, bukan hanya 5000 orang laki-laki makan sampai puas tetapi juga anak-anak dan wanita serta masih sisa 12 bakul (Matius 14:14-21). Sering kali saat kita meminta roti dan ikan, kita menerima roti dan ikan dari Bapa, tetapi mata jasmani merasa roti dan ikan tersebut kurang. Saat itu dapatkah kita percaya Bapa memenuhi segenap kebutuhan dan bahkan memperhatikan keinginan kita? “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3:5-6.

Jika kita percaya (Markus 9:23), maka saat itulah mujizat akan kita lihat, saat itu kita melihat kuasaNya bekerja dalam hidup kita dan kita melihat Allah Bapa memelihara kita dengan tanganNya yang perkasa. Didalam kelemahan kita, ada kuasa yang besar dari Allah yang bekerja lewat iman dan pengharapan (II Korintus 12:9-10).

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Inilah janji Bapa di Surga kepada anak-anakNya. Bapa menghendaki anak-anakNya tidak malu untuk meminta kepadaNya. “Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Yohanes 16:23-24.

Jangan berhenti berdoa, dan jangan malu atau segan berdoa memohon kepada Allah Bapa di Surga, sebab didalam nama Tuhan Yesus Kristus, apa yang kita minta akan diberikan kepada kita. Tentu permintaan yang bukan lahir dari hawa nafsu kita, tetapi permintaan anak-anakNya yang memandang kepada perkara-perkara diatas (1 Yohanes 5:14).

Jangan juga berhenti mencari, karena apa yang kita cari akan kita temukan. Mencari adalah kata kerja yang aktif bukan pasif. Dimana kita harus berusaha tanpa putus asa. Sering kali kita hanya berusaha sebentar saja dan telah berhenti. Firman Tuhan katakan carilah dan carilah sampai kita menemukan, sebab pasti kita akan menemukannya dengan iman atas janji Bapa kepada kita.

Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Ibrani 10:36

Jangan berhenti mengetuk, sebab pintu pasti akan dibukakan. Mengetuk pintu sampai dibukakan adalah tentang berharap. Jangan berhenti berharap, sebab pengharapan kita nyata karena janji Allah tidak pernah berubah didalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Didalam segala hal kita harus memiliki pengharapan kepada Allah Bapa sampai segala sesuatunya digenapkan didalam hidup kita. “Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.” 1 Korintus 9:10

Ingatlah bahwa Bapa tidak pernah berdusta. Semua janji dari Bapa yang baik itu diberikan kepada kita, agar kita anak-anakNya dapat hidup berbahagia didunia ini, hidup damai dan sejahtera didalam namaNya yang agung dan besar.

Amin.