Archive for the ‘Rohani’ Category

h1

TUHAN sedang merenda

5 June 2010

Markus 1:16-20

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Petrus adalah seorang nelayan, pekerjaan sehari-harinya adalah menangkap ikan di danau Galilea. Danau Galilea adalah danau terbesar di Israel, dengan luas 166 kilometer persegi, panjangnya 21km dan lebarnya 13km, yang penuh dengan berbagai macam ikan. Selain Petrus, saudaranya Adreas dan juga teman-temannya Yakobus dan Yohanes juga adalah nelayan di danau Galilea.

Pada saat Tuhan Yesus memanggil mereka, mengajaknya ikut dan menjadikan mereka penjala manusia, mereka meninggalkan pekerjaannya dan segala sesuatunya untuk mengikut Kristus.

MENJADI NELAYAN KEMBALI

Namun demikan ada sesuatu yang menarik saat kita membaca didalam Yohanes 21:3, dikatakan, “Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.” Mereka kembali menjadi nelayan (setelah Tuhan Yesus mati dikayu salib).

Petrus adalah seorang tokoh penting yang ditulis dalam Perjanjian Baru, ia memiliki jiwa pemimpin, berani dan sangat mengasihi Yesus. Didalam banyak hal, Yesus selalu mengajak Petrus (juga terkadang Yohanes dan Yakobus), sementara murid yang lainnya menunggu disuatu tempat. Petrus selalu tampil didepan sebagai pemimpin. Ia pernah berkata, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” (Markus 14:29). Tetapi yang terjadi adalah bahwa Petrus yang tadinya meninggalkan segala sesuatunya untuk mengikut Yesus, kembali menjadi nelayan di danau Galilea.

Jika kita baca kisahnya, maka kita tahu, banyak guncangan yang diterima Petrus, sehingga ia merasakan putus asa, takut dan memutuskan untuk menjadi orang biasa, bekerja sebagai nelayan kembali. Kita semua mengetahui bahwa Petrus adalah satu-satunya rasul Kristus yang menyangkal Kristus didepan banyak orang (Matius 26:69-75). Menyangkal Yesus dihadapan manusia bukan sesuatu yang sederhana, sebab itu adalah dosa yang besar (Matius 10:32-33).

Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Matius 26-74-75)

Selain itu, ia melihat Yesus, Tuhan dan Mesias yang dicintai dianiaya dan mati digantung diatas kayu salib. Ia merasa kehilangan yang amat sangat. Kematian orang yang kita kasihi tentu membuat hati ini menjadi sangat sedih. Petrus (dan semua murid-muridNya) menaruh harap akan pemulihan Kerajaan Israel secara jasmani (Kisah Rasul 1:6) dan kini ia melihat Mesias yang ia tahu akan jadi Raja menurut nubuat para nabi, mati, bahkan ia tidak sempat mengucapkan kata maaf dan penyesalan atas penyangkalannya kepada Yesus. Pukulan berat inilah yang membuat ia merasa sangat bersalah, kotor, jijik, tidak berguna dan terbuang.

Tidak heran jika kita membaca ayat yang menuliskan Petrus memutuskan kembali menjadi nelayan, meninggalkan semua pengharapan dan janji yang mereka terima saat mengikut Yesus (Lukas 22:23-30, Matius 20:20-21). Sebab pada saat itu mereka tidak tahu atau belum sadar bahwa semua yang dijanjikan Kristus adalah untuk perkara kekal, kerajaanNya adalah kerajaan Ilahi bukan kerajaan dunia (Yohanes 2:22). Harapannya telah hilang bersama matinya Mesias dan dosanya.

Sering kali juga diantara kita, saat kita terjatuh dalam dosa dan kesalahan, saat kita terjatuh dalam kelemahan kita, kita merasa lagi tidak layak, merasa putus asa dan kehilangan semangat dan pengharapan kita, kita meninggalkan pekerjaan Tuhan, kita meninggalkan Alkitab kita dan jam-jam doa kita. Ada juga yang melihat orang lain, misalkan seperti pendeta atau orang tua atau orang yang kita segani berbuat salah atau dosa. Melihatnya terjatuh dalam kekelaman, dan membuat kita sedih dan kehilangan harapan dan berakhir dengan keputusan untuk meninggalkan pelayanan dan ibadah, tidak lagi berdoa dan membaca Alkitab. Sungguh naif jika kita berbuat seperti itu.

PENUH KELEMAHAN

Petrus yang menjadi pemimpin dari teman-temannya, yang melahirkan gereja dan membawa gereja kudus dihadapan Allah sampai hari ini, bukanlah seorang yang sempurna. Ia penuh dengan kekurangan, kelemahan dan ketidak mampuan, memiliki kesalahan, bahkan kesalahan yang luar biasa. Tetapi sungguh luar biasa pula. Petrus si lemah, yang merasa sangat bersalah dan tidak berguna karena masa lalu yang ia menyangkal Tuhan, ternyata Alkitab menjelaskan Tuhan tetap melengkapi Petrus sebagai rasul yang memimpin para rasul lainnya dalam membangun gereja Tuhan di muka bumi ini. Posisinya tidak diganti oleh rasul yang lain atau siapapun.

Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong. (Mazmur 31:32)

Banyak orang beranggapan, seorang jika telah bersalah ia telah cacat, seorang yang telah berbuat jahat dan dipenjara, saat keluar dari penjara ia dimata masyarakat adalah sorang bekas napi, seorang yang memiliki catatan buruk. Banyak orang merasa saat perjalanan hidupnya penuh dengan lembar hitam, ada catatan dosa-dosa besar yang diperbuat, walau ia yakin Tuhan mengampuni, tetapi rasa bersalah ini membuat ia tetap merasa sebagai orang yang telah cacat dalam perjalanan hidupnya. Jangan menghukum diri sendiri, itu tipu daya setan (Kolose 3:23). Yudas sama-sama berbuat dosa, mengkianati Yesus dan juga sama-sama menyesal, tetapi Yudas menghukum diri sendiri dengan mati mengantung diri (Matius 27:3-4), sampai jatuh dan perutnya pecah (Kisah Rasul 1:18).

Tidak ada manusia yang sempurna didunia saat ini. Belum ada yang telah mencapai kesempurnaan ilahi, termasuk rasul Paulus (Filipi 3:12-13) sehingga tidak lagi pernah jatuh dan berbuat dosa. Karena kita semua dikurung oleh Tubuh Maut (Roma 7:21-24), kita masih dapat jatuh dalam kesalahan. Tetapi kita harus tahu, bahwa Allah sangat mengasihi kita dan tidak akan membiarkan kita tetap jatuh dan tergeletak. “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” Amsal 24:16.

Dihadapan Tuhan, seorang yang telah bertobat, walau seburuk apapun dosanya, walau sekelam apapun masa lalunya, tidak ada satupun yang diingat Allah selain lembar putih yang bersih tanpa noda atau bekas noda. Pengampunan dari Allah adalah melupakan dan tidak membangkit-bangkitkan kesalahan masa lalu, sebab semua kesalahan itu tidak ada lagi oleh karena darah Kristus.

Marilah, baiklah kita berperkara! -firman TUHAN-Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. (Yesaya 1:18)

Petrus telah menyangkal Kristus, tetapi Petrus menyesalinya dan kuasa pengampunan dosa itu menaunginya sehingga walau ia lemah dan bersalah, kemurahan Allah telah membuatnya berdiri dihadapan Allah tanpa cacat, noda dan kerut. (Efesus 5:27, I Korintus 1:8).

RENCANA-NYA TIDAK PERNAH GAGAL

Rencana Allah atas hidupnya juga tidak berubah, Petrus tetap sang batu karang, dimana gereja Tuhan akan dibangun olehnya (Matius 16:18). Saat Yesus bangkit, kembali Yesus mengingatkan tugas Petrus untuk membangun gereja bersama para rasul yang lainnya.

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15)

Tuhan tahu isi hati manusia (Yohanes 2:25), Tuhan tahu saat Petrus mengatakan “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” Petrus mengatakan dengan sungguh dari hatinya. Petrus bersungguh-sungguh berusaha mengasihi Tuhan, lebih dari yang lainnya. Karena itulah saat pertama kali Yesus bertanya, Yesus berkata, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Petrus diingatkan akan kerinduan dan pengharapannya sebelum ia terjatuh didalam kelemahan.

Jawaban Petrus yang pertama diulang oleh Tuhan Yesus kedua dan akhirnya sampai ketiga kalinya. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Yohanes 21:17). Tuhan bertanya sampai tiga kali, sampai Petrus merasakan kesedihan dan mengingatkan akan tiga kali ia menyangkalNya. Diawali dengan kata-kata “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” saat Petrus diperingatkan akan tiga kali menyangkal sebelum ayam berkokok, demikian Yesus mengawali pertanyaannya dengan kata “… lebih dari mereka ini”. Dan juga tiga kali Petrus menyangkal di pagi hari sebelum ayam berkokok, demikian juga Yesus pagi hari itu bertanya tiga kali yang membuat hati Petrus sedih dan mungkin sekali Petrus mengingat kembali rasa putusasanya saat ia telah berdosa dan yang membuatnya memutuskan kembali menjadi nelayan.

Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka. (Mazmur 147:3)

Tuhan tahu Petrus sangat terpukul dengan dosanya dan ia merasa tidak lagi sebaik dahulu, ia tidak lagi merasa bersemangat seperti dulu, ia tidak lagi merasa layak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang dia impikan saat bersama Yesus (Yohanes 14:12). Karena itulah maka Allah yang membalut luka-luka dan menyembuhkan yang patah hati, tidak membiarkan Petrus terbiasa dengan penyesalannya, tidak membiarkan Petrus terbiasa suam-suam, dengan membuka lukanya agar dapat dibalut.

Perhatian Allah terhadap Petrus yang patah hati terlihat sejak berita kebangkitan Yesus dari malaikat di kuburNya, tertulis khusus disampaikan kepada Petrus. “Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.” Markus 16:7. Agar Petrus tahu, Tuhan-nya bangkit untuknya, ia tidak mati dan pengharapannya masih tetap ada. (Saat itu hanya Petrus yang terpukul hatinya dengan dosa saat menjelang kematian Yesus).

Setalah Petrus merasakan kembali kesedihannya yang lama, Yesus mengajaknya berbicara berdua (Yohanes 21:19-20) untuk menguatkan imannya agar ia dapat mengenapi apa yang dikatakan Yesus dalam Lukas 22:32, “tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Saat kita terjatuh dalam dosa, dan saat kita menyesal dan bertobat. Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, mengangkat kita dan menghibur kita. Ia membalut luka-luka kita dan menguatkan kita sehingga kita menjadi kuat kembali.

Tetapi Allah tidak menginginkan kita menyimpan kepahitan, menyimpan penyesalan dan kepedihan itu didalam hati kita. Sering kali orang beriman, menyimpan penyesalannya dan kesedihannya didalam hati yang terdalam. Tuhan ingin semua itu terbongkar keluar dan hati kita bersih dari semua rasa besalah, bersih dari semua kepahitan dan bayangan akan kekelaman masa lalu.

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, (Yohanes 3:19-21)

Jangan biarkan hati kita mempermainkan kita. Jangan biarkan kita duduk dibangku gereja, melayani pekerjaan Tuhan, berdoa dan membaca Alkitab dalam keadaan hati yang menyimpan kekelaman. Menyimpannya ditempat paling dalam di dalam hati yang suatu saat Iblis akan memakainya untuk menuduh kita dan membuat kita patah semangat dan lemah kembali. Petrus hari itu melepaskan segala kekelaman hatinya, segala penyesalan dan rasa bersalahnya.

Pada saat Roh Kudus turun, dan ia memperolah kuasa yang besar dan karunia Roh Kudus ia mengajar banyak orang (Kisah Rasul 2:38-41), mengadakan mujizat (Kisah Rasul 5:15-16) dan membangun gereja Tuhan dan yang sampai hari ini kita lihat gereja di mana-mana, semua adalah buah dari tugas Petrus bersama dengan para rasul melakukan kehendak Kristus. Tidak ada yang berkurang dari mata Allah sebelum Petrus jatuh dan sesudah Petrus jatuh, tidak ada yang berkurang dari rencana Allah terhadapnya.

DIMULAI DARI KETIDAK SEMPURNAAN

Memang didalam perjalanan hidup tidak semuanya indah dimata kita, tetapi kita harus tahu, bahwa segala sesuatunya Tuhan janjikan akan menjadi indah pada saatnya. Pengkotbah 3:11, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

Dari awal sampai akhir, kita melihat bahwa Allah bekerja membuat sesuatu yang tidak sempurna menjadi sempurna. Petrus yang lemah diolah menjadi Petrus yang luar biasa di jaman para rasul. Membuat sesuatu yang tidak baik menjadi baik, membuat segala sesuatunya indah. Memang pada awalnya terlihat tidak baik, tetapi lewat proses Allah membuat itu menjadi sempurna. Allah tidak menciptakan sesuatu yang sempurna sejak mulanya, Petrus bukan superman tetapi Ia membuat Petrus sempurna melalui proses.

Demikian juga hidup kita, disekitar kita kita lihat berbagai macam kekurangan, kelemahan dan ketidak sempurnaan hidup. Kita melihat pasangan hidup kita penuh dengan kekurangan, kita melihat kesalahan-kesalahan orang tua kita, kita melihat kenakalan anak-anak kita, kita melihat para pemimpin dan pendeta yang hidup didalam kelemahan dan kita merasakan pahitnya hubungan dengan teman, sahabat bahkan saudara. Kita melihat kekurangan dan kelemahan kita, kita melihat diri kita dan malu mengharapkan perkara yang mulya dari Allah. Kita lebih memilih duduk dibangku gereja dan pulang. Kita lebih memilih diam dan bungkam. Tetapi sesungguhnya setiap dari kita Allah merencanakan perkara yang indah. Kita semua direncakan untuk mencapai kesempurnaan, hidup didalam kekudusan seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48)

Apakah dosa, kejatuhan, kelemahan dan kesalahan kita yang lalu-lalu menghalangi kita berharap hidup didalam kesempurnaan? Apakah kita takut mengharapkan sesuatu yang terlalu besar bagi kita? Sempurna bukan sesuatu yang terlalu besar, sebab memang haruslah demikian. Jika saat ini kita melihat hidup kita didalam kelemahan, kekurangan dan ketidak berdayaan. Mungkin kita sakit, mungkin kita miskin, mungkin kita bodoh dan sekolah tidak selesai, mungkin kita tidak bisa apa-apa, mungkin kita telah berumur, mungkin kita lemah dan sering jatuh bangun, mungkin kita mantan pendosa, tetapi rencana Allah tidak memandang masa lalu kita dan memandang kondisi jasmani, rencana Allah tetap adalah menjadikan kita kudus dan tak bercacat cela dihadapanNya. Ia menghendaki kita hidup sempurna. Sempurna itu bukan datang dengan sendirinya, tetapi sempurna itu sebuah proses. Filipi 3:13, mengajarkan kepada kita bahwa kita harus mengejarnya, melupakan apa yang dibelakang kita, melupakan semua kekelaman hidup masa lalu, dan mengarahkan diri pada apa yang ada didepan kita. Rencana yang harus kita genapkan, seperti Petrus dengan dosa dan kekelamannya, ia bangkit untuk menggenapi rencananya.

JANGAN TINGGAL DIDALAM KELEMAHAN

Banyak umat Kristen tertipu oleh Iblis, mereka merasa aman jatuh bangun dalam dosa. Mereka merasa darah Kristus telah menghapus dosanya dan ia merasa baik-baik saja saat ia jatuh dan bangun dan jatuh lagi dan bangun lagi. Apalagi setelah mendengar ulasan tentang Petrus yang lemah dan jatuh dalam dosa tetap dipakai untuk menggenapi rencana Allah. Jangan bodoh. Allah tidak dapat dipermainkan.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Galatia 6:7)

Tuhan melihat hati kita, saat kita jatuh dan bertobat minta ampun, didalam hati kecil kita masih menyimpan keinginan untuk kembali berdosa, maka dihadapan Allah, kita sama sekali tidak menyesal dan Yesus tidak akan mempercayakan diriNya kepada mereka yang berbuat seperti itu (Yohanes 2:23-25).

Mungkin saat ini aman-aman saja dengan keadaan kita, dengan kelemahan kita. Jatuh bangun tanpa berkeinginan untuk mengejar kesempurnaan yang seharusnya menjadi perlombaan iman. Yang membiarkan hati ini penuh dengan kekelaman maka saatnya hari Tuhan datang dengan tiba-tiba dan penyesalan kita tidaklah berguna lagi (Lukas 21:34).

Ingatlah apa yang dikatakan oleh Samson, Lalu berserulah perempuan itu: “Orang Filistin menyergap engkau, Simson!” Maka terjagalah ia dari tidurnya serta katanya: “Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas.” Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia. Hakim-Hakim 16:20

Demikian saat ini, mari kita melihat bahwa memang dunia ini tidak sempurna, memang semua orang memiliki kelemahan dan kekurangan, memang kita masih dapat jatuh dalam dosa. Tetapi didalam kelemahan kita sekarang, kita belajar untuk melihat bahwa Tuhan sedang merenda hidup kita. Kita tidak tahu apa yang dikerjakan oleh Allah dari awal sampai akhir, tetapi kita tahu, bahwa ia menjadikan segala sesuatunya baik dan indah pada saatnya. Walau kita harus jatuh tetapi tidak akan tergeletak, kita akan bangkit kembali dan kita akan berjalan tetap mengikut langkah Kristus sampai kepada kesempurnaan yang dijanjikannya.

Amin

Advertisements
h1

Bapa Yang Baik

29 May 2010

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7:7-11

Didunia ini, ada ayah yang tidak peduli dengan anaknya, ada yang malah melukai, menjual atau atau bahkan membunuh anaknya sendiri, tetapi itu satu atau dua kasus dari jutaan bahkan puluhan juta ayah. Secara umum, semua ayah sangat mencintai anaknya.

Ayah memang cenderung tidak banyak bicara seperti wanita, atau ibunya, tetapi perhatian dan pikirannya dicurahkan untuk anak. Mereka membanting tulang, dari pagi sampai malam untuk memberikan apa yang layak dan terbaik untuk anak-anaknya.

Bahkan seorang penjahat, terhadap anaknya sendiri, ia lebih perhatian dan peduli. Walau masyarakat mengenalnya jahat, terhadap anaknya ia baik dan bahkan anaknya menganggap ayahnya sebagai pahlawannya. Apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh anak, sang Ayah akan selalu berusaha memenuhi bahkan walau tidak mampupun sang Ayah akan berusaha untuk anak-anak tercintanya.

Didalam ayat Firman Tuhan diatas, Yesus mengatakan bahwa Ayah didunia ini walau jahat sekalipun memeberikan roti kepada anaknya yang meminta roti, apalagi Bapa di Surga, yang jauh lebih sempurna dari semua bapa didunia.

Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti?

Roti adalah makanan utama bangsa Israel, seperti nasi di Indonesia. Sering kali kita mengdengar istilah “bekerja untuk sesuap nasi” dimasyarakat yang kita tahu maksudnya adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Demikian juga roti, disebutkan dalam kitab suci, merupakan gambaran akan kebutuhan hidup kita. Seperti sandang, pangan dan papan.

Sebagai orang beriman, kita percaya kita adalah anak-anak Allah (Galatia 3:26) dan kerena itu kita berdoa kepada Bapa di Surga meminta kebutuhan hidup kita (Mazmur 55:23, Filipi 4:19) . Tidak banyak diantara kita berdoa memohon kepada Bapa sambil bercucuran air mata dan mungkin juga dengan doa puasa.

Sering kali juga sebagai anak-anak Allah, kita merasa, kok Bapa memberikan “batu” saat kita meminta “roti” kepadaNya? Saat kita membutuhkan sesuatu, mengharapkan pertolonganNya atas persoalan atau mengharapkan berkat dan kesembuhan dari Bapa, yang kita lihat dihadapan kita malah sesuatu yang lebih berat, melihat kepahitan bahkan kematian. Seperti menerima batu bukan roti.

Pada saat itu, Iblis akan memanahkan panah beracunnya, kita mencobai Allah dengan tuntutan bahkan disertai ancaman-ancaman. Kita tanpa sadar mulai berkata-kata seperti Iblis. “Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Lukas 4:3. Kita mulai menuntut seperti apa yang kita mau, dan tidak lagi mau mendengarkan apa yang Bapa mau. Banyak diantara kita mengancam Allah, “Jika aku tidak mendapatkan… aku tidak akan ke gereja lagi” atau “Jika dalam bulan ini tidak ada jawaban… aku tidak akan menyebut Tuhan lagi” dan banyak kata-kata jahat dari Iblis yang kita lontarkan.

Jangan meminta “batu menjadi roti” sebab Bapa di Surga tidak pernah memberikan batu. Ia memberikan roti kepada anak-anakNya. Allah Bapa memberikan apa yang kita butuhkan, memberikan segala yang terbaik untuk kita. Iblis mengatakan itu “batu” tetapi kita harus dapat melihat bahwa Bapa yang mengasihi kita telah menyediakan roti yang nikmat untuk kita.

“…, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” II Korintus 4:18

Bapa di Surga, memikirkan apa yang terbaik, seperti bapa di dunia mengasihi anaknya, ia memberikan sesuatu yang berguna bagi masa depan kita. Sering kali anak dipukul, sering kali diwajibkan belajar, mengerjakan tugas sekolah sambil ditunggui dengan rotan, kadang anak dipaksa untuk meminum cairan yang pahit agar ia sembuh dari sakitnya, saat kita kecil kita merasa ayah melakukan hal yang jahat, yang iblis katakan itu “batu”. Tetapi saat kita dewasa kita tahu, semua itu untuk kebaikan kita, untuk masa-masa kedepan yang kita saat itu tidak dapat lihat. Demikian Bapa di Surga, sering kali berbuat lebih dari itu, Ia tidak ingin kita binasa di neraka dan dihukum bersama-sama orang berdosa dan antikristus. Karena itu roti yang diberi terkadang terasa tidak enak bagi daging, tetapi itu sehat dan bermanfaat untuk kesehatan kita.

Mungkin kita ingat ayat yang sering kita baca berikut ini, “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:32-33. Segala kebutuhan jasmani, segala perkara didunia ini yang fana, Allah Bapa di Surga tahu kita memerlukannya dan dengan senang hati akan diberikannya kepada kita, tetapi lebih dari itu, Allah Bapa di Surga, mengutamakan perkara kekal.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? Lukas 9:25

Karena itulah maka sering kali kita tidak melihat roti yang kita minta seperti roti yang kita harapkan, sebab roti yang kita butuhkan diberikan oleh Bapa untuk perkara didunia dan juga untuk kekal, bukan hanya untuk dunia ini saja.

Belajarlah untuk mulai melihat bahwa Bapa di Surga selalu memberikan roti kepada anak-anakNya, Ia tidak pernah memberi batu, sebab memang demikian yang dijanjikanNya.

atau memberi ular, jika ia meminta ikan?

Di Indonesia terdapat berbagai macam jenis ular, paling banyak habitatnya diantaranya adalah ular yang tidak berbisa, seperti ular pohon, ular sawah dan banyak lainnya lagi. Tetapi di Israel dan sekitarnya, ular disana kebanyakan adalah ular-ular yang beracun, mengandung bisa yang mematikan. Setidaknya ada 40 jenis ular yang hidup di Israel, separuh lebih diantaranya ular beracun.

Saat kita meminta ikan kepada Bapa di Surga, ia tidak akan memberikan ular yang dapat menyemburkan bisa mematikan. Banyak orang saat menginginkan sesuatu, saat berharap menerima “ikan” yang baik, malah menghadapi perkara yang lebih buruk lagi dan bahkan seakan membawa kita terpaksa berbuat dosa dan kejahatan. Membuat kita terhimpit dan tidak ada jalan keluar, sepertinya Bapa memberikan ular yang berbisa kepada kita.

Allah tidak pernah membawa kita kepada keadaan yang membuat kita berdosa, yang menghimpit kita seakan kita terpaksa harus berbuat dosa dan kejahatan. Ingat apa yang ditulis dalam kitab Yakobus.

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Yakobus 1:13-15

Allah tidak pernah membawa seseorang kepada keadaan dimana ia terjatuh dalam dosa. Bahkan dalam kesukaran yang terberat sekalipun, Bapa selalu memberikan jalan keluar bagi anak-anakNya tetapi sering kali mereka mengabaikannya dan memilih jalannya sendiri, yaitu jalan keluar yang lahir dari keinginan daging dan hawa nafsunya.

Sering kali seseorang dihadapkan kepada keadaan dimana ia terhimpit misalkan, keuangan, saat kita belajar tentang hidup berpada, berharap dengan iman, disisi lain pikiran dan hati kita melahirkan keinginan daging dan hawa nafsu untuk menjadi lebih kaya dan akhirnya ia terjebak oleh berbagai macam masalah dan berujung kepada perbuatan dosa dan kejahatan. Misalkan ia memilih jalan berhutang kepada rentenir atau meminjam uang di bank untuk sesuatu pekerjaan yang tidak jelas, pada saat kehancuran datang lebih parah, banyak orang menuduh Bapa memberikan ular saat ia meminta ikan. Padahal semuanya jelas, bisa ular itu datang dari hawa nafsu kita, dari dosa dan kejahatan.

Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat, tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak. Amsal 23:31-32.

Disekitar kita, banyak jalan keluar, banyak jalan untuk mencapai harapan dan keinginan kita dengan jalan yang penuh liku dan jauh dari kebenaran. Berapa sering kita melihat peluang yang sebenarnya bukan peluang. Jika kita menempuh jalan yang menarik dan nikmat tersebut, saat berubah menjadi bisa ular, jangan menyalahkan Tuhan dan mengatakan “Tuhan memberiku ular berbisa”

Ingat, Bapa selalu memberikan yang terbaik, ia memberikan ikan kepada kita tetapi lebih dari itu, Bapa menghendaki kita memikirkan perkara yang kekal, perkara yang diatas bukan hanya perkara fana. Selama nafsu rakus ini menjalar hidup kita, maka kita akan menuntut ikan seperti yang kita mau, bukan ikan yang terbaik yang Bapa sediakan.

Ikan dan daging, adalah pelengkap dari lauk-pauk pada masa itu. Didalam kehidupan saat ini, ikan dan daging yang ditulis adalah sesuatu yang mungkin dapat digambarkan sebagai keinginan atau biasa kita sebut kebutuhan sekunder (walau menurut ilmu kesehatan modern, ikan dan daging itu adalah kebutuhan gizi dan nutrisi harian yang kita kenal dengan istilah empat sehat lima sempurna).

Sebagai anak, jika kita menginginkan sesuatu tentu kita meminta kepada ayah kita bukan kepada tetangga atau orang asing. Demikian juga dengan kebutuhan sekunder dan keinginan-keinginan kita meminta juga kepada Allah Bapa di Surga. Janji Bapa bahwa Ia juga akan memberikan ikan saat kita meminta ikan. Tetapi bukan ikan yang membawa kita berdosa dan lebih dekat kepada dunia.

Seperti yang terjadi pada bangsa Israel di padang gurun, Bapa telah memberikan Manna, roti dari Surga, tetapi mereka menuntut ikan yang dari Mesir. Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” Bilangan 11:4-6.

Jangan menuntut ikan sesuai dengan keinginan kita, belajarlah percaya kepada Bapa, sebab ia yang memelihara hidup kita. Ia yang menjamin makan dan hari-hari kita penuh sukacita dan damai sejahtera. Bapa sayang kepada anak-anakNya, Bapa yang baik memberikan yang terbaik untuk kekal bukan memuaskan nafsu didunia ini dan merusak sesuatu yang kekal yang jauh lebih berharga.

Saat 5000 orang laki-laki kelaparan, Bapa memberikan mereka makan roti dan ikan sampai puas dan bukannya memberi batu dan ular. Hanya dari 5 roti dan 2 ikan, bukan hanya 5000 orang laki-laki makan sampai puas tetapi juga anak-anak dan wanita serta masih sisa 12 bakul (Matius 14:14-21). Sering kali saat kita meminta roti dan ikan, kita menerima roti dan ikan dari Bapa, tetapi mata jasmani merasa roti dan ikan tersebut kurang. Saat itu dapatkah kita percaya Bapa memenuhi segenap kebutuhan dan bahkan memperhatikan keinginan kita? “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3:5-6.

Jika kita percaya (Markus 9:23), maka saat itulah mujizat akan kita lihat, saat itu kita melihat kuasaNya bekerja dalam hidup kita dan kita melihat Allah Bapa memelihara kita dengan tanganNya yang perkasa. Didalam kelemahan kita, ada kuasa yang besar dari Allah yang bekerja lewat iman dan pengharapan (II Korintus 12:9-10).

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Inilah janji Bapa di Surga kepada anak-anakNya. Bapa menghendaki anak-anakNya tidak malu untuk meminta kepadaNya. “Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Yohanes 16:23-24.

Jangan berhenti berdoa, dan jangan malu atau segan berdoa memohon kepada Allah Bapa di Surga, sebab didalam nama Tuhan Yesus Kristus, apa yang kita minta akan diberikan kepada kita. Tentu permintaan yang bukan lahir dari hawa nafsu kita, tetapi permintaan anak-anakNya yang memandang kepada perkara-perkara diatas (1 Yohanes 5:14).

Jangan juga berhenti mencari, karena apa yang kita cari akan kita temukan. Mencari adalah kata kerja yang aktif bukan pasif. Dimana kita harus berusaha tanpa putus asa. Sering kali kita hanya berusaha sebentar saja dan telah berhenti. Firman Tuhan katakan carilah dan carilah sampai kita menemukan, sebab pasti kita akan menemukannya dengan iman atas janji Bapa kepada kita.

Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Ibrani 10:36

Jangan berhenti mengetuk, sebab pintu pasti akan dibukakan. Mengetuk pintu sampai dibukakan adalah tentang berharap. Jangan berhenti berharap, sebab pengharapan kita nyata karena janji Allah tidak pernah berubah didalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Didalam segala hal kita harus memiliki pengharapan kepada Allah Bapa sampai segala sesuatunya digenapkan didalam hidup kita. “Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.” 1 Korintus 9:10

Ingatlah bahwa Bapa tidak pernah berdusta. Semua janji dari Bapa yang baik itu diberikan kepada kita, agar kita anak-anakNya dapat hidup berbahagia didunia ini, hidup damai dan sejahtera didalam namaNya yang agung dan besar.

Amin.

h1

Perjanjian Yang Diperbaharui

8 September 2009

Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.”
Keluaran 24:7-8

Perjanjian tersebut disebut perjanjian antara Yahweh dan Israel di gunung Horeb/Sinai (Keluaran 19-31), selanjutnya Allah melengkapi dengan tatacara dan aturan ibadah setelah kemah suci didirikan sebagai detil dari perjanjian tersebut, yang meliputi korban bakaran, korban sajian, korban penghapus dosa, korban penebus salah, persembahan pentasbisan dan korban keselamatan (Immamat 7:37-38). Kemudian bangsa Israel menyebutnya sebagai hukum Taurat (Ulangan 4:44) dan pada masa kini kata Taurat mengacu kepada 5 kitab yang ditulis oleh Musa (Kejadian, Keluaran, Immamat, Bilangan dan Ulangan).

Demikian perjanjian yang dibacakan dan didengar untuk dilakukan dan bertindak hati-hati sesuai dengan apa yang tertulis didalamnya adalah hukum Taurat, perjanjian antara Yahweh dangan bangsa Israel.

Jauh sebelumnya, nenek moyangnya, Abraham telah menerima perjanjian Allah bahwa keturunannya yang akan menjadi umat Allah dan Yahweh menjadi Allah mereka untuk selamanya (Kejadian 17:7) dan juga Allah menjanjikan negeri Kanaan (disebut juga Palestina oleh bangsa Romawi sampai hari ini) sebagai tanah tempat mereka tinggal yang dikenal dengan sebutan Tanah Perjanjian (Kejadian 17:8).

Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. (Kejadian 17:7)

Perjanjian Allah di gunung Herob/Sinai tersebut merupakan kelanjutan dari perjanjian Allah kepada Abraham, yaitu perjanjianNya terhadap keturunannya. Perjanjian Allah itu mengikat dan bersifat kekal, perjanjianNya dengan Abraham dan perjanjianNya dengan bangsa Israel tidak pernah dilupakanNya bahkan sampai hari ini (Yesaya 54:10, Matius 5:18).

Disetiap perjanjian terdapat hak dan kewajiban dikedua belah pihak. Yahweh dan Israel, sama seperti perjanjianNya dengan Abraham (Kejadian 17:4,9). Dipihak Allah, telah tertulis dalam Kejadian 17:4-8 dan dipihak Abraham dan keturunannya tertulis dalam Kejadian 17:9-11, yang melahirkan hukum sunat.

Saat mengadakan perjanjian dengan bangsa Israel, perjanjian tersebut juga memiliki bagian bagi kedua sisi. Di pihak Israel, mereka diharuskan hidup sesuai dengan hukum yang telah dibacakan kepada mereka lewat perantara Musa, yaitu hukum Taurat. Dipihak Allah, mereka akan menjadi harta kesayangan dan dijadikan Kerajaan Imam dan bangsa yang kudus milik Allah.

“Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” (Keluaran 19:5-6)

Didalam kitab Ulangan 29:1,10-15 disebutkan bahwa Musa mengadakan perjanjian kembali kepada umat Israel, sesuai dengan Perjanjian yang diterima mereka di gunung Herob/Sinai dengan memperluas jangkauan perjanjian. Didalam ayat 14 dan 15, ditambahkan tentang perjanjian tersebut mengikat bukan hanya kepada mereka yang hadir ditengah upacara tersebut, tetapi mengikat kepada semua orang Israel dimanapun mereka berada. Bahkan ayat 11-12, juga termasuk anak-anak, perempuan dan orang asing diluar bangsa Israel yang berada ditengah-tengah mereka, terikat pula dengan perjanjian tersebut.

Mereka yang melanggar perjanjian, Allah telah menetapkan pula didalam perjanjianNya tentang hukum bagi mereka yang berbuat jahat, berkianat terhadap perjanjian tersebut. Secara garis besar hukumnya adalah kutuk (Ulangan 28:15-46) dan maut. Segala dosanya akan ditanggungkan tujuh kali lipat (Imamat 26:15-39).

Namun demikian didalam hukum perjanjian tersebut, Allah juga memberikan jalan pengampuan lewat hukum korban tebusan salah dan korban penghapusan dosa. Dimana semua dilakukan dengan mengorbankan binatang sebagai tebusannya.

“Sebagai korban penebus salahnya haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, menjadi korban penebus salah, dengan menyerahkannya kepada imam. Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah.” (Immamat 6:6-7)

Demikian jadinya, berulang-ulang bangsa Israel berbuat salah dan memohon pengampuanan. Berbuat salah dihajar oleh Allah, semakin keras saat tetap tidak bertobat, saat kemudian bertobat, dan Allah mengampuni, memberikan kelepasan dan berkat-berkatnya kembali kemudian tidak lama bangsa Israel berbuat dosa kembali dan kembali lagi Allah menghukumnya.

Sesuatu yang jelas bahwa Ulangan 27:26, berkata (KJV), “Cursed be he that confirmeth not all the words of this law to do them. And all the people shall say, Amen” Sehingga setiap orang Israel harus mentaati seluruhnya, kesalahan terhadap satu bagian menjadikannya bersalah terhadap keseluruhan (Yakobus 2:10). Memang ada banyak yang hidup tanpa kesalahan dalam mentaati hukum Taurat, salah satunya rasul Paulus.

Walau demikian rasul Paulus mengatakan dalam Roma 3:20, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Rasul Paulus adalah seorang Farisi (Filipi 3:5), yang hidup memegang hukum Taurat dengan keras (Kisah 26:5) dididik dibawah pengajaran Gamaliel (Kisah 22:3), seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh Mahkama Agama dan orang Israel (Kisah 5:34). Kehidupannya tidak diragukan lagi dalam menjalankan hukum Taurat (Filipi 3:6), namun ia tahu karena adanya hukum Taurat, maka dosa akan semakin bertambah-tambah (Roma 5:20). Sehingga mudah sekali manusia jatuh dalam dosa dan semakin berat dan berat sampai kepada kenyataan bahwa upacara penghapusan dosa tidak membawa keselamatan dan pembenaran. Darah binatang tidak dapat menebus dan menghapus dosa manusia. Ibrani 10:14, Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.”

Hal itu terlihat jelas dari kehidupan dan sejarah bangsa Israel, bahwa tidak ada seorangpun dapat mentaati seluruh hukum Taurat. Sebab Hukum Taurat adalah perintah yang datang dari luar tubuh untuk ditaati, dan karenanya maka tubuh ini harus ditaklukan agar dapat taat (Roma 7:21-24). Sebenarnya Allah telah menetapkan hukum sunat, sebagai pembuka jalan bagi hukum Taurat yang diberikan terlebih dahulu. Dimana dengan hukum sunat yang merupakan sunat hati (Ulangan 30:6), maka hati bangsa Israel dapat lunak dan dapat mentaati hukum perjanjian Allah. Tetapi bangsa Israel terus menurus mengeraskan hati mereka (Ibrani 3:15-19), benar mereka telah bersunat jasmani, tetapi hatinya tidak disunat, sehingga mereka dibinasakan dan ditawan bahkan dibawa ke pembuangan.

Celakalah kita jika demikian? Tentu tidak, sebab sebenarnya Allah telah merencakan sesuatu yang indah dan luar biasa, rahasia yang tersembunyi sejak permulaan dunia, yang tertulis dalam kitab Perjanjian Allah, yang disampaikan oleh para nabi-nabi tentang keselamatan kekal. Dan janji itu telah digenapkan pada jaman ini.

Saat ini kita menyebut seluruh perjanjian Yahweh dengan Israel tersebut dengan sebutan Perjanjian Lama. Kata lama menandakan Perjanjian yang telah diperbaharui oleh Allah (Ibrani 8:13). Hari ini kita bersyukur sebab apa yang dahulu merupakan gambaran, yaitu hukum Taurat, merupakan penenuntun kepada perjanjian Allah yang sempurna, kita sekarang hidup didalam hukum-hukum Perjanjian yang telah diperbaharui.

“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”
(Yeremia 31:31-34)

Perjanjian baru telah diwartakan sejak lampau, bahwa Allah akan menaruh hukum-hukumNya didalam hati kita dan perintah Allah tidak lagi datang dari luar untuk kita taati, tetapi dari dalam memancar keluar didalam perbuatan yang sesuai dengan hukum Taurat. Hukum Allah tidak pernah berubah, hukum Taurat tetap berlaku tetapi tidak lagi secara hurufiah dan diperintahkan dari luar tubuh, tetapi dari dalam, hukum yang bersifat rohani karena dibangkitkan oleh Roh yang dari Allah. Sehingga sejak saat berlakunya hukum Perjanjian Baru, Taurat tidak lagi berlaku secara jasmani, tetapi secara rohani digenapkan didalam Kristus.

Seperti halnya Perjanjian Lama dengan hukum sunat sebagai pengawal perjanjian, maka Perjanjian Baru juga ditandai oleh hukum Roh, dimana Allah akan menaruh RohNya kedalam hati kita, sebagai awal Perjanjian Allah.

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu. Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu. (Yehezkiel 36:25-29)

Pelayanan Yohanes Pembabtis adalah pembukaan babak dari Perjanjian Baru, perjanjian Allah yang telah diwartakan ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Ia datang mengenalkan ibadah babtisan air sebagai tanda permulaan Perjanjian Baru, yang disebutkan oleh rasul Petrus sebagai permohonan hati nurani yang baik dari Allah (1 Petrus 3:21). Selanjutnya seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam II Korintus 5:17, bahwa setiap orang beriman akan menerima hati dan roh yang baru sebagai kelahiran kembali yang dikatakan oleh Yesus kepada Nikodemus (Yohanes 3:3).

Setelah kita diperbaharui dalam roh dan pikiran sebagai manusia baru dimana Roh Allah dicurahkan didalam hati kita, sehingga kita memiliki kekuatan untuk mentaati hukum Taurat. Kita memiliki kekuatan untuk menaklukan keinginan daging ini dengan bantuan Roh Allah (Roma 8:13). Hukum Allah datang dari dalam bukan lagi dari luar seperti perintah harus ini dan itu, tetapi dari dalam hati kita kita akan tahu apakah harus ini atau itu sesuai dengan kehendak Allah.

Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu-dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta-dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia. (1 Yohanes 2:27)

Ayat tersebut diatas bukan berarti kita tidak perlu lagi belajar Firman Tuhan, juga tidak berarti kita tidak lagi perlu saling menasihati dan menguatkan, tetapi ayat tersebut menjelaskan bahwa Roh Allah yang juga sering disebut Pengurapan akan mengajarkan kepada kita segala sesuatu kepada kita. Yohanes 14:26 “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Ingat, bahwa didalam Perjanjian Baru, hukum Taurat tetap ada dan malahan hukum Taurat tersebut ditaruh didalam hati kita untuk kita taati (bukan secara harafiah), kerena itu perlu kita belajar dan mengerti lebih dalam Firman Tuhan, sehingga seperti yang dikatakan Yohanes 14:26 diatas, Roh Kudus akan mengingatkan kita akan semua kebenaran yang telah kita pelajari. Sedangkan yang dimaksudkan tidak perlu kita diajar oleh orang lain, adalah tentang peraturan manusia dan ibadah cara hafalan (Yesaya 29:11-14). Merekalah yang rasul Yohanes sebut, orang lain yang berusaha menambahkan beban kepada kebebasan kita didalam Kristus.

Hukum Taurat yang kita terima didalam hati kita, hukum Perjanjian Baru adalah hukum yang bersifat rohani, bukan perintah jasmani, sebab yang jasmani itu mematikan dan Roh Allah menghidupkan (2 Korintus 3:16).

Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (2 Korintus 3:14-17)

Saat selubung tersebut dibuka, saat itulah maka kita melihat bahwa hukum Taurat, kitab-kitab yang ditulis oleh Musa adalah perintah yang bersifat rohani dibangkitkan oleh Roh Allah yang tingga didalam kita, sehingga kita tidak lagi seperti bangsa Israel yang terus menerus berbuat kesalahan dan dosa, tetapi oleh karena pelayanan Perjanjian Baru, maka korban Anak Domba Allah, merupakan penggenapan dari gambaran korban-korban yang disebutkan dalam hukum Taurat tersebut, telah menghapus dosa satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:10).

Sejak Perjanjian Baru diberikan kita tahu bahwa Kerajaan Imam dan bangsa yang kudus didalam Perjanjian Lama, adalah berita tentang Kerajaan Allah (Markus 1:15), dan juga bahwa Tanah Perjanjian bukanlah sebidang tanah di Timur Tengah, melainkan Surga yang mulya tempat kita akan tinggal untuk selamanya (Yohanes 14:2-3). Apa yang jasmani telah disingkapkan, sehingga kita mengenal kebenaran yang bukan terdiri dari upacara, binatang korban, pakaian, bangunan dan segala sesuatu yang ritual jasmani, tetapi merupakan perkara kekal didalam roh yang kekal.

Perjanjian tersebut mengikat semua orang yang menerima percikan darah, demikian juga kita yang menerima percikan darah Kristus, lewat persekutuan dengan tubuh dan darahNya.

Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. (Lukas 14;23-24)

Sama seperti Perjanjian Lama disahkan dengan darah, maka Perjanjian Baru juga disahkan dengan darah Kristus. Mulai saat itu, hukum kasih karunia diberitakan. Keselamatan dan pengampunan diterima dengan iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Kristus, sama seperti pada masa Perjanjian Lama, didalam hukum Taurat, tangan pendosa diletakan diatas domba atau binatang sembelihan untuk ditanggung oleh binatang tersebut sebelum dipersembahkan sebagai korban penghapusan dosa (Imamamat 4:29) demikian juga saat ini, kita meletakan iman percaya kita kepada Anak Domba Allah.

Hukum yang ada didalam Perjanjian Baru, apa yang ditulis oleh para rasul dan apa yang diajarkan oleh mereka bukanlah hal baru, atau hukum baru, tetapi semua adalah hukum Perjanjian Lama yang telah disingkapkan, merupakan kesempurnaan janji Allah. Mereka menggunakan kitab Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab untuk menjabarkan berita Injil dan hukum Kasih Karunia sesuai Perjanjian Baru Allah. Sebab hukum Allah tidak pernah berubah dan FirmanNya tetap untuk selama-lamanya.

Rahasia besar dibukakan saat kebenaran dinyatakan bahwa bukan hanya bangsa Israel yang dirindukan Allah, yang disebut anak Allah, tetapi Allah menghendaki semua orang bertobat dan memperoleh keselamatan yang daripadaNya (Yesaya 49:6).

Tetapi kelak, jumlah orang Israel akan seperti pasir laut, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung. Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah yang hidup.” (Hosea 1:10)

Hari ini lewat iman maka banyak orang telah menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12, 1 Yohanes 3:2) dan mereka menjadi umat Allah dan Yahweh menjadi Allah mereka. Anak-anak Abraham bukan lagi anak secara jasmani tetapi secara rohani yang didasari atas iman Abraham.

Perjanjian Baru telah membuka pintu keselamatan bagi seluruh bangsa-bangsa didunia ini lewat bangsa Israel (Zakaria 8:22-23).

Amin

h1

Pengajar Israel

7 March 2009

Pengajar Israel
(Renungan Guru Sekolah Minggu)

Ulangan 6:6-9

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

Tugas mendidik anak adalah sebuah perintah, bukan sebuah pilihan. Kewajiban ini adalah dasar dari kehidupan bangsa Israel. Mereka secara turun-temurun (tradisi), mengajarkan kitab Taurat kepada anak-anak mereka dari generasi sampai generasi. Bangsa Israel sampai hari ini masih melakukan tradisi tersebut secara hurufiah, mereka menghafalkan kitab Taurat dan tradisi-tradisi sebagai suatu kewajiban, tetapi perintah itu bagi kita yang telah ditebus oleh Kristus, telah menjadi perintah yang bersifat rohani. Perintah itu mewajibkan kita untuk mengajarkan anak-anak didalam kebenaran Firman Tuhan sejak dari kecil, bukan setelah ia tumbuh dewasa.

Tugas mendidik anak bukan hanya tugas ayah dan ibu mereka, tetapi merupakan tugas setiap pelayan-pelayan Kristus (Matius 24:45-46). Kita diutus oleh Tuhan Yesus, bukan hanya untuk mengabarkan berita Injil saja, tetapi juga untuk mengajarkan mereka kebenaran Firman Tuhan (Matius 28:19-20). Ini adalah suatu kewajiban, sekali lagi bukan sebuah pilihan.

Ulangan 6:7, disebutkan ada dua tempat dalam mengajar, yaitu didalam rumah dan diluar rumah. Dirumah memang itu adalah tugas ayah dan ibunya, sedangkan diluar rumah adalah tugas para pelayan Kritus, tugas para pemimpin dan para gembala. Kita masing-masing mengambil bagian didalamnya. Tidak patut jika kita melihat seorang anak orang beriman yang berbuat dosa atau kesalahan, dan kita diam saja, lantaran bukan anak kita. Perbuatan tersebut adalah kejahatan dihadapan Tuhan.

Yehezkiel 33:6, “Sebaliknya penjaga, yang melihat pedang itu datang, tetapi tidak meniup sangkakala dan bangsanya tidak mendapat peringatan, sehingga sesudah pedang itu datang, seorang dari antara mereka dihabiskan, orang itu dihabiskan dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari penjaga itu.”

Demikian juga dengan Yakobus 4:17, disebutkan jika kita tahu berbuat baik tetapi diam saja, maka itu adalah dosa, apalagi itu menjadi tugas kita, pengajar Israel. Betapa jahatnya kita dihadapan Allah. Amsal 16:30, mengatakan “…, siapa mengatupkan bibirnya, sudah melakukan kejahatan.”

Jangan kita berdiam diri, membiarkan anak-anak kecil berbuat kesalahan dan jauh dari kebenaran. Didiklah mereka didalam kebenaran Firman Tuhan. Didiklah dengan hati seorang hamba yang diperkenan oleh Allah, bukan seperti hamba yang jahat yang melakukan tugasnya ala kadarnya (Yeremia 48:10) dan yang melayani tidak dengan hati yang penuh kasih.

1 Petrus 4:8, “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.”

Menutupi itu bukan artinya menyembunyikan dosa (menutup-nutupi), tetapi karena kasih, maka banyak kesalahan dan dosa dapat dihindarkan dan dipulihkan lewat pengajaran, pembimbingan dan tuntunan kepada jalan kebenaran (Amsal 24:11). Karena kasih 1 Tesalonika 2:7-8, menuliskan bukan hanya kita membagikan injil Kerajaan Allah, tetapi juga hidup kita bagi mereka.

Didalam Ulangan 6:7, bukan hanya menuliskan tentang tempat, tetapi juga tentang waktu. Disebutkan bahwa kita mengajar mereka dari tidur sampai bangun (bangsa Israel menghitung waktu bukan dimulai pada pagi hari, tetapi dimulai pada malam hari, saat matahari terbenam sebagai awal dan akhir sebuah hari). Kita sebagai pengajar Israel, mendidik anak bukan hanya pada hari-hari tertentu saja, bukan pada jam-jam tertentu saja, tetapi tugas dan tanggung jawab itu tidak mengenal batasan waktu dan hari. Tidak hanya hari minggu saat anak-anak datang ke Sekolah Minggu, tetapi setiap hari adalah waktu yang baik untuk mendidik mereka didalam kebenaran Firman Tuhan.

2 Timotius 4:2, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

Disetiap kesempatan gunakanlah waktu yang ada untuk mendidik anak-anak didalam kebenaran, entah waktu yang baik, kondisi yang baik atau tidak, dalam segala saat, kita wajib mengajarkan kebenaran Firman Tuhan. Jangan batasi dengan waktu-waktu tertentu, sebab hidup kita sesungguhnya seluruhnya adalah milik Kristus (1 Korintus 6:19-20), sudah sepantasnya kita siap sedia setiap waktu untuk mendidik anak-anak didalam kebenaran.

Sanggupkah kita memberi hidup kita kepada mereka? Jika kita melayani Kristus, melayani Tuhan, maka sesungguhnya yang kita layani adalah mereka (Matius 25:44, 1 Yohanes 4:20-21).

Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Dalam King James Version, dituliskan “Train up a child in the way he should go: and when he is old, he will not depart from it.” Kata “child” dalam bahasa Inggris atau “orang muda” dalam bahasa Indonesia, ditulis dalam bahasa Ibrani “ren na’ar” (baca: nah’-ar) yang merupakan sebutan bagi balita sampai remaja. Sehingga kita tahu, bahwa jika kita mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anak sejak kecil, maka sampai masa tuapun mereka akan tetap dipeliharanya.

Masa kanak-kanak, adalah masa pembentukan. Masa dimana manusia mengawali pertumbuhan karakternya. Secara biologis, masa kanak-kanak merupakan masa dimana sel-sel bertumbuh dengan cepat sebelum mereka tidak lagi bertumbuh. Pada masa inilah iman, kasih dan pengharapan dibentuk dan diolah. Seperti tukang periuk, ia membentuk sebuah periuk bukan pada saat telah mengeras, tetapi pada saat pertama kali tanah lihat dicampurkan air. Entah menjadi apa, semua tergantung pengolahan pada saat masih basah untuk dibentuk sesuai si pembuat.

2 Timotius 3:15, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”

Timotius adalah sebuah contoh yang baik yang ditulis dalam Alkitab, seorang yang sejak kecilnya menerima pengajaran Firman Tuhan, sehingga saat dewasa, telah terbentuk iman yang menciptakan karakter Kristus dalam dirinya (2 Timotius 1:5). Sedangkan tokoh sebaliknya yang menjadi pelajaran bagi kita (Roma 15:4) adalah Hofni dan Pinehas, yang sejak kecil mereka tidak pernah didik dengan baik oleh imam Eli (1 Samuel 3:13). Tidak pernah diajarkan dengan tegas kebenaran Firman Tuhan, hanya ditegur sapa saja saat berbuat salah (1 Samuel 2:22-25).

Mendidik anak didalam kebenaran Firman Tuhan, tidak cukup hanya dengan ditegur sapa saja. Ulangan 6:6 disebutkan kata “berulang-ulang” bukan hanya sekali, tetapi setiap kali dan setiap ada kesempatan. Harus dilakukan dengan serius, jika kita tidak ingin ditegur seperti imam Eli.

Memang baik, jika kita terus menerus berbicara, menegur mereka, sampai kadang dibilang “cerewet” tetapi semua itu menjadi tidak berarti (kata-kata kita) jika kita sendiri tidak melakukan apa yang kita ajarkan kepada mereka.

Matius 23:3-4, “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.”

Didalam Ulangan 6:8, disebutkan bahwa Firman Tuhan itu haruslah diikatkan menjadi tanda ditangan dan lambang di dahi, bukan tangan dan dahi anak-anak tetapi pada para pengajar Israel. Tanda ditangan adalah perbuatan yang lahir dari Firman Tuhan dan lambang di dahi adalah pikiran yang lahir dari Firman Tuhan. Pikiran dan perbuatan kita harus dikuduskan dan agar selalu sesuai dengan Firman Tuhan, sesuai dengan apa yang kita ajarkan kepada anak-anak. Inilah hukum Allah, bukan hanya pandai berkata-kata dan pandai menasihati tetapi juga melakukan apa yang diperintahkan dan apa yang kita ajarkan.

1 Petrus 5:3, “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.”

Karena tuntutan inilah maka setiap pelayan Kristus, wajib untuk hidup seperti Kristus, meninggalkan beban yang begitu merintangi jalan kita, sehingga kita dapat menjadi pengajar Israel yang berkenan kepada Allah. Marilah kita mengajar anak-anak kita dengan teladan, bukan hanya dengan perkataan. Biarlah kebenaran Firman Tuhan memenuhi seluruh pikiran kita dan setiap perbuatan kita mencerminkan kebenaran FirmanNya.

Namun demikian tidak cukup kita hanya menjadi teladan. Ulangan 6:9, jelas menyatakan bahwa haruslah kita juga menuliskannya dipintu rumah. Teladan yang kita berikan kepada anak-anak di Sekolah Minggu, harus juga merupakan teladan bagi seisi rumah. Bagi seluruh orang didalam rumah, baik itu anggota keluarga, pembantu rumah tangga, kerabat ataupun tetangga. Kita bukannya orang-orang munafik yang ingin mengejar gelar dan pengakuan rohani di gereja atau Sekolah Minggu, tetapi kita masing-masing membawa beban langsung dari Kristus untuk mendidik anak-anak didalam kebenaran Firman Tuhan.

Didalam rumah, sudahkah kita menjadi teladan? Sudahkan pengajaran itu keluar dari perbuatan dan perkataan kita saat kita berada didalam rumah? Kisah 16:31 menulis “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” bukan terjadi secara pasif, saat satu orang percaya dan otomatis seluruh rumah selamat, tetapi lewat satu orang yang beriman inilah terang itu terpancar dan lewat teladan hidupnya, semua orang dalam rumah menerima keselamatan. Teladan itu dimulai dari dalam rumah, bukan dimulai dari Sekolah Minggu atau gereja.

Ulangan 6:9, juga menyebutkan bahwa Firman Tuhan juga harus tertulis dipintu gerbang. Bukan hanya didalam rumah, tetapi juga diluar rumah, dilingkungan pekerjaan, di sekolah, di pasar dan dimana saja tempat berkumpulnya banyak orang yang tidak mengenal kita maupun yang mengenal kita. Ibrani 12:1, menuliskan “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”.

Hidup kita terbuka, disaksikan oleh banyak orang diluar, dipekerjaan dimana saja, kita harus menjadi teladan dan terang bagi mereka sehingga kita dapat mengajar anak-anak didalam kebenaran sesuai dengan Firman Tuhan.

Marilah, para pengajar Isael, mari kita mengajarkan anak-anak didalam kebenaran Firman Tuhan. Mengajarkan dengan hati penuh kasih dan rela memberikan hidup kita kepadanya agar mereka yang masih muda ini dapat bertumbuh kepada kesempurnaan. Itu adalah perintah, bukan pilihan.

Amin.

h1

Setia Sampai Akhir

12 February 2009

Yehezkiel 20:19

Akulah TUHAN, Allahmu: Hiduplah menurut ketetapan-ketetapan-Ku dan lakukanlah peraturan-peraturan-Ku dengan setia,

Tuhan ingin kita hidup menurut ketetapanNya, tetapi bukan untuk sesaat, bukan untuk sebulan, setahun saja, melainkan untuk selama-salamanya. Sampai detik-detik terakhir dalam hidup kita, kita tetap hidup menurut ketetapan-ketetapan Allah (Mazmur 119:112).

Tidak mudah menjadi seorang kristen yang hidup setia menurut ketetapan Tuhan terus menerus. Sering kali umat Tuhan hanya saat-saat tertentu saja ia menjadi taat akan FirmanNya, hari-hari tertentu saja ia hidup menurut ketetapan Tuhan, tetapi hari-hari hidupnya jauh dari memperhatikan perintah-perintah Tuhan. Sifat seperti itu tidak diperkenan oleh Tuhan. Ia mencari orang yang setia dalam melakukan peraturan-peraturanNya, bukan orang yang hanya pandai menyebut nama Tuhan saja. Kekristenan bukan soal dapat menyebut nama Yesus atau menghafal Alkitab, tentang doa dan kehidupan agamawi, kegereja, aksesoris kristen dan sebagainya, tetapi yang terpenting didalam kekristenan adalah melakukan perintah Tuhan.

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46)

Penekanan yang ditekankan oleh Tuhan adalah pada kata “melakukan apa yang Aku katakan” bukan kepada kebiasaan umat Tuhan dalam “berseru kepada Tuhan”. Didalam penekanan tersebut, Tuhan menghendaki kita melakukannya dengan setia, bukan seminggu sekali.

Kebiasaan orang kristen adalah berseru pada Tuhan. Saat menghadapi masalah, saat terhimpit dan dalam kesukaran, umat Tuhan akan beseru kepadaNya. Berdoa dan mencari Tuhan. Kebaktian doa puasa menjadi penuh, doa malam seperti kebaktian raya. Setiap hari berdoa dan berseru-seru siang dan malam. Hal ini baik dan memang seperti itulah seharusnya, sebab Tuhan mendengarkan umatNya yang berseru kepadaNya didalam kesesakan (Mazmur 50:15).

Tetapi sebenarnya apakah cukup kita hanya berseru kepadaNya saja, lantas peroalan kita selesai?

Berseru itu bukan hanya berdoa memohon kemurahan dan kasih karunia dari Tuhan, memohon belas kasihanNya, tetapi berseru pada Tuhan itu adalah merendahkan diri dihadapan Tuhan. Tuhan itu bukan pelayan, lantas kita memangil pelayan dan ia datang memenuhi permintaan kita. Tuhan itu adalah Raja, kita adalah hambaNya, yang datang memohon belas kasihan dariNya dengan takut dan gentar (Yesaya 57:11).

dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. (2 Tawarikh 7:14)

Didalam merendahkan diri, kita harus berbalik dari jalan yang salah. Pada saat itu maka Tuhan akan menaruh belas kasihan, bukan atas seruan kita, bukan karena kita meneriakan nama Tuhan dengan hati mendalam, melainkan karena kita berbalik dari yang jahat dan memilih mentaati hukum-hukumNya (Yehezkiel 33:14-20)

Reaksi berbalik dari jalan yang salah, merupakan kewajiban, seperti yang dikatakan dalam Matius 3:8, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Harus ada buah dari berbalik dari jalan yang salah, sebab kita dibenarkan karena perbuatan-perbuatan kita, bukan hanya karena kita memanggil-manggil nama Tuhan disaat kesukaran dalam doa-doa.

Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (Yakobus 2:24)

Tidak cukup kita hanya berseru dan berdoa kepadaNya, kita harus melakukan dengan setia perintah-perintahNya. Oleh karena itulah anda berada didalam kesukaran (Ibrani 12:10-11)

DISEMPURNAKAN DALAM SENGSARA

Didalam Pengkotbah 7:14 disebutkan bahwa hari yang malang juga ditetapkan Allah dalam hidup kita, bahkan Daud mengatakan hari-hari hidupnya penuh dengan kesukaran (Mazmur 40:13, 2 Korintus 4:11). Lebih dari orang fasik yang senang selalu, seakan hanya ada hari mujur (Mazmur 73:12-14). Didalam setiap kesesakan, disaat hari penindasan dan kesukaran, Daud selalu mencari Tuhan dan berseru kepadaNya.

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. (Mazmur 119:71).

Bahkan didalam kesusahannya, didalam himpitan, Daud menyadari, saat ia tertindas, saat ia mengalami kesukaran, saat dia menghadapi persoalan, disana ia belajar tentang ketetapan-ketetapan Tuhan, belajar mentaati FirmanNya.

Daud menganggap persoalan yang dihadapi itu baik, sebab membuat ia lebih mengerti jalan Tuhan, lebih memahami kehendakNya dan belajar hidup sesuai dengan perintah-perintah Tuhan.

Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. (Mazmur 119:67).

Daud merasa bahwa ia disucikan, disempurnakan dan dibentuk lewat kesukaran-kesukaran tersebut sehingga hidupnya dapat selalu berpegang pada hukum-hukum Allah, hidup dapat selalu setia mentaati Firman Tuhan, dibentuk sesuai dengan rencanaNya. Lewat kesukarannya ia mendapat didikan akan jalan yang salah yang telah dilaluinya, ia mendapat teguran dan disempurnakan didalam setiap persoalan.

Lewat kesukaran, Daud belajar menjadi setia dalam mentaati Firman Tuhan, dalam melakukan segala perintah-perintahNya. Kesetiaan dalam mengikuti ketetapan-ketetapan Tuhan itu terjadi dalam sebuah proses, bukan terjadi semalam dan mendadak. Tetapi lewat proses mematikan daging dan hawa nafsu ini, mematikan segala keinginan dan cita-cita kita.

“…karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui…” (Kolose 3:9-10)

SETIA SAMPAI AKHIR

Proses pembaharuan dimana kita meninggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, yang semakin hari semakin serupa dengan Kristus, maka proses tersebut tidak boleh berhenti sebelum mencapai kepenuhan Kristus. Jika berhenti ditengah jalan, maka kita akan jauh dari Tuhan dan walau tubuh kita ada digereja, walau di KTP masih tercantum agama Kristen, dan setiap minggu kegereja serta hafal ayat-ayat dan dapat menyanyikan lagi pujian rohani, tetapi jika kita tidak hidup sesuai dengan Firman Tuhan, jika kita tidak hidup memperhatikan perintah-perintah Tuhan, maka kita sama saja seperti orang berdosa.

Tuhan menuntut kita setia. Setia itu tidak cukup hanya sekali atau sewaktu-waktu saja, tetapi setia itu terus menerus. Diproses didalam setiap persoalan yang kita hadapi, kita dibentuk dan ditempa agar kita hidup sesuai dengan kehendakNya.

Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak. (Mazmur 66:10)

Tidak cukup hanya menjadi seorang kristen biasa, kita harus menjadi luar biasa. Tidak cukup kita bersikap rohani saja, tetapi kita harus benar-benar berdiri atas hukum-hukum Allah, melakukan segala sesuatu dengan memperhatikan Firman Tuhan. Bahkan dalam segala hal, tuntunan kita hanya Firman Tuhan (Mazmur 119:105).

Memang kadang terasa aneh saat orang lain mempertimbangkan kemungkinan logis, saat orang lain mengikuti orang banyak, tetapi kita tetap berpegang pada hukum-hukumNya, melakukan segala perintah Tuhan dengan setia. Tetapi jangan kita takut, sebab pada saatNya kebenaran akan tampil seperti cahaya yang terang, seperti fajar dipagi hari yang semakin hari semakin terang benderang (Amsal 4:18).

Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku. Aku telah berpaut pada peringatan-peringatan-Mu, ya TUHAN, janganlah membuat aku malu. (Mazmur 119:30-31)

Kita tidak akan binasa dan malu karena menaruh harap kita kepada Tuhan, karena kita mentaati Firman Tuhan karena kita takut akan Tuhan lebih dari pada takut kepada manusia. Jangan kita takut dengan banyak orang yang berjalan berlawanan dengan jalan kita (Keluaran 32:2). Sebab memang Jalan Lebar itu banyak orang yang melaluinya, tetapi Jalan Sempit, hanya sedikit orang yang mendapatkannya (Matius 7:13-14).

Lakukanlah perintah-perintah Tuhan dengan setia, karena itu yang dikehendaki Allah. Berilah dirimu dibentuk olehNya, disempurnakan dan diperbaharui dari hari ke hari sesuai dengan gambaran Kristus.

Ingat, bahwa Allah menghendaki kesetiaan kita dalam mentaati perintah-perintahNya. Karena lewat kesetiaan kita, dari hari ke hari kita akan dibentuk semakin serupa dengan Kristus.

h1

Menunggu Seseorang

27 May 2008

Saat Firman Tuhan diberitakan, saat janji Allah dibacakan kembali dan Allah berfirman,

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.” (Yohanes 14:12-13)

Apakah anda sedang menunggu seseorang?

Menunggu SeseorangFirman Tuhan itu adalah untuk kita, bagi kita. Tetapi sering kali kita berdiam diri dan menunggu seseorang untuk menggenapi Firman Tuhan tersebut. Sering kali kita merasa tidak layak dan tidak pantas untuk mengerjakan pekarjaan yang dilakukan oleh Kristus, sehingga sebagian umat Tuhan duduk manis menunggu dan berharap kepada si A atau si B untuk melakukannya.

Jika hari ini anda berfikir seperti itu, maka anda salah. Tidak seperti itu, Firman Tuhan ini bukan hanya untuk si A atau si B, tetapi untuk kita semua orang beriman. Bukankah sudah tertulis, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:15-18)

Allah ingin memakai kita semua untuk melanjutkan pekerjaan Kristus di dunia ini, yaitu untuk menyempurnakan gerejaNya (Kolose 1:24-25). Tugas itu bukan diberikan kepada satu atau dua orang saja, tetapi itu adalah tugas kita semua anggota Tubuh Kristus. Allah telah melengkapi gereja Tuhan dengan pelayanan jabatan (Efesus 4:11-13), dan setiap orang didalam Tubuh Kristus, diberiNya pelayanan masing-masing sesuai dengan karunia yang diberikan oleh Roh Kudus untuk kita lakukan (Efesus 2;10). Semua orang terlibat dalam didalam pekarjaan yang dikerjakan oleh Kristus.

Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota-menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. (Efesus 4:16)

Tetapi banyak orang Kristen, anggota dari Tubuh Kristus, yang duduk diam seakan menunggu orang lain melakukan tugas-tugasnya. Jangan kita menunggu mereka, si A atau si B, tetapi anda sendiri, berikanlah diri anda untuk menggenapkan FirmanNya didalam pelayanan menyempurnakan gereja Tuhan, menanti kedatangan mempelai, yaitu Tuhan Yesus Kristus kedua kalinya. Jangan lagi menunggu orang lain, anda yang Tuhan cari untuk menggenapkan tugas pelayanan sesuai dengan bagian yang diterima tiap anggota Tubuh Kristus.

INI AKU TUHAN

Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:7-8)

Kita yang telah ditebus oleh Allah, dosa-dosa kita diampuniNya, dan kita dijadikanNya anakNya, selanjutnya, Allah memberikan kita perintah untuk kita taati. Inilah perintah-Nya, “Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yohanes 15:17).

Kalimat yang pendek, tetapi didalam kalimat tersebut terkandung seluruh perintah Allah (Galatia 5:14).

Saat Yesaya ditanya “Siapakah yang akan Kuutus?” Ia menjawab “Ini aku”. “Siapa yang mau pergi untuk Aku?” maka Yesaya menjawab “Utuslah aku!”. Demikian juga dengan kita, bersediakah kita pergi melakukan perintahNya? Ataukah kita menunggu seseorang untuk diutus, bukan saya.

Kita diutus oleh Allah untuk mengasihi orang disekitar kita, bukan untuk menjadi pendeta atau pengkerja gereja. PerintahNya adalah mengasihi, bukan menyebarkan agama.

Mengasihi orang-orang disekitar kita, bukan dengan kata-kata saja, tetapi juga didalam perbuatan yang nyata dan dapat dirasakan oleh mereka (1 Yohanes 3:18). Bagaimana kita menerima mereka, memperhatikan dan peduli terhadap mereka. Matius 5:37-48 mengajarkan kepada kita bagaimana kita mengasihi orang-orang disekitar kita. Memberikan diri kita, apa yang kita punya untuk mereka yang membutuhkan, bahkan Yesaya 58:10, mengatakan apa yang paling kita inginkan, itulah bagian yang terbaik yang kita berikan, bukan sisa-sisa atau sesuatu yang sudah tidak kita inginkan atau pakai lagi.

Dari semua yang terbaik yang kita miliki, bukankah Kristus adalah yang terbaik? Bagikanlah Kristus kepada orang-orang yang kita kasihi, orang-orang yang ada disekitar kita. Beritakan kabar baik itu, bawa mereka untuk diperdamaikan dengan Allah, itulah wujud kasih yang paling berharga.

Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. (1 Tesalonika 2:8).

Bukan hanya injil Kristus yang kita bagikan, tetapi juga diri kita sendiri, hidup kita sendiri, kita berikan kepada mereka, sebagai hamba. Sebagai pelayan mereka, bukan sebagai tuan atau guru yang memberikan perintah atau nasihat, tetapi sebagai pelayan yang melayani seperti Kristus telah melayani kita (Matius 20:28) dan bahkan sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa yang kita perbuat (Filipi 2:3-8). Demikian seharusnya kita mengasihi (1 Yohanes 3:16), karena Yesus berkata dalam Yohanes 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”

BAGIAN PELAYANAN

Setiap orang memiliki bagiannya sendiri-sendiri didalam pelayanan. Tidak semua menjadi mata dan tidak semua menjadi tangan atau kaki, demikian kata 1 Korintus 12:14-18. Lalu apa peran kita didalam Tubuh Kristus?

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. (Pengkotbah 9:10)

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. (Yohanes 9:4)

Bagian pelayanan kita adalah apa yang didepan mata kita. Segala sesuatu yang dapat kita kerjakan, segala sesuatu yang kita mengerti dan segala sesuatu yang Allah telah perlengkami dalam hidup kita, itulah bagian pelayanan kita. Karena kita melayani bukan dengan kekuatan kita, bukan dengan kepandaian kita, tetapi oleh karena pekerjaan Roh Allah didalam kita (Zakharia 4:6, 2 Korintus 3:5-6). Semua adalah pekerjaan Allah, kita hanya alat saja yang tidak memiliki kemampuan (Yesaya 10:15, 2 Korintus 4:7).

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; (2 Korintus 9:10)

Benih itu telah disediakan oleh Tuhan, dan kita hanya menaburnya saja. Pelayanan yang ada didepan mata kita adalah seperti benih yang telah kita miliki, kita tinggal menjalankan pelayaan tersebut, jangan kita melihat pelayanan yang “besar-besar”, jangan kita memandang kepada hal-hal diluar benih yang telah Tuhan berikan untuk kita tabur.

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, (Roma 12:3-4).

Jangan tunggu orang lain untuk mengerjakan pekerjaan yang Tuhan perintahkan. Jangan menunggu si A atau si B, sebab setiap orang memiliki bagiannya sendiri-sendiri. Mulailah dari diri anda sendiri, jangan menunggu orang lain memulai, pekerjaan itu ada didepan anda. Yakobus 4;17, mengatakan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Apakah kita hendak berbuat dosa kepada Tuhan Yesus Kristus dengan mengabaikan perintahNya. Dengan membiarkan bagian pekerjaan kita terbengkalai? Bertindaklah sekarang, jangan tunda lagi, karena Kristus membutuhkan anda, ladang siap dituai tetapi dimana para pekerjanya? (Lukas 10:2).

Maranatha!

h1

Caranya Bersyukur

25 May 2008

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

BersyukurlahSudah sering kita mendengar nasihat Firman Tuhan, entah lewat kotbah-kotbah atau tulisan-tulisan tentang mengucap syukur baik susah maupun senang bahkan dalam segala hal. Bahkan mungkin kita telah bosan dengan nasihat tersebut karena seringnya disampaikan. Namun demikian sesungguhnya ada berapa banyak umat Allah yang benar-benar mengucapkan syukur kepada Allah?

Tidak mudah mengucap syukur pada saat susah, pada saat keadaan tidak baik, saat masalah berat menghimpit. Beberapa mungkin berusaha mengucap syukur, tetapi diantaranya juga hanya sebatas kata-kata saja. Saat kelimpahan, saat keadaan sangat baik, juga bukan berarti mudah mengucap syukur, banyak diantaranya melupakan Tuhan dan malah meninggalkan ibadah dan persekutuan. Memang tidak mudah mengucap syukur, karena itu Firman Tuhan menulis “mengucap syukurlah”.

Allah itu baik

Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
(Mazmur 106:1)

Alkitab mengajarkan kita mengucap syukur atas kebaikan Allah kita, atas segala kemurahan dan rahmatNya. Karena kasih setiaNya yang besar maka kita mengucap syukur.

Sebenarnya dalam keadaan apapun juga, pada saat kita menerima kelimpahan dari Allah, atau saat kita dihadapkan kepada kesukaranpun kita patut bersyukur, sebab Firman Tuhan dalam Yakobus 1:17, berkata “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Segala yang diberikan oleh Allah sebenarnya adalah pemberian yang baik. Karena itulah kita patut mengucap syukur kepadaNya.

Kita sebagai anak-anakNya, Matius 10:29-31 mengatakan bahwa Allah memperhatikan kita dan memeliharakan kita, bahkan rambut dikepalapun dihitungNya dan tidak ada satupun yang gugur tanpa seijin dan sepengetahuan Allah. Apapun juga yang kita hadapi, sebagai anakNya pastilah itu adalah pemberian dan anugrah yang baik dan sempurna.

Persoalan yang sering kita hadapi sebenarnya adalah kesulitan untuk melihat bahwa segala pemberian dan anugrah dari Allah itu adalah baik. Pada saat rasul Paulus dan Silas dipenjara karena injil, mereka dapat mengucap syukur dan menaikan puji-pujian kepada Allah didalam penjara dalam keadaan terpasung (Kisah Rasul 16:24-28). Apa yang dilihat oleh Rasul Paulus atas kemalangan yang ditimpanya sebagai sesuatu yang baik? Saat Ayub kehilangan seluruh harta dan anak-anaknya, bahkan sekujur tubuhnya penuh dengan borok, tetapi ia tetap memuji kebesaran Allah (Ayub 1:20-22). Apa yang dilihat oleh Ayub, sehingga ia dapat bersyukur? Raja Daud saat ia dikejar-kejar Raja Saul hendak dibunuh dan terjebak didalam gua, ia malah bermazmur dan bersyukur kepada Allah (Mazmur 57:1,8-12). Apa yang dilihat oleh Raja Daud? Bukankah kematian sudah didepan matanya? Tetapi Daud menganggap Allah itu baik.

Mereka bukan bersyukur atas kemalangan yang menimpa mereka, tetapi bersyukur atas apa yang baik yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Mereka melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh manusia, mereka melihat kebaikan Allah dan kebesaran Allah dalam hidup mereka. Raja Daud pernah kesulitan melihat dan dengan mata dagingnya, ia melihat kemalangannya sebagai kemalangan manusia bukan sebagai pemberian dan anugrah yang baik dari Allah.

Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.
Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.
Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.
Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan.
Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan.
Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.
Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi.
Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah.
Dan mereka berkata: “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?”
Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!
Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.
Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.

Mazmur 73:2-14

Demikian Daud mengeluh atas kemalangannya. Mengeluh karena semakin ia mengasihi Allah dan berusaha hidup berkenan kepadaNya, malah ia seperti kena hukum setiap pagi. Kesukaran bukannya bertambah hilang, melainkan semakin berat dengan adanya hukum-hukum Allah. Orang lain dapat berdusta, dapat membual, dapat membalas sampai puas, dapat melakukan segala perbuatan yang direncanakan dihatinya, tetapi Daud, anda dan saya, memiliki Firman Allah yang membatasi hidup kita. Bahkan oleh karenaNya, kita mendapatkan kesukaran, persoalan dan alternatif jalan keluar persoalan kita semakin terbatas.

Sering kali kita mengeluh kepada Tuhan. Saat hajaran datang, saat ujian menghampiri, saat kita ditimpa kemalangan. Kita mengenadah keatas, bukan untuk bersyukur kepada Allah, tetapi untuk protes kepada Allah. Bagaimana kita dapat melihat semua itu baik dan mengucap syukur kepada Allah?

Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,
sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.

Mazmur 73:16-17

Selanjutnya, Mazmur menuliskan bahwa saat masuk dalam hadirat Tuhan, kita akan melihat seperti Daud melihat, seperti Ayub melihat, seperti Paulus melihat. Didalam hadirat Tuhan, maka mata dan hati kita akan dicelikan dan kita akan dapat melihat kebaikan Tuhan dan kita dapat bersyukur. Bersyukur yang bukan dibibir ini saja, tetapi dari dalam hati, dari hati yang tulus dan jujur. Semua itu dimulai dari dalam hadirat Tuhan.

Mengucap syukur yang benar-benar dari dalam hati dan didalam kebenaran adalah saat kita masuk dalam hadirat Tuhan, saat kita mendekat kepadaNya, saat kita bertekuklutut dihadapanNya. Pada saat itu maka kasih Allah akan dicurahkan dalam hati kita dengan limpahnya dan kita dapat melihat dengan mata yang terbuka seperti Daud dan Paulus.

Tetapi jika kita tidak pernah menghadap hadirat Allah, maka ucapan syukur kita bukan benar-benar dari hati, tetapi keluar dari pikiran dan mulut saja. Karena tidak bersungut-sunggut itu bukan berarti mengucap syukur. Mengucap syukur itu bukan otomatis menjadi kebalikan bersungut-sunggut sehingga jika kita tidak bersungut-sungut itu berarti mengucap syukur. Saat kita tidak bersungut-sungut, kita menunjukan sikap menerima, sedangkan untuk dapat bersyukur, harus keluar dari dalam hati nurani yang murni, bukan sekedar keluar kata-kata di bibir.

Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. (2 Timotius 1:3a)

Bagaimana dengan kita saat ini, sulitkah kita mengucap syukur? Atau selama ini kita paksakan keluar dibibir kita? Datanglah dihadapan hadirat Allah, bertututlah berdoa dan biarkanlah Roh Allah membuat anda merasakan betapa baiknya Allah itu, jauh lebih baik dari yang anda bayangkan, bahkan dengan segala kondisi yang menghimpit kita atau mengancam kita. Rencana Allah itu indah (Yeremia 29:11), dan Ia ingin kita tinggal didalamnya (Efesus 2:10), bukan sebagai seorang yang tidak berguna dan egois didunia yang membutuhkan terang dari Allah (Kisah Rasul 13:46-47), tetapi Ia ingin kita hidup membawa terang walau ditengah kegelapan. Karena untuk itulah kita ada didunia ini.

Mari kita mulai hari ini, berlutut dihadariatNya agar kita benar-benar dapat mengucap syukur kepadaNya atas segala hal.

Amin