Archive for the ‘Renungan’ Category

h1

Aksi dan Reaksi; Agama bukan jawaban.

5 March 2011

Iman kristiani meyakini seorang diselamatkan karena ia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Mengaku dosa-dosanya, bertobat dan memohon pengampunan.

Sampai hari ini telah banyak orang menerima Yesus, telah banyak orang menjadi pemeluk agama Kristen. Gedung gereja seakan penuh sesak dari tahun ke tahun selalu tidak muat dan harus diperluas atau membuka cabang gereja. Pertumbuhan yang luar biasa diluar angka kelahiran.

Tetapi satu yang harus kita renungkan, Yesus pernah berkata bahwa untuk menuju kehidupan jalannya itu sempit, pintunya sesak (Matius 7:13-14). Juga Yesus menambahkan kata “sedikit orang yang mendapatinya”. Jika Yesus katakan sedikit, apakah artinya relatif atau benar-benar sedikit dibandingkan jumlah yang banyak? Statistik dunia mencatat jumlah umat Kristini adalah terbanyak sampai hari ini didunia. Apakah mereka semua yang mengaku Yesus adalah Tuhan dan menyebutnya Juruselamat, serta menyatakan dirinya beragama Kristen termasuk bilangan yang disebut oleh Yesus “sedikit orang yang mendapatinya”?

Mungkin kita harus menyadari bahwa tidak semua orang yang memeluk agama Kristen akan diselamatkan. Tidak semua orang yang menyebut Yesus adalah Tuhan akan menerima kehidupan kekal. Bahkan kita semua ingat Matius 7:21, dimana Yesus berkata tidak semua orang yang akan diselamatkan, walaupun ia melakukan segala sesuatu didalam nama Tuhan Yesus.

Lalu masihkah kita merasa pe-de akan diselamatkan olehNya karena kita mengenal Yesus dan menyebutNya Tuhan?

Markus 16:16 memang menuliskan bahwa mereka yang percaya akan diselamatkan. Tetapi sama seperti sebuah aksi akan melahirkan reaksi, demikian juga mereka yang percaya akan nyata dalam reaksinya. Pernakah kita membuat kopi menggunakan bubuk kopi yang langsung dari biji kopi? Saat air mendidik dan dituang kedalam gelas, saat kita seduh kopi dan kita tambahkan gula, sesaat kemudian terlihat warna air berubah menjadi kehitaman. Itu adalah reaksi dari sebuah aksi. Air putih menjadi air kopi. Seorang yang menerima dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, harusnya nyata dalam reaksinya. Tetapi kalau ia mengaku percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat tetapi tidak ada reaksi yang seharusnya maka bisa jadi mereka yang disebut Yesus dalam Yohanes 2:23-25. Sama seperti kita mencoba menuangkan air dingin kesebuah gelas, dan menambahkan sesendok bubuk kopi tumbuk dan gula, sampai tangan capek ‘mengudek’ tetapi saja ia adalah air putih dengan bubuk kopi diatasnya dan tidak pernah menjadi air kopi.

Reaksi yang seharusnya timbul saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, reaksi yang harusnya timbul saat kita menyesali kesalahan, mengakui dosa-dosa kita dan bertobat, reaksi yang seharusnya timbul saat kita memutuskan untuk menjadi muridNya, adalah kehidupan yang nyata bukan hanya status, menjadi serupa dengan Kristus, bukan juga diserupa-rupakan. Kehidupan yang memancarkan buah-buah kebenaran, kehidupan yang benar-benar mati didalam daging dan hawa nafsu duniawi seperti Yesus, kehidupan yang limpah dengan berbagai kebaikan, kebajikan dan kemurahan. Penuh kasih dan kesabaran, penuh pengharapan dan iman. Saat difitnah tidak mendendam dan membalas, saat dirugikan tidak marah, saat harus memilih melakukan kebenaran atau mendapat keuntungan yang besar dengan sedikit curang, lebih memilih rugi harta asalkan melakukan kebenaran Firman Tuhan. Sebuah reaksi yang seharusnya ada dalam kehidupan kita saat kita menerima aksi dariNya saat Ia nyatakan di kayu salib.

Sulit… sulit… tidak mudah dan bagaimana bisa kita hidup seperti itu terus menerus? Memang sulit kata Yesus, memang tidak mudah kata Yesus, dan karena itu Yesus katakan “tidak banyak orang yang mendapatinya”, tetapi Paulus, Petrus, Yakobus, Yohanes telah memberikan teladan reaksi yang seharusnya nyata sebagai seorang yang hidupnya telah ditebus dan menerima kehidupan kekal. Banyak orang berangapan bahwa jaman telah berubah, situasi dan kondisi berbeda jaman itu dan jaman sekarang. Memang telah berubah, memang berbeda, tetapi Firman Tuhan tetap selama-lamanya, dan tidak akan luntur oleh jaman dan tidak akan meleleh karena perubahan situasi dan kondisi.

Yesus ingatkan bawah kita tidak dapat mengapdi kepada dua tuhan. Bukan artinya kita tidak boleh menjadi pemeluk agama kristen dan juga sekaligus pemeluk agama lainnya, juga bukan berarti kita tidak dapat menjadi pengikut Kristus tetapi juga pengikut Setan atau Iblis. Tidak ada didalam Alkitab perbandingan seperti itu, Yesus membandingkan ancaman itu hanya kepada sebuah figur yang disebut MAMON, bukan Ular Tua atau agama lain. Kata Mamon didalam berbagai terjemahan diartikan kekayaan. Tetapi saya lebih suka mengartikan seperti Lukas 8:14 tulis, kekayaan dan kenikmatan hidup. Inilah yang membuat kita memandang bahwa pintu itu terlalu sesak dan jalan itu terlalu sempit.

Saat ini, telah yakinkah kita adalah bilangan orang-orang yang akan diselamatkanNya pada akhir jaman kelak, saat sangkakala ditiup, saat rahasia besar akhir keputusan TUHAN digenapkan? Ingat Yesus katakan, “sedikit orang yang mendapatinya”. Kita diselamatkan bukan karena kita memeluk agama Kristen, tetapi karena kita melakukan kehendak Allah.

GBU

h1

JURUSELAMAT YANG TIDAK SEPERTI HARAPANKU

15 October 2010

 

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
[Matius 11:2-6]

Saat Yohanes sang pembabtis berada didalam penjara, ia ditawan dan dalam tekanan dan ancaman kematian dari keluarga Herodes (Matius 14:3-4), ia mengharapkan Mesias akan beraksi. Tetapi yang didapati bahwa Mesias tidak juga beraksi, Ia hanya mengabarkan Kabar Baik dan juga menolong orang-orang saja. Pada saat itu, bangsa Israel dijajah oleh bangsa-bangsa besar, mulai dari kerajaan Babel sampai kekaisaran Romawi. Janji tentang kelepasan bangsa Israel lewat Mesias telah mereka dengar dan mereka menantikan saatnya Mesias menyatakan diriNya dan melepaskan mereka semua dari penindasan dan mendirikan kembali tahta Raja Daud. Yohanes pembabtis sebagai nabi Allah, tentu dengan jelas mendengar perintah Allah untuk berjalan mendahului Mesias, membuka jalan bagi Raja diatas segala Raja (Yesaya 40:3, Yesaya 57:14-15, Maleaki 3:1). Yohanes mengabarkan Injil Kerajaan Allah  dan mengajar orang-orang tentang kebenaran, kebaikan dan keadilan. Ia rela menderita dan mati, asalkan Mesias menjadi Raja atas seluruh Israel.

Bukan hanya Yohanes pembabtis, murid-murid Yesus juga rupanya mengharapkan sama seperti yang diharapkan oleh Yohanes Pembabtis. Mereka menantikan saatnya Yesus memulihkan kerajaan Israel dan menjadi Raja duduk ditahta Daud.

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” [Kisah Rasul 1:6]

Pada saat Yesus masuk ke Yerusalem, Injil Yohanes mencatat kejadian tersebut demikian, Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” [Yohanes 12:12-13] Mereka semua meyakini Mesias akan segera mendirikan kembali kerajaan Israel, melepaskan mereka dari tekanan kekaisaran Romawi.

Demikian dialami Yohanes pembabtis didalam penjara mendengar apa yang dilakukan Yesus, hanya mengabarkan Kabar Baik dan menolong orang-orang, melepaskan mereka dari belenggu dosa, dari sakit penyakit dan dari roh-roh jahat, tetapi tidak juga Yesus menunjukan tanda-tanda untuk merebut kekuasaan penjajah. Didalam deritanya dalam penjara, Yohanes menjadi tawar hati dan kebingungan, dan saat itulah ia mencoba bertanya kepada Yesus, pertanyaan yang identik dengan “Engkau itu Mesias atau bukan?” Yohanes pembabtis menjadi ragu sebab ia tidak melihat Yesus berbuat seperti yang diharapkannya. Yesus tidak menunjukan tanda-tanda hendak membangun kembali kerajaan Israel.

Apa yang dialami Yohanes pembabtis, mungkin juga sering kita hadapi, saat kita merasa “tidak ditulong” TUHAN disaat kita merasa butuh pertolonganNya. Saat kita mengharapkan sesuatu perkara terjadi, saat kita mencoba “mengimani” sesuatu hal yang besar, atau kita mengharapkan TUHAN bertindak atau melakukan perbuatan ajaib atas persoalan atau masalah kita, tetapi kita dapati TUHAN tidak juga berbuat apa-apa seperti yang kita harapkan  dan tetap didalam kesukaran seperti Yohanes pembabtis tetap didalam penjara Herodes.

Saat itu, mungkin kita bisa menjadi putus asa, dan mungkin tawar hati. Kita mulai meragukan iman, meragukan kesaksian Injil dan bahkan ada juga yang mulai mengumpat TUHAN. “Dimanakah TUHAN saat aku butuhkan?” kata-kata itu sering kita dilontarkan anak-anak TUHAN disaat terhimpit dan didapati ia tetap juga terhimpit. Beberapa orang mungkin dengan bodohnya mulai “melawan” kebenaran yang telah ia terima, mulai melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang ia tahu tidak disuka oleh TUHAN, mencoba segala yang tidak diperbolehkan dan berakhir dengan kekerasan hati.

Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN. [Amsal 19:3]

Kadang kita lupa bahwa TUHAN itu bukan pelayan kita, bukan juga satpam kita, Ia bukan pegawai kita yang mana jika kita membutuhkan Ia akan buru-buru menyediakan, jika kita menginginkan maka Ia akan memberikan dan jika kita meminta maka Ia akan datang buru-buru memberikan apa permintaan kita. Tidak, TUHAN itu adalah Raja diatas segela raja, Ia adalah Allah pencipta langit dan bumi, terlalu besar dan terlalu mulia untuk kita datang sujud menyembah dibawa kakiNya. Kita telah mendapat anugrah yang besar.

Apa yang direncanakanNya apa yang dipikirkanNya, sangat jauh dari apa yang kita rencanakan dan pikirkan (Yesaya 55;8-9). Yohanes pembabtis hanya memikirkan bahwa Mesias akan datang menyelamatkan bangsa Israel, membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi, tetapi sesungguhNya, TUHAN merancang kedatangan Mesias, bukan untuk membebaskan bangsa Israel saja, dan juga bukan untuk melepaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi, tetapi lebih dari itu, Mesias merupakan anugrah bagi seluruh umat manusia untuk dibebaskan dari dosa dan maut dan memberikan kehidupan kekal didalam kerajaan yang bukan berupa pemerintahan kerajaan didunia ini semacam kekaisaran Romawai, tetapi Kerajaan Allah yang kekal.

“Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” [Yesaya 49:6]

Saat Yesus bangkit dan telah menyelesaikan segala yang harus diselesaikanNya, maka perintah ini disampaikan kepada murid-muridNya. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” [Markus 16:15]. Didalam Kisah Rasul 1:8, disebutkan bahwa mulai dari Yerusalem, ke Yudea dan sampai ke ujung bumi, kesaksian dan berita Injil itu harus disampaikan agar semua orang diselamatkan.

Jika Yohanes pembabtis hanya menyangka Yesus membebaskan bangsa Israel dari belenggu penjajah dan mendirikan kerajaan Israel dimana Ia sebagai rajanya, maka Mesias sesungguhnya datang untuk membebaskan kita dari kelemahan-kelemahan kita, melepaskan kita dari dosa dan maut. Orang-orang yang bertahun-tahun hidup dalam kelemahan, buta, bisu, tuli, lumpuh semua dilepaskan, mereka yang dirasuk roh-roh jahat dilepaskanNya, orang-orang yang lemah dan letih diberi kekuatan baru. Seperti yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya.

Persoalan dan masalah kita, juga sama seperti Yohanes pembabtis. TUHAN peduli akan masalah kita, ia peduli akan keinginan kita, tetapi bukan dengan jalan kita, bukan dengan rencana kita semua itu akan terjadi, tetapi jalan dan rencana TUHAN yang akan terlaksana untuk kebaikan kita. Mungkin hari ini kita melihat Jeruselamat tidak nyata seperti yang kita harapkan, mungkin Ia tidak berindak seperti yang kita perkirakan, tetapi ingat bahwa mataNya tidak pernah lepas mengawasi dan memberkati kita (Mazmur 139:2-12).

Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. [Mazmur 66:19]

Mari kita bangkit kembali… Tuhan tidak pernah meningalkan kita (Mazmur 31:23). Ia mengasihi kita dan telah merancangkan perkara yang baik dan indah walaupun kita harus berjalan dalam lembah kelam, sebab yang dipikirkanNya adalah perkara yang kekal, bukan dunia yang fana ini. Dunia dan keinginannya akan lenyap, tetapi kita akan tetap hidup didalam kerajaanNya.

Amin.

h1

TUHAN sedang merenda

5 June 2010

Markus 1:16-20

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Petrus adalah seorang nelayan, pekerjaan sehari-harinya adalah menangkap ikan di danau Galilea. Danau Galilea adalah danau terbesar di Israel, dengan luas 166 kilometer persegi, panjangnya 21km dan lebarnya 13km, yang penuh dengan berbagai macam ikan. Selain Petrus, saudaranya Adreas dan juga teman-temannya Yakobus dan Yohanes juga adalah nelayan di danau Galilea.

Pada saat Tuhan Yesus memanggil mereka, mengajaknya ikut dan menjadikan mereka penjala manusia, mereka meninggalkan pekerjaannya dan segala sesuatunya untuk mengikut Kristus.

MENJADI NELAYAN KEMBALI

Namun demikan ada sesuatu yang menarik saat kita membaca didalam Yohanes 21:3, dikatakan, “Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.” Mereka kembali menjadi nelayan (setelah Tuhan Yesus mati dikayu salib).

Petrus adalah seorang tokoh penting yang ditulis dalam Perjanjian Baru, ia memiliki jiwa pemimpin, berani dan sangat mengasihi Yesus. Didalam banyak hal, Yesus selalu mengajak Petrus (juga terkadang Yohanes dan Yakobus), sementara murid yang lainnya menunggu disuatu tempat. Petrus selalu tampil didepan sebagai pemimpin. Ia pernah berkata, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” (Markus 14:29). Tetapi yang terjadi adalah bahwa Petrus yang tadinya meninggalkan segala sesuatunya untuk mengikut Yesus, kembali menjadi nelayan di danau Galilea.

Jika kita baca kisahnya, maka kita tahu, banyak guncangan yang diterima Petrus, sehingga ia merasakan putus asa, takut dan memutuskan untuk menjadi orang biasa, bekerja sebagai nelayan kembali. Kita semua mengetahui bahwa Petrus adalah satu-satunya rasul Kristus yang menyangkal Kristus didepan banyak orang (Matius 26:69-75). Menyangkal Yesus dihadapan manusia bukan sesuatu yang sederhana, sebab itu adalah dosa yang besar (Matius 10:32-33).

Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.” Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Matius 26-74-75)

Selain itu, ia melihat Yesus, Tuhan dan Mesias yang dicintai dianiaya dan mati digantung diatas kayu salib. Ia merasa kehilangan yang amat sangat. Kematian orang yang kita kasihi tentu membuat hati ini menjadi sangat sedih. Petrus (dan semua murid-muridNya) menaruh harap akan pemulihan Kerajaan Israel secara jasmani (Kisah Rasul 1:6) dan kini ia melihat Mesias yang ia tahu akan jadi Raja menurut nubuat para nabi, mati, bahkan ia tidak sempat mengucapkan kata maaf dan penyesalan atas penyangkalannya kepada Yesus. Pukulan berat inilah yang membuat ia merasa sangat bersalah, kotor, jijik, tidak berguna dan terbuang.

Tidak heran jika kita membaca ayat yang menuliskan Petrus memutuskan kembali menjadi nelayan, meninggalkan semua pengharapan dan janji yang mereka terima saat mengikut Yesus (Lukas 22:23-30, Matius 20:20-21). Sebab pada saat itu mereka tidak tahu atau belum sadar bahwa semua yang dijanjikan Kristus adalah untuk perkara kekal, kerajaanNya adalah kerajaan Ilahi bukan kerajaan dunia (Yohanes 2:22). Harapannya telah hilang bersama matinya Mesias dan dosanya.

Sering kali juga diantara kita, saat kita terjatuh dalam dosa dan kesalahan, saat kita terjatuh dalam kelemahan kita, kita merasa lagi tidak layak, merasa putus asa dan kehilangan semangat dan pengharapan kita, kita meninggalkan pekerjaan Tuhan, kita meninggalkan Alkitab kita dan jam-jam doa kita. Ada juga yang melihat orang lain, misalkan seperti pendeta atau orang tua atau orang yang kita segani berbuat salah atau dosa. Melihatnya terjatuh dalam kekelaman, dan membuat kita sedih dan kehilangan harapan dan berakhir dengan keputusan untuk meninggalkan pelayanan dan ibadah, tidak lagi berdoa dan membaca Alkitab. Sungguh naif jika kita berbuat seperti itu.

PENUH KELEMAHAN

Petrus yang menjadi pemimpin dari teman-temannya, yang melahirkan gereja dan membawa gereja kudus dihadapan Allah sampai hari ini, bukanlah seorang yang sempurna. Ia penuh dengan kekurangan, kelemahan dan ketidak mampuan, memiliki kesalahan, bahkan kesalahan yang luar biasa. Tetapi sungguh luar biasa pula. Petrus si lemah, yang merasa sangat bersalah dan tidak berguna karena masa lalu yang ia menyangkal Tuhan, ternyata Alkitab menjelaskan Tuhan tetap melengkapi Petrus sebagai rasul yang memimpin para rasul lainnya dalam membangun gereja Tuhan di muka bumi ini. Posisinya tidak diganti oleh rasul yang lain atau siapapun.

Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong. (Mazmur 31:32)

Banyak orang beranggapan, seorang jika telah bersalah ia telah cacat, seorang yang telah berbuat jahat dan dipenjara, saat keluar dari penjara ia dimata masyarakat adalah sorang bekas napi, seorang yang memiliki catatan buruk. Banyak orang merasa saat perjalanan hidupnya penuh dengan lembar hitam, ada catatan dosa-dosa besar yang diperbuat, walau ia yakin Tuhan mengampuni, tetapi rasa bersalah ini membuat ia tetap merasa sebagai orang yang telah cacat dalam perjalanan hidupnya. Jangan menghukum diri sendiri, itu tipu daya setan (Kolose 3:23). Yudas sama-sama berbuat dosa, mengkianati Yesus dan juga sama-sama menyesal, tetapi Yudas menghukum diri sendiri dengan mati mengantung diri (Matius 27:3-4), sampai jatuh dan perutnya pecah (Kisah Rasul 1:18).

Tidak ada manusia yang sempurna didunia saat ini. Belum ada yang telah mencapai kesempurnaan ilahi, termasuk rasul Paulus (Filipi 3:12-13) sehingga tidak lagi pernah jatuh dan berbuat dosa. Karena kita semua dikurung oleh Tubuh Maut (Roma 7:21-24), kita masih dapat jatuh dalam kesalahan. Tetapi kita harus tahu, bahwa Allah sangat mengasihi kita dan tidak akan membiarkan kita tetap jatuh dan tergeletak. “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” Amsal 24:16.

Dihadapan Tuhan, seorang yang telah bertobat, walau seburuk apapun dosanya, walau sekelam apapun masa lalunya, tidak ada satupun yang diingat Allah selain lembar putih yang bersih tanpa noda atau bekas noda. Pengampunan dari Allah adalah melupakan dan tidak membangkit-bangkitkan kesalahan masa lalu, sebab semua kesalahan itu tidak ada lagi oleh karena darah Kristus.

Marilah, baiklah kita berperkara! -firman TUHAN-Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. (Yesaya 1:18)

Petrus telah menyangkal Kristus, tetapi Petrus menyesalinya dan kuasa pengampunan dosa itu menaunginya sehingga walau ia lemah dan bersalah, kemurahan Allah telah membuatnya berdiri dihadapan Allah tanpa cacat, noda dan kerut. (Efesus 5:27, I Korintus 1:8).

RENCANA-NYA TIDAK PERNAH GAGAL

Rencana Allah atas hidupnya juga tidak berubah, Petrus tetap sang batu karang, dimana gereja Tuhan akan dibangun olehnya (Matius 16:18). Saat Yesus bangkit, kembali Yesus mengingatkan tugas Petrus untuk membangun gereja bersama para rasul yang lainnya.

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15)

Tuhan tahu isi hati manusia (Yohanes 2:25), Tuhan tahu saat Petrus mengatakan “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” Petrus mengatakan dengan sungguh dari hatinya. Petrus bersungguh-sungguh berusaha mengasihi Tuhan, lebih dari yang lainnya. Karena itulah saat pertama kali Yesus bertanya, Yesus berkata, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Petrus diingatkan akan kerinduan dan pengharapannya sebelum ia terjatuh didalam kelemahan.

Jawaban Petrus yang pertama diulang oleh Tuhan Yesus kedua dan akhirnya sampai ketiga kalinya. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Yohanes 21:17). Tuhan bertanya sampai tiga kali, sampai Petrus merasakan kesedihan dan mengingatkan akan tiga kali ia menyangkalNya. Diawali dengan kata-kata “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.” saat Petrus diperingatkan akan tiga kali menyangkal sebelum ayam berkokok, demikian Yesus mengawali pertanyaannya dengan kata “… lebih dari mereka ini”. Dan juga tiga kali Petrus menyangkal di pagi hari sebelum ayam berkokok, demikian juga Yesus pagi hari itu bertanya tiga kali yang membuat hati Petrus sedih dan mungkin sekali Petrus mengingat kembali rasa putusasanya saat ia telah berdosa dan yang membuatnya memutuskan kembali menjadi nelayan.

Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka. (Mazmur 147:3)

Tuhan tahu Petrus sangat terpukul dengan dosanya dan ia merasa tidak lagi sebaik dahulu, ia tidak lagi merasa bersemangat seperti dulu, ia tidak lagi merasa layak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang dia impikan saat bersama Yesus (Yohanes 14:12). Karena itulah maka Allah yang membalut luka-luka dan menyembuhkan yang patah hati, tidak membiarkan Petrus terbiasa dengan penyesalannya, tidak membiarkan Petrus terbiasa suam-suam, dengan membuka lukanya agar dapat dibalut.

Perhatian Allah terhadap Petrus yang patah hati terlihat sejak berita kebangkitan Yesus dari malaikat di kuburNya, tertulis khusus disampaikan kepada Petrus. “Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.” Markus 16:7. Agar Petrus tahu, Tuhan-nya bangkit untuknya, ia tidak mati dan pengharapannya masih tetap ada. (Saat itu hanya Petrus yang terpukul hatinya dengan dosa saat menjelang kematian Yesus).

Setalah Petrus merasakan kembali kesedihannya yang lama, Yesus mengajaknya berbicara berdua (Yohanes 21:19-20) untuk menguatkan imannya agar ia dapat mengenapi apa yang dikatakan Yesus dalam Lukas 22:32, “tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Saat kita terjatuh dalam dosa, dan saat kita menyesal dan bertobat. Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, mengangkat kita dan menghibur kita. Ia membalut luka-luka kita dan menguatkan kita sehingga kita menjadi kuat kembali.

Tetapi Allah tidak menginginkan kita menyimpan kepahitan, menyimpan penyesalan dan kepedihan itu didalam hati kita. Sering kali orang beriman, menyimpan penyesalannya dan kesedihannya didalam hati yang terdalam. Tuhan ingin semua itu terbongkar keluar dan hati kita bersih dari semua rasa besalah, bersih dari semua kepahitan dan bayangan akan kekelaman masa lalu.

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, (Yohanes 3:19-21)

Jangan biarkan hati kita mempermainkan kita. Jangan biarkan kita duduk dibangku gereja, melayani pekerjaan Tuhan, berdoa dan membaca Alkitab dalam keadaan hati yang menyimpan kekelaman. Menyimpannya ditempat paling dalam di dalam hati yang suatu saat Iblis akan memakainya untuk menuduh kita dan membuat kita patah semangat dan lemah kembali. Petrus hari itu melepaskan segala kekelaman hatinya, segala penyesalan dan rasa bersalahnya.

Pada saat Roh Kudus turun, dan ia memperolah kuasa yang besar dan karunia Roh Kudus ia mengajar banyak orang (Kisah Rasul 2:38-41), mengadakan mujizat (Kisah Rasul 5:15-16) dan membangun gereja Tuhan dan yang sampai hari ini kita lihat gereja di mana-mana, semua adalah buah dari tugas Petrus bersama dengan para rasul melakukan kehendak Kristus. Tidak ada yang berkurang dari mata Allah sebelum Petrus jatuh dan sesudah Petrus jatuh, tidak ada yang berkurang dari rencana Allah terhadapnya.

DIMULAI DARI KETIDAK SEMPURNAAN

Memang didalam perjalanan hidup tidak semuanya indah dimata kita, tetapi kita harus tahu, bahwa segala sesuatunya Tuhan janjikan akan menjadi indah pada saatnya. Pengkotbah 3:11, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

Dari awal sampai akhir, kita melihat bahwa Allah bekerja membuat sesuatu yang tidak sempurna menjadi sempurna. Petrus yang lemah diolah menjadi Petrus yang luar biasa di jaman para rasul. Membuat sesuatu yang tidak baik menjadi baik, membuat segala sesuatunya indah. Memang pada awalnya terlihat tidak baik, tetapi lewat proses Allah membuat itu menjadi sempurna. Allah tidak menciptakan sesuatu yang sempurna sejak mulanya, Petrus bukan superman tetapi Ia membuat Petrus sempurna melalui proses.

Demikian juga hidup kita, disekitar kita kita lihat berbagai macam kekurangan, kelemahan dan ketidak sempurnaan hidup. Kita melihat pasangan hidup kita penuh dengan kekurangan, kita melihat kesalahan-kesalahan orang tua kita, kita melihat kenakalan anak-anak kita, kita melihat para pemimpin dan pendeta yang hidup didalam kelemahan dan kita merasakan pahitnya hubungan dengan teman, sahabat bahkan saudara. Kita melihat kekurangan dan kelemahan kita, kita melihat diri kita dan malu mengharapkan perkara yang mulya dari Allah. Kita lebih memilih duduk dibangku gereja dan pulang. Kita lebih memilih diam dan bungkam. Tetapi sesungguhnya setiap dari kita Allah merencanakan perkara yang indah. Kita semua direncakan untuk mencapai kesempurnaan, hidup didalam kekudusan seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48)

Apakah dosa, kejatuhan, kelemahan dan kesalahan kita yang lalu-lalu menghalangi kita berharap hidup didalam kesempurnaan? Apakah kita takut mengharapkan sesuatu yang terlalu besar bagi kita? Sempurna bukan sesuatu yang terlalu besar, sebab memang haruslah demikian. Jika saat ini kita melihat hidup kita didalam kelemahan, kekurangan dan ketidak berdayaan. Mungkin kita sakit, mungkin kita miskin, mungkin kita bodoh dan sekolah tidak selesai, mungkin kita tidak bisa apa-apa, mungkin kita telah berumur, mungkin kita lemah dan sering jatuh bangun, mungkin kita mantan pendosa, tetapi rencana Allah tidak memandang masa lalu kita dan memandang kondisi jasmani, rencana Allah tetap adalah menjadikan kita kudus dan tak bercacat cela dihadapanNya. Ia menghendaki kita hidup sempurna. Sempurna itu bukan datang dengan sendirinya, tetapi sempurna itu sebuah proses. Filipi 3:13, mengajarkan kepada kita bahwa kita harus mengejarnya, melupakan apa yang dibelakang kita, melupakan semua kekelaman hidup masa lalu, dan mengarahkan diri pada apa yang ada didepan kita. Rencana yang harus kita genapkan, seperti Petrus dengan dosa dan kekelamannya, ia bangkit untuk menggenapi rencananya.

JANGAN TINGGAL DIDALAM KELEMAHAN

Banyak umat Kristen tertipu oleh Iblis, mereka merasa aman jatuh bangun dalam dosa. Mereka merasa darah Kristus telah menghapus dosanya dan ia merasa baik-baik saja saat ia jatuh dan bangun dan jatuh lagi dan bangun lagi. Apalagi setelah mendengar ulasan tentang Petrus yang lemah dan jatuh dalam dosa tetap dipakai untuk menggenapi rencana Allah. Jangan bodoh. Allah tidak dapat dipermainkan.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Galatia 6:7)

Tuhan melihat hati kita, saat kita jatuh dan bertobat minta ampun, didalam hati kecil kita masih menyimpan keinginan untuk kembali berdosa, maka dihadapan Allah, kita sama sekali tidak menyesal dan Yesus tidak akan mempercayakan diriNya kepada mereka yang berbuat seperti itu (Yohanes 2:23-25).

Mungkin saat ini aman-aman saja dengan keadaan kita, dengan kelemahan kita. Jatuh bangun tanpa berkeinginan untuk mengejar kesempurnaan yang seharusnya menjadi perlombaan iman. Yang membiarkan hati ini penuh dengan kekelaman maka saatnya hari Tuhan datang dengan tiba-tiba dan penyesalan kita tidaklah berguna lagi (Lukas 21:34).

Ingatlah apa yang dikatakan oleh Samson, Lalu berserulah perempuan itu: “Orang Filistin menyergap engkau, Simson!” Maka terjagalah ia dari tidurnya serta katanya: “Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas.” Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia. Hakim-Hakim 16:20

Demikian saat ini, mari kita melihat bahwa memang dunia ini tidak sempurna, memang semua orang memiliki kelemahan dan kekurangan, memang kita masih dapat jatuh dalam dosa. Tetapi didalam kelemahan kita sekarang, kita belajar untuk melihat bahwa Tuhan sedang merenda hidup kita. Kita tidak tahu apa yang dikerjakan oleh Allah dari awal sampai akhir, tetapi kita tahu, bahwa ia menjadikan segala sesuatunya baik dan indah pada saatnya. Walau kita harus jatuh tetapi tidak akan tergeletak, kita akan bangkit kembali dan kita akan berjalan tetap mengikut langkah Kristus sampai kepada kesempurnaan yang dijanjikannya.

Amin

h1

Bapa Yang Baik

29 May 2010

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7:7-11

Didunia ini, ada ayah yang tidak peduli dengan anaknya, ada yang malah melukai, menjual atau atau bahkan membunuh anaknya sendiri, tetapi itu satu atau dua kasus dari jutaan bahkan puluhan juta ayah. Secara umum, semua ayah sangat mencintai anaknya.

Ayah memang cenderung tidak banyak bicara seperti wanita, atau ibunya, tetapi perhatian dan pikirannya dicurahkan untuk anak. Mereka membanting tulang, dari pagi sampai malam untuk memberikan apa yang layak dan terbaik untuk anak-anaknya.

Bahkan seorang penjahat, terhadap anaknya sendiri, ia lebih perhatian dan peduli. Walau masyarakat mengenalnya jahat, terhadap anaknya ia baik dan bahkan anaknya menganggap ayahnya sebagai pahlawannya. Apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh anak, sang Ayah akan selalu berusaha memenuhi bahkan walau tidak mampupun sang Ayah akan berusaha untuk anak-anak tercintanya.

Didalam ayat Firman Tuhan diatas, Yesus mengatakan bahwa Ayah didunia ini walau jahat sekalipun memeberikan roti kepada anaknya yang meminta roti, apalagi Bapa di Surga, yang jauh lebih sempurna dari semua bapa didunia.

Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti?

Roti adalah makanan utama bangsa Israel, seperti nasi di Indonesia. Sering kali kita mengdengar istilah “bekerja untuk sesuap nasi” dimasyarakat yang kita tahu maksudnya adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Demikian juga roti, disebutkan dalam kitab suci, merupakan gambaran akan kebutuhan hidup kita. Seperti sandang, pangan dan papan.

Sebagai orang beriman, kita percaya kita adalah anak-anak Allah (Galatia 3:26) dan kerena itu kita berdoa kepada Bapa di Surga meminta kebutuhan hidup kita (Mazmur 55:23, Filipi 4:19) . Tidak banyak diantara kita berdoa memohon kepada Bapa sambil bercucuran air mata dan mungkin juga dengan doa puasa.

Sering kali juga sebagai anak-anak Allah, kita merasa, kok Bapa memberikan “batu” saat kita meminta “roti” kepadaNya? Saat kita membutuhkan sesuatu, mengharapkan pertolonganNya atas persoalan atau mengharapkan berkat dan kesembuhan dari Bapa, yang kita lihat dihadapan kita malah sesuatu yang lebih berat, melihat kepahitan bahkan kematian. Seperti menerima batu bukan roti.

Pada saat itu, Iblis akan memanahkan panah beracunnya, kita mencobai Allah dengan tuntutan bahkan disertai ancaman-ancaman. Kita tanpa sadar mulai berkata-kata seperti Iblis. “Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Lukas 4:3. Kita mulai menuntut seperti apa yang kita mau, dan tidak lagi mau mendengarkan apa yang Bapa mau. Banyak diantara kita mengancam Allah, “Jika aku tidak mendapatkan… aku tidak akan ke gereja lagi” atau “Jika dalam bulan ini tidak ada jawaban… aku tidak akan menyebut Tuhan lagi” dan banyak kata-kata jahat dari Iblis yang kita lontarkan.

Jangan meminta “batu menjadi roti” sebab Bapa di Surga tidak pernah memberikan batu. Ia memberikan roti kepada anak-anakNya. Allah Bapa memberikan apa yang kita butuhkan, memberikan segala yang terbaik untuk kita. Iblis mengatakan itu “batu” tetapi kita harus dapat melihat bahwa Bapa yang mengasihi kita telah menyediakan roti yang nikmat untuk kita.

“…, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” II Korintus 4:18

Bapa di Surga, memikirkan apa yang terbaik, seperti bapa di dunia mengasihi anaknya, ia memberikan sesuatu yang berguna bagi masa depan kita. Sering kali anak dipukul, sering kali diwajibkan belajar, mengerjakan tugas sekolah sambil ditunggui dengan rotan, kadang anak dipaksa untuk meminum cairan yang pahit agar ia sembuh dari sakitnya, saat kita kecil kita merasa ayah melakukan hal yang jahat, yang iblis katakan itu “batu”. Tetapi saat kita dewasa kita tahu, semua itu untuk kebaikan kita, untuk masa-masa kedepan yang kita saat itu tidak dapat lihat. Demikian Bapa di Surga, sering kali berbuat lebih dari itu, Ia tidak ingin kita binasa di neraka dan dihukum bersama-sama orang berdosa dan antikristus. Karena itu roti yang diberi terkadang terasa tidak enak bagi daging, tetapi itu sehat dan bermanfaat untuk kesehatan kita.

Mungkin kita ingat ayat yang sering kita baca berikut ini, “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:32-33. Segala kebutuhan jasmani, segala perkara didunia ini yang fana, Allah Bapa di Surga tahu kita memerlukannya dan dengan senang hati akan diberikannya kepada kita, tetapi lebih dari itu, Allah Bapa di Surga, mengutamakan perkara kekal.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? Lukas 9:25

Karena itulah maka sering kali kita tidak melihat roti yang kita minta seperti roti yang kita harapkan, sebab roti yang kita butuhkan diberikan oleh Bapa untuk perkara didunia dan juga untuk kekal, bukan hanya untuk dunia ini saja.

Belajarlah untuk mulai melihat bahwa Bapa di Surga selalu memberikan roti kepada anak-anakNya, Ia tidak pernah memberi batu, sebab memang demikian yang dijanjikanNya.

atau memberi ular, jika ia meminta ikan?

Di Indonesia terdapat berbagai macam jenis ular, paling banyak habitatnya diantaranya adalah ular yang tidak berbisa, seperti ular pohon, ular sawah dan banyak lainnya lagi. Tetapi di Israel dan sekitarnya, ular disana kebanyakan adalah ular-ular yang beracun, mengandung bisa yang mematikan. Setidaknya ada 40 jenis ular yang hidup di Israel, separuh lebih diantaranya ular beracun.

Saat kita meminta ikan kepada Bapa di Surga, ia tidak akan memberikan ular yang dapat menyemburkan bisa mematikan. Banyak orang saat menginginkan sesuatu, saat berharap menerima “ikan” yang baik, malah menghadapi perkara yang lebih buruk lagi dan bahkan seakan membawa kita terpaksa berbuat dosa dan kejahatan. Membuat kita terhimpit dan tidak ada jalan keluar, sepertinya Bapa memberikan ular yang berbisa kepada kita.

Allah tidak pernah membawa kita kepada keadaan yang membuat kita berdosa, yang menghimpit kita seakan kita terpaksa harus berbuat dosa dan kejahatan. Ingat apa yang ditulis dalam kitab Yakobus.

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Yakobus 1:13-15

Allah tidak pernah membawa seseorang kepada keadaan dimana ia terjatuh dalam dosa. Bahkan dalam kesukaran yang terberat sekalipun, Bapa selalu memberikan jalan keluar bagi anak-anakNya tetapi sering kali mereka mengabaikannya dan memilih jalannya sendiri, yaitu jalan keluar yang lahir dari keinginan daging dan hawa nafsunya.

Sering kali seseorang dihadapkan kepada keadaan dimana ia terhimpit misalkan, keuangan, saat kita belajar tentang hidup berpada, berharap dengan iman, disisi lain pikiran dan hati kita melahirkan keinginan daging dan hawa nafsu untuk menjadi lebih kaya dan akhirnya ia terjebak oleh berbagai macam masalah dan berujung kepada perbuatan dosa dan kejahatan. Misalkan ia memilih jalan berhutang kepada rentenir atau meminjam uang di bank untuk sesuatu pekerjaan yang tidak jelas, pada saat kehancuran datang lebih parah, banyak orang menuduh Bapa memberikan ular saat ia meminta ikan. Padahal semuanya jelas, bisa ular itu datang dari hawa nafsu kita, dari dosa dan kejahatan.

Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat, tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak. Amsal 23:31-32.

Disekitar kita, banyak jalan keluar, banyak jalan untuk mencapai harapan dan keinginan kita dengan jalan yang penuh liku dan jauh dari kebenaran. Berapa sering kita melihat peluang yang sebenarnya bukan peluang. Jika kita menempuh jalan yang menarik dan nikmat tersebut, saat berubah menjadi bisa ular, jangan menyalahkan Tuhan dan mengatakan “Tuhan memberiku ular berbisa”

Ingat, Bapa selalu memberikan yang terbaik, ia memberikan ikan kepada kita tetapi lebih dari itu, Bapa menghendaki kita memikirkan perkara yang kekal, perkara yang diatas bukan hanya perkara fana. Selama nafsu rakus ini menjalar hidup kita, maka kita akan menuntut ikan seperti yang kita mau, bukan ikan yang terbaik yang Bapa sediakan.

Ikan dan daging, adalah pelengkap dari lauk-pauk pada masa itu. Didalam kehidupan saat ini, ikan dan daging yang ditulis adalah sesuatu yang mungkin dapat digambarkan sebagai keinginan atau biasa kita sebut kebutuhan sekunder (walau menurut ilmu kesehatan modern, ikan dan daging itu adalah kebutuhan gizi dan nutrisi harian yang kita kenal dengan istilah empat sehat lima sempurna).

Sebagai anak, jika kita menginginkan sesuatu tentu kita meminta kepada ayah kita bukan kepada tetangga atau orang asing. Demikian juga dengan kebutuhan sekunder dan keinginan-keinginan kita meminta juga kepada Allah Bapa di Surga. Janji Bapa bahwa Ia juga akan memberikan ikan saat kita meminta ikan. Tetapi bukan ikan yang membawa kita berdosa dan lebih dekat kepada dunia.

Seperti yang terjadi pada bangsa Israel di padang gurun, Bapa telah memberikan Manna, roti dari Surga, tetapi mereka menuntut ikan yang dari Mesir. Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” Bilangan 11:4-6.

Jangan menuntut ikan sesuai dengan keinginan kita, belajarlah percaya kepada Bapa, sebab ia yang memelihara hidup kita. Ia yang menjamin makan dan hari-hari kita penuh sukacita dan damai sejahtera. Bapa sayang kepada anak-anakNya, Bapa yang baik memberikan yang terbaik untuk kekal bukan memuaskan nafsu didunia ini dan merusak sesuatu yang kekal yang jauh lebih berharga.

Saat 5000 orang laki-laki kelaparan, Bapa memberikan mereka makan roti dan ikan sampai puas dan bukannya memberi batu dan ular. Hanya dari 5 roti dan 2 ikan, bukan hanya 5000 orang laki-laki makan sampai puas tetapi juga anak-anak dan wanita serta masih sisa 12 bakul (Matius 14:14-21). Sering kali saat kita meminta roti dan ikan, kita menerima roti dan ikan dari Bapa, tetapi mata jasmani merasa roti dan ikan tersebut kurang. Saat itu dapatkah kita percaya Bapa memenuhi segenap kebutuhan dan bahkan memperhatikan keinginan kita? “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3:5-6.

Jika kita percaya (Markus 9:23), maka saat itulah mujizat akan kita lihat, saat itu kita melihat kuasaNya bekerja dalam hidup kita dan kita melihat Allah Bapa memelihara kita dengan tanganNya yang perkasa. Didalam kelemahan kita, ada kuasa yang besar dari Allah yang bekerja lewat iman dan pengharapan (II Korintus 12:9-10).

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Inilah janji Bapa di Surga kepada anak-anakNya. Bapa menghendaki anak-anakNya tidak malu untuk meminta kepadaNya. “Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Yohanes 16:23-24.

Jangan berhenti berdoa, dan jangan malu atau segan berdoa memohon kepada Allah Bapa di Surga, sebab didalam nama Tuhan Yesus Kristus, apa yang kita minta akan diberikan kepada kita. Tentu permintaan yang bukan lahir dari hawa nafsu kita, tetapi permintaan anak-anakNya yang memandang kepada perkara-perkara diatas (1 Yohanes 5:14).

Jangan juga berhenti mencari, karena apa yang kita cari akan kita temukan. Mencari adalah kata kerja yang aktif bukan pasif. Dimana kita harus berusaha tanpa putus asa. Sering kali kita hanya berusaha sebentar saja dan telah berhenti. Firman Tuhan katakan carilah dan carilah sampai kita menemukan, sebab pasti kita akan menemukannya dengan iman atas janji Bapa kepada kita.

Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. Ibrani 10:36

Jangan berhenti mengetuk, sebab pintu pasti akan dibukakan. Mengetuk pintu sampai dibukakan adalah tentang berharap. Jangan berhenti berharap, sebab pengharapan kita nyata karena janji Allah tidak pernah berubah didalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Didalam segala hal kita harus memiliki pengharapan kepada Allah Bapa sampai segala sesuatunya digenapkan didalam hidup kita. “Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.” 1 Korintus 9:10

Ingatlah bahwa Bapa tidak pernah berdusta. Semua janji dari Bapa yang baik itu diberikan kepada kita, agar kita anak-anakNya dapat hidup berbahagia didunia ini, hidup damai dan sejahtera didalam namaNya yang agung dan besar.

Amin.

h1

Perjanjian Yang Diperbaharui

8 September 2009

Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.”
Keluaran 24:7-8

Perjanjian tersebut disebut perjanjian antara Yahweh dan Israel di gunung Horeb/Sinai (Keluaran 19-31), selanjutnya Allah melengkapi dengan tatacara dan aturan ibadah setelah kemah suci didirikan sebagai detil dari perjanjian tersebut, yang meliputi korban bakaran, korban sajian, korban penghapus dosa, korban penebus salah, persembahan pentasbisan dan korban keselamatan (Immamat 7:37-38). Kemudian bangsa Israel menyebutnya sebagai hukum Taurat (Ulangan 4:44) dan pada masa kini kata Taurat mengacu kepada 5 kitab yang ditulis oleh Musa (Kejadian, Keluaran, Immamat, Bilangan dan Ulangan).

Demikian perjanjian yang dibacakan dan didengar untuk dilakukan dan bertindak hati-hati sesuai dengan apa yang tertulis didalamnya adalah hukum Taurat, perjanjian antara Yahweh dangan bangsa Israel.

Jauh sebelumnya, nenek moyangnya, Abraham telah menerima perjanjian Allah bahwa keturunannya yang akan menjadi umat Allah dan Yahweh menjadi Allah mereka untuk selamanya (Kejadian 17:7) dan juga Allah menjanjikan negeri Kanaan (disebut juga Palestina oleh bangsa Romawi sampai hari ini) sebagai tanah tempat mereka tinggal yang dikenal dengan sebutan Tanah Perjanjian (Kejadian 17:8).

Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. (Kejadian 17:7)

Perjanjian Allah di gunung Herob/Sinai tersebut merupakan kelanjutan dari perjanjian Allah kepada Abraham, yaitu perjanjianNya terhadap keturunannya. Perjanjian Allah itu mengikat dan bersifat kekal, perjanjianNya dengan Abraham dan perjanjianNya dengan bangsa Israel tidak pernah dilupakanNya bahkan sampai hari ini (Yesaya 54:10, Matius 5:18).

Disetiap perjanjian terdapat hak dan kewajiban dikedua belah pihak. Yahweh dan Israel, sama seperti perjanjianNya dengan Abraham (Kejadian 17:4,9). Dipihak Allah, telah tertulis dalam Kejadian 17:4-8 dan dipihak Abraham dan keturunannya tertulis dalam Kejadian 17:9-11, yang melahirkan hukum sunat.

Saat mengadakan perjanjian dengan bangsa Israel, perjanjian tersebut juga memiliki bagian bagi kedua sisi. Di pihak Israel, mereka diharuskan hidup sesuai dengan hukum yang telah dibacakan kepada mereka lewat perantara Musa, yaitu hukum Taurat. Dipihak Allah, mereka akan menjadi harta kesayangan dan dijadikan Kerajaan Imam dan bangsa yang kudus milik Allah.

“Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” (Keluaran 19:5-6)

Didalam kitab Ulangan 29:1,10-15 disebutkan bahwa Musa mengadakan perjanjian kembali kepada umat Israel, sesuai dengan Perjanjian yang diterima mereka di gunung Herob/Sinai dengan memperluas jangkauan perjanjian. Didalam ayat 14 dan 15, ditambahkan tentang perjanjian tersebut mengikat bukan hanya kepada mereka yang hadir ditengah upacara tersebut, tetapi mengikat kepada semua orang Israel dimanapun mereka berada. Bahkan ayat 11-12, juga termasuk anak-anak, perempuan dan orang asing diluar bangsa Israel yang berada ditengah-tengah mereka, terikat pula dengan perjanjian tersebut.

Mereka yang melanggar perjanjian, Allah telah menetapkan pula didalam perjanjianNya tentang hukum bagi mereka yang berbuat jahat, berkianat terhadap perjanjian tersebut. Secara garis besar hukumnya adalah kutuk (Ulangan 28:15-46) dan maut. Segala dosanya akan ditanggungkan tujuh kali lipat (Imamat 26:15-39).

Namun demikian didalam hukum perjanjian tersebut, Allah juga memberikan jalan pengampuan lewat hukum korban tebusan salah dan korban penghapusan dosa. Dimana semua dilakukan dengan mengorbankan binatang sebagai tebusannya.

“Sebagai korban penebus salahnya haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, yang sudah dinilai, menjadi korban penebus salah, dengan menyerahkannya kepada imam. Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya sehingga ia bersalah.” (Immamat 6:6-7)

Demikian jadinya, berulang-ulang bangsa Israel berbuat salah dan memohon pengampuanan. Berbuat salah dihajar oleh Allah, semakin keras saat tetap tidak bertobat, saat kemudian bertobat, dan Allah mengampuni, memberikan kelepasan dan berkat-berkatnya kembali kemudian tidak lama bangsa Israel berbuat dosa kembali dan kembali lagi Allah menghukumnya.

Sesuatu yang jelas bahwa Ulangan 27:26, berkata (KJV), “Cursed be he that confirmeth not all the words of this law to do them. And all the people shall say, Amen” Sehingga setiap orang Israel harus mentaati seluruhnya, kesalahan terhadap satu bagian menjadikannya bersalah terhadap keseluruhan (Yakobus 2:10). Memang ada banyak yang hidup tanpa kesalahan dalam mentaati hukum Taurat, salah satunya rasul Paulus.

Walau demikian rasul Paulus mengatakan dalam Roma 3:20, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Rasul Paulus adalah seorang Farisi (Filipi 3:5), yang hidup memegang hukum Taurat dengan keras (Kisah 26:5) dididik dibawah pengajaran Gamaliel (Kisah 22:3), seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh Mahkama Agama dan orang Israel (Kisah 5:34). Kehidupannya tidak diragukan lagi dalam menjalankan hukum Taurat (Filipi 3:6), namun ia tahu karena adanya hukum Taurat, maka dosa akan semakin bertambah-tambah (Roma 5:20). Sehingga mudah sekali manusia jatuh dalam dosa dan semakin berat dan berat sampai kepada kenyataan bahwa upacara penghapusan dosa tidak membawa keselamatan dan pembenaran. Darah binatang tidak dapat menebus dan menghapus dosa manusia. Ibrani 10:14, Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.”

Hal itu terlihat jelas dari kehidupan dan sejarah bangsa Israel, bahwa tidak ada seorangpun dapat mentaati seluruh hukum Taurat. Sebab Hukum Taurat adalah perintah yang datang dari luar tubuh untuk ditaati, dan karenanya maka tubuh ini harus ditaklukan agar dapat taat (Roma 7:21-24). Sebenarnya Allah telah menetapkan hukum sunat, sebagai pembuka jalan bagi hukum Taurat yang diberikan terlebih dahulu. Dimana dengan hukum sunat yang merupakan sunat hati (Ulangan 30:6), maka hati bangsa Israel dapat lunak dan dapat mentaati hukum perjanjian Allah. Tetapi bangsa Israel terus menurus mengeraskan hati mereka (Ibrani 3:15-19), benar mereka telah bersunat jasmani, tetapi hatinya tidak disunat, sehingga mereka dibinasakan dan ditawan bahkan dibawa ke pembuangan.

Celakalah kita jika demikian? Tentu tidak, sebab sebenarnya Allah telah merencakan sesuatu yang indah dan luar biasa, rahasia yang tersembunyi sejak permulaan dunia, yang tertulis dalam kitab Perjanjian Allah, yang disampaikan oleh para nabi-nabi tentang keselamatan kekal. Dan janji itu telah digenapkan pada jaman ini.

Saat ini kita menyebut seluruh perjanjian Yahweh dengan Israel tersebut dengan sebutan Perjanjian Lama. Kata lama menandakan Perjanjian yang telah diperbaharui oleh Allah (Ibrani 8:13). Hari ini kita bersyukur sebab apa yang dahulu merupakan gambaran, yaitu hukum Taurat, merupakan penenuntun kepada perjanjian Allah yang sempurna, kita sekarang hidup didalam hukum-hukum Perjanjian yang telah diperbaharui.

“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”
(Yeremia 31:31-34)

Perjanjian baru telah diwartakan sejak lampau, bahwa Allah akan menaruh hukum-hukumNya didalam hati kita dan perintah Allah tidak lagi datang dari luar untuk kita taati, tetapi dari dalam memancar keluar didalam perbuatan yang sesuai dengan hukum Taurat. Hukum Allah tidak pernah berubah, hukum Taurat tetap berlaku tetapi tidak lagi secara hurufiah dan diperintahkan dari luar tubuh, tetapi dari dalam, hukum yang bersifat rohani karena dibangkitkan oleh Roh yang dari Allah. Sehingga sejak saat berlakunya hukum Perjanjian Baru, Taurat tidak lagi berlaku secara jasmani, tetapi secara rohani digenapkan didalam Kristus.

Seperti halnya Perjanjian Lama dengan hukum sunat sebagai pengawal perjanjian, maka Perjanjian Baru juga ditandai oleh hukum Roh, dimana Allah akan menaruh RohNya kedalam hati kita, sebagai awal Perjanjian Allah.

Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu. Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisanmu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu. (Yehezkiel 36:25-29)

Pelayanan Yohanes Pembabtis adalah pembukaan babak dari Perjanjian Baru, perjanjian Allah yang telah diwartakan ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Ia datang mengenalkan ibadah babtisan air sebagai tanda permulaan Perjanjian Baru, yang disebutkan oleh rasul Petrus sebagai permohonan hati nurani yang baik dari Allah (1 Petrus 3:21). Selanjutnya seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam II Korintus 5:17, bahwa setiap orang beriman akan menerima hati dan roh yang baru sebagai kelahiran kembali yang dikatakan oleh Yesus kepada Nikodemus (Yohanes 3:3).

Setelah kita diperbaharui dalam roh dan pikiran sebagai manusia baru dimana Roh Allah dicurahkan didalam hati kita, sehingga kita memiliki kekuatan untuk mentaati hukum Taurat. Kita memiliki kekuatan untuk menaklukan keinginan daging ini dengan bantuan Roh Allah (Roma 8:13). Hukum Allah datang dari dalam bukan lagi dari luar seperti perintah harus ini dan itu, tetapi dari dalam hati kita kita akan tahu apakah harus ini atau itu sesuai dengan kehendak Allah.

Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu-dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta-dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia. (1 Yohanes 2:27)

Ayat tersebut diatas bukan berarti kita tidak perlu lagi belajar Firman Tuhan, juga tidak berarti kita tidak lagi perlu saling menasihati dan menguatkan, tetapi ayat tersebut menjelaskan bahwa Roh Allah yang juga sering disebut Pengurapan akan mengajarkan kepada kita segala sesuatu kepada kita. Yohanes 14:26 “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Ingat, bahwa didalam Perjanjian Baru, hukum Taurat tetap ada dan malahan hukum Taurat tersebut ditaruh didalam hati kita untuk kita taati (bukan secara harafiah), kerena itu perlu kita belajar dan mengerti lebih dalam Firman Tuhan, sehingga seperti yang dikatakan Yohanes 14:26 diatas, Roh Kudus akan mengingatkan kita akan semua kebenaran yang telah kita pelajari. Sedangkan yang dimaksudkan tidak perlu kita diajar oleh orang lain, adalah tentang peraturan manusia dan ibadah cara hafalan (Yesaya 29:11-14). Merekalah yang rasul Yohanes sebut, orang lain yang berusaha menambahkan beban kepada kebebasan kita didalam Kristus.

Hukum Taurat yang kita terima didalam hati kita, hukum Perjanjian Baru adalah hukum yang bersifat rohani, bukan perintah jasmani, sebab yang jasmani itu mematikan dan Roh Allah menghidupkan (2 Korintus 3:16).

Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (2 Korintus 3:14-17)

Saat selubung tersebut dibuka, saat itulah maka kita melihat bahwa hukum Taurat, kitab-kitab yang ditulis oleh Musa adalah perintah yang bersifat rohani dibangkitkan oleh Roh Allah yang tingga didalam kita, sehingga kita tidak lagi seperti bangsa Israel yang terus menerus berbuat kesalahan dan dosa, tetapi oleh karena pelayanan Perjanjian Baru, maka korban Anak Domba Allah, merupakan penggenapan dari gambaran korban-korban yang disebutkan dalam hukum Taurat tersebut, telah menghapus dosa satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:10).

Sejak Perjanjian Baru diberikan kita tahu bahwa Kerajaan Imam dan bangsa yang kudus didalam Perjanjian Lama, adalah berita tentang Kerajaan Allah (Markus 1:15), dan juga bahwa Tanah Perjanjian bukanlah sebidang tanah di Timur Tengah, melainkan Surga yang mulya tempat kita akan tinggal untuk selamanya (Yohanes 14:2-3). Apa yang jasmani telah disingkapkan, sehingga kita mengenal kebenaran yang bukan terdiri dari upacara, binatang korban, pakaian, bangunan dan segala sesuatu yang ritual jasmani, tetapi merupakan perkara kekal didalam roh yang kekal.

Perjanjian tersebut mengikat semua orang yang menerima percikan darah, demikian juga kita yang menerima percikan darah Kristus, lewat persekutuan dengan tubuh dan darahNya.

Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. (Lukas 14;23-24)

Sama seperti Perjanjian Lama disahkan dengan darah, maka Perjanjian Baru juga disahkan dengan darah Kristus. Mulai saat itu, hukum kasih karunia diberitakan. Keselamatan dan pengampunan diterima dengan iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Kristus, sama seperti pada masa Perjanjian Lama, didalam hukum Taurat, tangan pendosa diletakan diatas domba atau binatang sembelihan untuk ditanggung oleh binatang tersebut sebelum dipersembahkan sebagai korban penghapusan dosa (Imamamat 4:29) demikian juga saat ini, kita meletakan iman percaya kita kepada Anak Domba Allah.

Hukum yang ada didalam Perjanjian Baru, apa yang ditulis oleh para rasul dan apa yang diajarkan oleh mereka bukanlah hal baru, atau hukum baru, tetapi semua adalah hukum Perjanjian Lama yang telah disingkapkan, merupakan kesempurnaan janji Allah. Mereka menggunakan kitab Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab untuk menjabarkan berita Injil dan hukum Kasih Karunia sesuai Perjanjian Baru Allah. Sebab hukum Allah tidak pernah berubah dan FirmanNya tetap untuk selama-lamanya.

Rahasia besar dibukakan saat kebenaran dinyatakan bahwa bukan hanya bangsa Israel yang dirindukan Allah, yang disebut anak Allah, tetapi Allah menghendaki semua orang bertobat dan memperoleh keselamatan yang daripadaNya (Yesaya 49:6).

Tetapi kelak, jumlah orang Israel akan seperti pasir laut, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung. Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” akan dikatakan kepada mereka: “Anak-anak Allah yang hidup.” (Hosea 1:10)

Hari ini lewat iman maka banyak orang telah menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12, 1 Yohanes 3:2) dan mereka menjadi umat Allah dan Yahweh menjadi Allah mereka. Anak-anak Abraham bukan lagi anak secara jasmani tetapi secara rohani yang didasari atas iman Abraham.

Perjanjian Baru telah membuka pintu keselamatan bagi seluruh bangsa-bangsa didunia ini lewat bangsa Israel (Zakaria 8:22-23).

Amin

h1

Asal Kujamah, Sembuh

21 April 2008

Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. Lalu kata Yesus: “Siapa yang menjamah Aku?” Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: “Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.” Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku.”

Lukas 8:43-46


Jumbai JubahSering kita berdoa dan memohon mujizat, memohon kesembuhan dan banyak hal lainnya. Sudah bertahun-tahun hal itu kita harap-harapkan, tetapi tidak juga ada jawaban. Sama seperti halnya perempuan tua yang menderita pendarahan yang telah lama dan tidak ada yang dapat menyembuhkannya.

Didalam kehidupan kita, di saat doa-doa dan pertolongan yang kita diharapkan tidak juga kunjung datang, kita sering bertanya-tanya tentang keberadaan Allah, seakan kuasa Allah jauh dari kita. Seakan semuanya membisu, dan kita sendiri dihadapan persoalan yang telah menahun.

Hari ini kita kembali merenungkan tentang kejadian perempuan tua yang sembuh dari pendarahannya. Kita belajar tentang iman seorang perempuan tua yang sering kita dengar ceritanya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Lukas 8:48).

Iman seperti apa yang dimiliki perempuan tua tersebut yang dapat kita pelajari? Dari catatan Matius 9:21, tertulis bahwa ia berkata dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Selanjutnya kita tahu kitab Matius dan Lukas, menjelaskan bahwa jubah yang dimaksud perempuan tua tersebut adalah jumbai jubah Yesus. Ia berusaha menjangkau dan menjamah jumbai jubah Yesus diantara kerumunan orang.

Jumbai adalah ujung jubah yang diikat dengan benang berwarna ungu kebiruan. Jumbai dibuat pada keempat ujung kain atau jubah setiap orang Israel sejak ditetapkan oleh Tuhan lewat Nabi Musa (Bilangan 15:37-41).

TUHAN berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. (Bilangan 15:37-38)

Demikian dengan jubah Yesus pada saat sebagai seorang Israel yang juga harus menjalankan perintah Tuhan sesuai hukum Taurat, terdapat jumbai pada keempat sudutnya. Jumbai inilah yang dilihat oleh perempuan tua tersebut dan didalam hatinya ia berkata bahwa asal ia menjamah jumbai tersebut, maka pendarahannya yang telah menahun dan tidak ada yang dapat menyembuhkan, dapat sembuh.

Demikian kelanjutannya kita tahu kisahnya, bahwa perempuan tua tersebut benar-benar sembuh setelah ia menjamah jumbai jubah Yesus, sesuai dengan imannya.

Sebenarnya Tuhan menetapkan bangsa Israel untuk memakai kain atau jubah dengan keempat ujungnya berjumbai adalah untuk mengingatkan bangsa Israel akan Firman Tuhan.

Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN. (Bilangan 15:39)

Perempuan tua itu memandang jumbai yang bergoyang-goyang ditengah kerumunan, dan fokus melihat jumbai tersebut, disaat semua orang tidak ada yang memperhatikan keberadaan jumbai tersebut. Kemudian dengan iman, ia menggerakan tangannya untuk menjangkaunya diantara himpitan dan desakan banyak orang sampai ia dapat benar-benar menjamahnya. Demikianlah maksud ditetapkannya jumbai pada jubah bangsa Israel, bukan hanya mengingatkan kita akan isi Firman Tuhan, tetapi juga dimaksudkan agar kita ingat bahwa Firman Tuhan tersebut harus ditaati dan dijalankan.

Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu. Akulah TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya Aku menjadi Allah bagimu; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Bilangan 15:40-41)

Demikian dengan kehidupan kita sehari-hari. Jika kita selalu mau mengingat Firman Tuhan dan melakukan segala perintah Tuhan, maka seperti yang terjadi pada perempuan tua tersebut maka juga akan terjadi pada diri kita. Jelas ditulis, Tuhan Yesus Kristus mengatakan, “Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku“, saat jumbai itu digengam dengan iman.

Saat kita mengingat Firman Tuhan dan melakukan tepat seperti apa yang diperintahkanNya, maka pada saat itu kuasa Tuhan akan mengalir dan kita dapat melihat mujizat dan jawaban setiap pengharapan kita. Kuasa itu ada saat kita tinggal didalam FirmanNya, bukan saat kita hidup menurut adat dunia. Karena itu doa-doa dan permohonan saja sebenarnya masih belum cukup untuk menarik kuasa Tuhan dalam kehidupan kita. Kita juga perlu untuk hidup sesuaikan dengan perintah-perintah Tuhan.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (Yohanes 15:7)

Jumbai yang dilihat oleh perempuan tua tersebut dan kemudian ia pegang, seharusnya menjadi pelajaran bagi kita. Firman Tuhan, memang sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi perempuan ini melihat dan mengingatNya. Tinggallah didalam FirmanNya, maka kuasa Tuhan akan nyata dalam setiap doa dan permohonan kita. Mujizat akan terjadi dan kehidupan kita adalah kehidupan yang penuh kuasa.

Bahkan setelah kejadian tersebut, semua orang sekarang memperhatikan jumbai tersebut. Memperhatikan tanda yang ditetapkan oleh Tuhan agar, umatNya selalu mengingat Firman Tuhan dan melakukanNya.

Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. (Markus 6:56)

Demikian renungan yang dapat membantu kita untuk menarik kuasa Tuhan masuk dalam hidup kita, lewat Firman Tuhan yang menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Amin




Top Blogs

h1

Artis Rohani Favorit

4 April 2008

Konser RohaniTahun-tahun belakangan ini mulai marak lahirnya artis rohani. Mereka adalah para idola dan orang-orang yang mencari uang dari bisnis artis. Wow…! Bisnis artis?

Beberapa waktu yang lalu saat saya mewawancari seseorang pelamar kerja, saat saya menanyakan hal yang merupakan kegagalan yang berkesan dalam hidupnya, ia bercerita tentang kisah asmaranya dengan artis rohani. Awalnya saya bingung saat ia menyebut artis rohani. Artis…? Rohani…? Apaan tuh? Kemudian dia menyebut sebuah nama yang tentu saya kenal dari albumnya dan menerima penjelasan darinya tentang arti artis rohani tersebut. Seorang artis tetapi berkecimpung dalam dunia kerohanian. Seorang yang manggung disana sini dan mengadakan konser dan diundang gereja, membuat album, main film, iklan dan lain-lainnya.

Sebenarnya kata artist sendiri itu artinya seniman. Tetapi penggunaan secara umum di negri kita, kata artis mengacu kepada seniman yang komersial, seniman didalam dunia hiburan (entertainment), dalam bahasa sederhana yaitu para penyanyi, pemain filem, pelawak dan lain-lainnya.

Jika kata artis yang erat kaitannya dengan dunia entertainment, ditambah kata rohani dibelakangnya, maka artinya bisa macam-macam. Sederhananya adalah orang-orang yang menghubur dengan materi rohani dengan tujuan komersial. Sebenarnya meraka tidak berbeda jauh dengan para artis pada umumnya, hanya bedanya, pasarnya adalah orang-orang yang rohani atau merasa rohani.

Bagi saya boleh-boleh saja mencari uang didunia hiburan, tetapi yang menjadi persoalan adalah untuk siapa mereka tersebut menyanyi? Bukankah lagu rohani adalah lagu puji-pujian kepada Allah, lagu menyembah Allah. Bagaimana jadinya saat lagu-lagu tersebut dirubah menjadi sebuah hiburan, selayaknya lagu-lagu pop lainnya? Berbondong-bondong orang membeli karcis konser, antri berjam-jam berjubel didepan pintu masuk dan berebut berada didepan panggung. Mereka menjerit-jerit, mereka minta difoto bersama, minta tanda tangannya…

Dunia ini memang sudah bengkok dan terbalik (Filipi 2:12-16), umat kristen apakah sudah tidak lagi dapat tahan untuk tidak memiliki idola dan artis rohani favorit? Apakah hal-hal rohani harus dikomersialkan, dijadikan sebuah entertainment? Apakah umat kristen telah lupa dengan Firman Tuhan, telah lupa dengan Lukas 16:15 yang mengatakan, “Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah. “

Mari, melalui renungan ini, kita belajar untuk membuang jauh-jauh istilah artis rohani dan idola-idola rohani yang semuanya adalah tipu daya. Manusia mengagumi manusia, manusia meniru teladan sang idola, sang artis. Bukankah kita seharusnya meniru teladan Kristus, menjadi serupa denganNya? Manusia selalu ingin menyingkirkan Allah, bahkan didalam pujian dan penyembahan kepada Tuhan sekalipun.

Celakalah dunia ini, celakalah orang-orang yang berusaha menukar kemulyaan Allah, pujian kepada Allah dan penyembahan-penyembahan yang benar dengan tipu daya enterteinment. Bukankah hal ini dulu telah terjadi dan menjadi pelajaran bagi kita (Roma 15:4), saat Raja Yerobeam mendirikan bukit-bukit pengorbanan dan memindahkan ibadah dari Yerusalem ke Betel dan Dan (1 Raja-raja 12:28-33, 13:1-2). Serta menukar Allah dengan patung sang idola. Raja Yerobeam mendirikan Ibadah enterteinment!

Saat ini, umat kristen telah mulai lagi mendirikan ibadah yang diadakan oleh Raja Yerobeam, ibadah entertenment dibukit-bukit pengorbanan. Didalam sebuah ibadah raya, muncul artis-artis rohani sebagai icon dengan lantunan lagu merdu mereka sebagai hiburan rohani, dengan para pendeta yang didapat dari sebuah biro jasa pemberita Firman Tuhan. Dengan suguhan filem, tari-tarian dan kemewahan panggung. Oh… Tuhan. Apakah telah dekat waktu kedatanganMu?

Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu! Sesungguhnya, hanya pada TUHAN, Allah kita, ada keselamatan Israel! (Yeremia 3:23)

Mengapa kita harus mencobai Allah sekali lagi? Seperti yang dilakukan oleh Raja Yerobeam dan yang dilanjutkan oleh raja-raja keturunannya yang jahat dimata Tuhan? Mengapa kita harus menukar ibadah kita dengan enterteinment rohani? Mengapa? Mengapa kita membuat Allah cemburu? Bukankah kita yang Ia panggil anak-Ku…

Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya; mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya; mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka. (Mazmur 78:56-58)

Mari kita tetapkan langkah kita, mari kita kembali kepada Firman Tuhan, kembali berpegang pada perintah dan peringatan-peringatanNya. Mari kita menyembah Allah dengan cara yang benar, mari kita memuji-muji Allah dengan riang dan dari hati kita. Mari kita tinggalkan ibadah entertenment, ibadah yang didirikan Raja Yerobeam, kita jauhkan bukit-bukit pengorbanan, kita buang semua tipu daya tersebut.

Biarlah kita hanya dipuaskan oleh Tuhan Allah kita, bukan oleh artis-artis rohani. Biarkanlah kita menerima sukacita dan damai sejahtera dari Tuhan Yesus Kritus bukan dari lantunan merdu para artis rohani, bukan dari konser musik rohani.

Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! (Mazmur 100:2-4)

Kita memuji Tuhan, bernyanyi dan menyembahNya, karena ada syukur dalam hati kita, karena ada nyanyian hati, karena ada Roh Allah yang memberikan sukacita dan rasa syukur tersebut. Bukan karena merdunya lagu, bukan karena indahnya dan eloknya suara dan tampang artis rohani. Semua karana Allah dan untuk Allah. Kita beribadah untuk Allah bukan untuk diri kita sendiri. Umat Allah tidak butuh entertenment rohani… tidak butuh artis rohani.

Siapa yang telah menyuguhkannya???



Top Blogs