Posts Tagged ‘agama’

h1

KESELAMATAN OLEH KUASA ALLAH

18 March 2011

(ditulis untuk sebuah milis kristen dimasa yang lama, disampaikan ulang di KM GBZ Dalung, 18 Maret 2011)

Saya terkadang merenungkan, mengapa saya bisa menjadi seorang Kristen. Mengapa saya begitu yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kepada Allah Bapa di Surga, jalan kepada keselamatan dan kehidupan kekal. Kadang saya merenung mengapa saya begitu bodoh menolak sesuatu yang menyenangkan, hanya karena Alkitab melarangnya, hanya karena saya percaya Allah tidak menyukainya. Mengapa saya mempercayai cerita tentang keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus?

Sampai hari ini saya tetap percaya.

Kebetulan kemarin saya dan istri bercakap-cakap dan sedikit menyingung tentang mengapa Allah menciptakan manusia dan diakhiri dengan tawa bersama, seraya mengakui bahwa kita ini orang-orang bodoh yang coba memahami Allah dengan logika dan hikmat manusia. Kita menjadi beriman bukan karena kita memahami logika tentang Allah, atau telah mencerna masuk akalnya penebusan Kristus. Tidak, kita memang orang-orang bodoh yang mendapat kasih karunia Allah untuk percaya kepada berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:8-9). Cobalah Anda membaca I Korintus 2:1-16, di sana kita akan melihat bahwa kita menjadi seorang yang beriman bukan karena telah mendengarkan presentasi yang luar biasa tentang teori keselamatan, tetapi karena kasih karunia Allah, karena ada kuasa Allah yang dinyatakan dalam hidup kita.

Sebab itu 1 Korintus 4:20 mengatakan, "Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." Kita mendengar dan menerima kabar baik di dalam Kristus bukan karena perkataan, bukan juga karena logika manusia, bukan karena telaah ilmiah, tetapi karena kuasa Allah. Tuhan Yesus waktu di dunia dan menyampaikan kabar baik kepada orang Israel, bukan dengan kata-kata indah dan ilmiah, tetapi Alkitab menuliskan bahwa Ia menyampaikan dengan kuasa (Matius 7:29, Lukas 4:32, Markus 1:22,27). Demikian juga dengan kita. Kita menerima perintah untuk menyampaikan kabar baik tersebut bukan dengan kata-kata hikmat, tetapi dengan disertai kuasa Allah.

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)

Bacalah juga dalam Lukas 24:49, jelas disebutkan bawah kita akan diperlengkapi dengan kuasa dari tempat yang tinggi untuk memberitakan kabar baik dan menjadi saksi Kristus. Juga dalam Kisah Para Rasul 1:8, bacalah dan Anda akan menemukan bahwa setelah kita menerima kuasa kita diutus untuk menjadi saksi Kristus ke seluruh dunia.

Berita tentang injil jika kita sampaikan dengan hikmat dunia, dengan logika, secara ilmiah, dan dengan kata-kata yang manis dan meyakinkan maka kita tidak akan melihat pertobatan, sebab mereka menjadi percaya bukan karena kata-kata kita, tetapi karena kuasa Allah. Bacalah Kisah Para Rasul, bagaimana injil mula-mula disebarkan mulai dari Yerusalem sampai ke seluruh dunia, semua dilakukan dengan kuasa Allah. Bahkan mereka berdoa memohon kuasa Allah sebelum mereka keluar dengan berani memberitakan kabar baik tersebut (Kisah Para Rasul 4:29:31). Setiap kesaksian, setiap berita, dan kabar baik tentang Kristus yang kita sampaikan, Allah berjanji akan meneguhkannya dengan kuasa-Nya (Ibrani 2:4, Markus 16:20).

Demikian juga dengan saya dan Anda, mengapa menjadi begitu bodoh mempercayai cerita tentang keselamatan, hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebab kita bukan mendengar kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi karena kita telah dijamah oleh kuasa tersebut.

Mulai hari ini, marilah kita menjadi saksi-saksi Kristus yang disertai dengan kuasa dari tempat yang tinggi (berdoalah untuk itu). Terkadang tanpa berkata-kata pun kita dapat membuat seseorang bertobat dan menerima Kristus. Saya melihat sendiri kuasa Allah yang berkerja pada dua orang teman saya, satu di SMA dan satu lagi waktu kuliah tanpa mengutarakan kata-kata. Mereka yang datang sendiri untuk mencari Yesus, dan saat itulah injil sampai kepada mereka.

Injil harus diberitakan dengan kuasa Allah, bukan dengan kata-kata hikmat (apalagi debat, stop bagi mereka yang berdebat antar agama, kebenaran tidak ditemukan dalam debat agama). Berita injil adalah soal kuasa Allah, bukan soal pemilihan kata-kata dan tatacara berbicara yang meyakinkan.

KITA MENGINJIL BUKAN UNTUK MENAMBAH JUMLAH ORANG KRISTEN

Banyak orang Kristen, malu atau takut saat mereka harus memberitakan injil. Sebab banyak orang kristen menganggap bahwa mereka sedang mengajak orang untuk memeluk agama kristen, mengajaknya datang kegerejanya dan menjadi jemaat sebuah gereja. Kita menginjil bukan bertujuan untuk menjadikan mereka pemeluk agama Kristen, tetapi kita menyampaikan injil yang artinya “kabar baik” kepada setiap manusia agar mereka didamaikan dengan Allah (2 Korintus 5:20). Mereka yang dulunya adalah seorang yang dimurkai Allah, seorang yang hidup dalam kutuk Allah dan hidup dalam hukuman, karena dosa dan kejahatan mereka, kita datang membawa kabar baik, bahwa Yesus telah datang, dan Ia telah mengutus kita, bukan untuk menjadi pendamai, tetapi menjadi perantara pendamaian, dimana Yesus yang adalah pendamai antara dia dengan Allah. Jika kita sudah tahu posisi kita, maka seharusnya kita berani untuk membawa berita injil dalam hidup kita. Sebab kita hanya perantara saja, kita adalah saksi sedangkan pendamainya adalah Yesus.

Berita injil atau kabar baik kita bawa bukan saja didalam mulut kita, tetapi juga didalam hidup kita, sebagai kesaksian yang hidup (bukan kesaksian mulut saja) yang dapat dilihat orang banyak seperti sebuah surat kabar yang dapat dibaca semua orang melalui hidup kita (2 Korintus 3:2-3). Karena itu, sudah seharusnya kita hidup didalam terang, kita tinggalkan beban dosa dan kita lepaskan semua hawa nafsu daging ini, jadilah surat Kristus yang dapat dibaca oleh semua orang (Ibrani 12:1-2). Pada saat itu, seperti yang dijanjikan Yesus, kita akan menerima kuasa yang dapat mengubahkan hidup orang. Kuasa yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal.

MENERIMA KUASA DARI TEMPAT TINGGI

Bagaimana kita dapat memberitakan injil dengan kuasa? Alkitab menulis tentang murid-murid pertama kali menerima kuasa itu, mereka diperintahkan demikian; “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." (Lukas 24:49). Mereka disuruh untuk tinggal didalam kota tersebut. Pada saat itu mereka semua ketakutan, berhubung status Yesus saat itu sebagai pemberontak yang dihukum mati oleh sebab fitnah dari Ahli Taurat dan orang Yahudi (Yohanes 20:19). Para pengikutnya menjadi sorotan, bahkan Petrus sampai meyangkal ia sebagai pengikut Yesus tiga kali. Mereka kerap kali berkumpul bersama diatas loteng yang disewa mereka didalam ketakutan. Apa yang dilakukan mereka diatas loteng tersebut sambil menunggu yang dijanjikan Bapa, itulah kunci kuasa Allah.

“Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." (Kisah Rasul 1:4-5)

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Rasul 1:8)

Kisah Rasul 1:12-14, jika kita membacanya kita tahu bahwa mereka berkumpul bersama di Yerusalem, tekun dan sehati didalam doa. Setiap kali mereka berkumpul dan berdoa sampai pada hari Petakosta, mereka menerima babtisan Roh Kudus, dan mereka menerima kuasa dari Allah seperti yang dijanjikan Bapa (Kisah Rasul 2:1-4). Setelah mereka menerima kuasa tersebut, ada kuasa yang mendorong mereka, sehingga Petrus yang dulunya ditanya anak kecil saja ketakutan, sekarang didalam Kisah Rasul 2:14, Petrus dengan berani berkata-kata dihadapan banyak orang dan Kisah Rasul 2:41 mencatat bahwa kuasa Allah tersebut telah menjamah 3000 orang yang berada disana pada hari Pentakosta. Mereka menerima Yesus dan percaya berita Injil bukan karena kepandaian Petrus berkata-kata tetapi karena kuasa yang bekerja yang membuat mereka bertobat dan menerima Kristus. Bacalah Yohanes 16:8, jelas disebutkan bahwa orang bertobat itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Juga dalam 1 Korintus 12:3, jelas disebutkan bahwa tidak seorangpun dapat mengaku Yesus adalah Tuhan kalau tidak karena kuasa Roh Kudus yang menjamahnya. Petrus berani, demikian juga rasul-rasul yang lainnya ditengah ketakutan mereka kerena mereka diancam dibenci dan dimusuhi oleh orang Yahudi terutama Ahli Taurat dan Farisi, karena mereka tahu, bahwa semua adalah pekerjaan Roh Kudus (2 Korintus 3:5), sedangkan mereka adalah perantara saja, yang dalam bahasa Alkitab adalah saksi.

Kuasa itu turun saat mereka berdoa. Roh Kudus bekerja luar biasa, saat mereka tekun bersehati didalam doa. Bacalah Kisah Rasul 4:23-31, disana dikisahkan saat mereka ketakutan, mereka tekun berdoa dan saat itu Roh Kudus mencurahkan kuasaNya dan keberanian itu timbul, bukan saja keberanian tetapi juga tanda-tanda dan mujizat, sehingga banyak orang dijamah oleh kuasa tersebut dan mereka bertobat. Kisah Rasul 5:12-16, menuliskan betapa hebatnya kuasa yang bekerja didalam hidup mereka. Demikian juga dengan kita saat ini, Roh Kudus bukan sudah undur, tetapi tetap sama seperti saat pertama kali dicurahkan diatas loteng Yerusalem. KuasaNya tetap sama seperti sedia kala, tetapi bedanya sekarang sudah jarang umatNya yang sehati didalam doa (Yesaya 30:15). Seberapa penting doa, didalam pertemuan ibadah? Doa hanya sebuah hiasan disaat pembukaan liturgi ibadah dan penutup liturgi ibadah, segelintir orang ditugaskan berdoa dengan sebutan doa kawal. Apa yang dikawal? Bukankah pertemuan ibadah itu adalah pertemuan didalam doa-doa sehati? Dapatkah petemuan ibadah kita jaman ini membangkitkan kuasa Allah? Banyak umat Kristen memberitakan injil bukan dengan kuasa, tetapi dengan hikmat, ilmiah, masuk akal dan dengan cara-cara yang “smart”. Pernakah rasul-rasul dan Yesus mengajarkan memberitakan injil dengan cara hiburan? Mengadakan pertunjukan enterteiment untuk menarik hati anak manusia sehingga mau mengenal Yesus? Memewahkan tempat pertemuan sehingga menarik kaum tersesat? Memasukan hiburan dan selera muda untuk menjangkau orang muda? Bacalah 2 Timotius 2:22, kita malah diajarkan untuk menjauhi nafsu orang muda, tetapi sekarang gereja telah “dilengkapi” dengan nafsu orang muda, penuh dengan selera muda, nuansa club dan pub. Dapatkah semua itu menobatkan orang, membawa mereka didamaikan dengan Allah lewat Yesus Kristus? Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat menjamah dan mengubah hidup seseorang. Ya hanya kuasaNya saja. Yesus bukan subtitusi hiburan duniawi, tetapi Yesus adalah jalan menuju kehidupan.

Jangan takut memberitakan injil, anda tidak harus menyampaikan orang “hai, jadialah orang Kristen”, tetapi anda memberikan jalan lurus kepada mereka untuk didamaikan dengan Allah melalui Yesus. Mengenalkan kepada mereka jalan kehidupan, entah ia mau atau tidak, bukan keputusan atau kecakapan kita. Kita menjadi saksi bahwa setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, agama apaun, bangsa apapun, suku apapun, bahasa apapun, golongan apapun, derajat apapun mereka semua akan diselamatkan. Mereka oleh dorongan kuasa Roh Kudus akan menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan dan disebut murid-murid Kristus, bukan oleh dorongan kita.

Saya adalah saksi, saat duduk dibangku kelas 3 SMA, saya memulai hidup baru didalam Kristus, tidak ada yang mendorong saya untuk mentaati Firman Tuhan, tidak ada yang membujuk atau memaksa saya untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan, untuk hidup sesuai dengan apa yang saya benar, suci, mulia, adil dan setia, tetapi ada dorongan dari dalam hati untuk melakukan semua hal itu, yang jika direnungkan tampak bodoh. Tetapi saya rela disebut bodoh asalkan menyengangkan hati Tuhan yang telah menjamah hati saya.

Banyak orang menjadi pemeluk agama Kristen, mereka menjalankan liturgi agama tetapi mereka sebenarnya belum menjadi murid Kristus karena Roh Kudus tidak menjamah mereka (mereka adalah pendosa yang berjemaat digereja). Banyak orang memeluk agama Kristen (juga agama yang lain) dengan berbagai alasan duniawi, seperti demi karirnya karena bosnya Kristen, demi keuangan karena di gereja sering dibagi sembako dan bantuan sosial, karena pacar karena syarat menikah mereka harus seagama, karena balas budi saat diajak oleh seseorang datang kegereja, karena kebetulan semua temannya Kristen, atau keluarganya Kristen dan sejuta alasan lainnya, tetapi semua mereka yang disebut beragama Kristen, tidak semuanya adalah murid Yesus yang telah menerima meterai Roh Kudus dan menerima hak menjadi anak-anak Allah. Kita memberitakan injil bukan untuk memenuhi gedung gereja dan mengisi bangku-bangku kosong, tetapi kita memberitkan injil untuk mengisi tempat yang kosong di Kerjaan Surga. Firman Tuhan katakan dalam Roma 11:25 disebutkan bahwa ada jumlah tertentu dari bangsa-bangsa bukan Israel (jasmani) yang akan diselamatkan, yang artinya bukan seluruh dunia akan diselamatkan. Sebab Yesus pernah berkata, “karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7:14) Sedikit orang yang akan mendapati jalan keselamatan itu, sisanya merka jalan dijalan lebar. Kita diutus untuk membawa orang menemukan jalan sempit tersebut, melalui pintu yang sempit pula. Tetapi sebelumnya, kita haruslah juga telah menemukannya.

Sudahkah kita menemukan pintu yang sesak dan jalan yang sempit itu? Sudakah hidup kita telah menjadi suratan Kristus yang terbuka bagi semua orang. Sudahkah kita telah mencerminkan perintah-perintahNya dan telah hidup menurut petunjuk Firman Tuhan? Itulah yang harus kita renungkan sebelum kita dapat menjadi pembawa kabar baik yang disertai dengan kuasa dari tempat yang Maha Tinggi. Siapkanlah diri anda, sebab keselamatan itu bukan soal KTP atau kartu anggota gereja.

Salam didalam kasih Kristus.

h1

Kristenisasi

30 August 2007

Keselamatan tidak lahir dari kristenisasi

Banyak manusia ribut dengan agama, berebut pemeluk, menghitung jumlah, menghitung uang, kekuasaan, pengaruh dan apa saja yang bisa didapat dari banyaknya pemeluk.

Sejak ribuan tahun lalu, sejarah mencatat manusia telah memanfaatkan “agama” untuk memobilisasi manusia, untuk mensukseskan tujuan dan memperkuat kedudukan dan pengaruhnya, sampai dengan hari ini. Agama diciptakan oleh manusia, dari ujung bumi sampai ke ujung bumi dengan mengatasnamakan wahyu, manusia menciptakan beragam agama didunia ini. Allah tidak pernah menciptakan agama, tetapi manusia telah menciptakannya dan telah membangun kerajaannya dibumi ini.

Agama tidak dapat menyelamatkan manusia. Agama dan Kitab Sucinya tidak akan membuat manusia itu selamat. Selidikilah semua Kitab Suci*, lihatlah dengan teliti, apakah ada kepastian akan keselamatan dan kehidupan kekal sesudah kematian? Adakah jaminan seorang memeluk agama tertentu akan selamat? Bukankah penyebar agama adalah orang yang sedang penyebar kekuasaan manusia?

Allah telah memberikan wahyuNya kepada semua manusia dari segala jaman, dari belahan bumi paling ujng sampai ujung satunya. Wahyu yang diberikan merupakan gambaran atau bayangan akan wujud Tuhan Yesus Kristus, tetapi manusia lebih menyukai agama dari pada keselamatan yang dijanjikan Allah. Wahyu secara khusus diberitakan lewat bangsa Israel, tetapi kepada bangsa-bangsa lain, Allah memberikan hukum tersebut didalam hati mereka.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”. (Roma 2:14-16)

Suatu saat kelak akan nyata, bahwa berita tentang kedatangan Sang Mesias, yaitu Tuhan Yesus Kristus telah diberitakan sejak lama kepada segala bangsa, bukan hanya lewat bangsa Israel. Hal itu akan nyata saat hari penghakiman seluruh umat manusia di akhir jaman. Tetapi sekali lagi, manusia lebih menyukai agama daripada keselamatan yang telah dijanjikanNya.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi”. (Mazmur 19:2-5)

Keberadaan Allah, dosa, penghakiman, keselamatan dan penebusan, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, sejak purbakala di seluruh dunia, ditempat terpencil dan jauh dari peradapan sekalipun, gema ini telah disampaikan didalam hati mereka, bahkan orang-orang bijak dan tulus diantara mereka beroleh anugrah untuk mengetahui lebih banyak tentang wahyu keselamatan dari Allah. Tetapi, sekali lagi manusia lebih menyukai agama dari pada keselamatan dari Allah.

Kini, manusia masih terjebak dalam kekuasan agama. Apakah kita akan menjadikan semua bangsa pemeluk agama kristen? Kristenisasi tidak membuat manusia itu diselamatkan. Bagi Allah, menjadi kristen atau bukan, bukanlah perkara yang besar, bahkan beribu-ribu orang menjadikan dirinya pemeluk agama kristen itu sama sekali tidak berguna dan tidak berarti bagi Allah (Yoh 2:23-25).

Tuhan Yesus tidak pernah memerintahkan kita untuk mengkristenisasikan siapapun juga. Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk memperdamaikan mereka dengan Allah dan menjadikan mereka murid (Matius 28:19-20), bukan untuk menjadikan pemeluk agama kristen atau menyebarkan agama dengan tuntutan-tuntutannya (Lukas 9:2-5, Mark 16:15).

Jadi sekali lagi saya ingatkan, kita sebagai murid Tuhan Yesus Kristus, kita bukan diutus untuk mengkristenisasi orang atau menyebarkan agama kristen, tetapi untuk menyelamatkan mereka dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

“Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”. (Roma 10:13-17)

Mari kita beritakan kabar baik tersebut, dan membawa banyak orang kepada Allah lewat Tuhan Yesus Kristus, bukan untuk menjadikan mereka pemeluk agama kristen. Sudah cukup gereja-gereja kita dipenuhi para pemeluk agama yaitu para munafik, pendosa dan anak-anak iblis.

Buang jauh-jauh istilah kristenisasi…

Salam damai sejahtera,
Leonardi

“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”. (2 Korintus 5:19-21)

* Hanya didalam Kristus ada keselamatan, hukum dosa dan hukum maut, hukum Taurat dan aturan-aturan manusia lainnya membuat manusia menjadi pendosa. Tidak ada seorangpun dapat dibenarkan/diselamatkan karena melakukan perintah hukum Taurat (Galatia 2:16, Roma 3:20, Galatia 2:21).


Top Blogs

h1

Kasih Itu Suatu Tindakan

23 March 2007

Ayat bacaan: I Yohanes 3:11-18

Kasih merupakan bagian dari kehidupan suatu umat manusia di bumi ini. Kasih itu digambarkan sebagai sesuatu yang indah, sesuatu yang agung dan mempunyai peran yang besar dalam kehidupan.

Sejak kecil kita sudah mengenal kasih, lewat orang tua, lewat saudara dan lewat teman-teman. Sejak kecil kita juga telah dituntut untuk mengasihi. Kita belajar untuk mengasihi. Kita dididik untuk mengasihi. Sampai saat ini, kita masih tetap dituntut dan diajar tentang kasih.

Dalam I Yohanes 3:11 dikatakan, “Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi;” Sejak pertama kita mengenal Kristus, perintah untuk saling mengasihi sudah kita dengar. Sejak kita pertama kali muncul di dunia ini, kita sudah mengenal kasih. Belaian lembut dari Ibu mengajarkan kita tentang kasih. Sampai saat inipun kita selalu ingin dikasihi dan mengasihi. Seakan-akan kasih itu ada disepanjang hidup kita.

Tetapi, apakah kita sungguh-sungguh mengerti tentang kasih? Berapa banyak kita berkata kepada orang lain kita mengasihi mereka. Terhadap orang tua kita, terhadap suami/istri, terhadap pacar/tunangan kita terhadap saudara dan teman-teman kita? Khususnya terhadap Tuhan…

Ada sebuah kisah yang baik untuk kita renungkan. Di kota Bondowoso ada sebuah rumah yang dihuni oleh banyak keluarga yang merupakan satu keluarga besar. Mereka semuanya adalah pedagang dan mulai dari pagi sampai malam mereka bekerja. Rumah besar itu sehari-harinya hanya dihuni oleh anak-anak kecil dan beberapa wanita. Ada salah satu anak yang masih kecil, baru berumur 4 tahun. Ia biasa dipanggil Ase dan tinggal bersama 6 orang saudara sepupunya yang sudah duduk dibangku SD.

Pada suatu hari, saat sore hari dimana mereka biasanya berkumpul bersama. Datang Pamannya dari luar kota membawa sekeranjang penuh buah srikaya sebagai oleh-oleh. Mereka berlarian menyambut Pamannya dan tanpa banyak berbicara ke 6 saudara sepupunya itu langsung berebut buah srikaya tersebut. Tak terkecuali si kecil ini. Dia dengan tangkas memilih dan mengambili buah srikaya yang besar-besar. Kakak sepupunya yang asik makan buah srikaya akhirnya terheran-heran melihat tingkah si kecil ini. Si kecil mengambil buah yang besar-besar dan membawanya penuh di bajunya tetapi tidak dimakannya. Ia malah berlari masuk kekamar. Dan menyembunyikan buah srikaya itu dilaci meja.

Beberapa jam telah lewat, saat malam hari tiba, orang tua mereka pulang dari kerja. Si kecil berlarian menemui Ayah dan Ibunya dan menyeret tangan mereka masuk kedalam kamar. Saat itulah mereka semua tahu bahwa sikecil itu melakukan hal itu untuk kedua orang tuanya. Dengan bangga si kecil itu menunjukan dan memberikan buah srikaya yang besar-besar itu kepada orang tuanya. Sedang yang dikeranjang oleh-oleh itu telah habis sejak dari sore tadi dan tinggal daun-daunnya saja. Rupanya si kecil ini tahu sifat dari kakak-kakak sepupunya itu.

Paman yang datang itu menceritakan kepada orang tua si kecil ini apa yang telah dilakukannya tadi. Hati kedua orang tuanya terharu akan cinta anaknya.

Apa yang diperbuat si kecil itu kita tahu bahwa itu adalah kasih. Juga kita, kepada siapakah kita telah mengucapkan kasih dan mengatakan cinta tetapi apakah kita juga telah berbuat seperti anak kecil itu?

Tentu jika kita menanyakan kepada ke 6 saudara sepupunya itu apakah mereka mengasihi orang tuanya, mereka akan menjawab ya. Tapi kini sudah wakutnya kita sadar bahwa kasih itu bukan suatu kata-kata. Kasih tidak diungkapkan dalam perkataan tetapi dalam perbuatan. Dalam I Yohanes 3:18 dikatakan sebagai berikut, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tatapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Jika kita mengatakan mengasihi seseorang tetapi kita tidak pernah berbuat sesuatu dengan dasar kasih kepadanya, apakah itu kasih? Kepada siapa saja kita telah mengucapkan cita? Adakah perbuatannya? Jika kita diam saja pada saat kita tahu bahwa ia membutuhkan pertolongan kita, apakah itu kasih?

Lihat apa yang diperbuat Tuhan Yesus kepada kita. Menjadi manusia dan menderita sampai mati untuk kita. Untuk menebus dosa kita supaya kita dapat memperoleh keselamatan kekal. Itu adalah perbuatan dari ungkapan kasih Allah. Bukan hanya omong kosong Alkitab banyak menuliskan Allah mengasihi manusia. Kasih itu suatu perbuatan!

Kitab Amsal 27:5 menuliskan sesuatu tentang kasih, sebagai berikut “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi” Benar! kasih tidak selamanya manis dan lembut. Kasih pada dasarnya adalah usaha untuk menyelamatkan dan memberikan yang terbaik buat orang yang kita cintai.

Jelas disini bahwa kasih itu memerlukan aksi, bukan untuk disimpan dan dirasakan untuk dikatakan seperti sebuah kata manis dari seorang pujangga. Itu bukan kasih, bayangkan jika Allah kita seperti itu.

Mulai saat ini, belajarlah untuk dapat saling mengasihi dengan kasih yang sungguh yang nyata dalam perbuatan dan didalam kebenaran. Bukan kasih yang tersembunyi dalam hati yang muncul jika kita ditanya atau saat kita merenungkannya.

GOD IS GOOD

Leonardi Setiono
(Renungan yang aku tulis waktu remaja)



Top Blogs