Posts Tagged ‘Allah’

h1

KESELAMATAN OLEH KUASA ALLAH

18 March 2011

(ditulis untuk sebuah milis kristen dimasa yang lama, disampaikan ulang di KM GBZ Dalung, 18 Maret 2011)

Saya terkadang merenungkan, mengapa saya bisa menjadi seorang Kristen. Mengapa saya begitu yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kepada Allah Bapa di Surga, jalan kepada keselamatan dan kehidupan kekal. Kadang saya merenung mengapa saya begitu bodoh menolak sesuatu yang menyenangkan, hanya karena Alkitab melarangnya, hanya karena saya percaya Allah tidak menyukainya. Mengapa saya mempercayai cerita tentang keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus?

Sampai hari ini saya tetap percaya.

Kebetulan kemarin saya dan istri bercakap-cakap dan sedikit menyingung tentang mengapa Allah menciptakan manusia dan diakhiri dengan tawa bersama, seraya mengakui bahwa kita ini orang-orang bodoh yang coba memahami Allah dengan logika dan hikmat manusia. Kita menjadi beriman bukan karena kita memahami logika tentang Allah, atau telah mencerna masuk akalnya penebusan Kristus. Tidak, kita memang orang-orang bodoh yang mendapat kasih karunia Allah untuk percaya kepada berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:8-9). Cobalah Anda membaca I Korintus 2:1-16, di sana kita akan melihat bahwa kita menjadi seorang yang beriman bukan karena telah mendengarkan presentasi yang luar biasa tentang teori keselamatan, tetapi karena kasih karunia Allah, karena ada kuasa Allah yang dinyatakan dalam hidup kita.

Sebab itu 1 Korintus 4:20 mengatakan, "Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." Kita mendengar dan menerima kabar baik di dalam Kristus bukan karena perkataan, bukan juga karena logika manusia, bukan karena telaah ilmiah, tetapi karena kuasa Allah. Tuhan Yesus waktu di dunia dan menyampaikan kabar baik kepada orang Israel, bukan dengan kata-kata indah dan ilmiah, tetapi Alkitab menuliskan bahwa Ia menyampaikan dengan kuasa (Matius 7:29, Lukas 4:32, Markus 1:22,27). Demikian juga dengan kita. Kita menerima perintah untuk menyampaikan kabar baik tersebut bukan dengan kata-kata hikmat, tetapi dengan disertai kuasa Allah.

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)

Bacalah juga dalam Lukas 24:49, jelas disebutkan bawah kita akan diperlengkapi dengan kuasa dari tempat yang tinggi untuk memberitakan kabar baik dan menjadi saksi Kristus. Juga dalam Kisah Para Rasul 1:8, bacalah dan Anda akan menemukan bahwa setelah kita menerima kuasa kita diutus untuk menjadi saksi Kristus ke seluruh dunia.

Berita tentang injil jika kita sampaikan dengan hikmat dunia, dengan logika, secara ilmiah, dan dengan kata-kata yang manis dan meyakinkan maka kita tidak akan melihat pertobatan, sebab mereka menjadi percaya bukan karena kata-kata kita, tetapi karena kuasa Allah. Bacalah Kisah Para Rasul, bagaimana injil mula-mula disebarkan mulai dari Yerusalem sampai ke seluruh dunia, semua dilakukan dengan kuasa Allah. Bahkan mereka berdoa memohon kuasa Allah sebelum mereka keluar dengan berani memberitakan kabar baik tersebut (Kisah Para Rasul 4:29:31). Setiap kesaksian, setiap berita, dan kabar baik tentang Kristus yang kita sampaikan, Allah berjanji akan meneguhkannya dengan kuasa-Nya (Ibrani 2:4, Markus 16:20).

Demikian juga dengan saya dan Anda, mengapa menjadi begitu bodoh mempercayai cerita tentang keselamatan, hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebab kita bukan mendengar kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi karena kita telah dijamah oleh kuasa tersebut.

Mulai hari ini, marilah kita menjadi saksi-saksi Kristus yang disertai dengan kuasa dari tempat yang tinggi (berdoalah untuk itu). Terkadang tanpa berkata-kata pun kita dapat membuat seseorang bertobat dan menerima Kristus. Saya melihat sendiri kuasa Allah yang berkerja pada dua orang teman saya, satu di SMA dan satu lagi waktu kuliah tanpa mengutarakan kata-kata. Mereka yang datang sendiri untuk mencari Yesus, dan saat itulah injil sampai kepada mereka.

Injil harus diberitakan dengan kuasa Allah, bukan dengan kata-kata hikmat (apalagi debat, stop bagi mereka yang berdebat antar agama, kebenaran tidak ditemukan dalam debat agama). Berita injil adalah soal kuasa Allah, bukan soal pemilihan kata-kata dan tatacara berbicara yang meyakinkan.

KITA MENGINJIL BUKAN UNTUK MENAMBAH JUMLAH ORANG KRISTEN

Banyak orang Kristen, malu atau takut saat mereka harus memberitakan injil. Sebab banyak orang kristen menganggap bahwa mereka sedang mengajak orang untuk memeluk agama kristen, mengajaknya datang kegerejanya dan menjadi jemaat sebuah gereja. Kita menginjil bukan bertujuan untuk menjadikan mereka pemeluk agama Kristen, tetapi kita menyampaikan injil yang artinya “kabar baik” kepada setiap manusia agar mereka didamaikan dengan Allah (2 Korintus 5:20). Mereka yang dulunya adalah seorang yang dimurkai Allah, seorang yang hidup dalam kutuk Allah dan hidup dalam hukuman, karena dosa dan kejahatan mereka, kita datang membawa kabar baik, bahwa Yesus telah datang, dan Ia telah mengutus kita, bukan untuk menjadi pendamai, tetapi menjadi perantara pendamaian, dimana Yesus yang adalah pendamai antara dia dengan Allah. Jika kita sudah tahu posisi kita, maka seharusnya kita berani untuk membawa berita injil dalam hidup kita. Sebab kita hanya perantara saja, kita adalah saksi sedangkan pendamainya adalah Yesus.

Berita injil atau kabar baik kita bawa bukan saja didalam mulut kita, tetapi juga didalam hidup kita, sebagai kesaksian yang hidup (bukan kesaksian mulut saja) yang dapat dilihat orang banyak seperti sebuah surat kabar yang dapat dibaca semua orang melalui hidup kita (2 Korintus 3:2-3). Karena itu, sudah seharusnya kita hidup didalam terang, kita tinggalkan beban dosa dan kita lepaskan semua hawa nafsu daging ini, jadilah surat Kristus yang dapat dibaca oleh semua orang (Ibrani 12:1-2). Pada saat itu, seperti yang dijanjikan Yesus, kita akan menerima kuasa yang dapat mengubahkan hidup orang. Kuasa yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal.

MENERIMA KUASA DARI TEMPAT TINGGI

Bagaimana kita dapat memberitakan injil dengan kuasa? Alkitab menulis tentang murid-murid pertama kali menerima kuasa itu, mereka diperintahkan demikian; “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." (Lukas 24:49). Mereka disuruh untuk tinggal didalam kota tersebut. Pada saat itu mereka semua ketakutan, berhubung status Yesus saat itu sebagai pemberontak yang dihukum mati oleh sebab fitnah dari Ahli Taurat dan orang Yahudi (Yohanes 20:19). Para pengikutnya menjadi sorotan, bahkan Petrus sampai meyangkal ia sebagai pengikut Yesus tiga kali. Mereka kerap kali berkumpul bersama diatas loteng yang disewa mereka didalam ketakutan. Apa yang dilakukan mereka diatas loteng tersebut sambil menunggu yang dijanjikan Bapa, itulah kunci kuasa Allah.

“Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." (Kisah Rasul 1:4-5)

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Rasul 1:8)

Kisah Rasul 1:12-14, jika kita membacanya kita tahu bahwa mereka berkumpul bersama di Yerusalem, tekun dan sehati didalam doa. Setiap kali mereka berkumpul dan berdoa sampai pada hari Petakosta, mereka menerima babtisan Roh Kudus, dan mereka menerima kuasa dari Allah seperti yang dijanjikan Bapa (Kisah Rasul 2:1-4). Setelah mereka menerima kuasa tersebut, ada kuasa yang mendorong mereka, sehingga Petrus yang dulunya ditanya anak kecil saja ketakutan, sekarang didalam Kisah Rasul 2:14, Petrus dengan berani berkata-kata dihadapan banyak orang dan Kisah Rasul 2:41 mencatat bahwa kuasa Allah tersebut telah menjamah 3000 orang yang berada disana pada hari Pentakosta. Mereka menerima Yesus dan percaya berita Injil bukan karena kepandaian Petrus berkata-kata tetapi karena kuasa yang bekerja yang membuat mereka bertobat dan menerima Kristus. Bacalah Yohanes 16:8, jelas disebutkan bahwa orang bertobat itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Juga dalam 1 Korintus 12:3, jelas disebutkan bahwa tidak seorangpun dapat mengaku Yesus adalah Tuhan kalau tidak karena kuasa Roh Kudus yang menjamahnya. Petrus berani, demikian juga rasul-rasul yang lainnya ditengah ketakutan mereka kerena mereka diancam dibenci dan dimusuhi oleh orang Yahudi terutama Ahli Taurat dan Farisi, karena mereka tahu, bahwa semua adalah pekerjaan Roh Kudus (2 Korintus 3:5), sedangkan mereka adalah perantara saja, yang dalam bahasa Alkitab adalah saksi.

Kuasa itu turun saat mereka berdoa. Roh Kudus bekerja luar biasa, saat mereka tekun bersehati didalam doa. Bacalah Kisah Rasul 4:23-31, disana dikisahkan saat mereka ketakutan, mereka tekun berdoa dan saat itu Roh Kudus mencurahkan kuasaNya dan keberanian itu timbul, bukan saja keberanian tetapi juga tanda-tanda dan mujizat, sehingga banyak orang dijamah oleh kuasa tersebut dan mereka bertobat. Kisah Rasul 5:12-16, menuliskan betapa hebatnya kuasa yang bekerja didalam hidup mereka. Demikian juga dengan kita saat ini, Roh Kudus bukan sudah undur, tetapi tetap sama seperti saat pertama kali dicurahkan diatas loteng Yerusalem. KuasaNya tetap sama seperti sedia kala, tetapi bedanya sekarang sudah jarang umatNya yang sehati didalam doa (Yesaya 30:15). Seberapa penting doa, didalam pertemuan ibadah? Doa hanya sebuah hiasan disaat pembukaan liturgi ibadah dan penutup liturgi ibadah, segelintir orang ditugaskan berdoa dengan sebutan doa kawal. Apa yang dikawal? Bukankah pertemuan ibadah itu adalah pertemuan didalam doa-doa sehati? Dapatkah petemuan ibadah kita jaman ini membangkitkan kuasa Allah? Banyak umat Kristen memberitakan injil bukan dengan kuasa, tetapi dengan hikmat, ilmiah, masuk akal dan dengan cara-cara yang “smart”. Pernakah rasul-rasul dan Yesus mengajarkan memberitakan injil dengan cara hiburan? Mengadakan pertunjukan enterteiment untuk menarik hati anak manusia sehingga mau mengenal Yesus? Memewahkan tempat pertemuan sehingga menarik kaum tersesat? Memasukan hiburan dan selera muda untuk menjangkau orang muda? Bacalah 2 Timotius 2:22, kita malah diajarkan untuk menjauhi nafsu orang muda, tetapi sekarang gereja telah “dilengkapi” dengan nafsu orang muda, penuh dengan selera muda, nuansa club dan pub. Dapatkah semua itu menobatkan orang, membawa mereka didamaikan dengan Allah lewat Yesus Kristus? Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat menjamah dan mengubah hidup seseorang. Ya hanya kuasaNya saja. Yesus bukan subtitusi hiburan duniawi, tetapi Yesus adalah jalan menuju kehidupan.

Jangan takut memberitakan injil, anda tidak harus menyampaikan orang “hai, jadialah orang Kristen”, tetapi anda memberikan jalan lurus kepada mereka untuk didamaikan dengan Allah melalui Yesus. Mengenalkan kepada mereka jalan kehidupan, entah ia mau atau tidak, bukan keputusan atau kecakapan kita. Kita menjadi saksi bahwa setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, agama apaun, bangsa apapun, suku apapun, bahasa apapun, golongan apapun, derajat apapun mereka semua akan diselamatkan. Mereka oleh dorongan kuasa Roh Kudus akan menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan dan disebut murid-murid Kristus, bukan oleh dorongan kita.

Saya adalah saksi, saat duduk dibangku kelas 3 SMA, saya memulai hidup baru didalam Kristus, tidak ada yang mendorong saya untuk mentaati Firman Tuhan, tidak ada yang membujuk atau memaksa saya untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan, untuk hidup sesuai dengan apa yang saya benar, suci, mulia, adil dan setia, tetapi ada dorongan dari dalam hati untuk melakukan semua hal itu, yang jika direnungkan tampak bodoh. Tetapi saya rela disebut bodoh asalkan menyengangkan hati Tuhan yang telah menjamah hati saya.

Banyak orang menjadi pemeluk agama Kristen, mereka menjalankan liturgi agama tetapi mereka sebenarnya belum menjadi murid Kristus karena Roh Kudus tidak menjamah mereka (mereka adalah pendosa yang berjemaat digereja). Banyak orang memeluk agama Kristen (juga agama yang lain) dengan berbagai alasan duniawi, seperti demi karirnya karena bosnya Kristen, demi keuangan karena di gereja sering dibagi sembako dan bantuan sosial, karena pacar karena syarat menikah mereka harus seagama, karena balas budi saat diajak oleh seseorang datang kegereja, karena kebetulan semua temannya Kristen, atau keluarganya Kristen dan sejuta alasan lainnya, tetapi semua mereka yang disebut beragama Kristen, tidak semuanya adalah murid Yesus yang telah menerima meterai Roh Kudus dan menerima hak menjadi anak-anak Allah. Kita memberitakan injil bukan untuk memenuhi gedung gereja dan mengisi bangku-bangku kosong, tetapi kita memberitkan injil untuk mengisi tempat yang kosong di Kerjaan Surga. Firman Tuhan katakan dalam Roma 11:25 disebutkan bahwa ada jumlah tertentu dari bangsa-bangsa bukan Israel (jasmani) yang akan diselamatkan, yang artinya bukan seluruh dunia akan diselamatkan. Sebab Yesus pernah berkata, “karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7:14) Sedikit orang yang akan mendapati jalan keselamatan itu, sisanya merka jalan dijalan lebar. Kita diutus untuk membawa orang menemukan jalan sempit tersebut, melalui pintu yang sempit pula. Tetapi sebelumnya, kita haruslah juga telah menemukannya.

Sudahkah kita menemukan pintu yang sesak dan jalan yang sempit itu? Sudakah hidup kita telah menjadi suratan Kristus yang terbuka bagi semua orang. Sudahkah kita telah mencerminkan perintah-perintahNya dan telah hidup menurut petunjuk Firman Tuhan? Itulah yang harus kita renungkan sebelum kita dapat menjadi pembawa kabar baik yang disertai dengan kuasa dari tempat yang Maha Tinggi. Siapkanlah diri anda, sebab keselamatan itu bukan soal KTP atau kartu anggota gereja.

Salam didalam kasih Kristus.

h1

Hiduplah sebagai anak-anak Allah

7 December 2010

[Tema Natal]

Lebih dari 2700 tahun yang lalu, seorang nabi menyampaikan pesan Allah kepada dunia. Janji tentang bangsa-bangsa lain yang akan diselamatkan melalui Israel. Ia menceritakan sesuatu yang tidak dipahami pada masa itu, tetapi sekarang menjadi jelas dan menjadi berita gembira bagi semua manusia. Ia adalah seorang yang seharinya dipanggil dengan nama Hosea.

Lalu berfirmanlah Ia (Allah): "Berilah nama Lo-Ami kepada anak itu, sebab kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu." Tetapi kelak, jumlah orang Israel akan seperti pasir laut, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung. Dan di tempat di mana dikatakan kepada mereka: "Kamu ini bukanlah umat-Ku," akan dikatakan kepada mereka: "Anak-anak Allah yang hidup." [Hosea 1:9-10]

Bangsa-bangsa yang dulunya bukan disebut umat Allah, yang Allahnya bukan TUHAN, kelak akan disebut umat-Ku oleh TUHAN dan mereka akan disebut sebagai anak-anak Allah yang hidup. Kitalah yang dimaksud oleh Allah saat itu. Kitalah yang dulunya bukan umat Allah, bukan bangsa pilihan Allah tetapi sekarang kita disebut anak-anak Allah, umat Israel rohani.

Janji itu digenapi lebih dari 2000 tahun lalu, di Betlehem kota Daud, lahirlah seorang anak diatas palungan dari seorang wanita yang masih perawan seperti yang disampaikan oleh nabi Yesaya, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. [Yesaya 7:14]

Yesus lahir kedunia untuk membuka jalan bagi kita agar kita semua dapat disebut umat-Ku oleh TUHAN dan kita semua menjadi anak-anak Allah yang hidup. Sebab kedatanganNya kedunia memberikan kuasa kepada kita untuk dapat menjadi anak Allah seperti yang dijanjikan TUHAN sejak 2700 tahun lalu lewat nabi Hosea.

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah”. [Yohanes 1:12-13]

Kita semua adalah anak-anak Allah (Galatia 3:26), anak yang dilahirkan dari Roh Allah bukan dari darah dan daging (Roma 8:15). Kita adalah anak Allah bukan anak dalam arti jasmani tetapi kita desebut anak-anak Allah didalam roh kita. Saat ini mungkin tidak nampak jelas diri kita sebagai anak-anak Allah, tetapi akan tiba saatnya Allah akan menyatakan kita sebagai anak-anakNya pada saat Kristus datang didalam kemuliaanNya (Roma 8:19).

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” [1 Yohanes 3:12]

Sebelum saatnya itu tiba, kita sebagai anak-anak Allah wajib hidup sebagaimana anak-anak Allah hidup, sehingga kita berlayak disebut anakNya saat Kristus menyatakan diriNya di akhir jaman.

“Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”. [1 Petrus 1:13-16]

Rasul Petrus menekankan tentang pentingnya ketaatan, jangan menuruti hawa nafsu dan kekudusan, sehingga kita layak menyebutnya ya Abba, ya Bapa. (ya Ayah, ya Papa), sebab kita memang seperti peribahasa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Kita harus menjadi serupa denganNya dalam segala kehidupan kita (Matius 5:48)

JADILAH ANAK-ANAK YANG TAAT (PENURUT)

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih”. [Efesus 5:1]

Anak-anak Allah yang dikasihi adalah seorang penurut Allah. Ia hidup menuruti kehendak Allah sebagai Bapanya, bukan hidup menurut kehendak Iblis. Sebab jika ia menuruti kehendak Iblis maka ia adalah anak-anak Iblis, karena ia menjadikan diri serupa dengan Iblis (Yohanes 8:44, 1 Yohanes 3:10). “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu”. [Yohanes 8:44a] Tetapi tidak dengan kita, kita bukan penurut-penurut Iblis, kita adalah anak-anak Allah yang menuruti kehendak Allah sebagai Bapa kita, sama seperti Yesus telah menjadi teladan kita didalam ketaatanNya kepada Bapa bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:5-8).

Ketaatan kita kepada Allah bukan dilihat dari ucapan bibir saja, bukan dari pernyataan diri saja, tetapi Allah melihat perbuatan kita, melihat tindakan kita. Saat Yesus bercerita tentang dua orang anak didalam Matius 21:28-31, "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." ….

Dikisahkan Yesus seorang anak menjawab “ya” tetapi tidak melakukan dan anak yang satunya menjawab “tidak” tetapi kemudian ia menyesal dan melakukannya, maka Yesus membenarkan bahwa anak yang melakukan kehendak bapanya adalah anak yang kedua yang semula berkata “tidak”. Perumpamaan itu menunjukan bahwa yang penting bukan apa yang kita ungkapkan, tetapi apa yang kita lakukan. Mungkin banyak lagu yang kita nyanyikan tentang pernyataan ketaatan kita, mungkin banyak pengakuan dan penyesalan dalam doa-doa dan penyembahan sehingga kita menyatakan akan mentaati Allah, tetapi semua pernyaan tersebut tidak ada artinya jika tidak dinyatakan didalam perbuatan.

"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” [Lukas 6:46]

Ketaatan adalah bagian dari sifat yang harus dimiliki oleh anak-anak Allah.

JANGAN TURUTI HAWA NAFSU

Bagi sebagian orang tidak mudah untuk menjadi penurut-penurut Allah, tetapi sebagian lagi merasa mudah untuk menjadi anak-anak Allah yang taat akan Firman Tuhan dan hidup dalam kebenaran. Sebab untuk menjadi anak-anak Allah yang taat akan kehendak Bapa, bukan dilakukan dengan kekuatan manusia, tetapi oleh kuasa Roh Allah (2 Korintus 3:5-6).

“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam”. [Zakaria 4:6]

Seperti yang dikatakan Roma 8:14, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”. Seorang penurut Allah adalah seorang yang dipimpin oleh Roh Allah, bukan dipimpin oleh hawa nafsunya, bukan oleh kebencian dan kedengkiannya, bukan oleh keserakahannya. Kita sebagai anak-anak Allah harus merelakan diri kita dipimpin oleh Roh Allah, sebab Roh akan membawa kita kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13).

Jika kita hidup dipimpin oleh Roh Allah, maka jelas akan terlihat tanda-tandanya seperti juga yang dikatakan oleh Roma 8:13, “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Seorang yang dipimpin Roh Allah akan mematikan perbuatan daging dan hawa nafsunya. Sebab keduanya bertentangan kata Galatia 5:16-17, sehingga jika kita menuruti keinginan Roh maka kita melawan keinginan daging demikian sebaliknya. Mematikan perbuatan daging dan hawa nafsunya akan dirasakan tubuh kita dengan rasa sakit didalam diri kita (1 Petrus 4:1).

Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, [Filipi 1:29]

Menderita disini bukan hidup susah, tetapi rasa sakit dan menderita didalam daging ini karena menolak dan mematikan keinginan dan hawa nafsunya. Roma 13:14 mengatakan, “…janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” didalam Alkitab Terjemahan Lama ditulis “dan jangan melazatkan tabiat tubuhmu sehingga menguatkan hawa nafsu.” Seorang yang suka menyenangkan tubuhnya, maka hawa nafsunya akan semakin kuat dan kecenderungan hatinya selalu berbuahkan dosa dan kejahatan dihadapan Allah. Jika telah demikian bukan kehendak Allah lagi yang dilakukan, dan masih dapatkah ia disebut anak-anak Allah?

Tidak ada seorangpun yang sanggup melawan nafsu dagingnya sendiri, karena kita masih mengenakan tubuh daging ini. Karena itu Firman Allah katakan “hiduplah oleh Roh” karena hanya dengan kekuatan dari Roh Allah saja kita dapat mematikan kedagingan sebelum hawa nafsu itu muncul. Yesus sendiri mengatakan bahwa daging ini lemah (Matius 26:41), karena itu jangan bermain-main dengan hawa nafsu yang akan membawa maut dalam hidup kita. Jika Roh Kudus telah mengingatkan kita, menegur kita, baik melalui hati nurani, teman, pendeta, saudara maupun anak kecil sekalipun, jangan keraskan hati (Kisah Rasul 7:51). Segeralah bertindak sesuai Firman Tuhan dimana kita telah diingatkan oleh Roh Allah (Yohanes 14:26), jangan ditunda (Ibrani 3:13).

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman," [Ibrani 3:15]

Begitu keinginan daging itu dirasa mulai muncul didalam pikiran, jangan tunda dan mengerasakan hati, segera matikan keinginan daging dan hawa nafsu tersebut sebelum menjadi besar dan tidak terkendali. Jadilah penurut-penurut Allah dan jangan menuruti hawa nafsu kita.

HENDAKLAH KAMU MENJADI KUDUS

“Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa." [2 Korintus 6:17-18]

Kudus artinya dipisahkan dari apa yang najis. Kita sebagai anak-anak Allah dituntut untuk hidup menjauh dan keluar memisahkan diri dari apa yang najis yaitu dunia dan segala keinginan duniawi yang dibangkitkan oleh hawa nafsu daging ini. Jangan mengasihi dunia ini beserta apa yang ada didalamnya sebab semuanya itu akan membawa kita semakin jauh dari Allah (1 Yohanes 2:15-17). Memang kita hidup didunia ini, tetapi kita tidak berjuang dan berusaha seperti orang duniawi (2 Korintus 10:3, 1 Korintus 7:31), cara-cara kita tidak sama dengan mereka, pandangan kita, keputusan dan tindakan kita tidak sama. Hidup kita didunia ini adalah hidup didalam iman.

Dunia ini yang sering mengejek untuk menyesatkan kita saat kita mulai belajar menjadi anak-anak Allah yang mentaati Firman Tuhan didalam kekudusan dengan pandangan-pandangan dan filsafat mereka yang kosong.

Yusuf adalah gambaran seorang anak yang taat, menjadi penurut kehendak bapanya, ia tidak sama dengan saudara-saudaranya yang berbuat jahat (Kejadian 37:2-4). Tetapi sebagai anak yang berbeda dengan yang lain, ia telah menjadikan dirinya ejekan bagi saudaranya yang hidup didalam daging. Mungkin kita akan disebut anak mama, calon pendeta, penakut, kuper (kurang pergaulan) atau kuno, kolot, aneh dan sebagainya. Tetapi kita harus ingat, bahwa mereka melakukan hal itu sebab kita bukan bagian dari mereka (Yohanes 15:19).

Jika orang-orang di dunia biasa hidup didalam kebencian, iri hati, perbuatan curang dan jahat, perkataan mereka penuh dengan kata-kata yang kotor dan jijik, maka kita tidaklah demikian, karena kita tidak hidup seperti orang duniawi. Efesus 5:3-4 mengatakan, “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.” Mungkin mereka menyebut diri mereka gaul, menyebut dirinya maju, menyatakan diri sebagai anak jaman ini, bebas berbuat asal bertanggung jawab. Tetapi kita harus ingat bahwa semua itu kesia-siaan yang berujung pada penghakiman (Pengkotbah 11:9). Waspadalah ! Efesus 5:6-7 berkata, “Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.” Jangan dengarkan nasihat bijak mereka, sebab mereka sedang berjalan kepada jurang kebinasaan. Orang buta menuntun orang buta keduanya akan celaka, tetapi orang bodoh adalah orang celik yang membiarkan dirinya dituntun oleh orang buta.

Kita harus memisahkan diri dari dunia ini, hidup kudus dan tersembunyi bersama Kristus (Kolose 3:3) didalam dunia yang akan lenyap beserta segala keinginannya walau kita masih hidup didunia ini. Kita sebagai anak-anak Allah hidup didalam ketaatan dan dengan hati yang lemah lembut menjadi anak-anak penurut Firman Tuhan.

supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, [Filipi 2:15]

JADILAH TERANG BAGI DUNIA

Allah menjadikan kita anak-anakNya, agar kita juga menjadi terang bagi bangsa-bangsa, sehingga mereka dapat melihat terang Kristus bercahaya melalui hidup kita. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaanNya.

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." [Matius 5:14-16]

Saat kita menjadi terang bagi dunia, saat kita menyatakan perbuatan-berbuatan baik kita, perbuatan yang lahir dari kasih Allah, maka kita telah menelanjangi kegelapan dan dosa, sehingga banyak orang akan dapat melihat cahaya injil dan mereka juga ikut menerima anugrah keselamatan didalam Kristus.

Mari, jadilah kita anak-anak Allah yang kudus yang senantiasa taat akan kehendak Allah dan menjauhi hawa nafsu yang membinasakan. Agar nama Bapa kita dipermuliakan dan ditinggikan dimuka bumi ini.

h1

Asal Kujamah, Sembuh

21 April 2008

Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. Lalu kata Yesus: “Siapa yang menjamah Aku?” Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: “Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.” Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku.”

Lukas 8:43-46


Jumbai JubahSering kita berdoa dan memohon mujizat, memohon kesembuhan dan banyak hal lainnya. Sudah bertahun-tahun hal itu kita harap-harapkan, tetapi tidak juga ada jawaban. Sama seperti halnya perempuan tua yang menderita pendarahan yang telah lama dan tidak ada yang dapat menyembuhkannya.

Didalam kehidupan kita, di saat doa-doa dan pertolongan yang kita diharapkan tidak juga kunjung datang, kita sering bertanya-tanya tentang keberadaan Allah, seakan kuasa Allah jauh dari kita. Seakan semuanya membisu, dan kita sendiri dihadapan persoalan yang telah menahun.

Hari ini kita kembali merenungkan tentang kejadian perempuan tua yang sembuh dari pendarahannya. Kita belajar tentang iman seorang perempuan tua yang sering kita dengar ceritanya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Lukas 8:48).

Iman seperti apa yang dimiliki perempuan tua tersebut yang dapat kita pelajari? Dari catatan Matius 9:21, tertulis bahwa ia berkata dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Selanjutnya kita tahu kitab Matius dan Lukas, menjelaskan bahwa jubah yang dimaksud perempuan tua tersebut adalah jumbai jubah Yesus. Ia berusaha menjangkau dan menjamah jumbai jubah Yesus diantara kerumunan orang.

Jumbai adalah ujung jubah yang diikat dengan benang berwarna ungu kebiruan. Jumbai dibuat pada keempat ujung kain atau jubah setiap orang Israel sejak ditetapkan oleh Tuhan lewat Nabi Musa (Bilangan 15:37-41).

TUHAN berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. (Bilangan 15:37-38)

Demikian dengan jubah Yesus pada saat sebagai seorang Israel yang juga harus menjalankan perintah Tuhan sesuai hukum Taurat, terdapat jumbai pada keempat sudutnya. Jumbai inilah yang dilihat oleh perempuan tua tersebut dan didalam hatinya ia berkata bahwa asal ia menjamah jumbai tersebut, maka pendarahannya yang telah menahun dan tidak ada yang dapat menyembuhkan, dapat sembuh.

Demikian kelanjutannya kita tahu kisahnya, bahwa perempuan tua tersebut benar-benar sembuh setelah ia menjamah jumbai jubah Yesus, sesuai dengan imannya.

Sebenarnya Tuhan menetapkan bangsa Israel untuk memakai kain atau jubah dengan keempat ujungnya berjumbai adalah untuk mengingatkan bangsa Israel akan Firman Tuhan.

Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN. (Bilangan 15:39)

Perempuan tua itu memandang jumbai yang bergoyang-goyang ditengah kerumunan, dan fokus melihat jumbai tersebut, disaat semua orang tidak ada yang memperhatikan keberadaan jumbai tersebut. Kemudian dengan iman, ia menggerakan tangannya untuk menjangkaunya diantara himpitan dan desakan banyak orang sampai ia dapat benar-benar menjamahnya. Demikianlah maksud ditetapkannya jumbai pada jubah bangsa Israel, bukan hanya mengingatkan kita akan isi Firman Tuhan, tetapi juga dimaksudkan agar kita ingat bahwa Firman Tuhan tersebut harus ditaati dan dijalankan.

Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu. Akulah TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya Aku menjadi Allah bagimu; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Bilangan 15:40-41)

Demikian dengan kehidupan kita sehari-hari. Jika kita selalu mau mengingat Firman Tuhan dan melakukan segala perintah Tuhan, maka seperti yang terjadi pada perempuan tua tersebut maka juga akan terjadi pada diri kita. Jelas ditulis, Tuhan Yesus Kristus mengatakan, “Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku“, saat jumbai itu digengam dengan iman.

Saat kita mengingat Firman Tuhan dan melakukan tepat seperti apa yang diperintahkanNya, maka pada saat itu kuasa Tuhan akan mengalir dan kita dapat melihat mujizat dan jawaban setiap pengharapan kita. Kuasa itu ada saat kita tinggal didalam FirmanNya, bukan saat kita hidup menurut adat dunia. Karena itu doa-doa dan permohonan saja sebenarnya masih belum cukup untuk menarik kuasa Tuhan dalam kehidupan kita. Kita juga perlu untuk hidup sesuaikan dengan perintah-perintah Tuhan.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (Yohanes 15:7)

Jumbai yang dilihat oleh perempuan tua tersebut dan kemudian ia pegang, seharusnya menjadi pelajaran bagi kita. Firman Tuhan, memang sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi perempuan ini melihat dan mengingatNya. Tinggallah didalam FirmanNya, maka kuasa Tuhan akan nyata dalam setiap doa dan permohonan kita. Mujizat akan terjadi dan kehidupan kita adalah kehidupan yang penuh kuasa.

Bahkan setelah kejadian tersebut, semua orang sekarang memperhatikan jumbai tersebut. Memperhatikan tanda yang ditetapkan oleh Tuhan agar, umatNya selalu mengingat Firman Tuhan dan melakukanNya.

Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. (Markus 6:56)

Demikian renungan yang dapat membantu kita untuk menarik kuasa Tuhan masuk dalam hidup kita, lewat Firman Tuhan yang menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Amin




Top Blogs

h1

Anak-anak Allah

14 March 2008

Tentang sebutan anak-anak Allah didalam Alkitab kita dapat melihat perbedaan diantara tiga jaman, yaitu pertama jaman sebelum Janji Allah diberikan kepada Abraham, kedua setelah Janji Allah itu diberikan kepada Abraham dan ketiga pada jaman Janji Allah itu diperbaharui didalam Kristus.

1. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sebelum Janji Allah turun.

Kitab Perjanjian Lama menulis kata anak-anak Allah yang kontraversi terdapat pada kitab Kejadian 6:1-4 dan kitab Ayub 1:6 dan 2:1. Kedua kitab tersebut seakan menggambarkan anak-anak Allah sebagai sosok atau mahluk Surgawi (malaikat) dan bukan manusia.

Namun dari kitab Ibrani 1:5, jelas dikatakan, Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”

Allah tidak pernah memanggil malaikat atau mahluk lainnya sebagai anak Allah kecuali kepada manusia, kepada keturunan Adam, mahluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27)

Dalam Lukas 3:38, tentang silsilah menuliskan demikian, “anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah”. Dari teks tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Adam dikenal sebagai anak Allah oleh bangsa Isreal. Sebelum Janji Allah turun kepada Abraham, sebutan anak-anak Allah adalah kepada Adam dan keturunannya.

Perhatian berikutnya adalah kepada dua anak Adam. Kain, adalah anak sulung Adam. Didalam Kejadian 4:10-12, dikisahkan setelah Kain jatuh dalam dosa pembunuhan, maka ia dibuang oleh Allah karena dosanya sehingga ia mengembara di bumi ini. Sejak saat itu garis keturunan anak sulung Adam beralih ke pada Set anak laki-laki ketiga Adam.

Tentang Set, disebutkan demikian. Kejadian 4:25-26, Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: “Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya.” Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.

Selanjutnya jika kita baca silsilah dalam Kejadian 5:1-32 disebutkan daftar keturunan Adam dan semua anak laki-laki yang adalah anak laki-laki pertama dari garis keturunan Set bukan keturunan Kain, yang sebenarnya anak sulung Adam. Mereka semua adalah orang-orang yang beribadah kepada Tuhan (memanggil nama Tuhan).

Sedangkan Kain, Kejadian 4:24, ditulis “Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden”. Tentang Kain tidak disebutkan ia atau keturunannya memanggil nama Tuhan selain disebutkan bahwa Kain pergi dari hadapan Tuhan. Hal ini menggambarkan bahwa keturunan Kain tidak beribadah kepada Tuhan lagi, berbeda dengan keturunan Set, bahkan Henokh diangkat oleh Tuhan ke Surga tanpa kematian karena begitu karibnya dengan Allah (Kejadian 5:24).

Terlihat jelas perbedaan keduanya, Kain yang sebenarnya anak sulung Adam, diusir oleh Allah dan tidak dihitung sebagai garis keturunan anak sulung Adam. Sedangkan Set, masuk dalam silsilah anak sulung garis keturunan Adam, anak Allah.

Karena itu tidak salah jika anak-anak Allah yang ditulis dalam Kejadian 6:1-4 adalah sebutan kepada mereka yang menjadi keturunan Set, yaitu manusia yang beribadah kepada Allah. Sedangkan mereka yang disebut anak-anak (gadis) manusia yaitu mereka yang menjadi keturunan dari Kain, mereka yang hidup didalam daging. Pembedaan sebutan antara anak-anak Allah dengan anak-anak manusia memberikan gambaran pembedaan antara anak-anak Allah dengan bangsa kafir dimasa hukum Taurat, tentang anak-anak Allah dengan orang dunia dimasa hukum Kasih Karunia.

Sementara itu dalam Ayub 1:6 atau 2:1, sebutan anak-anak Allah, kita tahu itu bukan menyebut malaikat, sesuai penjelasan Ibrani 1:5. Siapakah mereka? Akan dibahas lain kali dalam tulisan tersendiri.

2. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sesudah Janji Allah turun.

Pada jaman setelah Abraham menerima Janji Allah, maka sebutan anak-anak Allah dipertegas hanya kepada keturunan Abraham saja. Tetapi kembali seperti yang masa sebelum Janji, tidak semua keturunan Adam disebut anak-anak Allah, demikian tidak semua keturunan Abraham disebut anak-anak Allah.

Dalam Roma 9:6-8, disebutkan, Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: “Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.” Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.

Abraham melahirkan dua anak, yang sulung Ismael bukan merupakan anak-anak Allah tetapi Ishak dan keturunannya yang disebut anak-anak Allah oleh Allah (Kejadian 21:12, Galatia 4:30).

Coba perhatikan dalam Keluaran 4:22-23, dituliskan “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.”

Hal ini jelas menegaskan bahwa keturunan Abraham yang dari Ishak adalah anak-anak Allah, bukan semua anak Abraham seperti halnya Kain. Bangsa Isreal adalah anak-anak Allah.

3. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sesudah Janji Baru Allah digenapkan.

Setelah Kristus datang untuk menebus dosa umat manusia, maka sejak saat itulah Perjanjian Baru diberlakukan yang telah dijanjikan sejak lama lewat para nabi-nabi Allah (Yeremia 31:31-34).

Sejak saat itu sebutan anak-anak Allah bukan hanya kepada keturunan Abraham secara jasmani tetapi juga keturunan Abraham secara rohani (Efesus 2:11-13)

Galatia 3:7-9, Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.

Kita semua orang beriman adalah anak-anak Abraham. Sebagai anak-anak Abraham, kita juga disebut sebagai anak-anak Allah karena iman (Yohanes 1:12), dan berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:15-16).

Galatia 3:26, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”

Demikian penjelasan singkat sebuatan anak-anak Allah pada tiga jaman berbeda. Semuanya menunjuk pada satu hal, yaitu kepada mereka yang beribadah kepada Allah, kepada merekalah Allah menyebut manusia anak-anakNya, anak-anak Allah.

2 Korintus 6:16-18, menjelaskan demikian; Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

Tubuh kita yang dikuduskan ini adalah Bait Allah, dimana Allah tinggal didalam kita dan karena itu Allah memanggil kita anak dan kita memanggilNya Bapa. Demikian juga pada saat Salomo mendirikan Bait Allah, maka Tuhan berfirman bahwa ia menjadi anak Allah dan Allah menjadi Bapanya (1 Tawarikh 22:10). Demikian juga dengan keturunan Set, mereka memanggil nama Tuhan (Kejadian 4:26) dan beribadah kepadaNya, oleh karena itu mereka disebut anak-anak Allah dan Allah menjadi Bapanya.

Kain dan keturunannya hanya disebut sebagai anak manusia saja untuk membedakannya dengan keturunan Set yang beribadah kepada Allah walau mereka semua adalah manusia (Kejadian 5:3,5-6). Demikian juga dengan Ismael disebut sebagai anak dari daging untuk membedakan anak perjanjian. Dan dimasa kini, juga tidak semua orang Kristen adalah anak-anak Allah. Mereka yang tidak tetap tinggal didalam Kristus, merekalah yang akan dibuang dari hadapan Allah.

Perbedaan ini merupakan hukum Allah, yang telah ada sejak masa Adam. Jika anak-anak Allah menikah atau melebur (menjadi satu) dengan anak-anak manusia, anak-anak daging dan mereka yang hidup dalam kedagingan, maka seperti yang dikatakan oleh Galatia 5:6, bahwa sedikit ragi dapat mengkabirkan seluruh adonan.

Pada kisah Kejadian 6:1-4, dimana anak-anak Allah menikah dengan anak-anak manusia, maka kelanjutannya Kejadian 6:5, menuliskan, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”

Seperti yang terjadi pada bangsa Israel, dimana wantia-wanita dari bangsa kafir yang dinikahi mereka karena kecantikannya membawa mereka menjauh dari Tuhan dan melakukan apa yang jahat dimata Tuhan demikian juga yang terjadi pada jaman Adam. Anak-anak Allah bertambah jahat seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak manusia, keturunan dari Kain.

Nehemia 13:27, “Apakah orang harus mendengar bahwa juga kamu berbuat segala kejahatan yang besar itu, yakni berubah setia terhadap Allah kita karena memperisteri perempuan-perempuan asing?”

Ulangan 7:3-4, “Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera.”

Demikian pada masa kini, kita tidak menikah dengan orang-orang dunia yang penuh dengan dosa dan kejahatan, dan bukan hanya menikah saja, tetapi juga pergaulan (1 Korintus 15:33). Menjaulah kata Tuhan, jangan jamah apa yang najis, apalagi menjadi satu dengan apa yang jahat dimata Tuhan.

Jika kita anak-anak Allah, maka kita juga hidup seperti Bapa kita didalam terang dan kasihNya.

Salam dalam kasih Kristus,

Leonardi Setiono

Tulisan ini melengkapi tulisan tentang “Raksaksa dalam Alkitab”



Top Blogs