Posts Tagged ‘Kristen’

h1

KESELAMATAN OLEH KUASA ALLAH

18 March 2011

(ditulis untuk sebuah milis kristen dimasa yang lama, disampaikan ulang di KM GBZ Dalung, 18 Maret 2011)

Saya terkadang merenungkan, mengapa saya bisa menjadi seorang Kristen. Mengapa saya begitu yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kepada Allah Bapa di Surga, jalan kepada keselamatan dan kehidupan kekal. Kadang saya merenung mengapa saya begitu bodoh menolak sesuatu yang menyenangkan, hanya karena Alkitab melarangnya, hanya karena saya percaya Allah tidak menyukainya. Mengapa saya mempercayai cerita tentang keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus?

Sampai hari ini saya tetap percaya.

Kebetulan kemarin saya dan istri bercakap-cakap dan sedikit menyingung tentang mengapa Allah menciptakan manusia dan diakhiri dengan tawa bersama, seraya mengakui bahwa kita ini orang-orang bodoh yang coba memahami Allah dengan logika dan hikmat manusia. Kita menjadi beriman bukan karena kita memahami logika tentang Allah, atau telah mencerna masuk akalnya penebusan Kristus. Tidak, kita memang orang-orang bodoh yang mendapat kasih karunia Allah untuk percaya kepada berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:8-9). Cobalah Anda membaca I Korintus 2:1-16, di sana kita akan melihat bahwa kita menjadi seorang yang beriman bukan karena telah mendengarkan presentasi yang luar biasa tentang teori keselamatan, tetapi karena kasih karunia Allah, karena ada kuasa Allah yang dinyatakan dalam hidup kita.

Sebab itu 1 Korintus 4:20 mengatakan, "Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." Kita mendengar dan menerima kabar baik di dalam Kristus bukan karena perkataan, bukan juga karena logika manusia, bukan karena telaah ilmiah, tetapi karena kuasa Allah. Tuhan Yesus waktu di dunia dan menyampaikan kabar baik kepada orang Israel, bukan dengan kata-kata indah dan ilmiah, tetapi Alkitab menuliskan bahwa Ia menyampaikan dengan kuasa (Matius 7:29, Lukas 4:32, Markus 1:22,27). Demikian juga dengan kita. Kita menerima perintah untuk menyampaikan kabar baik tersebut bukan dengan kata-kata hikmat, tetapi dengan disertai kuasa Allah.

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)

Bacalah juga dalam Lukas 24:49, jelas disebutkan bawah kita akan diperlengkapi dengan kuasa dari tempat yang tinggi untuk memberitakan kabar baik dan menjadi saksi Kristus. Juga dalam Kisah Para Rasul 1:8, bacalah dan Anda akan menemukan bahwa setelah kita menerima kuasa kita diutus untuk menjadi saksi Kristus ke seluruh dunia.

Berita tentang injil jika kita sampaikan dengan hikmat dunia, dengan logika, secara ilmiah, dan dengan kata-kata yang manis dan meyakinkan maka kita tidak akan melihat pertobatan, sebab mereka menjadi percaya bukan karena kata-kata kita, tetapi karena kuasa Allah. Bacalah Kisah Para Rasul, bagaimana injil mula-mula disebarkan mulai dari Yerusalem sampai ke seluruh dunia, semua dilakukan dengan kuasa Allah. Bahkan mereka berdoa memohon kuasa Allah sebelum mereka keluar dengan berani memberitakan kabar baik tersebut (Kisah Para Rasul 4:29:31). Setiap kesaksian, setiap berita, dan kabar baik tentang Kristus yang kita sampaikan, Allah berjanji akan meneguhkannya dengan kuasa-Nya (Ibrani 2:4, Markus 16:20).

Demikian juga dengan saya dan Anda, mengapa menjadi begitu bodoh mempercayai cerita tentang keselamatan, hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebab kita bukan mendengar kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi karena kita telah dijamah oleh kuasa tersebut.

Mulai hari ini, marilah kita menjadi saksi-saksi Kristus yang disertai dengan kuasa dari tempat yang tinggi (berdoalah untuk itu). Terkadang tanpa berkata-kata pun kita dapat membuat seseorang bertobat dan menerima Kristus. Saya melihat sendiri kuasa Allah yang berkerja pada dua orang teman saya, satu di SMA dan satu lagi waktu kuliah tanpa mengutarakan kata-kata. Mereka yang datang sendiri untuk mencari Yesus, dan saat itulah injil sampai kepada mereka.

Injil harus diberitakan dengan kuasa Allah, bukan dengan kata-kata hikmat (apalagi debat, stop bagi mereka yang berdebat antar agama, kebenaran tidak ditemukan dalam debat agama). Berita injil adalah soal kuasa Allah, bukan soal pemilihan kata-kata dan tatacara berbicara yang meyakinkan.

KITA MENGINJIL BUKAN UNTUK MENAMBAH JUMLAH ORANG KRISTEN

Banyak orang Kristen, malu atau takut saat mereka harus memberitakan injil. Sebab banyak orang kristen menganggap bahwa mereka sedang mengajak orang untuk memeluk agama kristen, mengajaknya datang kegerejanya dan menjadi jemaat sebuah gereja. Kita menginjil bukan bertujuan untuk menjadikan mereka pemeluk agama Kristen, tetapi kita menyampaikan injil yang artinya “kabar baik” kepada setiap manusia agar mereka didamaikan dengan Allah (2 Korintus 5:20). Mereka yang dulunya adalah seorang yang dimurkai Allah, seorang yang hidup dalam kutuk Allah dan hidup dalam hukuman, karena dosa dan kejahatan mereka, kita datang membawa kabar baik, bahwa Yesus telah datang, dan Ia telah mengutus kita, bukan untuk menjadi pendamai, tetapi menjadi perantara pendamaian, dimana Yesus yang adalah pendamai antara dia dengan Allah. Jika kita sudah tahu posisi kita, maka seharusnya kita berani untuk membawa berita injil dalam hidup kita. Sebab kita hanya perantara saja, kita adalah saksi sedangkan pendamainya adalah Yesus.

Berita injil atau kabar baik kita bawa bukan saja didalam mulut kita, tetapi juga didalam hidup kita, sebagai kesaksian yang hidup (bukan kesaksian mulut saja) yang dapat dilihat orang banyak seperti sebuah surat kabar yang dapat dibaca semua orang melalui hidup kita (2 Korintus 3:2-3). Karena itu, sudah seharusnya kita hidup didalam terang, kita tinggalkan beban dosa dan kita lepaskan semua hawa nafsu daging ini, jadilah surat Kristus yang dapat dibaca oleh semua orang (Ibrani 12:1-2). Pada saat itu, seperti yang dijanjikan Yesus, kita akan menerima kuasa yang dapat mengubahkan hidup orang. Kuasa yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal.

MENERIMA KUASA DARI TEMPAT TINGGI

Bagaimana kita dapat memberitakan injil dengan kuasa? Alkitab menulis tentang murid-murid pertama kali menerima kuasa itu, mereka diperintahkan demikian; “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." (Lukas 24:49). Mereka disuruh untuk tinggal didalam kota tersebut. Pada saat itu mereka semua ketakutan, berhubung status Yesus saat itu sebagai pemberontak yang dihukum mati oleh sebab fitnah dari Ahli Taurat dan orang Yahudi (Yohanes 20:19). Para pengikutnya menjadi sorotan, bahkan Petrus sampai meyangkal ia sebagai pengikut Yesus tiga kali. Mereka kerap kali berkumpul bersama diatas loteng yang disewa mereka didalam ketakutan. Apa yang dilakukan mereka diatas loteng tersebut sambil menunggu yang dijanjikan Bapa, itulah kunci kuasa Allah.

“Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." (Kisah Rasul 1:4-5)

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Rasul 1:8)

Kisah Rasul 1:12-14, jika kita membacanya kita tahu bahwa mereka berkumpul bersama di Yerusalem, tekun dan sehati didalam doa. Setiap kali mereka berkumpul dan berdoa sampai pada hari Petakosta, mereka menerima babtisan Roh Kudus, dan mereka menerima kuasa dari Allah seperti yang dijanjikan Bapa (Kisah Rasul 2:1-4). Setelah mereka menerima kuasa tersebut, ada kuasa yang mendorong mereka, sehingga Petrus yang dulunya ditanya anak kecil saja ketakutan, sekarang didalam Kisah Rasul 2:14, Petrus dengan berani berkata-kata dihadapan banyak orang dan Kisah Rasul 2:41 mencatat bahwa kuasa Allah tersebut telah menjamah 3000 orang yang berada disana pada hari Pentakosta. Mereka menerima Yesus dan percaya berita Injil bukan karena kepandaian Petrus berkata-kata tetapi karena kuasa yang bekerja yang membuat mereka bertobat dan menerima Kristus. Bacalah Yohanes 16:8, jelas disebutkan bahwa orang bertobat itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Juga dalam 1 Korintus 12:3, jelas disebutkan bahwa tidak seorangpun dapat mengaku Yesus adalah Tuhan kalau tidak karena kuasa Roh Kudus yang menjamahnya. Petrus berani, demikian juga rasul-rasul yang lainnya ditengah ketakutan mereka kerena mereka diancam dibenci dan dimusuhi oleh orang Yahudi terutama Ahli Taurat dan Farisi, karena mereka tahu, bahwa semua adalah pekerjaan Roh Kudus (2 Korintus 3:5), sedangkan mereka adalah perantara saja, yang dalam bahasa Alkitab adalah saksi.

Kuasa itu turun saat mereka berdoa. Roh Kudus bekerja luar biasa, saat mereka tekun bersehati didalam doa. Bacalah Kisah Rasul 4:23-31, disana dikisahkan saat mereka ketakutan, mereka tekun berdoa dan saat itu Roh Kudus mencurahkan kuasaNya dan keberanian itu timbul, bukan saja keberanian tetapi juga tanda-tanda dan mujizat, sehingga banyak orang dijamah oleh kuasa tersebut dan mereka bertobat. Kisah Rasul 5:12-16, menuliskan betapa hebatnya kuasa yang bekerja didalam hidup mereka. Demikian juga dengan kita saat ini, Roh Kudus bukan sudah undur, tetapi tetap sama seperti saat pertama kali dicurahkan diatas loteng Yerusalem. KuasaNya tetap sama seperti sedia kala, tetapi bedanya sekarang sudah jarang umatNya yang sehati didalam doa (Yesaya 30:15). Seberapa penting doa, didalam pertemuan ibadah? Doa hanya sebuah hiasan disaat pembukaan liturgi ibadah dan penutup liturgi ibadah, segelintir orang ditugaskan berdoa dengan sebutan doa kawal. Apa yang dikawal? Bukankah pertemuan ibadah itu adalah pertemuan didalam doa-doa sehati? Dapatkah petemuan ibadah kita jaman ini membangkitkan kuasa Allah? Banyak umat Kristen memberitakan injil bukan dengan kuasa, tetapi dengan hikmat, ilmiah, masuk akal dan dengan cara-cara yang “smart”. Pernakah rasul-rasul dan Yesus mengajarkan memberitakan injil dengan cara hiburan? Mengadakan pertunjukan enterteiment untuk menarik hati anak manusia sehingga mau mengenal Yesus? Memewahkan tempat pertemuan sehingga menarik kaum tersesat? Memasukan hiburan dan selera muda untuk menjangkau orang muda? Bacalah 2 Timotius 2:22, kita malah diajarkan untuk menjauhi nafsu orang muda, tetapi sekarang gereja telah “dilengkapi” dengan nafsu orang muda, penuh dengan selera muda, nuansa club dan pub. Dapatkah semua itu menobatkan orang, membawa mereka didamaikan dengan Allah lewat Yesus Kristus? Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat menjamah dan mengubah hidup seseorang. Ya hanya kuasaNya saja. Yesus bukan subtitusi hiburan duniawi, tetapi Yesus adalah jalan menuju kehidupan.

Jangan takut memberitakan injil, anda tidak harus menyampaikan orang “hai, jadialah orang Kristen”, tetapi anda memberikan jalan lurus kepada mereka untuk didamaikan dengan Allah melalui Yesus. Mengenalkan kepada mereka jalan kehidupan, entah ia mau atau tidak, bukan keputusan atau kecakapan kita. Kita menjadi saksi bahwa setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, agama apaun, bangsa apapun, suku apapun, bahasa apapun, golongan apapun, derajat apapun mereka semua akan diselamatkan. Mereka oleh dorongan kuasa Roh Kudus akan menjadi pelaku-pelaku Firman Tuhan dan disebut murid-murid Kristus, bukan oleh dorongan kita.

Saya adalah saksi, saat duduk dibangku kelas 3 SMA, saya memulai hidup baru didalam Kristus, tidak ada yang mendorong saya untuk mentaati Firman Tuhan, tidak ada yang membujuk atau memaksa saya untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan, untuk hidup sesuai dengan apa yang saya benar, suci, mulia, adil dan setia, tetapi ada dorongan dari dalam hati untuk melakukan semua hal itu, yang jika direnungkan tampak bodoh. Tetapi saya rela disebut bodoh asalkan menyengangkan hati Tuhan yang telah menjamah hati saya.

Banyak orang menjadi pemeluk agama Kristen, mereka menjalankan liturgi agama tetapi mereka sebenarnya belum menjadi murid Kristus karena Roh Kudus tidak menjamah mereka (mereka adalah pendosa yang berjemaat digereja). Banyak orang memeluk agama Kristen (juga agama yang lain) dengan berbagai alasan duniawi, seperti demi karirnya karena bosnya Kristen, demi keuangan karena di gereja sering dibagi sembako dan bantuan sosial, karena pacar karena syarat menikah mereka harus seagama, karena balas budi saat diajak oleh seseorang datang kegereja, karena kebetulan semua temannya Kristen, atau keluarganya Kristen dan sejuta alasan lainnya, tetapi semua mereka yang disebut beragama Kristen, tidak semuanya adalah murid Yesus yang telah menerima meterai Roh Kudus dan menerima hak menjadi anak-anak Allah. Kita memberitakan injil bukan untuk memenuhi gedung gereja dan mengisi bangku-bangku kosong, tetapi kita memberitkan injil untuk mengisi tempat yang kosong di Kerjaan Surga. Firman Tuhan katakan dalam Roma 11:25 disebutkan bahwa ada jumlah tertentu dari bangsa-bangsa bukan Israel (jasmani) yang akan diselamatkan, yang artinya bukan seluruh dunia akan diselamatkan. Sebab Yesus pernah berkata, “karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Matius 7:14) Sedikit orang yang akan mendapati jalan keselamatan itu, sisanya merka jalan dijalan lebar. Kita diutus untuk membawa orang menemukan jalan sempit tersebut, melalui pintu yang sempit pula. Tetapi sebelumnya, kita haruslah juga telah menemukannya.

Sudahkah kita menemukan pintu yang sesak dan jalan yang sempit itu? Sudakah hidup kita telah menjadi suratan Kristus yang terbuka bagi semua orang. Sudahkah kita telah mencerminkan perintah-perintahNya dan telah hidup menurut petunjuk Firman Tuhan? Itulah yang harus kita renungkan sebelum kita dapat menjadi pembawa kabar baik yang disertai dengan kuasa dari tempat yang Maha Tinggi. Siapkanlah diri anda, sebab keselamatan itu bukan soal KTP atau kartu anggota gereja.

Salam didalam kasih Kristus.

h1

JURUSELAMAT YANG TIDAK SEPERTI HARAPANKU

15 October 2010

 

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
[Matius 11:2-6]

Saat Yohanes sang pembabtis berada didalam penjara, ia ditawan dan dalam tekanan dan ancaman kematian dari keluarga Herodes (Matius 14:3-4), ia mengharapkan Mesias akan beraksi. Tetapi yang didapati bahwa Mesias tidak juga beraksi, Ia hanya mengabarkan Kabar Baik dan juga menolong orang-orang saja. Pada saat itu, bangsa Israel dijajah oleh bangsa-bangsa besar, mulai dari kerajaan Babel sampai kekaisaran Romawi. Janji tentang kelepasan bangsa Israel lewat Mesias telah mereka dengar dan mereka menantikan saatnya Mesias menyatakan diriNya dan melepaskan mereka semua dari penindasan dan mendirikan kembali tahta Raja Daud. Yohanes pembabtis sebagai nabi Allah, tentu dengan jelas mendengar perintah Allah untuk berjalan mendahului Mesias, membuka jalan bagi Raja diatas segala Raja (Yesaya 40:3, Yesaya 57:14-15, Maleaki 3:1). Yohanes mengabarkan Injil Kerajaan Allah  dan mengajar orang-orang tentang kebenaran, kebaikan dan keadilan. Ia rela menderita dan mati, asalkan Mesias menjadi Raja atas seluruh Israel.

Bukan hanya Yohanes pembabtis, murid-murid Yesus juga rupanya mengharapkan sama seperti yang diharapkan oleh Yohanes Pembabtis. Mereka menantikan saatnya Yesus memulihkan kerajaan Israel dan menjadi Raja duduk ditahta Daud.

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” [Kisah Rasul 1:6]

Pada saat Yesus masuk ke Yerusalem, Injil Yohanes mencatat kejadian tersebut demikian, Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” [Yohanes 12:12-13] Mereka semua meyakini Mesias akan segera mendirikan kembali kerajaan Israel, melepaskan mereka dari tekanan kekaisaran Romawi.

Demikian dialami Yohanes pembabtis didalam penjara mendengar apa yang dilakukan Yesus, hanya mengabarkan Kabar Baik dan menolong orang-orang, melepaskan mereka dari belenggu dosa, dari sakit penyakit dan dari roh-roh jahat, tetapi tidak juga Yesus menunjukan tanda-tanda untuk merebut kekuasaan penjajah. Didalam deritanya dalam penjara, Yohanes menjadi tawar hati dan kebingungan, dan saat itulah ia mencoba bertanya kepada Yesus, pertanyaan yang identik dengan “Engkau itu Mesias atau bukan?” Yohanes pembabtis menjadi ragu sebab ia tidak melihat Yesus berbuat seperti yang diharapkannya. Yesus tidak menunjukan tanda-tanda hendak membangun kembali kerajaan Israel.

Apa yang dialami Yohanes pembabtis, mungkin juga sering kita hadapi, saat kita merasa “tidak ditulong” TUHAN disaat kita merasa butuh pertolonganNya. Saat kita mengharapkan sesuatu perkara terjadi, saat kita mencoba “mengimani” sesuatu hal yang besar, atau kita mengharapkan TUHAN bertindak atau melakukan perbuatan ajaib atas persoalan atau masalah kita, tetapi kita dapati TUHAN tidak juga berbuat apa-apa seperti yang kita harapkan  dan tetap didalam kesukaran seperti Yohanes pembabtis tetap didalam penjara Herodes.

Saat itu, mungkin kita bisa menjadi putus asa, dan mungkin tawar hati. Kita mulai meragukan iman, meragukan kesaksian Injil dan bahkan ada juga yang mulai mengumpat TUHAN. “Dimanakah TUHAN saat aku butuhkan?” kata-kata itu sering kita dilontarkan anak-anak TUHAN disaat terhimpit dan didapati ia tetap juga terhimpit. Beberapa orang mungkin dengan bodohnya mulai “melawan” kebenaran yang telah ia terima, mulai melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang ia tahu tidak disuka oleh TUHAN, mencoba segala yang tidak diperbolehkan dan berakhir dengan kekerasan hati.

Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN. [Amsal 19:3]

Kadang kita lupa bahwa TUHAN itu bukan pelayan kita, bukan juga satpam kita, Ia bukan pegawai kita yang mana jika kita membutuhkan Ia akan buru-buru menyediakan, jika kita menginginkan maka Ia akan memberikan dan jika kita meminta maka Ia akan datang buru-buru memberikan apa permintaan kita. Tidak, TUHAN itu adalah Raja diatas segela raja, Ia adalah Allah pencipta langit dan bumi, terlalu besar dan terlalu mulia untuk kita datang sujud menyembah dibawa kakiNya. Kita telah mendapat anugrah yang besar.

Apa yang direncanakanNya apa yang dipikirkanNya, sangat jauh dari apa yang kita rencanakan dan pikirkan (Yesaya 55;8-9). Yohanes pembabtis hanya memikirkan bahwa Mesias akan datang menyelamatkan bangsa Israel, membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi, tetapi sesungguhNya, TUHAN merancang kedatangan Mesias, bukan untuk membebaskan bangsa Israel saja, dan juga bukan untuk melepaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi, tetapi lebih dari itu, Mesias merupakan anugrah bagi seluruh umat manusia untuk dibebaskan dari dosa dan maut dan memberikan kehidupan kekal didalam kerajaan yang bukan berupa pemerintahan kerajaan didunia ini semacam kekaisaran Romawai, tetapi Kerajaan Allah yang kekal.

“Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” [Yesaya 49:6]

Saat Yesus bangkit dan telah menyelesaikan segala yang harus diselesaikanNya, maka perintah ini disampaikan kepada murid-muridNya. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” [Markus 16:15]. Didalam Kisah Rasul 1:8, disebutkan bahwa mulai dari Yerusalem, ke Yudea dan sampai ke ujung bumi, kesaksian dan berita Injil itu harus disampaikan agar semua orang diselamatkan.

Jika Yohanes pembabtis hanya menyangka Yesus membebaskan bangsa Israel dari belenggu penjajah dan mendirikan kerajaan Israel dimana Ia sebagai rajanya, maka Mesias sesungguhnya datang untuk membebaskan kita dari kelemahan-kelemahan kita, melepaskan kita dari dosa dan maut. Orang-orang yang bertahun-tahun hidup dalam kelemahan, buta, bisu, tuli, lumpuh semua dilepaskan, mereka yang dirasuk roh-roh jahat dilepaskanNya, orang-orang yang lemah dan letih diberi kekuatan baru. Seperti yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya.

Persoalan dan masalah kita, juga sama seperti Yohanes pembabtis. TUHAN peduli akan masalah kita, ia peduli akan keinginan kita, tetapi bukan dengan jalan kita, bukan dengan rencana kita semua itu akan terjadi, tetapi jalan dan rencana TUHAN yang akan terlaksana untuk kebaikan kita. Mungkin hari ini kita melihat Jeruselamat tidak nyata seperti yang kita harapkan, mungkin Ia tidak berindak seperti yang kita perkirakan, tetapi ingat bahwa mataNya tidak pernah lepas mengawasi dan memberkati kita (Mazmur 139:2-12).

Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. [Mazmur 66:19]

Mari kita bangkit kembali… Tuhan tidak pernah meningalkan kita (Mazmur 31:23). Ia mengasihi kita dan telah merancangkan perkara yang baik dan indah walaupun kita harus berjalan dalam lembah kelam, sebab yang dipikirkanNya adalah perkara yang kekal, bukan dunia yang fana ini. Dunia dan keinginannya akan lenyap, tetapi kita akan tetap hidup didalam kerajaanNya.

Amin.

h1

Anak-anak Allah

14 March 2008

Tentang sebutan anak-anak Allah didalam Alkitab kita dapat melihat perbedaan diantara tiga jaman, yaitu pertama jaman sebelum Janji Allah diberikan kepada Abraham, kedua setelah Janji Allah itu diberikan kepada Abraham dan ketiga pada jaman Janji Allah itu diperbaharui didalam Kristus.

1. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sebelum Janji Allah turun.

Kitab Perjanjian Lama menulis kata anak-anak Allah yang kontraversi terdapat pada kitab Kejadian 6:1-4 dan kitab Ayub 1:6 dan 2:1. Kedua kitab tersebut seakan menggambarkan anak-anak Allah sebagai sosok atau mahluk Surgawi (malaikat) dan bukan manusia.

Namun dari kitab Ibrani 1:5, jelas dikatakan, Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”

Allah tidak pernah memanggil malaikat atau mahluk lainnya sebagai anak Allah kecuali kepada manusia, kepada keturunan Adam, mahluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27)

Dalam Lukas 3:38, tentang silsilah menuliskan demikian, “anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah”. Dari teks tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Adam dikenal sebagai anak Allah oleh bangsa Isreal. Sebelum Janji Allah turun kepada Abraham, sebutan anak-anak Allah adalah kepada Adam dan keturunannya.

Perhatian berikutnya adalah kepada dua anak Adam. Kain, adalah anak sulung Adam. Didalam Kejadian 4:10-12, dikisahkan setelah Kain jatuh dalam dosa pembunuhan, maka ia dibuang oleh Allah karena dosanya sehingga ia mengembara di bumi ini. Sejak saat itu garis keturunan anak sulung Adam beralih ke pada Set anak laki-laki ketiga Adam.

Tentang Set, disebutkan demikian. Kejadian 4:25-26, Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: “Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya.” Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.

Selanjutnya jika kita baca silsilah dalam Kejadian 5:1-32 disebutkan daftar keturunan Adam dan semua anak laki-laki yang adalah anak laki-laki pertama dari garis keturunan Set bukan keturunan Kain, yang sebenarnya anak sulung Adam. Mereka semua adalah orang-orang yang beribadah kepada Tuhan (memanggil nama Tuhan).

Sedangkan Kain, Kejadian 4:24, ditulis “Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden”. Tentang Kain tidak disebutkan ia atau keturunannya memanggil nama Tuhan selain disebutkan bahwa Kain pergi dari hadapan Tuhan. Hal ini menggambarkan bahwa keturunan Kain tidak beribadah kepada Tuhan lagi, berbeda dengan keturunan Set, bahkan Henokh diangkat oleh Tuhan ke Surga tanpa kematian karena begitu karibnya dengan Allah (Kejadian 5:24).

Terlihat jelas perbedaan keduanya, Kain yang sebenarnya anak sulung Adam, diusir oleh Allah dan tidak dihitung sebagai garis keturunan anak sulung Adam. Sedangkan Set, masuk dalam silsilah anak sulung garis keturunan Adam, anak Allah.

Karena itu tidak salah jika anak-anak Allah yang ditulis dalam Kejadian 6:1-4 adalah sebutan kepada mereka yang menjadi keturunan Set, yaitu manusia yang beribadah kepada Allah. Sedangkan mereka yang disebut anak-anak (gadis) manusia yaitu mereka yang menjadi keturunan dari Kain, mereka yang hidup didalam daging. Pembedaan sebutan antara anak-anak Allah dengan anak-anak manusia memberikan gambaran pembedaan antara anak-anak Allah dengan bangsa kafir dimasa hukum Taurat, tentang anak-anak Allah dengan orang dunia dimasa hukum Kasih Karunia.

Sementara itu dalam Ayub 1:6 atau 2:1, sebutan anak-anak Allah, kita tahu itu bukan menyebut malaikat, sesuai penjelasan Ibrani 1:5. Siapakah mereka? Akan dibahas lain kali dalam tulisan tersendiri.

2. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sesudah Janji Allah turun.

Pada jaman setelah Abraham menerima Janji Allah, maka sebutan anak-anak Allah dipertegas hanya kepada keturunan Abraham saja. Tetapi kembali seperti yang masa sebelum Janji, tidak semua keturunan Adam disebut anak-anak Allah, demikian tidak semua keturunan Abraham disebut anak-anak Allah.

Dalam Roma 9:6-8, disebutkan, Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: “Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.” Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.

Abraham melahirkan dua anak, yang sulung Ismael bukan merupakan anak-anak Allah tetapi Ishak dan keturunannya yang disebut anak-anak Allah oleh Allah (Kejadian 21:12, Galatia 4:30).

Coba perhatikan dalam Keluaran 4:22-23, dituliskan “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.”

Hal ini jelas menegaskan bahwa keturunan Abraham yang dari Ishak adalah anak-anak Allah, bukan semua anak Abraham seperti halnya Kain. Bangsa Isreal adalah anak-anak Allah.

3. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sesudah Janji Baru Allah digenapkan.

Setelah Kristus datang untuk menebus dosa umat manusia, maka sejak saat itulah Perjanjian Baru diberlakukan yang telah dijanjikan sejak lama lewat para nabi-nabi Allah (Yeremia 31:31-34).

Sejak saat itu sebutan anak-anak Allah bukan hanya kepada keturunan Abraham secara jasmani tetapi juga keturunan Abraham secara rohani (Efesus 2:11-13)

Galatia 3:7-9, Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.

Kita semua orang beriman adalah anak-anak Abraham. Sebagai anak-anak Abraham, kita juga disebut sebagai anak-anak Allah karena iman (Yohanes 1:12), dan berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:15-16).

Galatia 3:26, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”

Demikian penjelasan singkat sebuatan anak-anak Allah pada tiga jaman berbeda. Semuanya menunjuk pada satu hal, yaitu kepada mereka yang beribadah kepada Allah, kepada merekalah Allah menyebut manusia anak-anakNya, anak-anak Allah.

2 Korintus 6:16-18, menjelaskan demikian; Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

Tubuh kita yang dikuduskan ini adalah Bait Allah, dimana Allah tinggal didalam kita dan karena itu Allah memanggil kita anak dan kita memanggilNya Bapa. Demikian juga pada saat Salomo mendirikan Bait Allah, maka Tuhan berfirman bahwa ia menjadi anak Allah dan Allah menjadi Bapanya (1 Tawarikh 22:10). Demikian juga dengan keturunan Set, mereka memanggil nama Tuhan (Kejadian 4:26) dan beribadah kepadaNya, oleh karena itu mereka disebut anak-anak Allah dan Allah menjadi Bapanya.

Kain dan keturunannya hanya disebut sebagai anak manusia saja untuk membedakannya dengan keturunan Set yang beribadah kepada Allah walau mereka semua adalah manusia (Kejadian 5:3,5-6). Demikian juga dengan Ismael disebut sebagai anak dari daging untuk membedakan anak perjanjian. Dan dimasa kini, juga tidak semua orang Kristen adalah anak-anak Allah. Mereka yang tidak tetap tinggal didalam Kristus, merekalah yang akan dibuang dari hadapan Allah.

Perbedaan ini merupakan hukum Allah, yang telah ada sejak masa Adam. Jika anak-anak Allah menikah atau melebur (menjadi satu) dengan anak-anak manusia, anak-anak daging dan mereka yang hidup dalam kedagingan, maka seperti yang dikatakan oleh Galatia 5:6, bahwa sedikit ragi dapat mengkabirkan seluruh adonan.

Pada kisah Kejadian 6:1-4, dimana anak-anak Allah menikah dengan anak-anak manusia, maka kelanjutannya Kejadian 6:5, menuliskan, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”

Seperti yang terjadi pada bangsa Israel, dimana wantia-wanita dari bangsa kafir yang dinikahi mereka karena kecantikannya membawa mereka menjauh dari Tuhan dan melakukan apa yang jahat dimata Tuhan demikian juga yang terjadi pada jaman Adam. Anak-anak Allah bertambah jahat seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak manusia, keturunan dari Kain.

Nehemia 13:27, “Apakah orang harus mendengar bahwa juga kamu berbuat segala kejahatan yang besar itu, yakni berubah setia terhadap Allah kita karena memperisteri perempuan-perempuan asing?”

Ulangan 7:3-4, “Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera.”

Demikian pada masa kini, kita tidak menikah dengan orang-orang dunia yang penuh dengan dosa dan kejahatan, dan bukan hanya menikah saja, tetapi juga pergaulan (1 Korintus 15:33). Menjaulah kata Tuhan, jangan jamah apa yang najis, apalagi menjadi satu dengan apa yang jahat dimata Tuhan.

Jika kita anak-anak Allah, maka kita juga hidup seperti Bapa kita didalam terang dan kasihNya.

Salam dalam kasih Kristus,

Leonardi Setiono

Tulisan ini melengkapi tulisan tentang “Raksaksa dalam Alkitab”



Top Blogs

h1

Jodoh Sesuai Firman Tuhan

12 September 2007

Cinta ada yang romantis, ada juga cinta yang realistis. Dari paham cinta tersebut maka lahirlah bermacam-macam bentuk pernyataan, termasuk tentang keajaiban jodoh. Bagi mereka yang menyukai cinta romantis, lebih tertarik dengan pernyataan “jodoh dari Tuhan” seakan khusus, hanya ada satu (seperti pecahan giok) dan pertemuannya secara “ilahi”. Pokoknya Tuhan yang sodorkan secara ajaib gitu deh…

Tetapi bagi mereka yang lebih condong pada cinta yang realistis, mereka memandang keajaiban jodoh itu tidak ada, semua ya jodoh dari Tuhan kalau sudah dinikahi. Yang penting saling mencocokan, menerima satu sama lain, baru bisa disebut jodoh. Intinya, jangan cengeng gitu lah…

Tentang jodoh dan pernikahan yang benar, kita seharusnya memahami dari Alkitab, bagaimana Alkitab menjelaskan tentang pernikahan.

PERNIKAHAN DIDALAM ALKITAB

Tentang pernikahan telah ditulis sejak penciptaan. Sejak manusia pertama, Adam, tentang pernikahan sudah tertulis, Hawa diciptakan untuk menjadi pasangan (jodoh) dalam hidupnya.

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. (Kejadian 2:21-25)

Dari kitab Kejadian tersebut, kita mengenal istilah suami dan istri, mengenal tentang pernikahan. Dimana Allah mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan akan bersatu (didalam penikahan kudus). Jelas tertulis laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan (Roma 1:26-27). Pernikahan homo dan lesbi tidak sesuai kehendak Allah. Yang disebut pernikahan adalah antara laki-laki dengan perempuan.

Begitu indahnya pernikahan, laki-laki dan perempuan, bagaimana dua jiwa dapat berpadu, berjalan bersama, saling mengasihi, ada kisah cinta dan saling memperhatikan. Raja Salomo dalam hikmat Allah menulis dalam Amsal 30:18-19 bahwa jalan seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suatu hal yang mengherankan dan tidak dimengerti, seperti sebuah misteri.

Memang benar, pernikahan, kisah penciptaan Adam dan Hawa, sebenarnya merupakan rahasia besar, bukan hanya tentang pernikahan manusia, tetapi tentang rencana Allah terhadap gereja dan Kristus (Efesus 5:31-32). Itulah sebabnya pernikahan disebut kudus dan tidak dapat diceraikan (Markus 10:9).

LAKI-LAKI DARI PEREMPUAN

Didalam kitab Kejadian, keberadaan atau asal-usul laki-laki dan perempuan ditulis dengan jelas. Laki-laki selalu ditulis terlebih dahulu, bahkan dalam perhitungan orang Israel, hanya dihitung laki-laki saja, perempuan dan anak-anak tidak dihitung. Juga dalam banyak hal, yang diperhitungkan hanya laki-laki, yang disebut anak sulung juga hanya laki-laki, bahkan perempuanpun diharapkan bersikap seperti laki-laki kata I Korintus 16:13. Tentu saja yang dimaksud bukan secara prilaku atau penampilan, tetapi laki-laki secara rohani.

Dengan menuliskan didepan dan seakan diutamakan dalam segala hal, bukan berarti laki-laki lebih unggul dari perempuan, bukan berarti laki-laki lebih berarti dari perempuan. Penulisan dalam Perjanjian Lama merupakan penggambaran tentang laki-laki secara rohani, seperti halnya perintah Tuhan untuk membunuh pendosa tanpa tersisa (Ulangan 13:12-15), hal itu bukan dimaksud membunuh secara jasmani tetapi secara rohani (2 Korintus 3:14-15). Laki-laki lebih utama bukan secara jasmani tetapi dalam pengertian rohani.

Dalam pengertian jasmani tentang jenis kelamin, laki-laki itu sama dengan perempuan. Allah tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan (Roma 2:11).

Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. (1 Korintus 11:11-12)

PEREMPUAN DARI LAKI-LAKI

Tentang perempuan, FirmanNya menulis, “Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki”. Kata tersebut menjelaskan kalau ada sesuatu yang diambil dari laki-laki, dan ayat 21 diatas menyebutkan bahwa yang diambil tersebut (tulang rusuk Adam), dan tidak diganti baru tetapi hanya ditutup oleh daging. Jelas ada sesuatu yang berkurang dari laki-laki.

Allah menjadikan perempuan dari apa yang kurang (dikurangi) dari laki-laki. Sehingga laki-laki dan perempuan jika bersatu akan menjadi lengkap (genap). Bukankah Firman Tuhan menuliskan “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.” (Markus 10:6-8). Mereka menjadi satu bukan dua dihadapan Allah.

Inilah pernikahan, inilah jodoh. Bahwa laki-laki dan perempuan akan saling melengkapi dan menjadi genap (satu) didalam pernikahan kudus. Istri merupakan bagian dari suami dan suami merupakan bagian dari isteri, keduanya adalah satu daging, satu tulang.

Kata diambil dari laki-laki menandakan bawah perempuan diciptakan untuk menghormati dan tunduk kepada suaminya, demikian juga dengan suami yang mana ada sesuatu darinya yang diambil untuk dijadikan perempuan, maka isteri adalah bagian dari tubuhnya sendiri (Kolose 3:18-19, Efesus 5:13, 1 Petrus 3:5-7). Isteri tunduk kepada suami kelihatannya kok tidak populer, tetapi inilah Firman Tuhan. Jangan kita karena emansipasi wanita, modernisasi dan kebodohan-kebodohan lain mengubah hukum Allah. Tenang hal ini, tentang hubungan Kristus, suami dan isteri dapat anda baca dalam Efesus 5:22-33 dan I Korintus 11:3-15. (Merupakan pembahasan tersendiri)

SALING MELENGKAPI

Saling melengkapi merupakan inti dari pernikahan. Satu dengan yang lainnya saling tolong menolong didalam kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga menjadi genap (satu). Bukankah Pengkotbah 4:9-10, mengatakan, “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” Coba juga baca I Korintus 7:16.

Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, agar mereka dapat saling tolong menolong, dimana berdua lebih baik kata Firman Tuhan, berdua dapat saling tolong menolong, bahu membahu, saling melengkapi. Karena jika manusia sendirian, maka tidak ada yang akan menjadi penolong baginya, hal itu tidak baik dimata Tuhan.

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18)

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan tujuan menjadikan mereka sebagai penolong yang sepadan. Suami menolong isteri, isteri menolong suami. Demikianlah penikahan kudus menggenapi hukum Kristus (Galatia 6:2).

Sejak awal penciptaan Allah telah menetapkan agar suami dan isteri saling tolong menolong. Jika tidak demikian maka Allah tidak menciptakan laki-laki dan perempuan. Bukankah Tuhan telah menciptakan beberapa binatang didunia ini yang dapat berkembang biak tanpa proses persetubuhan? Binatang tersebut diciptakan Allah untuk menunjukan pada kita bahwa tujuan pernikahan bukan untuk berkembang biak. Allah sanggup membuat manusia berkembang biak, beranak cucu, tanpa proses persetubuhan, jika memang Allah menghendaki manusia hanya seorang diri. Tetapi Allah menghendaki kita saling tolong menolong suami dan isterinya sesuai hukum Kristus.

HANYA ADA SATU

Selanjutnya, tentang kepada siapa kita menjadi satu. Beberapa orang romantis menganggap jodoh itu adalah tulang rusuk yang merupakan tulang rusuk satu-satunya tidak ada yang lain. Beberapa lagi yang lebih rasional mengaggap siapa saja dapat menjadi tulang rusuk.

Yang jelas sejak awal, hanya ada satu tulang rusuk yang diambil. Hanya ada satu pasangan suami dan istri, bukan satu suami dengan belasan istri, atau satu istri dengan beberapa suami. Roma 7:3, menuliskan “Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain.” Anda juga dapat membaca dalam 1 Thesalonika 4:4, 1 Korintus 7:2, 1 Timotius 3:2,12 atau simak 1 Petrus 3:7, disana istri ditulis tunggal bukan jamak. Banyak ayat lain lagi yang menjelaskan satu suami satu istri.

Kebenaran tentang satu suami dengan satu istri sudah jelas. Selanjutnya menemukan tulang rusuk. Siapa tulang rusuk kita? Dapat siapa saja atau hanya ada satu-satunya?

MENEMUKAN TULANG RUSUK

Tanda Pertama
Adam menikah dengan Hawa, Kain menikah dengan adiknya, demikian juga dengan Set dan keturunan-keturunannya mereka menikah sesama anggota keluarga, bahkan sampai Abraham (Kejadian 20:12), Ishak (Kejadian 24:4) dan Yakub (Kejadian 29:12-14), mereka menikahai sanak saudara mereka sendiri. Hal ini terus terjadi sebab demikianlah hukum Taurat yang diturunkan oleh Allah (Bilangan 36:8-13, Hakim-hakim 14:3, dll). Mereka tidak boleh menikah dengan bangsa-bangsa lain (Ulangan 7:1-5, Kejadian 24:3, 28:1).

Hukum Taurat tersebut digenapkan dalam Perjanjian Baru seperti yang tertulis dalam II Korintus 6:14, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”

Kita sebagai umat Tuhan, anak-anak Abraham secara rohani (Galatia 3:7), juga wajib menikah dengan sesama saudara seiman. Inilah tanpa pertama. Jodoh dari Tuhan adalah sesama bangsa Israel rohani.

Tanda Kedua
Kejadian 2:24 menjelaskan laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk menjadi satu dengan istrinya. Bangsa Israel mempunyai kebiasaan, setiap anak laki-laki yang menikah ia akan keluar dari rumah orang tuanya dan membangun keluarganya sendiri.

Seseorang yang menikah haruslah telah dewasa dan siap memulai kehidupannya sendiri bersama dengan suami/istrinya, bukannya seorang anak-anak atau remaja yang masih sangat bergantung kepada orang tuanya. Dalam Perjanjian lama, laki-laki berbeda dengan anak-anak. Walaupun laki-laki tetapi kalau masih anak-anak tidak dihitung sebagai laki-laki.

Laki-laki dewasa didalam pengertian Taurat adalah laki-laki yang berusia dua puluh tahun keatas. “Hitunglah jumlah segenap umat Israel menurut kaum-kaum yang ada dalam setiap suku mereka, dan catatlah nama semua laki-laki di Israel yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi orang. Engkau ini beserta Harun harus mencatat mereka menurut pasukannya masing-masing.” (Ulangan 1:2-3). Dibawah umur tersebut, mereka masih menjadi tanggungan orang tua mereka masing-masing dan tidak diperhitungkan sebagai seorang laki-laki.

Dua puluh tahun bukan batas minimal umur untuk menikah menuruh Firman Tuhan, tetapi kita dapat menjadikan sebagai acuan untuk mulai memikirkan pernikahan, sebab dibawah usia tersebut sebaiknya berfikir untuk menikah ditahan dahulu.

Yang terpenting bukan umurnya, melainkan kesanggupan mereka berperang, “yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi orang” (Ulangan 1:3a). Berperang adalah kemampuan memikul beban kehidupan (Ayub 7:1).

Bahwasanya hal manusia di atas bumi ini seperti orang perang adanya dan hari hidupnyapun seperti hari orang upahan. (Ayub 7:1, Alkitab Terjemahan Lama)

Baik laki-laki maupun perempuan, mereka adalah sama (1 Korintus 16:13), harus sanggup berperang, bergumul didalam kehidupan ini. Walau sudah berusia dua puluh tahun tetapi kalau belum sanggup memikul beban kehidupan sebaiknya jangan menikah dahulu. Hanya yang telah diperhitungkan sebagai “laki-laki” yang boleh menikah.

Inilah tanda kedua, Jodoh dari Tuhan adalah mereka (laki-laki atau perempuan) yang telah dewasa dan sanggup memikul beban kehidupan ini.

Tanda Ketiga
Setelah kita mengetahui tanda pertama bahwa ia adalah saudara seiman, dan tanda kedua telah dewasa dan dapat disebut sebagai laki-laki, maka selanjutnya adalah tanda pengikat.

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kolose 3:1415)

Kasih atau cinta adalah pengikat yang membuat dua menjadi satu. Tanpa cinta, dua tidak dapat menjadi satu. Pernikahan harus didasari atas cinta, bukan atas hawa nafsu (1 Thesalonika 4:4-5). Menyukai lawan jenis, tidak semuanya didasari atas cinta, beberapa walau tampak seperti cinta, tetapi sebenarnya adalah hawa nafsu.

Kasih suami isteri itu menyatukan dan meyempurnakan jika keduanya saling mencintai, bukan salah satu saja yang mencintai. Cinta terhadap suami isteri, cinta terhadap teman atau sahabat, cinta terhadap keluarga dan orang tua merupakan bentuk cinta yang berbeda-beda. Cinta suami isteri adalah cinta saling memiliki, seperti yang ditulis dalam 1 Korintus 7:4, “Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.

Mengasihi seperti mengasihi bagian tubuh sendiri (Efesus 5:28-29), itulah cinta suami istreri. Tanda-tanda cinta secara umum dapat anda baca dalam 1 Korintus 13:4-7 (kata cemburu dalam Alkitab Terjemahan Baru sebenarnya lebih tepat ditulis dengki, dalam terjemahan KJV, NKJV, ASV, YLT dan lain-lain menggunakan kata envy buka jealous). Sebab pasangan suami dan istri harus ada cemburu dan kesucian didalam cintanya, seperti yang dikatakan II Korintus 11:2.

Tanda ketiga adalah adanya cinta. Bukan cinta satu pihak, tetapi saling mencintai. Karena cinta dan kesucian maka dua dapat menjadi satu.

Tanda Keempat
Setelah tanda ketiga yaitu cinta yang menjadi pengikat yang membuat dua menjadi satu, maka berikutnya, seperti yang tertulis dalam penciptaan manusia, didalam Kejadian 4:25, “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”

Telanjang bukan secara jasmani (dosa jika diluar pernikahan). Tetapi didalam pengertian rohani, telanjang mempunyai arti terbuka, terlihat segala kekurangan, keburukan dan kelebihan kita.

Suami dan istri haruslah terbuka, mereka tidak boleh menutupi keburukan satu sama lain, segala kelemahan dan kekurangan hedaklah terbuka dan diketahui masing-masing. Untuk itulah mereka saling melengkapi dan menyempurnakan, bukan malah sebaliknya saling menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan masing-masing. Jangan ingin tampil (seakan) prima didepan penolong sejodoh kita, karena kekurangan tersebutlah maka laki-laki dan perempuan ada, pernikahan ada. Agar mereka dapat saling menolong dan melengkapi sehingga keduanya menjadi genap.

Tanda keempat adalah keterbukaan. Jodoh dari Tuhan satu sama lain harus dapat saling mengenal, memahami dan meyempurnakan. Jika anda merasa tidak cocok dengan kekurangannya dan tidak yakin dapat menggenapinya maka mungkin ia memang bukan penolong sejodoh bagi anda.

Tanda Kelima
Tanda kelima merupakan peneguhan dari Tuhan atas pasangan yang akan menjadi suami atau isteri. Peneguhan dari Tuhan itu perlu, sebab hanya Tuhanlah yang tahu mana penolong sejodoh kita. Banyak laki-laki dan banyak perempuan, tetapi tidak semua laki-laki dan tidak semua perempuan dapat menjadi penolong yang cocok bagi kita. Perhatikan Kejadian 2:22, Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Allah yang membawa Hawa kepada Adam.

Dalam perjodohan, Allah ikut terlibat didalamnya. Allah tahu mana yang tepat menjadi penolong kita, Allah tahu mana yang terbaik untuk menjadi isteri atau suami kita. Karena itu pula didalam Alkitab, saat Abraham mencarikan jodoh untuk Ishak, yaitu seorang perempuan dari sanak saudaranya, maka hambanya yang ditugaskan untuk mencari jodoh tersebut berdoa memohon tanda dari Tuhan, manakah yang terbaik bagi Ishak.

Di sana disuruhnyalah unta itu berhenti di luar kota dekat suatu sumur, pada waktu petang hari, waktu perempuan-perempuan keluar untuk menimba air. Lalu berkatalah ia: “TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum–dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.”
(Kejadian 24:11-14)

Hanya Tuhan yang tahu dan mengenal kita secara keseluruh, bukan orang lain, bukan orang tua dan bukan pula diri kita sendiri, seperti yang dikatakan oleh 1 Korintus 13:12. Hanya Tuhan mengenal kita dengan sempurna. Demikian juga dengan pasangan kita, hanya Tuhan yang tahu dengan pasti apakah ia benar-benar dapat menjadi penolong yang cocok dengan kita didalam segala hal.

Seperti yang dilakukan hamba Abraham, kita juga harus bertanya kepada Tuhan siapa yang tepat menjadi penolong hidup kita.

Bertanya dan mendapatkan jawaban Tuhan merupakan suatu permasalahan sendiri, beberapa orang telah dapat meminta peneguhan dan mendengar suaraNya, beberapa lagi tidak paham dengan tanda-tanda Allah, karena itu maka ditetapkan oleh Allah bahwa para pemimpin kerohanian, seperti Gembala Sidang atau pemimpin rohani lainnya, mereka adalah orang-orang yang bertanggungjawab kepada Allah atas hidup kita (Ibrani 13:17), kepada perantara merekalah kita dapat memintakan petunjuk tentang perjodohan tersebut dari Allah.

Selain pemimpin/pembimbing rohani anda, orang tua yang didalam Tuhan juga merupakan perantara tentang perjodohan dari Tuhan. Jika ada keberatan dari mereka, jangan abaikan hal tersebut, sebab kesaksian dua atau tiga orang yang bertanggung jawab atas hidup anda, suatu perkara dapat dibenarkan, kata II Korintus 3:1, 1 Timotius 5:19 atau Ulangan 19:15.

Jadi minta petunjuk dari Tuhan itu bukan hal yang salah, malah sebaliknya itu merupakan keharusan. Tanda kelima adalah peneguhan dari Tuhan (baik lewat tanda-tanda ilahi maupun lewat orang-orang yang bertanggung jawab atas hidup kita dihadapan Allah).

Dalam pelaksanaanya untuk petunjuk atau tanda-tanda langsung dari Allah, hendaknya disesuaikan dengan iman masing-masing, jangan kita mereka-reka perkara yang terlalu tinggi bagi iman kita sendiri (Roma 12:3). Terbaik adalah peneguhan Allah melalui perantara pemimpin rohani dan orang tua kita didalam Tuhan.

PENUTUP

Tentang jodoh dan lima tanda yang harus ada sesuai Firman Tuhan telah dijelaskan singkat diatas. Semoga hal ini dapat membantu kita semua anak Tuhan untuk dapat mengenali penolong sejodoh yang terbaik dari Allah untuk kita.

Jodoh bukan peristiwa gaib dimana si A harus menikah dengan si B, tetapi Allah akan membantu kita untuk mendapatkan penolong yang sepadan dengan kita yang cocok dengan kita sesuai dengan Firman Tuhan. Tidak semua orang cocok sebagai penolong hidup kita, tetapi Allah tahu yang mana yang dapat menjadi penolong yang paling sepadan. Jangan bayangkan Allah memberikan jodoh yang tidak sesuai dengan selera jasmani anda, sebab Allah itu kasih, pasangan yang cocok dengan kita adalah pasangan yang cocok baik rohani maupun jasmani, tetapi bukan didalam hawa nasfu dan keduniawian.

Penolong yang sejodoh bukan berarti hidup akan ideal, segala sesuatunya pas. Tidak demikian tentang penolong yang sejodoh. Didalam suka dan duka, didalam beratnya hidup ini, penolong sejodoh harus dapat saling melengkapi dan menolong satu sama lain. Babak baru dalam kehidupan mereka bukan lagi bagiamana menemukan penolong sejodoh, tetapi bagaimana hidup sebagai suami atau istri yang benar dan berkenan dihadapan Allah dan manusia.

Juga tidak semua orang akan menikah, Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa ada orang-orang yang tidak menikah, baik oleh karena kemauan sendiri, oleh karena keadaan maupun oleh karena orang lain (Matius 19:12). Bagi tiap-tiap anak Allah, telah direncanakan yang terbaik dalam hidupnya baik yang menikah maupun yang tidak menikah (1 Korintus 7:1-40).

Tentang pernikahan, bukankah pernikahan itu merupakan seluruh hidup kita? Bandingkan dengan tahun-tahun hidup lajang? Jangan kita menyia-nyiakan hidup kita didalam pernikahan dengan dasar hawa nafsu.

Salam,
Leonardi


Top Blogs

h1

Kristenisasi

30 August 2007

Keselamatan tidak lahir dari kristenisasi

Banyak manusia ribut dengan agama, berebut pemeluk, menghitung jumlah, menghitung uang, kekuasaan, pengaruh dan apa saja yang bisa didapat dari banyaknya pemeluk.

Sejak ribuan tahun lalu, sejarah mencatat manusia telah memanfaatkan “agama” untuk memobilisasi manusia, untuk mensukseskan tujuan dan memperkuat kedudukan dan pengaruhnya, sampai dengan hari ini. Agama diciptakan oleh manusia, dari ujung bumi sampai ke ujung bumi dengan mengatasnamakan wahyu, manusia menciptakan beragam agama didunia ini. Allah tidak pernah menciptakan agama, tetapi manusia telah menciptakannya dan telah membangun kerajaannya dibumi ini.

Agama tidak dapat menyelamatkan manusia. Agama dan Kitab Sucinya tidak akan membuat manusia itu selamat. Selidikilah semua Kitab Suci*, lihatlah dengan teliti, apakah ada kepastian akan keselamatan dan kehidupan kekal sesudah kematian? Adakah jaminan seorang memeluk agama tertentu akan selamat? Bukankah penyebar agama adalah orang yang sedang penyebar kekuasaan manusia?

Allah telah memberikan wahyuNya kepada semua manusia dari segala jaman, dari belahan bumi paling ujng sampai ujung satunya. Wahyu yang diberikan merupakan gambaran atau bayangan akan wujud Tuhan Yesus Kristus, tetapi manusia lebih menyukai agama dari pada keselamatan yang dijanjikan Allah. Wahyu secara khusus diberitakan lewat bangsa Israel, tetapi kepada bangsa-bangsa lain, Allah memberikan hukum tersebut didalam hati mereka.

“Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”. (Roma 2:14-16)

Suatu saat kelak akan nyata, bahwa berita tentang kedatangan Sang Mesias, yaitu Tuhan Yesus Kristus telah diberitakan sejak lama kepada segala bangsa, bukan hanya lewat bangsa Israel. Hal itu akan nyata saat hari penghakiman seluruh umat manusia di akhir jaman. Tetapi sekali lagi, manusia lebih menyukai agama daripada keselamatan yang telah dijanjikanNya.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi”. (Mazmur 19:2-5)

Keberadaan Allah, dosa, penghakiman, keselamatan dan penebusan, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, sejak purbakala di seluruh dunia, ditempat terpencil dan jauh dari peradapan sekalipun, gema ini telah disampaikan didalam hati mereka, bahkan orang-orang bijak dan tulus diantara mereka beroleh anugrah untuk mengetahui lebih banyak tentang wahyu keselamatan dari Allah. Tetapi, sekali lagi manusia lebih menyukai agama dari pada keselamatan dari Allah.

Kini, manusia masih terjebak dalam kekuasan agama. Apakah kita akan menjadikan semua bangsa pemeluk agama kristen? Kristenisasi tidak membuat manusia itu diselamatkan. Bagi Allah, menjadi kristen atau bukan, bukanlah perkara yang besar, bahkan beribu-ribu orang menjadikan dirinya pemeluk agama kristen itu sama sekali tidak berguna dan tidak berarti bagi Allah (Yoh 2:23-25).

Tuhan Yesus tidak pernah memerintahkan kita untuk mengkristenisasikan siapapun juga. Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk memperdamaikan mereka dengan Allah dan menjadikan mereka murid (Matius 28:19-20), bukan untuk menjadikan pemeluk agama kristen atau menyebarkan agama dengan tuntutan-tuntutannya (Lukas 9:2-5, Mark 16:15).

Jadi sekali lagi saya ingatkan, kita sebagai murid Tuhan Yesus Kristus, kita bukan diutus untuk mengkristenisasi orang atau menyebarkan agama kristen, tetapi untuk menyelamatkan mereka dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

“Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”. (Roma 10:13-17)

Mari kita beritakan kabar baik tersebut, dan membawa banyak orang kepada Allah lewat Tuhan Yesus Kristus, bukan untuk menjadikan mereka pemeluk agama kristen. Sudah cukup gereja-gereja kita dipenuhi para pemeluk agama yaitu para munafik, pendosa dan anak-anak iblis.

Buang jauh-jauh istilah kristenisasi…

Salam damai sejahtera,
Leonardi

“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”. (2 Korintus 5:19-21)

* Hanya didalam Kristus ada keselamatan, hukum dosa dan hukum maut, hukum Taurat dan aturan-aturan manusia lainnya membuat manusia menjadi pendosa. Tidak ada seorangpun dapat dibenarkan/diselamatkan karena melakukan perintah hukum Taurat (Galatia 2:16, Roma 3:20, Galatia 2:21).


Top Blogs

h1

Makan Babi Masuk Neraka

8 August 2007

Menjawab pertanyaan tentang larangan makan babi di milis GeTT, dengan dasar ayat Yesaya 66:15-17. Topik dibincangkan adalah “Makan babi masuk neraka” karena itu umat kristen dilarang makan babi sesuai hukum Taurat.

Makan babi masuk neraka ???

Jika hari ini kita masih menaruh pengharapan pada hukum Taurat yang diturunkan lewat Musa, maka kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus tidak lagi berarti bagi anda (Galatia 2:21). Baik didunia, dihadapan iblis maupun dihadapan Allah.

Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. (Galatia 3:24-25)

Kita umat Kristen tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat, sejak Tuhan Yesus datang kedunia ini. Karena itulah maka larangan makan babi bukan lagi sebuah tuntutan hukum bagi kita. Kita diselamatkan karena iman bukan karena melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan oleh hukum Taurat.

Kristus adalah kegenapan dari hukum Taurat itu sendiri (Roma 10:4). Tuhan Yesus datang kedunia ini, bukan untuk meniadakan hukum Taurat, tetapi menggenapkan apa yang dulu merupakan bayang-bayang atau kiasan, dan kini telah dibukakan seperti membuka selubung (2 Korintus 3:14-15). Karena itu jika kita membaca kitab perjanjian lama (hukum Taurat), kita harus selalu ingat bahwa semua itu merupakan bayang-banyang saja.

Apakah keselamatan kita sedemikian rendahnya hanya ditentukan dengan apa yang kita makan? Apakah karena makan babi lantas kita binasa di neraka? Ataukah seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:9, Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!” Lembukah yang Allah perhatikan? Berhargakah lembu dihadapan Allah lebih dari pada manusia? Banyak dalam hukum Taurat tentang hal-hal lahiriah seperti ini. Semuanya adalah kiasan atau kebenaran yang terselubung. Hal lain misalkan tentang korban dalam Ibrani 10:3-4 tertulis seperti ini, Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Masakan dosa manusia dapat ditebus oleh binatang? Bukankah itu merupakan kebenaran yang terselubung? Masih banyak lagi lainnya yang menjelaskan bahwa tuntutan hukum Taurat itu merupakan kiasan dan wujudnya adalah Tuhan Yesus Kristus.

Tetapi bagi mereka yang masih ragu-ragu juga tentang tuntutan hukum Taurat, silahkan anda menyadari bahwa anda wajib untuk melakukan seluruh perintah dalam hukum Taurat, bukan hanya dilarang untuk makan babi, udang, kepiting, tetapi juga seluruh tuntutan hukum Taurat wajib dilakukan. Masakan kita boleh memilih-milih mana yang wajib dilakukan dan tidak? Allahkah kita?

Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. (Yakobus 2:10)

Tetapi bagi kita yang menerima kasih karunia didalam Tuhan Yesus Kristus, lewat iman, maka janganlah kita bimbang. Jangan kita kembali lagi kepada tuntutan hukum Taurat.

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (Galatia 5:2-4)

Sekali lagi… Jika anda mengharakan kebenaran dalam mentaati perintah hukum Taurat, maka anda lepas dari Kristus dan dari kasih karuniaNya. Anda harus menanggung dosa anda sendiri sesuai tuntutan-tuntutan hukum Taurat (Roma 3:19-20). Anda sendiri yang menentukannya.

Salam didalam kasih Kristus,
Leonardi

Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. (2 Korintus 3:14-15)



Top Blogs

h1

Caranya Berbuah

12 April 2007

TERKAM, 12 April 2007

Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. (Roma 6:22)

Sebagai seorang kristen, sudah sering kita mendengar tentang kata “berbuah”. Kita dituntut untuk menghasilkan buah. Tetapi banyak juga diantara kita yang sampai hari ini tidak mengerti bagaimana caranya menghasilkan buah tersebut, mulai dari mana dan seperti apa? Beberapa orang menyebut bahwa buah itu adalah jiwa-jiwa, tetapi tidak semua yang tertulis dalam FirmanNya tentang buah adalah tentang jiwa-jiwa. Lalu apakah buah tersebut? Buah apakah yang harus kita hasilkan? Bagaimana caranya?

MACAM-MACAM BUAH

Kita perlu mengetahui penggunaan kata “buah” di dalam Alkitab. Buah merupakan kiasan dari kata hasil atau akibat dari suatu sebab. Pemahaman dasarnya adalah pohon mangga pasti akan berbuah mangga, bukan berbuah mengkudu. (Lukas 6:43-44). Jika sesuatu adalah A, maka hasilnya A bukan B, demikian juga sebaliknya. Jika kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, maka kita harus juga ada buahnya dan buahnya itu berbeda dengan buah yang dihasilkan oleh orang dunia.

Karena itulah Firman Tuhan dalam Matius 3:8 mengatakan, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan”. Jika kita mengaku sudah bertobat dan meninggalkan hidup lama dalam dosa, maka tunjukanlah buahnya.

Buah pertobatan adalah kehidupan baru didalam Kristus (2 Korintus 5:17). Kehidupan yang diubahkan dari hidup lama menjadi hidup baru, dengan kebiasaan, pola pikir dan hati yang baru. Jika dahulunya sering berkelahi sekarang tidak, jika dahulu cabul sekarang sudah ditinggalkan, jika dahulu biasa mencuri sekarang sudah tidak lagi. Kata bohong diganti dengan kata-kata kebenaran dan benci, iri dan permusuhan dibuang jauh dan diganti dengan cinta, damai dan persahabatan. Berubah dari lama menjadi baru itulah buah pertobatan.

Setelah bertobat, kita dituntut untuk tetap hidup didalam terang. Karena itu kita juga dituntut untuk menghasilkan buah kebenaran, kebaikan dan keadilan.

Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran (Efesus 5:8-9).

Efesus 5:9 dalam terjemahan KJV dan terjemahan bahasa inggris lainnya, kata “terang” ditulis “fruit of the Spirit” atau diterjemahkan sebagai Buah Roh (Galatia 5:22). Buah Roh ini dihasilkan oleh seorang beriman saat ia mentaati Roh Allah untuk mematikan perbuatan daging dalam hidupnya (Roma 8:13, Galatia 5:16-17). Pada saat itulah buah kebaikan, keadilan dan kebenaran bermunculan untuk memuliakan nama Allah (Yohanes 15:8, Filipi 1:11).

Buah-buah ini yang harus kita miliki, jika buah ini tidak ada pada kita, maka Firman Tuhan dalam Matius 7:19-20, akan digenapi. “Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Dari buah kita maka kita dikenali, apakah kita hidup didalam terang, atau masih hidup didalam gelap dan dosa? Karena itu hasilkanlah buah yang baik bagi Allah (Yesaya 5:1-7)

Buah selanjutnya adalah buah jiwa-jiwa yang diselamatkan. Kata buah yang melambangkan jiwa-jiwa yang diselamatkan sering diunggkapkan oleh Paulus, seperti dalam Roma 16:5 dan 1 Korintus 9:1. Buah ini didapat dari status kita sebagai murid Kristus dalam menggenapi Amanat Agung (Matius 28:19-10).

Demikian penjelasan singkat tentang buah yang dituntut oleh Tuhan dalam hidup kita. (Tentang buah-buah akan dibahas dalam naskah lain)

MENGHASILKAN BUAH

Kembali dalam Roma 6:22, bagaimana caranya kita menghasilkan buah? Jika kita baca ayat tersebut baik-baik maka kita akan melihat ternyata ada urutan untuk menghasilkan buah yang membawa kita kepada pengudusan dan kehidupan kekal. Pertama perhatikan kata, “setelah kamu dimerdekakan dari dosa” kata “setelah” merupakan gambaran langkah berikutnya dari hal sebelumnya. Hal sebelumnya adalah saat kita masih terikat dalam dosa. Kita perlu dimerdekakan dari dosa, sebagai langkah awal untuk berbuah.

Setelah itu baru dikatakan, “dan setelah kamu menjadi hamba Allah”. Kata “setelah” yang kedua ini menunjukan urutan berikutnya sesudah dimerdekakan dari dosa, kita perlu menjadi hamba Allah baru kita dapat menghasilkan buah.

Setalah ini dan setelah itu, baru kemudian ayat tersebut mengatakan, “kamu beroleh buah…”. Jadi disini, untuk menghasilkan buah, pertama kita harus dimerdekakan dari dosa terlebih dahulu, setelah itu baru kita harus menjadi hamba Allah dan kemudian baru kita dapat menghasilkan buah.

Kita akan melihat satu persatu langkah tersebut.

DIMERDEKAKAN DARI DOSA

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. (Yohanes 8:36)

Banyak orang kristen yang walau menyebut dirinya telah ditebus oleh Kristus tetapi masih menjadi hamba Dosa. Yohanes 8:34 mengatakan kalau orang berbuat dosa ia adalah hamba dosa. Walaupun ia ke gereja dan berdoa, bisa jadi ia masih terikat oleh dosa, ia bukan sebagai orang yang dimerdekakan dari dosa lagi, tetapi sebagai hamba dosa.

Mengapa ada orang kristen yang masih berbuat dosa? Orang kristen yang berbuat dosa, adalah orang kristen yang tidak tetap tinggal didalam Kristus. Jika ia tetap tinggal didalam Kristus pastilah ia tidak berbuat dosa lagi. Orang kristen yang tidak tetap tinggal didalam Kristus akan meremehkan atau bahkan melupakan untuk hidup sesuai Firman Tuhan, walaupun ia masih aktif di gereja dan persekutuan, atau bahkan melayani, tetapi ia telah melupakan Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat dan Penebusnya (2 Timotius 3:5).

Seorang yang tetap tinggal didalam Kristus adalah orang-orang kristen yang hidupnya dicocokan dengan kebenaran Firman Tuhan (Yosua 1:8). Seorang yang memiliki iman kepada Juru Selamat, pengharapan akan kehidupan kekal dan memiliki kasih Allah.

Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia. (1 Yohanes 3:6)

Orang kristen kalau belum pernah bertemu dan mengenal Kristus secara pribadi, ia tidak akan bisa tetap tinggal didalam Kristus dan dosa dapat berkuasa kembali dalam hidupnya (Roma 6:12). Tuhan Yesus telah menebus dan membebaskan kita dari dosa karena iman, tetapi bukan berarti dosa tidak dapat berkuasa kembali. Galatia 5:1 mengatakan, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan”. Didalam kemerdekaan, kita masih dapat memutuskan untuk kembali kepada kuk dosa yang lama. Seperti bangsa Israel waktu dibebaskan dari perbudakan Mesir, diantaranya masih ada yang merindukan kuk perbudakan tersebut (Bilangan 11:4-6), yaitu orang-orang yang dibinasakan Allah dipadang gurun (Ibrani 3:16-18). Mereka yang mau memikul kuk dosa kembali adalah orang-orang yang belum mengenal dan bertemu dengan Yesus Krisutus secara pribadi yang dapat mengubah hidupnya secara total. Menjadi percaya itu penting, tetapi selanjutnya jangan biarkan hidup ini hambar.

Kita harus mengenal dan bertemu dengan Kristus secara pribadi. Pengalaman pribadi dengan Kristus merupakan hal yang penting. Tidak bisa kita menjadi kuat didalam iman, kasih dan pengharapan hanya dengan mendengar kesaksian orang lain, kita sendiri harus mengalami. Ayub 42:5 menuliskan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau”. Demikian juga dengan orang Samaria dalam Yohanes 4:42, pada awalnya mereka mendengar dari perempuan sundal saja, tetapi setelah berjumpa secara pribadi, mereka menjadi percaya dengan segenap hati.

Milikilah hubungan dengan Kristus secara pribadi. Jangan jadi orang yang ikut-ikutan terus. Mulailah berdoa secara pribadi, tidak hanya saat kebaktian doa atau saat doa makan saja. Baca dan selidikilah Firman Tuhan, jangan hanya membuka Alkitab saat di gereja saja. Alkitab itu adalah surat cinta Allah. Temukan pribadi Kristus didalam Alkitab. Temukan kata-kata cintaNya untuk kita didalam Alkitab dan didalam doa. Saya yakin sauatu saat nanti, kita akan mengenalNya dengan sempurana (1 Korintus 13:12). Tinggalah tetap didalamNya, maka kita akan dapat berbuah.

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (Yohanes 15:4)

Selanjutnya, setelah dimerdekakan dari dosa dan tetap tinggal didalamNya, kita harus mengalir keluar. Kita percaya dan diselamatkan, itu adalah untuk kita, selanjutnya Tuhan menghendaki kita “pergi” seperti yang diamanatkan dalam Markus 16:15-16. Karena itulah kita disebut hamba Allah, sebab kita melakukan kehendak Tuan kita, yaitu Allah. Bukan lagi untuk kita tetapi untuk mereka.

Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. (Roma 6:17-18)

Menjadi hamba Allah adalah kosekwansi yang kita terima saat kita dimerdekakan dari perhambaan dosa (Roma 6:11-19).

MENJADI HAMBA ALLAH

Menjadi hamba Allah bukan berarti menjadi pendeta atau pengkerja gereja atau melayani di organisasi gereja. Pengertian tentang hamba Allah adalah seorang yang melakukan kehendak Allah. Melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh tuannya, itulah hamba (Lukas 6:46). Hamba tidak mencari kesenangan untuk dirinya sendiri tetapi melakukan untuk tuannya (Yohanes 21:18). Melepaskan keinginan kita dan mengambil keinginan Allah sebagai keinginan kita, itulah hamba Allah.

Sebagai hamba Allah kita juga dituntut menghasilkan buah. Buah apakah yang dihasilkan oleh seorang hamba adalah dengan melakukan kehendak tuannya? Lalu kehendak Allah itu apa?

Kehendak Allah itu berbeda-beda setiap orang, masing-masing mempunyai rencana yang telah dipersiapkan Tuhan agar kita hidup didalamNya (Efesus 2:10). Untuk mengetahui kehendak Allah untuk masing-masing, kita harus mengerti isi hatiNya. Raja Daud dalam Mazmur 40:9, mengatakan “aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” Untuk mengerti kehendak Allah, Firman Tuhan harus ada didalam hati kita. Dengan pimpinan Roh Kudus maka kita akan memahami apa kehendak Allah dalam hidup kita saat ini (Mazmur 143:10).

Pada orang belum bertobat, saat mereka bertanya apa kehendak Allah baginya, maka Tuhan mengatakan kehendak Allah agar mereka percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 6:29). Dalam 1 Thesalonika 4:3-5, kepada jemaat di Thesalonika, kehendak Allah untuk mereka adalah hidup kudus dan menjahui kebiasaan percabulannya. Juga dalam 1 Petrus 2:15 kepada orang lain Allah menghendaki mereka untuk membungkam kepicikan disekitarnya, dan masih banyak lagi yang semuanya bersifat pribadi, tidak harus sama satu dengan yang lain. Masing-masing sesuai pimpinan Tuhan.

Bahkan Tuhan Yesus juga melakukan kehendak Allah yang hanya untukNya, yaitu mati dikayu salib untuk menebus dosa umat manusia (Yohanes 8:42), demikian juga dengan Daud yang melakukan kehendak Allah pada jamannya seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 13:36, 22. Demikian juga dengan Paulus, ia tahu kehendak Allah baginya adalah menjadi rasul Kristus (1 Korintus 1:1). Kita masing-masing memiliki rencana dan kehendak Allah sendiri-sendiri, tidak harus sama satu dengan yang lainnya. Karena itu kita harus sadar dan berusaha untuk memahami apakah kehendak Allah sesungguhnya bagi kita.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2).

Setiap orang memiliki bagiannya masing-masing didalam tubuh Kristus kata I Korintus 12:14-18, setiap kita memiliki tugas sendiri-sendiri sesuai yang dikehendaki oleh Tuan kita. Tidak semua menjadi mata atau mulut atau tangan. Apakah kehendak Tuhan untuk kita, kita harus mencarinya agar kita layak disebut hamba Allah.

Adalah menyesatkan jika seorang menyebutkan bahwa kehendak Allah adalah mentaati seluruh Firman Tuhan, walaupun hal itu benar. Menyesatkan yang dimaksud adalah membuat seseorang percaya menjadi tidak khusus dihadapan Allah, sebagai hamba yang tidak mengetahui apa sebenarnya tugasnya. Jika kita tidak tahu kehendak Allah yang khusus untuk kita, maka kita menjadi orang kristen yang biasa-biasa, yang hambar, dari pagi sampai malam, dari tahun ke tahun hanya seperti itu saja. Inilah yang terjadi saat ini.

Mari kita mengetahui apa yang menjadi bagian tugas kita sebagai hamba Allah, apa yang menjadi kehendak Tuan kita. Terkadang kehendak Allah atas hidup kita tidak mengenakan daging ini, tetapi jika kita tinggal didalam kehendak Allah maka kita akan barbuah-buah. Bahkan penderitaan karena melakukan kehendak Allah tersebut sebenarnya adalah kasih karunia Allah kata I Petrus 2:19.

Tetapi kalau kita tidak mengetahui kehendak Allah dengan benar dan menganggap kehendak Allah ya mentaati seluruh Firman Tuhan, maka kita akan kesulitan berbuah-buah.

Temukan apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidup kita, lewat hubungan pribadi kita dengan Tuhan Yesus. Kita akan mengetahui apakah yang dikehendaki Allah untuk kita taati sebagai hambaNya. Mari kita memberikan buah yang terbaik bagiNya. Dan waktu yang sisa ini jangan lagi kita gunakan untuk melakukan keinginan kita, tetapi mari kita melakukan keinginan Allah, menjadi hambaNya (I Petrus 4:2). Ingat kita memiliki tempat tersendiri dalam tubuh. Setiap orang kristen yang disebut sebagai hamba Allah harus tahu apa pekerjaannya.

BERBUAH-BUAH

Setelah kita memahi langkah atau tahapan untuk berbuah, mari kita berikan buah yang baik dan banyak untuk Allah kita. Tetaplah tinggal didalam Kristus dan milikilah hubungan pribadi dengan Kristus, temukan dan kenaliah. Setelah itu sebagai seorang hamba, ketahuilah apa yang menjadi kehendak Allah didalam hidup kita. Kehendak Allah dalam hidup kita berbeda dengan kehendak Allah terhadap orang beriman lainnya. Mulailah berbuah-buah dengan mentaati dan melakukan kehendak Tuan kita.

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah”. (Yohanes 15:1-2)

Bersedialah untuk dibersihkan dan disempurnakan.

Salam,

Leonardi Setiono



Top Blogs