Posts Tagged ‘munafik’

h1

Ikutlah Teladan

12 November 2010

Filipi 3:17
Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk mengikuti teladan sebagai bagian dari Amanat Agung yang dikatakan Kristus “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." [Matius 28:19-20]. Perintah “ajarlah mereka melakukan” tidak hanya dilakukan lewat pemberitaan Firman Tuhan, tetapi juga disertai dengan teladan hidup.

Serang teman yang memiliki usaha interior design dan exhibition contractor yang berkembang pesat, ia menceritakan bahwa untuk membuat sebuah bentuk sesuai dengan gambar dibutuhkan tukang yang cakap dan trampil. Ia melatih tukang-tukangnya agar sesuai dengan standartnya bukan hanya dengan mengajarkan caranya membuat, tetapi juga memberi contoh kepada mereka. Diceritakan pula kiatnya, bahwa ada empat tahap dalam melatih tukangnya. Pertama adalah “saya mengerjakan, kamu melihat”, kedua adalah “saya mengerjakan, kamu membantu”, ketiga adalah “kamu mengerjakan, saya membantu” dan terakhir “kamu mengerjakan, saya melihat”. Lewat cara seperti itulah maka tukang-tukangnya dapat mengerjakan seperti yang dikehendakinya.

Proses belajar lewat meneladani bukan sesuatu yang baru, tetapi jarang dipraktekan dalam kehidupan nyata. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya orang-orang yang menjadi tutor atau teladan yang bukan hanya pandai menjelaskan tetapi juga melakukan apa yang dijelaskannya. Didalam ilmu management, dalam beberapa tahun belakangan ini pola pelatihan seperti ini mulai marak dan semakin diminati. Mereka menyebutnya Coaching. Buku tentang Coaching dalam management yang ditulis oleh McLeod, Angus tahun 2003 telah menarik perhatian banyak perusahaan dan sampai hari ini banyak bertumbuh pelatihan management dengan basis Coaching. Pelatihan dengan teladan atau tutor ini sebenarnya sudah muncul sekitar tahun 1830 di Oxford University. Setahun kemudian cara ini diterapkan dalam bidang olahraga, dimana pelatih melatih dengan tutor sehingga murid dapat melihat dan mempraktekan seperti yang diajarkan oleh pelatihnya sampai hari ini. Baru beberapa tahun belakangan ini Coaching diterapkan dalam berbagai bidang dan banyak dibicarakan orang.

Kembali didalam Amanat Agung, Kristus memerintahkan murid-muridNya untuk memuridkan segala bangsa. Proses ini bukan terjadi dalam bentuk pendidikan atau pemberitaan Firman Tuhan saja, tetapi proses pemuridan dilakukan melalu teladan hidup para rasul yang kemudian diteruskan kepada murid-murindnya dan kepada murindnya dan seterusnya. Saat kita mendengar Firman Tuhan dan memahami perintah Allah, kendala yang dihadapi adalah bagaimana melakukannya. Dibutuhkan seorang tutor atau teladan untuk menunjukan seperti apa bentuk mentaati Firman TUhan, seperti apa yang harus kita lakukan sesuai Firman Tuhan.

Kita semua tahu akan kata-kata Yesus yang beriku ini, “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” [Yohanes 13:15]. Juga dalam 1 Yohanes 2:6 dimana kita harus hidup sama seperti Kristus hidup, atau dalam Efesus 4:13 dimana kita semua harus bertumbuh sampai menjadi serupa dengan Kristus. Tetapi persoalannya seperti apakah menjadi seperti Yesus? Bagaimana kita tahu apa yang diperbuat Yesus saat menghadapi masalah seperti yang aku hadapi saat ini? Kita tidak melihat Yesus tetapi kita hanya membaca tulisan dan pengajaran Yesus yang ada didalam Alkitab saja. Bagaimana kita bisa menjadi seperti Kristus jika kita tidak melihat teladan hidup yang memberikan tutor kepada kita seperti yang dikatakan oleh Paulus.

Hendaklah kamu menurut teladanku, seperti aku pun menurut teladan Kristus. [1 Korintus 11:1 TL]

Didalam membaca Alkitab dan mengenal dan memahami apa yang diperkenan oleh Allah dan apa yang harus dilakukan seperti Kristus, tidak semua dapat dengan mudah memahaminya. Beberapa orang mungkin kesulitan, beberapa lagi dari mereka telah melewati masa-masa pengolahan dan dapat menjadi teladan, lewat merekalah kita semua belajar menjadi sama seperti Kristus. Menjadi seperti Kristus bukan berarti kita mengimajinasikan Yesus didalam angan-angan dan membayangkan dalam pikiran kita apa yang akan diperbuatNya, tetapi kita tahu apa yang diajarkanNya bukan dari imajinasi kita tetapi dari Firman Tuhan. Disinilah keteladanan itu dibutuhkan agar umat Kristiani tidak berimajinasi sesuai pikirannya sendiri, tetapi meniru teladan orang-orang yang telah meneladani Kristus. Lewat teladan kehidupan Gembala Sidang, lewat teladan kehidupan pemimpin, guru-guru dan meraka orang-orang yang telah menunjukan kehidupan yang baik, mulia dan tidak berpura-pura, lewat merekalah kita belajar meneladani kehidupan Kristus. Teladan yang nyata dan dapat kita lihat.

Saat saya mengajarkan anak saya untuk menepati janji, mengajarkan alasan dan apa yang dikatakan Alkitab. Mereka bukan belajar dari apa yang saya katakan tetapi belajar dari apa yang saya perbuat. Saat saya berjanji atau menjanjikan sesuatu, mereka berdua melihat bagaimana saya menepatinya atau tidak dan lewat contoh hidup itulah mereka belajar meniru apa yang telah saya ajarkan kepada mereka.

Proses pemuridan yang diajarkan oleh Kristus adalah proses meneladani dan diteladani. Saat kita belajar dari keteladanan para pemimpin kita, maka kita juga diajar untuk menjadi teladan bagi orang-orang disekitar kita.

Keteladan tidak ditentukan apakah seorang harus berusia lebih tua, atau lebih berkedudukan dalam masyarakat atau seorang yang telah lama menjadi Kristen, tetapi berdasarkan kesaksian hidup kita.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. [1 Timotius 4:12]

Paulus meniru teladan Yesus, Timotius meniru teladan Paulus dan jemaat di Efesus meneladai Timotius. Demikian juga kita belajar tentang bagaimana hidup sesuai Firman Tuhan menjadi serupa dengan Kristus lewat meneladani dan diteladani. Karena itu marilah kita belajar untuk menjaga diri kita dan ajaran kita agar kita dapat menjadi teladan bagi dunia ini (1 Timotius 4:16).

Bagaimana caranya kita menjadi teladan?

Pertama adalah meninggalkan hidup dosa

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. [Ibrani 12:1]

Hidup kita bagaikan awan yang mengelilingi kita, ada banyak mata melihat dan memperhatikan bagaimana kita hidup sebagai murid Kristus. Saat kita mengaku Kristen dan mengenal hukum-hukum Allah tetapi hidup sebagai seteru salib, tentu orang-orang yang ada disekitar kita akan melihat dan mereka akan menghinakan Allah karena perbuatan kita (Roma 2:21-24). Jika demikian dapatkah kita menjadi teladan bagi mereka?

Menyadari bahwa mau tidak mau kita adalah teladan bagi sekeliling kita adalah permulaan hidup menjadi teladan. Penghalang pertama adalah beban dan dosa yang membuat kita tidak dapat menunjukan pribadi Kristus pada dunia, khususnya pada orang-orang disekitar kita. Tinggalkan beban dan dosa, mari kita memulai hidup kudus didalam Kristus dan menjadikan diri kita teladan bagi dunia.

Kedua adalah buang ragi kemunafikan

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. [Lukas 12:1]

Ragi itu mengkamirkan adonan kata 1 Korintus 5:6, sedikit saja telah membuat seluruh hidup ini menjadi rusak. Yesus memperingati agar kita jangan munafik seperti orang Farisi. Orang Farisi adalah golongan Yahudi yang mentaati Taurat lebih dari golongan Yahudi lainnya dengan keras dan disiplin (Kisah Rasul 26:5), tetapi apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah kemunafikan dari kehidupan mereka yang sebenarnya. Yesus katakan seperti kuburan yang bagus dari luar dengan cat yang bersih tetapi dalamnya tulang belulang dan mayat busuk (Matius 23:27).

Didalam komunitas orang beriman, kita dituntut untuk hidup kudus dan bertumbuh dalam kerohaniaan. Jika didalam dunia status sosial seseorang dinyatakan dari kekayaan, gelar dan kedudukannya, maka didalam komunitas orang beriman adalah kekudusan, pertumbuhan rohani dan pengertiannya. Karena tuntutan status kerohanian inilah juga yang membuat orang beriman dapat menjadi munafik (kemunafikan orang Farisi). Sedikit saja kita telah berpura-pura kuat, kudus dan tanpa cacat cela, maka seluruh hidup kita menjadi rusak (khamir) oleh kemunafikan tesebut.

Pada saat itu, kita dapat memberikan teladan hanya didepan orang, hanya saat digereja atau dipertemuan ibadah saja, selebihnya didalam kehidupan pribadi, dirumah, didalam kamar, dikantor dan ditempat-tempat dimana saudara seiman tidak tampak, kita hidup didalam kelemahan daging. Suatu saat, seperti yang dikatakan Ibrani 12:1, kemunafikan akan tampak karena sesungguhnya bukan hanya saudara seiman saya yang melihat dan meneladani hidup, tetapi juga orang-orang disekitar kita (1 Petrus 2:12).

Seorang yang munafik tidak mungkin dapat menjadi teladan bagi sekitarnya, walau tampaknya sangat alim atau rohani, tetapi kebusukannya akan segara tampak sebab menjadi teladan itu adalah atas seluruh hidupnya.

Ketiga adalah hidup didalam integritas

He who walks with integrity walks securely, But he who perverts his ways will become known. [Amsal 10:9 NKJV]

The man of integrity walks securely, but he who takes crooked paths will be found out. [Amsal 10:9 NIV]

Terjemahan ayat (NKJV) tersebut adalah, “Dia yang berjalan dengan integritas berjalan aman, Tapi dia yang penyimpang jalannya akan diketahui.” sedang dalam NIV disebut “…tapi dia yang mengambil jalan bengkok akan diketahui.”

Kata “integrity” dalam kamus memiliki arti ketulusan hati, kejujuran, keutuhan dan integritas. Kesemuannya memiliki pengertian yang sama yaitu sesuatu yang utuh, tidak ada kepalsuan baik dari luar maupun dalam tanpa ada yang disembunyikan menjadi sesuatu yang dapat dilihat secara lengkap dan penuh. Kata yang panjang itu disingkat dengan kata integritas.

Didalam Alkitab TB, kata tersebut dituliskan, “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” Kata Ibrani תם (baca: tom) yang artinya integrity diterjemahkan dengan bersih kelakuannya, tetapi jika kita melihat dari terjemahan lain maka kita tahu kata itu bukan sekedar bersih kelakuan saja tetapi tentang keutuhan pribadi. Bukan hanya bersih dari luarnya saja tetapi juga didalamnya.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. [Matius 23:25-26]

Hidup didalam integritas adalah syarat yang harus ada agar hidup kita dapat menjadi teladan bagi sekitar kita. Kita siap untuk dituru dan diikuti secara utuh seluruh hidup kita, baik perkataan, tingkah laku, iman, pengharapan, kasih, kesetiaan, kesucian dan ketulusan hati kita.

Keempat adalah berpegang teguh pada pengajaran

Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. [Ibrani 3:14]

Firman Tuhan yang telah kita dengar, kita baca dan kita percayai, haruslah kita pegang teguh sampai kepada akhir. Tidak mudah diombang ambingkan dengan segala macam hiruk-pikuk dunia ini (Efesus 4:13-15). Pada saat pendirian kita teguh, maka kita melangkah, memutuskan dan bertindak juga dengan yakin dan tanpa keraguan. Karena itulah kita perlu berakar didalam Firman Tuhan, sehingga kita memiliki pondasi iman yang kuat.

Menjadi taladan haruslah memiliki prinsip hidup yang kokoh. Memiliki panduan yang jelas bagaimana kita menjalankan hidup ini dan tidak mudah dihasut dan dipengaruhi oleh bujukan duniawi dan illah jaman ini.

Saat kita kokoh pada prinsip hidup sesuai Firman Tuhan, maka timbulah kebiasan-kebiasaan yang menjadi teladan bagi orang disekitar kita. Didalam 1 Korintus 11:2, dituliskan “Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.” Jika kita melihat dalam NKJV atau KJV maka didapati disana kata “teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu” dituliskan “keep the traditions just as I delivered them to you.” Kata ajaran diperjelas gambarannya sebagai sebuah tradisi atau kebiasaan (ordinance) sebab kata itu berasal dari kata παραδοσις (baca: paradosis) yang artinya ajaran yang diajarkan sebagai tradisi. Jika kita baca ayat diatasnya 1 Korintus 11:1 yang tadi kita telah baca, maka jelas bahwa Paulus mengatakan ikutlah teladanku seperti aku mengikut teladan Kristus adalah tentang kebiasaan-kebiasaan hidup sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga menjadi sebuah tradisi kekristenan atau lebih sempit sebagai tradisi kita didalam menjalani hidup didunia ini.

Karena itu didalam menjadi teladan, kita tidak hanya membaca dan belajar Firman Tuhan tetapi menjadikan Firman Tuhan itu sebagai tradisi kehidupan kita sehingga orang-orang melihat kehidupan kita adalah kehidupan Kristus yang dapat diteladani.

Saat kita mengetahui bahwa kita seharusnya mengucap syukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, maka kita meneladani orang-orang yang telah dahulu dengan berdoa mengucap syukur pada saat makan. Sehingga saat ini adalah sebuah kebiasaan orang Kristen untuk mengucap syukur saat kita hendak makan. Kebiasaan ini saya ajarkan kepada kedua anak saya dengan disertai dasar Firman Tuhan yang mendasari perbuatan tersebut. Saat mereka terkadang lupa berdoa, mereka melihat teladan dari saya dan isteri saya sehingga mereka tidak ada bantahan untuk tetap berdoa dimana saja baik dirumah, didepan umum maupun di tempat ia sendirian. Ini adalah bagian dari pemuridan yang diajaran oleh Kristus.

Kelima adalah membiasakan melawan keinginan sendiri

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. [Matius 16:24]

Didalam Lukas 14:27, disebutkan kalau kita tidak melakukan hal itu maka kita tidak dapat menjadi murid Kristus, sebab seorang murid harus meneladani apa yang dilakukan oleh gurunya yang menjadi tutor dalam menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah.

Menyangkal diri adalah sikap dimana kita tidak menuruti kemauan diri sendiri yang lahir dari hawa nafsu daging ini. Setiap hari kita harus melawan keinginan daging ini sehingga kita tidak menuruti nafsunya yang membawa kita kepada dosa. Memang terkadang belum disebut dosa, tetapi telah mengandung dosa yang tidak lama akan menjadi dosa. Karena itu mulai dari pikiran kita harus menaklukannya pada kehendak Kristus (Filipi 2:5, 2 Korintus 10:5).

Memikul salib, adalah kelanjutan dari menyangkal diri. Setelah kita tidak menuruti kemauan hawa nafsu kita, maka akan timbul perlawanan dari daging ini yang berupa gejolak hati dan untuk itulah kita harus salibkan daging ini (1 Petrus 4:1). Maksudnya bukan menyalibkan secara jasmani tubuh kita, tetapi merelakan diri menanggung penderitaan seperti seorang yang tersalib dengan menolak keinginan hawa nafsu tubuh ini.

Saat saya melihat teman-teman disekitar saya dalam waktu yang hampir bersamaan mereka mengganti handphone mereka dengan type yang terbaru dan termuktahir, maka timbul dari dalam diri saya keinginan juga mengganti handphone saya yang juga masih belum bisa dibilang kuno dengan model lebih baru dari mereka dan lebih muktahir dan lebih bergaya. Tetapi saya sadar keinginan itu lahir dari hawa nafsu daging yaitu keangkuhan hidup sebab yang saya miliki masih berfungsi baik dan mencukupi semua kebutuhan. Saya dapat membeli handphone idaman saat itu juga, tetapi Roh Kudus mengingatkan saya dan saya memilih menyangkal keinginan saya tersebut dan saat bertemu teman-teman dan melihat saya masih saja pakai yang itu-itu juga, mereka mendesak saya untuk membeli yang terbaru seperti kebayakan teman-teman. Keinginan daging saya tekan dan habiskan itulah salib yang harus kita pikul, bahkan jika diejek sekalipun itu bagian dari salib yang harus kita pikul setiap hari.

Saat kita terbiasa menyalibkan daging ini, dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita maka gambaran Kristus terpancar dalam kehidupan kita dan orang-orang disekitar kita melihat dan meneladani apa yang kita ajarkan dan kita lakukan sebagai contoh hidup.

Keenam adalah rela berbagi hidup

Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. [1 Tesalonika 2:8]

Bukan hanya kita menyampaikan kabar baik, mengajarkan hukum-hukum Allah dan apa yang berkenan kepadaNya, tetapi juga kita memberi hidup kita bagi mereka. Proses pemuridan terjadi jika kita berani membagi hidup kita kepada orang-orang yang ada disekitar kita. Mengorbankan waktu-waktu kita bagi mereka dan memberikan apa yang ada pada kita bagi pertumbuhan kerohanian mereka. Bagian ini memang merupakan yang tersulit.

Tidak mudah seorang membagikan hidupnya bagi orang lain. Tetapi sebagai murid Kristus dimana kita juga dituntut untuk memuridkan orang lain, didalamnya terdapat proses peneladanan dan untuk menjadi teladan tidak bisa tidak terlepas dari rela berbagi hidup dengan mereka.

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. [Filipi 2:3-4] Lihat juga 1 Korintus 10:24

Kita harus menganggap orang lain lebih penting dari kita, jika kita dapat melakukan hal itu, maka kita dapat juga menjadi teladan yang meneladani kehidupan Kristus. Jika kita menganggap orang lain lebih penting, maka kita akan melayani orang penting tersebut bukan sebaliknya kita merasa lebih penting dan menuntut dilayani dan difasilitasi. Perbuatan itu walau tampak wajar bagi orang dunia saat seorang yang berkedudukan dilayani, tetapi ia tidak memancarkan pribadi Kristus yang dapat kita teladani.

Ketujuh adalah milikilah kasih yang terus disempurnakan

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. [1 Korintus 13:3]

Terakhir adalah kasih. Tanpa kasih kita dapat menjadi teladan, dapat berbagi hidup dan menampilkan sikap, perbuatan dan tindakan yang terpuji, mulia dan diperkenan banyak orang, tetapi tanpa kasih semua itu sia-sia. Kasih Allah yang harus mendasari semua perbuatan kita.

Kasih akan timbul dan semakin kuat jika kita hidup didalam Roh, karena kasih merupakan bagian dari buah yang dihasilan oleh Roh Kudus (Galatia 5:22-23) dan sebagai tanda bagi kita (1 Yohanes 3:10). Semakin kita menjauhkan kedagingan dan mematikan keinginannya, serta hidup didalam pimpinan Roh Kudus maka kasih itu akan semakin tampak dan kita siap menjadi teladan dan meneladani orang-orang yang menjadi pendahulu kita.

Milikilah kasih dan bertumbulah dalam kasih Allah, karena kasih itu kekal.

Penutup

Demikian kita telah tahu bagaimana kita belajar meneladani orang-orang yang menjadi mentor atau pemimpin kita dan juga kita belajar menjadi teladan buat orang-orang disekitar kita, khususnya orang dekat kita.

Mulai saat ini, mari kita mengenapi ketujuh syarat tersebut dan biarlah terang Kristus bercahaya dalam setiap kehidupan orang beriman didalam teladan yang baik yang harus kita ajarkan kepada dunia.

Catatan :
Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan arti kata: te·la·dan n sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tt perbuatan, kelakuan, sifat, dsb). Berbeda dengan arti kata imitasi didalam kehidupan sosial, arti kata imitasi adalah meniru seseorang secara keseluruhan termasuk gaya berjalan, bicara, baju, permen kesukaan dan bahkan potongan rambutnya. KBBI menulis arti meng·i·mi·ta·si v meniru: anak-anak bisa ~ perilaku, tetapi tidak bisa memahami makna sebenarnya. Sehingga maksud dari kata teladan bukan meniru segalanya secara keseluruhan dari pemimpin, gembala sidang ataupun tokoh agama yang menjadi teladan kita.

GBU

Advertisements
h1

Godaan Bait Allah

3 May 2008

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

Matius 4:5-7

DIATAS ATAP BAIT ALLAH

Bait AllahTuhan Yesus sebelum memulai pelayananNya, Ia berpuasa di padang gurun selama 40 hari, dan Ia digoda oleh Iblis dengan tiga macam godaan. Salah satunya adalah digoda untuk menjatuhkan diri dari Bait Allah.

Jika kita melihat dua godaan lainnya, maka kita dapat melihat ada yang berbeda dengan satu ini. Dimana saat Yesus lapar, Ia digoda untuk memakan roti dan disaat dilihatkan kerajaan dunia dan gemerlapnya, Ia digoda dengan segala kemulyaan dan kemewahan duniawi. Dua godaan ini sering kali juga dilontarkan oleh Iblis kepada kita. Tetapi godaan tentang menjatuhkan diri dari Bait Allah terlihat paling lain sendiri.

Tidak ada tawaran yang diberikan oleh Iblis dalam menggoda Yesus diatas atap Bait Allah. Iblis hanya menantangNya untuk menjatuhkan diri dari atap Bait Allah. Secara logika, siapa mau menjatuhkan diri dari atas atap. Apa yang didapatkan? Godaan Iblis macam apa itu, kelihatannya kok tidak bermutu.

Apakah itu dapat disebut sebuah godaan?

Banyak orang kristen tidaksadar dan terjebak pada godaan ini. Iblis tidak membawa Yesus berada dipuncak suatu gunung atau diatas dahan pohon tertinggi, atau diatas menara, tetapi Iblis membawa Yesus keatap Bait Allah. Bait Allah, bukan istana, Iblis rupanya juga cukup rohani, memilih Bait Allah. Alkitab menulis hal ini sebagai peringatan bagi kita, bahwa Iblis juga akan menggoda kita didalam kehidupan rohani kita.

Memang benar ada tertulis, sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. (Mazmur 91:11-12), dan Iblis telah menantang Tuhan Yesus untuk membuktikan ayat tersebut. Hal yang penting adalah dimana Iblis telah membawa Yesus yaitu di atap Bait Allah. Tempat dimana orang Israel berkumpul dan para imam, ahli Taurat dan orang Farisi berkumpul dibawanya.

Jika Yesus menerima tantangan tersebut, maka yang hendak dibuktikan bukan kebenaran Firman Tuhan lagi, melainkan kesombongan manusia, seperti mencari hormat dan pujian dihadapan segenap rohaniwan, orang-orang yang berada di bawah Bait Allah.

Dengan lembut tantangan tersebut ditolak oleh Tuhan Yesus dengan mengatakan bahwa benar ada ayat tersebut, tetapi ada ayat lain yang mengatakan, “jangan kita mencobai Tuhan Allah kita”. Karena Tuhan tahu apa yang ada didalam hati manusia dan Allah tidak dapat didustai dengan dalih rohani untuk kemulyaan manusia, untuk mencari hormat dan pujian bagi diri sendiri.

Godaan akan kesombongan rohani, adalah godaan yang berbahaya, yang hanya dapat dinilai atau dilihat dari hati manusia itu sendiri. Orang lain siapa yang dapat mengetahui isi hati kita? Godaan kesombongan rohani ini juga merupakan salah satu bagian dari tiga macam godaan Iblis yang sering dilontarkan kepada anak-anak Allah. Waspadalah!

DIDALAM GEREJA TUHAN

Didalam komunitas gereja, juga sama seperti komunitas diluar gereja. Mereka berinteraksi satu sama lain dalam sebuah komunitas. Didalam sebuah komunitas terdapat nilai-nilai akan perkara baik dan buruk, demikian juga didalam gereja, secara tidak sadar masyarakat gereja menilai setiap orang apakah ia rohani atau tidak. apakah ia dipakai Allah atau tidak, apakah ia orang besar atau orang kecil didalam pelayanannya.

Godaan yang dilontarkan diatas atap Bait Allah kepada Yesus, juga akan dialami oleh anak-anak Allah yang lainnya. “Buktikan kalau kamu memang seorang yang rohani” demikian kira-kira kalimat Iblis kepada kita diatas Bait Allah. Dan hari ini kita melihat serentetan orang-orang Kristen yang hidup munafik. Hidup sok rohani, sok penting. Bahkan lebih dari itu, banyak orang yang merasa lebih hebat dari pada yang lainnya dalam kehidupan rohaninya. Mereka telah digoda untuk melompat dari atas Biat Allah.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Matius 5:20)

Ahli taurat hanya tampil rohani dari luar saja (Matius 23:25-28), menjadi masyarakat kelas satu dan menuntut hormat dan pujian dari ibadahnya. Firman Tuhan katakan, kalau ibadah kita sama, maka kita tidak akan diselamatkan.

Tuhan menuntut perbuatan yang lahir dari hati yang suci (Matius 23:26), bukan hanya tampak perbuatannya saja. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi egois hanya memikirkan baik untuk diri sendiri, tetapi Tuhan ingin kita menganggap yang lain lebih utama. Kehidupan rohani seorang kristen adalah melayani, bukan dilayani dan dihormati (Matius 20:28).

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:3-4)

Kita tidak boleh merasa lebih penting dan utama dari pada orang-orang lain. Kita menjadi pengikut Kristus, bukan menjadi tuan bagi saudara-saudara kita, tetapi kita menjadi pelayan bagi mereka (Lukas 22:25-27). Mungkin kita seharusnya belajar menjadi lebih baik dari pembantu rumah tangga kita didalam melayani satu sama lain. Dunia telah memutar nilai kehidupan kekristenan, seorang yang dianggap lebih rohani, maka ia lebih dihormati dan mendapat hak-hak istimewa didalam komunitas gereja, bukan sebagai pelayan tetapi sebagai seseorang yang wajib dilayani walau ia menyandang gelar “pelayan”.

Kesombongan rohani adalah tipu daya Iblis. Kehormatan dan nama besar didalam komunitas gereja adalah sebuah kesia-siaan dan jerat Iblis. Kursi-kursi kehormatan, gelar-gelar manusia, pujian kosong dan sebagainya adalah tipu daya. Tetapi ternyata tidak kurang orang bodoh di dalam gereja yang mau juga disuruh Iblis menjatuhkan diri diatas atap Bait Allah tanpa mendapat imbalan apa-apa dari Iblis.

Kesombongan rohani dapat muncul karena :

  1. Pernyataan kuasa Allah. Seperti menyembuhkan orang sakit, nubuat, mengusir setan dan lain-lainnya. Hal-hal ini dapat menyeret seorang anak Allah, berlaku bodoh menjatuhkan diri diatas Bait Allah hanya untuk menunjukan kepada seluruh orang yang ada dipelataran Bait Allah bahwa malaikat akan menopangnya.Mereka yang menjatuhkan diri akan menerima segala pujian manusia, menerima penghormatan manusia bahkan hadiah berlebih-lebih yang mewah dari banyak orang. Diterimanya semua sebagai haknya dan lupa dirinya adalah hamba melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya, atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? seolah-olah gada menggerakkan orang yang mengangkatnya, dan seolah-olah tongkat mengangkat orangnya yang bukan kayu! Sebab itu Tuhan, TUHAN semesta alam, akan membuat orang-orangnya yang tegap menjadi kurus kering, dan segala kekayaannya akan dibakar habis, dengan api yang menyala-nyala. (Yesaya 10:15-16)

    Banyak kisah dimana anak-anak Allah yang dipakai melayani dengan pernyataan kuasa Allah yang luar biasa akhirnya “terjatuh dari atap” dan Allah meninggalkannya. Apakah dikira Allah bodoh dan dapat dipermaikan? Allah tidak dapat dicobai, seperti yang terjadi pada Simson, dikiranya seperti sudah-sudah ia dapat melepaskan diri tetapi nyatanya Allah telah minggalkannya.

  2. Kesombongan karena mengerti lebih. Mengerti Firman Tuhan lebih dari yang lainnya (menurut sangkanya sendiri), ternyata juga dapat menjadikan seseorang itu menjadi sombong rohani. Tentang daging persembahan berhala kita tahu: “kita semua mempunyai pengetahuan.” Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. (1 Korintus 8:1).

    Banyak orang kristen akhir-akhir ini sering saling menyerang aliran satu dengan yang lain dengan segala ilmu Theologianya. Serentet gelar terpampang didepan namanya, mereka seakan lebih benar dari aliran-aliran lainnya. Seakan Allah hanya berbicara kepada mereka saja, sementara kepada aliran kristen lainnya, Allah tidak berbicara. Hal-hal ini lahir dari kesombogan rohani akan pengetahuan manusia yang terbatas, akan segala ilmu Theologia yang kosong, yang hanya digunakan untuk menyerang dan menyalahkan orang.

    Tentang pengetahuan, 1 Korintus 8:2-3, menjelaskan : Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu “pengetahuan”, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.Sebab pengetahuan dan hikmat itu dari Allah bukan dari kepandaian atau usaha manusia (Amsal 2:6). Sedangkan pengetahuan itu sendiri Allah tidak memberikan lengkap kepada kita (1 Korintus 3:9, Ulangan 29:29).

    Jangan kita saling menyalahkan dan membenarkan diri dengan pengetahuan kita akan Firman Tuhan, tetapi mari kita saling melengkapi, saling menguatkan, menghibur, mengajar, menegur dan membangun dengan pengetahuan yang telah diberikan kepada kita. Jika panas hati timbul dan pertengakaran dan debat dan pertikaian datang maka anda telah memutuskan untuk lompat dari atas Bait Allah. Apa yang ingin anda buktikan? Kebenaran Firman Tuhan atau diri anda sendiri?

  3. Keahlian didalam pelayanan, seperti suara merdu, memainkan musik dengan luar biasa, pandai presentasi, pandai berbicara, kotbah dan lain-lainnya. Keahlian-keahlian yang Tuhan berikan sering kali menjadi berarti didalam organisasi gereja, sehingga menjadikan mereka yang memiliki keahlian tersebut ditempatkan pada posisi yang penting dalam komunitas tersebut.

    Penting bagi manusia tidak berarti penting bagi Allah. Bahkan Firman Tuhan mengatakan apa yang dikagumi manusia itu dibenci oleh Allah (Lukas 16:15). Keahlian tersebut dapat membutakan mata kita dan dapat membuat kita bertindak bodoh dengan mendengarkan godaan Iblis untuk menjatuhkan diri diatas Bait Allah. Jangan mengejar pujian, penghormatan dan ingin diistimewakan didalam gereja, sebab itu samua adalah milik Allah.

Demikian kita semua, sebagai anak-anak Allah, baiklah kita belajar dari catatan godaan yang dilakukan oleh Iblis kepada Tuhan Yesus Kristus di padang gurun. Salah satunya adalah godaan untuk menjatuhkan diri dari atap Bait Allah, sesuatu kesombongan rohani. Hanya orang bodoh yang mau melompat dari atas atap. Tetapi godaan sekonyol itu telah menewaskan banyak anak-anak Allah.

Walaupun pernyataan Allah luar biasa didalam kehidupan kita, didalam pelayanan kita, kita harus selalu ingat bahwa semua itu bukan perkara yang penting, sebab yang terpenting dari semuanya bukan kehebatan kita dalam perkara rohani tetapi apakah kita diselamatkan atau tidak. Matius 7:21-23 dengan jelas menuliskan bahwa di akhir zaman, banyak orang yang melayani dengan kuasa yang luar biasa dan dengan hebohnya, malah mereka ditolak dari hadapan Tuhan. Kesombongan spiritual dapat membuat kita terlena dengan pujian dan penghormatan manusia akan perkara-perkara rohani.

“Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” (Lukas 10:19-20)

Mulai saat ini waspadalah terhadap segala kesombongan rohani. Kebesaran yang diberikan oleh manusia, pujian yang diucapkan oleh manusia dan segala hormat yang diterima karena perkara-perkara rohani yang ada dalam diri kita adalah perkara yang sia-sia. Semua itu adalah tipu daya Iblis. Jangan kita jatuh karenanya. Sementara pernyataan yang luar biasa dari Allah dalam hidup dan pelayanan kita, bukan jaminan nama kita tercatat dalam Kerajaan Surga.

Seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan mengusir Iblis yang menggodaNya (Matius 4:10), demikian juga yang dilakukan oleh Paulus saat Iblis melantunkan pujian rohani kepadanya (Kisah Rasul 16:17-18), kita juga sebaiknya meniru teladan tersebut agar kita tidak jatuh karena kesombongan rohani.

Akhir kata saya mengutip 1 Korintus 9:27 yang berkata: Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Salam.

Leonardi


Top Blogs

h1

Tampil Apa Adanya

1 April 2008

Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku. (1 Korintus 2:12:6)

Tepeng CantikSebagai seorang pengikut Kristus, sudah sepantasnya kita berani tampil apa adanya. Tidak menutup-nutupi kekurangan kita, tidak mengelabui orang-orang disekitar kita dengan hal-hal yang “bukan diri kita”. Berani menyatakan dan menerima apa keadaan diri kita sendiri.

Sepintas, mereka yang membaca kalimat tersebut merasa bahwa itu hanya bagi mereka yang minder, mereka yang cacat atau mereka yang munafik. Tetapi hari ini kita belajar melihat diri kita sendiri, mari sejenak kita merenungkan dan mengenali prilaku diri kita sendiri, mengingat kembali segela sesuatu. Mengingat apakah kita telah berani menyatakan diri kita sendiri kepada orang banyak apa adanya, atau kita masih memakai topeng-topeng didalam kehidupan ini.

Didalam kesibukan sehari-hari, padatnya jadwal dan banyaknya pekerjaan, kita sering kali menjadi lalai untuk memperhatikan hidup ini agar selalu sesuai Firman Tuhan. Seiring waktu, tanpa kita sadari, tahu-tahu kita telah memenggunakan topeng-topeng didalam kehidupan ini untuk tampil lebih dari sebenarnya dihadapan banyak orang. Mungkin kita tidak mengharapkan demikian, tetapi kesibukan sehari-hari telah menjadikan kita lalai dan berlaku munafik, seperti yang dialami pula oleh rasul Petrus saat di Antiokia (Galatia 2:11-14).

Karena itulah Raja Daud menasihati dalam Mazmur 139:23-24, agar kita selalu memeriksa diri sendiri, yang seharusnya merupakan kegiatan yang rutin, bukan sebulan atau setahun sekali, dan juga bukan sebuah meditasi menenangkan batin, tetapi sejenak memeriksa hidup kita, melihat apakah kita telah hidup sesuai FirmanNya atau telah menyimpang dari kehedak Allah?

Saat anda memeriksa diri, merenungkan kehidupan anda sendiri, dan hari ini anda merasakan masih terbeban dengan kepura-puraan, menutupi kekurangan atau kesalahan dan berlagak ini dan itu, maka sebenarnya kita belum tampil apa adanya. Kita sebenarnya masih dibebani dengan keangkuhan hidup. Kita mengharapkan orang lain menilai kita lebih dari sebenarnya tentang kita. Apakah sebenarnya yang kita megahkan?

Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. (Yakobus 4:16)

Beberapa waktu lalu, istri saya bercerita tentang seseorang yang menegur mama mertua saya yang menyaksikan suatu yang buruk yang telah dilakukan istri saya dan kemudian sadar dan bertobat didalam sebuah kesempatan memberitakan Firman Tuhan. Mereka mengatakan, mengapa keburukan anak sendiri diceritakan kepada orang-orang?

Bagi saya dan istri saya, apa yang telah kita jalani dan segala kesalahan dan keburukan tidaklah perlu ditutup-tutupi, apalagi menjadi kesaksian dan pelajaran bagi orang lain. Jika baik ya baik, jika buruk, ya buruk, dan kita akan menjadikan yang buruk itu baik, karena kita semua belum sempuran dan masih diolah didalam banyak hal untuk menjadi serupa dengan Kristus (Kolose 3:9-10).

Tidak perlu malu dalam keadaan lemah, kekurangan bahkan kesalahan, sebab untuk itulah Kristus datang. Tetapi saat kita berusaha menutupi banyak hal dan menyembunyikan banyak kekurangan, maka kita telah memberi hambatan bagi diri kita sendiri dalam mengenal Kristus dan menjadi serupa denganNya. Jangan kita membodohi diri kita sendiri, mari kita tinggalkan semua tipu daya “keangkuhan hidup” tersebut.

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (Ibrani 12:1-2)

Tampil apa adanya, merupakan suatu sikap atau pernyataan iman, akan karya penebusan Kristus. Saat kita berani tampil adanya, pada saat itulah karya Allah akan bekerja didalam hidup kita, didalam segala sesuatu yang kita hadapi

Baiklah mulai hari ini kita belajar jujur kepada diri kita sendiri, berani menyatakan diri apa adanya kepada orang banyak. Seperti apakah kita ini sebenarnya… apakah kita telah mencerminkan kehidupan Kristus atau kita telah jauh dari ceriman Kristus tanpa topeng-topeng tersebut?

Salam dalam Kasih Kristus,
Leonardi

Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN. (Ratapan 3:40)

Top Blogs