Posts Tagged ‘renungan’

h1

Ikutlah Teladan

12 November 2010

Filipi 3:17
Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk mengikuti teladan sebagai bagian dari Amanat Agung yang dikatakan Kristus “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." [Matius 28:19-20]. Perintah “ajarlah mereka melakukan” tidak hanya dilakukan lewat pemberitaan Firman Tuhan, tetapi juga disertai dengan teladan hidup.

Serang teman yang memiliki usaha interior design dan exhibition contractor yang berkembang pesat, ia menceritakan bahwa untuk membuat sebuah bentuk sesuai dengan gambar dibutuhkan tukang yang cakap dan trampil. Ia melatih tukang-tukangnya agar sesuai dengan standartnya bukan hanya dengan mengajarkan caranya membuat, tetapi juga memberi contoh kepada mereka. Diceritakan pula kiatnya, bahwa ada empat tahap dalam melatih tukangnya. Pertama adalah “saya mengerjakan, kamu melihat”, kedua adalah “saya mengerjakan, kamu membantu”, ketiga adalah “kamu mengerjakan, saya membantu” dan terakhir “kamu mengerjakan, saya melihat”. Lewat cara seperti itulah maka tukang-tukangnya dapat mengerjakan seperti yang dikehendakinya.

Proses belajar lewat meneladani bukan sesuatu yang baru, tetapi jarang dipraktekan dalam kehidupan nyata. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya orang-orang yang menjadi tutor atau teladan yang bukan hanya pandai menjelaskan tetapi juga melakukan apa yang dijelaskannya. Didalam ilmu management, dalam beberapa tahun belakangan ini pola pelatihan seperti ini mulai marak dan semakin diminati. Mereka menyebutnya Coaching. Buku tentang Coaching dalam management yang ditulis oleh McLeod, Angus tahun 2003 telah menarik perhatian banyak perusahaan dan sampai hari ini banyak bertumbuh pelatihan management dengan basis Coaching. Pelatihan dengan teladan atau tutor ini sebenarnya sudah muncul sekitar tahun 1830 di Oxford University. Setahun kemudian cara ini diterapkan dalam bidang olahraga, dimana pelatih melatih dengan tutor sehingga murid dapat melihat dan mempraktekan seperti yang diajarkan oleh pelatihnya sampai hari ini. Baru beberapa tahun belakangan ini Coaching diterapkan dalam berbagai bidang dan banyak dibicarakan orang.

Kembali didalam Amanat Agung, Kristus memerintahkan murid-muridNya untuk memuridkan segala bangsa. Proses ini bukan terjadi dalam bentuk pendidikan atau pemberitaan Firman Tuhan saja, tetapi proses pemuridan dilakukan melalu teladan hidup para rasul yang kemudian diteruskan kepada murid-murindnya dan kepada murindnya dan seterusnya. Saat kita mendengar Firman Tuhan dan memahami perintah Allah, kendala yang dihadapi adalah bagaimana melakukannya. Dibutuhkan seorang tutor atau teladan untuk menunjukan seperti apa bentuk mentaati Firman TUhan, seperti apa yang harus kita lakukan sesuai Firman Tuhan.

Kita semua tahu akan kata-kata Yesus yang beriku ini, “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” [Yohanes 13:15]. Juga dalam 1 Yohanes 2:6 dimana kita harus hidup sama seperti Kristus hidup, atau dalam Efesus 4:13 dimana kita semua harus bertumbuh sampai menjadi serupa dengan Kristus. Tetapi persoalannya seperti apakah menjadi seperti Yesus? Bagaimana kita tahu apa yang diperbuat Yesus saat menghadapi masalah seperti yang aku hadapi saat ini? Kita tidak melihat Yesus tetapi kita hanya membaca tulisan dan pengajaran Yesus yang ada didalam Alkitab saja. Bagaimana kita bisa menjadi seperti Kristus jika kita tidak melihat teladan hidup yang memberikan tutor kepada kita seperti yang dikatakan oleh Paulus.

Hendaklah kamu menurut teladanku, seperti aku pun menurut teladan Kristus. [1 Korintus 11:1 TL]

Didalam membaca Alkitab dan mengenal dan memahami apa yang diperkenan oleh Allah dan apa yang harus dilakukan seperti Kristus, tidak semua dapat dengan mudah memahaminya. Beberapa orang mungkin kesulitan, beberapa lagi dari mereka telah melewati masa-masa pengolahan dan dapat menjadi teladan, lewat merekalah kita semua belajar menjadi sama seperti Kristus. Menjadi seperti Kristus bukan berarti kita mengimajinasikan Yesus didalam angan-angan dan membayangkan dalam pikiran kita apa yang akan diperbuatNya, tetapi kita tahu apa yang diajarkanNya bukan dari imajinasi kita tetapi dari Firman Tuhan. Disinilah keteladanan itu dibutuhkan agar umat Kristiani tidak berimajinasi sesuai pikirannya sendiri, tetapi meniru teladan orang-orang yang telah meneladani Kristus. Lewat teladan kehidupan Gembala Sidang, lewat teladan kehidupan pemimpin, guru-guru dan meraka orang-orang yang telah menunjukan kehidupan yang baik, mulia dan tidak berpura-pura, lewat merekalah kita belajar meneladani kehidupan Kristus. Teladan yang nyata dan dapat kita lihat.

Saat saya mengajarkan anak saya untuk menepati janji, mengajarkan alasan dan apa yang dikatakan Alkitab. Mereka bukan belajar dari apa yang saya katakan tetapi belajar dari apa yang saya perbuat. Saat saya berjanji atau menjanjikan sesuatu, mereka berdua melihat bagaimana saya menepatinya atau tidak dan lewat contoh hidup itulah mereka belajar meniru apa yang telah saya ajarkan kepada mereka.

Proses pemuridan yang diajarkan oleh Kristus adalah proses meneladani dan diteladani. Saat kita belajar dari keteladanan para pemimpin kita, maka kita juga diajar untuk menjadi teladan bagi orang-orang disekitar kita.

Keteladan tidak ditentukan apakah seorang harus berusia lebih tua, atau lebih berkedudukan dalam masyarakat atau seorang yang telah lama menjadi Kristen, tetapi berdasarkan kesaksian hidup kita.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. [1 Timotius 4:12]

Paulus meniru teladan Yesus, Timotius meniru teladan Paulus dan jemaat di Efesus meneladai Timotius. Demikian juga kita belajar tentang bagaimana hidup sesuai Firman Tuhan menjadi serupa dengan Kristus lewat meneladani dan diteladani. Karena itu marilah kita belajar untuk menjaga diri kita dan ajaran kita agar kita dapat menjadi teladan bagi dunia ini (1 Timotius 4:16).

Bagaimana caranya kita menjadi teladan?

Pertama adalah meninggalkan hidup dosa

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. [Ibrani 12:1]

Hidup kita bagaikan awan yang mengelilingi kita, ada banyak mata melihat dan memperhatikan bagaimana kita hidup sebagai murid Kristus. Saat kita mengaku Kristen dan mengenal hukum-hukum Allah tetapi hidup sebagai seteru salib, tentu orang-orang yang ada disekitar kita akan melihat dan mereka akan menghinakan Allah karena perbuatan kita (Roma 2:21-24). Jika demikian dapatkah kita menjadi teladan bagi mereka?

Menyadari bahwa mau tidak mau kita adalah teladan bagi sekeliling kita adalah permulaan hidup menjadi teladan. Penghalang pertama adalah beban dan dosa yang membuat kita tidak dapat menunjukan pribadi Kristus pada dunia, khususnya pada orang-orang disekitar kita. Tinggalkan beban dan dosa, mari kita memulai hidup kudus didalam Kristus dan menjadikan diri kita teladan bagi dunia.

Kedua adalah buang ragi kemunafikan

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. [Lukas 12:1]

Ragi itu mengkamirkan adonan kata 1 Korintus 5:6, sedikit saja telah membuat seluruh hidup ini menjadi rusak. Yesus memperingati agar kita jangan munafik seperti orang Farisi. Orang Farisi adalah golongan Yahudi yang mentaati Taurat lebih dari golongan Yahudi lainnya dengan keras dan disiplin (Kisah Rasul 26:5), tetapi apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah kemunafikan dari kehidupan mereka yang sebenarnya. Yesus katakan seperti kuburan yang bagus dari luar dengan cat yang bersih tetapi dalamnya tulang belulang dan mayat busuk (Matius 23:27).

Didalam komunitas orang beriman, kita dituntut untuk hidup kudus dan bertumbuh dalam kerohaniaan. Jika didalam dunia status sosial seseorang dinyatakan dari kekayaan, gelar dan kedudukannya, maka didalam komunitas orang beriman adalah kekudusan, pertumbuhan rohani dan pengertiannya. Karena tuntutan status kerohanian inilah juga yang membuat orang beriman dapat menjadi munafik (kemunafikan orang Farisi). Sedikit saja kita telah berpura-pura kuat, kudus dan tanpa cacat cela, maka seluruh hidup kita menjadi rusak (khamir) oleh kemunafikan tesebut.

Pada saat itu, kita dapat memberikan teladan hanya didepan orang, hanya saat digereja atau dipertemuan ibadah saja, selebihnya didalam kehidupan pribadi, dirumah, didalam kamar, dikantor dan ditempat-tempat dimana saudara seiman tidak tampak, kita hidup didalam kelemahan daging. Suatu saat, seperti yang dikatakan Ibrani 12:1, kemunafikan akan tampak karena sesungguhnya bukan hanya saudara seiman saya yang melihat dan meneladani hidup, tetapi juga orang-orang disekitar kita (1 Petrus 2:12).

Seorang yang munafik tidak mungkin dapat menjadi teladan bagi sekitarnya, walau tampaknya sangat alim atau rohani, tetapi kebusukannya akan segara tampak sebab menjadi teladan itu adalah atas seluruh hidupnya.

Ketiga adalah hidup didalam integritas

He who walks with integrity walks securely, But he who perverts his ways will become known. [Amsal 10:9 NKJV]

The man of integrity walks securely, but he who takes crooked paths will be found out. [Amsal 10:9 NIV]

Terjemahan ayat (NKJV) tersebut adalah, “Dia yang berjalan dengan integritas berjalan aman, Tapi dia yang penyimpang jalannya akan diketahui.” sedang dalam NIV disebut “…tapi dia yang mengambil jalan bengkok akan diketahui.”

Kata “integrity” dalam kamus memiliki arti ketulusan hati, kejujuran, keutuhan dan integritas. Kesemuannya memiliki pengertian yang sama yaitu sesuatu yang utuh, tidak ada kepalsuan baik dari luar maupun dalam tanpa ada yang disembunyikan menjadi sesuatu yang dapat dilihat secara lengkap dan penuh. Kata yang panjang itu disingkat dengan kata integritas.

Didalam Alkitab TB, kata tersebut dituliskan, “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” Kata Ibrani תם (baca: tom) yang artinya integrity diterjemahkan dengan bersih kelakuannya, tetapi jika kita melihat dari terjemahan lain maka kita tahu kata itu bukan sekedar bersih kelakuan saja tetapi tentang keutuhan pribadi. Bukan hanya bersih dari luarnya saja tetapi juga didalamnya.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. [Matius 23:25-26]

Hidup didalam integritas adalah syarat yang harus ada agar hidup kita dapat menjadi teladan bagi sekitar kita. Kita siap untuk dituru dan diikuti secara utuh seluruh hidup kita, baik perkataan, tingkah laku, iman, pengharapan, kasih, kesetiaan, kesucian dan ketulusan hati kita.

Keempat adalah berpegang teguh pada pengajaran

Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. [Ibrani 3:14]

Firman Tuhan yang telah kita dengar, kita baca dan kita percayai, haruslah kita pegang teguh sampai kepada akhir. Tidak mudah diombang ambingkan dengan segala macam hiruk-pikuk dunia ini (Efesus 4:13-15). Pada saat pendirian kita teguh, maka kita melangkah, memutuskan dan bertindak juga dengan yakin dan tanpa keraguan. Karena itulah kita perlu berakar didalam Firman Tuhan, sehingga kita memiliki pondasi iman yang kuat.

Menjadi taladan haruslah memiliki prinsip hidup yang kokoh. Memiliki panduan yang jelas bagaimana kita menjalankan hidup ini dan tidak mudah dihasut dan dipengaruhi oleh bujukan duniawi dan illah jaman ini.

Saat kita kokoh pada prinsip hidup sesuai Firman Tuhan, maka timbulah kebiasan-kebiasaan yang menjadi teladan bagi orang disekitar kita. Didalam 1 Korintus 11:2, dituliskan “Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.” Jika kita melihat dalam NKJV atau KJV maka didapati disana kata “teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu” dituliskan “keep the traditions just as I delivered them to you.” Kata ajaran diperjelas gambarannya sebagai sebuah tradisi atau kebiasaan (ordinance) sebab kata itu berasal dari kata παραδοσις (baca: paradosis) yang artinya ajaran yang diajarkan sebagai tradisi. Jika kita baca ayat diatasnya 1 Korintus 11:1 yang tadi kita telah baca, maka jelas bahwa Paulus mengatakan ikutlah teladanku seperti aku mengikut teladan Kristus adalah tentang kebiasaan-kebiasaan hidup sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga menjadi sebuah tradisi kekristenan atau lebih sempit sebagai tradisi kita didalam menjalani hidup didunia ini.

Karena itu didalam menjadi teladan, kita tidak hanya membaca dan belajar Firman Tuhan tetapi menjadikan Firman Tuhan itu sebagai tradisi kehidupan kita sehingga orang-orang melihat kehidupan kita adalah kehidupan Kristus yang dapat diteladani.

Saat kita mengetahui bahwa kita seharusnya mengucap syukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, maka kita meneladani orang-orang yang telah dahulu dengan berdoa mengucap syukur pada saat makan. Sehingga saat ini adalah sebuah kebiasaan orang Kristen untuk mengucap syukur saat kita hendak makan. Kebiasaan ini saya ajarkan kepada kedua anak saya dengan disertai dasar Firman Tuhan yang mendasari perbuatan tersebut. Saat mereka terkadang lupa berdoa, mereka melihat teladan dari saya dan isteri saya sehingga mereka tidak ada bantahan untuk tetap berdoa dimana saja baik dirumah, didepan umum maupun di tempat ia sendirian. Ini adalah bagian dari pemuridan yang diajaran oleh Kristus.

Kelima adalah membiasakan melawan keinginan sendiri

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. [Matius 16:24]

Didalam Lukas 14:27, disebutkan kalau kita tidak melakukan hal itu maka kita tidak dapat menjadi murid Kristus, sebab seorang murid harus meneladani apa yang dilakukan oleh gurunya yang menjadi tutor dalam menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah.

Menyangkal diri adalah sikap dimana kita tidak menuruti kemauan diri sendiri yang lahir dari hawa nafsu daging ini. Setiap hari kita harus melawan keinginan daging ini sehingga kita tidak menuruti nafsunya yang membawa kita kepada dosa. Memang terkadang belum disebut dosa, tetapi telah mengandung dosa yang tidak lama akan menjadi dosa. Karena itu mulai dari pikiran kita harus menaklukannya pada kehendak Kristus (Filipi 2:5, 2 Korintus 10:5).

Memikul salib, adalah kelanjutan dari menyangkal diri. Setelah kita tidak menuruti kemauan hawa nafsu kita, maka akan timbul perlawanan dari daging ini yang berupa gejolak hati dan untuk itulah kita harus salibkan daging ini (1 Petrus 4:1). Maksudnya bukan menyalibkan secara jasmani tubuh kita, tetapi merelakan diri menanggung penderitaan seperti seorang yang tersalib dengan menolak keinginan hawa nafsu tubuh ini.

Saat saya melihat teman-teman disekitar saya dalam waktu yang hampir bersamaan mereka mengganti handphone mereka dengan type yang terbaru dan termuktahir, maka timbul dari dalam diri saya keinginan juga mengganti handphone saya yang juga masih belum bisa dibilang kuno dengan model lebih baru dari mereka dan lebih muktahir dan lebih bergaya. Tetapi saya sadar keinginan itu lahir dari hawa nafsu daging yaitu keangkuhan hidup sebab yang saya miliki masih berfungsi baik dan mencukupi semua kebutuhan. Saya dapat membeli handphone idaman saat itu juga, tetapi Roh Kudus mengingatkan saya dan saya memilih menyangkal keinginan saya tersebut dan saat bertemu teman-teman dan melihat saya masih saja pakai yang itu-itu juga, mereka mendesak saya untuk membeli yang terbaru seperti kebayakan teman-teman. Keinginan daging saya tekan dan habiskan itulah salib yang harus kita pikul, bahkan jika diejek sekalipun itu bagian dari salib yang harus kita pikul setiap hari.

Saat kita terbiasa menyalibkan daging ini, dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita maka gambaran Kristus terpancar dalam kehidupan kita dan orang-orang disekitar kita melihat dan meneladani apa yang kita ajarkan dan kita lakukan sebagai contoh hidup.

Keenam adalah rela berbagi hidup

Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. [1 Tesalonika 2:8]

Bukan hanya kita menyampaikan kabar baik, mengajarkan hukum-hukum Allah dan apa yang berkenan kepadaNya, tetapi juga kita memberi hidup kita bagi mereka. Proses pemuridan terjadi jika kita berani membagi hidup kita kepada orang-orang yang ada disekitar kita. Mengorbankan waktu-waktu kita bagi mereka dan memberikan apa yang ada pada kita bagi pertumbuhan kerohanian mereka. Bagian ini memang merupakan yang tersulit.

Tidak mudah seorang membagikan hidupnya bagi orang lain. Tetapi sebagai murid Kristus dimana kita juga dituntut untuk memuridkan orang lain, didalamnya terdapat proses peneladanan dan untuk menjadi teladan tidak bisa tidak terlepas dari rela berbagi hidup dengan mereka.

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. [Filipi 2:3-4] Lihat juga 1 Korintus 10:24

Kita harus menganggap orang lain lebih penting dari kita, jika kita dapat melakukan hal itu, maka kita dapat juga menjadi teladan yang meneladani kehidupan Kristus. Jika kita menganggap orang lain lebih penting, maka kita akan melayani orang penting tersebut bukan sebaliknya kita merasa lebih penting dan menuntut dilayani dan difasilitasi. Perbuatan itu walau tampak wajar bagi orang dunia saat seorang yang berkedudukan dilayani, tetapi ia tidak memancarkan pribadi Kristus yang dapat kita teladani.

Ketujuh adalah milikilah kasih yang terus disempurnakan

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. [1 Korintus 13:3]

Terakhir adalah kasih. Tanpa kasih kita dapat menjadi teladan, dapat berbagi hidup dan menampilkan sikap, perbuatan dan tindakan yang terpuji, mulia dan diperkenan banyak orang, tetapi tanpa kasih semua itu sia-sia. Kasih Allah yang harus mendasari semua perbuatan kita.

Kasih akan timbul dan semakin kuat jika kita hidup didalam Roh, karena kasih merupakan bagian dari buah yang dihasilan oleh Roh Kudus (Galatia 5:22-23) dan sebagai tanda bagi kita (1 Yohanes 3:10). Semakin kita menjauhkan kedagingan dan mematikan keinginannya, serta hidup didalam pimpinan Roh Kudus maka kasih itu akan semakin tampak dan kita siap menjadi teladan dan meneladani orang-orang yang menjadi pendahulu kita.

Milikilah kasih dan bertumbulah dalam kasih Allah, karena kasih itu kekal.

Penutup

Demikian kita telah tahu bagaimana kita belajar meneladani orang-orang yang menjadi mentor atau pemimpin kita dan juga kita belajar menjadi teladan buat orang-orang disekitar kita, khususnya orang dekat kita.

Mulai saat ini, mari kita mengenapi ketujuh syarat tersebut dan biarlah terang Kristus bercahaya dalam setiap kehidupan orang beriman didalam teladan yang baik yang harus kita ajarkan kepada dunia.

Catatan :
Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan arti kata: te·la·dan n sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tt perbuatan, kelakuan, sifat, dsb). Berbeda dengan arti kata imitasi didalam kehidupan sosial, arti kata imitasi adalah meniru seseorang secara keseluruhan termasuk gaya berjalan, bicara, baju, permen kesukaan dan bahkan potongan rambutnya. KBBI menulis arti meng·i·mi·ta·si v meniru: anak-anak bisa ~ perilaku, tetapi tidak bisa memahami makna sebenarnya. Sehingga maksud dari kata teladan bukan meniru segalanya secara keseluruhan dari pemimpin, gembala sidang ataupun tokoh agama yang menjadi teladan kita.

GBU

h1

JURUSELAMAT YANG TIDAK SEPERTI HARAPANKU

15 October 2010

 

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
[Matius 11:2-6]

Saat Yohanes sang pembabtis berada didalam penjara, ia ditawan dan dalam tekanan dan ancaman kematian dari keluarga Herodes (Matius 14:3-4), ia mengharapkan Mesias akan beraksi. Tetapi yang didapati bahwa Mesias tidak juga beraksi, Ia hanya mengabarkan Kabar Baik dan juga menolong orang-orang saja. Pada saat itu, bangsa Israel dijajah oleh bangsa-bangsa besar, mulai dari kerajaan Babel sampai kekaisaran Romawi. Janji tentang kelepasan bangsa Israel lewat Mesias telah mereka dengar dan mereka menantikan saatnya Mesias menyatakan diriNya dan melepaskan mereka semua dari penindasan dan mendirikan kembali tahta Raja Daud. Yohanes pembabtis sebagai nabi Allah, tentu dengan jelas mendengar perintah Allah untuk berjalan mendahului Mesias, membuka jalan bagi Raja diatas segala Raja (Yesaya 40:3, Yesaya 57:14-15, Maleaki 3:1). Yohanes mengabarkan Injil Kerajaan Allah  dan mengajar orang-orang tentang kebenaran, kebaikan dan keadilan. Ia rela menderita dan mati, asalkan Mesias menjadi Raja atas seluruh Israel.

Bukan hanya Yohanes pembabtis, murid-murid Yesus juga rupanya mengharapkan sama seperti yang diharapkan oleh Yohanes Pembabtis. Mereka menantikan saatnya Yesus memulihkan kerajaan Israel dan menjadi Raja duduk ditahta Daud.

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” [Kisah Rasul 1:6]

Pada saat Yesus masuk ke Yerusalem, Injil Yohanes mencatat kejadian tersebut demikian, Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” [Yohanes 12:12-13] Mereka semua meyakini Mesias akan segera mendirikan kembali kerajaan Israel, melepaskan mereka dari tekanan kekaisaran Romawi.

Demikian dialami Yohanes pembabtis didalam penjara mendengar apa yang dilakukan Yesus, hanya mengabarkan Kabar Baik dan menolong orang-orang, melepaskan mereka dari belenggu dosa, dari sakit penyakit dan dari roh-roh jahat, tetapi tidak juga Yesus menunjukan tanda-tanda untuk merebut kekuasaan penjajah. Didalam deritanya dalam penjara, Yohanes menjadi tawar hati dan kebingungan, dan saat itulah ia mencoba bertanya kepada Yesus, pertanyaan yang identik dengan “Engkau itu Mesias atau bukan?” Yohanes pembabtis menjadi ragu sebab ia tidak melihat Yesus berbuat seperti yang diharapkannya. Yesus tidak menunjukan tanda-tanda hendak membangun kembali kerajaan Israel.

Apa yang dialami Yohanes pembabtis, mungkin juga sering kita hadapi, saat kita merasa “tidak ditulong” TUHAN disaat kita merasa butuh pertolonganNya. Saat kita mengharapkan sesuatu perkara terjadi, saat kita mencoba “mengimani” sesuatu hal yang besar, atau kita mengharapkan TUHAN bertindak atau melakukan perbuatan ajaib atas persoalan atau masalah kita, tetapi kita dapati TUHAN tidak juga berbuat apa-apa seperti yang kita harapkan  dan tetap didalam kesukaran seperti Yohanes pembabtis tetap didalam penjara Herodes.

Saat itu, mungkin kita bisa menjadi putus asa, dan mungkin tawar hati. Kita mulai meragukan iman, meragukan kesaksian Injil dan bahkan ada juga yang mulai mengumpat TUHAN. “Dimanakah TUHAN saat aku butuhkan?” kata-kata itu sering kita dilontarkan anak-anak TUHAN disaat terhimpit dan didapati ia tetap juga terhimpit. Beberapa orang mungkin dengan bodohnya mulai “melawan” kebenaran yang telah ia terima, mulai melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang ia tahu tidak disuka oleh TUHAN, mencoba segala yang tidak diperbolehkan dan berakhir dengan kekerasan hati.

Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN. [Amsal 19:3]

Kadang kita lupa bahwa TUHAN itu bukan pelayan kita, bukan juga satpam kita, Ia bukan pegawai kita yang mana jika kita membutuhkan Ia akan buru-buru menyediakan, jika kita menginginkan maka Ia akan memberikan dan jika kita meminta maka Ia akan datang buru-buru memberikan apa permintaan kita. Tidak, TUHAN itu adalah Raja diatas segela raja, Ia adalah Allah pencipta langit dan bumi, terlalu besar dan terlalu mulia untuk kita datang sujud menyembah dibawa kakiNya. Kita telah mendapat anugrah yang besar.

Apa yang direncanakanNya apa yang dipikirkanNya, sangat jauh dari apa yang kita rencanakan dan pikirkan (Yesaya 55;8-9). Yohanes pembabtis hanya memikirkan bahwa Mesias akan datang menyelamatkan bangsa Israel, membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi, tetapi sesungguhNya, TUHAN merancang kedatangan Mesias, bukan untuk membebaskan bangsa Israel saja, dan juga bukan untuk melepaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi, tetapi lebih dari itu, Mesias merupakan anugrah bagi seluruh umat manusia untuk dibebaskan dari dosa dan maut dan memberikan kehidupan kekal didalam kerajaan yang bukan berupa pemerintahan kerajaan didunia ini semacam kekaisaran Romawai, tetapi Kerajaan Allah yang kekal.

“Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” [Yesaya 49:6]

Saat Yesus bangkit dan telah menyelesaikan segala yang harus diselesaikanNya, maka perintah ini disampaikan kepada murid-muridNya. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” [Markus 16:15]. Didalam Kisah Rasul 1:8, disebutkan bahwa mulai dari Yerusalem, ke Yudea dan sampai ke ujung bumi, kesaksian dan berita Injil itu harus disampaikan agar semua orang diselamatkan.

Jika Yohanes pembabtis hanya menyangka Yesus membebaskan bangsa Israel dari belenggu penjajah dan mendirikan kerajaan Israel dimana Ia sebagai rajanya, maka Mesias sesungguhnya datang untuk membebaskan kita dari kelemahan-kelemahan kita, melepaskan kita dari dosa dan maut. Orang-orang yang bertahun-tahun hidup dalam kelemahan, buta, bisu, tuli, lumpuh semua dilepaskan, mereka yang dirasuk roh-roh jahat dilepaskanNya, orang-orang yang lemah dan letih diberi kekuatan baru. Seperti yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya.

Persoalan dan masalah kita, juga sama seperti Yohanes pembabtis. TUHAN peduli akan masalah kita, ia peduli akan keinginan kita, tetapi bukan dengan jalan kita, bukan dengan rencana kita semua itu akan terjadi, tetapi jalan dan rencana TUHAN yang akan terlaksana untuk kebaikan kita. Mungkin hari ini kita melihat Jeruselamat tidak nyata seperti yang kita harapkan, mungkin Ia tidak berindak seperti yang kita perkirakan, tetapi ingat bahwa mataNya tidak pernah lepas mengawasi dan memberkati kita (Mazmur 139:2-12).

Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. [Mazmur 66:19]

Mari kita bangkit kembali… Tuhan tidak pernah meningalkan kita (Mazmur 31:23). Ia mengasihi kita dan telah merancangkan perkara yang baik dan indah walaupun kita harus berjalan dalam lembah kelam, sebab yang dipikirkanNya adalah perkara yang kekal, bukan dunia yang fana ini. Dunia dan keinginannya akan lenyap, tetapi kita akan tetap hidup didalam kerajaanNya.

Amin.