Posts Tagged ‘Rohani’

h1

JURUSELAMAT YANG TIDAK SEPERTI HARAPANKU

15 October 2010

 

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
[Matius 11:2-6]

Saat Yohanes sang pembabtis berada didalam penjara, ia ditawan dan dalam tekanan dan ancaman kematian dari keluarga Herodes (Matius 14:3-4), ia mengharapkan Mesias akan beraksi. Tetapi yang didapati bahwa Mesias tidak juga beraksi, Ia hanya mengabarkan Kabar Baik dan juga menolong orang-orang saja. Pada saat itu, bangsa Israel dijajah oleh bangsa-bangsa besar, mulai dari kerajaan Babel sampai kekaisaran Romawi. Janji tentang kelepasan bangsa Israel lewat Mesias telah mereka dengar dan mereka menantikan saatnya Mesias menyatakan diriNya dan melepaskan mereka semua dari penindasan dan mendirikan kembali tahta Raja Daud. Yohanes pembabtis sebagai nabi Allah, tentu dengan jelas mendengar perintah Allah untuk berjalan mendahului Mesias, membuka jalan bagi Raja diatas segala Raja (Yesaya 40:3, Yesaya 57:14-15, Maleaki 3:1). Yohanes mengabarkan Injil Kerajaan Allah  dan mengajar orang-orang tentang kebenaran, kebaikan dan keadilan. Ia rela menderita dan mati, asalkan Mesias menjadi Raja atas seluruh Israel.

Bukan hanya Yohanes pembabtis, murid-murid Yesus juga rupanya mengharapkan sama seperti yang diharapkan oleh Yohanes Pembabtis. Mereka menantikan saatnya Yesus memulihkan kerajaan Israel dan menjadi Raja duduk ditahta Daud.

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” [Kisah Rasul 1:6]

Pada saat Yesus masuk ke Yerusalem, Injil Yohanes mencatat kejadian tersebut demikian, Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” [Yohanes 12:12-13] Mereka semua meyakini Mesias akan segera mendirikan kembali kerajaan Israel, melepaskan mereka dari tekanan kekaisaran Romawi.

Demikian dialami Yohanes pembabtis didalam penjara mendengar apa yang dilakukan Yesus, hanya mengabarkan Kabar Baik dan menolong orang-orang, melepaskan mereka dari belenggu dosa, dari sakit penyakit dan dari roh-roh jahat, tetapi tidak juga Yesus menunjukan tanda-tanda untuk merebut kekuasaan penjajah. Didalam deritanya dalam penjara, Yohanes menjadi tawar hati dan kebingungan, dan saat itulah ia mencoba bertanya kepada Yesus, pertanyaan yang identik dengan “Engkau itu Mesias atau bukan?” Yohanes pembabtis menjadi ragu sebab ia tidak melihat Yesus berbuat seperti yang diharapkannya. Yesus tidak menunjukan tanda-tanda hendak membangun kembali kerajaan Israel.

Apa yang dialami Yohanes pembabtis, mungkin juga sering kita hadapi, saat kita merasa “tidak ditulong” TUHAN disaat kita merasa butuh pertolonganNya. Saat kita mengharapkan sesuatu perkara terjadi, saat kita mencoba “mengimani” sesuatu hal yang besar, atau kita mengharapkan TUHAN bertindak atau melakukan perbuatan ajaib atas persoalan atau masalah kita, tetapi kita dapati TUHAN tidak juga berbuat apa-apa seperti yang kita harapkan  dan tetap didalam kesukaran seperti Yohanes pembabtis tetap didalam penjara Herodes.

Saat itu, mungkin kita bisa menjadi putus asa, dan mungkin tawar hati. Kita mulai meragukan iman, meragukan kesaksian Injil dan bahkan ada juga yang mulai mengumpat TUHAN. “Dimanakah TUHAN saat aku butuhkan?” kata-kata itu sering kita dilontarkan anak-anak TUHAN disaat terhimpit dan didapati ia tetap juga terhimpit. Beberapa orang mungkin dengan bodohnya mulai “melawan” kebenaran yang telah ia terima, mulai melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang ia tahu tidak disuka oleh TUHAN, mencoba segala yang tidak diperbolehkan dan berakhir dengan kekerasan hati.

Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN. [Amsal 19:3]

Kadang kita lupa bahwa TUHAN itu bukan pelayan kita, bukan juga satpam kita, Ia bukan pegawai kita yang mana jika kita membutuhkan Ia akan buru-buru menyediakan, jika kita menginginkan maka Ia akan memberikan dan jika kita meminta maka Ia akan datang buru-buru memberikan apa permintaan kita. Tidak, TUHAN itu adalah Raja diatas segela raja, Ia adalah Allah pencipta langit dan bumi, terlalu besar dan terlalu mulia untuk kita datang sujud menyembah dibawa kakiNya. Kita telah mendapat anugrah yang besar.

Apa yang direncanakanNya apa yang dipikirkanNya, sangat jauh dari apa yang kita rencanakan dan pikirkan (Yesaya 55;8-9). Yohanes pembabtis hanya memikirkan bahwa Mesias akan datang menyelamatkan bangsa Israel, membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Romawi, tetapi sesungguhNya, TUHAN merancang kedatangan Mesias, bukan untuk membebaskan bangsa Israel saja, dan juga bukan untuk melepaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi, tetapi lebih dari itu, Mesias merupakan anugrah bagi seluruh umat manusia untuk dibebaskan dari dosa dan maut dan memberikan kehidupan kekal didalam kerajaan yang bukan berupa pemerintahan kerajaan didunia ini semacam kekaisaran Romawai, tetapi Kerajaan Allah yang kekal.

“Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” [Yesaya 49:6]

Saat Yesus bangkit dan telah menyelesaikan segala yang harus diselesaikanNya, maka perintah ini disampaikan kepada murid-muridNya. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” [Markus 16:15]. Didalam Kisah Rasul 1:8, disebutkan bahwa mulai dari Yerusalem, ke Yudea dan sampai ke ujung bumi, kesaksian dan berita Injil itu harus disampaikan agar semua orang diselamatkan.

Jika Yohanes pembabtis hanya menyangka Yesus membebaskan bangsa Israel dari belenggu penjajah dan mendirikan kerajaan Israel dimana Ia sebagai rajanya, maka Mesias sesungguhnya datang untuk membebaskan kita dari kelemahan-kelemahan kita, melepaskan kita dari dosa dan maut. Orang-orang yang bertahun-tahun hidup dalam kelemahan, buta, bisu, tuli, lumpuh semua dilepaskan, mereka yang dirasuk roh-roh jahat dilepaskanNya, orang-orang yang lemah dan letih diberi kekuatan baru. Seperti yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya.

Persoalan dan masalah kita, juga sama seperti Yohanes pembabtis. TUHAN peduli akan masalah kita, ia peduli akan keinginan kita, tetapi bukan dengan jalan kita, bukan dengan rencana kita semua itu akan terjadi, tetapi jalan dan rencana TUHAN yang akan terlaksana untuk kebaikan kita. Mungkin hari ini kita melihat Jeruselamat tidak nyata seperti yang kita harapkan, mungkin Ia tidak berindak seperti yang kita perkirakan, tetapi ingat bahwa mataNya tidak pernah lepas mengawasi dan memberkati kita (Mazmur 139:2-12).

Sesungguhnya, Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan. [Mazmur 66:19]

Mari kita bangkit kembali… Tuhan tidak pernah meningalkan kita (Mazmur 31:23). Ia mengasihi kita dan telah merancangkan perkara yang baik dan indah walaupun kita harus berjalan dalam lembah kelam, sebab yang dipikirkanNya adalah perkara yang kekal, bukan dunia yang fana ini. Dunia dan keinginannya akan lenyap, tetapi kita akan tetap hidup didalam kerajaanNya.

Amin.

h1

Godaan Bait Allah

3 May 2008

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

Matius 4:5-7

DIATAS ATAP BAIT ALLAH

Bait AllahTuhan Yesus sebelum memulai pelayananNya, Ia berpuasa di padang gurun selama 40 hari, dan Ia digoda oleh Iblis dengan tiga macam godaan. Salah satunya adalah digoda untuk menjatuhkan diri dari Bait Allah.

Jika kita melihat dua godaan lainnya, maka kita dapat melihat ada yang berbeda dengan satu ini. Dimana saat Yesus lapar, Ia digoda untuk memakan roti dan disaat dilihatkan kerajaan dunia dan gemerlapnya, Ia digoda dengan segala kemulyaan dan kemewahan duniawi. Dua godaan ini sering kali juga dilontarkan oleh Iblis kepada kita. Tetapi godaan tentang menjatuhkan diri dari Bait Allah terlihat paling lain sendiri.

Tidak ada tawaran yang diberikan oleh Iblis dalam menggoda Yesus diatas atap Bait Allah. Iblis hanya menantangNya untuk menjatuhkan diri dari atap Bait Allah. Secara logika, siapa mau menjatuhkan diri dari atas atap. Apa yang didapatkan? Godaan Iblis macam apa itu, kelihatannya kok tidak bermutu.

Apakah itu dapat disebut sebuah godaan?

Banyak orang kristen tidaksadar dan terjebak pada godaan ini. Iblis tidak membawa Yesus berada dipuncak suatu gunung atau diatas dahan pohon tertinggi, atau diatas menara, tetapi Iblis membawa Yesus keatap Bait Allah. Bait Allah, bukan istana, Iblis rupanya juga cukup rohani, memilih Bait Allah. Alkitab menulis hal ini sebagai peringatan bagi kita, bahwa Iblis juga akan menggoda kita didalam kehidupan rohani kita.

Memang benar ada tertulis, sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. (Mazmur 91:11-12), dan Iblis telah menantang Tuhan Yesus untuk membuktikan ayat tersebut. Hal yang penting adalah dimana Iblis telah membawa Yesus yaitu di atap Bait Allah. Tempat dimana orang Israel berkumpul dan para imam, ahli Taurat dan orang Farisi berkumpul dibawanya.

Jika Yesus menerima tantangan tersebut, maka yang hendak dibuktikan bukan kebenaran Firman Tuhan lagi, melainkan kesombongan manusia, seperti mencari hormat dan pujian dihadapan segenap rohaniwan, orang-orang yang berada di bawah Bait Allah.

Dengan lembut tantangan tersebut ditolak oleh Tuhan Yesus dengan mengatakan bahwa benar ada ayat tersebut, tetapi ada ayat lain yang mengatakan, “jangan kita mencobai Tuhan Allah kita”. Karena Tuhan tahu apa yang ada didalam hati manusia dan Allah tidak dapat didustai dengan dalih rohani untuk kemulyaan manusia, untuk mencari hormat dan pujian bagi diri sendiri.

Godaan akan kesombongan rohani, adalah godaan yang berbahaya, yang hanya dapat dinilai atau dilihat dari hati manusia itu sendiri. Orang lain siapa yang dapat mengetahui isi hati kita? Godaan kesombongan rohani ini juga merupakan salah satu bagian dari tiga macam godaan Iblis yang sering dilontarkan kepada anak-anak Allah. Waspadalah!

DIDALAM GEREJA TUHAN

Didalam komunitas gereja, juga sama seperti komunitas diluar gereja. Mereka berinteraksi satu sama lain dalam sebuah komunitas. Didalam sebuah komunitas terdapat nilai-nilai akan perkara baik dan buruk, demikian juga didalam gereja, secara tidak sadar masyarakat gereja menilai setiap orang apakah ia rohani atau tidak. apakah ia dipakai Allah atau tidak, apakah ia orang besar atau orang kecil didalam pelayanannya.

Godaan yang dilontarkan diatas atap Bait Allah kepada Yesus, juga akan dialami oleh anak-anak Allah yang lainnya. “Buktikan kalau kamu memang seorang yang rohani” demikian kira-kira kalimat Iblis kepada kita diatas Bait Allah. Dan hari ini kita melihat serentetan orang-orang Kristen yang hidup munafik. Hidup sok rohani, sok penting. Bahkan lebih dari itu, banyak orang yang merasa lebih hebat dari pada yang lainnya dalam kehidupan rohaninya. Mereka telah digoda untuk melompat dari atas Biat Allah.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Matius 5:20)

Ahli taurat hanya tampil rohani dari luar saja (Matius 23:25-28), menjadi masyarakat kelas satu dan menuntut hormat dan pujian dari ibadahnya. Firman Tuhan katakan, kalau ibadah kita sama, maka kita tidak akan diselamatkan.

Tuhan menuntut perbuatan yang lahir dari hati yang suci (Matius 23:26), bukan hanya tampak perbuatannya saja. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi egois hanya memikirkan baik untuk diri sendiri, tetapi Tuhan ingin kita menganggap yang lain lebih utama. Kehidupan rohani seorang kristen adalah melayani, bukan dilayani dan dihormati (Matius 20:28).

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:3-4)

Kita tidak boleh merasa lebih penting dan utama dari pada orang-orang lain. Kita menjadi pengikut Kristus, bukan menjadi tuan bagi saudara-saudara kita, tetapi kita menjadi pelayan bagi mereka (Lukas 22:25-27). Mungkin kita seharusnya belajar menjadi lebih baik dari pembantu rumah tangga kita didalam melayani satu sama lain. Dunia telah memutar nilai kehidupan kekristenan, seorang yang dianggap lebih rohani, maka ia lebih dihormati dan mendapat hak-hak istimewa didalam komunitas gereja, bukan sebagai pelayan tetapi sebagai seseorang yang wajib dilayani walau ia menyandang gelar “pelayan”.

Kesombongan rohani adalah tipu daya Iblis. Kehormatan dan nama besar didalam komunitas gereja adalah sebuah kesia-siaan dan jerat Iblis. Kursi-kursi kehormatan, gelar-gelar manusia, pujian kosong dan sebagainya adalah tipu daya. Tetapi ternyata tidak kurang orang bodoh di dalam gereja yang mau juga disuruh Iblis menjatuhkan diri diatas atap Bait Allah tanpa mendapat imbalan apa-apa dari Iblis.

Kesombongan rohani dapat muncul karena :

  1. Pernyataan kuasa Allah. Seperti menyembuhkan orang sakit, nubuat, mengusir setan dan lain-lainnya. Hal-hal ini dapat menyeret seorang anak Allah, berlaku bodoh menjatuhkan diri diatas Bait Allah hanya untuk menunjukan kepada seluruh orang yang ada dipelataran Bait Allah bahwa malaikat akan menopangnya.Mereka yang menjatuhkan diri akan menerima segala pujian manusia, menerima penghormatan manusia bahkan hadiah berlebih-lebih yang mewah dari banyak orang. Diterimanya semua sebagai haknya dan lupa dirinya adalah hamba melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya, atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? seolah-olah gada menggerakkan orang yang mengangkatnya, dan seolah-olah tongkat mengangkat orangnya yang bukan kayu! Sebab itu Tuhan, TUHAN semesta alam, akan membuat orang-orangnya yang tegap menjadi kurus kering, dan segala kekayaannya akan dibakar habis, dengan api yang menyala-nyala. (Yesaya 10:15-16)

    Banyak kisah dimana anak-anak Allah yang dipakai melayani dengan pernyataan kuasa Allah yang luar biasa akhirnya “terjatuh dari atap” dan Allah meninggalkannya. Apakah dikira Allah bodoh dan dapat dipermaikan? Allah tidak dapat dicobai, seperti yang terjadi pada Simson, dikiranya seperti sudah-sudah ia dapat melepaskan diri tetapi nyatanya Allah telah minggalkannya.

  2. Kesombongan karena mengerti lebih. Mengerti Firman Tuhan lebih dari yang lainnya (menurut sangkanya sendiri), ternyata juga dapat menjadikan seseorang itu menjadi sombong rohani. Tentang daging persembahan berhala kita tahu: “kita semua mempunyai pengetahuan.” Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. (1 Korintus 8:1).

    Banyak orang kristen akhir-akhir ini sering saling menyerang aliran satu dengan yang lain dengan segala ilmu Theologianya. Serentet gelar terpampang didepan namanya, mereka seakan lebih benar dari aliran-aliran lainnya. Seakan Allah hanya berbicara kepada mereka saja, sementara kepada aliran kristen lainnya, Allah tidak berbicara. Hal-hal ini lahir dari kesombogan rohani akan pengetahuan manusia yang terbatas, akan segala ilmu Theologia yang kosong, yang hanya digunakan untuk menyerang dan menyalahkan orang.

    Tentang pengetahuan, 1 Korintus 8:2-3, menjelaskan : Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu “pengetahuan”, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.Sebab pengetahuan dan hikmat itu dari Allah bukan dari kepandaian atau usaha manusia (Amsal 2:6). Sedangkan pengetahuan itu sendiri Allah tidak memberikan lengkap kepada kita (1 Korintus 3:9, Ulangan 29:29).

    Jangan kita saling menyalahkan dan membenarkan diri dengan pengetahuan kita akan Firman Tuhan, tetapi mari kita saling melengkapi, saling menguatkan, menghibur, mengajar, menegur dan membangun dengan pengetahuan yang telah diberikan kepada kita. Jika panas hati timbul dan pertengakaran dan debat dan pertikaian datang maka anda telah memutuskan untuk lompat dari atas Bait Allah. Apa yang ingin anda buktikan? Kebenaran Firman Tuhan atau diri anda sendiri?

  3. Keahlian didalam pelayanan, seperti suara merdu, memainkan musik dengan luar biasa, pandai presentasi, pandai berbicara, kotbah dan lain-lainnya. Keahlian-keahlian yang Tuhan berikan sering kali menjadi berarti didalam organisasi gereja, sehingga menjadikan mereka yang memiliki keahlian tersebut ditempatkan pada posisi yang penting dalam komunitas tersebut.

    Penting bagi manusia tidak berarti penting bagi Allah. Bahkan Firman Tuhan mengatakan apa yang dikagumi manusia itu dibenci oleh Allah (Lukas 16:15). Keahlian tersebut dapat membutakan mata kita dan dapat membuat kita bertindak bodoh dengan mendengarkan godaan Iblis untuk menjatuhkan diri diatas Bait Allah. Jangan mengejar pujian, penghormatan dan ingin diistimewakan didalam gereja, sebab itu samua adalah milik Allah.

Demikian kita semua, sebagai anak-anak Allah, baiklah kita belajar dari catatan godaan yang dilakukan oleh Iblis kepada Tuhan Yesus Kristus di padang gurun. Salah satunya adalah godaan untuk menjatuhkan diri dari atap Bait Allah, sesuatu kesombongan rohani. Hanya orang bodoh yang mau melompat dari atas atap. Tetapi godaan sekonyol itu telah menewaskan banyak anak-anak Allah.

Walaupun pernyataan Allah luar biasa didalam kehidupan kita, didalam pelayanan kita, kita harus selalu ingat bahwa semua itu bukan perkara yang penting, sebab yang terpenting dari semuanya bukan kehebatan kita dalam perkara rohani tetapi apakah kita diselamatkan atau tidak. Matius 7:21-23 dengan jelas menuliskan bahwa di akhir zaman, banyak orang yang melayani dengan kuasa yang luar biasa dan dengan hebohnya, malah mereka ditolak dari hadapan Tuhan. Kesombongan spiritual dapat membuat kita terlena dengan pujian dan penghormatan manusia akan perkara-perkara rohani.

“Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” (Lukas 10:19-20)

Mulai saat ini waspadalah terhadap segala kesombongan rohani. Kebesaran yang diberikan oleh manusia, pujian yang diucapkan oleh manusia dan segala hormat yang diterima karena perkara-perkara rohani yang ada dalam diri kita adalah perkara yang sia-sia. Semua itu adalah tipu daya Iblis. Jangan kita jatuh karenanya. Sementara pernyataan yang luar biasa dari Allah dalam hidup dan pelayanan kita, bukan jaminan nama kita tercatat dalam Kerajaan Surga.

Seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan mengusir Iblis yang menggodaNya (Matius 4:10), demikian juga yang dilakukan oleh Paulus saat Iblis melantunkan pujian rohani kepadanya (Kisah Rasul 16:17-18), kita juga sebaiknya meniru teladan tersebut agar kita tidak jatuh karena kesombongan rohani.

Akhir kata saya mengutip 1 Korintus 9:27 yang berkata: Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Salam.

Leonardi


Top Blogs

h1

Asal Kujamah, Sembuh

21 April 2008

Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. Lalu kata Yesus: “Siapa yang menjamah Aku?” Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: “Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.” Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku.”

Lukas 8:43-46


Jumbai JubahSering kita berdoa dan memohon mujizat, memohon kesembuhan dan banyak hal lainnya. Sudah bertahun-tahun hal itu kita harap-harapkan, tetapi tidak juga ada jawaban. Sama seperti halnya perempuan tua yang menderita pendarahan yang telah lama dan tidak ada yang dapat menyembuhkannya.

Didalam kehidupan kita, di saat doa-doa dan pertolongan yang kita diharapkan tidak juga kunjung datang, kita sering bertanya-tanya tentang keberadaan Allah, seakan kuasa Allah jauh dari kita. Seakan semuanya membisu, dan kita sendiri dihadapan persoalan yang telah menahun.

Hari ini kita kembali merenungkan tentang kejadian perempuan tua yang sembuh dari pendarahannya. Kita belajar tentang iman seorang perempuan tua yang sering kita dengar ceritanya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Lukas 8:48).

Iman seperti apa yang dimiliki perempuan tua tersebut yang dapat kita pelajari? Dari catatan Matius 9:21, tertulis bahwa ia berkata dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Selanjutnya kita tahu kitab Matius dan Lukas, menjelaskan bahwa jubah yang dimaksud perempuan tua tersebut adalah jumbai jubah Yesus. Ia berusaha menjangkau dan menjamah jumbai jubah Yesus diantara kerumunan orang.

Jumbai adalah ujung jubah yang diikat dengan benang berwarna ungu kebiruan. Jumbai dibuat pada keempat ujung kain atau jubah setiap orang Israel sejak ditetapkan oleh Tuhan lewat Nabi Musa (Bilangan 15:37-41).

TUHAN berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. (Bilangan 15:37-38)

Demikian dengan jubah Yesus pada saat sebagai seorang Israel yang juga harus menjalankan perintah Tuhan sesuai hukum Taurat, terdapat jumbai pada keempat sudutnya. Jumbai inilah yang dilihat oleh perempuan tua tersebut dan didalam hatinya ia berkata bahwa asal ia menjamah jumbai tersebut, maka pendarahannya yang telah menahun dan tidak ada yang dapat menyembuhkan, dapat sembuh.

Demikian kelanjutannya kita tahu kisahnya, bahwa perempuan tua tersebut benar-benar sembuh setelah ia menjamah jumbai jubah Yesus, sesuai dengan imannya.

Sebenarnya Tuhan menetapkan bangsa Israel untuk memakai kain atau jubah dengan keempat ujungnya berjumbai adalah untuk mengingatkan bangsa Israel akan Firman Tuhan.

Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN. (Bilangan 15:39)

Perempuan tua itu memandang jumbai yang bergoyang-goyang ditengah kerumunan, dan fokus melihat jumbai tersebut, disaat semua orang tidak ada yang memperhatikan keberadaan jumbai tersebut. Kemudian dengan iman, ia menggerakan tangannya untuk menjangkaunya diantara himpitan dan desakan banyak orang sampai ia dapat benar-benar menjamahnya. Demikianlah maksud ditetapkannya jumbai pada jubah bangsa Israel, bukan hanya mengingatkan kita akan isi Firman Tuhan, tetapi juga dimaksudkan agar kita ingat bahwa Firman Tuhan tersebut harus ditaati dan dijalankan.

Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu. Akulah TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya Aku menjadi Allah bagimu; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Bilangan 15:40-41)

Demikian dengan kehidupan kita sehari-hari. Jika kita selalu mau mengingat Firman Tuhan dan melakukan segala perintah Tuhan, maka seperti yang terjadi pada perempuan tua tersebut maka juga akan terjadi pada diri kita. Jelas ditulis, Tuhan Yesus Kristus mengatakan, “Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku“, saat jumbai itu digengam dengan iman.

Saat kita mengingat Firman Tuhan dan melakukan tepat seperti apa yang diperintahkanNya, maka pada saat itu kuasa Tuhan akan mengalir dan kita dapat melihat mujizat dan jawaban setiap pengharapan kita. Kuasa itu ada saat kita tinggal didalam FirmanNya, bukan saat kita hidup menurut adat dunia. Karena itu doa-doa dan permohonan saja sebenarnya masih belum cukup untuk menarik kuasa Tuhan dalam kehidupan kita. Kita juga perlu untuk hidup sesuaikan dengan perintah-perintah Tuhan.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (Yohanes 15:7)

Jumbai yang dilihat oleh perempuan tua tersebut dan kemudian ia pegang, seharusnya menjadi pelajaran bagi kita. Firman Tuhan, memang sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi perempuan ini melihat dan mengingatNya. Tinggallah didalam FirmanNya, maka kuasa Tuhan akan nyata dalam setiap doa dan permohonan kita. Mujizat akan terjadi dan kehidupan kita adalah kehidupan yang penuh kuasa.

Bahkan setelah kejadian tersebut, semua orang sekarang memperhatikan jumbai tersebut. Memperhatikan tanda yang ditetapkan oleh Tuhan agar, umatNya selalu mengingat Firman Tuhan dan melakukanNya.

Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. (Markus 6:56)

Demikian renungan yang dapat membantu kita untuk menarik kuasa Tuhan masuk dalam hidup kita, lewat Firman Tuhan yang menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Amin




Top Blogs

h1

Artis Rohani Favorit

4 April 2008

Konser RohaniTahun-tahun belakangan ini mulai marak lahirnya artis rohani. Mereka adalah para idola dan orang-orang yang mencari uang dari bisnis artis. Wow…! Bisnis artis?

Beberapa waktu yang lalu saat saya mewawancari seseorang pelamar kerja, saat saya menanyakan hal yang merupakan kegagalan yang berkesan dalam hidupnya, ia bercerita tentang kisah asmaranya dengan artis rohani. Awalnya saya bingung saat ia menyebut artis rohani. Artis…? Rohani…? Apaan tuh? Kemudian dia menyebut sebuah nama yang tentu saya kenal dari albumnya dan menerima penjelasan darinya tentang arti artis rohani tersebut. Seorang artis tetapi berkecimpung dalam dunia kerohanian. Seorang yang manggung disana sini dan mengadakan konser dan diundang gereja, membuat album, main film, iklan dan lain-lainnya.

Sebenarnya kata artist sendiri itu artinya seniman. Tetapi penggunaan secara umum di negri kita, kata artis mengacu kepada seniman yang komersial, seniman didalam dunia hiburan (entertainment), dalam bahasa sederhana yaitu para penyanyi, pemain filem, pelawak dan lain-lainnya.

Jika kata artis yang erat kaitannya dengan dunia entertainment, ditambah kata rohani dibelakangnya, maka artinya bisa macam-macam. Sederhananya adalah orang-orang yang menghubur dengan materi rohani dengan tujuan komersial. Sebenarnya meraka tidak berbeda jauh dengan para artis pada umumnya, hanya bedanya, pasarnya adalah orang-orang yang rohani atau merasa rohani.

Bagi saya boleh-boleh saja mencari uang didunia hiburan, tetapi yang menjadi persoalan adalah untuk siapa mereka tersebut menyanyi? Bukankah lagu rohani adalah lagu puji-pujian kepada Allah, lagu menyembah Allah. Bagaimana jadinya saat lagu-lagu tersebut dirubah menjadi sebuah hiburan, selayaknya lagu-lagu pop lainnya? Berbondong-bondong orang membeli karcis konser, antri berjam-jam berjubel didepan pintu masuk dan berebut berada didepan panggung. Mereka menjerit-jerit, mereka minta difoto bersama, minta tanda tangannya…

Dunia ini memang sudah bengkok dan terbalik (Filipi 2:12-16), umat kristen apakah sudah tidak lagi dapat tahan untuk tidak memiliki idola dan artis rohani favorit? Apakah hal-hal rohani harus dikomersialkan, dijadikan sebuah entertainment? Apakah umat kristen telah lupa dengan Firman Tuhan, telah lupa dengan Lukas 16:15 yang mengatakan, “Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah. “

Mari, melalui renungan ini, kita belajar untuk membuang jauh-jauh istilah artis rohani dan idola-idola rohani yang semuanya adalah tipu daya. Manusia mengagumi manusia, manusia meniru teladan sang idola, sang artis. Bukankah kita seharusnya meniru teladan Kristus, menjadi serupa denganNya? Manusia selalu ingin menyingkirkan Allah, bahkan didalam pujian dan penyembahan kepada Tuhan sekalipun.

Celakalah dunia ini, celakalah orang-orang yang berusaha menukar kemulyaan Allah, pujian kepada Allah dan penyembahan-penyembahan yang benar dengan tipu daya enterteinment. Bukankah hal ini dulu telah terjadi dan menjadi pelajaran bagi kita (Roma 15:4), saat Raja Yerobeam mendirikan bukit-bukit pengorbanan dan memindahkan ibadah dari Yerusalem ke Betel dan Dan (1 Raja-raja 12:28-33, 13:1-2). Serta menukar Allah dengan patung sang idola. Raja Yerobeam mendirikan Ibadah enterteinment!

Saat ini, umat kristen telah mulai lagi mendirikan ibadah yang diadakan oleh Raja Yerobeam, ibadah entertenment dibukit-bukit pengorbanan. Didalam sebuah ibadah raya, muncul artis-artis rohani sebagai icon dengan lantunan lagu merdu mereka sebagai hiburan rohani, dengan para pendeta yang didapat dari sebuah biro jasa pemberita Firman Tuhan. Dengan suguhan filem, tari-tarian dan kemewahan panggung. Oh… Tuhan. Apakah telah dekat waktu kedatanganMu?

Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu! Sesungguhnya, hanya pada TUHAN, Allah kita, ada keselamatan Israel! (Yeremia 3:23)

Mengapa kita harus mencobai Allah sekali lagi? Seperti yang dilakukan oleh Raja Yerobeam dan yang dilanjutkan oleh raja-raja keturunannya yang jahat dimata Tuhan? Mengapa kita harus menukar ibadah kita dengan enterteinment rohani? Mengapa? Mengapa kita membuat Allah cemburu? Bukankah kita yang Ia panggil anak-Ku…

Tetapi mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi, dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya; mereka murtad dan berkhianat seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya; mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, membuat Dia cemburu dengan patung-patung mereka. (Mazmur 78:56-58)

Mari kita tetapkan langkah kita, mari kita kembali kepada Firman Tuhan, kembali berpegang pada perintah dan peringatan-peringatanNya. Mari kita menyembah Allah dengan cara yang benar, mari kita memuji-muji Allah dengan riang dan dari hati kita. Mari kita tinggalkan ibadah entertenment, ibadah yang didirikan Raja Yerobeam, kita jauhkan bukit-bukit pengorbanan, kita buang semua tipu daya tersebut.

Biarlah kita hanya dipuaskan oleh Tuhan Allah kita, bukan oleh artis-artis rohani. Biarkanlah kita menerima sukacita dan damai sejahtera dari Tuhan Yesus Kritus bukan dari lantunan merdu para artis rohani, bukan dari konser musik rohani.

Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! (Mazmur 100:2-4)

Kita memuji Tuhan, bernyanyi dan menyembahNya, karena ada syukur dalam hati kita, karena ada nyanyian hati, karena ada Roh Allah yang memberikan sukacita dan rasa syukur tersebut. Bukan karena merdunya lagu, bukan karena indahnya dan eloknya suara dan tampang artis rohani. Semua karana Allah dan untuk Allah. Kita beribadah untuk Allah bukan untuk diri kita sendiri. Umat Allah tidak butuh entertenment rohani… tidak butuh artis rohani.

Siapa yang telah menyuguhkannya???



Top Blogs

h1

Anak-anak Allah

14 March 2008

Tentang sebutan anak-anak Allah didalam Alkitab kita dapat melihat perbedaan diantara tiga jaman, yaitu pertama jaman sebelum Janji Allah diberikan kepada Abraham, kedua setelah Janji Allah itu diberikan kepada Abraham dan ketiga pada jaman Janji Allah itu diperbaharui didalam Kristus.

1. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sebelum Janji Allah turun.

Kitab Perjanjian Lama menulis kata anak-anak Allah yang kontraversi terdapat pada kitab Kejadian 6:1-4 dan kitab Ayub 1:6 dan 2:1. Kedua kitab tersebut seakan menggambarkan anak-anak Allah sebagai sosok atau mahluk Surgawi (malaikat) dan bukan manusia.

Namun dari kitab Ibrani 1:5, jelas dikatakan, Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”

Allah tidak pernah memanggil malaikat atau mahluk lainnya sebagai anak Allah kecuali kepada manusia, kepada keturunan Adam, mahluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27)

Dalam Lukas 3:38, tentang silsilah menuliskan demikian, “anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah”. Dari teks tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Adam dikenal sebagai anak Allah oleh bangsa Isreal. Sebelum Janji Allah turun kepada Abraham, sebutan anak-anak Allah adalah kepada Adam dan keturunannya.

Perhatian berikutnya adalah kepada dua anak Adam. Kain, adalah anak sulung Adam. Didalam Kejadian 4:10-12, dikisahkan setelah Kain jatuh dalam dosa pembunuhan, maka ia dibuang oleh Allah karena dosanya sehingga ia mengembara di bumi ini. Sejak saat itu garis keturunan anak sulung Adam beralih ke pada Set anak laki-laki ketiga Adam.

Tentang Set, disebutkan demikian. Kejadian 4:25-26, Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: “Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya.” Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.

Selanjutnya jika kita baca silsilah dalam Kejadian 5:1-32 disebutkan daftar keturunan Adam dan semua anak laki-laki yang adalah anak laki-laki pertama dari garis keturunan Set bukan keturunan Kain, yang sebenarnya anak sulung Adam. Mereka semua adalah orang-orang yang beribadah kepada Tuhan (memanggil nama Tuhan).

Sedangkan Kain, Kejadian 4:24, ditulis “Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden”. Tentang Kain tidak disebutkan ia atau keturunannya memanggil nama Tuhan selain disebutkan bahwa Kain pergi dari hadapan Tuhan. Hal ini menggambarkan bahwa keturunan Kain tidak beribadah kepada Tuhan lagi, berbeda dengan keturunan Set, bahkan Henokh diangkat oleh Tuhan ke Surga tanpa kematian karena begitu karibnya dengan Allah (Kejadian 5:24).

Terlihat jelas perbedaan keduanya, Kain yang sebenarnya anak sulung Adam, diusir oleh Allah dan tidak dihitung sebagai garis keturunan anak sulung Adam. Sedangkan Set, masuk dalam silsilah anak sulung garis keturunan Adam, anak Allah.

Karena itu tidak salah jika anak-anak Allah yang ditulis dalam Kejadian 6:1-4 adalah sebutan kepada mereka yang menjadi keturunan Set, yaitu manusia yang beribadah kepada Allah. Sedangkan mereka yang disebut anak-anak (gadis) manusia yaitu mereka yang menjadi keturunan dari Kain, mereka yang hidup didalam daging. Pembedaan sebutan antara anak-anak Allah dengan anak-anak manusia memberikan gambaran pembedaan antara anak-anak Allah dengan bangsa kafir dimasa hukum Taurat, tentang anak-anak Allah dengan orang dunia dimasa hukum Kasih Karunia.

Sementara itu dalam Ayub 1:6 atau 2:1, sebutan anak-anak Allah, kita tahu itu bukan menyebut malaikat, sesuai penjelasan Ibrani 1:5. Siapakah mereka? Akan dibahas lain kali dalam tulisan tersendiri.

2. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sesudah Janji Allah turun.

Pada jaman setelah Abraham menerima Janji Allah, maka sebutan anak-anak Allah dipertegas hanya kepada keturunan Abraham saja. Tetapi kembali seperti yang masa sebelum Janji, tidak semua keturunan Adam disebut anak-anak Allah, demikian tidak semua keturunan Abraham disebut anak-anak Allah.

Dalam Roma 9:6-8, disebutkan, Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: “Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.” Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.

Abraham melahirkan dua anak, yang sulung Ismael bukan merupakan anak-anak Allah tetapi Ishak dan keturunannya yang disebut anak-anak Allah oleh Allah (Kejadian 21:12, Galatia 4:30).

Coba perhatikan dalam Keluaran 4:22-23, dituliskan “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.”

Hal ini jelas menegaskan bahwa keturunan Abraham yang dari Ishak adalah anak-anak Allah, bukan semua anak Abraham seperti halnya Kain. Bangsa Isreal adalah anak-anak Allah.

3. Sebutan anak-anak Allah pada jaman sesudah Janji Baru Allah digenapkan.

Setelah Kristus datang untuk menebus dosa umat manusia, maka sejak saat itulah Perjanjian Baru diberlakukan yang telah dijanjikan sejak lama lewat para nabi-nabi Allah (Yeremia 31:31-34).

Sejak saat itu sebutan anak-anak Allah bukan hanya kepada keturunan Abraham secara jasmani tetapi juga keturunan Abraham secara rohani (Efesus 2:11-13)

Galatia 3:7-9, Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.

Kita semua orang beriman adalah anak-anak Abraham. Sebagai anak-anak Abraham, kita juga disebut sebagai anak-anak Allah karena iman (Yohanes 1:12), dan berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:15-16).

Galatia 3:26, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”

Demikian penjelasan singkat sebuatan anak-anak Allah pada tiga jaman berbeda. Semuanya menunjuk pada satu hal, yaitu kepada mereka yang beribadah kepada Allah, kepada merekalah Allah menyebut manusia anak-anakNya, anak-anak Allah.

2 Korintus 6:16-18, menjelaskan demikian; Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.”

Tubuh kita yang dikuduskan ini adalah Bait Allah, dimana Allah tinggal didalam kita dan karena itu Allah memanggil kita anak dan kita memanggilNya Bapa. Demikian juga pada saat Salomo mendirikan Bait Allah, maka Tuhan berfirman bahwa ia menjadi anak Allah dan Allah menjadi Bapanya (1 Tawarikh 22:10). Demikian juga dengan keturunan Set, mereka memanggil nama Tuhan (Kejadian 4:26) dan beribadah kepadaNya, oleh karena itu mereka disebut anak-anak Allah dan Allah menjadi Bapanya.

Kain dan keturunannya hanya disebut sebagai anak manusia saja untuk membedakannya dengan keturunan Set yang beribadah kepada Allah walau mereka semua adalah manusia (Kejadian 5:3,5-6). Demikian juga dengan Ismael disebut sebagai anak dari daging untuk membedakan anak perjanjian. Dan dimasa kini, juga tidak semua orang Kristen adalah anak-anak Allah. Mereka yang tidak tetap tinggal didalam Kristus, merekalah yang akan dibuang dari hadapan Allah.

Perbedaan ini merupakan hukum Allah, yang telah ada sejak masa Adam. Jika anak-anak Allah menikah atau melebur (menjadi satu) dengan anak-anak manusia, anak-anak daging dan mereka yang hidup dalam kedagingan, maka seperti yang dikatakan oleh Galatia 5:6, bahwa sedikit ragi dapat mengkabirkan seluruh adonan.

Pada kisah Kejadian 6:1-4, dimana anak-anak Allah menikah dengan anak-anak manusia, maka kelanjutannya Kejadian 6:5, menuliskan, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”

Seperti yang terjadi pada bangsa Israel, dimana wantia-wanita dari bangsa kafir yang dinikahi mereka karena kecantikannya membawa mereka menjauh dari Tuhan dan melakukan apa yang jahat dimata Tuhan demikian juga yang terjadi pada jaman Adam. Anak-anak Allah bertambah jahat seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak manusia, keturunan dari Kain.

Nehemia 13:27, “Apakah orang harus mendengar bahwa juga kamu berbuat segala kejahatan yang besar itu, yakni berubah setia terhadap Allah kita karena memperisteri perempuan-perempuan asing?”

Ulangan 7:3-4, “Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera.”

Demikian pada masa kini, kita tidak menikah dengan orang-orang dunia yang penuh dengan dosa dan kejahatan, dan bukan hanya menikah saja, tetapi juga pergaulan (1 Korintus 15:33). Menjaulah kata Tuhan, jangan jamah apa yang najis, apalagi menjadi satu dengan apa yang jahat dimata Tuhan.

Jika kita anak-anak Allah, maka kita juga hidup seperti Bapa kita didalam terang dan kasihNya.

Salam dalam kasih Kristus,

Leonardi Setiono

Tulisan ini melengkapi tulisan tentang “Raksaksa dalam Alkitab”



Top Blogs

h1

Jodoh Sesuai Firman Tuhan

12 September 2007

Cinta ada yang romantis, ada juga cinta yang realistis. Dari paham cinta tersebut maka lahirlah bermacam-macam bentuk pernyataan, termasuk tentang keajaiban jodoh. Bagi mereka yang menyukai cinta romantis, lebih tertarik dengan pernyataan “jodoh dari Tuhan” seakan khusus, hanya ada satu (seperti pecahan giok) dan pertemuannya secara “ilahi”. Pokoknya Tuhan yang sodorkan secara ajaib gitu deh…

Tetapi bagi mereka yang lebih condong pada cinta yang realistis, mereka memandang keajaiban jodoh itu tidak ada, semua ya jodoh dari Tuhan kalau sudah dinikahi. Yang penting saling mencocokan, menerima satu sama lain, baru bisa disebut jodoh. Intinya, jangan cengeng gitu lah…

Tentang jodoh dan pernikahan yang benar, kita seharusnya memahami dari Alkitab, bagaimana Alkitab menjelaskan tentang pernikahan.

PERNIKAHAN DIDALAM ALKITAB

Tentang pernikahan telah ditulis sejak penciptaan. Sejak manusia pertama, Adam, tentang pernikahan sudah tertulis, Hawa diciptakan untuk menjadi pasangan (jodoh) dalam hidupnya.

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. (Kejadian 2:21-25)

Dari kitab Kejadian tersebut, kita mengenal istilah suami dan istri, mengenal tentang pernikahan. Dimana Allah mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan akan bersatu (didalam penikahan kudus). Jelas tertulis laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan (Roma 1:26-27). Pernikahan homo dan lesbi tidak sesuai kehendak Allah. Yang disebut pernikahan adalah antara laki-laki dengan perempuan.

Begitu indahnya pernikahan, laki-laki dan perempuan, bagaimana dua jiwa dapat berpadu, berjalan bersama, saling mengasihi, ada kisah cinta dan saling memperhatikan. Raja Salomo dalam hikmat Allah menulis dalam Amsal 30:18-19 bahwa jalan seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suatu hal yang mengherankan dan tidak dimengerti, seperti sebuah misteri.

Memang benar, pernikahan, kisah penciptaan Adam dan Hawa, sebenarnya merupakan rahasia besar, bukan hanya tentang pernikahan manusia, tetapi tentang rencana Allah terhadap gereja dan Kristus (Efesus 5:31-32). Itulah sebabnya pernikahan disebut kudus dan tidak dapat diceraikan (Markus 10:9).

LAKI-LAKI DARI PEREMPUAN

Didalam kitab Kejadian, keberadaan atau asal-usul laki-laki dan perempuan ditulis dengan jelas. Laki-laki selalu ditulis terlebih dahulu, bahkan dalam perhitungan orang Israel, hanya dihitung laki-laki saja, perempuan dan anak-anak tidak dihitung. Juga dalam banyak hal, yang diperhitungkan hanya laki-laki, yang disebut anak sulung juga hanya laki-laki, bahkan perempuanpun diharapkan bersikap seperti laki-laki kata I Korintus 16:13. Tentu saja yang dimaksud bukan secara prilaku atau penampilan, tetapi laki-laki secara rohani.

Dengan menuliskan didepan dan seakan diutamakan dalam segala hal, bukan berarti laki-laki lebih unggul dari perempuan, bukan berarti laki-laki lebih berarti dari perempuan. Penulisan dalam Perjanjian Lama merupakan penggambaran tentang laki-laki secara rohani, seperti halnya perintah Tuhan untuk membunuh pendosa tanpa tersisa (Ulangan 13:12-15), hal itu bukan dimaksud membunuh secara jasmani tetapi secara rohani (2 Korintus 3:14-15). Laki-laki lebih utama bukan secara jasmani tetapi dalam pengertian rohani.

Dalam pengertian jasmani tentang jenis kelamin, laki-laki itu sama dengan perempuan. Allah tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan (Roma 2:11).

Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah. (1 Korintus 11:11-12)

PEREMPUAN DARI LAKI-LAKI

Tentang perempuan, FirmanNya menulis, “Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki”. Kata tersebut menjelaskan kalau ada sesuatu yang diambil dari laki-laki, dan ayat 21 diatas menyebutkan bahwa yang diambil tersebut (tulang rusuk Adam), dan tidak diganti baru tetapi hanya ditutup oleh daging. Jelas ada sesuatu yang berkurang dari laki-laki.

Allah menjadikan perempuan dari apa yang kurang (dikurangi) dari laki-laki. Sehingga laki-laki dan perempuan jika bersatu akan menjadi lengkap (genap). Bukankah Firman Tuhan menuliskan “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.” (Markus 10:6-8). Mereka menjadi satu bukan dua dihadapan Allah.

Inilah pernikahan, inilah jodoh. Bahwa laki-laki dan perempuan akan saling melengkapi dan menjadi genap (satu) didalam pernikahan kudus. Istri merupakan bagian dari suami dan suami merupakan bagian dari isteri, keduanya adalah satu daging, satu tulang.

Kata diambil dari laki-laki menandakan bawah perempuan diciptakan untuk menghormati dan tunduk kepada suaminya, demikian juga dengan suami yang mana ada sesuatu darinya yang diambil untuk dijadikan perempuan, maka isteri adalah bagian dari tubuhnya sendiri (Kolose 3:18-19, Efesus 5:13, 1 Petrus 3:5-7). Isteri tunduk kepada suami kelihatannya kok tidak populer, tetapi inilah Firman Tuhan. Jangan kita karena emansipasi wanita, modernisasi dan kebodohan-kebodohan lain mengubah hukum Allah. Tenang hal ini, tentang hubungan Kristus, suami dan isteri dapat anda baca dalam Efesus 5:22-33 dan I Korintus 11:3-15. (Merupakan pembahasan tersendiri)

SALING MELENGKAPI

Saling melengkapi merupakan inti dari pernikahan. Satu dengan yang lainnya saling tolong menolong didalam kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga menjadi genap (satu). Bukankah Pengkotbah 4:9-10, mengatakan, “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” Coba juga baca I Korintus 7:16.

Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, agar mereka dapat saling tolong menolong, dimana berdua lebih baik kata Firman Tuhan, berdua dapat saling tolong menolong, bahu membahu, saling melengkapi. Karena jika manusia sendirian, maka tidak ada yang akan menjadi penolong baginya, hal itu tidak baik dimata Tuhan.

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18)

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan tujuan menjadikan mereka sebagai penolong yang sepadan. Suami menolong isteri, isteri menolong suami. Demikianlah penikahan kudus menggenapi hukum Kristus (Galatia 6:2).

Sejak awal penciptaan Allah telah menetapkan agar suami dan isteri saling tolong menolong. Jika tidak demikian maka Allah tidak menciptakan laki-laki dan perempuan. Bukankah Tuhan telah menciptakan beberapa binatang didunia ini yang dapat berkembang biak tanpa proses persetubuhan? Binatang tersebut diciptakan Allah untuk menunjukan pada kita bahwa tujuan pernikahan bukan untuk berkembang biak. Allah sanggup membuat manusia berkembang biak, beranak cucu, tanpa proses persetubuhan, jika memang Allah menghendaki manusia hanya seorang diri. Tetapi Allah menghendaki kita saling tolong menolong suami dan isterinya sesuai hukum Kristus.

HANYA ADA SATU

Selanjutnya, tentang kepada siapa kita menjadi satu. Beberapa orang romantis menganggap jodoh itu adalah tulang rusuk yang merupakan tulang rusuk satu-satunya tidak ada yang lain. Beberapa lagi yang lebih rasional mengaggap siapa saja dapat menjadi tulang rusuk.

Yang jelas sejak awal, hanya ada satu tulang rusuk yang diambil. Hanya ada satu pasangan suami dan istri, bukan satu suami dengan belasan istri, atau satu istri dengan beberapa suami. Roma 7:3, menuliskan “Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain.” Anda juga dapat membaca dalam 1 Thesalonika 4:4, 1 Korintus 7:2, 1 Timotius 3:2,12 atau simak 1 Petrus 3:7, disana istri ditulis tunggal bukan jamak. Banyak ayat lain lagi yang menjelaskan satu suami satu istri.

Kebenaran tentang satu suami dengan satu istri sudah jelas. Selanjutnya menemukan tulang rusuk. Siapa tulang rusuk kita? Dapat siapa saja atau hanya ada satu-satunya?

MENEMUKAN TULANG RUSUK

Tanda Pertama
Adam menikah dengan Hawa, Kain menikah dengan adiknya, demikian juga dengan Set dan keturunan-keturunannya mereka menikah sesama anggota keluarga, bahkan sampai Abraham (Kejadian 20:12), Ishak (Kejadian 24:4) dan Yakub (Kejadian 29:12-14), mereka menikahai sanak saudara mereka sendiri. Hal ini terus terjadi sebab demikianlah hukum Taurat yang diturunkan oleh Allah (Bilangan 36:8-13, Hakim-hakim 14:3, dll). Mereka tidak boleh menikah dengan bangsa-bangsa lain (Ulangan 7:1-5, Kejadian 24:3, 28:1).

Hukum Taurat tersebut digenapkan dalam Perjanjian Baru seperti yang tertulis dalam II Korintus 6:14, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”

Kita sebagai umat Tuhan, anak-anak Abraham secara rohani (Galatia 3:7), juga wajib menikah dengan sesama saudara seiman. Inilah tanpa pertama. Jodoh dari Tuhan adalah sesama bangsa Israel rohani.

Tanda Kedua
Kejadian 2:24 menjelaskan laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk menjadi satu dengan istrinya. Bangsa Israel mempunyai kebiasaan, setiap anak laki-laki yang menikah ia akan keluar dari rumah orang tuanya dan membangun keluarganya sendiri.

Seseorang yang menikah haruslah telah dewasa dan siap memulai kehidupannya sendiri bersama dengan suami/istrinya, bukannya seorang anak-anak atau remaja yang masih sangat bergantung kepada orang tuanya. Dalam Perjanjian lama, laki-laki berbeda dengan anak-anak. Walaupun laki-laki tetapi kalau masih anak-anak tidak dihitung sebagai laki-laki.

Laki-laki dewasa didalam pengertian Taurat adalah laki-laki yang berusia dua puluh tahun keatas. “Hitunglah jumlah segenap umat Israel menurut kaum-kaum yang ada dalam setiap suku mereka, dan catatlah nama semua laki-laki di Israel yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi orang. Engkau ini beserta Harun harus mencatat mereka menurut pasukannya masing-masing.” (Ulangan 1:2-3). Dibawah umur tersebut, mereka masih menjadi tanggungan orang tua mereka masing-masing dan tidak diperhitungkan sebagai seorang laki-laki.

Dua puluh tahun bukan batas minimal umur untuk menikah menuruh Firman Tuhan, tetapi kita dapat menjadikan sebagai acuan untuk mulai memikirkan pernikahan, sebab dibawah usia tersebut sebaiknya berfikir untuk menikah ditahan dahulu.

Yang terpenting bukan umurnya, melainkan kesanggupan mereka berperang, “yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi orang” (Ulangan 1:3a). Berperang adalah kemampuan memikul beban kehidupan (Ayub 7:1).

Bahwasanya hal manusia di atas bumi ini seperti orang perang adanya dan hari hidupnyapun seperti hari orang upahan. (Ayub 7:1, Alkitab Terjemahan Lama)

Baik laki-laki maupun perempuan, mereka adalah sama (1 Korintus 16:13), harus sanggup berperang, bergumul didalam kehidupan ini. Walau sudah berusia dua puluh tahun tetapi kalau belum sanggup memikul beban kehidupan sebaiknya jangan menikah dahulu. Hanya yang telah diperhitungkan sebagai “laki-laki” yang boleh menikah.

Inilah tanda kedua, Jodoh dari Tuhan adalah mereka (laki-laki atau perempuan) yang telah dewasa dan sanggup memikul beban kehidupan ini.

Tanda Ketiga
Setelah kita mengetahui tanda pertama bahwa ia adalah saudara seiman, dan tanda kedua telah dewasa dan dapat disebut sebagai laki-laki, maka selanjutnya adalah tanda pengikat.

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kolose 3:1415)

Kasih atau cinta adalah pengikat yang membuat dua menjadi satu. Tanpa cinta, dua tidak dapat menjadi satu. Pernikahan harus didasari atas cinta, bukan atas hawa nafsu (1 Thesalonika 4:4-5). Menyukai lawan jenis, tidak semuanya didasari atas cinta, beberapa walau tampak seperti cinta, tetapi sebenarnya adalah hawa nafsu.

Kasih suami isteri itu menyatukan dan meyempurnakan jika keduanya saling mencintai, bukan salah satu saja yang mencintai. Cinta terhadap suami isteri, cinta terhadap teman atau sahabat, cinta terhadap keluarga dan orang tua merupakan bentuk cinta yang berbeda-beda. Cinta suami isteri adalah cinta saling memiliki, seperti yang ditulis dalam 1 Korintus 7:4, “Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.

Mengasihi seperti mengasihi bagian tubuh sendiri (Efesus 5:28-29), itulah cinta suami istreri. Tanda-tanda cinta secara umum dapat anda baca dalam 1 Korintus 13:4-7 (kata cemburu dalam Alkitab Terjemahan Baru sebenarnya lebih tepat ditulis dengki, dalam terjemahan KJV, NKJV, ASV, YLT dan lain-lain menggunakan kata envy buka jealous). Sebab pasangan suami dan istri harus ada cemburu dan kesucian didalam cintanya, seperti yang dikatakan II Korintus 11:2.

Tanda ketiga adalah adanya cinta. Bukan cinta satu pihak, tetapi saling mencintai. Karena cinta dan kesucian maka dua dapat menjadi satu.

Tanda Keempat
Setelah tanda ketiga yaitu cinta yang menjadi pengikat yang membuat dua menjadi satu, maka berikutnya, seperti yang tertulis dalam penciptaan manusia, didalam Kejadian 4:25, “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”

Telanjang bukan secara jasmani (dosa jika diluar pernikahan). Tetapi didalam pengertian rohani, telanjang mempunyai arti terbuka, terlihat segala kekurangan, keburukan dan kelebihan kita.

Suami dan istri haruslah terbuka, mereka tidak boleh menutupi keburukan satu sama lain, segala kelemahan dan kekurangan hedaklah terbuka dan diketahui masing-masing. Untuk itulah mereka saling melengkapi dan menyempurnakan, bukan malah sebaliknya saling menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan masing-masing. Jangan ingin tampil (seakan) prima didepan penolong sejodoh kita, karena kekurangan tersebutlah maka laki-laki dan perempuan ada, pernikahan ada. Agar mereka dapat saling menolong dan melengkapi sehingga keduanya menjadi genap.

Tanda keempat adalah keterbukaan. Jodoh dari Tuhan satu sama lain harus dapat saling mengenal, memahami dan meyempurnakan. Jika anda merasa tidak cocok dengan kekurangannya dan tidak yakin dapat menggenapinya maka mungkin ia memang bukan penolong sejodoh bagi anda.

Tanda Kelima
Tanda kelima merupakan peneguhan dari Tuhan atas pasangan yang akan menjadi suami atau isteri. Peneguhan dari Tuhan itu perlu, sebab hanya Tuhanlah yang tahu mana penolong sejodoh kita. Banyak laki-laki dan banyak perempuan, tetapi tidak semua laki-laki dan tidak semua perempuan dapat menjadi penolong yang cocok bagi kita. Perhatikan Kejadian 2:22, Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Allah yang membawa Hawa kepada Adam.

Dalam perjodohan, Allah ikut terlibat didalamnya. Allah tahu mana yang tepat menjadi penolong kita, Allah tahu mana yang terbaik untuk menjadi isteri atau suami kita. Karena itu pula didalam Alkitab, saat Abraham mencarikan jodoh untuk Ishak, yaitu seorang perempuan dari sanak saudaranya, maka hambanya yang ditugaskan untuk mencari jodoh tersebut berdoa memohon tanda dari Tuhan, manakah yang terbaik bagi Ishak.

Di sana disuruhnyalah unta itu berhenti di luar kota dekat suatu sumur, pada waktu petang hari, waktu perempuan-perempuan keluar untuk menimba air. Lalu berkatalah ia: “TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum–dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.”
(Kejadian 24:11-14)

Hanya Tuhan yang tahu dan mengenal kita secara keseluruh, bukan orang lain, bukan orang tua dan bukan pula diri kita sendiri, seperti yang dikatakan oleh 1 Korintus 13:12. Hanya Tuhan mengenal kita dengan sempurna. Demikian juga dengan pasangan kita, hanya Tuhan yang tahu dengan pasti apakah ia benar-benar dapat menjadi penolong yang cocok dengan kita didalam segala hal.

Seperti yang dilakukan hamba Abraham, kita juga harus bertanya kepada Tuhan siapa yang tepat menjadi penolong hidup kita.

Bertanya dan mendapatkan jawaban Tuhan merupakan suatu permasalahan sendiri, beberapa orang telah dapat meminta peneguhan dan mendengar suaraNya, beberapa lagi tidak paham dengan tanda-tanda Allah, karena itu maka ditetapkan oleh Allah bahwa para pemimpin kerohanian, seperti Gembala Sidang atau pemimpin rohani lainnya, mereka adalah orang-orang yang bertanggungjawab kepada Allah atas hidup kita (Ibrani 13:17), kepada perantara merekalah kita dapat memintakan petunjuk tentang perjodohan tersebut dari Allah.

Selain pemimpin/pembimbing rohani anda, orang tua yang didalam Tuhan juga merupakan perantara tentang perjodohan dari Tuhan. Jika ada keberatan dari mereka, jangan abaikan hal tersebut, sebab kesaksian dua atau tiga orang yang bertanggung jawab atas hidup anda, suatu perkara dapat dibenarkan, kata II Korintus 3:1, 1 Timotius 5:19 atau Ulangan 19:15.

Jadi minta petunjuk dari Tuhan itu bukan hal yang salah, malah sebaliknya itu merupakan keharusan. Tanda kelima adalah peneguhan dari Tuhan (baik lewat tanda-tanda ilahi maupun lewat orang-orang yang bertanggung jawab atas hidup kita dihadapan Allah).

Dalam pelaksanaanya untuk petunjuk atau tanda-tanda langsung dari Allah, hendaknya disesuaikan dengan iman masing-masing, jangan kita mereka-reka perkara yang terlalu tinggi bagi iman kita sendiri (Roma 12:3). Terbaik adalah peneguhan Allah melalui perantara pemimpin rohani dan orang tua kita didalam Tuhan.

PENUTUP

Tentang jodoh dan lima tanda yang harus ada sesuai Firman Tuhan telah dijelaskan singkat diatas. Semoga hal ini dapat membantu kita semua anak Tuhan untuk dapat mengenali penolong sejodoh yang terbaik dari Allah untuk kita.

Jodoh bukan peristiwa gaib dimana si A harus menikah dengan si B, tetapi Allah akan membantu kita untuk mendapatkan penolong yang sepadan dengan kita yang cocok dengan kita sesuai dengan Firman Tuhan. Tidak semua orang cocok sebagai penolong hidup kita, tetapi Allah tahu yang mana yang dapat menjadi penolong yang paling sepadan. Jangan bayangkan Allah memberikan jodoh yang tidak sesuai dengan selera jasmani anda, sebab Allah itu kasih, pasangan yang cocok dengan kita adalah pasangan yang cocok baik rohani maupun jasmani, tetapi bukan didalam hawa nasfu dan keduniawian.

Penolong yang sejodoh bukan berarti hidup akan ideal, segala sesuatunya pas. Tidak demikian tentang penolong yang sejodoh. Didalam suka dan duka, didalam beratnya hidup ini, penolong sejodoh harus dapat saling melengkapi dan menolong satu sama lain. Babak baru dalam kehidupan mereka bukan lagi bagiamana menemukan penolong sejodoh, tetapi bagaimana hidup sebagai suami atau istri yang benar dan berkenan dihadapan Allah dan manusia.

Juga tidak semua orang akan menikah, Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa ada orang-orang yang tidak menikah, baik oleh karena kemauan sendiri, oleh karena keadaan maupun oleh karena orang lain (Matius 19:12). Bagi tiap-tiap anak Allah, telah direncanakan yang terbaik dalam hidupnya baik yang menikah maupun yang tidak menikah (1 Korintus 7:1-40).

Tentang pernikahan, bukankah pernikahan itu merupakan seluruh hidup kita? Bandingkan dengan tahun-tahun hidup lajang? Jangan kita menyia-nyiakan hidup kita didalam pernikahan dengan dasar hawa nafsu.

Salam,
Leonardi


Top Blogs